The CaseAudieBlack Swan288 Halaman
“Masa lalu yang tak pernah menghilangkan jejaknya akan terkenang dalam trauma yang berbekas. Tentang apa pun masa lalu itu, melupakannya bukan hal yang mudah bagi siapa pun.”
B L U R B
Tentang detektif bernama Winata Azalyno dan bagaimana perjalanannya untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan di SMA AE yang menyimpan banyak misteri. Kasus yang tak pernah terungkap kebenarannya, kasus yang mungkin berkaitan dengan masa lalu Winata dan berdampak pada kasus selanjutnya.
Namun bisakah Winata mengungkap misteri di balik kasus pembunuhan ini? Tentu, itu tak mudah jika harus dílakukan oleh Winata sendíri, pasti akan ada yang membantunya karena maksud dan tujuan yang sama.
Kebohongan, kesalahpahaman, penghianatan, bahkan sihir ada di sini, di perjalanan Winata untuk mengungkap misteri yang tak memiliki keadilan ini. Keadilan yang tak terwujud karena suatu kesalahan tanpa adanya pertanggungjawaban. Meski, kesalahan itu dilakukan demi mewujudkan keadilan.
- - - - - - - - -
Menjadi anak seorang detektif berarti siap menghadapi kasus-kasus, itulah yang Winata pegang selama ini. Tidak hanya ayah-ibunya, melainkan juga saudara-saudaranya juga menjadi detektif. Kasus kali ini mengharuskan Winata untuk mengungkap kembali kejadian yang terjadi pada tahun lalu, yang sepertinya masih ada yang tertinggal.
“Kak, stop merasa bersalah atas semuanya. Setiap orang punya kesalahan mereka masing-masing, kalau cuma satu kesalahan buat lo merasa semua salah lo buat apa? Lebih baik perbaiki kesalahan itu dengan tanggung jawab, Kak.” — P. 184
Ternyata, kasus ini nggak hanya membuatnya menguak kasus lama sekaligus hal yang membuatnya lupa ingatan, tapi juga menguji persahabatan, kebohongan lainnya, dan juga sebuah pembuktian.
Novel yang seru banget! Awalnya aku kira ini tuh kumcer pas case pertama ketutup. Ternyata ini semua berhubungan!
Berawal dari Winata yang datang ke sekolah AE untuk melakukan penyelidikan, dibantu sama Alin dan Zergina. Di sinilah semua mulai menjadi pertanyaan. Menurutku, Winata terlalu berani untuk seorang detektif sih. Kalau biasanya detektif itu main aman, mendeteksi pelan-pelan, Winata mah langsung sat-set.
Awalnya aku curiga banget sama Alin yang katanya serbatahu. Bukannya kalo serbatahu biasanya sus ya? Atau dia yang punya motif jelek? Tapi ternyata enggak! Alin selalu mau bantu Winata untuk permasalahan apapun. Siap jadi informan, walaupun ada beberapa hal yang nggak langsung diinfoin sama Alin.
Case dua buatku yang paling bikin jantungan. Karena mulai ada sihir dan kekuatan gelap! Selain bikin jantungan, bikin parno juga.
Setiap case selalu ada hal yang bikin bertanya-tanya dan motifnya apa? Pelakunya siapa? Karena semua bener-bener saling tuduh dan nggak ada yang beneran hitam atau putih.
Aku suka banget sama keluarganya Winata! Mereka selalu support satu sama lain. Nggak ada yang merasa superior dan harus ditakuti. Setiap permasalahan, bisa didiskusikan dan dicari jalan keluarnya bareng-bareng. Walau yang kupertanyakan, kemana kedua orangtuanya? Soalnya nggak keliatan sejak awal.
From the book…
“Tak baik untuk meredam dendam di dalam kesendirian, kau harus melepaskan dendam itu. Meski dengan cara mengikhlaskan ataupun membalas dengan hal yang setimpal. Itu tergantung dari dendam yang dihadapi dan trauma yang dialami.” — P. 41“Masa lalu yang tak pernah menghilangkan jejaknya akan terkenang dalam trauma yang berbekas. Tentang apa pun masa lalu itu, melupakannya bukan hal yang mudah bagi siapa pun.” — P. 50“Jangan percaya apa pun atau siapapun, semua makhluk di muka bumi ini sangat handal dalam berbohong. Apalagi untuk menutupi kebusukannya, bahkan mengorbankan seseorang demi kebersihan nama baiknya.” — P. 134“Dunia itu penuh dengan kejutan, hanya saja kejutan itu keluar pada waktu yang tepat untuk menunjukkan keindahannya.” — P. 162“Kak, stop merasa bersalah atas semuanya. Setiap orang punya kesalahan mereka masing-masing, kalau cuma satu kesalahan buat lo merasa semua salah lo buat apa? Lebih baik perbaiki kesalahan itu dengan tanggung jawab, Kak.” — P. 184“Mungkin baginya, bercerita bukanlah obat terbaik untuk menyembuhkan luka, tapi menurutnya obat itu ada pada penerimaan atas luka tersebut. Semuanya tergantung cara kita memandangnya.” — P. 213

No comments:
Post a Comment