Sunday, February 8, 2026

[REVIEW] Ikan Kecil

Ikan Kecil
Ossy Firstan
Gramedia Pustaka Utama
248 Halaman

“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.”


B L U R B

Pertanyaan “kapan hamil?” harus dijawab oleh pasangan suami-istri Celoisa dan Deas dengan senyuman selama 45 bulan. Akhirnya mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan kehadiran “ikan kecil” di perut Celoisa. Namun, ternyata itu bukan akhir dari masalah kehidupan rumah tangga mereka.

Saat bayi Olei tumbuh perlahan, Loi dan Deas merasakan ada yang berbeda dari perkembangan anak mereka. Olei sulit sekali diajak berinteraksi. Sepertinya bayi itu hidup dalam dunianya sendiri. Setelah serangkaian tes dijalani Olei, vonis autis datang, Loi pun langsung diterjang rasa bersalah dan penyangkalan demi penyangkalan.

Ini kisah tentang “ikan” di perut yang lahir ke dunia. Tentang mendapatkan apa yang tak pernah diharapkan dan berusaha menerima apa yang tidak pernah diminta.

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak.”

- - - - - - - - - - -

Menikah dan punya anak sekarang sudah seperti perlombaan. Siapa cepat, dia pemenangnya. Nggak hanya berhenti sampai disana, kalau punya anak satu, ditanyain kapan punya anak selanjutnya. Kalau sudah agak besar, ditanyai pencapaiannya apa. Nggak ada habisnya. Begitu pula, dengan Celoisa dan Deas. Setelah berusaha selama empat puluh lima bulan, akhirnya mereka berhasil mendapatkan ‘ikan kecil’ untuk rumah tangga mereka.
“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105
Seharusnya, punya anak saja cukup kan? Tapi ternyata tantangan nggak berhenti di sana. Tumbuh kembang anak pun masuk jadi bahan pertandingan. Bagaimana kalau Olei tidak bisa mencapai tumbuh kembang seusianya? Bagaimana Celoisa dan Deas harus bersikap?


Memilih Ikan Kecil dari sekian banyak buku yang ada di gramedia digital itu cukup bikin ketar-ketir. Awalnya, kukira hanya tentang memiliki anak aja, maklum, aku biasanya nggak baca blurbnya, dan beberapa teman bookstagram sudah membaca, aku kira aman ya. Ternyata cukup bikin aku yang punya anak ketar-ketir.

Menikah dan punya anak, ini seperti perlombaan dan hal wajib dalam masyarakat. Target menikah harus diumur sekian, target punya anak pertama umur sekian, anak cuma satu? Kenapa nggak dua? Anak sudah dua? Kenapa nggak nambah lagi? Nanti kalo sudah sekolah, kenapa nggak sekolah di tempat A/B/C? Bener-bener standarnya banyak bener.

Nggak cuma membahas tentang kehidupan pernikahan Celoisa dan Deas, tapi juga banyak membahas tentang bagaimana saat kehamilan, lahiran dan punya anak. Lengkap banget. 

Deas di sini bener-bener jadi ayah yang siaga! Bisa membersamai Celoisa yang down sejak hamil, menyusui, dan membesarkan Eloi. Bahkan mau repot untuk riset lebih dalam tentang anak autis dan ngajak Celoisa untuk ikut andil di dalamnya. Salut buat Deas. Reaksi Celoisa di sini juga bisa diterima, meskipun pas awal aku agak kesel sama dia, tapi kalau aku di posisi Celoisa pun aku mungkin melakukan hal yang sama.

Menurutku, menikah dan punya anak itu juga nggak harus ada standarnya sendiri kok. Mau nikah umur 30 atau 35, punya anak diumur 35 pun nggak masalah. Memang, risikonya lebih besar, tapi bisa dibantu dengan vitamin dan lainnya. 

Mengurus anak, nggak hanya jadi tanggung jawab Ibu aja. Tapi Ayah juga harus ikut dalam perkembangan anak. Apalagi kalau anak ini ‘spesial’, hadirnya ayah jadi semakin penting. Punya anak yang normal aja susah banget kalo cuma ngurus sendirian, apalagi anak spesial.

Membaca Ikan Kecil kembali mengingatkanku ke masa-masa awal lahiran, capeknya pumping, dan menyusui, masa-masa ngecek milestone terus apa anaknya udah sesuai ya perkembangannya? Apa yang kurang?

Sangat merekomendasikan baca Ikan Kecil untuk semuanya. Karena nggak cuma calon orangtua, siapa tau kita bisa jadi saudara yang tanggap untuk bantu saat saudara lainnya udah punya anak.


From the book …
“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.” — P. 58

“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105

“Kadang kita harus berhenti menyalahkan dan lihat ke depan, Loi. Untuk apa ngungkit-ngungkit sebab kalau itu bikin apa yang bisa kita perbaiki terbengkalai?” — P. 119

“Jangan menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang bukan salah kamu, Loi.” — P. 128

“Mama yakin kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Olei. Tinggal kamunya, mau atau nggak jadi ibu yang baik untuk Olei? Mengikhlaskan keadaan itu nggak bisa instan, Nduk. Pelan-pelan.” — P. 144

“Aku nggak tahu apakah ini berhasil, tapi aku cuma berusaha, Loi. Aku pengin kamu balik jadi Loi yang dekat ke Olei sebelum vonis autis ada. Aku mau Olei tahu orangtuanya sayang sama dia. Bahwa dia ada karena orangtuanya yang meminta ada, dan dia merasa beruntung punya kita sebagai orangtua.” — P. 183

“Hmm.. mungkin lapang dada itu ikhlas ya, Loi. Misal baju kita ketumpahan cat, ya kita harus terima bajunya kotor. Daripada ngabisin tenaga marah-marah sama catnya, mending kita cuci bajunya. Kalau memang nggak bisa hilang, mungkin sudah saatnya jadi kain pel.” — P. 187

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak. Kalau Olei nggak pernah protes sudah dilahirkan dengan keadaan seperti itu, nggak pernah protes punya ibu yang belum bisa menerima dia, kenapa kamu nggak mau berusaha terima dia?” — P. 188


[REVIEW] Dua Sisi

Dua Sisi
Arata Kaivan
Wattpad
205 Halaman

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.”


B L U R B

Di dunia di mana garis batas antara benar dan salah hanyalah ilusi, beberapa orang terpaksa berjalan di tepi bayangan. Gilang, Rizal, Chacha, dan sekutu mereka berjuang melawan organisasi gelap yang memiliki kekuatan jauh melampaui yang bisa mereka bayangkan. Setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke konflik yang tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga moral dan hubungan mereka.

Di balik setiap baku tembak dan pengkhianatan, tersimpan dilema yang lebih besar: bagaimana menebus janji, melindungi yang dicintai, dan tetap hidup ketika sistem hukum dan kekuatan yang lebih besar menuntut harga yang mahal? Keputusan mereka bisa menyelamatkan nyawa atau menghancurkan semuanya.

Dua Sisi adalah kisah tentang keberanian di tengah kegelapan, pengorbanan yang pahit, dan 
pencarian identitas di dunia yang menuntut orang untuk memilih antara hidup atau tetap 
menjadi hantu. Di antara pertempuran, strategi, dan trauma, setiap karakter harus menemukan sisi mana yang akan mereka pertahankan: sisi kemanusiaan mereka... atau sisi bertahan hidup yang tak kenal ampun.

- - - - - - - - - 

Dua Sisi merupakan lanjutan dari Satu Titik, jadi untuk yang mau membaca review sebalumnya dipersilahkan.

Kehidupan Rizal, Gilang, Chacha, Ilham, dan sebagian anak geng motor mulai terpecah. Fokus Gilang, Rizal, Chacha dan Ilham tentu saja memberantas geng Hydra, agar tidak ada lagi penguasa yang bertindak seenaknya, bermain politik sesuka hati mereka. Keempatnya selalu berusaha untuk menyusup dan menghancurkan lini bisnis mereka satu persatu, dalam diam.
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40
Nggak hanya harus bermain cantik, keempatnya juga harus terus saling menjaga satu sama lain. Mereka hanya punya satu sama lain. Jika salah satunya lepas, maka mereka akan kelabakan untuk membagi tim. Memberantas kegelapan memang salah satu misi mereka, tapi kalau sampai menaruhkan nyawa, apakah setimpal?


Kalau di buku pertama kita diajak mengenal geng motor, gangster, dan Hydra, para petingginya, siapa yang ada di dalamnya, dan intriknya. Kalau di buku kedua ini lebih seru lagi. Semua petinggi Hydra dan gangster Jaggermesiter, yang ternyata ada Jenderal isipol di sana. Belum lagi Gilang, Rizal, Chacha, Ilham, dan teman lainnya juga harus melakukan penyerangan secara bergerilya, karena tugas mereka tidak resmi dari Kepolisian, sehingga hal ini sedikit banyak menyulitkan mereka.

Nggak hanya Gilang dan RIzal, Riki juga ikutan membalaskan dendamnya pada Richard, partner bisnisnya. Waktu liat Riki yang berusaha ngelawan Richard, aku jadi keinget adegan di Taxi Driver 3! Seru, tapi juga ngilu.

Sepanjang membaca, aku dibawa untuk ikut bersama dengan Gilang dan Rizal dalam menyelesaikan tugas mereka. Tembakan, penculikan, pembakaran, semua ide-ide mereka untuk meringkus dan menjatuhkan Hydra. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Hydra sendiri. Pas saling berkhianat ini, berasa lagi ikutan main Werewolf. Soalnya mereka bener-bener fragile banget. Saling curiga, saling tuduh, dan saling main belakang. Tapi tentu aja hal ini malah memudahkan Gilang dan lainnya untuk menjatuhkan mereka.


From the book…
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40

“Sejak kapan lo jadi naif, Gilang? Pengkhianatan itu hal yang biasa, Gilang. Di tempat kita berdiri sekarang, saling gigit itu udah hal lumrah dan ya, gue belajar dari jenderal itu. Gue mau bersihin sampah sebelum duduk kursi yang benar, tanpa harus ngotorin tangan.” — P. 150

“Karena lo nggak akan pernah dapetin orang yang percaya sama diri lo, pengkhianat nggak pantes bersanding bareng loyalitas.” — P. 151

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.” — P. 204