Sunday, May 10, 2026

[REVIEW] Re: dan peRempuan

Re: dan peRempuan
Maman Suherman
Kepustakaan Populer Gramedia
336 Halaman

“Kita tidak hidup dari pertanyaan orang lain. Kita juga harus hidup dari jawaban-jawaban kita sendiri atas semua persoalan hidup.” 


B L U R B

"Panggil aku: Re:!"
"Pekerjaanku pelacur!"
"Lebih tepatnya, pelacur lesbian!"

Pertemuan dengan Re:, si pelacur lesbian, mengubah jalan hidup Herman. Semula, mahasiswa Kriminologi itu menganggap Re: sekadar objek penelitian skripsinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Kisah hidup Re: yang berliku menyeret Herman hingga jauh ke dalam. Herman terpaksa terlibat dalam sisi tergelap dunia pelacuran yang bersimbah darah, dendam, dan air mata.

…………………………………………………………………………..

Dua puluh enam tahun setelah kematian Re:,
Melur kembali ke tanah air dengan gelar PhD tersandang di belakang namanya.
Sejumlah tanya ia bawa pulang:
Siapa sebenarnya ibu kandungnya?
Betulkah ibunya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian?
Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragis itu?
Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau.
Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap? Tidakkah hal itu akan memicu Melur untuk membalas dendam?
Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka?

peREmpuan adalah sekuel novel RE: yang diangkat dari kisah nyata.

- - - - - - - - -

Berawal dari Herman, seorang mahasiswa Kriminologi yang sedang melakukan penelitian untuk skripsinya yang membahas tentang dunia malam, ia mengenal Re: seorang pekerja malam yang hanya melayani perempuan saja. Dibawah bimbingan Mami Lani, Re: melakukan pekerjaannya.
“Masalahku dan masalahmu sama saja. Juga masalah semua orang. Ukurannya hanya segenggam garam. Nggak lebih nggak kurang. Semua punya penderitaan. Rasa asin, kecut penderitaan yang kita alami itu sangat bergantung dari besarnya hati yang menampungnya.” — P. 161
Awalnya banyak sekali pekerja malam yang ditemui Herman, Re: cukup sulit didekati. Setelah beredar cukup sering di dekat Re:, barulah Re: melihatnya dan memperbolehkannya menjadi supir yang mengantarkan Re: melayani pelanggannya.

Tidak hanya menceritakan kisah Re:, melalui Herman, kita juga diajak untuk menyelam ke dunia pekerja malam yang bahkan terbagi menjadi beberapa bagian kecil. Kalau selama ini yang kita kenal dunia malam identik dengan perempuan yang melayani laki-laki saja, di sini kita diperlihatkan bahwa ada juga ban-ci, gig-olo dan yang melayani perempuan dan laki-laki.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, Re: dan peRempuan. Bagian Re: banyak menceritakan bagaimana keseharian Re:, kegiatannya, teman-temannya, cara pandangnya, dan juga impiannya. Menurutku, meskipun pekerjaan Re: bisa dipandang sebelah mata, tapi cara pandangnya bener-bener beda. Nggak jarang, dia malah mendebat Herman, karena cara pandang Herman tidak seluas dirinya. Apalagi dengan berbagai kejadian yang pernah Re: dan Herman lihat, menurutku Herman terlalu bermain aman dan berpegang pada teori. Dia lupa, terkadang manusia bisa lebih jahat daripada setan yang dibilang sering menghasut manusia.

Di bagian kedua, dimulai dari Melur yang sudah dewasa dan mempertanyakan siapa ibu kandungnya, betulkah orangtuanya adalah yang selama ini merawatnya? Ataukah orang yang selama ini datang untuk memberikan banyak kado adalah ibunya? Herman masih menyembunyikan hal itu. Dia masih terlalu takut kalau menceritakan hal itu membuat Melur berpadangan negatif terhadap ibunya sendiri. 

Buatku, Re: dan peRempuan sangatsangat personal, mengingat buku ini juga diangkat dari kisah nyata. Meskipun setting waktunya di tahun yang cukup lama, aku masih bisa membayangkan betapa tidak nyamannya kehidupan Re:, termasuk sulitnya informasi jaman dulu. Mungkin kalau itu terjadi di jaman sekarang, sudah viral di media sosial, tidak ada kejadian Shinta, atau Re:. Nggak hanya mengangkat sisi perempuan, tapi juga bobroknya isipol dan kejahatan media sejak dulu. Apalagi bagian framing pekerja dunia malam. Bener-bener ya, tidak cukup menuliskan korban saja, harus ditulis lengkap dengan pekerjaannya. Dan dari kasus yang terjadi juga seringnya menghilang begitu aja, seperti dianggap nggak penting atau memang risiko pekerjaannya.

Meskipun ceritanya sangat personal, aku di sini berasa kayak ikut kelas Kriminologinya Herman. Banyak sekali dicantumkan teori-teori dan judul buku yang dipakai untuk skripsinya. Di bagian akhir, kita juga diberi kejutan kecil oleh Melur. Ternyata dia jauh lebih pintar daripada yang dibayangkan Herman. Aku sendiri juga nggak menyangka hal itu.

Ah iya, warning 18+ di sini benar-benar harus dijalankan. Karena banyak pemikiran yang takutnya bisa menggoyahkan iman anak under 18 tahun.


From the book…
“Kata Sinta, lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggep bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk.” — P. 34

“Cinta bisa berdamai dengan luka, tapi tidak dengan pembunuhan. Dan, kamu…!!! Kamu diam saja melihat kematianku. Aku yakin, kamu tahu siapa pembunuhku!” — P. 139

“Masalahku dan masalahmu sama saja. Juga masalah semua orang. Ukurannya hanya segenggam garam. Nggak lebih nggak kurang. Semua punya penderitaan. Rasa asin, kecut penderitaan yang kita alami itu sangat bergantung dari besarnya hati yang menampungnya.” — P. 161

“Kita tidak hidup dari pertanyaan orang lain. Kita juga harus hidup dari jawaban-jawaban kita sendiri atas semua persoalan hidup.” — P. 175

“Segenap perasaannya sebagai perempuan sekaligus ibu yang tak berdaya tumpah-ruah jadi satu, seluruh jiwa raganya yang ditempa kerasnya kehidupan menjelma kasih sayang dan cinta yang murni. Tak ada lagi ego, bahkan sering tak masuk logika. Yang dia inginkan, kebahagiaan sang buah hati semata.” — P. 180

“Betul kata orang, cinta tidak butuh alasan, karena cinta itu sendiri adalah alasan sekaligus tujuan.” — P. 181

“Bahagia itu ada di hati setiap orang. Termasuk di hati pelacur seperti saya. Bisa jadi orang kaya yang membayar untuk meniduri saya itu, tidak lebih bahagia dari saya.” — P. 241

“Modalnya cuma satu, kata Re:, ‘Kamu mau terus membenamkan diri dalam perasaan sebagai orang yang paling sial dan sengsara di muka bumi ini, atau masih mau menghargai sekecil dan sesederhana apa pun yang namanya kelezatan itu.’” — P. 242

“Penulis yang baik dan jurnalis yang baik seperti Om, para filsuf, harus selalu ada. Tulisan mereka, pemikiran mereka masih sangat dibutuhkan untuk membuka mata dan pikiran banyak orang. Supaya orang tidak larut pada apa yang Om sebut sebagai ‘mereka yang bertahan bukan lagi karena cinta, melainkan semata karena aku sudah terbiasa dengan dia.’” — P. 254



No comments:

Post a Comment