Sunday, March 15, 2026

[REVIEW] Love Risk Management

Love Risk Management
Helen Tanuwan
Pastel Books
244 Halaman

“Secara scoring, Rad mungkin mendapatkan kategori Grey, alias harus ditelaah lebih lanjut kelayakannya atau bahkan Black alias tidak layak. Namun, apa iya semua hal bisa dianalisis logika? Benarkah definisi nyaman itu kadang sulit diterima oleh akal?”


B L U R B

Atisha menjalani hidupnya dengan hati-hati. Sebagai seorang analis kredit di sebuah bank, dia terbiasa menganalisis segala sesuatu, dan tahu betapa sebuah risiko kecil yang tidak diantisipasi bisa menimbulkan masalah luar biasa besar. Apalagi Atisha adalah tulang punggung keluarga, she cannot afford making mistakes. Karena itu, dia selalu menimbang risiko dan memilih jalan aman agar hidupnya baik-baik saja.

Tetapi, nasib memang suka mempermainkan hidupnya. Akibat kecurangan mantan atasannya, Atisha harus bertanggung jawab atas kredit macet Bakmi Aman—salah satu debiturnya. Siapa sangka, hal itu justru mempertemukannya dengan Rad—si lelaki serampangan.

Jatuh cinta kepada Rad? Jika ini adalah pengajuan kredit, maka 100% Atisha akan menolaknya. Namun, memutuskan hal yang berhubungan dengan hati, tidak semudah itu. Saat logika menolak, di situlah hatinya akan berkata lain. Lantas, haruskah Atisha melupakan logika dan mengikuti kata hati yang sama sekali tidak sesuai dengan prinsip hidupnya?

- - - - - - - - - 

Atisha–seorang analis kredit yang berusaha menjalankan kehidupannya dengan hati-hati, menghitung setiap kebutuhan dan pendistribusian gajinya dengan baik. Apalagi dengan background pekerjaannya membuatnya tau pasti kalau hidup ini nggak bisa main-main.
“Fenomena ginian, tuh, banyak emang. Dari sahabat jadi saingan demi memperebutkan cuan. Ujung-ujungnya malah sikut-sikutan.” — P. 53
Satu kesalahan kecil atasannya di masa lalu, membuatnya harus bekerja keras untuk kredit macet Bakmi Aman, salah satu debiturnya yang mendadak sakit. Nggak hanya harus mengetahui penyakit yang diderita pemiliknya, tapi Atisha juga kembali bertemu dengan Rad, teman semasa kuliah dan juga latar belakangnya.

Bisakah Atisha membuat status kredit Bakmi Aman kembali lancar? Ataukah seharusnya dia menyerah saja, mengingat kesalahan ini terjadi di masa lalu?


Setiap pekerjaan selalu punya risikonya masing-masing. Termasuk Atisha sebagai analis kredit. Walaupun dia tau kondisi dari data yang diberikan calon debiturnya, Atisha tetap harus mengecek ulang, memperhitungkan kembali segala kemungkinan terburuk calon debiturnya. Sayangnya, di masa lalu, karena kesalahan atasannya, Atisha kini kena imbasnya. Bakmi Aman yang mendadak kreditnya macet.

Selama membaca, banyak banget insight tentang dunia perbankan, khususnya istilah perkreditan. Jadi berasa balik ke jaman kuliah yang ngbahas matkul keuangan!

Mengangkat tema tentang kekurangan fisik yang dialami Atisha karena masa lalunya, bagaimana perlakuan ibunya terhadap Atisha, tingkah ibunya Atisha. Sebenernya cukup berat juga lho jadi Atisha ini, terbiasa dengan sikap ibunya yang kadang bikin ngelus dada, nggak jarang Atisha ini udah kayak ATM berjalan. Tapi belakangan, aku jadi tau alasan kenapa ibunya bersikap demikian. Atisha ini juga tipe pekerja keras, tapi sayangnya terlalu workaholic menurutku. Tipe yang nyebelin memang. Kalo aku punya temen kerja kayak Atisha, aku mungkin kesel juga.

Sementara Rad, dia ini tipe cowok gemes yang bikin hati ketar-ketir, soalnya dia tipe nice guy gitu, baik ke semua orang. Jadi pas dia melakukan hal baik ya emang dikiranya modus aja gitu. Nggak cuma itu, tapi dia ini punya semangat yang membara, dan ringan tangan. Walaupun masa lalunya cukup buruk, tapi Rad bisa dengan dewasa melihat ini semua.

Buatku, Love Risk Management ini nggak cuma masalah kredit macet aja, tapi juga banyak sekali pembahasan tentang keluarga, pasangan, orangtua. Lengkap dan menarik banget. Mengingatkan lagi kalo kerja bener-bener harus teliti, supaya kejadian Atisha nggak terulang di kita.



From the book…
“Fenomena seperti inilah yang paling bikin keki! Ketika ditagih, si peminjam justru congkak, sementara si pemberi pinjaman malah terkesan seperti pengemis.” — P. 16

“Sementara sisanya bilang, aku hanya cari muka. Masa bodoh. Selama tidak merugikan orang lain, artinya tidak masalah. Bukan juga kewajibanku menjelaskan alasan sesungguhnya kepada semua orang.” — P. 23

“Pernah gue coba rapiin. Rasanya kayak ada yang janggal aja. Kadang-kadang … definisi kenyamanan suka aneh-aneh, kan?” — P. 53

“Fenomena ginian, tuh, banyak emang. Dari sahabat jadi saingan demi memperebutkan cuan. Ujung-ujungnya malah sikut-sikutan.” — P. 53

“Ada hal-hal yang yang terjadi di luar kehendak kita. Enggak usah dengerin orang lain. You’re more than enough. You matter. Jadi, lo enggak perlu malu, Atisha. Kalau lo aja enggak bisa mencintai diri lo sendiri, terus siapa lagi?” — P. 76

“Seperti yang pernah kubilang, jika pengalaman memilikinya saja nihil, kita tidak akan merasa terlalu kehilangan.” — P. 115

“Hidup udah susah, jadi mending dibawa nge-chill, Sha. Gue juga baru sekarang-sekarang aja kali bisa kayak gini. Sebelumnya pas masih labil sih boro-boro.” — P. 126

“Secara scoring, Rad mungkin mendapatkan kategori Grey, alias harus ditelaah lebih lanjut kelayakannya atau bahkan Black alias tidak layak. Namun, apa iya semua hal bisa dianalisis logika? Benarkah definisi nyaman itu kadang sulit diterima oleh akal?” — P. 155

“Kalau dipikir-pikir, anak kecil adalah makhluk paling pemaaf. Disakiti bagaimanapun oleh orang terdekat, mereka akan tetap mendekat.” — P. 207

“Pernah, Bu. Namanya juga anak-anak. Ibunya yang selalu jelaskan. Dunia tanpa suara itu bukan dunia yang sepi. Mina masih bisa lakuin banyak hal lain.” — P. 223

“Setelah berbagai hal yang menjungkirbalikkan hidup belakangan ini, aku justru merasa lebih ringan. Lebih lepas. Lebih bahagia. Karena ternyata, penerimaan diri sanggup memulihkan sesuatu yang tadinya separuh, kembali utuh.” — P. 244


No comments:

Post a Comment