Sunday, March 29, 2026

[REVIEW] Enjoy the Little Things

Enjoy The Little Things
Kincirmainan
Elex Media Komputindo
530 Halaman

”Biasanya, orang lebih mudah menerima saat hal itu tidak menimpa orang yang ada hubungan dengan mereka. Apa kamu yakin orangtuamu bisa seenteng itu menerima kondisi anakku yang akan kamu jadikan istri?”


B L U R B

Bapak adalah lelaki Jawa yang perfeksionis. Sifat Bapak ini terlihat jelas saat menyelidiki bibit-bebet-bobot calon menantu yang akan menikahi tiga anak gadisnya nanti. Yang Maharani tahu, nama baik Bapak adalah segalanya. Rani tak mau merusak itu. Lebih baik tidak menikah, kalau ternyata suatu hari nanti harag diri Bapak akan terluka karena pilihan Rani.

Namun keadaan ternyata berkata lain. Pada malam ketiga setelah putus hubungan dengan Bima. Maharani bertemu seorang pemuda yang penampilannya membuat Rani sempat meragukan kejantanannya. Tapi sesuatu yang terjadi di antara mereka, khususnya dua bulan setelah pertemuan mereka itu, pasti membuat Rani akan berpikir ratusan kali jika ingin meragukan siapa pun.

Kecelakaan yang terjadi antara Rani dan Yudha, si pemuda feminin, membuatnya harus memperkenalkan Yudha sebagai calon menantu kepada sang Bapak.

Bapak, yang ternyata kurang menerima laki-laki berwajah mulus seperti Yudha.

Bapak yang ternyata tidak menerima ketika orang yang akan menikahi Rani adalah lelaki yang lebih memilih membuka usaha toko kue bukan toko alat listrik atau bangunan.

Seksis memang. Terlebih latar belakang keluarga Yudha sebenarnya membuat Rani berpikir ulang jutaan kali untuk maju. Mampukah Rani menyatukan dua keluarga yang saling bertolak belakang ini dalam pernikahannya dengan Yudha?

- - - - - - - - -

Bagi Rani, senakal-nakalnya kehidupan Jakarta, nggak akan membuat Rani goyah, nggak akan membuat Rani ikutan berpaling jadi anak nakal. Toh selama ini, semenjak lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, dia baik-baik saja. Walaupun banyak temannya yang nakal, tapi Rani tetap menjunjung tinggi ajaran Bapaknya.
“Nelangsa dibikin sendiri, kalau cinta itu ya berjuang, dong. Jangan ditahan-tahan. Hari gini kok ngalahin cinta.” — P. 367
Perkenalannya dengan Yudha di salah satu club, membuat Rani melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Nggak cuma itu, ternyata Yudha tipe cowok Jakarta yang mulus dan melakukan banyak perawatan, yang beda banget sama tipe cowok yang bapaknya harapkan. Bagaimana Rani harus menghadapi bapaknya kali ini?


Kembali membaca tulisan kak Kincirmainan setelah sekian lama adalah keputusan yang tepat. Baca tulisan kak Kin bikin jiwa bacaku yang sebelumnya ngesot jadi bangun lagi!

Menceritakan tentang Rani yang baru aja patah hati dan Yudha yang berhasil membuatnya teralihkan. Teralihkannya malah ke hal yang negatif dan mereka berdua harus bertanggungjawab atas apa yang sudah mereka lakukan. Masalahnya, Yudha ini bukan tipe cowok yang macho dan lakik, dia kulitnya mulus dan rajin banget pake skincare. Inilah yang bikin Rani agak bingung memperkenalkan kayak gimana ke keluarganya.

Enjoy The Little Things menurutku gemes dan bikin geregetan. Lebih banyak ke Raninya sih. Punya Bapak yang keturunan Jawa itu menurutku memang ngeri-ngeri sedap. Kalo udah teges, bisa teges banget. Tapi kalo becanda, ngelawak pol. Kesalahan yang dibuat Rani dan Yudha jelas fatal. Bapaknya Rani, pasti marah. Masalahnya, Rani yang bikin semua itu jauh lebih complicated.

Selama baca bener-bener gemes sama Rani. Untung bukan temenku, kalau Rani temenku, udah kumaki dia. Udahlah bikin segalanya rumit, gengsinya tinggi bener. Buset, Ran, gengsi nggak bikin kaya tujuh turunan, Ran.

Menurutku, perjalanan kisah mereka berdua tuh benernya yang bikin ribet Rani sendiri. Dia dengan segala spekulasinya. 

Karakter favoritku… Jonah sama Yudha. Mereka ini win my heart! Yudha yang soft spoken, baik hati,  bener-bener cowok yang hutan rimba, meskipun keluarganya agak berantakan. Jonah is the best! Sebagai ayah, dia berhasil mendidik Yudha untuk jadi cowok yang baik. Walaupun dia juga agak…aneh ya.

Buku ini nggak cuma membahas tentang hubungan Rani-Yudha aja, tapi juga bagaimana komunikasi dan interaksi mereka dengan keluarga masing-masing, bagaimana latar belakang keluarga mereka. Mungkin ada hal yang sedikit mengganggu apabila membahas tentang ayahnya Yudha, tapi so far buku ini oke banget.


From the book…
”Kita akan mengenal satu sama lain sambil belajar jadi orangtua yang baik.” — P. 98

”Kata orang, laki-laki itu menang karena bisa memilih, sedangkan perempuan menang karena mereka bebas menolak. Aku akan ngejaga dan ngerawat kamu baik-baik, Ran, sampai kamu nggak bsia nolak aku lagi. Aku akan bikin hidupmu nggak berarti tanpaku.” — P. 107

”Nggak apa-apa, nggak semua hubungan harus dimulai dengan alasan yang sama.” — P. 109

“Cinta emang harus enteng, kalau berat, jadi beban. Kalau enteng, enak dibawa-bawa.” — P. 151

”Well… apa pun itu, Ran, you’re a big girl. Ini hidup lo, apa pun yang akan lo lakuin setelahnya, yang penting hal paling benar udah lo putusin.” — P. 179

”Kesalahan seorang anak itu tetap adalah salah bapaknya. Kalau kamu bikin salah, berarti cara mendidikku belum benar.” — P. 275

”Apa pun jadinya kalian nanti, asal benar, Bapak nggak akan ngrusuhi karena kalianlah yang akan menjalani dan mempertanggung jawabkan pilihan itu seumur hidup.” — P. 277

”Aku nggak pernah dikasih pilihan lahir dari rahim perempuan mana, Ran. Aku nggak ingat Tuhan nyuruh aku milih, bukan salahku aku punya sepasang orangtua nggak beradab, atau dibesarkan oleh Jonah yang gaya hidupnya nggak akan masuk nalar bapakmu. Seumur hidup, aku mencari orang yang bisa menerimaku apa adanya.” — P. 288

”Jangan pernah apatis sama yang namanya cinta, Rani. Mau orang bilang nggak bisa makan cinta, cinta bukan faktor utama, tapi kayak lagu rock zaman dulu itu, when we’re hungry love will keep us alive. Saat segalanya terlalu sulit untuk dilalui, cintalah yang selalu nyelametin sebuah hubungan.” — P. 313 to 314

”Kalau suatu hari aku jadi orangtua, aku akan berusaha nggak pernah mengucapkannya sekecewa apa pun aku pada anakku, sebab aku tahu betapa sakit hati ini mendengarnya. Akan tetapi, aku juga paham betapa serba salahnya jadi orangtua saat dihadapkan pada pilihan anak yang berbeda keinginannya.” — P. 365

”Nelangsa dibikin sendiri, kalau cinta itu ya berjuang, dong. Jangan ditahan-tahan. Hari gini kok ngalahin cinta.” — P. 367

”Masalahnya justru ada di sana. Kalau kamu cinta, harusnya semua hal ada solusinya, meskipun selalu ada risikonya.” — P. 387

”Seorang wanita nggak dilihat dari kesalahannya pada masa lalu, kamu nggak usah cemas. Menurutku, Rani udah mengambil jalan yang benar dengan mengutamakan keinginan Bapak. Jodoh orang nggak ada yang tahu, tapi bagi orangtua, anak sudah pasti adalah harapan dan masa depannya.” — P. 396

”Biasanya, orang lebih mudah menerima saat hal itu tidak menimpa orang yang ada hubungan dengan mereka. Apa kamu yakin orangtuamu bisa seenteng itu menerima kondisi anakku yang akan kamu jadikan istri?” — P. 409

”Aku ingin sekali kamu jadi mantuku. Bukan perkara gaji dan orangtuamu yang terhormat, tapi kulihat kamu cukup berani dan yakin pada dirimu sendiri. Penting bagi seorang pria memiliki kepercayaan diri sebesar dirimu.” — P. 414

”Kamu tahu? Hanya orang-orang beruntung yang diberi kesempatan menemukan seseorang yang mencintai mereka sebesar Yudha mencintaimu, tapi orang beruntung itu akan merugi jika mereka tak bisa membalasnya.” — P. 418

”Aku menyadari bahwa selama ini aku mengingkari kenyataan bahwa mantanku meninggalkan aku bukan semata-mata karena kekasih barunya punya segalanya lebih dariku, tapi lebih dari itu, karena memang dia lebih mencintainya daripada mencintaiku.” — P. 419

Sunday, March 22, 2026

[REVIEW] Periculo

Periculo
Wiwi Suyanti
Elex Media Komputindo
362 Halaman

“Menurut aku, bagus juga kalau kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tadinya kita benci. Tapi cinta yang sampai menyakiti diri sendiri, itu namanya bukan cinta.” 


B L U R B

Sepanjang hidupnya, Ofelia Dinata hanya menginginkan satu hal; hidup tenang tanpa harus berurusan dengan Marina Oktavia—sang ibu. Sejak kecil Ofelia melatih dirinya bukan hanya untuk menjadi balerina terbaik di mata Marina, tapi juga menjadi putri yang sempurna dan bisa dibanggakan.
Kesempurnaan hidup Ofelia porak-poranda tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-22, ketika sebuah video terkirim dari nomor asing yang menampakkan sosok Alia Sugandi, beberapa saat sebelum Alia melakukan bunuh diri akibat dirundung Ofelia bersama kekasih serta kedua sahabatnya. 
Demi menyelamatkan nama baiknya, Ofelia bersedia melakukan segala cara termasuk menjatuhkan sahabatnya, kekasihnya, hingga menjalin kesepakatan rahasia bersama Aksa—kekasih Alia. Tanpa Ofelia sadari, Aksa memegang lebih banyak lagi rahasia masa lalu yang akan mengubah seluruh hidup Ofelia.

- - - - - - - - -

Bagi Ofelia, kehidupan ini hanyalah untuk menyenangkan Marina, ibunya. Selama dia berprestasi, ibunya akan senang dan membiarkannya melakukan hal lain, meskipun kebebasan itu tidak sebebas yang dibayangkan kebanyakan orang. Jadi, sebisa mungkin, dia tidak hidup bersinggungan dengan orang lain, supaya tidak menimbulkan permasalahan pelik yang akan menyulitkannya di kemudian hari.
“Masih banyak hal lain, bukan cuma itu. Kadang kehidupan justru jauh kebih menyedihkan daripada kematian. Ada manusia yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.” — P. 225
Di ulang tahun ke-22nya, masalah itu datang. Video sebelum kematian Alia, cewek yang belakangan memaksa masuk di circlenya dengan Audrey, Axel, dan Niko. Yang kemudian membawanya pada Aksa—pacar Alia, untuk menyelamatkan nama baiknya dan teman-temannya. Bisakah kali ini Ofelia menawarkan kerja sama yang menguntungkan?


Akhirnya setelah sekian lama Ce Wiwi mengeluarkan buku barunya lagi. Novel ini sama seperti novel lainnya yang beredar dulu di Wattpad dan baru terbit. Karena aku tim baca after cetak, soalnya aku nggak begitu suka jadi pembaca on-going. Memang denger-denger Periculo tuh agak ngeri ya. Tapi bener-bener capek banget sih menurutku.

Di awal membaca, kita sudah diperlihatkan bagaimana ada video kematian Alia Sugandi, cewek yang tiba-tiba aja mau masuk di circle Ofelia, Audrey, Axel dan Niko—para geng tak tersentuh di kampusnya. Agak aneh, karena kebanyakan orang udah males banget deket-deket sama mereka. Dibanding ketiganya, Ofelia ini menurut orang-orang adalah cewek yang dingin tak tersentuh dan lebih menyeramkan daripada yang lain.

Di sini kita diajak menyelami dunia keempatnya dari POV masing-masing. Audrey yang suka nakal, tapi pas kecentok dia agak trauma, padahal latar belakang keluarganya cukup baik. Bahkan ibunya Audrey adalah ibu yang diharapkan Ofelia. Axel yang anak mami dan hidup seenak-enaknya, lebih jalan emosinya ketimbang mikir dulu sebelum bertindak. Niko yang pintar memanfaatkan situasi siapa pun, termasuk Ofelia dan Axel. Ofelia yang bisa berpikir paling waras diantara keempatnya, punya berbagai plan, tapi paling tidak perasa. Baginya yang penting Marina bahagia.

Jujur di sini banyak banget ngebahas masa lalu Ofelia, bagaimana dari kecil dia diperlakukan, bagaimana parenting kedua orangtuanya, apa yang diharapkannya, dan betapa lelahnya dia selama ini. Aku juga kasian banget ngeliat dia ini. Hidup bebas dikit, kena ancam ibunya. Bapaknya juga kayaknya nggak peduli sama Ofelia, dan setelah tau alasan dibaliknya, kayaknya emang orang gila semuanya.

Alur yang dipakai maju mundur untuk menceritakan bagaimana sikap keempatnya terhadap Alia. Yang ternyata menurutku mereka nggak sekejam itu kok sama Alia. Memang Alianya aja yang suka cari perkara. Setting yang digunakan nggak terlalu banyak, karena hanya berkutat di beberapa tempat di Jakarta, Bali, dan di Sekayu, tempat Aksa berada.

Aku nekat menyelesaikan buku ini, tengah malam karena jujur penasaran banget sama akhirnya. Dan berakhir sakit kepala dan menangis. Jujur Ofelia terlalu banyak menanggung beban dan dosa banyak orang sih. Nggak cuma diharapkan orangtuanya, tapi juga teman-temannya. Aku kalo punya temen kayak mereka, pasti mencak-mencak sih.

Dari Periculo aku belajar banyak banget gimana peran orangtua membentuk anak. Anak kecil itu menurutku makhluk yang paling gampang, mereka nggak minta dibeliin barang buagus dan bermerk, mereka cuma minta kita ada di samping dia pas lagi main, atau pengen deket-deket sama kita. Sikap mereka bener-bener gimana kita ngedidik mereka aja. Ngedidik yang baik aja outputnya kadang jelek, apalagi dididik dengan cara yang kadang diluar nalar?



From the book…
“Menjadi nomor satu di mana-mana adalah wajib. Menjadi jelek dengan wajah kusam atau rambut kusut adalah sebuah kejahatan. Menjadi balerina sempurna adalah tujuan hidup.” — P. 13

“Nggak usah takut sama hantu. Manusia lebih mengerikan.” — P. 34

“Jangan pernah anggap remeh orang putus asa. Orang-orang putus asa biasanya yang paling berbahaya.” — P. 43

“Itulah keistimewaan manusia; bisa mencintai dan membenci sesuatu dengan sama kuatnya.” — P. 92

“Ada dua jenis orang putus asa di dunia ini. Orang putus asa yang nekat melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri sendiri. Dan orang putus asa yang ingin menyeret semua orang ikut mati bersamanya.” — P. 96

“Ada satu hal yang selalu ibu gue tanamkan di otak gue; bahwa sebagai manusia, kita harus selalu tahu posisi kita. Itu juga yang harus lo ingat, Al. Bahwa nggak peduli sekeras apa pun usaha lo, lo nggak akan pernah satu level dengan gue. Posisi gue akan selamanya di atas lo. Seekor domba tidak seharusnya membangunkan serigala.” — P. 122-123

“Manusia bisa berbuat jahat secara naluri, nggak perlu diajarin juga bisa.” — P. 189

“Tapi kalau bagi Tante, ada beberapa hal di hidup ini yang berada di luar kendali kita, dan saat itu terjadi…pasrahkan saja, tidak perlu dilawan.” — P. 225

“Masih banyak hal lain, bukan cuma itu. Kadang kehidupan justru jauh kebih menyedihkan daripada kematian. Ada manusia yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.” — P. 225

“Kalau kamu sudah lelah menjadi tangguh…kamu boleh menanggalkan segalanya dan beristirahat sejenak. Sesekali lakukan apa yang benar-benar kamu mau dan bahagiakan diri kamu sendiri, karena kamu tidak akan hidup dua kali. Dan kamu tidak hidup untuk ibu kamu.” — P. 226

“Menurut aku, bagus juga kalau kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tadinya kita benci. Tapi cinta yang sampai menyakiti diri sendiri, itu namanya bukan cinta.” — P. 229

“Aksa janji ya, apa pun yang terjadi, kamu harus kuat, nggak boleh nyerah. Seburuk apa pun hidup yang kita lalui, akan selalu ada akhir yang bahagia menunggu kita. Ibu akan sedih kalau kamu nyerah. Bertahan selalu ya, Aksa. Demi Ibu.” — P. 274

Sunday, March 15, 2026

[REVIEW] Love Risk Management

Love Risk Management
Helen Tanuwan
Pastel Books
244 Halaman

“Secara scoring, Rad mungkin mendapatkan kategori Grey, alias harus ditelaah lebih lanjut kelayakannya atau bahkan Black alias tidak layak. Namun, apa iya semua hal bisa dianalisis logika? Benarkah definisi nyaman itu kadang sulit diterima oleh akal?”


B L U R B

Atisha menjalani hidupnya dengan hati-hati. Sebagai seorang analis kredit di sebuah bank, dia terbiasa menganalisis segala sesuatu, dan tahu betapa sebuah risiko kecil yang tidak diantisipasi bisa menimbulkan masalah luar biasa besar. Apalagi Atisha adalah tulang punggung keluarga, she cannot afford making mistakes. Karena itu, dia selalu menimbang risiko dan memilih jalan aman agar hidupnya baik-baik saja.

Tetapi, nasib memang suka mempermainkan hidupnya. Akibat kecurangan mantan atasannya, Atisha harus bertanggung jawab atas kredit macet Bakmi Aman—salah satu debiturnya. Siapa sangka, hal itu justru mempertemukannya dengan Rad—si lelaki serampangan.

Jatuh cinta kepada Rad? Jika ini adalah pengajuan kredit, maka 100% Atisha akan menolaknya. Namun, memutuskan hal yang berhubungan dengan hati, tidak semudah itu. Saat logika menolak, di situlah hatinya akan berkata lain. Lantas, haruskah Atisha melupakan logika dan mengikuti kata hati yang sama sekali tidak sesuai dengan prinsip hidupnya?

- - - - - - - - - 

Atisha–seorang analis kredit yang berusaha menjalankan kehidupannya dengan hati-hati, menghitung setiap kebutuhan dan pendistribusian gajinya dengan baik. Apalagi dengan background pekerjaannya membuatnya tau pasti kalau hidup ini nggak bisa main-main.
“Fenomena ginian, tuh, banyak emang. Dari sahabat jadi saingan demi memperebutkan cuan. Ujung-ujungnya malah sikut-sikutan.” — P. 53
Satu kesalahan kecil atasannya di masa lalu, membuatnya harus bekerja keras untuk kredit macet Bakmi Aman, salah satu debiturnya yang mendadak sakit. Nggak hanya harus mengetahui penyakit yang diderita pemiliknya, tapi Atisha juga kembali bertemu dengan Rad, teman semasa kuliah dan juga latar belakangnya.

Bisakah Atisha membuat status kredit Bakmi Aman kembali lancar? Ataukah seharusnya dia menyerah saja, mengingat kesalahan ini terjadi di masa lalu?


Setiap pekerjaan selalu punya risikonya masing-masing. Termasuk Atisha sebagai analis kredit. Walaupun dia tau kondisi dari data yang diberikan calon debiturnya, Atisha tetap harus mengecek ulang, memperhitungkan kembali segala kemungkinan terburuk calon debiturnya. Sayangnya, di masa lalu, karena kesalahan atasannya, Atisha kini kena imbasnya. Bakmi Aman yang mendadak kreditnya macet.

Selama membaca, banyak banget insight tentang dunia perbankan, khususnya istilah perkreditan. Jadi berasa balik ke jaman kuliah yang ngbahas matkul keuangan!

Mengangkat tema tentang kekurangan fisik yang dialami Atisha karena masa lalunya, bagaimana perlakuan ibunya terhadap Atisha, tingkah ibunya Atisha. Sebenernya cukup berat juga lho jadi Atisha ini, terbiasa dengan sikap ibunya yang kadang bikin ngelus dada, nggak jarang Atisha ini udah kayak ATM berjalan. Tapi belakangan, aku jadi tau alasan kenapa ibunya bersikap demikian. Atisha ini juga tipe pekerja keras, tapi sayangnya terlalu workaholic menurutku. Tipe yang nyebelin memang. Kalo aku punya temen kerja kayak Atisha, aku mungkin kesel juga.

Sementara Rad, dia ini tipe cowok gemes yang bikin hati ketar-ketir, soalnya dia tipe nice guy gitu, baik ke semua orang. Jadi pas dia melakukan hal baik ya emang dikiranya modus aja gitu. Nggak cuma itu, tapi dia ini punya semangat yang membara, dan ringan tangan. Walaupun masa lalunya cukup buruk, tapi Rad bisa dengan dewasa melihat ini semua.

Buatku, Love Risk Management ini nggak cuma masalah kredit macet aja, tapi juga banyak sekali pembahasan tentang keluarga, pasangan, orangtua. Lengkap dan menarik banget. Mengingatkan lagi kalo kerja bener-bener harus teliti, supaya kejadian Atisha nggak terulang di kita.



From the book…
“Fenomena seperti inilah yang paling bikin keki! Ketika ditagih, si peminjam justru congkak, sementara si pemberi pinjaman malah terkesan seperti pengemis.” — P. 16

“Sementara sisanya bilang, aku hanya cari muka. Masa bodoh. Selama tidak merugikan orang lain, artinya tidak masalah. Bukan juga kewajibanku menjelaskan alasan sesungguhnya kepada semua orang.” — P. 23

“Pernah gue coba rapiin. Rasanya kayak ada yang janggal aja. Kadang-kadang … definisi kenyamanan suka aneh-aneh, kan?” — P. 53

“Fenomena ginian, tuh, banyak emang. Dari sahabat jadi saingan demi memperebutkan cuan. Ujung-ujungnya malah sikut-sikutan.” — P. 53

“Ada hal-hal yang yang terjadi di luar kehendak kita. Enggak usah dengerin orang lain. You’re more than enough. You matter. Jadi, lo enggak perlu malu, Atisha. Kalau lo aja enggak bisa mencintai diri lo sendiri, terus siapa lagi?” — P. 76

“Seperti yang pernah kubilang, jika pengalaman memilikinya saja nihil, kita tidak akan merasa terlalu kehilangan.” — P. 115

“Hidup udah susah, jadi mending dibawa nge-chill, Sha. Gue juga baru sekarang-sekarang aja kali bisa kayak gini. Sebelumnya pas masih labil sih boro-boro.” — P. 126

“Secara scoring, Rad mungkin mendapatkan kategori Grey, alias harus ditelaah lebih lanjut kelayakannya atau bahkan Black alias tidak layak. Namun, apa iya semua hal bisa dianalisis logika? Benarkah definisi nyaman itu kadang sulit diterima oleh akal?” — P. 155

“Kalau dipikir-pikir, anak kecil adalah makhluk paling pemaaf. Disakiti bagaimanapun oleh orang terdekat, mereka akan tetap mendekat.” — P. 207

“Pernah, Bu. Namanya juga anak-anak. Ibunya yang selalu jelaskan. Dunia tanpa suara itu bukan dunia yang sepi. Mina masih bisa lakuin banyak hal lain.” — P. 223

“Setelah berbagai hal yang menjungkirbalikkan hidup belakangan ini, aku justru merasa lebih ringan. Lebih lepas. Lebih bahagia. Karena ternyata, penerimaan diri sanggup memulihkan sesuatu yang tadinya separuh, kembali utuh.” — P. 244


Sunday, March 8, 2026

[REVIEW] Pelarian Dua Arah

Pelarian Dua Arah
Olen Saddha
Bhuana Sastra
184 Halaman

“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.”


B L U R B

Ini kisah tentang Bia dan Saga, dua anak manusia yang masing-masing berlari menjauh dari dunia yang penuh tuntutan dan larangan. Bia dengan cita-citanya yang dikubur paksa oleh pacar dan ibunya sendiri, Saga dengan tuntutan pacarnya untuk memikirkan masa depan dan karier.

Lewat gedung pertunjukan dan panggung teater, keduanya sepakat berhenti sejenak untuk menemukan diri mereka sendiri di sana.

- - - - - - - - - 

Bagi Bia, teater dan puisi adalah dunianya. Sayangnya, Gora–pacarnya dan Bu Desy–ibunya sangat tidak menyetujui hal tersebut. Bagi Bu Desy, menjadi aktris adalah hal yang sia-sia, mengapa tidak melakukan hal lain saja? Menjadi pengusaha misalnya? Apapun, asalkan jangan menjadi aktris.
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42
Sementara bagi Saga, saat ini keluarganya lah yang paling utama. Kehilangan Ayah, membuat dia mau tak mau menjaga yang ada, Ibu dan Nolan–adiknya. Saat ini, kuliahnya masih tidak begitu jelas kapan akan selesai, tapi prioritasnya adalah membantu Ibu dan adiknya hidup lebih layak.

Di gedung pertunjukkan, keduanya dekat dan saling berbagi cerita. Lewat teater juga, mereka saling membagi impian mereka. Bisakah mereka akhirnya menyelesaikan masalah mereka masing-masing?


Pelarian Dua Arah sudah menjadi buku incaranku ketika aku nggak sengaja buka websitenya Bhuana Sastra. Aku kira, awalnya ini tentang toxic relationship yang rumit dan nggak menemukan titik terangnya. Yang orang-orangnya menyebalkan gitu. Ternyata enggak.

Tentang Bia dan Saga yang simply hanya ingin menikmati ‘waktu’ mereka masing-masing. Bia dengan dunia teaternya, mimpi masa kecilnya, harus berjalan beriringan dengan larangan ibu dan pacarnya, belum lagi ada beberapa kejadian yang nggak mengenakkan yang harus diterimanya dari Gora.

Sementara Saga, tidak hanya harus berjuang untuk menggantikan posisi ayahnya yang meninggal, dia juga harus memenuhi ekspektasi Ava—pacarnya yang sejak bekerja menjadi punya banyak tuntutan untuk Saga. 

Di awal aku sempat bertanya-tanya, sebesar apa sih kesalahan ayahnya sampai-sampai ibunya Bia kok melarang Bia mati-matian ke teater, bahkan Bia juga harus diam-diam kalau ada kebutuhan untuk teater. Setelah tau gimana kelakuan ayahnya Bia, aku juga ikutan kesel setengah mati. Kok bisa sih ada orang yang pikirannya tuh cupet banget. Kenapa nggak dia memilih untuk bekerja keras membuktikan bahwa dia bisa sukses di dunia teater? Kenapa malah milih jalan yang ampun Tuhan… nggak sanggup lagi aku.

Kisah Saga-Bia ini menurutku sering kita temui di kehidupan sehari-hari, Saga yang lebih memilih memendam, tapi pas ketauan kaget juga. Bia yang serba ‘aku’ dan berusaha mewujudkan mimpinya. Tapi dibalik itu semua, aku cukup kagum sama Bia. Ketika dia sudah menargetkan sesuatu, dia bener-bener mati-matian juga untuk mendapatkan hal itu. Walaupun banyak rintangan, itu nggak menyurutkan Bia. Kalau Saga, aku suka ketenangannya. Cara dia menyikapi suatu masalah, top banget. Menurutku, Ibunya berhasil membesarkan dan mendidik Saga.

Pelarian Dua Arah buatku nggak cuma tentang kehidupan remaja, tapi juga pelarian yang manis. Kukira buku ini bakalan tebal, ternyata tipis dan hangat sekali. Setelah baca, aku senyum-senyum barengan sama Bia-Saga.


From the book…
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42

“Katanya kita harus tahu apa tujuan hidup kita. Tapi begitu tahu, hidup seolah menjauhkan kita dari tujuan itu.” — P. 50

“Katanya kita harus jadi manusia yang sederhana. Tapi nyatanya hidup nggak pernah berpihak pada siapa pun yang memilih hidup biasa-biasa saja.” — P. 51

“Impianku jadi aktris juga timbul-tenggelam. Bahkan aku nggak yakin itu bisa terwujud atau nggak. Tapi, adanya impian itu bikin aku ingat kalau aku masih hidup di dunia. Dan selama masih hidup, yang namanya rintangan nggak akan pernah ada liburnya, kan?” — P. 51

“Katanya, kadang kita harus menyayangi orang yang salah dulu sebelum menemukan orang yang telat. Kamu percaya?” — P. 60

“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.” — P. 159

“Sebetulnya mereka tidak benar-benar yakin, apakah mereka telah melakukan sebuah pelarian atau tidak. Namun, jika memang demikian, berlari berdua membuat mereka sadar, inilah pelarian paling indah untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya.” — P. 174