Sunday, February 15, 2026

[REVIEW] Cinta Bertepuk Sebelah Mana

Cinta Bertepuk Sebelah Mana
Dimas Abi
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.”


B L U R B

“Naryo, mungkin nggak sih persahabatan kita berakhir di pelaminan?”

Perkara Lian suka mengganti panggilan Gusti seenak jidat memang sudah tabiatnya. Namun, pertanyaan Lian itu sukses bikin Gusti minum obat masuk angin. Masalahnya, ia tak pernah menganggap Lian lebih dari sahabat, meski orangtua mereka berharap sebaliknya. Dengan janji akan memberikan kepastian, Gusti berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya.

Namun, Gusti menyimpan tujuan lain: mencari Seruni, cinta lamanya yang dulu tak pernah terbalas. Takdir mempertemukan mereka kembali, dan kali ini Seruni memberi isyarat yang berbeda. Gusti kini terjebak dalam dua pilihan yang rasanya mustahil. Cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini berubah menjadi cinta bertepuk… sebelah mana?

- - - - - - - - - - -

Bagi Gusti, persahabatannya dengan Lian sejak jaman SMP ya bener-bener hanya sahabatan. Tempat dia nyambat, susah, seneng, apalagi orangtua mereka juga udah deket. Tapi ketika pertanyaan Lian dipenghujung umurnya yang menjelang kepala tiga, Gusti kembali memikirkan persahabatannya lagi selama ini. Masa iya, sahabat jadi cinta? 
“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225
Bukannya Lian nggak cantik, tapi yang Gusti mau bukan Lian. Gusti maunya sama Seruni, cinta pertamanya, cinta monyetnya, cinta sekonyong-konyong kodernya. Kali ini, dengan perjalanannya ke Jepang untuk melanjutkan studi, Gusti juga memiliki agenda lain yaitu bertemu dengan Seruni. Kira-kira gayung bersambut nggak ya? Mengingat Seruni dulu adalah idola semua orang, apa ya nggak makin minder Gusti deketinnya?


Seperti kata kebanyakan orang, pertemanan dua orang yang beda gender itu biasanya nggak ada yang beneran murni. Pasti salah satunya jatuh cinta. Sama seperti Lian dan Gusti, berteman sejak jaman SMP, membuat keduanya paham sifat baik-buruk keduanya. Termasuk siapa yang disukai satu sama lain.

Banyak juga yang bilang first love never dies, cinta pertama nggak pernah mati. Dia cuma tertidur nyenyak aja. Mungkin ini yang dirasakan sama Gusti sama Seruni, cinta pertamanya sejak SMA. Ketika ada kesempatan untuk lanjut S2 ke Jepang dan bertemu kembali, kenapa enggak? Sambil menyelam, minum air!

Pas awal membaca kisah Gusti-Lian-Seruni, aku sempat jadi tim Gusti-Seruni. Soalnya Gusti kan memperjuangkan cinta yang sejak dulu diinginkan, kenapa enggak? Tapi pas tau kalo Seruni nggak sebaik itu, kayaknya jadi temen aja deh. Mendingan sama Lian aja. Daripada makan ati sama Seruni. Ternyata banyak juga ya orang yang enak untuk diajak berteman aja ketimbang masuk dalam suatu hubungan.

Selama membaca dari pertengahan sampe akhir, seru banget sih. Selain melihat perjuangan Gusti mendapatkan Seruni, kita juga diajak jalan-jalan ke Jepang yang memanjakan mata banget. Sesekali aku berhenti untuk cek tempat-tempat yang didatangi sama Gusti dan Herman.

Mengambil setting tempat di Jepang dan Yogyakarta, kita juga diselipkan bagaimana kebiasaan penduduk setempat, budayanya, dan juga bahasanya.

Sosok yang paling kusuka di sini malah Herman, sahabatnya Gusti yang juga kebetulan S2 bareng sama Gusti. Dia ini cowok yang realistis banget, meskipun kadang agak norak dikit. 

Menurutku, buku ini nggak cuma mengajarkan siapa yang lebih pantas buat kita, tapi juga perlakuan dalam satu hubungan. Apalagi melihat Seruni yang cukup dominan dan banyak ngatur di sini. Dan kayaknya kebanyakan cowok tuh lebih ‘nangkep’ perasaannya setelah ditinggal atau bahkan dicuekin dulu ya?

Overall, menikmati sekali baca kisah Gusti-Lian-Seruni ini, sambil menikmati Yogyakarta dan Jepang.


From the book …
“Ibuk nggak lihat itu sebagai masalah, Gus. Lian itu baik, pinter, nyambung, dan yang jelas wes ngerti kamu. Dalam pernikahan justru itu yang penting. Lihat Bapak dan Ibuk, bisa bertahan gara-gara itu semua.” — P. 14

“Maksudku gini, Gus. Ada 133 juta wanita di Indonesia. Ini data BPS lho. Artinya banyak banget pilihane, Gus. Dan dirimu tetap terjebak di satu cewek?” — P. 87

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.” — P. 133

“Berbahagia karena seseorang itu boleh. Tapi menggantungkan kebahagiaan hanya ke segelintir orang, nah iku sing bikin mumet, Nduk.” — P. 187

“Intinya gini lho, Nduk. Sebagian besar yang ada di hidupmu ini, sebenarnya adalah hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Termasuk perasaanmu, masalahmu. Bunda nggak bisa ngatur perasaanmu, Bunda juga nggak bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu sendiri yang bisa mengatur dan menyelesaikannya. Bunda cuma bisa bantu.” — P. 188

“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225

“Gini, Gus. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan, setiap kesalahan punya konsekuensi. Ini konsekuensi yang harus kamu jalani. Kamu juga sih, Gus, ada Lian yang sayang sama kamu, tapi kamunya merem.” — P. 241


Sunday, February 8, 2026

[REVIEW] Ikan Kecil

Ikan Kecil
Ossy Firstan
Gramedia Pustaka Utama
248 Halaman

“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.”


B L U R B

Pertanyaan “kapan hamil?” harus dijawab oleh pasangan suami-istri Celoisa dan Deas dengan senyuman selama 45 bulan. Akhirnya mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan kehadiran “ikan kecil” di perut Celoisa. Namun, ternyata itu bukan akhir dari masalah kehidupan rumah tangga mereka.

Saat bayi Olei tumbuh perlahan, Loi dan Deas merasakan ada yang berbeda dari perkembangan anak mereka. Olei sulit sekali diajak berinteraksi. Sepertinya bayi itu hidup dalam dunianya sendiri. Setelah serangkaian tes dijalani Olei, vonis autis datang, Loi pun langsung diterjang rasa bersalah dan penyangkalan demi penyangkalan.

Ini kisah tentang “ikan” di perut yang lahir ke dunia. Tentang mendapatkan apa yang tak pernah diharapkan dan berusaha menerima apa yang tidak pernah diminta.

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak.”

- - - - - - - - - - -

Menikah dan punya anak sekarang sudah seperti perlombaan. Siapa cepat, dia pemenangnya. Nggak hanya berhenti sampai disana, kalau punya anak satu, ditanyain kapan punya anak selanjutnya. Kalau sudah agak besar, ditanyai pencapaiannya apa. Nggak ada habisnya. Begitu pula, dengan Celoisa dan Deas. Setelah berusaha selama empat puluh lima bulan, akhirnya mereka berhasil mendapatkan ‘ikan kecil’ untuk rumah tangga mereka.
“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105
Seharusnya, punya anak saja cukup kan? Tapi ternyata tantangan nggak berhenti di sana. Tumbuh kembang anak pun masuk jadi bahan pertandingan. Bagaimana kalau Olei tidak bisa mencapai tumbuh kembang seusianya? Bagaimana Celoisa dan Deas harus bersikap?


Memilih Ikan Kecil dari sekian banyak buku yang ada di gramedia digital itu cukup bikin ketar-ketir. Awalnya, kukira hanya tentang memiliki anak aja, maklum, aku biasanya nggak baca blurbnya, dan beberapa teman bookstagram sudah membaca, aku kira aman ya. Ternyata cukup bikin aku yang punya anak ketar-ketir.

Menikah dan punya anak, ini seperti perlombaan dan hal wajib dalam masyarakat. Target menikah harus diumur sekian, target punya anak pertama umur sekian, anak cuma satu? Kenapa nggak dua? Anak sudah dua? Kenapa nggak nambah lagi? Nanti kalo sudah sekolah, kenapa nggak sekolah di tempat A/B/C? Bener-bener standarnya banyak bener.

Nggak cuma membahas tentang kehidupan pernikahan Celoisa dan Deas, tapi juga banyak membahas tentang bagaimana saat kehamilan, lahiran dan punya anak. Lengkap banget. 

Deas di sini bener-bener jadi ayah yang siaga! Bisa membersamai Celoisa yang down sejak hamil, menyusui, dan membesarkan Eloi. Bahkan mau repot untuk riset lebih dalam tentang anak autis dan ngajak Celoisa untuk ikut andil di dalamnya. Salut buat Deas. Reaksi Celoisa di sini juga bisa diterima, meskipun pas awal aku agak kesel sama dia, tapi kalau aku di posisi Celoisa pun aku mungkin melakukan hal yang sama.

Menurutku, menikah dan punya anak itu juga nggak harus ada standarnya sendiri kok. Mau nikah umur 30 atau 35, punya anak diumur 35 pun nggak masalah. Memang, risikonya lebih besar, tapi bisa dibantu dengan vitamin dan lainnya. 

Mengurus anak, nggak hanya jadi tanggung jawab Ibu aja. Tapi Ayah juga harus ikut dalam perkembangan anak. Apalagi kalau anak ini ‘spesial’, hadirnya ayah jadi semakin penting. Punya anak yang normal aja susah banget kalo cuma ngurus sendirian, apalagi anak spesial.

Membaca Ikan Kecil kembali mengingatkanku ke masa-masa awal lahiran, capeknya pumping, dan menyusui, masa-masa ngecek milestone terus apa anaknya udah sesuai ya perkembangannya? Apa yang kurang?

Sangat merekomendasikan baca Ikan Kecil untuk semuanya. Karena nggak cuma calon orangtua, siapa tau kita bisa jadi saudara yang tanggap untuk bantu saat saudara lainnya udah punya anak.


From the book …
“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.” — P. 58

“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105

“Kadang kita harus berhenti menyalahkan dan lihat ke depan, Loi. Untuk apa ngungkit-ngungkit sebab kalau itu bikin apa yang bisa kita perbaiki terbengkalai?” — P. 119

“Jangan menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang bukan salah kamu, Loi.” — P. 128

“Mama yakin kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Olei. Tinggal kamunya, mau atau nggak jadi ibu yang baik untuk Olei? Mengikhlaskan keadaan itu nggak bisa instan, Nduk. Pelan-pelan.” — P. 144

“Aku nggak tahu apakah ini berhasil, tapi aku cuma berusaha, Loi. Aku pengin kamu balik jadi Loi yang dekat ke Olei sebelum vonis autis ada. Aku mau Olei tahu orangtuanya sayang sama dia. Bahwa dia ada karena orangtuanya yang meminta ada, dan dia merasa beruntung punya kita sebagai orangtua.” — P. 183

“Hmm.. mungkin lapang dada itu ikhlas ya, Loi. Misal baju kita ketumpahan cat, ya kita harus terima bajunya kotor. Daripada ngabisin tenaga marah-marah sama catnya, mending kita cuci bajunya. Kalau memang nggak bisa hilang, mungkin sudah saatnya jadi kain pel.” — P. 187

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak. Kalau Olei nggak pernah protes sudah dilahirkan dengan keadaan seperti itu, nggak pernah protes punya ibu yang belum bisa menerima dia, kenapa kamu nggak mau berusaha terima dia?” — P. 188