Pelarian Dua ArahOlen SaddhaBhuana Sastra184 Halaman
“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.”
B L U R B
Ini kisah tentang Bia dan Saga, dua anak manusia yang masing-masing berlari menjauh dari dunia yang penuh tuntutan dan larangan. Bia dengan cita-citanya yang dikubur paksa oleh pacar dan ibunya sendiri, Saga dengan tuntutan pacarnya untuk memikirkan masa depan dan karier.
Lewat gedung pertunjukan dan panggung teater, keduanya sepakat berhenti sejenak untuk menemukan diri mereka sendiri di sana.
- - - - - - - - -
Bagi Bia, teater dan puisi adalah dunianya. Sayangnya, Gora–pacarnya dan Bu Desy–ibunya sangat tidak menyetujui hal tersebut. Bagi Bu Desy, menjadi aktris adalah hal yang sia-sia, mengapa tidak melakukan hal lain saja? Menjadi pengusaha misalnya? Apapun, asalkan jangan menjadi aktris.
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42
Sementara bagi Saga, saat ini keluarganya lah yang paling utama. Kehilangan Ayah, membuat dia mau tak mau menjaga yang ada, Ibu dan Nolan–adiknya. Saat ini, kuliahnya masih tidak begitu jelas kapan akan selesai, tapi prioritasnya adalah membantu Ibu dan adiknya hidup lebih layak.
Di gedung pertunjukkan, keduanya dekat dan saling berbagi cerita. Lewat teater juga, mereka saling membagi impian mereka. Bisakah mereka akhirnya menyelesaikan masalah mereka masing-masing?
Pelarian Dua Arah sudah menjadi buku incaranku ketika aku nggak sengaja buka websitenya Bhuana Sastra. Aku kira, awalnya ini tentang toxic relationship yang rumit dan nggak menemukan titik terangnya. Yang orang-orangnya menyebalkan gitu. Ternyata enggak.
Tentang Bia dan Saga yang simply hanya ingin menikmati ‘waktu’ mereka masing-masing. Bia dengan dunia teaternya, mimpi masa kecilnya, harus berjalan beriringan dengan larangan ibu dan pacarnya, belum lagi ada beberapa kejadian yang nggak mengenakkan yang harus diterimanya dari Gora.
Sementara Saga, tidak hanya harus berjuang untuk menggantikan posisi ayahnya yang meninggal, dia juga harus memenuhi ekspektasi Ava—pacarnya yang sejak bekerja menjadi punya banyak tuntutan untuk Saga.
Di awal aku sempat bertanya-tanya, sebesar apa sih kesalahan ayahnya sampai-sampai ibunya Bia kok melarang Bia mati-matian ke teater, bahkan Bia juga harus diam-diam kalau ada kebutuhan untuk teater. Setelah tau gimana kelakuan ayahnya Bia, aku juga ikutan kesel setengah mati. Kok bisa sih ada orang yang pikirannya tuh cupet banget. Kenapa nggak dia memilih untuk bekerja keras membuktikan bahwa dia bisa sukses di dunia teater? Kenapa malah milih jalan yang ampun Tuhan… nggak sanggup lagi aku.
Kisah Saga-Bia ini menurutku sering kita temui di kehidupan sehari-hari, Saga yang lebih memilih memendam, tapi pas ketauan kaget juga. Bia yang serba ‘aku’ dan berusaha mewujudkan mimpinya. Tapi dibalik itu semua, aku cukup kagum sama Bia. Ketika dia sudah menargetkan sesuatu, dia bener-bener mati-matian juga untuk mendapatkan hal itu. Walaupun banyak rintangan, itu nggak menyurutkan Bia. Kalau Saga, aku suka ketenangannya. Cara dia menyikapi suatu masalah, top banget. Menurutku, Ibunya berhasil membesarkan dan mendidik Saga.
Pelarian Dua Arah buatku nggak cuma tentang kehidupan remaja, tapi juga pelarian yang manis. Kukira buku ini bakalan tebal, ternyata tipis dan hangat sekali. Setelah baca, aku senyum-senyum barengan sama Bia-Saga.
From the book…
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42“Katanya kita harus tahu apa tujuan hidup kita. Tapi begitu tahu, hidup seolah menjauhkan kita dari tujuan itu.” — P. 50“Katanya kita harus jadi manusia yang sederhana. Tapi nyatanya hidup nggak pernah berpihak pada siapa pun yang memilih hidup biasa-biasa saja.” — P. 51“Impianku jadi aktris juga timbul-tenggelam. Bahkan aku nggak yakin itu bisa terwujud atau nggak. Tapi, adanya impian itu bikin aku ingat kalau aku masih hidup di dunia. Dan selama masih hidup, yang namanya rintangan nggak akan pernah ada liburnya, kan?” — P. 51“Katanya, kadang kita harus menyayangi orang yang salah dulu sebelum menemukan orang yang telat. Kamu percaya?” — P. 60“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.” — P. 159“Sebetulnya mereka tidak benar-benar yakin, apakah mereka telah melakukan sebuah pelarian atau tidak. Namun, jika memang demikian, berlari berdua membuat mereka sadar, inilah pelarian paling indah untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya.” — P. 174
No comments:
Post a Comment