Monday, October 7, 2024

[REVIEW] Lose or Love Her Again

Lose or Love Her Again
Desy Miladiana
Elex Media Komputindo
289 Halaman

“Jodoh itu nggak ke mana, lho! Nggak akan salah alamat juga. Cuma ya gitu, jodoh itu juga nggak bisa ditunggu kedatangannya, harus dicari juga. Kalau sama-sama mencari kan, lebih cepat ketemunya.”


B L U R B

Ada dua alasan mengapa Tuhan mempertemukan kembali dua manusia. Pertama, untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas; kedua, Tuhan sedang menguji kesabaran mereka dengan memberi cobaan lain.

Setelah empat tahun melarikan diri, Jasmine mulai kelelahan. Di Surabaya, dia memutuskan untuk membuka lembaran baru. Menjadi sekretaris supersibuk dari kepala cabang sebuah perusahaan kecantikan, menjadikan Jasmine yakin bahwa hidupnya akan aman dan tenteram. Namun, kejutan datang, begitu bosnya memilih untuk resign.

Siapa sangka atasan barunya adalah Fathir, pria yang paling dia benci dan hindari selama beberapa tahun terakhir. Kenangan lama yang dikuburnya kembali muncul ke permukaan. Membangkitkan rasa sakit yang teramat dalam dari diri Jasmine.

Sayangnya, kali ini, Jasmine tak bisa kabur lagi. Tanggung jawab dalam kontrak kerja wajib Jasmine patuhi. Terpaksa dia harus menghadapi Fathir dan mungkin mengorek luka masa lalunya sekali lagi. Jasmine juga harus menyelamatkan urusan mereka yang sempat tertunda, perceraian.

Di lain pihak, bagi Fathir, pertemuan ini adalah kesempatan kedua. Namun, Jasmine yang sekarang sudah berubah. Kehangatan seorang istri yang Fathir cintai telah menghilang. Sampai akhirnya, alasan kepergian Jasmine pun terungkap. Fathir berada dalam dilema besar. Pilihannya ada dua: kehilangan atau mencintai Jasmine sekali lagi.

- - - - - - - - -

Kehidupan Jasmine saat ini seharusnya sudah baik-baik saja. Meskipun dengan rutinitas yang supersibuk dan jauh dari orangtua. Tapi setidaknya, dia tidak perlu berhadapan dengan hal-hal dari masa lalunya. Jasmine sendiri tidak pernah terlihat memiliki pasangan, hal ini sering sekali dipertanyakan oleh rekan kerjanya yang hanya dibalas seadanya. Baginya, saat ini dia sudah nyaman walau hanya sendirian.
"Mas, pantas atau tidak kamu sama dia, itu bukan kamu yang menilai, tapi pasangan kamu. Mas kan, sudah berusaha menjadi lebih baik, itu bagus. Kalau pasangan Mas belum bisa memaafkan, ya sudah, dilepaskan. Kalau dia bisa maafin Mas, berarti Mas sudah dianggap pantas sama dia.” — P. 275

Pergantian atasan kali ini membuat Jasmine kembali tidak nyaman. Masalahnya, pengganti atasannya ini adalah Fathir, laki-laki yang ingin dijauhinya sejak empat tahun lalu. Kemunculannya ini tentu saja membuat Jasmine sedikit senewen, apalagi pekerjaannya membuat dia dan Fathir terus berkomunikasi. Bisakah mereka menyelesaikan masalah mereka? Atau membiarkan ketidaknyamanan ini berlangsung lama?


Kembali membaca tulisan kak Desy, sepertinya aku cocok dengan tulisannya hihi. Kali ini yang dibahas bukan kayak Under The Kitchen Table yang tentang perselingkuhan, tapi tentang mempertahan sebuah hubungan.

Waktu awal membaca ini, aku cukup heran, kenapa Jasmine dan Fathir harus berjauhan? Apakah karena kesibukan masing-masing yang membuat mereka berjauhan, atau ada orang ketiga? Atau alasan lainnya? Sampai ke pertengahan membaca, aku masih nggak menemukan jawaban ini. 

Jasmine, sejak awal sudah konsisten sekali menjadi orang yang keras kepala dan berkemauan kuat. Menurutku, sifatnya dia ini cukup nyebelin, karena di sisi lain dia mau ngejauhin Fathir, tapi di sisi lain, dia masih care. Sementara Fathir, di awal-awal dia cukup agresif ya. Bener-bener sebisa mungkin, dia mendapatkan kembali Jasmine yang sudah lama menghilang.

Mengangkat tema kehidupan pernikahan, membaca Lose Her or Love Her Again serasa jadi reminder ke diri sendiri. Kehidupan pernikahan itu sebenernya nggak serumit yang dibilang sama orang-orang, kalau komunikasinya bagus. Segala sesuatu perlu diomongin, pasangan kita soalnya bukan cenayang yang bisa ngerti maunya kita apa. 

Aku suka cara kak Desy membuat kita kebawa dengan kehidupan Jasmine dan Fathir. Jujur aku sempet kesel banget sama Fathir, kukira dia tipe suami yang cuek bebek dan nggak peduli. Tapi ternyata, Fathir juga sesayang itu sama Jasmine. Bener-bener siap banget memperjuangkan Jasmine lagi, walaupun harus menghadapi orang tuanya Jasmine yang super galak. Ya, kalau aku jadi orang tuanya Jasmine pasti galak juga sih. Siapa sih yang mau anaknya kenapa-napa?


From the book…
“Ada yang pernah bilang ke Ibu kayak gini, kalau kamu melepaskan orang yang dicintai dan dia tetap pergi maka dia bukan milikmu, tapi kalau orang yang kamu cintai dan dia kembali maka dia milikmu selamanya.” — P. 48

“Mereka kembali dipertemukan untuk memperbaiki apa yang telah rusak sebelumnya, bersama-sama. Lagipula, Tuhan Maha-membolak-balikkan perasaan seseorang.” — P.48 to 49

“Jodoh itu nggak ke mana, lho! Nggak akan salah alamat juga. Cuma ya gitu, jodoh itu juga nggak bisa ditunggu kedatangannya, harus dicari juga. Kalau sama-sama mencari kan, lebih cepat ketemunya.” — P. 68

"Mas, itu sudah kejadian. Kamu, kita, semua orang nggak bisa memperbaiki masa lalu. Yang bisa kamu lakukan adalah nggak melakukan hal yang sama dan move on. Semua orang melakukan kesalahan, itu manusiawi. Tinggal gimana orang itu nggak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kamu juga harus maafin diri sendiri, langkah awal untuk memulai hidup baru, saya rasa." — P. 274

"Mas, pantas atau tidak kamu sama dia, itu bukan kamu yang menilai, tapi pasangan kamu. Mas kan, sudah berusaha menjadi lebih baik, itu bagus. Kalau pasangan Mas belum bisa memaafkan, ya sudah, dilepaskan. Kalau dia bisa maafin Mas, berarti Mas sudah dianggap pantas sama dia. Tanya sama dia, dia masih mau nggak sama Mas? Menyalahkan diri sendiri itu boleh kok, Mas, tapi nggak boleh selamanya. Wong namanya manusia ya… tempat salah dan dosa.” — P. 275

Friday, September 27, 2024

[REVIEW] Rumah Misterius Gadis Indigo

Rumah Misterius Gadis Indigo
Hanna Natasha Heidi
Diva Press
248 Halaman

“Kita bukan sebuah kegagalan. Setiap dari kita memiliki takdir kemenangan jika kita mau bangkit.”


B L U R B

Evelyn merupakan gadis indigo yang bisa melihat dan berinteraksi dengan roh penasaran, salah satunya adalah roh Avira yang tiba-tiba meminta tolong padanya. Mulanya, Evelyn berpikir dia hanya sebagai jembatan bagi roh Avira dan seorang lelaki yang masih hidup bernama Raymond. Namun, di kemudian hari Evelyn mendapati kenyataan bahwa justru Avira-lah yang menjadi perantara Evelyn untuk berjumpa lagi dengan cinta lamanya yang dulu ditemuinya di depan sebuah rumah tua. Itu Raymond!

Pertemuan kembali dengan Raymond adalah momen yang sangat ditunggu sejak lama oleh Evelyn. Namun, saat itu terjadi, keadaan sudash tidak lagi berpihak kepada mereka berdua. Raymond tidak seperti dulu lagi. Dan Evelyn, kini ada hati yang harus dia jaga.

- - - - - - - - -

Memiliki kemampuan indigo, bagi sebagian orang memang menyenangkan, bisa membantu banyak orang atau roh untuk menyampaikan pesan terakhir mereka sebelum benar-benar pergi dari dunia. Tapi di sisi lain, banyak juga orang yang tidak terlalu senang punya kemampuan ini. Selain risih, kadang juga nggak nyaman melihat roh yang tidak selalu berwajah manusia. Sama halnya dengan Evelyn. Memiliki kemampuan indigo ini tidak sepenuhnya disukainya. Hanya saja, dia pernah merasa nyaman terhadap seseorang karena kemampuannya ini.
“Bukan kesalahanmu yang menyebabkan semua ini. Percayalah! Semua akan baik-baik saja.” — P. 99
Pertemuan pertamanya dengan Avira—arwah gentayangan—yang berada di kampus membuat Evelyn terketuk hatinya untuk membantu menyampaikan pesan terakhir Avira. Pesan untuk Raymond, laki-laki yang disukainya.

Hanya saja, Raymond mengingatkan dia terhadap seseorang. Seseorang yang pernah ditemuinya saat dia masih sekolah. Apakah memang dia orang yang sama? Atau hanya mirip saja kah? Lalu, apa pesan yang harus disampaikannya pada Raymond?


Pas awal aku baca judul, kukira rumah misterius ini bakalan menyimpan banyak hal yang cukup mistis lho. Sampai pas awal-awal baca, aku sudah mempersiapkan diri kalau bakalan ketakutan. Padahal sudah baca blurbnya juga, tapi masih agak takut dikit.

Yuk kenalan sama Evelyn, anak kuliahan yang tinggal sama Tante dan sepupunya di Singapore. Memiliki kemampuan khusus untuk melihat roh yang masih ada di bumi tentu saja nggak begitu menyenangkan. Terkadang dia bisa berkomunikasi dengan roh tersebut, tapi kadang dia memilih menganggapnya lalu. Entah kenapa, saat melihat Avira, roh yang kebingungan, Evelyn bersedia untuk membantu Avira. Deg-degan nggak sih kalo mau ngasih bantuan begini?

Perjalanan dalam memberikan bantuan ini nggak gampang juga lho, karena ternyata Raymond ini sosok yang pernah ditemuinya dulu. Seharusnya gampang kan? Tapi satu dan lain hal, membuat pesan ini sulit tersampaikan.

Alur dalam novel ini maju mundur, untuk menceritakan bagaimana kisah setiap tokohnya di masa lalu. Mengambil latar di Singapore, cukup banyak beberapa tempat terkenal yang diambil. 

Selama membaca, aku sedikit kesal sama Evelyn. Sikapnya dia yang maju mundur dan terlalu lama dalam mengambil keputusan ini nyebelin banget. Sama halnya dengan Niko—mantan pacarnya Evelyn, dia juga kalo ngambil keputusan nggak sat set, banyak pertimbangannya.

Sementara Raymond, ini yang paling bikin gemes. Habisnya dia gampang terjebak sama perasaannya sendiri. Jadi waktu baca bagian Raymond, bener-bener gemes abis.

Karena ada 3 point of view, aku jadi paham gimana kondisi perasaan masing-masing karakternya gimana dan apa aja yang sudah mereka lewati sampai di titik ini. Cukup membekas, apalagi ada pembahasan tentang keluarga, dan juga hubungan dengan orangtua.


From the book…
“Kita bukan sebuah kegagalan. Setiap dari kita memiliki takdir kemenangan jika kita mau bangkit.” — P. 68

“Hidup tak seindah yang kita mau dan tak semudah yang kita pikirkan. Apalagi mengenai cinta.” — P. 201