RD Lights VengeanceRuth Priscilia AngelinaGramedia Pustaka Utama432 Halaman
“Selalu ada timbangan tepat untuk membeli keberuntungan. Keajaiban sekalipun selalu menuntut harga yang sepadan.” — P. 23
B L U R B
Ditawari menjadi stylist pribadi dan asisten manager RD LIGHT, grup band rock Jepang dengan popularitas mancanegara, terasa bagai kisah penyelamatan untuk Rika Wiyasa. Namun, ceritanya bersama empat personel kemudian berubah menjadi skandal dan roller coaster emosi penuh sinyal berbahaya.
Melibatkan jadwal tampil yang padat serta lagu-lagu top chart yang dituntut terus dilahirkan, Rika mulai terseret-seret ke dalam masa lalu yang belum selesai. Rahasia-rahasia menampakkan diri. Ulang tahun yang tidak dirayakan, kematian personel kelimat, dan kebenaran kasus dua puluh tahun lalu. Di samping itu semua, Rika masih berurusan dengan mimpi buruknya sendiri.
Shigeru Arai, Isao Fukuda, Ryou Uchida, Kazue Inoue. RD LIGHT. Mereka dulu berlima, lalu jadi berempat, dan kini kembali berlima bersama Rika Wiyasa. Mereka bersinggungan, saling terlibat, sesekali berkonflik. Perasaan-perasaan lain mulai tumbuh subur. Profesionalitas, persahabatan, kepercayaan, kerinduan, dan cinta. Tak ada yang menyangka suatu hari nanti perasaan mereka akan menuntut harga yang sangat mahal.
- - - - - - - - -
Bagi Rika Wiyasa, hidup ini tidak pernah begitu adil padanya. Kehilangan orangtua pada saat ulang tahunnya, bukanlah hal yang menyenangkan, sampai sekarang dia masih merasa bersalah dan menganggap bahwa dia seolah pembunuh kedua orangtuanya. Saat ini, fokusnya hanya Riko—adiknya, dia bekerja keras mencari uang untuk kehidupan Riko yang lebih baik. Walaupun saat ini dia masih sedikit menyesal kenapa tidak mendapatkan pekerjaan di Jepang seperti yang ada dibayangannya.
“Memangnya menurutmu punya kekasih cukup untuk menyembuhkan trauma? Kurasa tugas seperti itu lebih banyak melibatkan diri sendiri dan psikiater.” — P. 80
Mendapatkan penawaran kerja sebagai stylist RD Light, Rika mulai mempertimbangkan hal itu. Apalagi untuk masa depannya dengan RIko. Ketika memutuskan untuk pindah ke Jepang, Rika sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Isao Fukuda, mengingat kerja sama pertamanya dengan RD Light di Jakarta, cukup menguras emosinya.
Sesampainya di Jepang, Rika dikejutkan karena harus tinggal serumah dengan keempat anggota band lengkap dengan peraturan yang mengikatnya. Rika juga perlahan mencoba mencari tau apa kesukaan dan rutinitas keempatnya. Shigeru yang selalu misterius dan pengambil keputusan mutlak, Isao yang selalu komplain, Ryou yang sangat ramah, dan Kazue yang lebih suka bermain game di kamar.
Semakin Rika berusaha mencari tahu, semakin banyak hal yang tidak bisa dihindari dan terus memancing rasa penasarannya. Masalahnya, hal ini nggak cuma rasa penasaran aja yang terpancing, tapi juga hatinya, pelan-pelan tergerak untuk mendekat dengan keempat personil band ini.
Novel karya Ruth Priscilia yang kembali kubaca setelah terbit sekian lama. Kalau nggak salah, terbitnya sudah dari dua atau tiga tahun lalu, aku sudah punya juga versi cetaknya, tapi masih belum terbaca sampai sekarang. Malah memutuskan membaca versi digitalnya.
Cerita ini dibagi menjadi tiga bagian, Rika Wiyasa, Shigeru Arai, dan Riko Wiyasa. Di bagian awal, kita akan disuguhkan bagaimana kehidupan Rika yang kadang ada penyesalan di dalamnya. Inti dari segala kehidupannya hanya Riko, Riko, dan Riko. Memang apa lagi yang bisa diharapkan oleh anak yatim piatu kalau bukan saudaranya sendiri, kan? Sementara di bagian Shigeru, dijelaskan bagaimana kehidupannya sejak kecil, hingga sekarang, masa lalu yang terus menghantuinya, dan bagaimana sikapnya sampai saat ini.
Selama membaca, kita diajak menyelami bagaimana perasaan tokoh-tokohnya. Dengan alur maju-mundur untuk menceritakan keresahan yang dialami mereka. Bagian Shigeru menurutku yang paling panjang. Mungkin karena dia juga tokoh dengan masa lalu yang cukup kelam, dengan segala trauma yang dimilikinya.
Tidak seperti Forever Monday yang menyakitkan sejak awal, di sini baru kerasa berat dan menyesakkan di bagian menjelang akhir. Kalau aku menarik kesimpulan, memang kalau suka sama seseorang, sampaikan saja sejak awal. Biar nggak ada rasa penyesalan yang tiba belakangan. Apapun yang terjadi, terjadilah. Tidak usah menjaga jarak apalagi memusuhi sejak awal. Karena kita nggak akan pernah tau umur seseorang.
SPOILER ALERT!
Sejujurnya aku sedikit sebel dengan endingnya, karena aku berharap Shigeru sempat menyampaikan perasaannya, atau Rika yang pulih sebelum Shigeru menyelesaikan tour 52 kota-nya. Tapi kalau penulisnya Ruth Priscilia, mau berharap apa? Jujur aku mulai menangis di bagian RD Lights yang mulai menyampaikan harapan mereka pada Rika, dan semakin parah ketika Riko mengatakan hal terakhirnya untuk Rika. Ya ampun.
From the book…
“Mereka mencintaiku, sebesar keberanian mereka meninggalkanku.” — P. 12“Di saat kau merasa hidup-carut marut dan tak perlu dipertahankan lagi, kadang semesta menghadiahkan kebaikan-kebaikan kecil supaya kau bertahan.” — P. 12“Utang budi itu lebih mahal daripada emas dan permata.” — P. 14“Selalu ada timbangan tepat untuk membeli keberuntungan. Keajaiban sekalipun selalu menuntut harga yang sepadan.” — P. 23“Jangan tersinggung, aku sedang memuji. Memiliki kontrol kuat terhadap keinginan untuk membentak balik seseorang sementara merapikan urusan dan tanggung jawab lain adalah kelebihan yang patut diapresiasi.” — P. 39“Yang perlu kau lakukan adalah jangan terlalu memasukkannya ke hati. Dan jangan terlalu melawan. Kalau di dunia gim, mereka itu seperti karakter yang sulit dikendalikan, tapi berkekuatan besar. Tak perlu terlalu menyayangi mereka. Ingat saja kau perlu kekuatannya untuk mematikan musuh.” — P. 49“Memangnya menurutmu punya kekasih cukup untuk menyembuhkan trauma? Kurasa tugas seperti itu lebih banyak melibatkan diri sendiri dan psikiater.” — P. 80“Bisa ya, bisa tidak. Aku tidak pandai berfilosofi masalah harta, tapi aku menikmati kenyamanan. Di sisi lain, kenyamanan juga punya bahayanya sendiri. Kadang kau jadi tidak tahu apa yang kauinginkan.” — P. 115“Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa derajat orang yang sukses dan mapan karena hobinya lebih tinggi daripada karyawan kantoran yang tidak terlalu menyukai pekerjaannya dan hanya memiliki cukup tabungan untuk hidup sehari-hari. Sekarang, katakan, apa yang sangat berbeda dari kita?” — P. 192“Aku memang bajingan, tapi aku tidak pernah berniat menghancurkan hidup orang lain.” — P. 250“Itu hanya keputusan egois kita, Shigeru. Karena tak bisa mengendalikan banyak hal, kita coba mengendalikan hal terakhir, nyawa diri sendiri. Dulu kupikir aku yang berhak memutuskan hidupku dapat diteruskan atau tidak. Kan ini hidupku. Sama seperti dirimu sekarang. Kau cuma mau mengatakan; ini kan hidupku. Ya, kan?” — P. 266“Mudah saja untuk mati. Yang sulit adalah bertahan hidup bersama kenangan tentang orang terkasihmu yang memutuskan mati. Kau lebih tahu rasanya daripada siapa pun.” — P. 267“Rika selalu mengajariku untuk menjadi pemaaf. Katanya untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini kita cuma bisa banyak-banyak memaafkan.” — P. 291“Jangan lagi lewatkan hari-hari yang ada sekarang karena kau terus hidup di hari kemarin. Cintai orang yang ingin kau cintai dan jangan menyesali apa pun. Kau bukan lagi anak berumur tiga belas tahun, kau sudah selesai menjadi anak yang menyaksikan ayahnya mati di depan matanya.” — P. 310
No comments:
Post a Comment