Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

Sunday, August 9, 2026

[REVIEW] Yang Ketiga

Yang Ketiga
Christina Tirta, Ken Terate, Ruwi Meita, Lea Agustina Citra, Donna Widjajanto, Mia Arsjad
Gramedia Pustaka Utama
322 Halaman

“Cinta bisa membuatmu tidak peduli dengan apa pun. Kamu hanya akan berjalan maju dan tidak pernah melihat ke belakang. Bahkan ke kanan-kiri.”

Sunday, July 12, 2026

[REVIEW] Perfect Valentine

Perfect Valentine
Erlin Cahyadi
Gramedia Pustaka Utama
204 Halaman

“Walau dia tunarungu, lo pikir dia nggak tahu lo selalu ngaku ke temen-temen bahwa dia sepupu lo? Asal lo tahu, perasaan orang yang punya kekurangan dalam hal fisik lebih peka daripada kita. Dan lo mesti ingat, adik lo memang nggak bisa mendengar, tapi dia bisa melihat gerakan bibir kita.”

Sunday, June 7, 2026

[REVIEW] Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk
Ahmad Tohari
Gramedia Pustaka Utama
412 Halaman

“Lebih aneh lagi, Nak. Orang yang sudah tahu akan akibat buruk tetapi masih juga berani mengambil risiko.” 

Sunday, May 3, 2026

[REVIEW] RD Lights Vengeance

RD Lights Vengeance
Ruth Priscilia Angelina
Gramedia Pustaka Utama
432 Halaman

“Selalu ada timbangan tepat untuk membeli keberuntungan. Keajaiban sekalipun selalu menuntut harga yang sepadan.” — P. 23

Sunday, February 15, 2026

[REVIEW] Cinta Bertepuk Sebelah Mana

Cinta Bertepuk Sebelah Mana
Dimas Abi
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.”


B L U R B

“Naryo, mungkin nggak sih persahabatan kita berakhir di pelaminan?”

Perkara Lian suka mengganti panggilan Gusti seenak jidat memang sudah tabiatnya. Namun, pertanyaan Lian itu sukses bikin Gusti minum obat masuk angin. Masalahnya, ia tak pernah menganggap Lian lebih dari sahabat, meski orangtua mereka berharap sebaliknya. Dengan janji akan memberikan kepastian, Gusti berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya.

Namun, Gusti menyimpan tujuan lain: mencari Seruni, cinta lamanya yang dulu tak pernah terbalas. Takdir mempertemukan mereka kembali, dan kali ini Seruni memberi isyarat yang berbeda. Gusti kini terjebak dalam dua pilihan yang rasanya mustahil. Cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini berubah menjadi cinta bertepuk… sebelah mana?

- - - - - - - - - - -

Bagi Gusti, persahabatannya dengan Lian sejak jaman SMP ya bener-bener hanya sahabatan. Tempat dia nyambat, susah, seneng, apalagi orangtua mereka juga udah deket. Tapi ketika pertanyaan Lian dipenghujung umurnya yang menjelang kepala tiga, Gusti kembali memikirkan persahabatannya lagi selama ini. Masa iya, sahabat jadi cinta? 
“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225
Bukannya Lian nggak cantik, tapi yang Gusti mau bukan Lian. Gusti maunya sama Seruni, cinta pertamanya, cinta monyetnya, cinta sekonyong-konyong kodernya. Kali ini, dengan perjalanannya ke Jepang untuk melanjutkan studi, Gusti juga memiliki agenda lain yaitu bertemu dengan Seruni. Kira-kira gayung bersambut nggak ya? Mengingat Seruni dulu adalah idola semua orang, apa ya nggak makin minder Gusti deketinnya?


Seperti kata kebanyakan orang, pertemanan dua orang yang beda gender itu biasanya nggak ada yang beneran murni. Pasti salah satunya jatuh cinta. Sama seperti Lian dan Gusti, berteman sejak jaman SMP, membuat keduanya paham sifat baik-buruk keduanya. Termasuk siapa yang disukai satu sama lain.

Banyak juga yang bilang first love never dies, cinta pertama nggak pernah mati. Dia cuma tertidur nyenyak aja. Mungkin ini yang dirasakan sama Gusti sama Seruni, cinta pertamanya sejak SMA. Ketika ada kesempatan untuk lanjut S2 ke Jepang dan bertemu kembali, kenapa enggak? Sambil menyelam, minum air!

Pas awal membaca kisah Gusti-Lian-Seruni, aku sempat jadi tim Gusti-Seruni. Soalnya Gusti kan memperjuangkan cinta yang sejak dulu diinginkan, kenapa enggak? Tapi pas tau kalo Seruni nggak sebaik itu, kayaknya jadi temen aja deh. Mendingan sama Lian aja. Daripada makan ati sama Seruni. Ternyata banyak juga ya orang yang enak untuk diajak berteman aja ketimbang masuk dalam suatu hubungan.

Selama membaca dari pertengahan sampe akhir, seru banget sih. Selain melihat perjuangan Gusti mendapatkan Seruni, kita juga diajak jalan-jalan ke Jepang yang memanjakan mata banget. Sesekali aku berhenti untuk cek tempat-tempat yang didatangi sama Gusti dan Herman.

Mengambil setting tempat di Jepang dan Yogyakarta, kita juga diselipkan bagaimana kebiasaan penduduk setempat, budayanya, dan juga bahasanya.

Sosok yang paling kusuka di sini malah Herman, sahabatnya Gusti yang juga kebetulan S2 bareng sama Gusti. Dia ini cowok yang realistis banget, meskipun kadang agak norak dikit. 

Menurutku, buku ini nggak cuma mengajarkan siapa yang lebih pantas buat kita, tapi juga perlakuan dalam satu hubungan. Apalagi melihat Seruni yang cukup dominan dan banyak ngatur di sini. Dan kayaknya kebanyakan cowok tuh lebih ‘nangkep’ perasaannya setelah ditinggal atau bahkan dicuekin dulu ya?

Overall, menikmati sekali baca kisah Gusti-Lian-Seruni ini, sambil menikmati Yogyakarta dan Jepang.


From the book …
“Ibuk nggak lihat itu sebagai masalah, Gus. Lian itu baik, pinter, nyambung, dan yang jelas wes ngerti kamu. Dalam pernikahan justru itu yang penting. Lihat Bapak dan Ibuk, bisa bertahan gara-gara itu semua.” — P. 14

“Maksudku gini, Gus. Ada 133 juta wanita di Indonesia. Ini data BPS lho. Artinya banyak banget pilihane, Gus. Dan dirimu tetap terjebak di satu cewek?” — P. 87

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.” — P. 133

“Berbahagia karena seseorang itu boleh. Tapi menggantungkan kebahagiaan hanya ke segelintir orang, nah iku sing bikin mumet, Nduk.” — P. 187

“Intinya gini lho, Nduk. Sebagian besar yang ada di hidupmu ini, sebenarnya adalah hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Termasuk perasaanmu, masalahmu. Bunda nggak bisa ngatur perasaanmu, Bunda juga nggak bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu sendiri yang bisa mengatur dan menyelesaikannya. Bunda cuma bisa bantu.” — P. 188

“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225

“Gini, Gus. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan, setiap kesalahan punya konsekuensi. Ini konsekuensi yang harus kamu jalani. Kamu juga sih, Gus, ada Lian yang sayang sama kamu, tapi kamunya merem.” — P. 241


Sunday, February 8, 2026

[REVIEW] Ikan Kecil

Ikan Kecil
Ossy Firstan
Gramedia Pustaka Utama
248 Halaman

“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.”


B L U R B

Pertanyaan “kapan hamil?” harus dijawab oleh pasangan suami-istri Celoisa dan Deas dengan senyuman selama 45 bulan. Akhirnya mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan kehadiran “ikan kecil” di perut Celoisa. Namun, ternyata itu bukan akhir dari masalah kehidupan rumah tangga mereka.

Saat bayi Olei tumbuh perlahan, Loi dan Deas merasakan ada yang berbeda dari perkembangan anak mereka. Olei sulit sekali diajak berinteraksi. Sepertinya bayi itu hidup dalam dunianya sendiri. Setelah serangkaian tes dijalani Olei, vonis autis datang, Loi pun langsung diterjang rasa bersalah dan penyangkalan demi penyangkalan.

Ini kisah tentang “ikan” di perut yang lahir ke dunia. Tentang mendapatkan apa yang tak pernah diharapkan dan berusaha menerima apa yang tidak pernah diminta.

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak.”

- - - - - - - - - - -

Menikah dan punya anak sekarang sudah seperti perlombaan. Siapa cepat, dia pemenangnya. Nggak hanya berhenti sampai disana, kalau punya anak satu, ditanyain kapan punya anak selanjutnya. Kalau sudah agak besar, ditanyai pencapaiannya apa. Nggak ada habisnya. Begitu pula, dengan Celoisa dan Deas. Setelah berusaha selama empat puluh lima bulan, akhirnya mereka berhasil mendapatkan ‘ikan kecil’ untuk rumah tangga mereka.
“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105
Seharusnya, punya anak saja cukup kan? Tapi ternyata tantangan nggak berhenti di sana. Tumbuh kembang anak pun masuk jadi bahan pertandingan. Bagaimana kalau Olei tidak bisa mencapai tumbuh kembang seusianya? Bagaimana Celoisa dan Deas harus bersikap?


Memilih Ikan Kecil dari sekian banyak buku yang ada di gramedia digital itu cukup bikin ketar-ketir. Awalnya, kukira hanya tentang memiliki anak aja, maklum, aku biasanya nggak baca blurbnya, dan beberapa teman bookstagram sudah membaca, aku kira aman ya. Ternyata cukup bikin aku yang punya anak ketar-ketir.

Menikah dan punya anak, ini seperti perlombaan dan hal wajib dalam masyarakat. Target menikah harus diumur sekian, target punya anak pertama umur sekian, anak cuma satu? Kenapa nggak dua? Anak sudah dua? Kenapa nggak nambah lagi? Nanti kalo sudah sekolah, kenapa nggak sekolah di tempat A/B/C? Bener-bener standarnya banyak bener.

Nggak cuma membahas tentang kehidupan pernikahan Celoisa dan Deas, tapi juga banyak membahas tentang bagaimana saat kehamilan, lahiran dan punya anak. Lengkap banget. 

Deas di sini bener-bener jadi ayah yang siaga! Bisa membersamai Celoisa yang down sejak hamil, menyusui, dan membesarkan Eloi. Bahkan mau repot untuk riset lebih dalam tentang anak autis dan ngajak Celoisa untuk ikut andil di dalamnya. Salut buat Deas. Reaksi Celoisa di sini juga bisa diterima, meskipun pas awal aku agak kesel sama dia, tapi kalau aku di posisi Celoisa pun aku mungkin melakukan hal yang sama.

Menurutku, menikah dan punya anak itu juga nggak harus ada standarnya sendiri kok. Mau nikah umur 30 atau 35, punya anak diumur 35 pun nggak masalah. Memang, risikonya lebih besar, tapi bisa dibantu dengan vitamin dan lainnya. 

Mengurus anak, nggak hanya jadi tanggung jawab Ibu aja. Tapi Ayah juga harus ikut dalam perkembangan anak. Apalagi kalau anak ini ‘spesial’, hadirnya ayah jadi semakin penting. Punya anak yang normal aja susah banget kalo cuma ngurus sendirian, apalagi anak spesial.

Membaca Ikan Kecil kembali mengingatkanku ke masa-masa awal lahiran, capeknya pumping, dan menyusui, masa-masa ngecek milestone terus apa anaknya udah sesuai ya perkembangannya? Apa yang kurang?

Sangat merekomendasikan baca Ikan Kecil untuk semuanya. Karena nggak cuma calon orangtua, siapa tau kita bisa jadi saudara yang tanggap untuk bantu saat saudara lainnya udah punya anak.


From the book …
“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.” — P. 58

“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105

“Kadang kita harus berhenti menyalahkan dan lihat ke depan, Loi. Untuk apa ngungkit-ngungkit sebab kalau itu bikin apa yang bisa kita perbaiki terbengkalai?” — P. 119

“Jangan menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang bukan salah kamu, Loi.” — P. 128

“Mama yakin kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Olei. Tinggal kamunya, mau atau nggak jadi ibu yang baik untuk Olei? Mengikhlaskan keadaan itu nggak bisa instan, Nduk. Pelan-pelan.” — P. 144

“Aku nggak tahu apakah ini berhasil, tapi aku cuma berusaha, Loi. Aku pengin kamu balik jadi Loi yang dekat ke Olei sebelum vonis autis ada. Aku mau Olei tahu orangtuanya sayang sama dia. Bahwa dia ada karena orangtuanya yang meminta ada, dan dia merasa beruntung punya kita sebagai orangtua.” — P. 183

“Hmm.. mungkin lapang dada itu ikhlas ya, Loi. Misal baju kita ketumpahan cat, ya kita harus terima bajunya kotor. Daripada ngabisin tenaga marah-marah sama catnya, mending kita cuci bajunya. Kalau memang nggak bisa hilang, mungkin sudah saatnya jadi kain pel.” — P. 187

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak. Kalau Olei nggak pernah protes sudah dilahirkan dengan keadaan seperti itu, nggak pernah protes punya ibu yang belum bisa menerima dia, kenapa kamu nggak mau berusaha terima dia?” — P. 188


Sunday, February 1, 2026

[REVIEW] Cinta yang Tak Bisa Dipercaya

Cinta yang Tak Bisa Dipercaya
Dadan Erlangga
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

"Setiap orang pernah berbuat salah terhadap orang lain. Sebagian dari mereka merasa bersalah dan menyesalinya, sisanya mungkin belum, atau nggak sama sekali.”


B L U R B

Sejak MOS, Taya udah naksir Tezar, salah satu cowok terganteng di SMA-nya. Jadi waktu Tezar tiba-tiba nembak, Taya seneng banget!

Sayangnya cowok itu masih terlalu jauh untuk ia gapai, karena setelah mereka jadian pun, Tezar nggak mau bersentuhan dengannya. Taya jadi curiga, jangan-jangan Tezar nggak beneran suka sama dia!

Hingga pada kencan pertama, sebuah tragedi menimpa mereka dan menyuburkan kecurigaan dalam hati Taya. Perlahan semua tabir masa lalu tersingkap. Apa yang sebenarnya Tezar sembunyikan? Mungkinkah mereka menjalani cinta meski hati terus dihinggapi tanya?

- - - - - - - - - -

Cewek-cewek di SMA Cakrawala pasti setuju kalo Tezar dinominasikan sebagai cowok yang terganteng dan tidak aneh-aneh. Selama ini, dia hanya terlihat bersama kedua sahabatnya aja–Nando dan Haikal. Meskpun sering dikejar banyak cewek, hal itu nggak membuat Tezar jadi cowok yang misterius. Dia tetap menjadi cowok yang biasa aja, nggak sok cool juga.
“Realistis aja, Zar. Kamu tuh ganteng, keren, populer. Sedangkan aku...? Biasa aja, biasa banget, bahkan pasti ada yang menganggapku jelek. Kamu bisa pacaran sama cewek yang selevel sama kamu; yang cantik, keren, dan populer. Kamu nggak perlu repot-repot nyatain perasaan dan ngajakin cewek kayak aku pacaran sama kamu." — P. 26
Taya termasuk salah satu cewek yang menyukai Tezar, tapi Taya nggak pernah seekspresif cewek-cewek lain. Bahkan dia terkenal dengan sebutan pokerface. Sedatar itu. Keanehan lainnya, Tezar mendekati Taya dan mengajak dia berkencan! Kemajuan banget dong? Apalagi Taya juga nggak effort, ini namanya durian runtuh. Kencan pertama mereka nggak begitu terkesan, tapi ada kejadian aneh yang bikin Taya mikir keras, apa kejadian itu beneran apa enggak?


Kembali membaca karya kak Dadan! Jujur aku penasaran banget sama karyanya kak Dadan yang kali ini. Selain dari judulnya yang lumayan panjang, katanya ini mengangkat isu mental health, tapi pas baca awal-awal, bingung di mana mental healthnya.

Taya dan Tezar ini mengingatkanku di masa-masa sekolah. Masa seneng-senengnya ngejar cowok yang kita suka, kadang diem-diem ngasih makanan ringan gitu, kencan ke mall, nonton bioskop. Duh gemes bangettt. Awalnya aku malah mengira ini tuh cerita thriller ya. Soalnya Tezar kadang agak menyeramkan gitu. Kadang juga kukira dia ini bipolar, saking aneh dan cepet banget perubahannya.

Novel ini diambil dari dua sudut pandang, Taya dan Tezar, jadi ada beberapa kali pengulangan kejadian, dan menurutku ini sedikit mengganggu. Meskipun bisa menjelaskan posisi salah satunya, tapi mengulang-ngulang aja gitu. Alur yang dipakai di sini cukup cepat, perpindahannya cepet banget. Aku berasa kayak diajak lari sama Taya-Tezar. 

Mengangat tentang isu kesehatan mental yang mungkin buat sebagian orang tuh remeh banget. Dipegang dan dicubit, pasti beberapa orang langsung mengira, ah itu mah biasa aja, cuma dicubit. Tapi sesuatu hal yang dilakukan tanpa persetujuan kedua belah pihak, itu termasuk pelecehan. Ini yang orang kurang paham. 

Penyelesaian novel ini cukup bikin heartwarming. Dari Cinta yang Tak Bisa Dipercaya ini kita diperjelas lagi, bahwa setiap kesalahan yag kita lakukan, nggak semuanya bisa dengan mudah dapat permintaan maaf dan dilupakan gitu aja. Sekali lagi, pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa aja, nggak terbatas perempuan dan remaja, bisa juga laki-laki dan anak kecil.


From the book...
"Realistis aja, Zar. Kamu tuh ganteng, keren, populer. Sedangkan aku...? Biasa aja, biasa banget, bahkan pasti ada yang menganggapku jelek. Kamu bisa pacaran sama cewek yang selevel sama kamu; yang cantik, keren, dan populer. Kamu nggak perlu repot-repot nyatain perasaan dan ngajakin cewek kayak aku pacaran sama kamu." — P. 26

"Jatuh cinta memang tanpa logika, tetapi bersikap realistis adalah pilihan yang bijaksana." — P. 26 to 27

"Dalam hidup, kita akan bertemu dengan orang-orang yang membuat kita nyaman dan orang-orang yang membuat kita nggak nyaman. Terkadang kita bisa memilih, tetapi ada kalanya kita nggak bisa memilih. Maka, yang harus kita lakukan adalah fokus pada hal-hal yang membuat kita senang dan nyaman." — P. 45

"Ada yang nggak beres dengan cara kerja dunia ini. Mungkin memang cewek yang lebih sering dirugikan. Tapi bukan berarti cowok bisa selalu aman dan diuntungkan.Nggak! Cowok juga ada peluang dilecehkan. Dan mirisnya, ketika cowok menjadi korban pelecehan, dunia seolah-olah menutup mata." — P. 60

"Kamu boleh peduli sama temen, sama siapa pun yang menurut kamu layak dipeduliin. Tapi, jangan sampai kepedulian itu jadi nyusahin diri sendiri dan malah melibatkan kamu dalam masalah baru. Sebaiknya kepedulianmu itu dilakukan dengan cara-cara yang lebih tenang, nggak emosional kayak tadi. Oke?" — P. 85

"Kalau soal ngelindungin seseorang dari tindak kekerasan itu nggak ada hubungannya sama gender. Cewek ataupun cowok sama-sama bisa kena kekerasan dalam bentu apa pun, dan dua-duanya punya hak untuk mendapatkan perlindungan. Jadi, ya kita harus sama-sama saling melindungi." — P. 141

"Kamu tahu? Terkadang, orang itu nggak selalu seperti yang kita pikirkan. Setiap orang punya topeng masing-masing, punya selubung sendiri-sendiri. Yang kita anggap jahat, bisa aja baik. Dan yang kita anggap baik... bisa jadi malah sebaliknya." — P. 142

"Gue percaya, di dunia ini nggak ada seorang pun yang ingin balas dendam terhadap orang-orang yang pernah menyakiti mereka. Yang mereka inginkan adalah ketenangan dan kedamaian. mereka hanya nggak tahu cara mendapakannya selain dengan membalas dendam." — P. 208

"Setiap orang pernah berbuat salah terhadap orang lain. Sebagian dari mereka merasa bersalah dan menyesalinya, sisanya mungkin belum, atau nggak sama sekali.” — P. 209

“Waktu anak lo tumbuh gede, tolong kasih tahu mereka untuk bersikap baik sama orang lain. Kasih tau mereka kalau mereka nggak berhak memperlakukan orang lain dengan kasar, semen-mena, atau melecehkan orang lain dengan alasan apa pun. Kalau mau bercanda, ada banyak cara bercanda yang memang lucu dan menyenangkan buat kedua belah pihak.” — P. 210

“Rasa takut membuat kita lebih waspada, hati-hati, dan curiga, memunculkan insecurity dan trust issue. Bisa jadi, setelah mengetahui kebenaran tentang kejadian malam itu,Taya juga mulai ngerasa nggak aman, nggak nyaman, dan nggak percaya lagi sama kamu.” — P. 213

“Harapan memang selalu ada, tapi hidup terkadang mempermainkan kita. Saya ingin kamu mempersiapkan diri menghadapi semua kemungkinan.” — P. 215



Thursday, July 3, 2025

[REVIEW] Ghosting Writer

Ghosting Writer
Aya Widjaja
Gramedia Pustaka Utama
312 Halaman

"Kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Dan untuk meraih impian, mungkin harus ada yang dikorbankan supaya usaha kita nggak setengah-setengah.”


B L U R B

“Ghosting Writer? Nama pena apaan, tuh! Pasti dia cuma writer tukang ghosting pembaca alias nulis cerita nggak kelar-kelar!” Sebagai penulis di T3, salah satu platform menulis online, Wilma tidak bisa berhenti julid setiap kali mendengar Ghosting Writer disebut-sebut teman sekelasnya. Masalahnya, Wilma sudah lebih lama menulis di T3 dan susah payah mendapatkan peringkat tinggi dengan mempromosikan ceritanya ke semua media sosial dan mengikuti keinginan pembaca. Sedangkan Ghosting Writer bisa melampaui popularitas Wilma tanpa promosi atau bersusah payah. Argh! Nyebelin!

Belum lagi kakak kelasnya, Ganindra, terus-terusan mengganggunya tanpa alasan; meledeknya penjajah karena namanya mirip ratu Belanda zaman penjajahan, memanggilnya dengan merek minyak goreng, dan sering melempar gombalan-gombalan jayus yang bikin merinding. Ganindra ada masalah apa sih sama Wilma? Keisengan Ganindra bikin Wilma, yang sudah bete karena perkara Ghosting Writer dan peringkat T3, jadi makin mumet.

Duuh! Apa yang harus Wilma lakukan untuk menyingkirkan Ganindra dan memperbaiki peringkatnya di T3 yang dibalap Ghosting Writer?

- - - - - - - - - -

Sebagai penulis di sebuah platform, selain jumlah pembaca, rating juga salah satu hal yang cukup penting. Apalah arti sebuah karya kalau nggak ada pembacanya. Wilma, selama ini berhasil di platform T3 dengan rating yang bagus dan cukup terkenal. Kebanyakan ceritanya tentang anak sekolahan dan badboy yang cukup digandrungi pembaca T3.
Quality over quantity, Wil. Jauh lebih baik punya sedikit pembaca tapi setia ngikutin lo ke platform mana pun, mau ngasih lo feedback, rela ngeluarin effort demi baca tulisan lo, daripada punya banyak pembaca tapi nggak punya engagement lebih. Ayolah, belajar bersyukur dengan apa yang lo raih. Oke?” — P. 181
Kemunculan Ghosting Writer—salah satu penulis baru di T3, membuat Wilma mulai senewen. Ini bukan karena kemunculan idola baru semata, tapi peringkatnya yang bikin Wilma jadi waspada terus. Sementara Nehru—sahabat sekaligus ilustratornya malah menyuruhnya membaca karya Ghosting Writer, supaya Wilma bisa mencari tahu hal apa yang membuatnya jadi lebih menarik ketimbang ceritanya.


Dunia kepenulisan dan SMA. Dua hal yang menurutku sangat berkaitan, dan aku pernah mengalaminya. Dulu pas masih ramenya platform kepenulisan warna oren, di sana lah aku banyak banget bertemu orang, berorganisasi juga. Seru banget. Aku juga sempet nulis dan berorganisasi, tapi pas masuk masa kuliah, aku sekip, banting setir jadi bookstagram aja.

Bagi seorang penulis, jumlah pembaca, like, komen, dan rating yang posisinya stabil itu penting. Nggak cuma menunjukkan kalau karya kita bagus, tapi juga bikin bersemangat untuk menyelesaikan sampai ending. Hal itu juga yang dirasakan sama Wilma, apalagi kelebihan dalam ceritanya, dia juga menyisipkan gambaran potongan adegannya dengan ilustrasi Nehru, harusnya ini jadi daya jualnya dong. Pas ada penulis yang berhasil menyalip ketenarannya, dia jelas bingung. Selama ini aman-aman aja, kali ini kok ada yang berhasil menyalip secara langsung?

Ghosting Writer buatku sangat menarik. Bikin aku kembali ke duniaku dua belas tahun lalu (wow, ketauan banget umurnya berapa ya?). Dunia SMA yang dituliskan, nggak melulu ngebahas percintaan, badboy yang nggak pernah masuk kelas tapi dapet nilai bagus terus, atau pun anak salah satu pejabat. Bener-bener dunia SMA yang kita jalani sebenernya, mulai dari masuk sekolah, punya keinginan yang ditentang orangtua, punya aktivitas lain di luar sekolah. Pembahasan tiap karakternya juga bener-bener menarik. Wilma yang berkemauan keras dan nggak gampang nyerah, Nehru yang terlalu banyak dikekang, Ganindra yang punya masalah di rumah.

Dibalik sikap Wilma yang ngotot banget update cerita, mengusahakan keinginan semua pembacanya, ternyata tersimpan keinginan kecil yang tidak begitu disetujui orangtuanya. Dibalik sikap Nehru yang baik di depan Wilma, dia juga agak egois. Dibalik Ganindra yang tengil, tersimpan keinginan untuk membahagiakan mamanya.

Buatku, Ghosting Writer ini bener-bener komplit untuk kelas teenlit. Bikin kita mengingat lagi, apa yang kita inginkan, dan bagaimana cara meraihnya. Pemikiran untuk melakukan hal curang kalo kepentok itu pasti ada, tapi balik lagi, apa cara itu sudah benar? Apa itu keinginan semata, atau cuma karena iri? Banyak juga mengajarkan dunia kepenulisan yang baik itu gimana. Bikin aku jadi tergerak untuk menulis lagi.

Cara kak Ayu menulis bener-bener mengalir. Kita dibuat penasaran dengan setiap tindakan tokohnya, tapi dibuat gemes juga tiap mereka punya gebrakan baru. Setiap halamannya jadi nagih banget, nggak kerasa kita udah selesai aja. Penyelesaian masalah tiap tokohnya juga bikin senyum-senyum sendiri. Apalagi Nehru-Wilma. Duh pas baca kayak… gemes banget ni orang dua sahabatan. Sangat merekomendasikan untuk dibaca semua kalangan! Cerita yang ringan dan bikin senyum-senyum. Kayaknya kalo posisi bacanya di aku beberapa tahun lalu, cuma sehari, udah kelar ini.


From the book…
”Coba benchmarking. Baca cerita dia dulu, cari alasan apa yang bikin ceritanya digandrungi. Jangan cuma ngintipin halaman profil dia saja.” — P. 13

”Karena apa pun yang lo lakukan, sumber semangatnya harus diri lo sendiri. Bukan orang lain. Menggantungkan motivasi pada manusia cuma bikin kecewa. Lo harus punya suara lo sendiri. It’s okay buat bilang enggak atau punya pendapat sendiri.” — 86

”Gue nggak bilang lo nggak boleh terkenal atau dapet uang dari nulis, tapi jangan sampai kehilangan jati diri.” — P. 141

”Lo boleh ambis, tapi lo nggak boleh lupa cara terbaik buat meraihnya adalah memperbaiki tulisan lo sendiri.” — P. 193

”Itu lo ngerti. Isi hancur atau bungkus jelek itu biasanya salah orang lain. Bukan bermaksud nyalahin orang, tapi faktor dari luar memang penting pas pencarian jati diri kayak lo sekarang. Gue nggak punya pembelaan apakah bandel itu salah atau sah-sah saja, yang penting adalah bisa nggak kita keluar dari zona bandel dan jadi manusia bertanggungjawab?” — P. 244 to 245

”Lo kebiasaan lebih peduli pendapat orang daripada diri lo sendiri, dan menggantungkan kesenangan nulis pada popularitas yang didapat karena apresiasi orang lain. Lo ngejauhin gue juga pasti karena omongan orang, kan?” — P. 264

”Kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Dan untuk meraih impian, mungkin harus ada yang dikorbankan supaya usaha kita nggak setengah-setengah.” — P. 294

Sunday, February 23, 2025

[REVIEW] Viral



Viral
Laili Muttamimah
Gramedia Pustaka Utama
392 Halaman

"Sampai akhirnya saya tersadar bahwa secinta apa pun saya terhadap sesuatu, saya pasti akan menemukan sisi gelap dari hal itu, yang belum tentu bisa saya terima. Persepsi saya tentang kehidupan di media sosial berubah, karena masalah antara saya dan Keenan. Di sini saya mau meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.”


B L U R B

Ariel Latisha hanyalah anak SMA yang menganggap dirinya tidak cantik. Namun, kehidupannya berubah drastis saat dia diminta menjadi model foto Gyn the Label, merek baju milik ibu sahabatnya, Wendy. Siapa sangka, orang-orang justru menyukai sosok Ariel sebagai model dan dia mendadak terkenal di Instagram.

Ariel awalnya kikuk menjadi pusat perhatian, tapi dia memberanikan diri mengunggah banyak konten sesuai permintaan netizen. Berbagai kesempatan pun terbuka lebar: pengikutnya menembus angka ratusan ribu, diajak bergabung dalam influencer management agency, mendapatkan banyak tawaran endorsement, hingga menarik perhatian aktor ternama!

Segala kemewahan itu membuat Ariel terlena, sampai suatu hari video syurnya tersebar dan viral.

- - - - - - - -

Terbiasa hidup biasa yang cenderung menutup diri membuat Ariel jadi anak yang minderan. Apalagi kulitnya nggak sesuai dengan standar kecantikan masyarakat. Kulitnya sawo matang, dan lagi dia juga nggak pintar pakai make up. Yang bisa diandalkan hanyalah kerajinan dan otak encernya, inilah yang membuat dia lumayan dekat dengan Wendy, sahabatnya, selain karena orangtuanya juga pernah bekerja di rumah Wendy.
"Riel, Riel. Jangan kemakan iklan yang bilang cantik itu harus putih dan mancung! Kenapa banyak model wajah blasteran dipakai buat iklan skincare pencerah wajah? Karena itu tujuan produknya, Riel." — P. 30
Menjadi model pengganti Gyn The Label tentu tidak masuk dalam impiannya, karena impiannya melanjutkan pendidikan di salah satu PTN terkenal. Karena menjadi model pengganti inilah, dia mulai menginjakkan kaki menjadi seorang content creator, bertemu dengan banyak orang, masuk ke dalam agency, tapi gimana kalau Ariel kesandung skandal? Bisakah Ariel bertahan?


Menjadi content creator di Indonesia itu gampang nggak sih? Menurutku, gampang banget, soalnya orang Indonesia itu suka dihibur dan gampang banget ngeviralin sesuatu di sini. Unik dikit, viral. Nanti bermasalah dikit, viral. Beda banget sama negara tetangga yang kalo punya masalah tuh dicancel beneran.

Sama seperti Ariel, di saat dia kepepet dan butuh uang dalam jumlah besar, dia dapat tawaran untuk jadi model pengganti, meskipun awalnya uang yang didapatkan nggak langsung banyak, tapi lumayan kan? Apalagi dia juga pengen banget kuliah dan punya tabungan. Sebenernya ini nggak salah, namanya juga cari sampingan. Sayangnya, Ariel ini keblinger. Padahal pacar sama sahabatnya udah ngingetin dia untuk tetep fokus sama sekolahnya, biar ga kepecah. 

Kasus Ariel ini mirip sama aku dulu pas jaman kuliah. Karena aku udah lelah sama revisian habis sidang, dan pas itu juga aku ditawarin untuk lanjut kerja di tempatku magang, aku berujung hampir nggak lulus. Kerja itu bener-bener menyenangkan soalnya, dapet duit, habis pulang yaudah aja gitu. Nggak perlu mikirin besok revisi harus gimana, modul yang perlu dipake apa, tugas buat matkul harus gimana. Tapi menurutku, pelajaran tetep nomer 1 ya guys. Meskipun kita cuma ngejar gelarnya aja, tetep selesaikan sampai selesai.

Membaca Viral, kembali mengingatkanku sama artis-artis atau selebgram atau selebtok yang gampang banget viral, padahal nggak ada karya yang signifikan gitu. Memang terkenal karena bisa menghibur dengan tingkah lucunya aja, atau malah karena satu masalah. Indonesia ini emang jago banget lah kalo suruh ngeviralin orang.

Viral banyak banget pelajarannya, mulai dari kepercayaan diri, mengejar impian, sampai dunia entertain yang silau dan ternyata nggak semenyenangkan itu. Jadi pengingat sekali lagi, kalau sampai terjun ke dunia entertain, jangan sampai terlena dan terekam. Terlena aja nggak papa, kalau udah sampai di rekam-rekam, bahaya banget sih. Jejak digital itu bakalan ada selamanya.


From the book...
"Kulit memang nggak harus putih, Riel, tapi kesehatannya harus dijaga." — P. 15

"Riel, Riel. Jangan kemakan iklan yang bilang cantik itu harus putih dan mancung! Kenapa banyak model wajah blasteran dipakai buat iklan skincare pencerah wajah? Karena itu tujuan produknya, Riel. Model dipilih dari pesan yang mau disampein ke audiens. Di Indonesia, iklan pencerah wajah banyak banget, makanya model yang dipakai kebanyakan kulitnya terang. Biar seolah-olah kita bisa kayak mereka." — P. 30

"Kamu akan selalu nggak bisa sampai akhirnya berani mencoba. Sekarang simpan sebentar rasa takutmu, terus tanya sama hati kecilmu, sebenarnya kamu mau, nggak?" — P. 42

"Intinya, jadi diri sendiri aja, Riel. Jangan sampai kamu repot-repot ngelakuin hal yang ternyata nggak 'kamu banget', cuma biar dapat likes dari orang." — P. 85

"Prinsip gue, ikutin aja kata hari. Kalau lo yakin itu baik buat lo, lakuin. Kadang-kadang, yang bikin kita takut terjun ke dunia yang lebih besar itu bukan karena kita nggak mampu tapi karena kita belum familier sama situasinya." — P. 120

“Mendadak, aku menyadari, ketenaran tidak menjamin seseorang akan tetap dibela. Orang-orang yang awalnya mendukung kita habis-habisan bisa berbalik menjadi sosok yang menjatuhkan kita.” — P. 198

You know, Tante? I’m done. Aku udah capek hidup kayak gini, penuh kepura-puraan. Aku nggak bebas ngelakuin apa aja yang aku mau. Semua pilihan-pilihan hidupku harus ngikutin apa kata netizen, apa kata Tante. Ini hidupku, Tante! Aku berhak jalanin sesuai pilihanku sendiri!” — P. 211

“Sampai akhirnya saya tersadar bahwa secinta apa pun saya terhadap sesuatu, saya pasti akan menemukan sisi gelap dari hal itu, yang belum tentu bisa saya terima. Persepsi saya tentang kehidupan di media sosial berubah, karena masalah antara saya dan Keenan. Di sini saya mau meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.” — P. 288

“Semuanya udah terjadi, Riel, kamu nggak bisa balik lagi buat ubah semuanya. Tapi selalu ada kesempatan untuk mempebaiki, itu yang kita lagi coba sekarang. Kamu masih punya masa depan buat perjuangin, jadi jangan sia-siain peluang yang kamu punya.” — P. 295

Sunday, February 9, 2025

[REVIEW] Sisi Tergelap Surga


Sisi Tergelap Surga
Brian Khrisna
Gramedia Pustaka Utama
304 Halaman

"Kalau dengan beragama lantas bikin kamu merasa lebih suci dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain, sosok siapa yang kamu teladani selama ini? Siapa yang kamu sembah selama ini? Egomu?"


B L U R B

Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan.

Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis digerus kejinya ibu kota.

Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari. Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta..

- - - - - - -

Jakarta selalu menjadi tujuan banyak orang. Hidup di Jakarta selalu dianggap sukses, keren dan megah. Jadi banyak sekali para perantau yang berangkat ke Jakarta dengan harapan di Jakarta kehidupan mereka jadi lebih baik, yang mereka tidak tau, Jakarta ternyata nggak sesilau itu. Kehidupan di Jakarta cukup menyesakkan untuk sebagian orang.

Dari sebuah kampung di sudut kota Jakarta, semua cerita ini dimulai. Kampung ini terdiri dari berbagai macam manusia dengan berbagai latar belakang, dan juga pekerjaan. Ada Rini  dan Juleha yang menjadi PSK, Syamsuar yang memilih untuk berdagang nasi goreng, Kuncahyo yang bekerja di mall, Danang yang bekerja kantoran, Bang Tomi si preman terminal, Karyo—manusia silver bersama dengan Pulung dan Jawa yang biasanya menghuni di pos ronda, Nunung dan Sobirin yang berjualan tahu jablay sambil menjaga Ujang, Tikno anak pak RT yang hidupnya nggak tentu.
"Kunci supaya biasa saja menghadapi semua hal aneh di kota ini ya dengan membiasakan diri dengan hal-hal yang nggak biasa. Jadi, jangan hakimi cara bertahan hidup orang-orang ya, Tom."
Setiap tokohnya punya banyak impian yang mereka bawa ketika ke Jakarta, bisakah mimpi itu terwujud? Atau malah jadi angan-angan yang disimpan saja?


Akhirnya membaca Sisi Tergelap Surga juga. Novel ini belakangan sering banget bermunculan di timelineku. Apalagi menurut review banyak orang, menarik.

Pertama kali membaca Sisi Tergelap Surga, kukira bakalan biasa aja. Apalagi menceritakan sisi kelam Jakarta. Siapa sih yang nggak tau kotornya Jakarta? Tapi dari sini kita lebih dibuka lagi matanya. Aku udah cukup kaget, karena bahasanya kasar, dan... wow, banyak sekali ya tokoh yang dipakai di sini. Karena memang beneran sekampung, dengan beragam karakter dan pekerjaan. Tapi hebatnya lagi, kak Brian bisa menjelaskan setiap tokohnya tanpa membuat kita kebingungan ini siapa dan bagaimana masalahnya. 

Seperti layaknya sebuah kampung, setiap rumah punya cerita. Cerita di sini cukup beragam, karena tokohnya juga beragam umurnya. Dari yang masih bayi sampe udah gede bangkotan pun ada. Masalah yang dihadapi juga cukup beragam, tapi tetap berawal dari uang. Bagaimana setiap tokohnya berjuang untuk mencari uang, mulai dari pekerjaan yang halal sampai haram. Perjuangan setiap tokohnya juga nggak gampang.

Setiap tokoh di sini porsinya juga pas. Nggak ada yang terlalu banyak, atau terlalu sedikit. Semuanya dikupas dengan perlahan sampai kita tau apa yang membuat mereka sampai di posisi yang sekarang ini. 

Sisi Tergelap Surga bener-bener membuka mataku lebih lebar lagi. Aku tau, kalau cerita Rini, Juleha, Gofar, dan tokoh lainnya di dunia nyata banyak sekali, tapi ini bener-bener berasa deket banget sama kita. Konflik yang dihadapi juga nggak cuma batin, tapi juga dilema moral. Di satu sisi harus tetap berbuat baik, tapi di sisi lain, harus mencari uang dengan cepat.

Nggak hanya membahas tentang perjuangan setiap tokohnya, tapi aku juga banyak sekali belajar kalau setiap mereka yang sedang berjuang itu juga kebingungan. Kadang, apa yang kita nilai negatif atau bertolakbelakang dengan nilai moral masyarakat, mereka juga paham kok. Mereka sebenernya juga nggak mau melakukan hal itu, tapi gimana lagi? Berbagai cara sudah ditempuh, hasilnya nggak sesuai dengan yang diharapkan.

Baca novel ini nggak bisa berhenti! Setiap halamannya nagih. Bikin pengen nyelesaiin, tapi juga ada beberapa hal yang bikin aku mual pas baca. Jadi saranku, nggak cocok untuk dibaca pas lagi makan. Untuk anak under 18 tahun, harus jauh-jauh dari novel ini, soalnya bahasa yang dipakai di sini kasar, dan nggak banget untuk anak under 18 tahun. Meskipun kita semua tau ya, kalo anak jaman sekarang sudah dewasa pada waktunya.


From the book...
"Tetap jadi lonte saja, Rin. Hidup ini cuma mampir doang terus modar dimakan cacing. Toh nikah atau nggak nikah nggak bakal beda jauh buat lo. Itu cuma soal memilih, mau menghabiskan seumur hidup badan lo dipakai satu orang, atau dipakai banyak orang. Tapi kalau lo milih hidup dengan satu cecunguk, paling nggak cari cecunguk yang bisa cari duit, bukan yang bisanya cuma morotin."

"Kunci supaya biasa saja menghadapi semua hal aneh di kota ini ya dengan membiasakan diri dengan hal-hal yang nggak biasa. Jadi, jangan hakimi cara bertahan hidup orang-orang ya, Tom."

"Kalau dengan beragama lantas bikin kamu merasa lebih suci dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain, sosok siapa yang kamu teladani selama ini? Siapa yang kamu sembah selama ini? Egomu?"

"Hidup tak seindah itu. Sesudah badai tak selalu ada pelangi. Terkadang yang kauterima justru lebih parah. Jalanan becek yang membuat langkahmu terasa berat, atau bahkan pohon tumbang yang menghalangi jalanmu."

"Semua orang bisa dengan bebas menghakimi, bebas menghina, bebas memandang sebelah mata. Namun, tidak semua orang mampu menyadari bahwa terkadang, cara terbaik untuk tetap melaju adalah dengan merangkak, tak peduli jika kepala lebih rendah dan lebih sering menghirup aroma kotoran dari kaki orang lain. Tak apa, yang penting, tetap berjalan."

"Hidup memang suka bercanda. Terkadang, yang terlihat buruk di matamu justru tak lebih buruk daripada kebusukan diri sendiri yang berusaha kausembunyikan rapat-rapat."

"Ya tetap hidup. Bertahan hidup. Yey pikir semua yang dilakukan orang-orang berdosa kayak kami di luar sini buat senang-senang doang? Nggak. Ini semua buat bertahan hidup."

"Kalau yey memang harus menilai seseorang, nilailah dia dari caranya menilai orang lain. Bukan dari bagaimana nilai yang selama ini yeys terapkan dalam hidup yey sendiri. Sebab, benar atau salah itu relatif, tergantung dari sepatu siapa yey berdiri." 

"Hidup tuh dijalanin aja. Tapi kalau ai boleh kasih saran, yey jangan pernah bugil di depan kamera ya. Jangan sampai divideoin. Manusia itu biadab. Sesayang-sayangnya yey sama laki, jangan pernah izinin dia buat videoin yey pas lagi ngewong."

"Ah itu sih biasa aja. Udah biasa ai dihina orang. Yey tahu apa enaknya hidup dalam kehinaan? Orang-orang udah nggak bisa menghinamu lagi. Wong emang kamu udah hina kok."

"Hidup adalah pertarungan. meski selama ini oranng-orang di kampung terlihat diam, saling sapa, saling bersikap baik, tapi sebenarnya mereka sedang saling mengamati. Menanti kejatuhan orang lain. Menanti keburukan orang lain terbongkar. Untuk kemudian menginjak-injaknya dengan ganas selayaknya derajat mereka lebih suci daripada yang lain."

"Betul kata orang-orang, beberapa anak memang terlahir beruntung di tengah keluarga yang berkecukupan materi. Sisanya lebih beruntung karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha sendiri."

"Kita harus ngerasain hidup semenderita-menderitanya dulu biar nanti orang-orang bisa belajar dari kita cara bertahan hidup."

"Bagi beberapa orang, bahagia itu tidak sulit untuk dicari. Kebahagiaan bisa lahir dari hal-hal kecil, seperti dengkur kucing liar yang kekenyangan selepas makan, bayi-bayi kucing yang berebut puting susu ibunya, atau wanita tua yang duduk di makam suaminya. Kebahagiaan selalu dekat dengan hati yang bersyukur."

Tuesday, January 28, 2025

[REVIEW] Dewa Angkara Murka



Dewa Angkara Murka
Aya Widjaja
Gramedia Pustaka Utama
416 Halaman

"Pertimbangan penting ketika memutuskan menikah bukan cuma soal pasangan, tapi juga orangtua calon pasangan dan bagaimana penerimaan mereka.”


B L U R B

Namanya Dewangkara Maheswara. Namun, anak buahnya sepakat mengganti namanya menjadi Dewa Angkara Murka. Selain tukang murka, dia juga suka bertitah bagai dewa. Apa pun yang diinginkan harus tercapai saat itu juga. Termasuk saat Dewang “memerintah” Mosha menjadi “pasangannya” supaya dia batal dijodohkan. Mosha awalnya menolak. Namun, undangan pernikahan dari Kyle—rekan kerja sekaligus mantan pacar—membuat hati Mosha terbakar.

Selama lima tahun pacaran, Kyle bilang dia tidak percaya komitmen. Tak lama setelah putus, Kyle malah menikah. Tentu saja Mosha sakit hati. Mosha akhirnya membuat perjanjian dengan iblis—eh, Dewang. Adakah cara yang lebih jitu untuk membalas mantan selain menghadiri pernikahannya dengan membawa pasangan yang jauh lebih keren?

“Kita nggak mungkin dibilang setingan karena nggak masuk akal karyawan nyuruh bosnya nemenin dia ke kondangan mantan.”

- - - - - - - - -

Putus hubungan dengan Kyle sudah membuat hari-hari Mosha memburuk, tapi sepertinya hal ini tidak cukup. Karena Kyle secara tiba-tiba menyebarkan undangan bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat. Hal ini jelas memperburuk keadaannya. Mau nggak mau, Mosha harus menerima tatapan mengasihani dari seisi kantornya.
"Cara terbaik membalas mantan adalah dengan menghadiri pernikahannya bersama pasangan baru yang jauh lebih baik daripada dia.”
Dewangkara atau yang biasa disebut karyawannya Dewa Angkara Murka, bos yang hatinya nggak bisa ditebak, bisa kadang baik banget, atau jahat banget. Seringnya memang jahat banget. Hari itu, entah kenapa, lebih memilih memanggil dan membuat Mosha menjadi pacarnya. Mosha nggak cuma kaget, tapi dia juga bingung, karena Dewang bersedia menemani Mosha pergi ke kawinan Kyle.

Kalau sudah kacau begini, Mosha bisa apa selain menjalankan sandiwara bersama Dewang, tapi pertanyaannya, sampai kapan? Karena effort Dewang untuk menjadi pura-pura sangat menyakinkan sekali.


Cover bagian depan Dewa Angkara Murka ini cukup gemesin, dengan warna pink dengan gambar city tower. Nggak ada penggambaran ngeselin tentang bos dan karyawannya. Tapi pas baca bukunya, rasanya pengen bilang, "Menyala Dewangku!".

Ditinggal menikah sama mantan memang ngeselin dan bikin sakit hati. Pas awal ngebaca, duh rasanya kesel banget, apalagi satu kantor. Makin kerasa dong keselnya. Apalagi mereka pacarannya juga sudah lama. Apalah arti 5 tahun, kalau nggak nikah. Meskipun pisahnya baik-baik, tapi kalau dalam waktu singkat udah sebar undangan, apa nggak langsung negatif thinking? Mosha sendiri juga masih mempertanyakan ini, kenapa kok tiba-tiba Dewang mau menawarkan diri untuk menemaninya ke pernikahan Kyle?

Dewang ini adalah tipikal bos pada umumnya, kalau bisa kita, kenapa harus orang lain? Harus bisa memanfaatkan hal atau jasa sebaik-baiknya. Tapi dibalik sifatnya yang memang ngeselin ini, dia juga bos yang cukup loyal lho. Kalau ada rapat, ada snack boks dan makanan. Mana ada di dunia nyata? Ya setidaknya ada yang baik lah dari dirinya.

Sementara Mosha, dia ini karyawan yang cukup tahan banting, mungkin karena didukung sama lingkungannya juga ya. Apalagi ada Kinoy, sahabatnya yang mulutnya cablak banget, tapi siap kapan aja. Juga ada Mbak Afni yang siap pasang badan kalau anak-anaknya kena semprot. Kalau Kyle, dia ini sebenernya berkompeten, tapi kelakuannya emang minus banget banget. Perselingkuhan itu nggak termaafkan ya.

Dewa Angkara Murka, banyak membahas tentang dunia kerja apalagi bagian digital, bagaimana cara mencari supplier yang sesuai, dan juga tentang perselingkuhan dengan kiat-kiat membalas dendam dengan elit. Ada juga pembahasan tentang kenapa sebenernya Kyle selingkuh. Alasannya nggak dibenarkan, tapi cukup menyentuh. 

Yang aku suka tuh effortnya Dewang, untuk ukuran pura-pura, Dewang bener-bener mau usaha lebih. Walaupun kadang ditolak Mosha, kadang dijudesin juga. Tapi ya dia tetep usaha dengan caranya sendiri. Aku juga suka sama mamanya Dewang, dari luar, beliau ini keliatan kayak orang kaya yang bakalan memandang segalanya dengan uang. Nyatanya, enggak! Dia welcome banget sama Mosha, malah lebih milih sama rekomendasi tukang jaitnya Mosha yang deket rumah dibanding sama butik-butik ternama.

Aku baca novel ini sehari lebih dikit, karena di kantor kerjaan nggak begitu banyak dan juga nagih banget baca ini. Penasaran sama gebrakan apa yang bakalan dilakuin Dewang sama Kyle.

Monday, December 16, 2024

[REVIEW] Gadis Kretek

Gadis Kretek
Ratih Kumala
Gramedia Pustaka Utama
288 Halaman

“Matamu boleh saja buta. Tetapi, hidung dan indra perabamu harus bekerja sama.”


B L U R B

Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.

Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim, dan Tegar bertemu dengan pelinting tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengar; Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim, dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?

Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri dari para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.

- - - - - - - - -

Pak Raja, salah satu pemilik perusahaan rokok yang cukup besar dan dikenal di masa kini. Siapa sih yang nggak tau rokok Djagad Raya? Rokok yang sejak bertahun-tahun lalu berdiri, dan sekarang sudah dipegang oleh generasi ketiganya. Saat ini, dirinya sedang diambang maut, nyawanya bisa saja dicabut malaikat sewaktu-waktu. Anehnya, di saat bapaknya ngelindur, yang disebut adalah nama Jeng Yah, bukan nama ibunya. Tentu saja hal ini mengundang rasa cemburu ibunya dan pertanyaan dari ketiga anaknya. Siapakah Jeng Yah?
“Perempuan itu cemburu… sebab romomu lebih memilih Ibu ketimbang dia.” — P. 265
Akhirnya, Lebas dan kedua kakaknya berangkat ke Kudus, di mana pabrik Djagad Raya berada, untuk mencari tau, siapa Jeng Yah yang disebut-sebut ayahnya ini. Sepertinya, mereka tidak hanya menemukan jawaban siapa Jeng Yah, tapi juga mengetahui masa lalu pabrik rokok yang didirikan oleh kakeknya dulu.


Ah, akhirnya aku berhasil juga membaca Gadis Kretek ini. Novel yang sebenernya sejak dulu sudah cukup booming. Sayangnya aku belum tertarik untuk baca, takutnya bahasanya terlalu baku, jadinya aku nggak bisa ngikutin, tapi ternyata? Bahasanya mengalir dan mudah dipahami, ya ampun, aku ke mana aja?

Menceritakan tentang Pak Raja yang sudah sekarat, dan menyebut nama Jeng Yah. Kukira, di bagian awal aku akan dikasih cerita tentang kehidupan anak pak Raja dan perjalanan mereka untuk mencari tau siapa itu Jeng Yah. Nyatanya, di bab selanjutnya, kita diajak mundur ke waktu sebelum semua itu terjadi. Ini bener-bener jauh banget, tahunnya di 1900an gitu. Dimana Belanda masih menjajah, kemerdekaan bahkan belum sepenuhnya milik Indonesia. Historical banget! Nggak cuma masalah rokok, tapi lengkap juga dengan masalah yang terjadi di masa itu.

Alur yang dipakai maju dan mundur, nggak ada penandanya. Tapi pasti kerasa kok bedanya, soalnya kalo di masa sekarang ngebahas Lebas, Karim, dan Tegar. Sementara kalau di masa lalu, bahasnya tentang Djagad dan perkembangan kretek jaman dulu. Meskipun nggak ada timeline waktunya, aku nggak merasa kebingungan setiap kali perpindahan alur. 

Setiap halaman itu nagih banget, dan buatku, ini tuh kayak belajar sejarah rokok dan juga tentang marketingnya. Idroes Moeria di sini bener-bener memikirkan banyak hal lebih maju untuk memasarkan rokok buatannya. Menurutku, dia tuh pinter banget untuk ngebaca situasi, cepet dan juga berani untuk ngambil keputusan besar. Walaupun resikonya juga besar. Bener-bener pemikiran pebisnis gitu lah. Persaingannya dengan Djagad juga buatku jadi hiburan banget. Djagad ini tipe orang yang suka niru doang. Nggak cuma itu, Djagad dan Idroes ternyata juga menyukai orang yang sama. Jadi mereka semakin sering berkompetisi untuk mendapatkan sang pujaan hati ini.

Cukup menyenangkan membaca Gadis Kretek ini. Aku jadi penasaran dengan versi dramanya. Apakah akan se-addict baca novelnya?



Sunday, August 25, 2024

[REVIEW] Second Hope

Second Hope
Flara Deviana
Gramedia Pustaka Utama
368 Halaman

 Lo itu anak baik. Lo galak, tapi buat kebaikan banyak orang. Mulut lo nyebelin, tapi kelakuan lo hangat.”


B L U R B

Nora Alexander memiliki segalanya. Keluarga berkecukupan, karier gemilang, sahabat-sahabat yang selalu ada. Namun, hidup bagi Nora adalah neraka. Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruk, kepalanya selalu bising. Dia ketergantungan alkohol, membenci seisi rumahnya, dan juga menjalani hubungan tak sehat dengan Sebastian Prasetya. Nora tidak mengerti arti dicintai, apalagi mencintai.

Kemudian, Nora bertemu dengan Adnan Bratajaya, di tempat yang salah dan di waktu yang tak tepat. Dan entah bagaimana, takdir membawa cowok itu bekerja di kantor Nora. Adnan mulai mengisi hari-hari Nora. Tak peduli sekeras apa pun Nora berusaha menjauhi cowok itu, Adnan akan dengan sabar menghadapinya dengan pengertian, kesabaran, dan cinta.

Di tengah rasa trauma yang belum selesai, sesi-sesi terapi yang berat, dan rasa benci yang siap meledak kapan saja, Adnan menemani Nora untuk belajar memaafkan, menerima juga memeluk harapan. Tapi apakah semua itu cukup untuk keduanya, atau ada bahaya yang diam-diam mengintai untuk menghancurkan mereka?

- - - - - - - - -

Nora Alexandra bekerja sebagai seorang desainer interior dengan selera yang sangat bagus. Walaupun dibalik semua itu, kata galak, tidak berperasaan, dan penyihir, sudah melekat jadi nama lengkapnya di kantor. Nora tidak peduli dengan sebutan negatif yang melekat, toh selama ini track record pekerjaannya baik-baik saja. Jadi apa yang menyulitkannya?
“Orang-orang bilang alkohol bisa bikin kita lebih jujur, dan semalam lo memang jadi bisa jujur sama perasaan sendiri. Mungkin karena itu lo merasa entengan.” — P. 162
Kehidupan Nora berantakan, tidak ada yang sesuai keinginannya. Satu-satunya yang sesuai dengan keinginannya adalah pekerjaannya sebagai desainer. Tidak dengan Bastian, cowok yang bisa membuatnya tenang, tidak juga dengan keluarganya yang terlalu banyak memiliki topeng.

Sahabat-sahabat Nora juga memilih tidak terlalu banyak ikut campur, kecuali Dela. Mungkin begitulah cara Dela menyayangi Nora. Adnan adalah laki-laki yang entah mengapa bisa terus mengganggu kehidupan Nora, meskipun Nora berulang kali bersikap ketus dan jutek. Entah kenapa, auranya Adnan tuh beda banget.

Berawal dari Nora yang membutuhkan tempat tinggal, dan Adnan yang memiliki tempat tinggal berlebih, keduanya mulai dekat dan perlahan Nora mulai sedikit terbuka, tapi apakah sikapnya ini akan bersifat sementara?


Banyak yang bilang, kalau baca Second Hope bakalan ngerasa desperate banget. Nggak tau kenapa, aku malah baik-baik aja. Nggak merasa Nora aneh. Malah menurutku, Nora ini manusiawi sekali. Punya kehidupan yang kacau, nggak tau harus gimana, masih hebat Nora hidup sampai sekarang. Kukira, Nora ini rebel karena emang dia egois, tapi ternyata karena dia kesepian dan nggak tau harus ke mana. Punya sahabat belum tentu jadi jaminan dan semua hal bisa diceritakan, kan?

Novel ini dibawakan dengan alur yang maju mundur, tentu aja supaya kita tau gimana kisah mereka di masa lalu, apa yang membentuk mereka jadi saat ini, apa yang menyebabkan mereka jadi seperti ini. Di bagian awal novel, kita akan diberikan kepingan-kepingan clue tentang mereka. Cukup menarik, karena di sini aku sempat mengira kalau Nora emang beneran ‘rusak’. Padahal dia cuma perlu didengarkan aja.

Karakter di sini menurutku kuat semua. Mulai dari Nora yang ternyata punya masa lalu yang cukup rumit, masalah keluarga yang nggak selesa-selesai, sementara Bastian—‘persinggahan’ Nora yang mau menerima Nora tanpa banyak bertanya, tanpa perlu tau masalah yang dihadapi Nora saat ini. Ah, awalnya aku juga mengira Bastian ini jerk yang sama-sama mau aja sama Nora, ternyata enggak, dia laki-laki yang menunggu Nora kapan pun Nora siap bercerita, dia selalu ada. Bahkan dia selalu ada di tempat yang sama menunggu Nora.

Persahabatan yang dimiliki Nora ini mungkin cukup membuatku iri, bagaimana Via punya telinga yang lebar, nggak banyak menasehati dan menggurui. Bagaimana Rissa yang juga selalu bisa meluangkan waktu untuk Nora, walau dia sendiri sebenernya juga perlu ditolong. Kalau Dela sih tipe temen cablak yang pokoknya ngomong dulu, dia pasti bener, dan nggak peduli kalau orang lain sakit hati sama omongan dia.

Ketika akhirnya bertemu dengan Adnan, aku rasanya ikutan lega lho. Hebat banget emang ce Flara menuliskan cerita Nora ini. Adnan ini kunobatkan sebagai cowok green flag yang cukup ijo royo-royo. Soalnya pas awal, cara dia agak maksa ya, biar masuk ke kehidupan Nora. Ketika Adnan mengalami ‘kejadian’ itu, jujur aku juga langsung nyesek sih.

Mungkin untuk sebagian orang, novel ini cukup bikin desperate, tapi buatku malah enggak. Hehe.. Mungkin karna pas baca, akunya lagi sambil menyusui, jadi agak nggak relate. But this novel is very good! Mari belajar mengikhlaskan dan berdamai lewat novel ini.


From the book…
“Setahun gue nungguin lo bukan mau minta ganti rugi atau apa. Gue cuma mau kenalan sama Nora Alexander dalam keadaan sadar.” — P. 77

“Lo tahu dari awal gue nggak pernah anggap lo cuma teman tidur. Dari SMA intensi gue ke lo udah jelas. Kalau selama ini gue biarin lo ngumpet di tempat gelap di kepala lo, sekarang nggak lagi. Gue mau lo keluar dari sana, secepatnya. Gue tungguin.” — P. 95

“Kita udah melalui banyak hal selama bertahun-tahun, apa enggak ada satu pun yang bisa lo jadiin alasan supaya gue bisa sama-sama lo?” — P. 126

“Nggak bisa diperbaiki. gue tahu gimana rasanya mengharakan perhatian dari orang yang nggak mikirin lo sama sekali. Gue ngerti skitnya berjuang menjadi yang terbaik buat orang yang selalu merasa lo kurang. Gue tahu gimana nggak enaknya dicariin cuma buat seks, dan gimana tersiksanya menyayangi orang yang cuma memperalat lo.” — P. 148

“Orang-orang bilang alkohol bisa bikin kita lebih jujur, dan semalam lo memang ajdi bisa jujur sama perasaan sendiri. Mungkin karena itu lo merasa entengan.” — P. 162

“Mereka sebal waktu lo marah, tapi mereka juga kagum sama etos kerja dan hasil-hasil desain lo. Banyak dari mereka berterima kasih sama sifat lo yang suka perhatian dan suka nolong” — P. 171

“Nggak ada yang mau jadi nomor dua, Bas. Apalagi sama orang yang posisinya nggak jelas di hidup lo. Dibilang sahabat, tapi kelihatan kayak orang asing. Disebut pacar, tapi kalian selalu punya gandengan masing-maisng. Kalian cuma teman masa kecil. Apa harus berlebihan begini?” — P. 187

“Ini yang paling penting. Gue mencintai lo. Emang cinta gue nggak sempurna, tapi at least cinta gue ke lo nyata.” — P. 201

“Coba aja dulu jelasin, Ra. Gue bakal dengerin kok. Gue bakal coba buat memahami lo, jadi gue bisa antisipasi hal-hal yang perlu diantisipasi. Dari situ gue bisa mulai cari solui. Siapa tau solusi paling baiknya bukan gue harus berhenti suka sama lo.” — P. 230

“Namanya hubungan, perlu trial and error. Hubungan baik-baik sekali pun, pasti ada satu-dua luka di sana. Luka, sedih, kecewa, marah, itu bumbu dalam hubungan. sama kayak perasaan senang dan berbunga-bunga. Yang jadi pertimbangan adalah porsinya. Nggak boleh senang berlebih, pu sedih berlebih. Dua rasa itu harus berdampingan dan bersinergi. Yang jelas, keadaan yang terlalu nyaman juga nggak bikin suatu hubungan bertumbuh.” — P. 231

“Lo itu anak baik. Lo galak, tapi buat kebaikan banyak orang. Mulut lo nyebelin, tapi kelakuan lo hangat.” — P. 232

“Cobalah mencintai orang lin. Orang yang bisa mencinta lo dengan benar, Bas. Orang yang bisa memperlakukan lo jauh lebih baik daripada gue, karena lo pantas mendapatkannya.” — P. 239

“Nggak peduli seberapa kaya cowok itu, sebanyak apa pun warisan yang ditinggalin keluarganya, kalau nggak bisa mengelola dengan baik, ya, habis-habis juga.” — P. 294

“Kami nggak pernah mengobrol hal lain selain uang. Sedari saya kecil sampai menjelang kepergiannya, Opa kamu hanya menekankan satu hal, bahwa laki-laki harus bisa memberi kehidupan yang layak buat anak-istri. Apa pun yang terjadi jangan kasih mereka susah.” — P. 349

“Saya terlambat menyelamatkan mamamu. Kali ini saya nggak mau terlambat lagi. Jadi, tolong, kamu juga jangan menyerah.” — P. 350

“Tolong bertahan hidup buat hal sekecil apa pun itu. Buat gambar-gambar lo, atau masakan Bunda yang lo suka banget.” — P. 359

“Masih banyak pertanyaan yang belum saya jawab, makanya kamu nggak boleh ke mana-mana dulu. Ayo kita selesaikan semuanya, sembuh bersama-sama.” — P. 363

Thursday, August 8, 2024

[REVIEW] Saat-Saat Jauh

 

Saat-Saat Jauh
Lia Seplia
Gramedia Pustaka Utama
280 Halaman

“Setiap orang bertahan dengan pilihan masing-masing. Setiap jalan yang dipilih pasti ada salah dan benarnya. Jika berani memilih, berani juga menerima apa pun konsekuensinya.”


B L U R B

Aline dan Alex saling percaya bahwa mereka akan selalu bersama. Namun, keyakinan itu memudar seiring lebarnya jarak yang memisahkan mereka. Alex pergi ke Kota Terik demi mengejar kesempatan sebagai dokter yang sesuai standar keluarga besarnya. Aline mempertahankan ambisi untuk mengurus Panti Jompo J&J di Kota Teduh.

Saat mendapatkan promosi, Alex mengajak Aline untuk menikah dan pindah ke Kota Terik. Aline menolak. Sejak awal, gadis itu sudah menegaskan tak akan meninggalkan panti. Mimpi-mimpi mereka tidak lagi bertemu di satu tujuan. Setelah empat tahun menjalani hubungan jarak jauh, mereka berpisah.

Mereka pun berusaha menjalin kehidupan baru bersama orang lain. Alex merasa Vanesa jawaban dari kemapanan yang ia perjuangkan. Sementara Aline merasa Rama akan mengerti keterikatan batinnya dengan panti.

Tiba-tiba Aline dan Alex harus bertemu kembali. Meski berhadap-hadapan, jarak antara mereka terasa tak kunjung menyempit.

- - - - - - - - -

Menikah dan pindah ke kota Terik memang bukan tujuan Aline. Dia nyaman di kota Teduh, mengabdikan dirinya untuk panti werda. Baginya ini lebih dari apapun. Masalahnya, Alex harus pindah ke kota Terik, melanjutkan pekerjaannya di sana, meneruskan mimpi yang orangtuanya titipkan.
“Karena dia merasa cukup dengan hidupnya yang sekarang. Dan lo nggak gitu, Lex. Lo masih kejar pamor agar diakui dan dipuji keluarga. Dia bisa memilih hidupnya sendiri. Lo nggak bisa. Mungkin itu masalahnya.”
Kepindahan Alex ke kota Terik membuat hubungannya dengan Aline putus. Ini tentu bukan hanya masalah jarak, tapi kesulitan komunikasi juga. Putusnya hubungan mereka ini, sedikit banyak membuat Alex sedikit menyesal. Terlalu banyak 'mungkin' yang dia pikirkan, sampai akhirnya dia bertemu dengan Vanesa, salah satu dokter baru yang ada di rumah sakit tempatnya bekerja.

Sementara Aline di kota Teduh, dia bertemu dengan Rama, salah seorang yang pernah datang ke panti J&J dan kemudian menjadi dekat dengan Aline. Meskipun begitu, Aline tidak langsung membuka diri. Baginya, berteman dulu dan dijalani saja secara perlahan-lahan.

Tapi bagaimana kalau Aline dan Alex harus bertemu lagi dalam satu acara yang mengharuskan mereka berdua berdekatan terus menerus? Belum lagi, yang orang tahu, keduanya masih menjalin hubungan.


Kembali membaca karya kak Seplia lagi. Saat-Saat Jauh ini sudah jadi inceran bacaku sejak setelah terbit. Tapi kok kayaknya sendu banget gitu ya. Padahal ya enggak juga sih.

Kali ini membahas panti jompo. Kurasa, panti jompo kalau di Indonesia ini sudah dapet cap yang jelek sekali. Seperti tempat pembuangan orang tua, padahal ya enggak juga. Justru mereka di sana jadi punya kegiatan.

Aku pernah menitipkan salah satu anggota keluargaku di panti jompo itu. Nyatanya, mereka lebih terawat, punya jadwal yang pasti, punya kegiatan, dan nggak kesepian. Karena kebanyakan orang tua apalagi yang sudah tidak bekerja, tidak punya teman dan pekerjaan malah jadi kayak linglung gitu.

Hubungan Aline dan Alex ini mengingatkanku ke masa-masa sebelum nikah sama suami. Hubungan LDR. Jujur, LDR itu bukan hal gampang. Komunikasi kudu lancar, cuma itu kunci LDR, kalo enggak pasti buyar. Selain itu, hal yang menakutkan dari LDR adalah.. putus hubungan. Meskipun itu semua balik lagi ke pasangan masing-masing sih.

Menurutku, hubungan mereka berdua ini sebenernya cukup rumit, apalagi dari pihak Alex. Mereka juga nggak terlalu setuju dengan Aline. Belum lagi, Alex sendiri juga lebih memilih keputusan keluarganya diatas hubungannya dengan Aline. 

Alex ini tipe cowok yang aku hindari banget kalau mau mencari pasangan. Mungkin dia memang berasal dari keluarga yang cukup berada, tapi dia nggak bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Nggak cuma hubungannya dengan Aline aja, ketika dia membuka diri ke hubungan yang baru, dia juga keliatan banget bimbangnya, udah bimbang, dia juga kayak ‘disetir’ sama pasangannya. Kesel banget deh.

Dalam novel ini, dibagi menjadi 4 bagian: Summer, Autumn, Winter, Spring. Kurasa bagian-bagian ini seperti siklus kehidupan tokohnya. Alur yang dipakai juga maju-mundur.

Secara keseluruhan, novel ini bener-bener slow paced dan banyak mengajarkan tentang kehidupan dan pengambilan keputusan. Pembawaan Aline yang tenang, cara kak Seplia menulis kisah Aline dan Alex, bener-bener mengalir.


From the book...
“Bukannya mau sok menggurui, tapi bagaimana jika masing-masing kalian mengejar impian atau cita-cita dulu? Nggak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan. Cinta nggak selalu bisa menyelamatkan impian. Tapi sebaliknya, impian bisa membuat jalan untuk cinta itu sendiri.”

“Rumah dengan nomor nol adalah rumah orangtua. Soalnya itu tempat kembali kalau-kalau rumah-rumah lain nggak mau nerima aku lagi. Posisinya nol karena rumah itu adalah awal dari semuanya—baik atau buruk.”

“Satu-satunya yang konsisten adalah perubahan. Hari ini kamu bisa saja bilang A, tapi belum tahu esok hari masih sama. Bisa jadi kamu malah bilang D. Jadi, jika suatu hari nanti kamu berubah pikiran bukan berarti kamu ‘menjilat ludah sendiri’ atau nggak konsisten. Seperti itulah pikiran manusia. Nggak ada yang tetap, berubah-ubah sesuai situasi, atau kondisi, dan pengetahuannya.”

“Kamu tidak ingin mengecewakan orang lain, tapi malah mengecewakan diri sendiri. Kamu ingin membahagiakan orang lain, tapi diri sendiri tidak bahagia. Itulah orang paling malah di dunia.”

“Kenapa kamu mengorbankan kebahagiaan dan keinginan diri sendiri demi mematuhi semua aturan itu? Padahal kamu bisa pulang dengan tangan kosong atau kembali ke tempat bunga yang sempat kamu pilih di awal tadi. Jangan mati demi mematuhi aturan yang kata dunia harus kamu turuti.”

“Menitipkan atau nggak menitipkan orangtua di panti jompo, pasti ada alasannya. Itulah yang patut didengar. Jika itu untuk kebaikan keduanya, baguslah. Lagian, nggak ada anak yang harus balas jasa ke orangtua. Orangtua juga nggak bisa semena-mena minta balasan kasih sayang pada anak. Itu juga berlaku untukmu, Ayah, atau Ibu. Jangan jadikan beban ya.”

“Mau pergi sejauh mana pun… pergilah. Bahkan jika harus mengelilingi seluruh alam semesta ini, pergilah. Tapi jangan lupa pulang.”

“Jangan didayung sampanmu ke laut lepas saat kamu masih ragu. Jangan berlayar tanpa perencaan dan pertimbangan. Sabar. Tunggu. Tenang.”

“Karena dia merasa cukup dengan hidupnya yang sekarang. Dan lo nggak gitu, Lex. Lo masih kejar pamor agar diakui dan dipuji keluarga. Dia bisa memilih hidupnya sendiri. Lo nggak bisa. Mungkin itu masalahnya.”

“Pernikahan nggak seharusnya membunuh impian. Itu yang kupercayai.”

“Sekarang kamu menjadi insecure dibandingkan sama dia? Maka selamanya kamu akan dikejar oleh ketakutan yang sama. Kamu nggak akan pernah selesai dengan masalah ini. Inhat, Vanesa… kamu akan selalu dibanding-bandingkan dengan siapa pun itu oleh orang lain, pun orang terdekatmu. Nggak akan pernah berhenti sampai kamu mati.”

“Dirimu itu masalahnya. Kamu penentunya. Saat dilempari api oleh orang, kamu malah membiarkan api itu membakarmu. Ya, orang ketawa dong. Tangkis! Jangan sampai api itu melukaimu. Apa yang kita terima, jika itu baik jangan sampai membuat kita terlena. Kalau yang kita terima buruk, jangan biarkan itu membunuh kita.”

“Setiap orang bertahan dengan pilihan masing-masing. Setiap jalan yang dipilih pasti ada salah dan benarnya. Jika berani memilih, berani juga menerima apa pun konsekuensinya.”

“Itu keputusanmu. Berubahlah karena kamu ingin, bukan terpaksa. Berubahlah untuk kebaikanmu sendiri, bukan untuk mendapatkan pengakuan orang lain.”

“Jika seseorang pamit karena sebuah alasan, suatu hari nanti pasti akan pulang dengan alasan yang sama.”

Friday, June 21, 2024

[REVIEW] Under The Kitchen Table

 

Under The Kitchen Table

Desy Miladiana

Gramedia Pustaka Utama

328 Halaman

"Menangis itu bukan aib, Kak Dewa. Dengan menangis kan artinya kamu punya perasaan, jadi wajar kalau laki-laki menangis."

 

Friday, June 7, 2024

[REVIEW] Mel, Melatiku

Mel, Melatiku
Ken Terate
Gramedia Pustaka Utama
384 Halaman

“Lebih baik kehilangan sebagian masa remajamu, daripada kehilangan seluruh masa depanmu. Percayalah sama Bunda.”


B L U R B

Mel, atlet renang cemerlang. Suatu hari ia jatuh cinta pada cowok yang salah. Salah satu fotonya yang “tak pantas” tersebar, menghancurkan segalanya dalam semalam; prestasi, nama baik, keluarga, persahabatan. Mel dikeluarkan dari sekolah, dipecat dari klub, disingkirkan oleh teman-temannya.

Mel depresi. Pertemuannya kembali dengan Ega mengguncang dunia murungnya. Ega juga punya catatan kelam. Ia memaksa Mel keluar dari cangkang gelap, meski Mel takut. Namun, akankah reputasi Mel yang sudah tercabik bisa utuh kembali? Apakah Ega bisa menerima Mel yang pernah tercela? Mungkinkah Mel melompat dan berenang lagi untuk menemukan cinta yang sempat pergi?

- - - - - - - - -

Kehidupan Mel awalnya baik-baik saja, walaupun sedikit membosankan. Apalagi rutinitasnya yang lebih banyak latihan di kolam menjelang lomba, belum lagi ibunya yang kadang berulang kali mengingatkan hal-hal yang sudah dihafalnya di luar kepala. Sampai akhirnya dia bertemu dan berkenalan dengan Axel.
"Berhentilah berpikir bumi berputar mengelilingimu, Mel.” — P. 240
Axel, si anak pindahan yang pertemuannya tidak disengaja. Berawal dari ujian susulan bersama, hingga akhirnya mereka dekat.

Kedekatan mereka sebenarnya ditentang oleh Tantri—sahabat Mel yang dulunya juga pernah jatuh hati pada Axel karna kegantengannya. Sayangnya, Mel berkali-kali juga terjebak pada pesona Axel. Berulang kali lepas dari Axel, berulang kali juga dia kembali. Sampai akhirnya, foto "tak pantas"nya tersebar. Membuat semuanya kacau dan Mel kehilangan kepercayaan dirinya.

Ketika Ega menemukannya, Mel merasa takut. Takut masa lalunya kembali terbongkar. Mel dengan foto yang tak pantas. Bisakah Ega membuat Mel perlahan lepas dari traumanya? Mengingat Ega juga punya catatan buruk yang kurang lebih mirip dengan Mel?


Kembali membaca tulisan kak Ken Terate rasanya kembali ke masa-masa sekolah lagi. Masa-masa bolos bareng temen-temen itu hal yang menyenangkan, pulang sekolah jalan ke mall, dan tentu aja, cinta-cintaan sama lawan jenis.

Kali ini dengan kisah Mel-Axel, pasangan yang cukup banyak tarik ulur dan perdebatan yang menurutku nggak penting. Apalagi untuk cewek sepintar Mel. Meladeni Axel hanyalah menambah masalah baru.

Awal membaca kisah Mel, aku cukup yakin dia ini anak yang pintar, dia juga atlet renang yang dibanggakan orang tua dan sekolahnya. Jadi ya, dia nggak mudah dikadalin sama cowok lah kasarnya. Meskipun dia dididik sama mamanya yang cukup berat, karena dia atlet juga. Kayaknya mamanya juga sedikit ada obsesi jadi atlet ya, karena dari awal dia selalu menekankan untuk jadi yang terbaik, padahal Mel juga sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa.

Sayangnya, Mel terjebak dengan pesona Axel yang cukup manipulatif. Ya ampun, sejak awal Axel chatingan sama Mel dengan segala ke-typo-annya aja udah bikin ilfeel! Nggak cuma itu, sejak awal, Axel ini sudah menunjukkan red flag-nya. Mulai dari nggak begitu suportif pas Mel lomba, kadang suka seenaknya sendiri, suka ngilangan. Kayaknya Axel lebih cewek ketimbang Mel deh.

Seperti biasanya, novel Kak Ken selalu punya pesan moral untuk remaja, apalagi cewek. Seringkali, kita para cewek ini terbuai sama omongan cowok yang kita percaya dan kita sayang. Jadi kita mau melakukan hal yang seharusnya nggak kita lakukan. Tapi di kasus ini, Mel sudah menolak apa yang diminta oleh Axel. Bahkan tindakan Axel juga nggak dibenarkan oleh Mel. Tapi lagi-lagi, kalau sampai ada kasus foto tak pantas yang tersebar, baik disengaja atau enggak, yang dirugikan, dicaci maki, tetaplah si cewek.

Jadi cewek memang nggak gampang, sudah jadi korban, tetap disalahkan. Mel jadi merugi, udah nggak bisa ikut kompetisi, keluar dari sekolah, depresi pula! Aku cukup senang ketika Mel akhirnya bisa berdamai dengan situasi itu. Ketika Mel keluar dari 'cangkang'nya, aku juga ikutan seneng sekaligus lega. Karena paham sekali rasanya pasti nggak nyaman dan terlalu banyak pemikiran tentang penilaian orang lain.

Nggak hanya tentang kenakalan remaja, tapi Kak Ken juga menyelipkan kisah tentang keluarga. Bagaimana keluarga Mel, bagaimana sikap Ibunya yang cukup kompetitif dan selalu membahas tentang pentingnya sebuah lomba, dan kemenangan. Bagaimana keluarga Ega yang ternyata cukup berbeda dengan keluarga Mel. Masalah remaja lainnya tentang pembullyan juga diselipkan di sini. 

Aku suka dengan penyelesaian masalah yang cukup berani dari Mel dan juga korban lainnya. Tidak mudah, tapi langlah yang mereka ambil bisa menjadi contoh. Mungkin korban di luar sana juga tidak selalu memiliki keberanian sebesar Mel, atau dorongan dari lingkungannya seperti Mel. Semoga setelah ini, akan lebih banyak lagi orang yang peka terhadap hal-hal yang dialami Mel.

Tokoh favoritku di sini adalah Bulik Esti. Menurutku dia ini sangat open minded dengan masalah yang dihadapi Mel. Mel melakukan kesalahan, tapi dia nggak semata-mata ngejudge gitu aja. Malahan Bulik Esti yang membantu dia keluar dari pertanyaan keluarganya. Papanya Mel juga salah satu favoritku. Awalnya aku cukup kesel sih, karena dia kebanyakan diem aja. Mamanya marah-marah, nggak menengahi, atau ngebela gitu. Tapi di saat yang tepat, papanya bisa jadi papa yang baikkkk dan suportif sebagai suami juga.

Last, pesanku untuk para cewek baik yang masih remaja atau sudah dewasa, jangan sampai terlena sama omongan manis cowok ya. Kadang omongan manis mereka itu cuma untuk mendapatkan apa yang mereka mau aja. Jaga diri baik-baik!


From the book...
"Orangtua, sebaik apa pun, tetap saja orangtua. Mereka tidak akan pernah menjadi teman.” — P. 51

“Kalau komitmen itu membuatmu mengingkari hati nuranimu, itu namanya kemunafikan. Kapan kita bersenang-senang kalau begitu?” — P. 61

“Asal dia nggak kayak gitu lagi. Ingat, minta maaf itu sama dengan menyesal dan nggak mengulangi. Kalau ngulangin, itu namanya doyan.” — P. 85

“Lebih baik kehilangan sebagian masa remajamu daripada kehilangan seluruh masa depanmu. Percayalah sama Bunda.” — P. 88

“Yang penting adalah kamu. Kamulah yang paling tahu mengenai dirimu, apa yang kamu rasakan, apa yang kamu inginkan. Selama kamu bisa berdamai dengan ini semua… itulah yang penting.” — P. 209

“Kamu juga bisa mati kalau jatuh. Tapi risiko itu patut ditempuh agar kamu bisa menikmati enaknya berjalan. Aku akan memastikan kamu tidak tenggelam.” — P. 250

“Kami semua tujuh belas tahun, sudah punya KTP, sudah bisa memilih presiden, tetapi tak ada yang memandang kami sebagai manusia utuh. Keinginan kami tidak penting, keputusan kami pasti tidak bijak, dan kami tak mengerti apa-apa. Kami diharapkan untuk mengambil jalan yang sudah mereka rancang; sekolah, kuliah, kerja.” — P. 259

“Mel, kalau bisa, Papa juga tinggal di rumah saja, nggak masuk kerja, atau pindah kantor. Tapi nggak bisa gitu. Hidup terus berjalan dan kamu harus melakukan apa yang harus kamu lakukan, meski berat.” — P. 270

They were young. And aren’t we all fools when we were young? Itu satu-satunya kesempatan kita buat berkonyol-konyol. Aku dulu juga. Bukannya aku mendorongmu untuk itu. Aku cuma bilang, itu semua akan berlalu dan nggak akan berdampam apa-apa buat dirimu begitu kamu mau bangkit.” — P. 279

“Kita semua melakukan kesalahan, Mel, dan semua kesalahan akan dimaafkan asalkan kamu punya sisi baik yang lain.” — P. 279

“Menulis itu satu hal, tetapi menerbitkan media cetak itu hal lain. Aku nggak ngerti manajemen. Aku hanya punya semangat, tapi nggak punya kemampuan. Modalku nggak balik, malah akhirnya berutang.” — P. 285

“Setiap orang punya sisi gelap, Mel. Semua orang punya pikiran-pikiran sendiri yang rumit dan tak akan pernah dimengerti orang lain.” — P. 288

“Semua akan baik-baik saja. Jangan pernah berpikir hidupmu sudah berakhir karena hidupmu sangat berarti. Kamu berarti, minimal untuk keluargamu. Dan Serena. Dan aku.” — P. 295

“Tapi semua akan berlalu. Pada akhirnya. Suatu hari kamu akan bangun dan tak akan sakit lagi. Percayalah padaku. Aku pernah mengalaminya.” — P. 312

“Hei, kenapa orang menggurat celana jins mereka? Atau membuat perabot rustic? Karena yang rusak pun bisa jadi cantik, Mel.” — P. 337

Jangan biarkan itu mendefinisikan dirimu. Beberapa atlet pernah terlibat skandal, kasus doping, atau apalah, tetapi mereka bisa kembali dengan prestasi luar biasa. Semua orang pernah berbuat salah, tapi kesalahan itu hanya bagian kecil diri mereka, kan?” — P. 361

“Jalanan terbentang di depan kami. Seperti masa depanku. Masa depannya. Terkadang akan ada batu, atau orang sinting yang nyelonong sembarangan, tapi kami bisa menghadapinya. Aku pernah kehilangan, tetapi saat ini, sungguh aku memiliki segalanya.” — P. 381