Monster MinisterAya WidjajaKepustakaan Populer Gramedia328 Halaman
“Sebaik-baiknya bos dan setinggi-tingginya gaji, pasti ada obrolan di belakang berisi caci maki.”
B L U R B
”Semua Account Executive, Marketing, dan Sales kumpul untuk rapat sekarang juga.”
”Aku juga? Tapi aku, kan—”
”Masih ada sejam sebelum jatah cuti lo berlaku, kan? Kalau masih pengin gajian di sini, saran gue mending ikut rapat.”
Kalita Yuma tidak tahan lagi dengan tuntutan target sang bos bertangan besi. Bukan hanya keringat, Kalita yang diperas sampai tiris, hubungannya dengan Ibram juga kandas lantaran jam kerja yang tak habis-habis. Menuruti nasihat ibunya, Kalita mengundurkan diri lalu melamar sebagai staf di Kementerian Penerangan Informasi. Penghasilannya memang terjun bebas, tapi setidaknya hidupnya lebih tenang. Sampai kabar bahwa Aldrich Avery Sharga, mantan bosnya itu, masuk kabinet sebagai Menteri Penerangan Informasi—alias akan menjadi bos Kalita lagi!
Sementara semua orang menyambut kehadiran menteri muda tampan itu bak angin segar, Kalita malah mual dan buru-buru sebar CV supaya bisa segera angkat kaki dari Kempinfo. Kerjaan baru tak kunjung didapat, Kalita malah ditarik menjadi sekretaris pribadi Pak Menteri! Kalau semua terserah Kalita, dia jelas tidak mau menderita untuk kedua kalinya. Namun, tanggungan sebagai sandwich generation membuat Kalita tidak siap menjadi pengangguran. Jadi, mau bagaimana lagi? Kalita terpaksa mengulang kisah yang sama. Akankah kali ini akhirnya berbeda?
- - - - - - - - -
Bagi Kalita, AllYouNeed–kantor lamanya seperti love-hate relationship. Gaji dan bonusnya sangat menggiurkan, tapi jam kerjanya nggak masuk akal. Udah nggak kalah kerja sama BUMC kalau kata gen-z. Tapi apalah arti gaji dan bonus kalo harus dibayar batal menikah ya kan?
“Bu, kenapa harus jadi pegawai negeri, sih? Dulu alasannya supaya jam kerja lebih jelas. Tapi lihat, dong, aku tetap pulang larut, gaji juga segitu-segitu aja.” — P. 60
Tapi gimana kalo Kalita ketemu lagi sama bos yang sama, dengan vibes kerja yang sama? Bisakah kali ini Kalita resign dan mencari pekerjaan baru lagi? Atau kembali ke AllYouNeed, mengingat monsternya sudah pindah ke Kempinfo.
Respon pertama saat baca Monster Minister adalah.. bengong. Soalnya penjelasan tentang kehidupan kerja Kempinfo tuh cukup detail dan bikin aku jadi harus fokus bacanya.
Awalnya, membaca kisah Kalita tentang gimana ‘gila’nya AllYouNeed, aku jadi keinget kantorku. Pak Bos juga orang yang lagi semangat-semangatnya untuk masuk tender di perusahaan gas dan minyak, jangan ditanya prospeknya kayak apa, kalo bisa supply semua mah, bener-bener semua disupply. Tapi kalo Kalita, emang bener kayaknya Aldrich ini beneran GILA!
Perubahan jabatan Aldrich dari seorang CEO jadi Menteri ini menurutku udah anomali banget. Sejauh yang aku tau, petinggi swasta jarang banget ada yang mau masuk ke dunia politik, soalnya yaaa.. ngapain? Mungkin memang bisa bantu birokrasi lebih cepat, tapi ya.. agak ribet.
Menurutku, Kalita ini apes aja. Hari apes memang nggak ada di kalender kan? Pasti bisa tiba-tiba terjadi kan? Cuma hebatnya, Kalita udah bikin jantungan orang sedivisinya. Berani ngomelin tamu yang datang ke kantor Kempinfo, mencecar presentasi tender, bahkan sampe ngomel langsung ke Aldrich yang mendadak jadi atasannya. Gebrakan yang bener-bener menggebrak sih.
Selama proses bacanya, seneng sih. Terhibur dengan perdebatan Kalita-Aldrich, gimana sikap semena-mena Aldrich dibales sama omongan ketusnya Kalita, meskipun itu jatuhnya nggak sopan ya. Yang aku agak aneh, ketika Aldrich mulai ada perasaan sama Kalita, aneh ni. Karena aku keinget sama bosku yang kadang kidding, aneh nggak sih, kalo dia suka sama aku gitu. Lebih baik menjauh kan?
Ya meskipun sebenernya, Aldrich sebagai bos galak ini nggak melulu jelek terus. Ada kalanya dia loyal dan baik. Nggak semata-mata semuanya buruk kok. Meskipun 60% sih ngeselin banget.
Suka sekali dengan tulisan kak Aya, penjelasan tentang dunia Kempinfo juga oke, nggak hanya pakai namanya aja. Malah belakangan, aku baru relate sama dunia kerjanya Kempinfo ini. Soalnya kantorku juga beberapa kali masuk di tendernya E-Catalog, jadi paham banget gimana cara kerjanya.
Aku juga suka kak Aya menggambarkan Banda Neira di sini! Aduhhhh.. bener-bener berasa diajak jalan online deh. Detail banget setiap tempat yang dikunjungi, suasananya. Soalnya aku pernah lihat igstory salah satu temenku, dia jalan-jalan ke Banda Neira juga suasanya kayak yang digambarin sama kak Aya.
From the book…
“Apa hebatnya cakep kalau kelakuannya bikin kicep?” — P. 7“Sebaik-baiknya bos dan setinggi-tingginya gaji, pasti ada obrolan di belakang berisi caci maki.” — P. 12“Terkadang, masalah tidak selalu bisa terpecah. Terkadang seseorang hanya butuh ruang berkeluh kesah. Tak ada solusi, tak masalah. Terkadang diperlukan kehadiran seseorang bersama obrolan omong kosong dan penghiburan tak berfaedah untuk melewati hari yang tak mudah.” — P. 14-15“Bu, kenapa harus jadi pegawai negeri, sih? Dulu alasannya supaya jam kerja lebih jelas. Tapi lihat, dong, aku tetap pulang larut, gaji juga segitu-segitu aja.” — P. 60“Sebelum sesumbar bakal bikin perubahan, lo sepertinya harus sadar bahwa tempat inilah yang mengubah kita.” — P. 89“What you wear is how you present yourself to the world.” — P. 131“Kalau senyum itu ibadah, ketawa saya barusan itu sedekah. Lelucon Bapak garing, tahu, nggak?” — P. 196 to 197“Karena dia punya harta yang membuat keluarganya bahagia, tapi nggak punya kesempatan memberikan sesuatu buat negaranya. Pada akhirnya, dia memilih pensiun dini dari dunia bisnis dan lebih banyak berkutat untuk urusan sosial atau CSR.” — P. 222“Kakek saya selalu berpesan, jangan cuma cari harta, tapi juga cari kesempatan berkontribusi untuk negara yang tanahnya membuat kita jaya.” — P. 222“Membedakan situasi adalah kunci sukses karier, Kalita.” — P. 244“Tuhan tidak menciptakan satu pun makhluk tanpa manfaat. Oleh karena itu, manusia berlomba memanfaatkan satu sama lain. Semua orang pernah dimanfaatkan, Kalita.” — P. 253“Kamu tidak dilarang untuk tidak percaya, tapi kegagalan itu nggak pernah saya sesali. Kegagalan pertama membuat saya lebih serius menjalani hidup. Kegagalan kedua adalah usaha saya berbakti kepada orangtua, sekaligus senjata bagi saya kalau mereka ngatur-ngatur lagi soal jodoh saya.” — P. 256“Saya nggak bisa memilih orang yang terlalu sibuk karena saya butuh dia ada untuk saya, begitu juga sebaliknya. Saya mau selalu ada buat dia supaya kalau dia kenapa-kenapa saya bisa selalu ada buat dia.” — P. 317 to 318“Saya nggak bisa memintanya berhenti bekerja demi saya karena dia pasti punya dunia sendiri yang nggak melulu soal saya dan keluarga. Tapi saya juga nggak bisa memilih seseorang yang tidak bekerja karena saya yakin hidupnya akan hampa karena saya terlalu sibuk di luar.” — P. 318“Bapak jangan lupa juga, saya ini orang biasa. Saya nggak pernah kelewat halu sampai mimpi ditaksir Menteri. Bukan minder, tapi realistis. Orang terpandang pasti punya cara pandang berbeda dengan saya yang jelata. Bukan cuma Bapak, tapi juga keluarga Pak Aldrich. Saya nggak bisa membayangkan Bu Ilana selain sebagai ibu atasan saya.” — P. 320

No comments:
Post a Comment