Sunday, September 6, 2026

[REVIEW] Kastil dan Es Air Mancur Berdansa

Kastil dan Es Air Mancur Berdansa
Prisca Primasari
Gagas Media
292 Halaman

“Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus berani menghadapi segalanya.” 


B L U R B

Vinter
Seperti udara di musim dingin,
Kau begitu gelap, muram, dan sedih
Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih.
Bagaikan di Honfleur yang berdansa diembus angin

Florence
Layaknya cuaca pada musim semi
Kau begitu tenang, cerah, dan bahagia
Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga
Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri

- - - - - - - - -


Florence sedang dalam usahanya untuk kabur dari perjodohan yang dilakukan orangtuanya. Selama ini, Florence merasa orangtua dan sahabatnya terlalu ikut campur dalam hubungannya. Padahal kan Florence sudah besar. Seharusnya tidak perlulah sampai orang tuanya yang memilihkan pasangan hidupnya.
“Mungkin karena kemampuanmu itulah, kau bisa membuat Vernalae tertawa. Kau bisa menyimpulkan apa sebenarnya yang membuatnya senang.” — P. 83
Ketika akhirnya Florence bisa kabur dari rumah, dia segera berlari menuju ke stasiun dan memesan kereta seadanya, pokoknya berangkat sekarang. Yang Florence tidak tau, sejak di dalam kereta perjalanan ke Deauville inilah yang kemudian membuatnya berkenalan dengan Vinter, laki-laki yang memberikan tas yang dibawanya, menceritakan tentang Zima dan kebutuhannya mencari sekumpulan seniman yang mau berpentas di depan Zima mulai dari menari, akting, hingga membacakan puisi.

Bisakah pertemuan yang tiba-tiba dan serba mendadak ini membuat Vinter dan Florence menjadi dekat? Ataukah hanya sebuah pertemuan semata?

Udah lama banget nggak baca karya kak Prisca, ada kayaknya beberapa tahun lalu. Sebenernya ini juga bukan karya terbarunya, tapi tetep bikin penasaran.

Jadi sebenernya, umur berapa sih perempuan dikatakan matang dan dipercaya untuk bisa memilih pasangannya sendiri? Tapi gimana kalau pasangan yang kita pilih tidak tepat?

Karena hal itulah, kedua orang tua Florence memilih untuk membuatkan kencan buta, sayangnya, Florence kabur sebelum hal itu terjadi. Hubungannya yang terakhir memang buruk, tapi baginya itu bukan alasan kedua orang tuanya boleh memperkenalkan kepada orang yang baru. Sementara Vinter sendiri, dia awalnya akan bertemu dengan seseorang. Sayangnya ada hal mendesak yang memaksanya kembali ke Honfleur dan kemudian bertemu dengan Florence di dalam kereta.

Pertemuan dan beberapa kejadian yang terjadi di Honfleur, membuat Vinter dan Florence melihat diri mereka sendiri dan lawannya. Florence yang ternyata cukup peduli pada Zima, Vinter yang ternyata suka mendatangi beberapa pertunjukan. Belum lagi saat kedatangan Celine—sahabat Florence yang diberi kepercayaan oleh kedua orang tua Florence untuk menyusul dan menjaganya. Dibalik ketenangan Vinter dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi, ternyata dia menyimpan permasalahan yang cukup pelik di masa lalu, yang masih menghantuinya sesekali di masa kini. 

Mengambil latar tempat di Paris di tahun 1997, kerasa banget betapa jadulnya mulai dari pakaian yang dipakai, cara mereka merespon sesuatu, sampai alat transportasi yang digunakan. Walaupun ada handphone, yang kurasa agak aneh di masa itu, tapi setelah kucek, memang beneran ada handphone loh. Bahkan di Paris, handphone udah berkembang pesat! Nggak cuma itu, kak Prisca seperti biasa, memasukkan unsur cerita-cerita khas negara tersebut. Kali ini cerita dari Snegurochka

Hubungan Vinter-Florence ini juga mengalir aja gitu. Walaupun bisa dibilang mereka ini cinta lokasi ya. Tapi justru yang hubungan seperti ini lebih bikin cepet ‘klik’ daripada yang direncanakan lama. Vinter di sini bukan tipe cowok yang ngejar banget, tapi dia selalu mengusahakan apa yang dia bisa usahakan. Tepat waktu, siap untuk memprovide Florence selama bersamanya. Sayang sekali sama Vinter.

Fakta yang mengejutkan diselipkan di akhir. Aku terkejut sekaligus seneng. Soalnya menurutku begitulah cara semesta bekerja. Endingnya heartwarming banget. Duh, aku berasa jatuh cinta lagi.


From the book…
“Aku tidak pernah bilang kalau definisi ‘bahagia’ berarti berkencan dengan seseorang yang bahkan tidak pernah kulihat.” — P. 4

“Sama halnya dengan manusia, yang tidak akan bertahan lama bila tidak ada yang mendukung atau mendampinginya; betapapun hebatnya, mereka pasti akan terlupakan.” — P. 25

“Tidak, aku tidak lupa. Aku tidak benar-benar ingin pergi. Aku hanya ingin menguji apakah kau mengingat janji itu. Ternyata kau mengingatnya.” — P. 57

“Bukannya aku tidak ingin dia bahagia. Bagaimanapun dia telah banyak menolongku.” — P. 80

“Mungkin karena kemampuanmu itulah, kau bisa membuat Vernalae tertawa. Kau bisa menyimpulkan apa sebenarnya yang membuatnya senang.” — P. 83

“Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus berani menghadapi segalanya.” — P. 88

“Bukan cuma kau—kami juga tidak ingin kau terluka lagi. Tapi kami juga tidak ingin hidupmu terhenti hanya karena kau tidak bisa melupakan seorang lelaki brengsek. Kami hanya ingin membantumu.” — P. 89

“Begitulah. Masa lalu memang mengubah kita dengan cara yang aneh, bukan?” — P. 127

“Aku melupakan kesedihan dengan melukai diriku sendiri. Mulanya tak sengaja—tanganku terluka ketika sedang memasak. Tapi! Sakit di tubuhku membuatku merasa lebih baik… membantuku melupakan luka di hatiku.” — P. 157

“Sisi dirinya yang lain mengatakan bahwa esensi waktu tidaklah sesederhana itu. Sedetik dapat terasa seperti selamanya, dan selamanya bisa menjadi sedetik atau bahkan tidak ada sama sekali.” — P. 158

“Apa itu penting? Bukankah definisi orang tentang cinta berbeda…? Aku merasa aku mencintaimu, dan itu menjelaskan mengapa aku tetap ingin berada di sini.” — P. 161

“Percayalah. Ketika kau kembali ke kehidupanmu… bertemu lagi dengan orang-orang yang kau sayangi, kau tidak akan ingat lagi kepadaku. Kau pasti akan melupakan pria kesepian yang suka menyakiti dirinya sendiri… yang berteman akrab dengan pisau dan kesunyian.” — P. 161

“Tidak ada yang bisa mencegah kematian. Kau terlalu keras pada dirimu sendiri.” — P. 220

“Masa lalu tidaklah penting. Orang yang punya masa lalu buruk belum tentu akan menjadi pribadi yang buruk juga. Semua tergantung pilihan hidup.” — P. 226

“Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri.” — P. 277

“Percayalah juga, bahwa orang lain tidak melihatmu seperti kau melihat dirimu sendiri.” — P. 285

No comments:

Post a Comment