Showing posts with label BIP Gramedia. Show all posts
Showing posts with label BIP Gramedia. Show all posts

Sunday, July 26, 2026

[REVIEW] Misteri Tangisan di Kelas Enam

Misteri Tangisan di Kelas Enam
Denkus
BIP Gramedia

“Hm, manusia yang sudah mati itu akan pergi ke alam lain. Mereka sudah nda punya urusan lagi sama dunia kita. Kalau hantu yang kita lihat berwujud orang yang sudah mati, menurut yang Bibi dengar sih, itu ulah jin. Jin khodam namanya, yang menjelma menjadi orang yang kita kenal.”

Sunday, May 24, 2026

[REVIEW] Hingga Hilang Pedih Peri

Hingga Hilang Pedih Peri
Akaigita
Bhuana Sastra
276 Halaman

“Setidaknya, itu cara seseorang pemimpin terlihat berwibawa di mata saingannya. Memiliki rakyat yang sepenuhnya tunduk, entah karena cinta atau rasa takut, kepada kita. Itu memberi ilusi kekuatan dan pengaruh yang besar.

Sunday, March 8, 2026

[REVIEW] Pelarian Dua Arah

Pelarian Dua Arah
Olen Saddha
Bhuana Sastra
184 Halaman

“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.”


B L U R B

Ini kisah tentang Bia dan Saga, dua anak manusia yang masing-masing berlari menjauh dari dunia yang penuh tuntutan dan larangan. Bia dengan cita-citanya yang dikubur paksa oleh pacar dan ibunya sendiri, Saga dengan tuntutan pacarnya untuk memikirkan masa depan dan karier.

Lewat gedung pertunjukan dan panggung teater, keduanya sepakat berhenti sejenak untuk menemukan diri mereka sendiri di sana.

- - - - - - - - - 

Bagi Bia, teater dan puisi adalah dunianya. Sayangnya, Gora–pacarnya dan Bu Desy–ibunya sangat tidak menyetujui hal tersebut. Bagi Bu Desy, menjadi aktris adalah hal yang sia-sia, mengapa tidak melakukan hal lain saja? Menjadi pengusaha misalnya? Apapun, asalkan jangan menjadi aktris.
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42
Sementara bagi Saga, saat ini keluarganya lah yang paling utama. Kehilangan Ayah, membuat dia mau tak mau menjaga yang ada, Ibu dan Nolan–adiknya. Saat ini, kuliahnya masih tidak begitu jelas kapan akan selesai, tapi prioritasnya adalah membantu Ibu dan adiknya hidup lebih layak.

Di gedung pertunjukkan, keduanya dekat dan saling berbagi cerita. Lewat teater juga, mereka saling membagi impian mereka. Bisakah mereka akhirnya menyelesaikan masalah mereka masing-masing?


Pelarian Dua Arah sudah menjadi buku incaranku ketika aku nggak sengaja buka websitenya Bhuana Sastra. Aku kira, awalnya ini tentang toxic relationship yang rumit dan nggak menemukan titik terangnya. Yang orang-orangnya menyebalkan gitu. Ternyata enggak.

Tentang Bia dan Saga yang simply hanya ingin menikmati ‘waktu’ mereka masing-masing. Bia dengan dunia teaternya, mimpi masa kecilnya, harus berjalan beriringan dengan larangan ibu dan pacarnya, belum lagi ada beberapa kejadian yang nggak mengenakkan yang harus diterimanya dari Gora.

Sementara Saga, tidak hanya harus berjuang untuk menggantikan posisi ayahnya yang meninggal, dia juga harus memenuhi ekspektasi Ava—pacarnya yang sejak bekerja menjadi punya banyak tuntutan untuk Saga. 

Di awal aku sempat bertanya-tanya, sebesar apa sih kesalahan ayahnya sampai-sampai ibunya Bia kok melarang Bia mati-matian ke teater, bahkan Bia juga harus diam-diam kalau ada kebutuhan untuk teater. Setelah tau gimana kelakuan ayahnya Bia, aku juga ikutan kesel setengah mati. Kok bisa sih ada orang yang pikirannya tuh cupet banget. Kenapa nggak dia memilih untuk bekerja keras membuktikan bahwa dia bisa sukses di dunia teater? Kenapa malah milih jalan yang ampun Tuhan… nggak sanggup lagi aku.

Kisah Saga-Bia ini menurutku sering kita temui di kehidupan sehari-hari, Saga yang lebih memilih memendam, tapi pas ketauan kaget juga. Bia yang serba ‘aku’ dan berusaha mewujudkan mimpinya. Tapi dibalik itu semua, aku cukup kagum sama Bia. Ketika dia sudah menargetkan sesuatu, dia bener-bener mati-matian juga untuk mendapatkan hal itu. Walaupun banyak rintangan, itu nggak menyurutkan Bia. Kalau Saga, aku suka ketenangannya. Cara dia menyikapi suatu masalah, top banget. Menurutku, Ibunya berhasil membesarkan dan mendidik Saga.

Pelarian Dua Arah buatku nggak cuma tentang kehidupan remaja, tapi juga pelarian yang manis. Kukira buku ini bakalan tebal, ternyata tipis dan hangat sekali. Setelah baca, aku senyum-senyum barengan sama Bia-Saga.


From the book…
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42

“Katanya kita harus tahu apa tujuan hidup kita. Tapi begitu tahu, hidup seolah menjauhkan kita dari tujuan itu.” — P. 50

“Katanya kita harus jadi manusia yang sederhana. Tapi nyatanya hidup nggak pernah berpihak pada siapa pun yang memilih hidup biasa-biasa saja.” — P. 51

“Impianku jadi aktris juga timbul-tenggelam. Bahkan aku nggak yakin itu bisa terwujud atau nggak. Tapi, adanya impian itu bikin aku ingat kalau aku masih hidup di dunia. Dan selama masih hidup, yang namanya rintangan nggak akan pernah ada liburnya, kan?” — P. 51

“Katanya, kadang kita harus menyayangi orang yang salah dulu sebelum menemukan orang yang telat. Kamu percaya?” — P. 60

“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.” — P. 159

“Sebetulnya mereka tidak benar-benar yakin, apakah mereka telah melakukan sebuah pelarian atau tidak. Namun, jika memang demikian, berlari berdua membuat mereka sadar, inilah pelarian paling indah untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya.” — P. 174

Sunday, February 1, 2026

[REVIEW] It Was Until It Wasn’t

It Was Until It Wasn’t
Tipluk
Bhuana Sastra
320 Halaman

“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” 


B L U R B

It was love until it wasn’t.
It was pain until it wasn’t
It was hope until it wasn’t.
It was enough until it wasn’t.
 
Dimas tenggelam dalam luka cinta pertama yang membuatnya mencari penyembuh di mana-mana. Sementara Alana justru berusaha percaya bahwa luka cinta pertama tidak akan menghalanginya menemukan cinta yang lain.
 
Luka membawa mereka bertemu sebagai President dan Producer di Pelita Jaya Radio. Dari ruang siaran itu, dua orang yang terluka berusaha menemukan bahagia dari pertemuan mereka. Namun, ada yang hanya coba-coba dan ada yang benar-benar jatuh cinta.

- - - - - - - - - -

Dimas seorang President di Pelita Jaya Radio yang dikenal Tukang Ngalus Nasional. Entah sudah berapa cewek yang jadi ‘korban’nya. Giani, Vice President-nya sudah tidak tau harus komentar apalagi saking banyaknya korban yang berjatuhan, tidak terkecuali Alana. Anak baru sekaligus ‘anak’ Giani.
“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189
Bagi Alana, kehidupan akan baik-baik saja, selama dia berusaha untuk berbuat baik. Alana bisa dibilang tidak punya teman dekat yang dekat sekali. Masa SMA yang cukup buruk, membuat Alana menutup diri, berprasangka buruk bila berteman.

Kali ini, Alana sudah bertekad, di masa kuliahnya ini, dia mau membuka diri dan mencari teman, tidak lagi seperti Alana yang dulu. Dengan diterimanya dia di Pelita Jaya Radio, Alana berharap dia bisa mencari dan memiliki teman. 

Tapi kalau harus dekat dan dimentori Dimas dengan segala perlakuan yang bisa bikin jantung Alana berdebar-debar, Alana harus bagaimana? Di sisi lain, Dimas juga sangat menikmati waktunya bersama Alana. Bersama Alana, semuanya seakan baik-baik saja. Tapi apa iya semuanya seperti yang diharapkannya?


Dimas Aidan, tipe cowok-cowok kuliahan yang nggak cuma ganteng, tapi mulutnya bikin kita jatuh cinta sama dia. Seperti cowok yang suka tepe-tepe, Dimas nggak pernah serius. Dia cuma butuh ditemenin aja sebenernya. Menyibukkan diri di PJR masih belum cukup untuknya.

Sampai saat kedatangan Alana, Dimas lumayan ketar-ketir, karena dia mengingatkannya sama sosok yang sedang jauh darinya. Bisa dibilang, Alana hampir mirip sama ‘dia’, yang namanya nggak boleh disebut di PJR, atau Dimas bakalan langsung sewot.

Sejak awal bab dan ketemu Dimas, aku kesel banget. Ralat. KESEL BANGET!!!! Aku nggak suka cowok yang tebar pesona soalnya. Kebanyakan dari mereka pasti player. Pasti suka main-mainin cewek. Dan bener aja, Dimas juga suka mainin cewek kan? Bahkan ada dari mereka yang sampe bete banget, bahkan mengundurkan diri dari jadwal demi nggak ketemu Dimas.

Tapi hebatnya Alana, dia bisa ‘menjinakkan’ Dimas. Nggak jinak yang bener-bener nurut sih. Tapi Dimas jadi lebih hidup aja. Ada kegiatan yang bisa membuat Dimas mengalihkan perhatiannya dari kesuntukan. Di sisi lain, Alana sebenernya juga punya luka sendiri. Kecentok sama cinta pertamanya yang bikin dia kehilangan banyak teman, bikin Alan bertekad untuk mencari teman aja. Minimal dia punya temen aja. Apalagi masa kuliah, kan masa yang lebih menyenangkan ketimbang SMA.

Selama baca, aku mencoba cari tau kenapa Dimas sebenernya, kesakitan apa yang ditinggalkan sama orang sebelumnya. Karena di bagian Alana diceritakan semua, sementara Dimas enggak. Bener-bener gemes banget deh sama Dimas.

Alur yang dipake maju mundur dan cukup lambat. Aku sempet agak capek bacanya. Plusnya menceritakan dari sisi Alana dan Dimas dari sudut pandang ketiga. Pembahasan tentang dunia radionya juga oke banget. Sangat mendetail, dan juga dijelaskan. Seru deh, kecuali Dimas. Konflik di sini cukup complicated. Nggak cuma batin, tapi juga mulut-mulut tetangga ini bikin setres kataku.


From the book…
“Ih, aku masih butuh banyak belajar, kok. Aku malah kagum banget sama kamu. Kamu itu orang paling berani yang aku kenal. Kamu nggak pernah bikin luka kamu sebagai halangan buat tetap jadi orang baik. Aku berharap aku seberani kamu, sih, Al.” — P. 38

“Nggak boleh gitu. Nanti kalo kamu mau sesuatu, kamu harus bilang. Kalo kamu nggak mau, juga harus bilang. Kamu berhak milih dan memperjuangkan, Al. Inget itu, ya?” — P. 38

“Lo ngerasa juga nggak sih, kadang kita seneng inget-inget masa lalu karena nggak suka sama masa sekarang?” — P. 76

“Raska, when you put her happiness first, that’s what is called love.” — P. 83

“Hatinya selalu merasa bahwa cinta tidak mungkin mudah untuk dia dapatkan karena sebelumnya kemudahan itu berakhir dengan perpisahan. Yang Alana kenal hanya cinta yang menyakitkan, cinta yang membuatnya berkorban dan berjuang untuk orang lain. Cinta harusnya seperti apa yang ia rasakan kepada Dimas.” — P. 104

“Kamu tuh kayak adlibs. Aku cuma kasih tanda sedikit, tapi kamu improve-nya begini banget.” — P. 105

“Sayang, pada akhirnya semua orang juga punya kehidupan masing-masing alaupun udah punya pasangan. Lo juga futsal nggak sama gue, kan? Lo freelance nggak sama gue, kan? Tapi, bukan berarti kita pisah, kan?” — P. 133 to 134

“Pak, cinta itu nggak egois. Cinta itu harusnya membawa damai dan kebaikan. Cinta itu bertemu di tengah.” — P. 135

“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189

“Ya, tapi gimana? Susah buat nolong orang yang nggak mau ditolong.” — P. 190

“Gimana pun Dimas itu sama Mbak RL, Al. Dan yang lo lakuin itu salah. If you can’t understand it, then I can’t help you.” — P. 197

Hurt people may hurt people, but they can choose not to. Selamanya lo nggak akan pernah sembuh kalo lo cari obatnya di orang lain.” — P. 203

I know the love is still there, but I can’t live with someone who doesn’t respect my feelings. Punya trauma dan nggak ngehargain orang lain adalah dua hal yang berbeda.” — P. 211

“Kadang luka itu nggak bisa sembuh karena kita belum bisa nerima. Nerima kalo hal buruk itu terjadi, nerima hubungannya nggak bisa bertahan lagi. Susah sih, tapi mungkin cowok lo belum sampai tahap acceptance aja.” — P. 212

If you love something, set it free. Percuma lo paksain kalo malah nyakitin. Love will always find its way, Rev.” — P. 214

“Kadang aku kayak liat aku yang dulu di Masdim. Sendu, kesepian… dan aku ngerasa nggak semua orang bisa lihat itu karena mereka selalu anggap kamu sempurna tapi suka nggak bisa berkomitmen aja. Padahal kamu cuman butuh ditemenin sama orang yang tepat. Mungkin karena kamu juga pernah kehilangan, jadi kamu lebih susah nerima orang di hidup kamu.” — P. 257

“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” — P. 263

“Saya nggak mau kamu intervensi hidup Dimas lagi. Biarin aja kalo dia emang harus hidup seperti ini terus-menerus. Kamu boleh cinta, Bu, tapi nggak boleh membabi buta.” — P. 263

Sunday, January 11, 2026

[REVIEW] How To Be Popular in High School

How To Be Popular in High School
Reytia
Bhuana Sastra
222 Halaman

"Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.”


B L U R B

Isa yang dulu cupu dan terkucil saat SMP men­coba peruntungannya di SMA 743. Tujuannya satu: men­jadi cewek populer! Ia pun mendaftar di ekskul dance, tempat para cewek populer dan elite ber­kumpul. Namun, sialnya, Lexy, si ratu sekolah yang dulu mengucilkannya saat SMP, juga men­daftar di ekskul yang sama. Ditambah lagi ekskul dance terkenal dengan ploncoannya yang gila-gilaan.

Namun, Isa pantang menyerah! Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya juga layak diper­tim­bangkan dalam jajaran cewek populer di sekolah. Mulai dari tampil di depan senior, sampai pasang muka manis walau hati gondok berat. Bisakah Isa memanjat dinding terjal menuju popularitas?

- - - - - - - - - -


Banyak yang bilang, kehidupan masa SMA tuh masa-masa yang menyenangkan. Masa yang harus banget dinikmati, apalagi umur pas SMA tuh pas banget lagi nakal-nakalnya, jatuh cinta yang kerasa beneran, nggak lagi disebut cinta monyet.

Isa juga punya tekad yang sama. Memilih nggak melanjutkan sekolah di yayasan yang sama, bahkan sampe merubah potongan rambutnya, merombak gayanya habis-habisan supaya bisa populer. Tujuannya jadi anak populer. Nggak dikucilkan lagi.
“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.”— P. 80
Sayangnya, nggak demikian, berawal dari temen sebangku yang nggak keren-keren amat, teman belakang bangkunya yang kadang judes. Tapi tetep nggak menyurutkan keinginannya untuk jadi populer. Dia bisa aja masuk ke ekskul dance, dengan segala risiko peloncoannya yang aneh-aneh. Hanya saja, mimpi buruknya bener-bener tiba. Lexy, mimpi buruknya semasa SMP datang dan masuk di ekskul yang sama. Bisakah kali ini Isa menjadi populer seperti keinginannya dulu?


Membaca How to Be Popular in High School mengingatkanku di masa-masa SMA. Sama seperti Isa, aku juga mau kumpul jadi anak populer lho. Sudah bertekad kalau bakalan mencari teman baru di SMA, dan jadi anak keren. Tapi nyatanya, aku juga kumpulnya sama anak yang biasa-biasa aja, bukan anak basket, dance atau anak band. Ya gimana ya, aku juga sadar diri, pas SMA tuh aku masih jadi anak alay gitu deh. Cuma hobinya haha hihi sana sini.

Pernah dibully di SMP, kehidupan orangtua yang biasa aja, tentu ini cukup membuat Isa bimbang. Haruskah kayak begini dilaporkan ke orangtuanya? Harusnya kan nggak perlu, sudah cukup mereka bekerja keras aja kan?

Pas baca momen Isa masuk SMA dan mengambil jarak dari Tari, Nanda, dan Olen, aku agak kecewa sih. Karena nggak beda dong Isa dengan teman-temannya dulu? Nggak potensial untuk bikin dia populer kan nggak berarti harus diberi jarak? Lagian nyari temen populer kayaknya juga nggak segampang itu deh. Mendingan membaur ke banyak orang, kan?

Momen perploncoan itu bener-bener ngegambarin masa-masa SMAku dulu deh. Pas baca aku langsung berasa balik ke jaman OSPEK dan cari-cari ekskul. Paham banget sih gimana ditatarnya anak dance tuh. Soalnya memang butuh stamina yang kuat kan? Tapi Galactic agak keterlaluan sih.

Tokoh favoritku di sini adalah Olen, soalnya dia mirip aku banget. Kalo ngomong nyeplos, padahal niatnya baik. Hehe. Yang kedua, Vanya, sebagai senior, dia nggak memakai senioritas untuk melakukan plonco hal-hal yang nggak berguna. Love banget! Malahan dia selalu ngebela Isa, ngebantuin dia kalo memang ada kesulitan. Terakhir ada Galang, baik banget ini orang ya. Tegas banget, bener-bener menjalankan perannya sebagai anak MPK dengan baik. 

Last, suka sekali baca How to Be Popular in High School ini. Selain ceritanya deket sama kita secara konflik, bahasanya juga enak banget, mengalir. Aku berhasil baca ini dua jam aja. Seru banget soalnya. Jadi kepengen baca tulisan kak Reytia yang lain.


From the book…
“Dunia orang-orang sukses itu keras. Jika seseorang sudah tidak berguna, ia akan dibuang dan dijatuhkan. Ia harus selalu waspada dan memiliki banyak teman yang bisa membantu saat kesulitan.” — P. 32

“Lagi pula, hidup adalah tentang uang dan kekuasaan.” — P. 32

“Gue ngerti sih jadi anak yang populer itu emang asik. Tapi, buat jadi populer enggak harus lewat ekskul ini juga bisa, kali. Emang enggak ada cara lain, apa. Daripada lo di sini ditinggal-tinggal enggak jelas terus, mending lo cari tempat lain yang orangnya lebih waras enggak, sih?” — P. 76

“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.” — P. 80

“Gue enggak suka orang yang menyisihkan orang lain. Termasuk orang-orang yang memakai identitas eksklusif di sekolah, itu gue juga enggak suka. Biar apa sih? Biar keliatan kebih keren daripada anak-anak lainnya?” — P. 87

“Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.” — P. 114

“Lo itu orang baik, Isandra. Apa yang membuat lo berpikir kalau lo enggak layak mendapatkan teman yang baik?” — P. 144

“Bukannya lebih serem kalau kita enggak punya sikap cuma untuk disukai sama orang lain, ya? Semakin kita punya sikap, semakin besar kemungkinan kita enggak disukai orang lain, dan gue udah siap. Harus ada yang berubah dari keadaan sekolah ini, Sa.” — P. 157

“Obrolannya dengan Galang menyadarkan Isa bahwa ia masih punya banyak pilihan panggung untuk tempatnya bersinar. Untuk menuju ke sana, ia hanya perlu mulai dari satu hal: mencintai dirinya apa adanya.” — P. 166

Monday, September 8, 2025

[REVIEW] Bebas Tanggungan


Bebas Tanggungan
Reytia
Bhuana Sastra
276 Halaman

“Jangan terlalu keras sama diri kamu juga, Saf. Tanggung jawab kamu saat ini memang besar, tapi bukan berarti kamu nggak berhak bahagia."


B L U R B


Katanya, kerja di e-commerce enak karena gajinya besar, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Safira yang harus merelakan lebih dari setengah gajinya untuk membayar utang keluarga dan biaya hidup adiknya. Capek karena harus berhemat, capek hati juga karena melihat teman-teman sekantor yang hidupnya sudah jauh lebih sejahtera. Safira ingin hidup bebas tanggungan!


Lalu, muncul ide cemerlang dari Marla, sahabat Safira. Kenapa nggak cari calon suami kaya, supaya hidup Safira ada yang nanggung? Akankah Safira mendapatkan kelegaan finansial yang ia harapkan atau hidupnya justru lebih rumit?


- - - - - - - - - - -


Memiliki pekerjaan dengan gaji besar tentu saja sangat membanggakan. Apalagi umur Safira masih muda, pasti menyenangkan sekali. Kenyataannya jelas berbeda, Safira harus merelakan sebagian besar gajinya untuk membayar utang keluarga dan biaya sekolah adiknya. Yang tersisa untuknya ya hanya cukup membiayai kebutuhannya sehari-hari. Tidak ada yang namanya membeli barang-barang yang tidak perlu. Dikit-dikit self reward seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.

"Ya makanya, cari pacar. Short term win-nya, kalau jalan lo dibayarin makan atau nonton. Long term win-nya, kalau cocok, lo nikah. Hidup lo dibayarin dia. Spare duit lo jadi banyak, utang cepet beres. Lo cepet punya tabungan. Terus hidup bahagia selamanya, deh." — P. 31

Marla—salah satu sahabatnya, selalu menyuruhnya untuk mencari pacar yang kaya. Masalanya, gimana mau nyari pacar yang kaya, kalau kehidupan Safira aja diirit sebisa mungkin. Menjalin hubungan, bukannya akan menambah biayanya untuk makan di luar atau nonton bioskop? Kan mendingan disimpan! Tapi gimana kalau salah satu cowok cakep di kantornya mendekatinya? Apakah Safira akan membuka hati perlahan?



Waktu awal aku dapat gaji pertama, rasanya tuh seneng banget! Apalagi dulu gajinya udah di lumayan di atas UMR. Seneng banget, mulai agak boros dikit berkedok, "Dulu sama ortu nggak dibolehin beli!" dan tentu aja gampang kalap sama hal-hal lucu di e-commerce. Tapi ternyata, nggak semua orang sama kayak aku.


Safira nggak begitu, dia harus menyisihkan untuk bayar hutang yang ditinggalkan ayahnya, dan biaya kuliah adiknya. Yang didapatkan selama kerja ini kurasa hanya hikmahnya aja. Safira juga punya dua sahabat di kantor, ada Marla dan Eveline. Keduanya, terutama Marla, getol banget mencarikan Safira pacar dengan kriteria utama: harus kaya! Supaya safira sedikit terbantu, sedikit menikmati hidup. Sahabat yang cukup baik ya?


Membaca kisah Safira ini berasa kayak ngeliat temen sendiri, hidup emang nggak selamanya mudah, tapi masa iya cowok mapan adalah jawabannya. Menurutku sih enggak, belum tentu cowok ini juga peduli sebesar yang kita harapkan. Nah, pas Safira dikenalin sama salah satu anak kantornya yang cukup oke, aku langsung merasa cowok ini terlalu too good to be true. Memang ada cowok yang banyak action ketimbang ngomong, tapi ini terlalu mencurigakan. Waktu ditanyain keluarga, nggak begitu banyak cerita, ditanyain masa lalu, jawabannya agak ngambang. 


Deket sama cowok itu menurutku perlu waktu yang cukup panjang, untuk bener-bener kenal dia luar dalam. Malahan lebih enak kalau awalnya dari temen, meskipun kalo udah begini ya mending tetep berteman aja. Kenapa perlu waktu yang cukup panjang? Soalnya mengulik sifat seseorang itu nggak gampang, nggak selamanya apa yang ditunjukin ke kita tuh sama kayak dia yang sebenarnya, bisa aja dia manipulatif, suka mukul atau suka bohong. Bener kata orang jaman dulu, bibit, bebet, bobotnya harus pas.


Persahabatan antara Eveline, Marla, dan Safira juga menyenangkan, mereka selalu ada satu sama lain, siap support satu sama lain. Meskipun sifatnya Marla ini agak ngeselin ya, karena dia anak yang terlahir di keluarga yang berkecukupan, dia jadi menganggap Safira selalu salah aja, kasian aja. Menurutku, sifat Marla ini ya normal sih. Aku sendiri juga kadang ngerasa temenku yang jadi sandwich gen ini kasian ya, harusnya kan mereka bersenang-senang juga, tapi aku lupa, kehidupan keluarganya juga nggak berada di garis yang sama kayak aku. 


Nggak cuma tentang pencarian cowok dan persahabatan aja, tapi juga banyak membahas tentang keluarga. Awalnya, aku juga agak kesel sama kakaknya Safira, adiknya juga. Tapi setelah baca lebih dalam lagi, ternyata mereka ini butuh berkomunikasi, biar nggak salah paham terus. Biar semua uneg-uneg yang mau disampaikan, bisa tersampaikan dengan jelas.


Suka sekali dengan penyelesaian masalah Safira. Bener-bener semuanya butuh komunikasi, dan cari cowok mapan bukan solusi supaya nggak jadi sandwich generation. Hihi..



From the book...

"Ya makanya, cari pacar. Short term win-nya, kalau jalan lo dibayarin makan atau nonton. Long term win-nya, kalau cocok, lo nikah. Hidup lo dibayarin dia. Spare duit lo jadi banyak, utang cepet beres. Lo cepet punya tabungan. Terus hidup bahagia selamanya, deh." — P. 31


"Anyway, maksud gue, kejadi ini bisa kita jadikan pelajaran, kan? Jadi orangtua jangan nyusahin anak, harus punya perencanaan yang matang. Kalau ngutang harusnya bilang-bilang. Kalau nggak kan yang heboh sekeluarga." — P. 33


"Biar nggak decision fatigue. Capek mikir. Setiap hari kita harus ambil keputusan dalam pekerjaan. Sayang anget kalau kapasitas otak kita dihabisin buat mikir hal-hal remeh seperti mau pakai baju apa hari ini.” — P. 47


“Tapi menurutku, yang kamu lakukan itu hebat. Saat orang seumuran kamu sibuk dengan kesenangan mereka sendiri, kamu berkorban untuk keluarga. Orang-orang takut jadi sandwich generation, kamu malah menawarkan diri untuk nanggung utang Papa kamu." — P. 61


"Soal ikhlas ini memang ringan di lidah, seringkali berat di hati." — P. 78


"Lo sudah berusaha dengan baik. Yang lo lakukan itu memang nggak mudah. Menurut gue, lo keren banget." — P. 79


"Jangan lupa nabung, tapi jangan pelit-pelit amat sama diri sendiri juga." — P. 116


"Orangtua kita ngerawat kita sampai dewasa, mereka nggak pernah hitung-hitung pengorbanan ke kita. Terus saat orangtua kita nggak punya apa-apa lagi buat dikasih ke kita, kita mau kabur, gara-gara takut dibilang sapi perah keluarga?" — P. 125


"Dari awal garis start lo sama dia emang jauh beda. Dia plus, lo minus. Kalau lo mau ngejar dia, ya susah." — P. 127


"Lo juga, Mar, jangan kasian-kasian sama gue terus, dong. Nabung emang penting, tapi takdir gue lagi kayak gini mau diapain? Keluarga gue semua juga udah abis-abisan, masa gue lepas tanggung jawab? Lagian hidup gue juga nggak parah-parah amat, kok. Buktinya gue masih bisa traktir lo sama Eveline makan siang di sini." — P. 158


"Emang kondisi gue beda kayak orang-orang lain. But everyone has their own battle, right? Sometimes we just have to set the right comparrison. Jadi, biarkan gue lunasin utang bokap gue dengan tenang, tanpa harus bikin gue ngerasa sengsara ngejalaninnya. Nggak semua orang punya privilage kayak lo." — P. 158


"Jangan terlalu keras sama diri kamu juga, Saf. Tanggung jawab kamu saat ini memang besar, tapi bukan berarti kamu nggak berhak bahagia." — P. 166


Wednesday, June 4, 2025

[REVIEW] Witching Hearts


Witching Hearts
Adelina Ayu
Bhuana Sastra
368 Halaman

"Gue tahu lo sayang banget sama Shaien. Tapi, rasa sayang dan cinta itu nggak cuma hadir saat lo lagi merjuangin hubungan lo ke seseorang biar kalian tetap bersama. Terkadang, saking sayangnya lo sama seseorang, lo pun ikhlas memilih pilihan yang paling tepat untuk menyayangi orang itu, yaitu dengan ngelepasin dia.”


B L U R B

Daryll nggak menyangka akan bertemu cewek seperti Andra, yang berani meminum darah ular demi petualangan, dan nggak menganggap aneh obsesi Daryll terhadap dunia sihir. Kegilaan mereka terkawinkan sejak hari pertama. Namun, ketika Daryll ingin memberikan lebih banyak, Andra nggak mengizinkannya.

Meski kartu tarotnya menyarankan agar Daryll mundur, dia memutuskan untuk merangkai petunjuk dari konstelasi bintang dan meraih apa yang ia pikir adalah miliknya.

Namun, jika astrologi dan mantra tidak mampu mengubah hati yang bukan miliknya, apa yang tersisa baginya?

- - - - - - - -

Bagi Daryll, semua hal di hidupnya harus pasti. Hitam, putih, tidak ada abu-abu. Meskipun dia banyak mempercayai astrologi dan zodiak, Daryll tetap membutuhkan kepastian. Kalau untuk permasalahan hidup aja Daryll seserius itu, apalagi untuk perasaan, benar kan? Pertama kali Daryll melihat Andra, dia nggak cuma terpesona, tapi juga merasa aneh, ada cewek yang seunik Andra.
“ Perasaan orang kan nggak sesimpel satu tambah satu sama dengan dua, Ryl. Kadang satu tambah satu sama dengan lima. Mungkin, itu yang ada di kepala Andra. Hanya karena dia dan Shaien nggak jadian, bukan berarti dia bakal segampang itu ngizinin orang lain buat ‘ngancam’ rumah tangga mereka.” — P. 136
Kedekatan Andra-Daryll selanjutnya, ternyata malah jadi rutinitas mereka berdua, disaat Shaien nggak bisa menemani, maka Daryll ada one call away-nya Andra. Bahkan Andra juga beberapa kali diajak ke rumah Daryll untuk melihat ‘koleksi’ dan juga mantra-mantra yang disebut Medina—ibu Daryll—aneh.

Tapi bagaimana kalau kali ini harapan Daryll tidak sesuai? Bisakah dia menerimanya? Atau malah kecewa berat karena harapannya sudah membumbung tinggi?


Membaca kisah Daryll di Witching Hearts emang bener-bener beda jauh sama sifatnya di The Name of The Game. Pantesan penulisnya bilang aku harus baca The Name of The Game dulu. Biar enggak clueless.

Karena kali ini banyak menceritakan sisi Daryll-Andra, Witching Hearts ini lebih mendalam dan kompleks ketimbang dua buku sebelumnya. Kalo di buku sebelumnya, Daryll keliatan ya cuek aja gitu, nggak ada intensi yang gimana-gimana. Di sini Daryll keliatan banget jadi cowok yang aneh, nyebelin, tapi lovable. Aku jadi tau, kenapa Daryll jadi cowok yang pendiem, gimana kesehariannya, termasuk gimana keluarganya Daryll. 

Pas awal baca sempet agak kaget ya, karena langsung disodorin Daryll yang mendadak punya barang unik—kalo gamau dibilang aneh—di kamarnya. Kayaknya, kalo aku jadi sodaranya Daryll, aku pun mengira dia pemuja aliran sesat. Bener-bener lengkap banget. Padahal, kalau dipikir-pikir, mungkin hal yang dipercaya Daryll tuh sama aja kayak Chinese yang percaya sama fengshui. Segalanya itu keselarasan hidup. Meskipun bisa dibilang percaya nggak percaya aja, tapi ini tuh bisa jadi banyak benernya. Misal, ada orang yang nggak bisa kalo punya rumah menghadap barat, alhasil serumah jadinya sakit terus nggak kelar-kelar. Atau kalo shio Ayam, nggak boleh punya rumah yang bagian seberangnya kali. Karena ayam kan cari makan di tanah, gimana bisa makan (nabung) kalo tanahnya kena air terus. Semacam kepercayaan gitu lah. Papaku lumayan percaya hal itu, jadi sedikit banyak aku juga memahami karakternya Daryll.

Nggak cuma tentang keanehannya Daryll aja, kita diajak menyelami perasaan Andra. Kalau kemarin di Happy Ending Machine kita lebih banyak dipaparkan tentang kebiasaan Andra, di sini kita lebih banyak diajak mendalami perasaan Andra. Tapi jujur, selama baca partnya Andra aku kesel banget. Pengen ngeplak deh, biar sadar.

Ngomongin Witching Hearts ini menurutku nagih setiap halamannya. Aku seneng banget bagian Daryll memulai opo-oponya. Gimana dia dengan sabar menjelaskan semua ritualnya. Gimana dia berusaha untuk legowo tentang perasaannya. Jadi sayang Daryll, padahal sebelumnya kesel pol.

Witching Hearts bener-bener bikin pengalaman bacaku jadi ke-upgrade. Hihi.. aku amaze banget gimana kak Adelina nulisnya, pasti riset mendalam banget, apalagi ini juga ada astrologinya. Kalo orang yang nggak bener-bener mendalami, pasti agak kesulitan. Sangat sangat menunggu karya terbaru kak Adel, apapun jenisnya kayaknya bakalan langsung kubaca deh. Haha..



From the book…
“Berapa banyak makanan yang lo lewatin cuma karena takut atau jijik, tanpa tau kalau hal itu bisa aja hadi pengalaman terseru seumur hidup lo? Kalau gue anaknya suka milih-milih makanan kayak lo, gue nggak akan tahu kalau daging piton itu lebih enak daripada ayam sama sapi.” — P. 82

“Ndra, kalau ‘bisa’ ini berhubungan sama orang lain, entah itu teman, keluarga, pokoknya faktor luar, yang terpenting itu lo harus merhatiin diri lo dulu. Kalau lo emang lagi ‘nggak bisa’, nggak usah dipaksa. Sebelum lo bisa ngasih ‘keluar’, lo harus ngasih ‘ke dalam’. Ke diri lo dulu. Salah satunya dengan memproses dan berdamai sama hujan badai itu. Lo harus belajar nerima kalau kadang, lo emang nggak bisa ngapa-ngapain buat menghaau ujan badai itu, supaya hujan badai itu bisa pergi dengan tenang.” — P. 130

“Perasaan orang kan nggak sesimpel satu tambah satu sama dengan dua, Ryl. Kadang satu tambah satu sama dengan lima. Mungkin, itu yang ada di kepala Andra. Hanya karena dia dan Shaien nggak jadian, bukan berarti dia bakal segampang itu ngizinin orang lain buat ‘ngancam’ rumah tangga mereka.” — P. 136

“Kita nggak bisa ngatur perasaan kita buat seneng terus, Ndra. Humans don’t work that way.” — P. 152

“Gue nggak nanya soal lupa, gue tanya, emang emosi negatif itu bisa sembuh kalau nggak dikeluarin? Kalau lo nolak buat sedih terus, nantinya lo jadi sulit untuk ngenalin perasaan lo sendiri dan orang lain. Kan nggak lucu kalau temen lo lagi nangis karena abis putus, malah lo suruh cari poin positif dari masalah dia. Ujung-ujungnya, lo jadi emotionally unavailable.” — P. 152

“Emosi ngebantu kita buat ngertiin situasi. Kalau lo sedih karena diputusin, berarti lo sayang banget sama cowok lo. Kalau gue bete karena makanan gue keasinan, itu berarti makanan ini udah ngerusak cheat day gue.” — P. 152

“Gue tahu lo sayang banget sama Shaien. Tapi, rasa sayang dan cinta itu nggak cuma hadir saat lo lagi merjuangin hubungan lo ke seseorang biar kalian tetap bersama. Terkadang, saking sayangnya lo sama seseorang, lo pun ikhlas memilih pilihan yang paling tepat untuk menyayangi orang itu, yaitu dengan ngelepasin dia.” — P. 257

“Cinta adalah yang tersisa saat masa-masa jatuh cinta—honeymoon phase itu selesai. Those that truly love have roots that grow towards each other underground and when all the pretty blossoms have fallen from their branches, they find that they are one tree and not two.” — P. 343

Monday, May 19, 2025

[REVIEW] The Name of The Game

The Name of The Game
Adelina Ayu
Bhuana Sastra
331 Halaman

"Kadang, cowok tuh malah lebih ribet daripada cewek, ya? Mungkin karena mereka dituntut untuk selalu terlihat jantan, makanya nggak mau memperlihatkan sisi kalau mereka juga peduli dengan penampilan.”


B L U R B

Zio:
Wangi vanila. Mencintai supermarket. Nggak mengerti kenapa semua orang menyukai Daryll.

Daryll: 
Milo kaleng. Penggemar setia Sheila on 7. Nggak mengerti kenapa Zio anti dengannya.

Flo:
Kelopak bunga bluebell. Benci hujan. Terjebak di antara dua pilihan.

Sejak SMP, Zio hanya punya satu keinginan: mengalahkan Daryll dalam hal apa pun. Dan saat Daryll mendekati seorang mahasiswa baru yang juga dia sukai, Zio nggak menyangka kalau dia akan terlibat dalam sebuah permainan yang selalu dia hindari dengan rival abadinya; tentang arti menjadi laki-laki, persahabatan, dan cinta.

- - - - - - - -

Bagi semua cewek, berteman dengan Zio itu menyenangkan. Dia bisa ikut menggosip, berbagi makanan, dan tentu saja mengerti banyak sekali jenis skincare. Sayangnya, di mata para laki-laki, dia ini melenceng jauh dari yang seharusnya. Laki-laki ya harus terlihat gahar, apa itu skincare? Selama ini, Zio tidak peduli, yang dia pedulikan hanya tindak tanduk Daryll, sahabat sekaligus rival abadinya sejak SMP.

Bagi Daryll, berteman dengan Zio dan Shaien cukup menyenangkan. Mereka bisa saling menasehati dan memberi masukan satu sama lain. Tentu saja ini dia lakukan dengan Shaien, kalau dengan Zio, jelas banyak berantemnya. Dia sendiri heran, kenapa Zio sangat membencinya. Yang dia tidak tau, ternyata mereka mendekati satu mahasiswa yang sama, Flo. 
"Lo juga. Jangan mau merendahkan diri lo karena lo cewek. Jangan mau diatur-atur sama cowok atau siapa pun. Lo bebas melakukan apa yang lo mau, selama lo nggak merugikan orang lain.” — P. 287
Bagi Flo si mahasiswa baru, mengenal Daryll dan Zio merupakan hal yang menyenangkan, meskipun keduanya punya sifat dan sikap yang bertolak belakang. Bagi Flo nggak masalah, karena ini ternyata menjadi jalan mulusnya mengenal seluk beluk kampusnya. Tapi gimana kalo Flo ternyata suka smaa salah satu dari mereka?


Siapa yang suka beli buku buat ditimbun aja? Ngacung bersamaku! Aku beli The Name of The Game ini setelah aku membaca Happy Ending Machine. Memang, untuk baca ini nggak harus berurutan kok. Bisa mulai dari Happy Ending Machine dulu, tau The Name of The Game dulu, pokoknya jangan ke Witching Herts aja. Info dari penulisnya beda. Hihihi..

The Name of The Game ini menurutku cerita yang mengangkat kesenjangan sosial antara perempuan dan laki-laki. Bahkan sampai hari ini pun, masyarakat masih banyak banget yang menilai kalo cowok tuh kudu macho, berotot, gagah, nggak pake skincare, body lotion, dan berbagai perawatan lainnya. Padahal ya, merawat tubuh kan genderless, cowok atau cewek ya juga harus merawat tubuh dengan baik. Sementara kalau cewek yang tomboi, juga kadang salah, terlalu kecowok-cowokan, nggak sesuai kodratnya. Serba salah kan?

Nggak hanya mengangkat isu gender, tapi juga membahas tentang latar belakang persahabatan ketiga cowok gemes ini. Apa aja keresahan mereka dan bagaimana kehidupan mereka selama ini. Cukup menarik, apalagi ketiganya bener-bener beda banget kepribadiannya. Daryll yang misterius, selayaknya cowok pada umumnya, dan sangat mencintai milo ; Zio yang super higienis, dan sangat mencintai vanila; Shaien yang sangat amat tenang. 

Selama membaca, kita diajak lebih menyelami dunia antara Daryll sama Zio, karena Shaien sudah ada bagiannya sendiri. Bagaimana tanggapan orang-orang terhadap Zio, dan bagaimana pemikiran Zio. Kalau sisinya Daryll, dia emang semisterius itu. Gemes banget sama Daryll deh. Sementara Flo di sini ya ampun, mengingatkan aku pas masa baru-baru lulus SMA, kalo pas lagi suka-sukanya bisa ngstalk banget, bisa kepoin segalanya tentang dia.

Buatku, tokoh Zio paling menarik! Mungkin buat sebagian orang Zio ini annoying ya. Tapi buatku, Zio bener-bener jadi dirinya sendiri, nggak pusing sama omongan orang. Meskipun omongan orang kadang nyakitin hati ya. Tapi dia berusaha untuk tetap jadi dirinya sendiri. Luv banget sama Zio!


From the book...
"Hidup itu kadang membosankan, Flo. Makanya, kita harus bikin hidup lebih berwarna dengan mencari kebahagiaan dari hal-hal kecil, kayak mencari inspirasi dari label komposisi pada produk-produk rumah tangga” — P. 31

“Membiasakan diri dengan lingkungan baru jauh lebih menyenangkan daripada mengerjakan tugas-tugas di semester tua, kok. Mumpung masih semester satu, lo harus bagusin nilai lo dan cari temen sebanyak mungkin.” — P. 33

“Benar juga. Kenapa, ya? Cewek nggak marah kalau dibilang tomboi, tapi kalau cowok dibilang banci, ngamuknya langsung kayak apaan tauk. Padahal cewek sama cowok itu kan sama-sama manusia. Terus kenapa cowok harus marah kalau dibilang kayak cewek?” — P. 108

“Karena gue mau lo tahu, lo nggak perlu melawan Daryll cuma untuk jadi juara. Lo udah jadi pemenang dengan cara lo sendiri.” — P. 151

“Kadang, cowok tuh malah lebih ribet daripada cewek, ya? Mungkin karena mereka dituntut untuk selalu terlihat jantan, makanya nggak mau memperlihatkan sisi kalau mereka juga peduli dengan penampilan.” — P. 167

“Padahal menurut gue, hal itu nggak perlu. Setiap orang, cewek ataupun cowok, siapa sih yang nggak mau cakep? Dan kalau mau cakep, ya harus usaha. Makanya gue nggak ngerti kenapa mereka harus sembunyi-sembunyi cuma untuk nyisir.” — P. 167

“Karena di dunia ini memang nggak ada yang sempurna, dan hati kita ditakdirkan untuk terus mencinta. So, you have to deal with it.” — P. 219

“Karena menurut aku, kita itu bisa berubah, entah jadi lebih baik atau buruk karena orang yang kita suka. Emang sih kedengarannya dangkal banget, tapi siapa sih yang bisa ngasih kita pengaruh besar kalau bukan orang yang kita suka?” — P. 244

“Katanya, warna, fashion, olahraga, seni, dan lain-lain itu genderless. Nggak ada yang namanya warna khusus diciptakan buat cewek atau cowok. Kita bebas memilih apa pun yang kita mau. Konstruksi sosal yang seenaknya memisahkan mana yang untuk cowok, mana yang untuk cewek. Padahal mah yang kayak gitu tuh nggak ada.” — P. 285

“Lo juga. Jangan mau merendahkan diri lo karena lo cewek. Jangan mau diatur-atur sama cowok atau siapa pun. Lo bebas melakukan apa yang lo mau, selama lo nggak merugikan orang lain.” — P. 287

Sunday, November 3, 2024

[REVIEW] Mirah

Mirah
Elisabeth Ika
Bhuana Sastra
291 Halaman

“Yang mau aku tahu soal kamu adalah kamu yang sekarang dan apa yang kamu pengin buat masa depan. Bukan yang ada di belakang.”


B L U R B

Tidak berpendidikan tinggi, diceraikan suami ketika pernikahannya belum seumur jagung, pun menjadi anak tengah ketika kakak-adiknya tidak dapat diandalkan, membuat Mirah Paramastri harus menutup telinganya rapat-rapat dari gunjingan tetangga. Kesempatan baru hinggap ke hidup Mirah. Atas keinginan memperbaiki nasib keluarga, Mirah hanya ingin bekerja tanpa drama dan menabung untuk kembali menata masa depannya.

Namun, insiden kopi di hari pertamanya bekerja seperti benang yang mengikat tangannya pada sosok Adhirajasa Gama Saputra, kepala gudang pabrik kecap tempat Mirah bekerja. Segala keramahan dan perhatian yang dicurahkan Dhira ternyata menimbulkan masalah baru nan pelik. Mirah harus buru-buru menarik diri sebelum terlambat, atau justru dia terbuai oleh kehadiran Dhira?

- - - - - - - - -

Kehidupan Mirah tidaklah mudah, selain harus membantu ibunya bekerja setiap hari, dia juga harus menebalkan telinga saat tetangganya sibuk bergunjing tentang dirinya yang baru saja bercerai. Tak hanya itu, Mirah juga tamatan SMA, semakin menjadilah omongan tetangga tentangnya.
“Orang miskin enggak boleh capek. Enggak boleh sakit. Enggak boleh mengeluh, supaya punya duit buat makan besok. Atau setidaknya, biar bisa bayar cicilan utang.” — P. 87
Mendapatkan pekerjaan di pabrik, bagi Mirah sudah sebuah anugrah. Setidaknya, dia bisa membantu ibunya lebih banyak, dan mungkin ini jawaban Tuhan atas keinginannya melanjutkan sekolah lagi. Mirah tidak terlalu banyak berharap tentang lingkungan kantor. Baginya yang terpenting adalah bekerja. Teman dekatnya adalah Ratih, seorang office girl yang selalu menemaninya saat makan siang di pantry. Bagi Mirah, ini sudah lebih dari cukup.

Pertemuannya pertamanya dengan Dhira membuat Mirah menjadi sangat berhati-hati, supaya ke depannya tidak terjadi lagi hal seperti itu. Apalagi Mirah anak baru. Sayangnya, Dhira sepertinya senang sekali mendekat dan selalu berusaha agar bisa mendapatkan perhatian Mirah. Bagaimana tanggapan Mirah kali ini? Apakah dia akan tetap fokus pada tujuan awalnya datang kemari, atau malah akan menanggapi Dhira?


Hidup perempuan di Indonesia ini kayaknya susah banget deh. Terlalu banyak standard yang harus diikuti, harus cantik, tinggi, putih. Spec untuk dijadikan istri harus pinter masak, nggak boleh mbantahan, pinter ngurus rumah. Nanti kalo sekolah tinggi-tinggi bilangnya bikin laki-laki keder, kalo terlalu pinter bikin laki minder. Berkebalikan dengan perempuan, laki-laki kulihat lebih mudah. Bebas menentukan apa yang dia mau. Sekolah tinggi, ya memang sudah sewajarnya, punya pendapatan besar, diapresiasi. Bahkan kadang mokondo pun masih dimaklumi.

Sama seperti Mirah, tidak berpendidikan tinggi, bercerai pula. Kurasa, orang-orang juga nggak akan peduli apa alasannya bercerai. Yang penting statusnya. Kalau bercerai, ya berarti dia bermasalah. Nggak cuma itu, Eka—kakak Mirah pun hidup untuk dirinya sendiri, memiliki banyak hutang, hidup serampangan. Sementara adiknya, Suma, dia sibuk sendiri dengan kegiatan perkuliahannya. Jadi ya bisa dibilang, semuanya ditanggung Mirah.

Waktu awal membaca Mirah, aku heran, kenapa Mirah ini diem aja, apa-apa diterima, diomongin tetangga, ibunya yang menyuruhnya sabar kalau kakaknya mulai berulah. Ya ampun Mirah, aku nggak sesabar itu. Kayaknya aku bakalan tiap hari uring-uringan, sambat dan gelut sama kakakku sendiri. Aku juga penasaran alasan Mirah bercerai, karena kalau melihat Mirah yang seperti itu, seharusnya dia nggak ada masalah di dalam rumah tangganya. Ternyata, ada hal lain yang cukup bikin nyesek dan trauma juga kalau untuk ukuran Mirah. Jadi ya nggak menyalahkan juga kalau Dhira pas deketin Mirah susah banget.

Alur yang dipakai di sini maju mundur, untuk menjelaskan masa lalu Mirah tentunya. Mengambil latar tempat di Malang, yang terlihat jelas dari cara berbicaranya dan juga beberapa tempat yang disebutkan kak Elisabeth. Duh, aku jadi kangen ke Malang juga. Terakhir kali ke Malang pas hamil besar, habis itu belum ke sana lagi. Hihi..

Selain mengangkat isu perempuan dan perceraian, kak Elisabeth juga menyelipkan bagaimana pernikahan di mata Gereja. Sejauh yang aku tau, Gereja Katolik memang nggak ada perceraian, adanya pembatalan pernikahan. Untuk akte cerainya, nanti dikeluarkan dari catatan sipil. Ternyata pengajuannya nggak mudah ya. Aku jadi inget sama Romo yang mendampingi aku di masa kanonik, sejak awal aku diwawancarai, dia selalu tanya, apa calon suamiku ini sudah pilihan yang terbaik yang aku mau? Nggak ada desakan atau tuntutan dalam pernikahan ini? Tidak ada ‘kecelakaan’ yang mengharuskan aku menikah? Karena kalau ada, dan memang aku masih ragu, Romonya malah menyarankan untuk pemberkatan di luar agama Katolik, karena no way back. Ada konsekuensi juga kalau kita sampai melakukan pembatalan pernikahan.

Kisah Mirah bener-bener sederhana dan dekat sekali dengan kita. Apalagi bertemu dengan Dhira, cowok yang ijo royo-royo! Kayaknya perlu ada satu Dhira di setiap kota deh, biar hati tenang dan hidup lebih semangat.


From the book…
“Saya tidak butuh orang pintar saja. Saya butuh orang yang mau memanfaatkan kesempatan dengan baik dan benar, cerdas, cekatan, tangguh, berani-tapi tidak banyak bicara.” — P. 19

“Yang mau aku tahu soal kamu adalah kamu yang sekarang dan apa yang kamu pengin buat masa depan. Bukan yang di belakang.” — P. 137

“Bilang saja, Mir. Ceritain masalah-masalahmu. Entah aku bisa membantu atau enggak, setidaknya aku bisa temenin kamu, biar kamu enggak perlu malu. Ada aku, Mirah. Ada aku di pihak kamu.” — P. 201

“Bapak bilang jangan menahan diri. Aku boleh marah kalau hakku dirampas. Aku boleh menangis kalau aku kecewa. Aku boleh menangis kalau aku terluka. Bapak bilang tidak apa-apa, karena kita manusia yang punya emosi. Marah, kecewa, dan menangis bukan menandakan kalau kita lemah.” — P. 230

“Pernikahan buat kalian adalah sesuatu yang sulit, Mbak Mirah. Kita sama-sama tahu tentang ini. Saya bukan menilai seseorang dari masa lalunya, tapi kalau masa depannya saja tidak ada buat apa dipertahankan seterusnya?” — P. 266

“Enggak tahu. Memangnya harus punya alasan buat jatuh cinta sama orang? Memangnya kamu punya alasan kenapa sayang sama aku?” — P. 290

Tuesday, July 30, 2024

[REVIEW] Dear Writers, Let’s Revisweet

Dear Writers, Let’s Revisweet
Leefe
BIP Gramedia
342 Halaman

“Dia punya masalah mental. Orang yang terluka akan cenderung melukai orang lain juga. Makanya, itulah kenapa hubungan bagus adalah hubungan yang terdiri dari dua orang yang sudah sama-sama stabil secara mental, bukan sepasang luka.”


B L U R B

Kriteria project #SpeakUpYourWorld.
1. Sekalipun sakit kepala meradang, editor harus mencari naskah dengan views di atas satu juta. Jangan lupakan embel-embel geng bad boy, bucin, dan tawuran antarsekolah.
2. Tabah menghadapi penulis dengan segala macam karakternya.
3. Mengarungi deadline, dan sambutlah drama di depan mata.

Nyaris terkena lay-off, Satria berjuang membuktikan dirinya layak untuk dipertahankan di SKY Media melalui sebuah project. Namun, ia justru memilih naskah Faya Azzura, penulis amatir yang belum pernah menelurkan satu karya pun, bahkan tulisannya tidak memenuhi kriteria yang diminta sang atasan.

Dibayangi tekanan kerja, masalah keluarga, hingga ancaman menjual naskah novel sebagai suvernir petunangan sang mantan, bagaimana Faya menghadapinya? Dapatkah Satria lolos dari radar lay-off serta membebaskan Faya dari masa lalu yang menyesakkan?

- - - - - - - - - -

Sky Media merupakan salah satu anak perusahaan penerbitan terbesar, sayangnya karena Covid yang sedang merajalela, keuntungan perusahaan yang menurun, membuat Paduka Devan menurunkan titah yang cukup bikin jantungan. Siapapun yang bisa menemukan, menerbitkan, dan penjualan naskahnya paling tinggi, dia akan bertahan. Kalau paling rendah, ya tau sendiri, silakan siapkan surat resign.

Nggak cuma itu aja, Paduka Devan juga memberikan kriteria naskah yang sebaiknya dicari dan sedang laku di pasaran. Semua editor, termasuk Satria juga berjuang keras untuk mempertahankan posisi mereka di Sky Media. Ya walaupun sesekali mereka pergi ke job fair untuk jaga-jaga.
“Logika penulis dan editor memang kadang kayak langit dan selokan. Editor penginnya memoles karya jadi sebagus mungkin supaya pembaca tidak menyesal membeli bukunya, tetapi penulis punya idealis tersendiri.” — P. 43
Ketika teman-temannya mencari naskah sesuai kriteria yang diinginkan Paduka Devan, Satria malah mencari naskah dengan caranya sendiri. Penulis baru, yang tidak punya karya sebelumnya, pembacanya pun tidak sebanyak yang ditargetkan Paduka Devan. Hal ini jelas aja menjadi tantangan bagi Satria dan mendapat respon yang tidak baik dari Paduka Devan.

Ternyata, selain penulis yang masih baru, dia juga memiliki masalah yang cukup rumit sampai harus menarik naskahnya, kalau sudah begini, bagaimana nasib Satria? Haruskah dia mulai mencari pekerjaan di tempat lain?


Dulu, aku kira, pekerjaan editor itu cuma bagian ngedit naskah mulai dari alur, penokohan, dan typo. Tapi ternyata enggak lho. Pekerjaan sebagai editor cukup banyak, bahkan sampai ke marketingnya juga.

Dear Writers, Let’s Revisweet ini awalnya kukira berisi tips and trick cara revisi supaya sat-set dan anti gagal. Maklum, aku cukup jarang baca blurbnya. Kalau kurasa covernya menarik, biasanya aku langsung gas baca bukunya. Ternyata isinya tentang dunia penerbitan dan juga kepenulisan. Menarik banget! Biasanya kita kan cuma diajak kelilingan di dunia kepenulisan, jarang diajak ribetnya dunia penerbitan. Selain membahas tentang dunia kepenulisan, di sini juga membahas tentang dunia pertemanan dan percintaan yang cukup rumit. 

Sepertinya di atas aku nggak terlalu banyak memperkenalkan penulis yang diincar sama Satria ya. Mari berkenalan dengan Faya, cewek yang kalau udah fokus, nggak peduli dengan sekitarnya. Dia ini cukup pintar, tapi juga nggak mudah bergaul dengan orang lain. Jadilah kalo sama orang lain dia itu kikuk banget. Mungkin ini penyebab temennya cuma Sindi dan Aryan aja. Lalu mereka berdua juga semakin menjadi.

Mengambil setting ketika covid, menurutku masih agak kurang ya. Kayak cuma penguat alasan Satria dan kawan-kawan harus bekerja lebih keras aja gitu. Soalnya nggak terlalu menjelaskan masa-masa covid yang bener-bener strict pake masker, kerja WFH.

So far, baca Dear Writers, Let’s Revisweet ini menyenangkan lho. Tiap halamannya bikin nagih, selalu penasaran dengan kelanjutan Faya, Sindi dan Aryan. Meskipun nyebelin, aku malah menunggu-nunggu Sindi dan Aryan lho. Psst.. ada banyak tips, ilmu dan istilah kepenulisan di sini!


From the book…
“Logika penulis dan editor memang kadang kayak langit dan selokan. Editor penginnya memoles karya jadi sebagus mungkin supaya pembaca tidak menyesal membeli bukunya, tetapi penulis punya idealis tersendiri.” — P. 43

“Saya nggak mau ada Lio lain di dunia ini, kak. Yang jadiin trauma masa kecil sebagai patokan cara memandang di dunianya, padahal dia yang jahat ke diri sendiri dengan larang semua orang kenal dia lebih deket.” — P. 105

“Dia punya masalah mental. Orang yang terluka akan cenderung melukai orang lain juga. Makanya, itulah kenapa hubungan bagus adalah hubungan yang terdiri dari dua orang yang sudah sama-sama stabil secara mental, bukan sepasang luka.” — P. 136

“Target? Nggak tuh. Gue nggak suka batasin diri sendiri, Ko. Nikahlah pas udah siap. Punya pasangan pas udah selesai sama diri sendiri.” — P. 168

“Jadi… saya nggak peduli kamu menulis di pagi, sore, atau dini hari. Saya nggak peduli kamu mau bikin ceritamu happy ending atau sad ending. Saya hanya peduli pada ‘jiwa’ apa yang kamu letakkan di tulisanmu? So, menulislah dengan hati, Faya. Dengan begitu, kamu nggak akan terbebani atau merasa kesulitan harus menulis apa waktu duniamu lagi nggak baik-baik aja.” — P. 174

“Dalam hidup, adakalanya kamu harus menderita. Bukan karena kamu jahat dan sedang mendapat karma, tetapi karena kamu terkadang tidak menyadari kapan dan di mana harus berhenti jadi terlalu baik. Tuhan menunjukkan semuanya melalui penderitaan itu.” — P. 207 to 208

“Setiap orang pasti memiliki standar pasangan ideal versinya masing-masing. Perempuan yang berkualitas punya, lelaki yang berkualitas punya juga. Nah, akan sangat melelahkan apabila hanya satu pihak yang menuntut kriteria pasangan idaman, sementara di sendiri tidak berusaha menjadi idaman.” — P. 273

“Cantik itu bukan hanya soal paras, melainkan kepribadian serta sudut pandang seseorang terhadap dunia. Paras hanya bertahan dalam hitungan dekade, sementara personality menetap seumur hidup.” — P. 273

“Saya cuma ngungkapin sesuka apa saya sama dia. Bukan untuk dapetin balasan, melainkan bikin dia sadar semenakjubkan apa dia di mata orang lain. Kalau orang lain aja bisa sesuka itu sama dia, maka dia pun bisa sesuka itu sama dirinya sendiri. Mencintai dirinya apa pun kekurangannya.” — P. 275

So… I tell you to let go of everything that makes you sad, Faya. Kayak yang akan saya lakuin habis ini. Let go. Jalanin hidup kamu seperti yang kamu penginin, bukan apa yang orang lain pengin. Tolong jaga diri kamu baik-baik.” — P. 276

“Kalau kamu ketemu cowok yang kamu suka, jangan takut buka lembaran baru di hidup kamu. Don’t miss out your own happiness.” — P. 284

“Cinta itu emosi, dan emosi itu tidak tetap karena subjek yang merasakannya adalah manusia. Kemarin Faya berpikir dirinya tak punya dukungan siapa-siapa, tetapi hari ini ia merasa hangat karena support yang tidak pernah diketahuinya.” — P. 284

“Hidup bukanlah susunan kalimat teratur yang sesuai dengan kaidah. Akan ada hal-hal yang terjadi di luar prediksi. Kadang rapi dan kadang juga berantakan. Seperti jatuh cinta.” — P. 324