Sunday, July 26, 2026
Sunday, May 24, 2026
[REVIEW] Hingga Hilang Pedih Peri
Hingga Hilang Pedih PeriAkaigitaBhuana Sastra276 Halaman
“Setidaknya, itu cara seseorang pemimpin terlihat berwibawa di mata saingannya. Memiliki rakyat yang sepenuhnya tunduk, entah karena cinta atau rasa takut, kepada kita. Itu memberi ilusi kekuatan dan pengaruh yang besar.
Sunday, March 8, 2026
[REVIEW] Pelarian Dua Arah
Pelarian Dua ArahOlen SaddhaBhuana Sastra184 Halaman
“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.”
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42“Katanya kita harus tahu apa tujuan hidup kita. Tapi begitu tahu, hidup seolah menjauhkan kita dari tujuan itu.” — P. 50“Katanya kita harus jadi manusia yang sederhana. Tapi nyatanya hidup nggak pernah berpihak pada siapa pun yang memilih hidup biasa-biasa saja.” — P. 51“Impianku jadi aktris juga timbul-tenggelam. Bahkan aku nggak yakin itu bisa terwujud atau nggak. Tapi, adanya impian itu bikin aku ingat kalau aku masih hidup di dunia. Dan selama masih hidup, yang namanya rintangan nggak akan pernah ada liburnya, kan?” — P. 51“Katanya, kadang kita harus menyayangi orang yang salah dulu sebelum menemukan orang yang telat. Kamu percaya?” — P. 60“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.” — P. 159“Sebetulnya mereka tidak benar-benar yakin, apakah mereka telah melakukan sebuah pelarian atau tidak. Namun, jika memang demikian, berlari berdua membuat mereka sadar, inilah pelarian paling indah untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya.” — P. 174
Sunday, February 1, 2026
[REVIEW] It Was Until It Wasn’t
It Was Until It Wasn’tTiplukBhuana Sastra320 Halaman
“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?”
“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189
“Ih, aku masih butuh banyak belajar, kok. Aku malah kagum banget sama kamu. Kamu itu orang paling berani yang aku kenal. Kamu nggak pernah bikin luka kamu sebagai halangan buat tetap jadi orang baik. Aku berharap aku seberani kamu, sih, Al.” — P. 38“Nggak boleh gitu. Nanti kalo kamu mau sesuatu, kamu harus bilang. Kalo kamu nggak mau, juga harus bilang. Kamu berhak milih dan memperjuangkan, Al. Inget itu, ya?” — P. 38“Lo ngerasa juga nggak sih, kadang kita seneng inget-inget masa lalu karena nggak suka sama masa sekarang?” — P. 76“Raska, when you put her happiness first, that’s what is called love.” — P. 83“Hatinya selalu merasa bahwa cinta tidak mungkin mudah untuk dia dapatkan karena sebelumnya kemudahan itu berakhir dengan perpisahan. Yang Alana kenal hanya cinta yang menyakitkan, cinta yang membuatnya berkorban dan berjuang untuk orang lain. Cinta harusnya seperti apa yang ia rasakan kepada Dimas.” — P. 104“Kamu tuh kayak adlibs. Aku cuma kasih tanda sedikit, tapi kamu improve-nya begini banget.” — P. 105“Sayang, pada akhirnya semua orang juga punya kehidupan masing-masing alaupun udah punya pasangan. Lo juga futsal nggak sama gue, kan? Lo freelance nggak sama gue, kan? Tapi, bukan berarti kita pisah, kan?” — P. 133 to 134“Pak, cinta itu nggak egois. Cinta itu harusnya membawa damai dan kebaikan. Cinta itu bertemu di tengah.” — P. 135“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189“Ya, tapi gimana? Susah buat nolong orang yang nggak mau ditolong.” — P. 190“Gimana pun Dimas itu sama Mbak RL, Al. Dan yang lo lakuin itu salah. If you can’t understand it, then I can’t help you.” — P. 197“Hurt people may hurt people, but they can choose not to. Selamanya lo nggak akan pernah sembuh kalo lo cari obatnya di orang lain.” — P. 203“I know the love is still there, but I can’t live with someone who doesn’t respect my feelings. Punya trauma dan nggak ngehargain orang lain adalah dua hal yang berbeda.” — P. 211“Kadang luka itu nggak bisa sembuh karena kita belum bisa nerima. Nerima kalo hal buruk itu terjadi, nerima hubungannya nggak bisa bertahan lagi. Susah sih, tapi mungkin cowok lo belum sampai tahap acceptance aja.” — P. 212“If you love something, set it free. Percuma lo paksain kalo malah nyakitin. Love will always find its way, Rev.” — P. 214“Kadang aku kayak liat aku yang dulu di Masdim. Sendu, kesepian… dan aku ngerasa nggak semua orang bisa lihat itu karena mereka selalu anggap kamu sempurna tapi suka nggak bisa berkomitmen aja. Padahal kamu cuman butuh ditemenin sama orang yang tepat. Mungkin karena kamu juga pernah kehilangan, jadi kamu lebih susah nerima orang di hidup kamu.” — P. 257“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” — P. 263“Saya nggak mau kamu intervensi hidup Dimas lagi. Biarin aja kalo dia emang harus hidup seperti ini terus-menerus. Kamu boleh cinta, Bu, tapi nggak boleh membabi buta.” — P. 263
Sunday, January 11, 2026
[REVIEW] How To Be Popular in High School
How To Be Popular in High SchoolReytiaBhuana Sastra222 Halaman
"Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.”
“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.”— P. 80
“Dunia orang-orang sukses itu keras. Jika seseorang sudah tidak berguna, ia akan dibuang dan dijatuhkan. Ia harus selalu waspada dan memiliki banyak teman yang bisa membantu saat kesulitan.” — P. 32“Lagi pula, hidup adalah tentang uang dan kekuasaan.” — P. 32“Gue ngerti sih jadi anak yang populer itu emang asik. Tapi, buat jadi populer enggak harus lewat ekskul ini juga bisa, kali. Emang enggak ada cara lain, apa. Daripada lo di sini ditinggal-tinggal enggak jelas terus, mending lo cari tempat lain yang orangnya lebih waras enggak, sih?” — P. 76“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.” — P. 80“Gue enggak suka orang yang menyisihkan orang lain. Termasuk orang-orang yang memakai identitas eksklusif di sekolah, itu gue juga enggak suka. Biar apa sih? Biar keliatan kebih keren daripada anak-anak lainnya?” — P. 87“Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.” — P. 114“Lo itu orang baik, Isandra. Apa yang membuat lo berpikir kalau lo enggak layak mendapatkan teman yang baik?” — P. 144“Bukannya lebih serem kalau kita enggak punya sikap cuma untuk disukai sama orang lain, ya? Semakin kita punya sikap, semakin besar kemungkinan kita enggak disukai orang lain, dan gue udah siap. Harus ada yang berubah dari keadaan sekolah ini, Sa.” — P. 157“Obrolannya dengan Galang menyadarkan Isa bahwa ia masih punya banyak pilihan panggung untuk tempatnya bersinar. Untuk menuju ke sana, ia hanya perlu mulai dari satu hal: mencintai dirinya apa adanya.” — P. 166
Monday, September 8, 2025
[REVIEW] Bebas Tanggungan
Bebas TanggunganReytiaBhuana Sastra276 Halaman
“Jangan terlalu keras sama diri kamu juga, Saf. Tanggung jawab kamu saat ini memang besar, tapi bukan berarti kamu nggak berhak bahagia."
B L U R B
Katanya, kerja di e-commerce enak karena gajinya besar, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Safira yang harus merelakan lebih dari setengah gajinya untuk membayar utang keluarga dan biaya hidup adiknya. Capek karena harus berhemat, capek hati juga karena melihat teman-teman sekantor yang hidupnya sudah jauh lebih sejahtera. Safira ingin hidup bebas tanggungan!
Lalu, muncul ide cemerlang dari Marla, sahabat Safira. Kenapa nggak cari calon suami kaya, supaya hidup Safira ada yang nanggung? Akankah Safira mendapatkan kelegaan finansial yang ia harapkan atau hidupnya justru lebih rumit?
- - - - - - - - - - -
Memiliki pekerjaan dengan gaji besar tentu saja sangat membanggakan. Apalagi umur Safira masih muda, pasti menyenangkan sekali. Kenyataannya jelas berbeda, Safira harus merelakan sebagian besar gajinya untuk membayar utang keluarga dan biaya sekolah adiknya. Yang tersisa untuknya ya hanya cukup membiayai kebutuhannya sehari-hari. Tidak ada yang namanya membeli barang-barang yang tidak perlu. Dikit-dikit self reward seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.
"Ya makanya, cari pacar. Short term win-nya, kalau jalan lo dibayarin makan atau nonton. Long term win-nya, kalau cocok, lo nikah. Hidup lo dibayarin dia. Spare duit lo jadi banyak, utang cepet beres. Lo cepet punya tabungan. Terus hidup bahagia selamanya, deh." — P. 31
Marla—salah satu sahabatnya, selalu menyuruhnya untuk mencari pacar yang kaya. Masalanya, gimana mau nyari pacar yang kaya, kalau kehidupan Safira aja diirit sebisa mungkin. Menjalin hubungan, bukannya akan menambah biayanya untuk makan di luar atau nonton bioskop? Kan mendingan disimpan! Tapi gimana kalau salah satu cowok cakep di kantornya mendekatinya? Apakah Safira akan membuka hati perlahan?
Waktu awal aku dapat gaji pertama, rasanya tuh seneng banget! Apalagi dulu gajinya udah di lumayan di atas UMR. Seneng banget, mulai agak boros dikit berkedok, "Dulu sama ortu nggak dibolehin beli!" dan tentu aja gampang kalap sama hal-hal lucu di e-commerce. Tapi ternyata, nggak semua orang sama kayak aku.
Safira nggak begitu, dia harus menyisihkan untuk bayar hutang yang ditinggalkan ayahnya, dan biaya kuliah adiknya. Yang didapatkan selama kerja ini kurasa hanya hikmahnya aja. Safira juga punya dua sahabat di kantor, ada Marla dan Eveline. Keduanya, terutama Marla, getol banget mencarikan Safira pacar dengan kriteria utama: harus kaya! Supaya safira sedikit terbantu, sedikit menikmati hidup. Sahabat yang cukup baik ya?
Membaca kisah Safira ini berasa kayak ngeliat temen sendiri, hidup emang nggak selamanya mudah, tapi masa iya cowok mapan adalah jawabannya. Menurutku sih enggak, belum tentu cowok ini juga peduli sebesar yang kita harapkan. Nah, pas Safira dikenalin sama salah satu anak kantornya yang cukup oke, aku langsung merasa cowok ini terlalu too good to be true. Memang ada cowok yang banyak action ketimbang ngomong, tapi ini terlalu mencurigakan. Waktu ditanyain keluarga, nggak begitu banyak cerita, ditanyain masa lalu, jawabannya agak ngambang.
Deket sama cowok itu menurutku perlu waktu yang cukup panjang, untuk bener-bener kenal dia luar dalam. Malahan lebih enak kalau awalnya dari temen, meskipun kalo udah begini ya mending tetep berteman aja. Kenapa perlu waktu yang cukup panjang? Soalnya mengulik sifat seseorang itu nggak gampang, nggak selamanya apa yang ditunjukin ke kita tuh sama kayak dia yang sebenarnya, bisa aja dia manipulatif, suka mukul atau suka bohong. Bener kata orang jaman dulu, bibit, bebet, bobotnya harus pas.
Persahabatan antara Eveline, Marla, dan Safira juga menyenangkan, mereka selalu ada satu sama lain, siap support satu sama lain. Meskipun sifatnya Marla ini agak ngeselin ya, karena dia anak yang terlahir di keluarga yang berkecukupan, dia jadi menganggap Safira selalu salah aja, kasian aja. Menurutku, sifat Marla ini ya normal sih. Aku sendiri juga kadang ngerasa temenku yang jadi sandwich gen ini kasian ya, harusnya kan mereka bersenang-senang juga, tapi aku lupa, kehidupan keluarganya juga nggak berada di garis yang sama kayak aku.
Nggak cuma tentang pencarian cowok dan persahabatan aja, tapi juga banyak membahas tentang keluarga. Awalnya, aku juga agak kesel sama kakaknya Safira, adiknya juga. Tapi setelah baca lebih dalam lagi, ternyata mereka ini butuh berkomunikasi, biar nggak salah paham terus. Biar semua uneg-uneg yang mau disampaikan, bisa tersampaikan dengan jelas.
Suka sekali dengan penyelesaian masalah Safira. Bener-bener semuanya butuh komunikasi, dan cari cowok mapan bukan solusi supaya nggak jadi sandwich generation. Hihi..
From the book...
"Ya makanya, cari pacar. Short term win-nya, kalau jalan lo dibayarin makan atau nonton. Long term win-nya, kalau cocok, lo nikah. Hidup lo dibayarin dia. Spare duit lo jadi banyak, utang cepet beres. Lo cepet punya tabungan. Terus hidup bahagia selamanya, deh." — P. 31
"Anyway, maksud gue, kejadi ini bisa kita jadikan pelajaran, kan? Jadi orangtua jangan nyusahin anak, harus punya perencanaan yang matang. Kalau ngutang harusnya bilang-bilang. Kalau nggak kan yang heboh sekeluarga." — P. 33
"Biar nggak decision fatigue. Capek mikir. Setiap hari kita harus ambil keputusan dalam pekerjaan. Sayang anget kalau kapasitas otak kita dihabisin buat mikir hal-hal remeh seperti mau pakai baju apa hari ini.” — P. 47
“Tapi menurutku, yang kamu lakukan itu hebat. Saat orang seumuran kamu sibuk dengan kesenangan mereka sendiri, kamu berkorban untuk keluarga. Orang-orang takut jadi sandwich generation, kamu malah menawarkan diri untuk nanggung utang Papa kamu." — P. 61
"Soal ikhlas ini memang ringan di lidah, seringkali berat di hati." — P. 78
"Lo sudah berusaha dengan baik. Yang lo lakukan itu memang nggak mudah. Menurut gue, lo keren banget." — P. 79
"Jangan lupa nabung, tapi jangan pelit-pelit amat sama diri sendiri juga." — P. 116
"Orangtua kita ngerawat kita sampai dewasa, mereka nggak pernah hitung-hitung pengorbanan ke kita. Terus saat orangtua kita nggak punya apa-apa lagi buat dikasih ke kita, kita mau kabur, gara-gara takut dibilang sapi perah keluarga?" — P. 125
"Dari awal garis start lo sama dia emang jauh beda. Dia plus, lo minus. Kalau lo mau ngejar dia, ya susah." — P. 127
"Lo juga, Mar, jangan kasian-kasian sama gue terus, dong. Nabung emang penting, tapi takdir gue lagi kayak gini mau diapain? Keluarga gue semua juga udah abis-abisan, masa gue lepas tanggung jawab? Lagian hidup gue juga nggak parah-parah amat, kok. Buktinya gue masih bisa traktir lo sama Eveline makan siang di sini." — P. 158
"Emang kondisi gue beda kayak orang-orang lain. But everyone has their own battle, right? Sometimes we just have to set the right comparrison. Jadi, biarkan gue lunasin utang bokap gue dengan tenang, tanpa harus bikin gue ngerasa sengsara ngejalaninnya. Nggak semua orang punya privilage kayak lo." — P. 158
"Jangan terlalu keras sama diri kamu juga, Saf. Tanggung jawab kamu saat ini memang besar, tapi bukan berarti kamu nggak berhak bahagia." — P. 166
Wednesday, June 4, 2025
[REVIEW] Witching Hearts
Witching HeartsAdelina AyuBhuana Sastra368 Halaman
"Gue tahu lo sayang banget sama Shaien. Tapi, rasa sayang dan cinta itu nggak cuma hadir saat lo lagi merjuangin hubungan lo ke seseorang biar kalian tetap bersama. Terkadang, saking sayangnya lo sama seseorang, lo pun ikhlas memilih pilihan yang paling tepat untuk menyayangi orang itu, yaitu dengan ngelepasin dia.”
“ Perasaan orang kan nggak sesimpel satu tambah satu sama dengan dua, Ryl. Kadang satu tambah satu sama dengan lima. Mungkin, itu yang ada di kepala Andra. Hanya karena dia dan Shaien nggak jadian, bukan berarti dia bakal segampang itu ngizinin orang lain buat ‘ngancam’ rumah tangga mereka.” — P. 136
“Berapa banyak makanan yang lo lewatin cuma karena takut atau jijik, tanpa tau kalau hal itu bisa aja hadi pengalaman terseru seumur hidup lo? Kalau gue anaknya suka milih-milih makanan kayak lo, gue nggak akan tahu kalau daging piton itu lebih enak daripada ayam sama sapi.” — P. 82“Ndra, kalau ‘bisa’ ini berhubungan sama orang lain, entah itu teman, keluarga, pokoknya faktor luar, yang terpenting itu lo harus merhatiin diri lo dulu. Kalau lo emang lagi ‘nggak bisa’, nggak usah dipaksa. Sebelum lo bisa ngasih ‘keluar’, lo harus ngasih ‘ke dalam’. Ke diri lo dulu. Salah satunya dengan memproses dan berdamai sama hujan badai itu. Lo harus belajar nerima kalau kadang, lo emang nggak bisa ngapa-ngapain buat menghaau ujan badai itu, supaya hujan badai itu bisa pergi dengan tenang.” — P. 130“Perasaan orang kan nggak sesimpel satu tambah satu sama dengan dua, Ryl. Kadang satu tambah satu sama dengan lima. Mungkin, itu yang ada di kepala Andra. Hanya karena dia dan Shaien nggak jadian, bukan berarti dia bakal segampang itu ngizinin orang lain buat ‘ngancam’ rumah tangga mereka.” — P. 136“Kita nggak bisa ngatur perasaan kita buat seneng terus, Ndra. Humans don’t work that way.” — P. 152“Gue nggak nanya soal lupa, gue tanya, emang emosi negatif itu bisa sembuh kalau nggak dikeluarin? Kalau lo nolak buat sedih terus, nantinya lo jadi sulit untuk ngenalin perasaan lo sendiri dan orang lain. Kan nggak lucu kalau temen lo lagi nangis karena abis putus, malah lo suruh cari poin positif dari masalah dia. Ujung-ujungnya, lo jadi emotionally unavailable.” — P. 152“Emosi ngebantu kita buat ngertiin situasi. Kalau lo sedih karena diputusin, berarti lo sayang banget sama cowok lo. Kalau gue bete karena makanan gue keasinan, itu berarti makanan ini udah ngerusak cheat day gue.” — P. 152“Gue tahu lo sayang banget sama Shaien. Tapi, rasa sayang dan cinta itu nggak cuma hadir saat lo lagi merjuangin hubungan lo ke seseorang biar kalian tetap bersama. Terkadang, saking sayangnya lo sama seseorang, lo pun ikhlas memilih pilihan yang paling tepat untuk menyayangi orang itu, yaitu dengan ngelepasin dia.” — P. 257“Cinta adalah yang tersisa saat masa-masa jatuh cinta—honeymoon phase itu selesai. Those that truly love have roots that grow towards each other underground and when all the pretty blossoms have fallen from their branches, they find that they are one tree and not two.” — P. 343
Monday, May 19, 2025
[REVIEW] The Name of The Game
The Name of The GameAdelina AyuBhuana Sastra331 Halaman
"Kadang, cowok tuh malah lebih ribet daripada cewek, ya? Mungkin karena mereka dituntut untuk selalu terlihat jantan, makanya nggak mau memperlihatkan sisi kalau mereka juga peduli dengan penampilan.”
"Lo juga. Jangan mau merendahkan diri lo karena lo cewek. Jangan mau diatur-atur sama cowok atau siapa pun. Lo bebas melakukan apa yang lo mau, selama lo nggak merugikan orang lain.” — P. 287
"Hidup itu kadang membosankan, Flo. Makanya, kita harus bikin hidup lebih berwarna dengan mencari kebahagiaan dari hal-hal kecil, kayak mencari inspirasi dari label komposisi pada produk-produk rumah tangga” — P. 31“Membiasakan diri dengan lingkungan baru jauh lebih menyenangkan daripada mengerjakan tugas-tugas di semester tua, kok. Mumpung masih semester satu, lo harus bagusin nilai lo dan cari temen sebanyak mungkin.” — P. 33“Benar juga. Kenapa, ya? Cewek nggak marah kalau dibilang tomboi, tapi kalau cowok dibilang banci, ngamuknya langsung kayak apaan tauk. Padahal cewek sama cowok itu kan sama-sama manusia. Terus kenapa cowok harus marah kalau dibilang kayak cewek?” — P. 108“Karena gue mau lo tahu, lo nggak perlu melawan Daryll cuma untuk jadi juara. Lo udah jadi pemenang dengan cara lo sendiri.” — P. 151“Kadang, cowok tuh malah lebih ribet daripada cewek, ya? Mungkin karena mereka dituntut untuk selalu terlihat jantan, makanya nggak mau memperlihatkan sisi kalau mereka juga peduli dengan penampilan.” — P. 167“Padahal menurut gue, hal itu nggak perlu. Setiap orang, cewek ataupun cowok, siapa sih yang nggak mau cakep? Dan kalau mau cakep, ya harus usaha. Makanya gue nggak ngerti kenapa mereka harus sembunyi-sembunyi cuma untuk nyisir.” — P. 167“Karena di dunia ini memang nggak ada yang sempurna, dan hati kita ditakdirkan untuk terus mencinta. So, you have to deal with it.” — P. 219“Karena menurut aku, kita itu bisa berubah, entah jadi lebih baik atau buruk karena orang yang kita suka. Emang sih kedengarannya dangkal banget, tapi siapa sih yang bisa ngasih kita pengaruh besar kalau bukan orang yang kita suka?” — P. 244“Katanya, warna, fashion, olahraga, seni, dan lain-lain itu genderless. Nggak ada yang namanya warna khusus diciptakan buat cewek atau cowok. Kita bebas memilih apa pun yang kita mau. Konstruksi sosal yang seenaknya memisahkan mana yang untuk cowok, mana yang untuk cewek. Padahal mah yang kayak gitu tuh nggak ada.” — P. 285“Lo juga. Jangan mau merendahkan diri lo karena lo cewek. Jangan mau diatur-atur sama cowok atau siapa pun. Lo bebas melakukan apa yang lo mau, selama lo nggak merugikan orang lain.” — P. 287
Sunday, November 3, 2024
[REVIEW] Mirah
MirahElisabeth IkaBhuana Sastra291 Halaman
“Yang mau aku tahu soal kamu adalah kamu yang sekarang dan apa yang kamu pengin buat masa depan. Bukan yang ada di belakang.”
“Orang miskin enggak boleh capek. Enggak boleh sakit. Enggak boleh mengeluh, supaya punya duit buat makan besok. Atau setidaknya, biar bisa bayar cicilan utang.” — P. 87
“Saya tidak butuh orang pintar saja. Saya butuh orang yang mau memanfaatkan kesempatan dengan baik dan benar, cerdas, cekatan, tangguh, berani-tapi tidak banyak bicara.” — P. 19“Yang mau aku tahu soal kamu adalah kamu yang sekarang dan apa yang kamu pengin buat masa depan. Bukan yang di belakang.” — P. 137“Bilang saja, Mir. Ceritain masalah-masalahmu. Entah aku bisa membantu atau enggak, setidaknya aku bisa temenin kamu, biar kamu enggak perlu malu. Ada aku, Mirah. Ada aku di pihak kamu.” — P. 201“Bapak bilang jangan menahan diri. Aku boleh marah kalau hakku dirampas. Aku boleh menangis kalau aku kecewa. Aku boleh menangis kalau aku terluka. Bapak bilang tidak apa-apa, karena kita manusia yang punya emosi. Marah, kecewa, dan menangis bukan menandakan kalau kita lemah.” — P. 230“Pernikahan buat kalian adalah sesuatu yang sulit, Mbak Mirah. Kita sama-sama tahu tentang ini. Saya bukan menilai seseorang dari masa lalunya, tapi kalau masa depannya saja tidak ada buat apa dipertahankan seterusnya?” — P. 266“Enggak tahu. Memangnya harus punya alasan buat jatuh cinta sama orang? Memangnya kamu punya alasan kenapa sayang sama aku?” — P. 290
Tuesday, July 30, 2024
[REVIEW] Dear Writers, Let’s Revisweet
Dear Writers, Let’s RevisweetLeefeBIP Gramedia342 Halaman
“Dia punya masalah mental. Orang yang terluka akan cenderung melukai orang lain juga. Makanya, itulah kenapa hubungan bagus adalah hubungan yang terdiri dari dua orang yang sudah sama-sama stabil secara mental, bukan sepasang luka.”
“Logika penulis dan editor memang kadang kayak langit dan selokan. Editor penginnya memoles karya jadi sebagus mungkin supaya pembaca tidak menyesal membeli bukunya, tetapi penulis punya idealis tersendiri.” — P. 43
“Logika penulis dan editor memang kadang kayak langit dan selokan. Editor penginnya memoles karya jadi sebagus mungkin supaya pembaca tidak menyesal membeli bukunya, tetapi penulis punya idealis tersendiri.” — P. 43“Saya nggak mau ada Lio lain di dunia ini, kak. Yang jadiin trauma masa kecil sebagai patokan cara memandang di dunianya, padahal dia yang jahat ke diri sendiri dengan larang semua orang kenal dia lebih deket.” — P. 105“Dia punya masalah mental. Orang yang terluka akan cenderung melukai orang lain juga. Makanya, itulah kenapa hubungan bagus adalah hubungan yang terdiri dari dua orang yang sudah sama-sama stabil secara mental, bukan sepasang luka.” — P. 136“Target? Nggak tuh. Gue nggak suka batasin diri sendiri, Ko. Nikahlah pas udah siap. Punya pasangan pas udah selesai sama diri sendiri.” — P. 168“Jadi… saya nggak peduli kamu menulis di pagi, sore, atau dini hari. Saya nggak peduli kamu mau bikin ceritamu happy ending atau sad ending. Saya hanya peduli pada ‘jiwa’ apa yang kamu letakkan di tulisanmu? So, menulislah dengan hati, Faya. Dengan begitu, kamu nggak akan terbebani atau merasa kesulitan harus menulis apa waktu duniamu lagi nggak baik-baik aja.” — P. 174“Dalam hidup, adakalanya kamu harus menderita. Bukan karena kamu jahat dan sedang mendapat karma, tetapi karena kamu terkadang tidak menyadari kapan dan di mana harus berhenti jadi terlalu baik. Tuhan menunjukkan semuanya melalui penderitaan itu.” — P. 207 to 208“Setiap orang pasti memiliki standar pasangan ideal versinya masing-masing. Perempuan yang berkualitas punya, lelaki yang berkualitas punya juga. Nah, akan sangat melelahkan apabila hanya satu pihak yang menuntut kriteria pasangan idaman, sementara di sendiri tidak berusaha menjadi idaman.” — P. 273“Cantik itu bukan hanya soal paras, melainkan kepribadian serta sudut pandang seseorang terhadap dunia. Paras hanya bertahan dalam hitungan dekade, sementara personality menetap seumur hidup.” — P. 273“Saya cuma ngungkapin sesuka apa saya sama dia. Bukan untuk dapetin balasan, melainkan bikin dia sadar semenakjubkan apa dia di mata orang lain. Kalau orang lain aja bisa sesuka itu sama dia, maka dia pun bisa sesuka itu sama dirinya sendiri. Mencintai dirinya apa pun kekurangannya.” — P. 275“So… I tell you to let go of everything that makes you sad, Faya. Kayak yang akan saya lakuin habis ini. Let go. Jalanin hidup kamu seperti yang kamu penginin, bukan apa yang orang lain pengin. Tolong jaga diri kamu baik-baik.” — P. 276“Kalau kamu ketemu cowok yang kamu suka, jangan takut buka lembaran baru di hidup kamu. Don’t miss out your own happiness.” — P. 284“Cinta itu emosi, dan emosi itu tidak tetap karena subjek yang merasakannya adalah manusia. Kemarin Faya berpikir dirinya tak punya dukungan siapa-siapa, tetapi hari ini ia merasa hangat karena support yang tidak pernah diketahuinya.” — P. 284“Hidup bukanlah susunan kalimat teratur yang sesuai dengan kaidah. Akan ada hal-hal yang terjadi di luar prediksi. Kadang rapi dan kadang juga berantakan. Seperti jatuh cinta.” — P. 324
