Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts
Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts

Sunday, March 9, 2025

[REVIEW] Baby-to-Be



Baby-to-Be
Marina Yudhitia
Bentang Pustaka
350 Halaman

“For a disclaimer, perasaan takut, ragu, dan semua yang nggak nyaman selama hamil itu bakal tus datang dan pergi, San. Timbul dan tenggelam. Jadi, nggak akan langsung seratus persen berubah gitu aja kayak ngebalikin telapak tangan.”


B L U R B

Sebagai doula yang pekerjaannya mendampingi ibu hamil, Adel sendiri tak pernah ingin menjalani komitmen pernikahan, termasuk kehamilan. Pengalaman buruk keluarganya di masa lalu membuat Adel menganggap dirinya akan turut mewarisi kegagalan yang sama.

Sampai kemudian, Adel didatangi Bo, seekor bangau mitologis yang membawa buntalan kain berisi ruh calon bayi kepada sang ibu.

Adel pun dihadapkan pada satu pertaruhan: menemukan pemilik asli sang calon bayi, atau merelakan ruh bayi itu bersemayam dalam rahimnya

- - - - - - - - -

Memiliki pekerjaan sebagai doula—pendamping kehamilan—membuat Adel lebih banyak tau bagaimana harus menghadapi kehamilan, bagaimana respon yang tepat untuk menenangkan pasangan yang sedang menjalani kehamilan. Selama ini, Adel sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, meskipun beberapa kali dia keceplosan mengatakan hal yang tidak seharusnya. Tapi kali ini, Adel melakukan kelalaian sebagai doula yang seharusnya standby, tapi dia menghilang!
”Iya, sih. Kesempatan kedua itu selalu ada, tapi itu pilihan. Tergantung apakah manusianya mau mengambil kesempatan itu, atau enggak sama sekali.“ — P. 174
Karena kesalahannya kali ini cukup fatal, Adel harus mengambil jeda dan merefleksi kesalahannya. Dalam masa refleksinya ini, dia malah didatangi Bo, si bangau pembawa bayi yang seharusnya cuma ada di dongeng-dongeng. Belum lagi, dia membawa bayi yang harus dicari pemiliknya secepatnya, atau Adel yang harus menerimanya. Bisakah mereka menemukan siapa pemilik asli bayi itu?


Ada yang pernah tau profesi doula sebelumnya? Sejujurnya, aku cuma pernah denger aja, nggak pernah mencari tau doula itu pekerjaan seperti apa. Ternyata pekerjaannya lumayan bermanfaat dan punya dampak yang cukup besar untuk pasangan yang menjalani kehamilan. Kita semua tau kan, kalau segampang-gampangnya menjalani kehamilan, pasti ada aja yang bikin kita worry.

Membaca Baby-to-Be kembali mengingatkanku sama kartun bangau pembawa bayi yang pernah aku lihat waktu pas kecil. Dulu, kukira punya anak juga begitu, akan ada bangau yang ketuk-ketuk di depan pintu bawa bayi dibungkusan. Ternyata nggak begitu! Ya ampun, polos banget aku jaman dulu. Bo, si bangau pembawa bayi ini nggak cuma sebagai tempelan aja. Kak Marina seru banget menjelaskan kehidupan Bo itu bagaimana, pekerjaan yang harus mereka selesaikan, sampai pembagian tugas antar bangau itu sendiri. Ternyata nggak cuma membawa aja, tapi juga memulangkan, kalau misalnya ada yang mengaborsi anak itu.

Di masa pencarian ‘ibu’ yang sebenarnya atas bayi yang dibawa Bo, ternyata malah membuat mata Adel lebih terbuka lagi. Kehidupan yang dilihat nggak cuma yang normal-normal aja, tapi juga dari berbagai kalangan. Adel jadi banyak belajar. Keliatan banget perkembangan karakternya Adel dari yang serampangan, seenaknya sendiri, jadi anak yang lebih tertata, jauh lebih peka dengan perasaan orang lain.

Baby-to-Be, meskipun banyak menjelaskan tentang kehidupan Adel, tapi juga banyak menceritakan keresahan di saat hamil sampai melahirkan. Apalagi dari sisi Bo. Bagaimana 'dunia' Bo yang sebenarnya, apa yang terjadi kalau menggugurkan bayi, dan banyak juga dibahas tentang kehidupan sebagai ibu di luar sana, yang mungkin sebagian besar kita sudah tau.

Baby-to-Be bener-bener heartwarming buatku. Nggak cuma tentang ibu hamil, tapi juga tentang perjuangan untuk memiliki anak dan membesarkan anak nggak semudah itu. Sangat-sangat-sangat merekomendasikan ini untuk dibaca bahkan anak SMA sekalipun. Jangan sampai melakukan kesalahan sebelum sah. Soalnya punya anak nggak gampang. Capek bangett.. Aku aja yang pengen punya anak, pas lahiran rasanya mau gila. Apalagi yang nggak menghendaki adanya bayi, bisa lebih gila daripada aku mungkin.

 
From the book…
“Coba, deh, lu jadian sama cowok, Del, or even better… nikah. Mungkin lu jadi bisa merasakan sendiri gimana kerikil-kerikil dalam berhubungan itu justru bisa jadi pemanis.” — P. 37

”Selama proses melahirkan itu, mungkin seorang wanita dianggap berada di titik terlemahnya. Titik ambang antara hidup dan mati. Tapi, yang gue lihat, justru wanita itu dengan magisnya, memancarkan satu kekuatan terpendam yang nggak akan pernah dia tunjukkan lagi kalau bukan dalam proses persalinan.” — P. 85

”Iya, sih. Kesempatan kedua itu selalu ada, tapi itu pilihan. Tergantung apakah manusianya mau mengambil kesempatan itu, atau enggak sama sekali.“ — P. 174

”Dan, kelak saat kamu jadi seorang istri dan ibu, Mama yakin kamu nggak akan mengalami apa yang menimpa Mama dan Manda. Karena nasib seseorang dianugerahkan terpisah, bukan diwariskan dari garis keturunan.” — P. 204

”Kesalahan itu ada supaya kita belajar, Nak, bukan untuk menjatuhkan kita dengan tuduhan ‘kamu gagal’. Selama jantung masih berdetak dan napas masih dapat dihirup, selama itu juga kita selalu punya kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik. Apalagi, sekarang kita juga sepakat untuk melepaskan belenggu masa lalu, kan?” — P. 205

For a disclaimer, perasaan takut, ragu, dan semua yang nggak nyaman selama hamil itu bakal tus datang dan pergi, San. Timbul dan tenggelam. Jadi, nggak akan langsung seratus persen berubah gitu aja kayak ngebalikin telapak tangan.” — P. 270

The best thing a man can do to prove his love for his children is to love their mother first.” — P. 288

Friday, June 30, 2023

[REVIEW] Waktu dan Tenggara

Waktu dan Tenggara

L. Dela Fimeta

Bentang Pustaka

253 Halaman

"Karena aku cinta sama kamu, Tenggara. Aku nggak bisa lihat orang yang aku cintai nggak bahagia."


B L U R B

Bagaimana rasanya hidup jadi anak konglomerat?
Sepertinya sangat nyaman, bukan? Sayangnya, hal itu nggak berlaku untuk Tenggara, vokalis band Aspire. Hidupnya seperti neraka.
Orang tua yang tidak harmonis, dipaksa menjalankan perusahaan, hingga yang paling parah, dia dijodohkan karena motivasi bisnis!

Apa pun yang ada di hidup Tenggara seolah adalah kesalahan sebelum ia bertemu dengan Bening, cewek pemberani yang bikin Tenggara jatuh hati. Sayang, orang tua mereka menentang hubungan itu. Belum lagi, masalah besar keluarga Tenggara yang melibatkan hukum makin membuatnya hancur.

Tenggara hanya ingin hidup tenang dan merasakan cinta.
Sesulit itukah mencari bahagia?

- - - - - - - -

Bagi Tenggara, hidupnya itu udah kayak auto pilot. Arah dan tujuannya sudah jelas, sepertinya juga nggak perlu tenaga yang besar, dia sudah pasti menggantikan posisi ayahnya untuk mengurus perusahaannya. Sayangnya, dia nggak menyukai keadaan ini. Aspire, salah satu tempat pelariannya. Tempat lainnya mungkin hanya Aldi, sahabatnya. Pulang ke rumah juga bukan pilihan. Rumah bukan tempatnya berlindung.
"Harta benda bukan jadi patokan siapa pantes suka sama siapa. Toh, Kak Tenggara juga suka sama lo, kan? Ya, artinya dia juga nggak ada masalah sama semua kekurangan yang lo punya, Bening." P. 115
Bening memiliki daya tarik tersendiri bagi Tenggara. Saat melihatnya pertama kali, Bening dalam keadaan berantakan karena tuduhan yang sebenarnya tidak dia ketahui. Pertemuan yang kedua, Bening malah menjadi orang yang sangat pemberani. Inilah yang membuat Tenggara jadi tertarik untuk mengenal Bening lebih dekat.

Setelah mengenal Bening, dengan segala kesederhanaannya, hal ini bisa membuat dunianya yang semula monoton jadi lebih baik. Lebih berwarna. Sayangnya, ibunya sangat menentang hal ini. Apa memang Tenggara nggak berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri?


Kehidupan Tenggara, seperti kebanyakan anak konglomerat pada umumnya. Hidupnya sudah diatur, dan kalau melawan, malah bisa jadi masalah besar. Nggak cuma itu, keluarganya pun nggak baik-baik aja. Keributan selalu terdengar di rumahnya. Dia sangat nggak betah. Jujur, aku kasian banget sih sama dia. Masa kuliahnya nggak tenang, karena semuanya sudah diatur. Bahkan di Aspire pun sebenernya dia ditentang. Kesel nggak sih?

Berkebalikan dengan kehidupan Tenggara, kehidupan Bening, meskipun sedikit sulit, tapi dia memiliki keluarga yang sangat hangat. Orang tua yang selalu mensupport dia apapun yang dia lakukan, selama itu baik. Sungguh keluarga yang sangat diidam-idamkan banyak orang.

Pertemuan keduanya ini menurutku kayak FTV gitu. Gemes-gemes lucu! Mereka tuh juga cocok aja gitu. Sayangnya, selain ego mereka sama-sama tinggi, komunikasi mereka tuh jelek banget. Jadilah keributan nggak terelakkan lagi.

Selama baca kisah Tenggara-Bening ini, jujur aku kasian sekali sama Tenggara, lebih banyak kasiannya. Kalau ke Bening aku malah kagum banget! Dia ini tipikal cewek tangguh! Yang aku agak sayangnya, alurnya terlalu cepat di bagian awal. Jadinya kayak ngos-ngosan gitu. Tapi di bagian tengah sampai akhir, baru mulai stabil ritmenya. Hihihi..

Kisah Tenggara-Bening ini kuhabiskan dalam sekali duduk. Habisnya kisah mereka nyenengin banget. Apalagi Tenggara kalo lagi bucin dan nggombal, bikin ketawa!

Sunday, May 21, 2023

[REVIEW] Cita Cinta Caraka

Cita Cinta Caraka

Erisca Febriani

Bentang Pustaka

223 Halaman

"Lagi pula, kalau kamu udah sibuk dan enjoy sama hidup kamu sendiri, kamu pasti nggak akan punya waktu untuk marah soal nggak adilnya dunia. Dunia terlalu indah buat disalah-salahin. Kamu bakal menerima dengan lapang dada kalau jalannya memang harus begini"


B L U R B

Caraka merasa hidup ini selalu tidak adil kepadanya.
Ia harus menjadi ibu, ayah, sekaligus kakak bagi adiknya.
Dia juga harus mempertahankan prestasi di kampus, serta sibuk sebagai Manajer Aspire band. Caraka selalu terlalu keras pada diri.

Seolah belum cukup repot, Caraka diminta Janitra, sahabatnya untuk melakukan misi penting. Caraka diminta menyingkirikan Anindita, adik tiri Janitra. Bagi Janitra, tidak seharusnya Anin datang, ia hanyalah anak simpanan.

Akan tetapi, Anin membuat Caraka takjub. Bagi Anin, semua tampak mudah, padahal hidupnya sulit. Semua hal yang tampak remah jadi terlihat wah. Kehadiran gadis polos itu di hidup Caraka membuatnya  berpikir ulang tentang cara berbahagia. Bagaimana seharusnya memandang dunia. Hari-hari bersama Anin membuat Caraka ingin mengkhianati sahabatnya.

- - - - - - - -

Caraka, seorang manajer Aspire band yang dikenal dingin, tak tersentuh, sekaligus jadi sosok pelindung bagi Aspire dan juga adiknya, Ratih. Kehidupannya tidak menarik, bahkan sebisa mungkin, dia menghabiskan waktu di luar rumah, supaya saat dia pulang, dia hanya tinggal tidur aja.
 
Kali ini, Janitra—sahabatnya, meminta bantuannya, menyingkirkan adik tiri yang tak pernah diharapkannya. Bagi Janitra, kedatangan adik tirinya adalah bencana. Belum habis kekecewaannya terhadap sang ayah, malah adik tirinya menemuinya.
"Justru itu, harusnya semakin dewasa, kemampuan kita buat happy dari hal sederhana nggak boleh hilang, kan? Kamu tahu nggak, kenapa banyak orang makin dewasa justru semakin sedih? Padahal, sebenarnya ada banyak cita-citanya yang tercapai?" P. 73
Anindita, sosok periang yang menjadi sumber kebahagiaan ibunya dan juga warga kampung tempat tinggalnya. Meskipun awalnya dia mendapat cemooh karena statusnya sebagai anak haram, hal ini tidak membuatnya menjadi orang yang pendendam. Malahan dia tumbuh sebagai anak yang periang, menyebarkan energi positif yang dimilikinya sebanyak mungkin.

Kedatangannya ke Jakarta, terlebih masuk ke Harapan Nusa, memang tidak diharapkan oleh banyak orang, tapi bagaimana kalau ternyata dia membuat orang lain malah jatuh cinta pada setiap tingkah konyolnya?


Siapa yang sudah membaca Cita Cinta Caraka versi wattpad? Aku baru baca sedikit! Haha.. Apalagi pas tau bakalan dibukukan, yaudah, mending langsung baca versi cetaknya aja. Karena pasti lebih seru!

First of all, aku tidak pernah menyetujui sebuah hubungan yang dimulai dengan cara yang salah. Berselingkuh, apalagi sampai punya anak, buatku itu adalah kesalahan fatal. Selingkuh aja kesalahan besar, apalagi sampai punya anak. Jadi ya, awalnya aku juga agak sebel sama papanya Anin dan Janitra ini. Tidak ada pembenaran untuk perselingkuhan dalam bentuk apapun ya.
 
Anindita ini menurutku tipe anak yang menyenangkan. Dia mudah untuk menghargai sesuatu. Karena tinggal di kampung, dia selalu amaze tiap ada hal yang dia lihat di kota. Mulai dari masuk ke Universitas Harnus, masuk ke mall, ngelihat berbagai macam hal di Jakarta jadi sesuatu yang baru. Mungkin untuk sebagian orang, dia ini orang yang norak abis, apalagi dilihat dari cara berpakaiannya. Tapi aku sudah sekali sama dia yang mudah membaur, dan nggak gampang nyerah! Sungguh, kalo aku jadi dia, mungkin aku bakalan nyerah pas ada masalah.

Sementara Janitra, dia ini cewek yang berusaha untuk mengalihkan kekecewaannya sama ayahnya. Kegiatan yang dilakukannya sekarang pun sebenernya udah pengalihan emosi yang baik. Aku paham sekali posisinya dia, aku juga kalo jadi dia pasti kecewa banget lah. Cumaaa.. caranya membalas dendam itu nggak baik. Untung Anin bukan tipe orang yang mudah nyerah gitu aja.

Selama baca cerita ini, aku selalu senyum-senyum sama tingkahnya Anin, meskipun di satu sisi, kasian juga sama Anin dan Janitra. Aku juga terharu banget sama kebaikannya Anin. Sungguh, kayaknya dia ini nggak pernah ada pikiran buruk sama orang lain.

Dari Anin dan Janitra, aku banyak belajar cara berdamai dengan keadaan, tentang kehidupan, dan juga seni menghargai waktu. Kata-kata Anin yang bilang kalau waktu itu nggak pernah nunggu manusia, aku percaya. Karena kalau kita nggak bergerak sekarang, dan lebih milih untuk menunggu-nunggu, nanti tiba-tiba udah jauhhh aja rasanya. Cara Anin dan Janitra untuk berdamai dengan keadaan mereka juga aku salut sih. Terutama Anin ya, karena dia sangat sangat paham dengan perasaan orang lain. Dia sensitif sekali.

Rasa-rasanya, kalau aku jadi Anin, aku bakalan nyerah sih. Nggak kuat gitu berdamai dan malah haha hihi sama waktu. Sementara Janitra adalah kita. Denial pasti ada, tapi kalau dikasih orang sebaik Anin, kayaknya aku bakalan leleh juga.

Last, Caraka ini menyenangkan ya! Kalau kutebak, love languagenya pasti act of service! Oh iya, isi bukunya juga menyenangkan gitu. Mulai dari covernya yang bisa dibuka, dan sejauh yang aku tau, ini yang pertama deh. Udah gitu, di dalemnya ada isi spot favorit di Harnus, ada peta dan juga visual tokohnya juga.


From the book...
"Daripada rasa sakitnya diluapin jadi luka, kasihan diri lo sendiri, mending diluapin jadi seni. Luapin semuanya. Gue tahu lo punya bakat melukis dari gambaran-gambaran lo di belakang buku cetak." P. 27

"Obat asam lambung itu cuma satu, bahagia. Kenapa bisa begitu? Karena sistem pengeluaran asam lambung itu berasal dari otak. Sama kalau kita melihat makanan, air liur keluar. Nah, ketika sedang stres, asam lambung yang akan diproduksi. Ini saya kasih resepnya kalau sedang kumat, tapi balik lagi, resep utama itu, ya pikiran. Harus tenang dan bahagia. Kalau ada masalah cerita, dibagi ke orang, jangan ditelan sendiri." P. 55

"Karena semakin dewasa, standarnya tentang bahagia semakin tinggi. Kakak ingat nggak, waktu kecil apa yang bikin Kakak bahagia? Pasti sederhana. Waktu masih anak-anak, kita senang banget cuma karena dikasih waktu sehari aja bebas tidur siang. Kita senang karena dibolehin Ibu makan permen manis. Kita senang karena dibolehin main hujan-hujanan. Itu sebabnya, waktu kecil bahagia mudah diraih, karena ekspektasi kita tuh, sederhana." P. 74

"Sayangnya, semakin dewasa, kemampuan itu menghilang. Kata bahagia jadi sulit diraih karena ekspektasi kita tentang bahagia semakin tinggi. Baru bahagia kalau punya rumah mewah. Baru bahagia kalau punya mobil bagus. Baru bahagia kalau bisa ranking satu. Makin dewasa, kita bikin standar yang tinggi cuma demi bisa bahagia. Padahal, makin tinggi standar bahagia itu, semakin hilang maknanya." P. 74

"Kan, suatu kalimat terasa sakit atau nggak, tuh, tergantung gimana seseorang menyikapinya. Aku sudah berdamai dengan itu. Habis, emang kenyataannya gitu?" P. 75

"Lagi pula, kalau kamu udah sibuk dan enjoy sama hidup kamu sendiri, kamu pasti nggak akan punya waktu untuk marah soal nggak adilnya dunia. Dunia terlalu indah buat disalah-salahin. Kamu bakal menerima dengan lapang dada kalau jalannya memang harus begini." P. 77

"Kalau membantu seseorang, tapi berharap dibalas, itu namanya pamrih. Kata Ibu, tiap kali berbuat baik kepada seseorang, harus langsung dilupain, karena kebaikan kalau diingat-ingat namanya bukan kebaikan. Lagian, kalau kita berbuat baik itu ya bisa jadi balasannya datang dari orang lain. Walau nggak langsung, bisa jadi datang di waktu yang tepat, di waktu yang memang lagi butuh banget." P. 90 to 91.

"Akan ada satu orang yang bahkan diamnya saja berhasil membuat jatuh cinta. Satu orang yang bisa memenangkan hati kita tanpa melakukan apa-apa, yang diamnya bahkan memesona, yang dengan senyumnya seolah menenangka, yang dengan menjadi dirinya sendiri membuat kita yakin bahwa... dialah orangnya." P. 131

"Tra, kebencian itu kayak awan mendung. Dia bikin pandangan kita gelap karena selama ini kita cuma fokus sama awan mendung itu. Tapi, seandainya, lo berani untuk melihat keluar... Lo bakal sadar, di luar awan mendung itu ada langit biru dan matahari hangat yang selalu siap menyinari lo." P. 134

"Karena itu sama kayak ungkapan, 'aku nggak bisa ngelakuin banyak hal, makanya aku butuh kamu untuk bantu dan melengkapi aku'" P. 146

"Ada yang bilang jatuh cinta adalah hal yang butuh banyak pengorbanan. Ada yang berjuang begitu keras agar dapat dicintai. Namun, akan ada satu orang yang bahkan diamnya saja berhasil membuat jatuh cinta." P. 174

"Aku mau setiap momen dalam hidupku, tuh, ada bekasnya karena ingatan kita terbatas. Kita nggak bisa ingat semua detail kecilnya, kan? Makanya, aku berusaha mengabadikan lewat kamera. Nanti, ketika aku lihat lagi, aku bisa ingat perasaanku waktu itu. Waktu, kan, nggak pernah menunggu manusia. Kalau kita nggak curi-curi waktu untuk menikmati, kita bakal kecolongan." P. 175

"Dunia selalu punya alasan yang bikin kita jatuh, entah dari orang terdekat atau justru orang paling asing sekalipun. Itu sebabnya kuat-kuatin diri, jangan mau kalah sama perkataan orang lain." P. 183

Saturday, December 25, 2021

[REVIEW] Deessert

 

Deessert

Elsa Puspita

Bentang Pustaka

318 Halaman

"Nikahi perempuan yang menurut kamu pantas buat kamu sayangi, lindungi, dan hormati, seumur hidup kamu. Nikahi dia karena kamu mau, bukan karena harus."

 
B L U R B
 
Bagi sebagian orang, cinta SMA hanyalah salah satu kenangan masa remaja yang mudah saja untuk dilupakan. Namun, bagaimana jika ia kembali hadir di masa kini? Sosoknya yang sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu. Ia lebih tampan, lebih berkarisma, dan lebih berpotensi kembali mencuri hati.
 
Naya begitu kaget melihat Dewa kembali ke Tanah Air, setelah selama delapan tahu sekolah dan bekerja di Australia. Karena campur tangan Lulu, sahabat sekaligus partner bisnis Naya, pria itu kini membantu mengurusi calon resto baru Naya dan Lulu, sebagai pastry chef. Namun, semuanya jadi tidak mudah. Di tengah kesibukan jelang pembukaan Dapoer Ketje, keduanya justru melancarkan aksi perang dingin dengan ego masing-masing.

Suasana makin parah dengan kehadiran Ava, mantan kekasih Dea yang datang dari Australia. Juga Dipati, mantan Naya yang seorang artis. Perang dingin di antara mereka tampaknya akan meledak, memuntahkan segala ganjalan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Sesuatu yang menyadarkan mereka bahwa masa lalu itu belum selesai sepenuhnya.

- - - - - - - - - -

Kinara Gayatri Adiharja—Naya, seorang pembawa acara Pekan Kuliner di salah satu stasiun di Jakarta. Pekerjaannya cukup menyenangkan, karena berhubungan dengan makanan, satu hal yang disukai oleh Naya. Meskipun makannya banyak, dia mentok cuma masuk IGD aja, nggak sampe gemuk gitu. Nikmat banget kan jadi Naya? Sayangnya, kehidupan percintaannya, nggak semenyenangkan itu. Terakhir kali dia menjalin hubungan dengan seorang aktor FTV, hubungannya juga nggak bertahan lama.
"Sadar nggak sih, Nay? Kamu sama Dewa itu masih rusak. Kalian bisa sok nggak peduli, padahal dalamnya sama-sama berantakan. Apa salahnya sih, ngomong sejam-dua jam, buat bener-bener selesaiin masalah kalian?" P. 111
Ternyata, dibalik percintaannya yang nggak mulus saat ini, dia pernah menjalin hubungan dengan adik sahabatnya, Dewa. Cowok yang sabar, kalem, tenang lah pembawaannya. Meskipun secara fisik nggak menarik untuk seumuran anak SMA, tapi herannya, Naya malah suka banget sama dia. Hubungan keduanya terhenti di tengah jalan karena satu dan lain hal. Tapi yang jelas, masalahnya nggak selesai.

Hal ini berlanjut sampai keduanya sama-sama kembali ke Palembang dan harus terjun untuk menggarap Dapoer Ketje, proyek Naya bersama Lulu, sahabatnya. Apakah keduanya akan tetap saling menghindar dan membiarkan masalahnya tetap ada dan membuat jarak mereka menjauh?


R E V I E W

Yuhuu~~ Akhirnya membaca novel ini juga setelah diendapkan sekian lama. Buset, bahasaku endapkan banget. Yup, novel ini sudah kubeli sejak tahun 2017an kayaknya, barengan sama Athena. Jujur saja, aku tertarik karena dia tergabung dengan seri lainnya. Meskipun bukan satu universe, tapi mereka punya kesamaan tema, yaitu tentang makanan.

Di buka dengan hubungan Naya dan Dewa yang baik-baik saja, tapi ternyata enggak. Hubungan mereka harus kandas karena LDR. Sebagai pejuang LDR, aku sangat sangat sangat relate dengan apa yang dialami mereka. Tau sendiri kan, hubungan LDR itu nggak pernah gampang, ada aja kendalanya, apalagi kalau udah beda jam. Pasti makin banyak masalahnya kan.

Masalah yang dialami ini cukup rumit, karena masalah dari dulu yang nggak selesai-selesai. Emang komunikasi tuh sesuatu hal yang penting, nggak cuma itu, kita juga harus mau dengerin. Percuma kalo komunikasi bisa, tapi nggak ada yang mau dengerin. Kan jatuhnya bohong juga.

Selama baca ini, aku dibuat senyum-senyum sendiri sama tingkahnya Dewa, dia ini diem, nggak banyak ngomong, tapi kalo udah ngelakuin sesuatu yang berhubungan sama masakan atau makanan, dia ini passionate banget. Fokus banget, terus makanan yang dihasilkan itu selalu ada kejutan di dalemnya. Out of the box banget gitu lho. Kira-kira ada versi Dewa di dunia nyata nggak ya?

Sunday, October 4, 2020

[Review] If Only

 

Judul : If Only

Penulis : Innayah Putri

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 348 Halaman

"Gue tahu, lo suka lihat langit malam. Tapi, Kak Juna, kadang apa yang paling kita cintailah yang melukai palng dalam. Lo udah cukup kesakitan selama ini, lo butuh istirahat."

 
B L U R B
 
Arjuna Pranaja. Pemuda bermata gelap itu telah belajar banyak mengenai kehilangan. Keluarga kecilnya berantakan, hal-hal menyakitkan terjadi di depan matanya, orang-orang tercintanya pergi tanpa pernah bisa kembali.
 
Selang waktu berjalan, ia berusaha untuk bangkit. Ia kira setelah segala hal menyakitkan terjadi, tinggal senyum menanti. Saat itulah, Kiana Niranjana berdiri di sana, membawanya keluar dari labirin masa lalu yang gelap. Gadis itu mengajarkan cara tertawa, juga bahagia.
 
Tapi ternyata, semesta memang kerap kali suka bercanda. Badai itu belum reda sepenuhnya. Luka itu belum kering seutuhnya. Keberadaan Kiana justru menyeretnya menuju luka yang lebih dalam.
 
Hingga pada satu titik kelelahannya, ia mulai bertanya-tanya:
Mungkingkah ia memiliki akhir yang bahagia?
 
- - - - - - - - -
 
Kiana Niranjana, seorang mahasiswi baru yang telat datang ke kampus di hari ospek pertamanya. Nggak cuma itu aja, selain telat, kesalahan lainnya adalah masih memakai penutup mata. Hukuman tentu saja sedang menantinya. Dia diharuskan mencari kakak tingkatnya yang bernama Arjuna. Hebatnya lagi, Kiana nggak tau Arjuna ini orang yang kayak gimana dan jurusan apa. Dia nyari sampai ke Fakultas Teknik dan bahkan ngerecokin sahabatnya, Dimas, demi nemuin si Arjuna ini.
"Orang cantik memang harus kebal disirikin." P. 47
Bagi Arjuna, Kiana adalah cewek yang cukup ceroboh, pelor, dengan tingkat kepedean di atas rata-rata. Nggak cuma itu aja, perlahan Kiana bahkan bisa jadi salah satu orang yang menurut Arjuna cukup penting. Ada dalam diri Juna yang bikin dia selalu pengen ngelindungin Kiana yang ceroboh dan semaunya ini. Biarpun dia harus rada ngotot sama Dimas, sahabat yang kadang kelakuannya kayak pacarnya. Tapi gimana kalau ada satu fakta dari Kiana yang malah bikin Juna nggak mungkin ngelanjutin kedekatan mereka?

 
R E V I E W

Sejujurnya, novel ini udah lama ada di lemariku. Hehe.. Udah cukup lama, tapi masih maju mundur gitu buat bacanya. Soalnya takut rada-rada nyesek gitu, nggak siap aja hatinya buat sedih-sedihan. Haha..

Oke, novel ini menceritakan tentang si Arjuna yang nggak peka-peka amat, dan udah nggak deket-deket amat sama cewek. Nggak ada alesannya, Arjuna cuma nggak pengen aja. Belum lagi Arjuna kan idola cewek-cewek di kampus, aneh banget kalo nggak ada yang ngedeketin kan?

Ceritanya tentu aja nggemesin kayak biasanya. Bisa banget lah Kak Naya bikin karakter macem Arjuna, dan para sahabatnya, yang suka bikin ketawa-ketiwi. Belum lagi Kiana yang super pede. Bawaannya seneng terus pas mereka ketemu bareng gitu. Tapiii.. seperti novel Kak Naya yang sebelum-sebelumnya, ada aja masalah yang bikin hubungan Juna-Kiana nggak mulus-mulus amat! Malahan nyesek banget! Ya ampun, rasanya tuh kayak nggak tega mereka berdua tersiksa gini. Kasian sekali.

Untuk alurnya sendiri, ada di beberapa bagian itu flashback untuk menceritakan kehidupan mereka di masa lalu gitu. Pas tau gimana masa lalu mereka, cukup kaget sih. Nggak nyangka aja kalau ternyata kehidupan mereka nggak seseneng yang dilihatin ke temen-temennya.

Warning dulu nih sebelumnya, jangan sampe baca novel ini pas lagi sedih, makin sedih hei! Aku aja nyesek berulang kali pas mereka ada masalah. Sedih sekali.


Quotable:
"Hm, semua yang ada di semesta ini bisa mati, Kiana. Yang abadi cuma Tuhan. Yang menyedihkan, seperti Sirius yang mati lebih cepat, orang-orang baik juga biasanya dipanggil tuhan lebih dulu." P. 93

"Gue tahu, lo suka lihat langit malam. Tapi, Kak Juna, kadang apa yang paling kita cintalah yang melukai paling dalam. Lo udah cukup kesakitan selama ini, lo butuh istirahat." P. 97

"Menyimpan sakit sendirian itu bikin capek, tapi lebih capek lagi kalau harus berpura-pura baik-baik saja." P. 97

"Dan, seperti hukum alam, yang mencintai terlalu dalam biasanya adalah orang-orang yang jatuh cinta sendirian." P. 102

"Sayang, laki-laki memang dilihat tindakannya, tapi sebagai perempuan, kami juga perlu kata-kata yang jelas." P. 109

"Kalau gitu, biar gue aja yang berharap. Gue harap lo nggak selamanya terkurung di masa lalu. Gue harap semua sakit yang pernah lo rasain bisa sembuh. Gue berharap lo bisa bahagia." P. 123

"Karena keluarga bukan hanya tentang darah, melainkan juga tentang cinta." P. 138

"Karena memang kadang semenyedihkan itu saat kita jatuh cinta sama seseorang. Semua orang mungkin bisa sadar, kecuali orang yang kita jatuhi cinta." P. 158

"Orang selalu bilang, bahwa patah hati melalui tiga proses; penolakan, kenyataan, kemarahan, dan diakhiri dengan penerimaan. Akan tetapi, tidak pernah ada yang menjelaskan bahwa penerimaan merupakan tahapan yang tersulit. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ada orang yang sampai sekarat hanya demi menerima keputusan takdir." P. 238

"Kita berkeras kepala, memintal benang demi benang kemungkinan agar terwujud sebuah harapan. Sekalipun memahami bahwa akhir bahagia merupakan perihal yang fana." P. 242

"Mari kita berjudi dengan takdir, mempertaruhkan segenap harapan, sekalipun sadar bahwa yang kelak kita temu adalah kehancuran yang menyeluruh." P. 248

Saturday, January 18, 2020

[Review] My Wedding Dress, Travelling untuk Penyembuhan Hati


Judul : My Wedding Dress

Penulis : Dy Lunaly

Penerbit :  Bentang Pustaka

Tebal : 264 Halaman

"Travelling itu tentang keberanian menantang batasan yang kita punya. Keberanian buat nglewatin tantangan yang kita temui selama travelling. Pertanyaannya sekarang, kamu berani nggak?"


Friday, July 26, 2019

[Review] Strawberry Cheesecake


Judul : Strawberry Cheesecake

Penulis : Ayuwidya

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 300 Halaman 


"Kita punya cara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup tanpa orang yang kita cintai. Sebagian orang bertahan dengan memori, sebagian lagi justru terluka karena memori. Jadi..., kurasa kita tidak bisa memvonis seseorang itu kuat ayau lemah berdasarkan caranya melupakan orang yang dicintai."

Saturday, July 20, 2019

[Review] Il Tiramisu


Judul : Il Tiramisu

Penulis : Dy Lunaly

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 332 Halaman

"Masa lalu memang tidak bisa mendefinisikan siapa kamu. Tapi, masa lalu itu nggak pernah bisa dibuang. Daripada kamu menghabiskan tenaga untuk membuangnya, kenapa tenaga itu nggak kamu pakai untuk menerimanya?"


Monday, July 8, 2019

[Review] Table for Two


Judul : Table for Two

Penulis : Dy Lunaly

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 258 Halaman

"Daripada kita terus-menerus mikirin masa lalu, kenapa kita nggak menggunakan energi kita untuk merencanakan masa depan? Mikirin gimana caranya biar Arga nggak mengalami nasib yang sama dengan Papa, misalnya?"