Friday, March 28, 2025

[REVIEW] Memorial Perfume Shop


Memorial Perfume Shop
Jin Seolla
Pastel Books
234 Halaman

"Tidak mungkin. Jika benar cinta, dia pasti akan menemuinya. Bukan malah menyerah. Menyerah artinya tidak cinta.”


B L U R B

“Tidak ada satu pun kehidupan yang tidak berkilau.”

Ketika aroma mampu mengandung kenangan tak terbendung, Memorial Perfume Shop hadir untuk menampungnya. Toko parfum ajaib ini menyambut para klien terpilih yang ingin menumpahkan beban kerinduan akibat ditinggal orang terkasih.

Melalui racikan parfum, Jin Doo Ri, manajer toko parfum, dan Joyful, peracik parfum jenius, menyembuhkan jiwa-jiwa terluka agar mereka mampu menjalani sisa hidup tanpa penyesalan. Rasa sakit orangtua yang kehilangan putrinya, perempuan yang ditinggal kekasihnya, hingga hewan peliharaan yang ditinggal tuannya, disembuhkan secara ajaib di toko ini.

Tak peduli seberapa parahnya duka, sesulit apa masalah, serta siapa pun jiwa yang menderita itu, Jin Doo Ri dan Joyful selalu berhasil menyelesaikan semuanya. Namun, di lain sisi, siapa yang akan menyembuhkan duka yang mereka berdua simpan dalam hati?

- - - - - - - -

Kehilangan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita, pasti menyesakkan. Hal yang paling bikin takut adalah ketika kita lama-lama lupa dengan sosok orang ini. Bisa juga ada hal yang belum sempat kita sampaikan hingga membuat kita kepikiran dan banyak berandai-andai hal apa yang akan kita sampaikan atau hal apa yang belum kita lakukan.
“Benar, namun, kadang ada orang jahat yang ingin mencuri parfum jiwa. Sebab, parfum ini memiliki efek sementara bagi mereka yang bisa mengenali benda-benda spiritual. Tanpa tahu ada efek samping yang mengerikan.” — P. 93
Gimana rasanya mengenang seseorang melalui parfum? Biasanya, kita mengenang seseorang melalui barang kesayangan mereka. Entah boneka, baju, atau sengaja tinggal di kamarnya, agar bau mereka masih bisa kita hirup. Tapi gimana kalau ada yang mau meracikkan parfum sesuai dengan ‘bau’ orang yang meninggal. Wah, pasti menyenangkan sekali ya, kita nggak perlu takut untuk lupa dengan orang tersebut.

Memorial Perfume Shop, toko parfum yang ada di sebuah gang sempit, nggak banyak orang yang bisa ke sana, kecuali karena ada undangan untuk datang kemari. Jin Doo Ri, selaku manager dan Joyful selaku peracik parfum kenangan. Mereka berdua bersama membantu orang yang ditinggalkan agar tetap mengingat orang yang sudah meninggal.

Ada sembilan kisah yang berhubungan dengan kematian orang tercinta, mulai dari Cheol Jung - Mi Ok dan  Se Jeong yang kehilangan anak, Dong Gyu yang kehilangan neneknya,  Hae Yeon yang kehilangan saudaranya, Woo Yoo yang kehilangan pemiliknya, Phil Jae dan Seo Yeon yang kehilangan pasangannya, juga kisah Jin Doo Ri dan Joyful.

Membaca kisah di Memorial Perfume Shop ini bener-bener mengharukan, karena setiap dari mereka yang ditinggal meninggal, masih belum ada yang disampaikan baik permintaan maaf, atau permintaan terakhir yang terabaikan. Atau sekadar rindu saja.

Nggak cuma itu, Memorial Perfume Shop juga banyak menjelaskan bagaimana seseorang melewati duka, bagaimana akhirnya mereka bisa merelakan kehilangan, dan berdamai dengan saat ini. Kita diajak menyelami perasaan mereka yang ditinggalkan dari setiap kisah.

Buatku, kisah paling bikin nyesek itu saat adalah kisah Se Jeong yang kehilangan anaknya selama delapan tahun. Sebagai ibu baru, aku bisa merasakan, gimana sakitnya. Mengandung sembilan bulan, waktu kecil juga ditimang-timang, dibawa ke mana aja, lalu hilang dan nggak bisa ditemukan. Nggak tau juga keadaannya gimana, apakah dia masih sehat-sehat, atau dia sudah meninggal.

Sepertinya Memorial Perfume Shop ini perlu benar-benar ada di dunia nyata. Soalnya banyak banget yang butuh ini pasti. Aku salah satunya. Kehilanganku yang paling nyesek tuh waktu nenek dari mama dan kakek dari papa meninggal. Keduanya baik soalnya, jadi aku juga ngerasa banget pas mereka nggak ada. Apalagi dulu waktu aku masih kecil, kakek suka banget ngebelain aku dari omelan nenek karena makan pake ciki-cikian. Kalo nenek dari mama, memang rencana mau dateng ke pernikahanku, tapi nggak jadi. Jadi cukup nyesek banget.

Memorial Perfume Shop ini tipe bacaan yang ringan dan menyenangkan, meskipun ada kisah yang bikin nyesek. Tipe buku yang bisa bikin hati tenang gitu. Aku merekomendasikan ini untuk kalian, apalagi jumlah halamannya juga nggak begitu banyak. Dan ternyata, ini adalah novel pertama penulisnya, Jin Seolla, yang sudah diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Vietnam! Keren banget deh!



From the book...
"Jika sudah menetapkan hati, siapa pun bisa mencurinya meski kamu sudah berhati-hati. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri. Itu tidak membantu sedikit pun." — P. 92

“Benar, namun, kadang ada orang jahat yang ingin mencuri parfum jiwa. Sebab, parfum ini memiliki efek sementara bagi mereka yang bisa mengenali benda-benda spiritual. Tanpa tahu ada efek samping yang mengerikan.” — P. 93

“Apakah gengsi lebih penting daripada hidup seperti ini? Kakak, kan, mantan ahli parfum di Memorial Perfume Shop masa begitu saja tidak tahu, sih? Dibandingkan dengan siapa pun, kita seharusnya lebih tahu apa makna hidup dengan ‘baik’. Ini kan kehidupan kita yang kedua.” — P. 103

“Tidak mungkin. Jika benar cinta, dia pasti akan menemuinya. Bukan malah menyerah. Menyerah artinya tidak cinta.” — P. 140

“Aku sangat bahagia selama hidup denganmu. Tidak pernah sedikit pun aku tidak mencintaimu. Kamu segalanya bagiku. Karenanya, aku terus menggenggammu… bodoh sekali aku, baru menyadarinya hari ini. Sekarang, aku benar-benar akan merelakanmu. Sepertinya, aku sudah bisa melakukan itu.” — P. 199


Sunday, March 9, 2025

[REVIEW] Baby-to-Be



Baby-to-Be
Marina Yudhitia
Bentang Pustaka
350 Halaman

“For a disclaimer, perasaan takut, ragu, dan semua yang nggak nyaman selama hamil itu bakal tus datang dan pergi, San. Timbul dan tenggelam. Jadi, nggak akan langsung seratus persen berubah gitu aja kayak ngebalikin telapak tangan.”


B L U R B

Sebagai doula yang pekerjaannya mendampingi ibu hamil, Adel sendiri tak pernah ingin menjalani komitmen pernikahan, termasuk kehamilan. Pengalaman buruk keluarganya di masa lalu membuat Adel menganggap dirinya akan turut mewarisi kegagalan yang sama.

Sampai kemudian, Adel didatangi Bo, seekor bangau mitologis yang membawa buntalan kain berisi ruh calon bayi kepada sang ibu.

Adel pun dihadapkan pada satu pertaruhan: menemukan pemilik asli sang calon bayi, atau merelakan ruh bayi itu bersemayam dalam rahimnya

- - - - - - - - -

Memiliki pekerjaan sebagai doula—pendamping kehamilan—membuat Adel lebih banyak tau bagaimana harus menghadapi kehamilan, bagaimana respon yang tepat untuk menenangkan pasangan yang sedang menjalani kehamilan. Selama ini, Adel sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, meskipun beberapa kali dia keceplosan mengatakan hal yang tidak seharusnya. Tapi kali ini, Adel melakukan kelalaian sebagai doula yang seharusnya standby, tapi dia menghilang!
”Iya, sih. Kesempatan kedua itu selalu ada, tapi itu pilihan. Tergantung apakah manusianya mau mengambil kesempatan itu, atau enggak sama sekali.“ — P. 174
Karena kesalahannya kali ini cukup fatal, Adel harus mengambil jeda dan merefleksi kesalahannya. Dalam masa refleksinya ini, dia malah didatangi Bo, si bangau pembawa bayi yang seharusnya cuma ada di dongeng-dongeng. Belum lagi, dia membawa bayi yang harus dicari pemiliknya secepatnya, atau Adel yang harus menerimanya. Bisakah mereka menemukan siapa pemilik asli bayi itu?


Ada yang pernah tau profesi doula sebelumnya? Sejujurnya, aku cuma pernah denger aja, nggak pernah mencari tau doula itu pekerjaan seperti apa. Ternyata pekerjaannya lumayan bermanfaat dan punya dampak yang cukup besar untuk pasangan yang menjalani kehamilan. Kita semua tau kan, kalau segampang-gampangnya menjalani kehamilan, pasti ada aja yang bikin kita worry.

Membaca Baby-to-Be kembali mengingatkanku sama kartun bangau pembawa bayi yang pernah aku lihat waktu pas kecil. Dulu, kukira punya anak juga begitu, akan ada bangau yang ketuk-ketuk di depan pintu bawa bayi dibungkusan. Ternyata nggak begitu! Ya ampun, polos banget aku jaman dulu. Bo, si bangau pembawa bayi ini nggak cuma sebagai tempelan aja. Kak Marina seru banget menjelaskan kehidupan Bo itu bagaimana, pekerjaan yang harus mereka selesaikan, sampai pembagian tugas antar bangau itu sendiri. Ternyata nggak cuma membawa aja, tapi juga memulangkan, kalau misalnya ada yang mengaborsi anak itu.

Di masa pencarian ‘ibu’ yang sebenarnya atas bayi yang dibawa Bo, ternyata malah membuat mata Adel lebih terbuka lagi. Kehidupan yang dilihat nggak cuma yang normal-normal aja, tapi juga dari berbagai kalangan. Adel jadi banyak belajar. Keliatan banget perkembangan karakternya Adel dari yang serampangan, seenaknya sendiri, jadi anak yang lebih tertata, jauh lebih peka dengan perasaan orang lain.

Baby-to-Be, meskipun banyak menjelaskan tentang kehidupan Adel, tapi juga banyak menceritakan keresahan di saat hamil sampai melahirkan. Apalagi dari sisi Bo. Bagaimana 'dunia' Bo yang sebenarnya, apa yang terjadi kalau menggugurkan bayi, dan banyak juga dibahas tentang kehidupan sebagai ibu di luar sana, yang mungkin sebagian besar kita sudah tau.

Baby-to-Be bener-bener heartwarming buatku. Nggak cuma tentang ibu hamil, tapi juga tentang perjuangan untuk memiliki anak dan membesarkan anak nggak semudah itu. Sangat-sangat-sangat merekomendasikan ini untuk dibaca bahkan anak SMA sekalipun. Jangan sampai melakukan kesalahan sebelum sah. Soalnya punya anak nggak gampang. Capek bangett.. Aku aja yang pengen punya anak, pas lahiran rasanya mau gila. Apalagi yang nggak menghendaki adanya bayi, bisa lebih gila daripada aku mungkin.

 
From the book…
“Coba, deh, lu jadian sama cowok, Del, or even better… nikah. Mungkin lu jadi bisa merasakan sendiri gimana kerikil-kerikil dalam berhubungan itu justru bisa jadi pemanis.” — P. 37

”Selama proses melahirkan itu, mungkin seorang wanita dianggap berada di titik terlemahnya. Titik ambang antara hidup dan mati. Tapi, yang gue lihat, justru wanita itu dengan magisnya, memancarkan satu kekuatan terpendam yang nggak akan pernah dia tunjukkan lagi kalau bukan dalam proses persalinan.” — P. 85

”Iya, sih. Kesempatan kedua itu selalu ada, tapi itu pilihan. Tergantung apakah manusianya mau mengambil kesempatan itu, atau enggak sama sekali.“ — P. 174

”Dan, kelak saat kamu jadi seorang istri dan ibu, Mama yakin kamu nggak akan mengalami apa yang menimpa Mama dan Manda. Karena nasib seseorang dianugerahkan terpisah, bukan diwariskan dari garis keturunan.” — P. 204

”Kesalahan itu ada supaya kita belajar, Nak, bukan untuk menjatuhkan kita dengan tuduhan ‘kamu gagal’. Selama jantung masih berdetak dan napas masih dapat dihirup, selama itu juga kita selalu punya kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik. Apalagi, sekarang kita juga sepakat untuk melepaskan belenggu masa lalu, kan?” — P. 205

For a disclaimer, perasaan takut, ragu, dan semua yang nggak nyaman selama hamil itu bakal tus datang dan pergi, San. Timbul dan tenggelam. Jadi, nggak akan langsung seratus persen berubah gitu aja kayak ngebalikin telapak tangan.” — P. 270

The best thing a man can do to prove his love for his children is to love their mother first.” — P. 288