Bless the Broken RoadAnthonio JoshuaStiletto Book440 Halaman
“Kamu tanya kenapa aku pilih kamu setelah semuanya ini? Jawabannya adalah karena itu kamu.”
B L U R B
Anthony telah mencintai Giselle sejak masa muda mereka. Sementara ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memantaskan diri bagi Giselle, Giselle justru sibuk bertahan dari masa lalu yang menghancurkan kepercayaannya pada cinta.
Kini sebagai seorang dokter gigi yang sukses, Giselle menyimpan beban sunyi dari pertunangan yang kandas dan trauma yang jarang ia ungkapkan. Ketika jalan mereka kembali bertemu, Anthony bertekad bukan hanya untuk mencintainya, tetapi untuk berjalan di sisinya, melewati semua hal yang selama ini ia sembunyikan dari dunia. Namun, cinta tidak pernah hanya tentang dua orang.
Ketika luka lama kembali terbuka dan rahasia keluarga mulai terungkap, Anthony dihadapkan pada sebuah kenyataan yang selama ini ia takuti: terkadang, mencintai seseorang berarti mengambil risiko menjadi orang yang justru menyakitinya.
Dalam kisah tentang penyembuhan, pengorbanan, dan keberanian untuk tetap tinggal, Bless the Broken Road mengajukan satu pertanyaan: Mampukah cinta bertahan dan menang dari luka-luka kehidupan?
- - - - - - - - -
Giselle, seorang dokter gigi yang sudah cukup settle dengan hidupnya, tiba-tiba bertemu dengan Anthony, teman lamanya di sebuah kafe matcha yang belakangan ini viral. Berawal dari 3 gelas dirty matcha, warabi mochi, dan gyoza yang dikirimkan ke meja Giselle dengan embel-embel on the house owner, membuat hubungan mereka yang dulunya merenggang kembali dekat.
“Bukannya marriage tuh kayak gitu? Pada akhirnya, kita bakal sama-sama menua. The heat will go off. The physical attaction will wear off. The.. ehm… sex will not always be there. Pada akhirnya, cuma ngobrol, Gis. Bercinta lewat katalah istilahnya.” — P. 173
Bagi Anthony, kedatangan Giselle saat itu mungkin adalah sebuah pertanda, kali ini dia harus maju, memperjuangkan apa yang pernah dia rasakan. Walaupun memulainya kembali sebagai teman. Mendekati Giselle tidaklah mudah. Giselle pernah menjalani sebuah hubungan, dan hampir menikah. Sayangnya pernikahan itu tidak terjadi. Calon suaminya menghilang entah ke mana. Support yang dimilikinya hanyalah Jesslyn—kakak perempuannya.
Masalah nggak hanya berhenti sampai di situ. Masa lalu Giselle, hubungan Giselle dengan orangtuanya juga turut mempengaruhi hubungannya dengan Anthony. Begitu pula dengan hubungan Anthony dan keluarganya. Bisakah kali ini Anthony memanfaatkan kesempatan dan memperjuangkan Giselle untuk kedua kalinya?
Kehidupan percintaan ketika sudah lewat masa-masa jahiliyah yang biasanya dilakukan di early 20’s, jadi kerasa kayak…lebih deep ya.
Ini tentang Giselle, yang dibalik sifatnya yang ceria, dia menyimpan begitu banyak beban di pundaknya. Kegagalan pernikahannya, hubungan dengan ayahnya sejak dia kecil malah. Kehilangan ibu sejak kecil, membuat Giselle malah jauh lebih dekat dengan Jesslyn ketimbang ayahnya. Fatherless. Sementara Anthony, datang dari keluarga yang cukup cemara. Kedua orangtuanya masih lengkap, adik yang sedang menjalani perkuliahan di luar negeri, walaupun hubungannya dengan ayahnya sedang bermasalah, itu tidak terjadi sejak dulu.
Berawal dari pertemuan yang tak disengaja, tapi sudah diantisipasi sama Anthony karena kafe viral—Komorebi—itu adalah miliknya, Anthony mendapatkan kesempatan kedua untuk mendekati Giselle. Dia sudah berusaha untuk terus memantaskan diri, sekarang dia bukan lagi cowok kurus dan pendiam. Anthony sudah sedikit terbuka dan Komorebi ini adalah satu hal yang dia banggakan.
Dari sisi Giselle, pertemuannya kali cukup tidak terduga dan lumayan bikin kaget. Dia masih berusaha untuk menyembuhkan luka pasca batal menikah di hari-H. Giselle juga masih terus mengingat-ingat kesalahan-kesalahan yang sering dibuatnya karena kesibukannya menjadi dokter gigi di Klinik Gigi’s. Bertemu dengan Anthony kali ini, dia tidak berharap banyak. Sekadar menjalin kembali pertemanan.
Membaca Bless the Broken Road awalnya aku cuma mikir kalau trope-nya ini second chance. Tapi ternyata jauh lebih dalam dari itu! Bener-bener di awal kita diajak mengenal Giselle, mempertanyakan kenapa pernikahannya batal, ketemu sama Anthony yang terlalu baik ke semua orang. Setelah itu mereka mulai pendekatan, hubungan Giselle dan ayahnya mulai dibahas. Runut bangetbangetbanget!
Hal yang cukup mengejutkan ketika Anthony-Giselle sudah melangkah cukup dekat. Ternyata keluarga Anthony juga punya masalah! Di sini mulai deh isinya tegang semua. Aku yang baca juga ikutan tegang. Pas habis melewati masa ini, langsung ngomel-ngomel karena isinya orang jahat semua. Dih. Ngeselin.
Yang aku paling suka adalah ketika membahas kehidupan pernikahan mereka nantinya akan seperti apa. Ini mirip banget kayak pas aku sama suamiku dulu. Kami bahassss semuanya di pertengahan pacaran. Kehidupan yang aku mau seperti apa, nanti kalo punya anak gimana, kehidupan after marriage yang aku harapkan seperti apa. Karena suamiku mirip sama Anthony, jadi yaa… lebih banyak aku yang mau. Hahaha… Tapi buatku itu lebih meaningfull lho, dan kayaknya anak-anak jaman sekarang tuh udah mulai kayak gini juga. Bahkan ada yang declare dari awal, niatnya bakalan main-main atau mau serius.
Selain itu, aku juga salut banget sama Giselle pas ngejar Anthony lagi. Ini orang dua kalo udah sama-sama commit, cocok banget lho. Heran deh sama Anthony yang terlalu banyak pertimbangan.
Mengambil latar di Jakarta Selatan bagian anak hits, aku suka ketika kak Anthony menjelaskan dengan cukup detail bagaimana suasananya, lingkungannya. Dan juga dijelaskan dengan detail tentang per-matcha-an. Kerenkeren.
Dituliskan dalam POV Anthony dan Giselle, membuat kita jadi mengerti struggle masing-masing. Apa yang mereka pikirin, perencanaan mereka ke depannya, meskipun gemes banget pas mereka udah keras kepala.
From the book…
“Bukannya marriage tuh kayak gitu? Pada akhirnya, kita bakal sama-sama menua. The heat will go off. The physical attaction will wear off. The.. ehm… sex will not always be there. Pada akhirnya, cuma ngobrol, Gis. Bercinta lewat katalah istilahnya.” — P. 173“Pernikahan itu adalah tentang memilih orang yang sama berulang kali. Nggak peduli mereka udah berubah kayak gimana.” — P. 174“Dari situ, sih, aku belajar satu hal aja. Ternyata dia sayang kalo aku nurutin maunya dia. Jadi karena semuanya transaksional, ya aku juga transaksional aja sama dia. Kontak seperlunya aja.” — P. 176“Lo pikir jadi pahlawan itu harus selalu jadi martir?” — P. 277“Aku nggak peduli, Ni. You are my prize. Bukan pestanya, bukan venue-nya. Kamu.” — P. 397“Kamu tanya kenapa aku pilih kamu setelah semuanya ini? Jawabannya adalah karena itu kamu. Kalau bukan kamu, nggak mungkin aku bertahan selama ini. Because it’s you whom I’m waiting for, I am able and willing to do it.” — P. 409
No comments:
Post a Comment