Sunday, February 8, 2026

[REVIEW] Dua Sisi

Dua Sisi
Arata Kaivan
Wattpad
205 Halaman

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.”


B L U R B

Di dunia di mana garis batas antara benar dan salah hanyalah ilusi, beberapa orang terpaksa berjalan di tepi bayangan. Gilang, Rizal, Chacha, dan sekutu mereka berjuang melawan organisasi gelap yang memiliki kekuatan jauh melampaui yang bisa mereka bayangkan. Setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke konflik yang tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga moral dan hubungan mereka.

Di balik setiap baku tembak dan pengkhianatan, tersimpan dilema yang lebih besar: bagaimana menebus janji, melindungi yang dicintai, dan tetap hidup ketika sistem hukum dan kekuatan yang lebih besar menuntut harga yang mahal? Keputusan mereka bisa menyelamatkan nyawa atau menghancurkan semuanya.

Dua Sisi adalah kisah tentang keberanian di tengah kegelapan, pengorbanan yang pahit, dan 
pencarian identitas di dunia yang menuntut orang untuk memilih antara hidup atau tetap 
menjadi hantu. Di antara pertempuran, strategi, dan trauma, setiap karakter harus menemukan sisi mana yang akan mereka pertahankan: sisi kemanusiaan mereka... atau sisi bertahan hidup yang tak kenal ampun.

- - - - - - - - - 

Dua Sisi merupakan lanjutan dari Satu Titik, jadi untuk yang mau membaca review sebalumnya dipersilahkan.

Kehidupan Rizal, Gilang, Chacha, Ilham, dan sebagian anak geng motor mulai terpecah. Fokus Gilang, Rizal, Chacha dan Ilham tentu saja memberantas geng Hydra, agar tidak ada lagi penguasa yang bertindak seenaknya, bermain politik sesuka hati mereka. Keempatnya selalu berusaha untuk menyusup dan menghancurkan lini bisnis mereka satu persatu, dalam diam.
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40
Nggak hanya harus bermain cantik, keempatnya juga harus terus saling menjaga satu sama lain. Mereka hanya punya satu sama lain. Jika salah satunya lepas, maka mereka akan kelabakan untuk membagi tim. Memberantas kegelapan memang salah satu misi mereka, tapi kalau sampai menaruhkan nyawa, apakah setimpal?


Kalau di buku pertama kita diajak mengenal geng motor, gangster, dan Hydra, para petingginya, siapa yang ada di dalamnya, dan intriknya. Kalau di buku kedua ini lebih seru lagi. Semua petinggi Hydra dan gangster Jaggermesiter, yang ternyata ada Jenderal isipol di sana. Belum lagi Gilang, Rizal, Chacha, Ilham, dan teman lainnya juga harus melakukan penyerangan secara bergerilya, karena tugas mereka tidak resmi dari Kepolisian, sehingga hal ini sedikit banyak menyulitkan mereka.

Nggak hanya Gilang dan RIzal, Riki juga ikutan membalaskan dendamnya pada Richard, partner bisnisnya. Waktu liat Riki yang berusaha ngelawan Richard, aku jadi keinget adegan di Taxi Driver 3! Seru, tapi juga ngilu.

Sepanjang membaca, aku dibawa untuk ikut bersama dengan Gilang dan Rizal dalam menyelesaikan tugas mereka. Tembakan, penculikan, pembakaran, semua ide-ide mereka untuk meringkus dan menjatuhkan Hydra. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Hydra sendiri. Pas saling berkhianat ini, berasa lagi ikutan main Werewolf. Soalnya mereka bener-bener fragile banget. Saling curiga, saling tuduh, dan saling main belakang. Tapi tentu aja hal ini malah memudahkan Gilang dan lainnya untuk menjatuhkan mereka.


From the book…
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40

“Sejak kapan lo jadi naif, Gilang? Pengkhianatan itu hal yang biasa, Gilang. Di tempat kita berdiri sekarang, saling gigit itu udah hal lumrah dan ya, gue belajar dari jenderal itu. Gue mau bersihin sampah sebelum duduk kursi yang benar, tanpa harus ngotorin tangan.” — P. 150

“Karena lo nggak akan pernah dapetin orang yang percaya sama diri lo, pengkhianat nggak pantes bersanding bareng loyalitas.” — P. 151

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.” — P. 204

No comments:

Post a Comment