Showing posts with label Elex Media Komputindo. Show all posts
Showing posts with label Elex Media Komputindo. Show all posts

Sunday, March 29, 2026

[REVIEW] Enjoy the Little Things

Enjoy The Little Things
Kincirmainan
Elex Media Komputindo
530 Halaman

”Biasanya, orang lebih mudah menerima saat hal itu tidak menimpa orang yang ada hubungan dengan mereka. Apa kamu yakin orangtuamu bisa seenteng itu menerima kondisi anakku yang akan kamu jadikan istri?”


B L U R B

Bapak adalah lelaki Jawa yang perfeksionis. Sifat Bapak ini terlihat jelas saat menyelidiki bibit-bebet-bobot calon menantu yang akan menikahi tiga anak gadisnya nanti. Yang Maharani tahu, nama baik Bapak adalah segalanya. Rani tak mau merusak itu. Lebih baik tidak menikah, kalau ternyata suatu hari nanti harag diri Bapak akan terluka karena pilihan Rani.

Namun keadaan ternyata berkata lain. Pada malam ketiga setelah putus hubungan dengan Bima. Maharani bertemu seorang pemuda yang penampilannya membuat Rani sempat meragukan kejantanannya. Tapi sesuatu yang terjadi di antara mereka, khususnya dua bulan setelah pertemuan mereka itu, pasti membuat Rani akan berpikir ratusan kali jika ingin meragukan siapa pun.

Kecelakaan yang terjadi antara Rani dan Yudha, si pemuda feminin, membuatnya harus memperkenalkan Yudha sebagai calon menantu kepada sang Bapak.

Bapak, yang ternyata kurang menerima laki-laki berwajah mulus seperti Yudha.

Bapak yang ternyata tidak menerima ketika orang yang akan menikahi Rani adalah lelaki yang lebih memilih membuka usaha toko kue bukan toko alat listrik atau bangunan.

Seksis memang. Terlebih latar belakang keluarga Yudha sebenarnya membuat Rani berpikir ulang jutaan kali untuk maju. Mampukah Rani menyatukan dua keluarga yang saling bertolak belakang ini dalam pernikahannya dengan Yudha?

- - - - - - - - -

Bagi Rani, senakal-nakalnya kehidupan Jakarta, nggak akan membuat Rani goyah, nggak akan membuat Rani ikutan berpaling jadi anak nakal. Toh selama ini, semenjak lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, dia baik-baik saja. Walaupun banyak temannya yang nakal, tapi Rani tetap menjunjung tinggi ajaran Bapaknya.
“Nelangsa dibikin sendiri, kalau cinta itu ya berjuang, dong. Jangan ditahan-tahan. Hari gini kok ngalahin cinta.” — P. 367
Perkenalannya dengan Yudha di salah satu club, membuat Rani melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Nggak cuma itu, ternyata Yudha tipe cowok Jakarta yang mulus dan melakukan banyak perawatan, yang beda banget sama tipe cowok yang bapaknya harapkan. Bagaimana Rani harus menghadapi bapaknya kali ini?


Kembali membaca tulisan kak Kincirmainan setelah sekian lama adalah keputusan yang tepat. Baca tulisan kak Kin bikin jiwa bacaku yang sebelumnya ngesot jadi bangun lagi!

Menceritakan tentang Rani yang baru aja patah hati dan Yudha yang berhasil membuatnya teralihkan. Teralihkannya malah ke hal yang negatif dan mereka berdua harus bertanggungjawab atas apa yang sudah mereka lakukan. Masalahnya, Yudha ini bukan tipe cowok yang macho dan lakik, dia kulitnya mulus dan rajin banget pake skincare. Inilah yang bikin Rani agak bingung memperkenalkan kayak gimana ke keluarganya.

Enjoy The Little Things menurutku gemes dan bikin geregetan. Lebih banyak ke Raninya sih. Punya Bapak yang keturunan Jawa itu menurutku memang ngeri-ngeri sedap. Kalo udah teges, bisa teges banget. Tapi kalo becanda, ngelawak pol. Kesalahan yang dibuat Rani dan Yudha jelas fatal. Bapaknya Rani, pasti marah. Masalahnya, Rani yang bikin semua itu jauh lebih complicated.

Selama baca bener-bener gemes sama Rani. Untung bukan temenku, kalau Rani temenku, udah kumaki dia. Udahlah bikin segalanya rumit, gengsinya tinggi bener. Buset, Ran, gengsi nggak bikin kaya tujuh turunan, Ran.

Menurutku, perjalanan kisah mereka berdua tuh benernya yang bikin ribet Rani sendiri. Dia dengan segala spekulasinya. 

Karakter favoritku… Jonah sama Yudha. Mereka ini win my heart! Yudha yang soft spoken, baik hati,  bener-bener cowok yang hutan rimba, meskipun keluarganya agak berantakan. Jonah is the best! Sebagai ayah, dia berhasil mendidik Yudha untuk jadi cowok yang baik. Walaupun dia juga agak…aneh ya.

Buku ini nggak cuma membahas tentang hubungan Rani-Yudha aja, tapi juga bagaimana komunikasi dan interaksi mereka dengan keluarga masing-masing, bagaimana latar belakang keluarga mereka. Mungkin ada hal yang sedikit mengganggu apabila membahas tentang ayahnya Yudha, tapi so far buku ini oke banget.


From the book…
”Kita akan mengenal satu sama lain sambil belajar jadi orangtua yang baik.” — P. 98

”Kata orang, laki-laki itu menang karena bisa memilih, sedangkan perempuan menang karena mereka bebas menolak. Aku akan ngejaga dan ngerawat kamu baik-baik, Ran, sampai kamu nggak bsia nolak aku lagi. Aku akan bikin hidupmu nggak berarti tanpaku.” — P. 107

”Nggak apa-apa, nggak semua hubungan harus dimulai dengan alasan yang sama.” — P. 109

“Cinta emang harus enteng, kalau berat, jadi beban. Kalau enteng, enak dibawa-bawa.” — P. 151

”Well… apa pun itu, Ran, you’re a big girl. Ini hidup lo, apa pun yang akan lo lakuin setelahnya, yang penting hal paling benar udah lo putusin.” — P. 179

”Kesalahan seorang anak itu tetap adalah salah bapaknya. Kalau kamu bikin salah, berarti cara mendidikku belum benar.” — P. 275

”Apa pun jadinya kalian nanti, asal benar, Bapak nggak akan ngrusuhi karena kalianlah yang akan menjalani dan mempertanggung jawabkan pilihan itu seumur hidup.” — P. 277

”Aku nggak pernah dikasih pilihan lahir dari rahim perempuan mana, Ran. Aku nggak ingat Tuhan nyuruh aku milih, bukan salahku aku punya sepasang orangtua nggak beradab, atau dibesarkan oleh Jonah yang gaya hidupnya nggak akan masuk nalar bapakmu. Seumur hidup, aku mencari orang yang bisa menerimaku apa adanya.” — P. 288

”Jangan pernah apatis sama yang namanya cinta, Rani. Mau orang bilang nggak bisa makan cinta, cinta bukan faktor utama, tapi kayak lagu rock zaman dulu itu, when we’re hungry love will keep us alive. Saat segalanya terlalu sulit untuk dilalui, cintalah yang selalu nyelametin sebuah hubungan.” — P. 313 to 314

”Kalau suatu hari aku jadi orangtua, aku akan berusaha nggak pernah mengucapkannya sekecewa apa pun aku pada anakku, sebab aku tahu betapa sakit hati ini mendengarnya. Akan tetapi, aku juga paham betapa serba salahnya jadi orangtua saat dihadapkan pada pilihan anak yang berbeda keinginannya.” — P. 365

”Nelangsa dibikin sendiri, kalau cinta itu ya berjuang, dong. Jangan ditahan-tahan. Hari gini kok ngalahin cinta.” — P. 367

”Masalahnya justru ada di sana. Kalau kamu cinta, harusnya semua hal ada solusinya, meskipun selalu ada risikonya.” — P. 387

”Seorang wanita nggak dilihat dari kesalahannya pada masa lalu, kamu nggak usah cemas. Menurutku, Rani udah mengambil jalan yang benar dengan mengutamakan keinginan Bapak. Jodoh orang nggak ada yang tahu, tapi bagi orangtua, anak sudah pasti adalah harapan dan masa depannya.” — P. 396

”Biasanya, orang lebih mudah menerima saat hal itu tidak menimpa orang yang ada hubungan dengan mereka. Apa kamu yakin orangtuamu bisa seenteng itu menerima kondisi anakku yang akan kamu jadikan istri?” — P. 409

”Aku ingin sekali kamu jadi mantuku. Bukan perkara gaji dan orangtuamu yang terhormat, tapi kulihat kamu cukup berani dan yakin pada dirimu sendiri. Penting bagi seorang pria memiliki kepercayaan diri sebesar dirimu.” — P. 414

”Kamu tahu? Hanya orang-orang beruntung yang diberi kesempatan menemukan seseorang yang mencintai mereka sebesar Yudha mencintaimu, tapi orang beruntung itu akan merugi jika mereka tak bisa membalasnya.” — P. 418

”Aku menyadari bahwa selama ini aku mengingkari kenyataan bahwa mantanku meninggalkan aku bukan semata-mata karena kekasih barunya punya segalanya lebih dariku, tapi lebih dari itu, karena memang dia lebih mencintainya daripada mencintaiku.” — P. 419

Sunday, March 22, 2026

[REVIEW] Periculo

Periculo
Wiwi Suyanti
Elex Media Komputindo
362 Halaman

“Menurut aku, bagus juga kalau kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tadinya kita benci. Tapi cinta yang sampai menyakiti diri sendiri, itu namanya bukan cinta.” 


B L U R B

Sepanjang hidupnya, Ofelia Dinata hanya menginginkan satu hal; hidup tenang tanpa harus berurusan dengan Marina Oktavia—sang ibu. Sejak kecil Ofelia melatih dirinya bukan hanya untuk menjadi balerina terbaik di mata Marina, tapi juga menjadi putri yang sempurna dan bisa dibanggakan.
Kesempurnaan hidup Ofelia porak-poranda tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-22, ketika sebuah video terkirim dari nomor asing yang menampakkan sosok Alia Sugandi, beberapa saat sebelum Alia melakukan bunuh diri akibat dirundung Ofelia bersama kekasih serta kedua sahabatnya. 
Demi menyelamatkan nama baiknya, Ofelia bersedia melakukan segala cara termasuk menjatuhkan sahabatnya, kekasihnya, hingga menjalin kesepakatan rahasia bersama Aksa—kekasih Alia. Tanpa Ofelia sadari, Aksa memegang lebih banyak lagi rahasia masa lalu yang akan mengubah seluruh hidup Ofelia.

- - - - - - - - -

Bagi Ofelia, kehidupan ini hanyalah untuk menyenangkan Marina, ibunya. Selama dia berprestasi, ibunya akan senang dan membiarkannya melakukan hal lain, meskipun kebebasan itu tidak sebebas yang dibayangkan kebanyakan orang. Jadi, sebisa mungkin, dia tidak hidup bersinggungan dengan orang lain, supaya tidak menimbulkan permasalahan pelik yang akan menyulitkannya di kemudian hari.
“Masih banyak hal lain, bukan cuma itu. Kadang kehidupan justru jauh kebih menyedihkan daripada kematian. Ada manusia yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.” — P. 225
Di ulang tahun ke-22nya, masalah itu datang. Video sebelum kematian Alia, cewek yang belakangan memaksa masuk di circlenya dengan Audrey, Axel, dan Niko. Yang kemudian membawanya pada Aksa—pacar Alia, untuk menyelamatkan nama baiknya dan teman-temannya. Bisakah kali ini Ofelia menawarkan kerja sama yang menguntungkan?


Akhirnya setelah sekian lama Ce Wiwi mengeluarkan buku barunya lagi. Novel ini sama seperti novel lainnya yang beredar dulu di Wattpad dan baru terbit. Karena aku tim baca after cetak, soalnya aku nggak begitu suka jadi pembaca on-going. Memang denger-denger Periculo tuh agak ngeri ya. Tapi bener-bener capek banget sih menurutku.

Di awal membaca, kita sudah diperlihatkan bagaimana ada video kematian Alia Sugandi, cewek yang tiba-tiba aja mau masuk di circle Ofelia, Audrey, Axel dan Niko—para geng tak tersentuh di kampusnya. Agak aneh, karena kebanyakan orang udah males banget deket-deket sama mereka. Dibanding ketiganya, Ofelia ini menurut orang-orang adalah cewek yang dingin tak tersentuh dan lebih menyeramkan daripada yang lain.

Di sini kita diajak menyelami dunia keempatnya dari POV masing-masing. Audrey yang suka nakal, tapi pas kecentok dia agak trauma, padahal latar belakang keluarganya cukup baik. Bahkan ibunya Audrey adalah ibu yang diharapkan Ofelia. Axel yang anak mami dan hidup seenak-enaknya, lebih jalan emosinya ketimbang mikir dulu sebelum bertindak. Niko yang pintar memanfaatkan situasi siapa pun, termasuk Ofelia dan Axel. Ofelia yang bisa berpikir paling waras diantara keempatnya, punya berbagai plan, tapi paling tidak perasa. Baginya yang penting Marina bahagia.

Jujur di sini banyak banget ngebahas masa lalu Ofelia, bagaimana dari kecil dia diperlakukan, bagaimana parenting kedua orangtuanya, apa yang diharapkannya, dan betapa lelahnya dia selama ini. Aku juga kasian banget ngeliat dia ini. Hidup bebas dikit, kena ancam ibunya. Bapaknya juga kayaknya nggak peduli sama Ofelia, dan setelah tau alasan dibaliknya, kayaknya emang orang gila semuanya.

Alur yang dipakai maju mundur untuk menceritakan bagaimana sikap keempatnya terhadap Alia. Yang ternyata menurutku mereka nggak sekejam itu kok sama Alia. Memang Alianya aja yang suka cari perkara. Setting yang digunakan nggak terlalu banyak, karena hanya berkutat di beberapa tempat di Jakarta, Bali, dan di Sekayu, tempat Aksa berada.

Aku nekat menyelesaikan buku ini, tengah malam karena jujur penasaran banget sama akhirnya. Dan berakhir sakit kepala dan menangis. Jujur Ofelia terlalu banyak menanggung beban dan dosa banyak orang sih. Nggak cuma diharapkan orangtuanya, tapi juga teman-temannya. Aku kalo punya temen kayak mereka, pasti mencak-mencak sih.

Dari Periculo aku belajar banyak banget gimana peran orangtua membentuk anak. Anak kecil itu menurutku makhluk yang paling gampang, mereka nggak minta dibeliin barang buagus dan bermerk, mereka cuma minta kita ada di samping dia pas lagi main, atau pengen deket-deket sama kita. Sikap mereka bener-bener gimana kita ngedidik mereka aja. Ngedidik yang baik aja outputnya kadang jelek, apalagi dididik dengan cara yang kadang diluar nalar?



From the book…
“Menjadi nomor satu di mana-mana adalah wajib. Menjadi jelek dengan wajah kusam atau rambut kusut adalah sebuah kejahatan. Menjadi balerina sempurna adalah tujuan hidup.” — P. 13

“Nggak usah takut sama hantu. Manusia lebih mengerikan.” — P. 34

“Jangan pernah anggap remeh orang putus asa. Orang-orang putus asa biasanya yang paling berbahaya.” — P. 43

“Itulah keistimewaan manusia; bisa mencintai dan membenci sesuatu dengan sama kuatnya.” — P. 92

“Ada dua jenis orang putus asa di dunia ini. Orang putus asa yang nekat melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri sendiri. Dan orang putus asa yang ingin menyeret semua orang ikut mati bersamanya.” — P. 96

“Ada satu hal yang selalu ibu gue tanamkan di otak gue; bahwa sebagai manusia, kita harus selalu tahu posisi kita. Itu juga yang harus lo ingat, Al. Bahwa nggak peduli sekeras apa pun usaha lo, lo nggak akan pernah satu level dengan gue. Posisi gue akan selamanya di atas lo. Seekor domba tidak seharusnya membangunkan serigala.” — P. 122-123

“Manusia bisa berbuat jahat secara naluri, nggak perlu diajarin juga bisa.” — P. 189

“Tapi kalau bagi Tante, ada beberapa hal di hidup ini yang berada di luar kendali kita, dan saat itu terjadi…pasrahkan saja, tidak perlu dilawan.” — P. 225

“Masih banyak hal lain, bukan cuma itu. Kadang kehidupan justru jauh kebih menyedihkan daripada kematian. Ada manusia yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.” — P. 225

“Kalau kamu sudah lelah menjadi tangguh…kamu boleh menanggalkan segalanya dan beristirahat sejenak. Sesekali lakukan apa yang benar-benar kamu mau dan bahagiakan diri kamu sendiri, karena kamu tidak akan hidup dua kali. Dan kamu tidak hidup untuk ibu kamu.” — P. 226

“Menurut aku, bagus juga kalau kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tadinya kita benci. Tapi cinta yang sampai menyakiti diri sendiri, itu namanya bukan cinta.” — P. 229

“Aksa janji ya, apa pun yang terjadi, kamu harus kuat, nggak boleh nyerah. Seburuk apa pun hidup yang kita lalui, akan selalu ada akhir yang bahagia menunggu kita. Ibu akan sedih kalau kamu nyerah. Bertahan selalu ya, Aksa. Demi Ibu.” — P. 274

Sunday, January 18, 2026

[REVIEW] Fit & Proper Test

Fit and Proper Test
Soraya Nasution
Elex Media Komputindo
350 Halaman

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?"


B L U R B

"Cari pasangan hidup ya nggak boleh asal. Penginnya nggak ada penyesalan dan satu untuk selamanya, kan? Disusun dong Fit and Proper Test-nya. Kriterianya harus jelas dan terukur."

Celetukan Papi waktu berkumpul di rumah Eyang terus berputar di kepala Anggun. Apalagi dia punya target menikah sebelum usia 28. Sementara usianya kini sudah 26 tahun lebih 6 bulan. Dibantu kakak sepupunya yang juga jomlo gagal move on, Anggun bertekad menyusun Fit and Proper Test dalam Mencari Pasangan Hidup Ideal.

"Kalau ternyata pasangan yang lo pilih nggak lolos tes, sementara lo udah cinta sama dia gimana, Nggun?"

"Basically, perasaan itu yang ngontrol otak, Mas. Gimana lo cinta sama orang yang nggak memenuhi kriteria lo? Nggak mungkin!"

- - - - - - - - - -

Anggun sering bertanya-tanya, bagaimana cara mencari pasangan yang sesuai dengan kriterianya dan bisa diterima keluarga besarnya juga. Mengingat keluarga besarnya suka berkumpul dan melakukan kegiatan bersama, tentu saja pasangan yang bisa diterima sesuai dengan bibit, bebet dan bobot sangat menentukan, kan?
"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134
Sayangnya, sampai saat ini, Anggun masih belum juga menemukan pasangan sesuai kriterianya. Walaupun saat ini dia sedang menjalin hubungan, tapi Anggun ragu membawanya ke pertemuan keluarga. Sementara Ryan—kakak sepupunya juga jomlo. Memangnya mencari pasangan hidup perlu sedetail itu kah? Bukannya yang paling penting adalah perasaan satu sama lain dan finansial aja cukup?


Membaca Fit and Proper Test ini aku kira bakalan berat banget. Ternyata seringam itu. Permasalahan kapan kawin dan jodoh ini biasa kita alami kan? Apalagi buat anak line 90an. Kumpul keluarga, selain mendekatkan yang jauh, tapi juga bakalan mengumpulkan banyak pertanyaan. Yang belum nikah ditanyain kapan kawin, yang udah kawin kapan punya anak, yang udah punya anak kapan nambah. Udah jadi rentetan pertanyaan yang nggak ada habisnya.

Sama seperti Anggun dan Ryan, mereka juga mau kok segera menemukan pendamping hidup. Sayangnya, mencari pasangan hidup itu susah-susah gampang. Kadang ada yang sekali ketemu langsung klik, ada yang perlu cari-cari dulu. Dan aku juga kurang setuju sama papanya Anggun sih, karena cari pasangan itu nggak ada pakemnya, dan cara satu orang mencari pasangan tuh nggak bisa disamain sama yang lainnya. Nanti malah stres sendiri karena nggak dapet-dapet.

Selama membaca tuh aku suka banget interaksi antara Anggun dengan orangtuanya dan juga Ryan. Enak memang ya kalau punya kakak, meskipun cuma sepupu, tapi bisa diajak ngomong dan diskusi. Langka banget yang beginian. Aku sama sepupuku juga sama sih, tapi seputar kesehatan aja karena mereka dokter. Kalo love life mah enggak. Masuk ranah privasi.

Sangat aku rekomendasikan untuk baca, karena selain bahasanya ringan, lebih memperluas pemikiran juga kalau untuk memilih pasangan!


From the book...
"Nyari pasangan potensial lebih susah daripada ngitungin energi potensial pas zaman SMA ya, Nggun." — P. 6

"Menurut lo, seorang cowok atau cewek pantas disebut calon pasangan hidup potensial kalau punya berapa persentase sifat baik? 50 40? 70 30?" — P. 11

"Memilih calon istri itu bukan sekadar dia cantik, menarik, jalan beberapa bulan terus kamu lamar. Kamu harus melakukan serangkaian fit and proper test untuk mendapatkan calon istri yang potensial." — P. 25

"Gue nggak mesti sampe background keluarga, sih. Kita, kan, nggak bisa milih dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Tapi gue tambah gimana cara dia berkomunikasi sama orang lain. Itu yang paling penting." — P. 33

"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134

"Setiap orang kayaknya punya strong dan weak points-nya masing-masing deh. Banyak juga kok yang bisa disukai dari kamu. Kamu setia kawan, full of surprise, jago dandan, stylish, asyik diajak ngobrol karena kamu nggak berisik. I love to talk to you all the time." — P. 183

"Kayak yang Om selalu ingatkan ke kalian, pinter-pinter dalam memilih pasangan. Jangan gegabah. Semuanya harus fully checked. Mungkin kalian juga bosan mendengarnya. Usia kalian bukan usia untuk main-main lagi. Walaupun begitu, tetap harus dipilih yang paling baik. Toh untuk masa depan kalian juga." — P. 188

"Kamu memang benar. Tapi nggak ada salahnya mencari yang terbaik, kan? Kamu masa lupa soal bibit, bebet, bobot yang pernah Papi kasih tahu ke kamu dan Ryan. Bibit bebet bobot itu penting untuk menentukan kualitas keturunan, Sayang. Kalau ayahnya kayak gitu, kan nggak menutup kemungkinan anaknya juga kayak gitu." — P. 204

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?" — P. 283

"Lo terlalu terpaku sama hasilnya, Nggun. Sampai lo ngelupain proses dari penjajakan ini. Yang ada di kepala lo cuma ini cowok skornya harus sekian, harus memenuhi semua target. Padahal untuk ngedapetin itu lo harus menjalani pendekatan itu, kan? Selama proses fit and propert test itu, secara nggak langsung lo ‘dipaksa’ untuk lebih peka sama gerak-gerik seseorang, berusaha untuk tahu apa sih maunya dia, serius nggak sih dia sama lo. It’s such a big learning, Anggun.” — P. 332

“Aku juga ngambil banyak hikmah dari kejadian ini kok, Pra. Ternyata kadang apa yang aku susun nggak selalu terjadi sesuai rencana. Ternyata standar aku terhadap menilai sesuatu itu bisa saja nggak terpenuhi. Ternyata toleransiku terhadap beberapa hal harus lebih dilonggarkan.” — P. 341


Saturday, January 3, 2026

[REVIEW] Uang Gawat Darurat

Uang Gawat Darurat
Adrindia Ryandisza
Elex Media Computindo
224 Halaman

"Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” 


B L U R B

“APA YANG LEBIH GAWAT DARI DIJADIKAN KONTAK DARURAT TANPA IZIN?”
“NGGAK PUNYA UANG GAWAT DARURAT!”

Indy bekerja sebagai funding officer, tipikal budak korporat ibu kota dengan goal finansial: ingin punya uang gawat darurat. Mirisnya, setiap mengumpulkan dana untuk keperluan darurat, ada saja kebutuhan yang tiba-tiba muncul. Bukan hanya kebutuhannya saja, tetapi juga seluruh anggota rumah: ayahnya, ibunya, dan terutama, adiknya yang pengangguran.

Untungnya, Indy punya sahabat sepenanggungan. Bayu, seorang staf IT yang sedang berjuang keras menabung untuk menikah. Tepatnya, untuk biaya pernikahan kakak perempuannya yang ditakutkan akan menjadi perawan tua. Apakah mereka bisa keluar dari peliknya masalah finansial yang sering dihadapi generasi masa kini?

- - - - - - - - - -

Hidup sebagai anak pertama dengan kondisi keluarga yang kurang, membuat Indy mau nggak mau ikut menanggung kehidupan orangtua beserta adiknya yang saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. Selama ini Indy ngerasa baik-baik aja, meskipun uang untuk dana daruratnya mepet banget. Indy masih berusaha mencari berbagai cara untuk menambah penghasilannya, dia juga sering melihat video di Youtube bagaimana cara memperbanyak uangnya yang tidak seberapa ini.
“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112
Bayu, tetangga sebelah sekaligus sekutu Indy sejak SMA pun ternyata punya masalah yang mirip, malah lebih parah menurutku. Dia ikut menanggung biaya pernikahan kakaknya. Belum lagi, persiapan pernikahan kakaknya ini banyak banget percek-cokan yang terjadi. Mau pecah rasanya kepala Bayu.

Bagi Indy, dia beruntung punya Bayu, nggak cuma jadi temen yang bisa diajak haha-hihi, tapi juga bisa diajak curhat dan bertukar pikiran. Kira-kira mereka bakalan punya pekerjaan tambahan nggak ya, supaya bisa memperbaiki kondisi keuangan mereka?


Di masa sekarang ini, punya dana darurat itu kayaknya keharusan deh. Bukan menjadi opsi menabung lainnya. Dari sejauh yang aku tau, katanya dana darurat ini harusnya 3x gaji. Ada yang bilang 6x gaji, kembali ke kebutuhan masing-masing. Apalagi kalau sudah ada keluarga dan anak ya, harus banget kayaknya ada dana darurat. Karena kita gatau apa yang terjadi ke depannya.

Membaca kisah Indy-Bayu ini gemes-gemes gimanaa gitu. Indy sebenernya bukan dari keluarga yang berkekurangan kok. Sebelumnya dia berkecukupan, tapi karena ayahnya yang kena PHK, jadi kehidupannya sedikit terguncang. Pas di bagian Indy dengan Rika, adiknya, aku sangat memahami banget. Adik nggak kerja, keliatannya di rumah terus tuh jadi sumpek yang liat. Apalagi Indy pergi pagi, pulang capek. Bela-belain menghemat di sana sini, tapi Rika malah di rumah aja. Begitu disindir, ngamuk pula. Capek banget.

Sementara kisah Bayu lebih nyesek lagi, ngumpulin biaya pernikahan, tapi buat kakaknya. Pas awal aku baca, aku juga kesel banget sih. Masa kakaknya yang mau nikah, tapi adiknya ikutan kepikiran juga? Bukannya nikah ya harusnya tanggungan yang bersangkutan aja ya?

Tokoh yang aku suka tuh malahan Bayu. Tipe cowok pada umumnya yang komen secukupnya aja, tapi pas action keren banget!! Dia ini juga tipe temen yang cukup seru untuk diajak cerita, bisa ngasih feedback nggak cuma diem aja gitu.

Novel ini relate banget sih sama masa sekarang yang sandwich generation, hidup serba sulit. Terjebak di antara dua pilihan, menyenangkan diri sendiri atau orang lain. Seperti biasa, novel kak Adrin ini nggak tebal, tapi isinya padet banget. Mantep. 


From the book…
“Gue tuh nggak perlu sampai harus jalan-jalan ke Bali atau pakai tas bermerek, gue cuma kepengin uang lebih banyak buat tabungan gue dibanding dana darurat.” — P. 3

“Permasalahan uang adalah sesuatu yang sangat sensitif. Pertemanan bisa rusak karena masalah utang piutang.” — P. 16

“Kalau Ibu, nggak mau kamu nikah tapi malah belum siap. Ya, meski Ibu sama Ayah pas-pasan banget menuhin kebutuhan kamu dan belum bisa nyiapin uang nikahan anak sama sekali, tapi Ibu tetap pengin yang terbaik buat kamu. Ibu nggak mau kamu nikah, tapi malah jadi susah. Nikah kan ibadah, bukan uji nyali.” — P. 23

“Aku tahu Mbak Alia nggak minta saranku, tapi aku mau tetap ngomong. Mbak Alia nggak perlu menurunkan standar. Jangan sampai nanti suaminya masih nggak stabil emosinya. Tapi aku juga ngerti kalau tuntutan keluarga itu berat.” — P. 94

“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112

“Pengetahuan gue tentang nikah mungkin sedikit. Tapi lo tahu nggak, apa yang menurut gue lebih menakutkan dari menikah saat belum siap? Nikah dengan orang yang salah. Gue takut itu.” — P. 114

“Iya. Kebiasaan banget ya, nikah dijadiin lomba cepat-cepat. Jangan sampai aja cepat-cepat cerai jadi tren lomba baru.” — P. 131

“Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” — P. 190

“Tapi gue mikir kalau pernikahan itu tentang berkompromi dan cari solusi bareng-bareng, gue rasa untuk ke jenjang itu, gue udah bisa bayangin lo, Yu. Cuma nggak langsung nikah kayak yang lo mau. Kita butuh persiapan dan rencana. Kayak nanti tinggalnya gimana, atur keuangannya gimana. Belum kalau nanti pelukan atau mesra-mesraan.” — P. 213

Thursday, December 11, 2025

[REVIEW] Gashale

Gashale
Herania
Elex Media Komputindo
272 Halaman

"Kalau ada yang gue pelajari dari semua ini, pengampunan lebih baik daripada mendam marah terus, lebih bikin tenang”


B L U R B

Asga: Head of Marketing, 28 tahun
Masha: Freelance Subtitle Translator, 27 tahun
Rale: Pemilik bengkel mobil merangkap mahasiswa, 28 tahun

Ketiganya adalah YouTuber terkenal yang memiliki kanal “Gashale”. Hubungan mereka spesial. Rale menganggap Masha adiknya, sebagai pengganti adik kandungnya yang sudah meninggal. Asga dan Masha adalah sahabat yang diam-diam saling memendam perasaan. Asga dan Rale menganggap satu sama lain sebagai saudara laki-laki yang tidak pernah mereka punya. Hidup mereka berjalan penuh keakraban dan keakuran.

Petaka dimulai saat Asga mulai mendekati Masha dan mendobrak batas persahabatan mereka. Perasaan mereka tidak lagi bisa terbendung. Keduanya menjalin kasih, tapi menyembunyikan hubungan mereka dari Rale karena lelaki itu sangat protektif terhadap Masha. Ternyata, Asga bukan sekadar laki-laki tampan yang punya karier mentereng. Masa lalu kelam mengikutinya sampai ke masa kini, dan Masha baru tahu perihal itu saat rahasia Asga terbongkar.

Kebenaran pahit merusak hubungan mereka dan melukai mereka bertiga sekaligus. Situasi semakin pelik saat masalah mereka bocor dan viral di media sosial. Apakah cinta yang Asga dan Masha rasakan cukup kuat sehingga dapat menyelamatkan hubungan mereka? Lalu, bisakah mereka bertiga kembali akrab seperti dulu lagi?

- - - - - - - - -

Berteman apalagi serumah dengan cowok, memang aneh. Tapi inilah yang dijalani oleh Asga, Masha, dan Rale. Walaupun punya kesibukan dengan pekerjaan utama mereka, tapi ketiganya masih tetap aktif menggarap kanal Youtube yang sudah dikenal kalangan luas. Kanal mereka tidak spesifik membahas satu hal saja, tapi juga berbagai topik yang sedang hangat, atau yang jadi keresahan mereka.
"Tahu nggak sih, gue dan jutaan orang lain pengin banget perasaannya dibalas orang yang kami sayang. Lo udah mendapatkan itu, tapi lo sia-siain semua cuma karena takut ngambil risiko." — P. 97
Masha dan Asga diam-diam menyimpan rasa terhadap satu sama lain. Bukan hal yang aneh, sayangnya Masha dan Asga juga harus menjaga perasaan Rale. Tidak mungkin keduanya menjalin hubungan secara terang-terangan. Hal ini bisa saja mengancam persahabatan mereka bertiga, dan berimbas ke kanal Youtube mereka.

Sayangnya, karena satu kesalahan, hubungan Masha-Asga ketahuan, dan menguak masa lalu Asga dan Rale. Masha yang berada di tengah-tengah, kebingungan, apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia melanjutkan hubungannya dengan Asga, atau berusaha memberi penjelasan pada Rale?


Pernah denger kalau persahabatan antara cewek dan cowok adalah bullshit? Karena salah satunya akan jatuh cinta. Aku percaya ini sih, karena dulu aku pernah banget punya temen satu circle. Saking deketnya, dan carenya dia sama aku, akunya baper. Untung aku sadar, kalo dia tuh nggak mungkin suka sama aku lebih dari temen, jadi yaa.. cari cowok lain.

Sama halnya dengan Asga, Masha dan Rale, nggak mungkin murni berteman aja, pasti ada yang baper. Awalnya aku juga setuju sama Asga-Masha, kalo hubungan mereka harus disembunyikan, karena ngeliat Rale juga kayaknya kurang ikhlas kalo Masha punya pacar.  Jadi ya memang sebaiknya disembunyikan.

Latar belakang tiap tokohnya, bisa dibilang cukup pelik dan berhubungan dengan orangtua, atau cara pengasuhan orangtua. Dengan latar belakang yang cukup mirip inilah, mereka bertiga akhirnya bisa dekat satu sama lain. Selain itu, ternyata Rale secara tidak langsung, punya hubungan dengan Asga, dan hubungan mereka ini juga cukup rumit.

Kisah Gashale ini menarik banget, dengan sudut pandang setiap tokohnya, kita jadi tau bagaimana perasaan mereka, bagaimana kondisi mereka, belum lagi rahasia Asga yang membuatku penasaran karena sejak awal sudah disinggung, tapi nggak kunjung dijelasin. Jadi semangat banget untuk mencari tau apa masalah Asga sebenarnya. 

Dari Gashale juga banyak belajar bagaimana menjadi orangtua, hidup emang nggak selalu mulus, cobaan dalam hidup tuh ada, tapi jangan sampe anak jadi korbannya. Apalagi kalo tentang kasih sayang, jangan sampai kita nantinya kalau jadi orang tua pilih kasih. Hal itu bakalan membekas selamanya di hati anak. Dari luar emang bakalan keliatan sama aja, tapi dalem hati siapa yang tau?


From the book...
"Siapa bilang kesunyian itu menenangkan? Kesunyian bisa sangat memekakkan telinga, mengembuskan ketakutan, hingga perlahan mengikis kewarasan seseorang." — P. 10

"Gue tahu lo atlet membanggakan. Tapi nggak semuanya bisa lo menangkan, termasuk Masha. Kalau dia udah bilang nggak mau, ya dia nggak mau." — P. 51

"Kadang untuk bahagia kita perlu ngambil risiko." — P. 97

"Tahu nggak sih, gue dan jutaan orang lain pengin banget perasaannya dibalas orang yang kami sayang. Lo udah mendapatkan itu, tapi lo sia-siain semua cuma karena takut ngambil risiko." — P. 97

"Nggak, kok. Orangtua toksik macam orangtua kita memang seharusnya dihindari. Menurut gue, kit ahebat bisa menyelamatkan diri sendiri dan lepas dari racun yang mereka kasih. Nggak banyak orang yang punya kekuatan untuk itu." — P. 113

"Gue memang nggak pernah bikin orang meninggal, tapi gue pernah jadi orang tolol yang menyia-nyiakan orang yang gue sayang. Gue cuma bisa pesan supaya lo jangan sampai kayak gue." — P. 185

"Pak Fa bilang ke gue, hati itu nggak bisa dipaksain, perasaan datangnya suka nggak terduga. Kalian dekat banget selama ini, wajar kalau kalian sama-sama jatuh cinta. It's not a mistake. I should've seen it coming, but I didn't." — P. 259

"Kalau ada yang gue pelajari dari semua ini, pengampunan lebih baik daripada mendam marah terus, lebih bikin tenang. Apalagi kalian benar-benar udah kayak keluarga gue. Gue bakalan nyesel banget kalau nggak maafin kalian." — P. 260


Friday, November 28, 2025

[REVIEW] Pak Djoko


Pak Djoko
Arin. T
Elex Media
208 Halaman

"Nak, bukankah dahulu sudah pernah saya katakan kepadamu: percayalah kepada hatimu, maka kau pun akan senantiasa selamat.”


B L U R B

Aku dan adikku menghitung; setidaknya ada delapan sampai sembilan sosok ‘penghuni’ selain kami di rumah ini. ‘Mereka’ tak pernah jemu mengikuti kami, seolah hendak menyampaikan sesuatu tentang keluarga ini, yang semestinya sudah sejak lama kami ketahui. 

Tiga hari menduduki rumah baru, kakak-beradik Bintang dan Gilang diadang penampakan berbagai wujud ‘makhluk penunggu’, hampir setiap waktu di setiap penjuru. Tak hanya interaksi intens dengan para hantu, rumor tak menyenangkan yang beredar di kalangan warga sekitar mengenai wisma yang kini mereka tinggali kian mendesak Bintang untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di `rumah nomor tujuh-tujuh` bertahun-tahun lalu—sesuatu yang kemudian menyadarkannya bahwa kedatangan mereka sekeluarga ke sana merupakan awal mula dari segala malapetaka. Terlebih, kala musibah mulai menimpa salah seorang anggota keluarganya. 

Mampukah Bintang menyelamatkan keluarganya dari belenggu teror alam astral sebelum jatuh tumbal?

- - - - - - - - -

Kehidupan Bintang bisa dibilang biasa saja. Tidak ada yang menarik selain kemampuannya yang bisa melihat hal lain yang tak kasat mata. Apalagi dengan cara hidup keluarganya yang nomaden, Bintang jadi sering sekali harus beradaptasi dengan suasana 'lingkungan' yang baru. Tapi nggak masalah, toh mereka juga nggak mengganggu Bintang dan keluarganya.
"Lagi pula, anak dengan weton Selasa Wage buruk peruntungannya. Dia akan menjadi beban bagi kita seumur hidupnya.” — P. 167
Ketika akhirnya Bintang dan keluarganya memiliki kesempatan untuk memiliki rumah sendiri, Bintang malah merasakan banyak sekali kejanggalan di rumah barunya. Mulai dari kompleks tempatnya tinggal yang cukup mewah—tidak sesuai dengan kondisi keuangan keluarga Bintang, beberapa penunggu yang muncul dan cukup membuat dia dan Gilang—adiknya, tidak nyaman. Anehnya, mereka seperti berusaha untuk mengatakan pada Bintang bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di rumah itu.

Selain hawa-hawa yang tidak enak, gangguan yang terlalu sering, Bintang juga mendapati adik perempuannya sering sakit. Wah, udah tanda-tanda kalau ada yang aneh nggak sih?  Bisa nggak ya Bintang dan Gilang memecahkan masalah ini?


Novel Pak Djoko ini sudah sejak kemunculannya di toko buku, bikin aku pengen baca. Meskipun dari covernya aja kita udah tau ya, kalo ini adalah novel horor. 

Sejak awal membaca, kita sudah diajak untuk mengenal kehidupan keluarga Bintang yang serba mepet, bahkan untuk berangkat kuliah pun bergantian, atau salah satu dari mereka terkadang masih ikut membantu ibunya berjualan. Nggak ada yang aneh dan mengejutkan, sampai mereka bisa pindah ke rumah yang ada di dalem kompleks. Aku yang baca pun kebingungan, ya meskipun kadang ada aja jalannya seseorang untuk punya rumah ya. Tapi yang ini, too good to be true.

Bisa dibilang, Bintang itu tipe anak yang suka mengeksplor, termasuk dengan kemampuan yang dia punya. Waktu sampai, dia langsung bisa tau dan mulai mengenali siapa-siapa aja yang menghuni di rumah barunya, dan lokasi mahkluk halus itu sendiri. Sementara saudara-saudaranya ini nggak terlalu diceritakan, hanya diceritakan sesekali, nggak mendetail seperti Bintang.

Sebagai anak yang parnoan, selama baca tuh challenging banget buatku. Soalnya, penggambaran tentang mahkluk halus itu bener-bener detail dan aku tuh anak yang gampang buat bayangin sesuatu, jadinya makin parnoan gitu. Kak Arin berhasil menjelaskan dengan detil dan bikin kita takut-takut gitu pas bacanya. Apalagi pas di bagian Bintang menemukan bapaknya melakukan hal aneh. Duh, beneran deh, aku jadi takut pas keluar kamar malem-malem.

Menurutku, novel Pak Djoko ini nggak cuma ngebahas tentang hal supranatural dan mistis aja. Lebih kompleks, ya mirip dengan apa yang ada di kehidupan nyata, pesugihan untuk mendapatkan kekayaan, dibantu mahkluk halus untuk memecahkan sebuah masalah. Sebenernya hal-hal kayak gini tuh nyata, cuma mungkin jarang ada yang terungkap. Apalagi kalo ngebahas tumbal itu kan nggak melulu korbannya orang yang kita kenal, bisa aja bukan kita kenal, atau memang caranya cantik banget sampe kita mengira korbannya meninggal alami.


Friday, April 25, 2025

[REVIEW] Kresek Hitam

Kresek Hitam
Honey Dee
Laiqa
184 Halaman

"Kita memang nggak akan bisa mengatur orang lain agar melakukan hal yang tepat sama seperti yang kita inginkan, Ra. Hidup nggak bisa semudah itu. kekecewaan demi kekecewaan kepada orang yang kita pikir bisa kita sayangi itu wajar banget, Ra. Kakak juga merasakannya."


B L U R B

Maera pikir, masuk asrama rehabilitasi merupakan hukuman terbaik atas penebusan dosa-dosa masa lalunya. Ternyata, hukuman yang sesungguhnya didapat setelah dia keluar dari sana. Dia kehilangan saudara dan teman, di-DO dari kampus, dan yang jauh lebih buruk, tak lagi dipercaya kedua orangtuanya. 

Ketika Maera berusaha menata ulang kehidupannya, orang-orang yang dia harap bisa menolong malah berbalik menghancurkannya. Apakah beban yang terlampau berat ini mampu dihadapi Maera di usianya yang baru sembilan belas? Haruskah hidupnya berakhir bagaikan kresek hitam yang akan disingkirkan oleh keluarganya?

- - - - - - - -

Masuk di panti rehabilitas menjadi suatu pukulan untuk Maera. Apalagi ayah dan ibunya cukup dikenal sebagai dosen di salah satu kampus di Kalimantan, dan juga anggota partai. Masuknya Maera di panti rehab tentu aja jadi hal yang cukup memalukan. Sekembalinya Maera, dia mulai kehilangan arah, karena keluarganya nggak begitu welcome sama dia. tapi Maera kembali mengingat omongan Kak Sukma—pembimbingnya selama di rehabilitasi—bahwa ada kemungkinan untuk sulit diterima keluarga karena mereka kecewa.
"Kesalahan dan dosa orang lain bukan tanggung jawab kita. Tugas kita hanyalah berbuat baik pada siapa saja, termasuk orang yang jahatin kita. Siapa thau, kebaikan itulah yang akan menjadi amal kunci menuju surga. Paling tidak, kebaikan akan memberikan hati kita ketenangan." — P. 160
Maera masih berusaha menahan diri ketika semua anggota keluarganya masih menganggap kejadian kemarin itu adalah salah Maera, karena Maera terlalu bebas. Tapi bagaimana kalau ada perlakuan yang nggak mengenakkan dari saudara jauhnya, malah membuat Maera semakin dibenci orangtuanya? Ke mana Maera harus mencari bantuan?


Awalnya, aku mengira Maera ini pecandu karena sampai harus masuk ke panti rehabilitasi. Bagi sebagian orang, rehabilitasi bisa menjadi tempat terpuruk, atau menjadi kesempatan kedua untuk hidup yang lebih baik. Maera awalnya mengira panti rehab adalah neraka, semua orang yang melakukan hal negatif, ke sini semua. Tapi lambat laun, dia menyadari, bahwa panti rehab bisa membantunya menjadi pribadi yang lebih baik, punya pandangan dari sisi lain juga.

Mengangkat tema pelecehan seksual pada remaja yang sampai saat ini pun masih banyak korbannya. Dan sampai sekarang pun, korban pelecehan masih tetap jadi pihak yang salah. Entah karena bajunya, karena dianggap 'mengundang', dan masih banyak alasan lainnya. Padahal simpelnya ya karena pihak pelakunya nggak bisa menahan diri untuk nggak berbuat menyimpang, ini nggak terbatas untuk perempuan saja, karena pelecehan bisa terjadi sama laki-laki juga.

Baca Kresek Hitam ini bikin aku kembali mikir, kalo jadi cewek itu susah. Salah bener, kayaknya juga bakalan dinilai salah. Di kasus ini, Maera memang salah, hampir melakukan hal menyimpang, tapi ketika dia sudah kembali dan menjadi pribadi yang lebih baik, seharusnya anggota keluarganya juga membuka tangan. Nggak menyalahkan kalau ada yang masih kecewa, tapi setidaknya Maera menunjukkan kalau dia sudah berubah. Belum lagi saat dia dilecehkan, nggak ada yang percaya sama dia. Padahal dia sudah memberikan bukti. Gemes banget sama orangtuanya.

Kak Honey menulis Kresek Hitam dengan detail, aku suka sekali. Meskipun mengandung unsur agama, tapi nggak membuat kita yang baca jadi nggak nyaman. Malahan pelakunya juga salah satu orang yang cukup disegani di agamanya. Nggak hanya itu, kak Honey juga menjelaskan apa saja yang harus dilakukan ketika mendapatkan pelecehan seksual.

Kresek Hitam aku rekomendasikan banget untuk remaja dan juga orangtua. Dengan kemajuan jaman ini, harapanku sih orangtua nggak se'tertutup' atau sekolot dulu ya. Mau terbuka dengan fakta pelaku dan korban, bukannya malah membela pelaku. Pelecehan seksual tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Tolong juga untuk lebih mendengarkan dari sisi korban. Nggak pernah ada yang mau dilecehkan.


From the book...
"Kita memang nggak akan bisa mengatur orang lain agar melakukan hal yang tepat sama seperti yang kita inginkan, Ra. Hidup nggak bisa semudah itu. kekecewaan demi kekecewaan kepada orang yang kita pikir bisa kita sayangi itu wajar banget, Ra. Kakak juga merasakannya." — P. 7

"Nggak, sih, Ra. Marah itu reaksi wajar kalau melihat kenyataan nggak seperti khayalanmu. Tapi marah itu juga bisa bikin hatimu sakit, Ra. Saat sakit hati, otak akan menilainya sebagai pengalaman negatif dan alam bawah sadar kamu bakal nyari cara buat jauhin mereka, penyebab rasa sakit itu." — P. 8

"Lebih baik kita menjaga kebersihan, Ra, daripada kita cape membersihkan. Belum tentu noda yang mengotori rumahmu itu bisa dibersihkan." — P. 42

"Rasa cinta itu asing, tapi menyenangkan. Bisa tertawa dan berlarian dengan teman itu menyenangkan. Bisa percaya dan dipercaya orang lain itu menyenangkan. Semua ini sangat baru untukku." — P. 137

"Nggak ada yang tahu gimana sakitnya korban perkosaan sampai dia merasakan sendiri. Nggak ada. Orang-orang yang menganggap remeh perkosaan, itu karena pikirannya sudah ditutup dengan pornografi dan hati mereka sudah mati, apalagi sampai menikahkan korban perkosaan dengan pelakunya. Itu kesintingan yang benar-benar nyata." — P. 149

"Kesalahan dan dosa orang lain bukan tanggung jawab kita. Tugas kita hanyalah berbuat baik pada siapa saja, termasuk orang yang jahatin kita. Siapa thau, kebaikan itulah yang akan menjadi amal kunci menuju surga. Paling tidak, kebaikan akan memberikan hati kita ketenangan." — P. 160

Tuesday, February 18, 2025

[REVIEW] (Bukan) Pengantin Baru



(Bukan) Pengantin Baru
Yessie L. Rismar
Elex Media Komputindo
192 Halaman

"Nggak apa-apa. Kalau capek, kamu nggak harus terus berjalan apalagi berlari. Kamu bisa berhenti untuk istirahat. Nanti setelah tenaga kamu kembali terkumpul, kamu bisa kembali melangkah."


B L U R B

Di awal pernikahan Kiara dan Yaris tidak pernah terusik dengan pertanyaan kapan punya anak. Namun, ibarat suara nyamuk, lama kelamaan pertanyaan itu mengganggu juga. Terlebih ketika mertua Kiara yang biasanya adem ayem mulai merengek ingin cucu dan membandingkan mereka dengan orang lain. Masalahnya, bagaimana bisa punya anak kalau berhubungan intim saja Kiara dan Yaris masih tidak bisa?

- - - - - - - - - -

Menikah dan punya anak memang hal yang berkaitan erat, meskipun ada beberapa orang memilih untuk menikah saja, tanpa memiliki anak. Tapi ada juga beberapa orang yang sudah berusaha untuk mendapatkan anak, masih belum menemukan titik terangnya. Termasuk Yaris dan Kiara, mereka juga berusaha dengan berbagai cara. Masalahnya, gimana bisa punya anak, kalau berhubungan badan saja susah?
"Nggak, Ra. Pilihan kamu hanya satu: bahagiakan aku. Dan caranya juga hanya satu: tetap bersama aku. Aku nggak peduli kita bakalan punya anak atau nggak nantinya. Asal tetap sama kamu, apa pun keadaan kamu, itu udah cukup buat aku." — P. 105
Sebenarnya, Yaris dan Kiara nggak pernah ada masalah dengan hal ini, bagi mereka punya anak adalah rejeki, mungkin sekarang belum rejeki. Apalagi Kiara sendiri masih berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya. Berhubungan intim masa iya nggak bisa? Masa iya kalah sama anak kecil?


Tuntutan untuk punya anak setelah menikah ini.. cukup banyak yang mengalami. Mau itu pasangan yang udah lama menikah, ataupun yang baru. Nanti kalau udah punya anak, akan muncul tuntutan lainnya, mulai dari milestone bayi, sampai kapan nambah anak. Rantai setan ini, nggak ada habisnya. Bener-bener bikin pusing. Padahal kita belum tentu tau, masalah dalam rumah tangga orang gimana, apa keuangan mereka stabil, mentalnya sudah oke untuk punya anakkah? Dan masih banyak pertimbangan lainnya.

Kasus Yaris dan Kiara ini menurutku cukup langka, karena tidak semua perempuan pasti mengalaminya, tapi masalah yang dialami Kiara juga tidak banyak diketahui banyak orang. Vaginismus, kesulitan untuk melakukan hubungan badan. Pasti banyak orang mempertanyakan hal ini. Masa iya berhubungan badan aja susah? Bukannya cuma tinggal masuk aja? Tapi nyatanya enggak kan?

Masalah vaginismus ini aku baru tau beberapa tahun belakangan. Aku tahunya pun berkat follow salah satu akun yang memang concern membahas kehidupan seksualitas, dan ngtag orang yang berhubungan dengan vaginismus ini. Sejak inilah aku tau, bahwa nggak semua perempuan dengan mudah berhubungan badan. Banyak juga perlakuan yang tidak menyenangkan terhadap vaginismus. Mungkin sebagian besar dari mereka juga nggak tau.

Nggak cuma menyebutkan vaginismus, tapi juga banyak dijelaskan tentang kendala dan bagaimana penanganannya. Strugglenya Yaris-Kiara ini ada banget. Apalagi hal itu awam banget, bahkan konsul ke ahlinya aja masih diremehin. Jadi bikin orang males juga kan untuk konsul kalau mereka butuh bantuan.

Yaris di sini jadi suami paling favorit! Bener-bener support dalam kondisi apapun. Apalagi sempat ada permintaan untuk nikah lagi, supaya Yaris bisa punya keturunan, tapi dia dengan tegas bilang enggak! Ya ampun ya ampun, bener-bener ijo neon. Caring, dan mau support Kiara apa pun keadaannya. Prinsipnya itu loh. Perbanyak dong cowok-cowok yang kayak begini ini.

(Bukan) Pengantin Baru ini wajib banget dibaca. Nggak cuma tentang pernikahan aja, tapi juga belajar prinsip dari Yaris. Harus!


From the book…
“Aku sayang kamu gimana pun kondisinya. Kalau aku saja bisa menghargai kamu, kamu juga harus menghargai kamu sendiri.” — P. 11

"Katanya, 'Saya menikah bukan buat punya anak, tapi untuk ibadah. Istri kan tempat ibadah juga, ladang pahala. Lagian, istri bukan mesin untuk membuat anak, kan?'" — P. 25

"Tapi hidup memang begitu, kan? Ujian ketika kita kecil, remaja, dewasa, sesuai porsinya. Ya meskipun ada orang-orang yang menanggung beban lebih berat dibanding orang-orang lain seusianya." — P. 28

"Ra, benar bahwa seks itu penting dalam pernikahan. Tapi, buat aku pernikahan nggak melulu soal seks. Di mata aku pernikahan nggak serendah itu. Buat aku pernikahan adalah tempat kita untuk menjadi orang yang lebih mandiri dan kuat. Pernikahan itu sekolah tanpa akhir. Siap menikah artinya siap belajar selamanya." — P. 31

"Kamu harus tahu kalau kegagalan kita dalam berhubungan ini sama sekali nggak mengurangi rasa sayangku, malah semakin bertambah." — P. 51

"Semua orang udah meneror aku dengan pertanyaan kapan hamil, Bu. Mertua, tetangga, teman-teman, bahkan sahabatku sekarang sudah hamil. Please, Bu. Aku pengin ngerasa aman dan nyaman di keluarga sendiri." — P. 54

"Nggak apa-apa. Kalau capek, kamu nggak harus terus berjalan apalagi berlari. Kamu bisa berhenti untuk istirahat. Nanti setelah tenaga kamu kembali terkumpul, kamu bisa kembali melangkah." — P. 76

"Nggak, Ra. Pilihan kamu hanya satu: bahagiakan aku. Dan caranya juga hanya satu: tetap bersama aku. Aku nggak peduli kita bakalan punya anak atau nggak nantinya. Asal tetap sama kamu, apa pun keadaan kamu, itu udah cukup buat aku." — P. 105

"Aku selalu sayang kamu, Ra. Nggak ada orangtua yang sempurna, begitu juga anak yang sempurna. Nggak ada istri yang sempurna, begitu pula suami. Yang ada hanya ada dua: orang yang berusaha jadi lebih baik dari sebelumnya, sesuai dengan kemampuan dan usahanya, atau orang yang nggak peduli dengan apa pun, nggak mau berubah, dan nggak mau mengubah keadaan." — P. 152

Friday, January 17, 2025

[REVIEW] Planet Luna

Planet Luna
Ray Antariksa Yasmine
Elex Media Komputindo
304 Halaman

"Pokoknya, kalau mau punya temen, kamu harus berusaha. Temen itu nggak kayak anak bebek yang bakal ngikutin kita terus seakan-akan kita ini induknya. Mereka juga perlu diperjuangkan."


B L U R B

Nawang itu paduan sempurna atas apa yang tidak Luna miliki. Tidak hanya pintar dan baik hati, tetapi juga berprestasi dan punya banyak teman. Sementara Luna tak pernah berhasil meskipun setengah mati ingin bisa bergaul dan punya sahabat. Dia justru dirundung dan dijauhi orang-orang yang dia kira akan menjadi temannya. Mendengarkan Nawang tertawa-tawa bersama teman-temannya di sebelah rumah hanya mengingatkan Luna pada kesendirian. Luna merasa planetnya akan selalu kosong dan hampa. Dia akan selalu tersisih dari pergaulan dan kesepian sampai tua.

Sementara Luna ibarat enigma. Nawang hanya tahu kalau tetangganya itu tertutup dan pemalu. Gadis itu pernah mengalami perundungan cukup parah yang membuatnya pindah kota saat kecil. Nawang tidak sadar bahwa eksistensinya sebagai anak berprestasi dan punya banyak temanlah yang membuat Luna tak pernah mau didekati.
Kendati begitu, Nawang tidak menyerah. Baginya, sosok penyendiri seperti Luna harus ditemani dan dimengerti, bukan dijauhi, apalagi dikerjai. Namun kenyataannya, mendekati Luna tak segampang yang pernah Nawang bayangkan.

- - - - - - - - - -

Kehidupan Luna seharusnya baik-baik saja sampai Eyang Uti meninggal, dan dia harus kembali ke Jakarta. Tempat di mana hidup berantakannya dimulai. Perisakan yang diterima sejak SD membuat dia enggan kembali ke Jakarta. Kalau bisa, dia di Solo atau Semarang saja bersama kakaknya, Mbak Yana. Sayangnya, kedua orangtuanya tetap memaksanya untuk kembali ke Jakarta lagi.
"Kalian, tuh, setara. Nggak ada yang lebih baik dari yang lain. Pola pikir lo itu yang harus diubah. Jangan memandang diri sendiri terlalu kecil karena nyatanya lo nggak sekecil itu. Ya? Bisa, kan?" — P. 236
Kembalinya Luna ke Jakarta apalagi bersekolah di tempat yang sama dengan Nawang, memberikan kabar yang menyenangkan untuk Nawang. Akhirnya dia memiliki kesempatan lagi untuk bertemu dan berteman dengan Luna. Tapi bagaimana kalau Luna ternyata menarik diri dan nggak mau berteman sama Nawang.

Kalau sudah begini, Nawang harus mencari berbagai cara untuk berteman dengan Luna. Walaupun cukup sulit, karena kehidupan Nawang yang social butterfly. Bisakah Luna akhirnya membuka diri ke Nawang?


Planet Luna digambarkan dengan berbagai hal yang cukup dekat dengan Luna di bagian covernya, aku kira, Luna ini anak yang punya 'dunia' sendiri karena berkebutuhan khusus atau punya indera keenam. Tapi ternyata bukan.

Punya kehidupan yang dibully sejak SD, tentu aja membekas banget buat Luna. Setiap tingkahnya selalu mengundang cacian, padahal dia tidak melakukan apapun yang menarik perhatian, tapi tetap saja, dia yang selalu kena bullying. Pindah sekolah tidak membuat semuanya membaik, Luna masih saja dibayangi ketika dibully, jadi dia lebih memilih untuk menyendiri dan membuat dunianya sendiri, sebagai benteng, agar dia tidak terluka lagi.

Sementara, saat kepindahannya ke Jakarta, dia bertetangga dengan Nawang, social butterfly, punya banyak teman, hal ini justru membuat Luna sedikit banyak iri. Apalagi kedua orangtuanya juga menjanjikan bahwa Nawang akan menemaninya. Luna tentu aja berharap, meskipun nggak banyak. Apalagi saat masuk ke sekolahnya, teman sekelasnya nggak ada yang mendekatinya untuk berteman.

Membaca Planet Luna kembali mengingatkanku sama bullying yang dilakuin ke adikku. Posisinya sama, terjadi waktu SD, cuma bullyingnya nggak sampe fisik, hanya dipalak bekal makannya, sudah dilaporin ke guru, malah gurunya juga ikutan ngebully. Jadi ya kayaknya masih susah ya di Indo waktu itu. Mungkin kalau di beberapa tahun belakangan, sudah lebih kondusif, jadi lebih banyak yang bisa dilakukan kalau sampai terjadi bullying.

Penjelasan tentang penyakit mental di sini juga cukup detail, penyebabnya, gejalanya, dan efeknya terhadap Luna dan yang lainnya pun terasa.

Luna ini kadang bikin aku kesel juga, karena di satu sisi dia terlalu banyak yang dipikirkan, di sisi lain dia juga udah terlalu banyak yang ngebenci. Aku juga heran sih, biasanya anak baru itu kan dikerubungin ya, semua berlomba-lomba deket sama anak baru. Nah ini, malah dibully.

Alur yang dipakai di sini maju mundur untuk menceritakan bagaimana kondisi Luna dulu. Dengan sudut pandang orang ketiga, kita jadi tau bagaimana perasaan Luna, apa yang diharapkannya, atau bagaimana yang diinginkan Nawang dan teman-temannya.

Tokoh favoritku adalahh.. Nawang! Duh, Nawang ini cowok yang ijo royo-royo, hutan rimba! Meskipun kadang dia bingung sama perasaannya, kadang nggak jelas juga maunya apa. Tapi dia selalu all out untuk melakukan sesuatu. Untuk deket sama Luna aja dia rela melakukan hal-hal yang menurut temennya aneh. Selain itu, aku juga suka dengan persahabatan Fantastic Five, mereka bener-bener saling support satu sama lain. Kalau salah satu kena masalah, semuanya siap membantu, mau cewek ataupun cowok. Bener-bener supportif banget.

Planet Luna bener-bener heartwarming, ditutup dengan persahabatan yang manis. Tapi untuk para pembaca, ku warning dulu, banyak perisakan yang ada di novel ini, sebaiknya dibaca di saat yang tenang ya. Supaya nggak ketrigger.


From the book...
"Pokoknya, kalau mau punya temen, kamu harus berusaha. Temen itu nggak kayak anak bebek yang bakal ngikutin kita terus seakan-akan kita ini induknya. Mereka juga perlu diperjuangkan." — P. 42
 
"Kalau kamu udah dewasa, Luna, kamu mungkin akan tahu kalau nggak semua impian itu bsia terwujud. jadi terwujud satu aja rasanya udah berharga banget." — P. 131

"Aku pernah baca artikel yang bilang kalo sering kali seseorang tuh di-bully bukan karena telah melakukan kesalah. Orang lain aja yang emang rese dan sok superior di atas orang lain. Kita nggak pernah minta dijahatin, kan? Tapi ada aja orang-orang yang suka jahat sama orang lain." — P. 136

"Sheila harus terus mengingatkannya bahwa pertengkaran adalah hal yang biasa terjadi dalam sebuah pertemanan, terutama ketika ada dua orang atau lebih yang berselisih pendapat, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari itu." — P. 157

"Luna, jadi bagian dari lima ribu bunga mawar itu bukan berarti nggak spesial. Kita cuma belom dikenal orang lain aja. Atau belom 'dijinakkan', kayak yang dibilang buku ini. Kalo udah kenal, pasti jadi spesial." — P. 161

"Lo, tuh, mirip adek gue yang sekarang di Prancis, Lun. Suka insecure. Padahal, nggak ada di dunia ini manusia yang sempurna. Kita merasa kurang karena kelamaan memandang orang lain yang menurut kita lebih beruntung. Kita merasa buruk karena apa yang kita punya nggak sesuai sama ukuran-ukuran yang menurut kita ideal." — P. 205

"Lo harus ngerti kalo semua orang di dunia ini tuh udah dapet porsinya masing-masing. Kalo dibanding-bandingin terus, lo nggak akan pernah puas dengan apa yang lo punya." — P. 206

"Hidup itu nggak cuma soal omongan orang lain tentang kita, atau soal pikiran-pikiran jelek yang ganggu kita setiap hari. Juga bukan soal siapa yang paling beruntung, siapa yang paling sial. Hidup itu juga soal gimana caranya memahami diri kita sendiri dan menerima apa yang Tuhan kasih, as cliche as it sounds." — P. 206

"Kalian, tuh, setara. Nggak ada yang lebih baik dari yang lain. Pola pikir lo itu yang harus diubah. Jangan memandang diri sendiri terlalu kecil karena nyatanya lo nggak sekecil itu. Ya? Bisa, kan?" — P. 236

"Hari itu, Nawang belajar bahwa berbaikan tidak berbanding lurus dengan berteman." — P. 296

"Setelah menjadi orang pertama yan peduli, sekarang Sheila juga menjadi orang pertama yang kembali. Membuktikan hal lain pada Luna, bahwa tidak semua orang yang meninggalkannya akan benar-benar pergi." — P. 336

Monday, October 7, 2024

[REVIEW] Lose or Love Her Again

Lose or Love Her Again
Desy Miladiana
Elex Media Komputindo
289 Halaman

“Jodoh itu nggak ke mana, lho! Nggak akan salah alamat juga. Cuma ya gitu, jodoh itu juga nggak bisa ditunggu kedatangannya, harus dicari juga. Kalau sama-sama mencari kan, lebih cepat ketemunya.”


B L U R B

Ada dua alasan mengapa Tuhan mempertemukan kembali dua manusia. Pertama, untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas; kedua, Tuhan sedang menguji kesabaran mereka dengan memberi cobaan lain.

Setelah empat tahun melarikan diri, Jasmine mulai kelelahan. Di Surabaya, dia memutuskan untuk membuka lembaran baru. Menjadi sekretaris supersibuk dari kepala cabang sebuah perusahaan kecantikan, menjadikan Jasmine yakin bahwa hidupnya akan aman dan tenteram. Namun, kejutan datang, begitu bosnya memilih untuk resign.

Siapa sangka atasan barunya adalah Fathir, pria yang paling dia benci dan hindari selama beberapa tahun terakhir. Kenangan lama yang dikuburnya kembali muncul ke permukaan. Membangkitkan rasa sakit yang teramat dalam dari diri Jasmine.

Sayangnya, kali ini, Jasmine tak bisa kabur lagi. Tanggung jawab dalam kontrak kerja wajib Jasmine patuhi. Terpaksa dia harus menghadapi Fathir dan mungkin mengorek luka masa lalunya sekali lagi. Jasmine juga harus menyelamatkan urusan mereka yang sempat tertunda, perceraian.

Di lain pihak, bagi Fathir, pertemuan ini adalah kesempatan kedua. Namun, Jasmine yang sekarang sudah berubah. Kehangatan seorang istri yang Fathir cintai telah menghilang. Sampai akhirnya, alasan kepergian Jasmine pun terungkap. Fathir berada dalam dilema besar. Pilihannya ada dua: kehilangan atau mencintai Jasmine sekali lagi.

- - - - - - - - -

Kehidupan Jasmine saat ini seharusnya sudah baik-baik saja. Meskipun dengan rutinitas yang supersibuk dan jauh dari orangtua. Tapi setidaknya, dia tidak perlu berhadapan dengan hal-hal dari masa lalunya. Jasmine sendiri tidak pernah terlihat memiliki pasangan, hal ini sering sekali dipertanyakan oleh rekan kerjanya yang hanya dibalas seadanya. Baginya, saat ini dia sudah nyaman walau hanya sendirian.
"Mas, pantas atau tidak kamu sama dia, itu bukan kamu yang menilai, tapi pasangan kamu. Mas kan, sudah berusaha menjadi lebih baik, itu bagus. Kalau pasangan Mas belum bisa memaafkan, ya sudah, dilepaskan. Kalau dia bisa maafin Mas, berarti Mas sudah dianggap pantas sama dia.” — P. 275

Pergantian atasan kali ini membuat Jasmine kembali tidak nyaman. Masalahnya, pengganti atasannya ini adalah Fathir, laki-laki yang ingin dijauhinya sejak empat tahun lalu. Kemunculannya ini tentu saja membuat Jasmine sedikit senewen, apalagi pekerjaannya membuat dia dan Fathir terus berkomunikasi. Bisakah mereka menyelesaikan masalah mereka? Atau membiarkan ketidaknyamanan ini berlangsung lama?


Kembali membaca tulisan kak Desy, sepertinya aku cocok dengan tulisannya hihi. Kali ini yang dibahas bukan kayak Under The Kitchen Table yang tentang perselingkuhan, tapi tentang mempertahan sebuah hubungan.

Waktu awal membaca ini, aku cukup heran, kenapa Jasmine dan Fathir harus berjauhan? Apakah karena kesibukan masing-masing yang membuat mereka berjauhan, atau ada orang ketiga? Atau alasan lainnya? Sampai ke pertengahan membaca, aku masih nggak menemukan jawaban ini. 

Jasmine, sejak awal sudah konsisten sekali menjadi orang yang keras kepala dan berkemauan kuat. Menurutku, sifatnya dia ini cukup nyebelin, karena di sisi lain dia mau ngejauhin Fathir, tapi di sisi lain, dia masih care. Sementara Fathir, di awal-awal dia cukup agresif ya. Bener-bener sebisa mungkin, dia mendapatkan kembali Jasmine yang sudah lama menghilang.

Mengangkat tema kehidupan pernikahan, membaca Lose Her or Love Her Again serasa jadi reminder ke diri sendiri. Kehidupan pernikahan itu sebenernya nggak serumit yang dibilang sama orang-orang, kalau komunikasinya bagus. Segala sesuatu perlu diomongin, pasangan kita soalnya bukan cenayang yang bisa ngerti maunya kita apa. 

Aku suka cara kak Desy membuat kita kebawa dengan kehidupan Jasmine dan Fathir. Jujur aku sempet kesel banget sama Fathir, kukira dia tipe suami yang cuek bebek dan nggak peduli. Tapi ternyata, Fathir juga sesayang itu sama Jasmine. Bener-bener siap banget memperjuangkan Jasmine lagi, walaupun harus menghadapi orang tuanya Jasmine yang super galak. Ya, kalau aku jadi orang tuanya Jasmine pasti galak juga sih. Siapa sih yang mau anaknya kenapa-napa?


From the book…
“Ada yang pernah bilang ke Ibu kayak gini, kalau kamu melepaskan orang yang dicintai dan dia tetap pergi maka dia bukan milikmu, tapi kalau orang yang kamu cintai dan dia kembali maka dia milikmu selamanya.” — P. 48

“Mereka kembali dipertemukan untuk memperbaiki apa yang telah rusak sebelumnya, bersama-sama. Lagipula, Tuhan Maha-membolak-balikkan perasaan seseorang.” — P.48 to 49

“Jodoh itu nggak ke mana, lho! Nggak akan salah alamat juga. Cuma ya gitu, jodoh itu juga nggak bisa ditunggu kedatangannya, harus dicari juga. Kalau sama-sama mencari kan, lebih cepat ketemunya.” — P. 68

"Mas, itu sudah kejadian. Kamu, kita, semua orang nggak bisa memperbaiki masa lalu. Yang bisa kamu lakukan adalah nggak melakukan hal yang sama dan move on. Semua orang melakukan kesalahan, itu manusiawi. Tinggal gimana orang itu nggak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kamu juga harus maafin diri sendiri, langkah awal untuk memulai hidup baru, saya rasa." — P. 274

"Mas, pantas atau tidak kamu sama dia, itu bukan kamu yang menilai, tapi pasangan kamu. Mas kan, sudah berusaha menjadi lebih baik, itu bagus. Kalau pasangan Mas belum bisa memaafkan, ya sudah, dilepaskan. Kalau dia bisa maafin Mas, berarti Mas sudah dianggap pantas sama dia. Tanya sama dia, dia masih mau nggak sama Mas? Menyalahkan diri sendiri itu boleh kok, Mas, tapi nggak boleh selamanya. Wong namanya manusia ya… tempat salah dan dosa.” — P. 275

Wednesday, July 24, 2024

[REVIEW] Are We Dating?


Are We Dating?
Meilinda Chandra
Elex Media Komputindo
304 Halaman

“Terkadang keadaan memaksa kita untuk bersikap lebih dewasa.”


B L U R B

Tiara Silver, seorang copywriter sukses yang kisah cintanya tak semulus kariernya. Berulang kali dikhianati membuat hatinya kebas akan cinta.

Sebuah tradisi keluarga membuatnya harus pulang ke kampung halamannya, Lakewood. Sudah beberapa kali Tara sengaja melewatkan acara kumpul keluarga tersebut. Kali ini dia wajib datang karena penyakit jantung neneknya kambuh. Namun, Tara diwajibkan datang bersama kekasihnya.

Bagaikan dilempar dari ketinggian seribu kaki, Tara kalang kabut mencari kekasih palsu. Hanya ada satu nama yang mampu mendampinginya. Luke, seorang model dan juga aktor berwajah superganteng dan memiliki aksen Inggris yang seksi. Calon yang tepat, hanya saja itu berarti dia harus memaafkan pria yang pernah menyakitinya.

Di saat hatinya mulai terbuka, Tuhan malah memutarbalikkan keadaan. Kecerobohannya telah menyakiti hati Luke. Mampukah Tara memperbaiki keadaan dan berani berdamai dengan perasaannya sendiri?

- - - - - - - - -

Kumpul di acara keluarga memang tidak begitu menyenangkan, makanya Tiara kalau bisa melipir dan tidak ikut, dia memilih tidak ikut. Sayangnya, kali ini dia harus pulang, mengingat neneknya sudah mulai kambuh penyakit jantungnya. Mau tidak mau, Tiara akhirnya memutuskan pulang. Tidak sampai di sana, permasalahannya ada dua, bos gantengnya yang agak kejam belum tentu mau memberinya ijin. Selain itu, Tiara diminta membawa kekasihnya, ini masalah yang cukup besar.
“Aku tidak ingin menjadi salah satu wanita yang nantinya kau campakkan.” — P. 155
Alhasil, Tiara tidak punya pilihan lain selain meminta tolong pada Luke, mantan kekasihnya. Seharusnya, Luke cukup untuk dibawa menemui keluarganya, dia aktor, ganteng, idaman semua perempuan. Apalagi yang diperlukan?

Sayangnya, Tiara tidak mempersiapkan ketika ternyata hatinya masih bisa jatuh pada Luke. Bisakah dia mengontrol hatinya dan kembali pada rencananya?


Kali pertama membaca karya kak Meilinda, yang juga seorang bookstagram yang kukenal. Hihi.. Menarik sekali bisa berkenalan dengan anaknya. 

Mengambil tema CLBK, kisah Tiara-Luke ini menarik. Biasanya kan banyak yang punya prinsip bahwa kalo udah sama mantan tuh cukup sekali. Karena sama kayak baca buku, kita udah tau endingnya bakalan kayak gimana. Tapi aku itu tim yang nggak masalah kalo balikan lagi. Siapa tau memang jodohnya dia, atau dia memang sudah sangat berubah kan? Cuma tetep aja ada case khusus masalah balikan ini, kalo si cowok tukang selingkuh ya ogah! Itu mah tetep aja baca buku dua kali tapi udah ketebak endingnya.

Luke sendiri ini ternyata juga nggak baik-baik amat loh. Kesalahannya menurutku juga cukup fatal. Tapiii.. effortnya Luke untuk sebuah hubungan yang settingan itu gede banget! Aku salut sih sama Luke yang totalitas, walaupun aku juga curiga sama dia.

Mengambil latar di Lakewood, yang sepertinya di California, kak Mei membawa kita jalan-jalan ke tempat-tempat yang cukup menarik. 

Nggak tau kenapa, tokoh favoritku di sini itu Luke! Dia baik banget, meskipun Tiara sikapnya denial dan sangat jaim, Luke masih mau berjuang dan bertahan sama Tiara. Nggak banyak loh cowok yang kayak begini, karena biasaya yang begini tuh cewek. Mungkin ini yang dinamain jodoh nggak akan ke mana. Padahal posisinya mereka udah putus, tapi bisa balikan dan saling memperbaiki diri.

Tuesday, May 7, 2024

[REVIEW] Rahasia Sang Nona

Rahasia Sang Nona
Kay Valya
Elex Media Komputindo
246 Halaman

 Ada satu hal yang kupelajari. Meskipun apa yang menimpa kita tidak seburuk apa yang menimpa orang lain, bukan berarti kejadian yang menimpaku dulu tidak penting.”


B L U R B

Janis, si gadis yang populer karena berprestasi, bertetangga dengan Aji si anak biasa-biasa saja. Bersekolah di SMP yang sama dan juga sekelas membuat keduanya akrab. Keduanya semakin dekat karena Janis juga suka membaca komik seperti Aji.

Namun, di suatu hari, perlahan Aji menyadari Janis menjauh. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Hingga mereka SMA, Janis tetap populer—tetapi karena lingkar pergaulannya berbeda. Dia berteman dengan teman-teman “bermasalah”, bergonta-ganti pacar hingga Aji kehilangan hitungan.

Aji tahu, Janis menyembunyikan sesuatu.

Aji tahu, dia akan membantu Janis bagaimanapun caranya.

- - - - - - - - - -

Terbiasa hidup nomaden, Janis cukup senang kali ini dia memiliki tetangga yang ternyata satu sekolah dengannya. Ternyata, tetangganya adalah Aji, cowok yang tinggal di seberang rumahnya, memiliki tiga kakak perempuan, hobi membaca komik, dan cukup pendiam untuk ukuran laki-laki sepertinya. Yaa.. bagi Janis tidak masalah, nanti mereka pasti bisa berteman kok. 
“Pulih bukan berarti kamu sudah lupa, Sita. Bagiku, pulih adalah ketika aku sudah bisa mengontrol rasa takut dalam diri sendiri dan bisa move on dengan hidupku.” — P. 177

Setelah ulang tahunnya, Janis berubah. Janis tidak lagi bersemangat ke sekolah, bahkan rangkingnya juga menurun. Aji tau ada yang salah dengan Janis, tapi Aji masih belum berani untuk mempertanyakan hal itu. Bahkan pertanyaan itu disimpannya sampai mereka menginjakkan kaki di SMA yang sama. Janis, kembali menjadi Janis yang populer, dikenal banyak orang. Sayangnya, bukan Janis yang Aji kenal.

Hubungan Aji dan Janis terasa begitu jauh, tapi juga terasa dekat. Karena terkadang Janis menjauh, terkadang bisa dekat kembali seperti Janis yang dikenal Aji dulu. Aji masih mempertanyakan perubahan ini, tapi masih belum menemukan caranya. Bisakah Aji menguak hal ini? Mengingat terkadang dia juga merindukan masa-masa saat mereka masih dekat seperti dulu.


Memiliki kehidupan yang nomaden, bagi Janis tidak ada masalah karena toh kehidupannya sejak dulu juga begitu. Malahan, dia senang waktu bisa bertetangga dengan Aji yang super dingin ini. Meskipun pendekatan dengan Aji bisa dibilang nggak mudah, apalagi Aji dengan hobinya membaca komik yang tidak seharusnya dibaca anak seumurannya.

Rahasia Sang Nona memiliki cover yang lucu dan menggemaskan, sayangnya, isinya cukup pelik. Dari yang aku baca, memang ada trigger warningnya, tapi kukira nggak sepelik ini. Ternyata pelik banget! Berawal dari Janis yang mengalami pelecehan seksual, sampai pada proses dia memulihkan dirinya pasca traumanya itu.

Masalah yang dihadapi Janis, mungkin saja terjadi di sekitar kita. Cuma mungkin kita nggak peka, atau malah korbannya berhasil untuk menyembunyikan hal ini. Awalnya aku mengira, Janis sedang ada masalah dengan Aji, atau tersinggung atau bagaimana. Tapi melihat tingkahnya yang semakin lama semakin ‘ajaib’, kurasa memang ada yang salah dari dia.

Selain Aji, Ibu Janis juga orang yang cukup kukagumi di sini. Sebagai Ibu, meskipun menurutku terlalu santai, apalagi pas nilai Janis menurun, kayak.. yaudah nggak papa. Pas Janis lagi difase nakal-nakalnya juga ibunya santai bangte. Ya ampun, di sini aku gemes banget. Kalo itu mamaku, aku pasti udah kena omel, bisa-bisa HP disita dan segala macem. Tapi dibalik itu semua, aku salut sama ibunya Janis. Sosok yang tangguh padahal jauh dari keluarga, nggak ada kerabat dan suami, membesarkan anak sendiri. Bener-bener tangguh banget!

Hubungan Janis-Aji ini memang favorit banget! Janis dengan segala traumanya, dan Aji yang nggak nyerah untuk berusaha mengerti sisi Janis walaupun susah sekali. Karena Janis dengan keras kepalanya, dengan segala keresahannya. Aji ini semakin dewasa malah semakin suportif, siap banget pokoknya ngebantuin Janis dengan upaya yang dia bisa. Sayang banget sama Aji.

Last, aku kembali diingatkan sama kak Kay, untuk lebih peka lagi dalam lingkup pertemanan yang kupunya. Siapa tau, temen-temenku ada yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Meskipun jaman sekarang ngeviralin orang itu gampang, tapi trauma yang ditinggalkan nggak akan semudah itu untuk dipulihkan kembali.



From the book…
Time will make you stronger. Cuma kamu sendiri yang bisa berjuang untuk kuat dan jalan terus… Meskipun kadang, mungkin, orang lain bisa membantu.” — P. 54

“Kamu sama sekali bukan beban buatku, Anjani. Tapi aku minta maaf kalau kamu merasa terbebani sudah cerita denganku. Aku tahu ini berat sekali buat kamu.” — P. 141

“Komunikasi adalah kunci. Buat apa kamu cerita ke aku tapi enggak ngomong ke pacarmu.” — P. 150

“Menjadi tua adalah hal yang menajutkan bagi Janis. Namun, jika ada hal yang lebih mengerikan bagi Janis, itu adalah ketidakpastian. Suatu hari kau bisa hidup senang dan cukup, tetapi di hari lain kau akan menjadi orang yang dikalahkan waktu.” — P. 187

“Bagaimanapun, aku tidak tahu setelah ini kita akan dibawa ke mana oleh hidup. Aku tidak tahu apakah itu berarti kita sial atau beruntung. Tidak seperti naik kereta ini yang sudah pasti akan membawa kita ke London.” — P. 211

“Ada satu hal yang kupelajari. Meskipun apa yang menimpa kita tidak seburuk apa yang menimpa orang lain, bukan berarti kejadian yang menimpaku dulu tidak penting.” — P. 222