Cinta Bertepuk Sebelah ManaDimas AbiGramedia Pustaka Utama264 Halaman
“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.”
B L U R B
“Naryo, mungkin nggak sih persahabatan kita berakhir di pelaminan?”
Perkara Lian suka mengganti panggilan Gusti seenak jidat memang sudah tabiatnya. Namun, pertanyaan Lian itu sukses bikin Gusti minum obat masuk angin. Masalahnya, ia tak pernah menganggap Lian lebih dari sahabat, meski orangtua mereka berharap sebaliknya. Dengan janji akan memberikan kepastian, Gusti berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya.
Namun, Gusti menyimpan tujuan lain: mencari Seruni, cinta lamanya yang dulu tak pernah terbalas. Takdir mempertemukan mereka kembali, dan kali ini Seruni memberi isyarat yang berbeda. Gusti kini terjebak dalam dua pilihan yang rasanya mustahil. Cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini berubah menjadi cinta bertepuk… sebelah mana?
- - - - - - - - - - -
Bagi Gusti, persahabatannya dengan Lian sejak jaman SMP ya bener-bener hanya sahabatan. Tempat dia nyambat, susah, seneng, apalagi orangtua mereka juga udah deket. Tapi ketika pertanyaan Lian dipenghujung umurnya yang menjelang kepala tiga, Gusti kembali memikirkan persahabatannya lagi selama ini. Masa iya, sahabat jadi cinta?
“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225
Bukannya Lian nggak cantik, tapi yang Gusti mau bukan Lian. Gusti maunya sama Seruni, cinta pertamanya, cinta monyetnya, cinta sekonyong-konyong kodernya. Kali ini, dengan perjalanannya ke Jepang untuk melanjutkan studi, Gusti juga memiliki agenda lain yaitu bertemu dengan Seruni. Kira-kira gayung bersambut nggak ya? Mengingat Seruni dulu adalah idola semua orang, apa ya nggak makin minder Gusti deketinnya?
Seperti kata kebanyakan orang, pertemanan dua orang yang beda gender itu biasanya nggak ada yang beneran murni. Pasti salah satunya jatuh cinta. Sama seperti Lian dan Gusti, berteman sejak jaman SMP, membuat keduanya paham sifat baik-buruk keduanya. Termasuk siapa yang disukai satu sama lain.
Banyak juga yang bilang first love never dies, cinta pertama nggak pernah mati. Dia cuma tertidur nyenyak aja. Mungkin ini yang dirasakan sama Gusti sama Seruni, cinta pertamanya sejak SMA. Ketika ada kesempatan untuk lanjut S2 ke Jepang dan bertemu kembali, kenapa enggak? Sambil menyelam, minum air!
Pas awal membaca kisah Gusti-Lian-Seruni, aku sempat jadi tim Gusti-Seruni. Soalnya Gusti kan memperjuangkan cinta yang sejak dulu diinginkan, kenapa enggak? Tapi pas tau kalo Seruni nggak sebaik itu, kayaknya jadi temen aja deh. Mendingan sama Lian aja. Daripada makan ati sama Seruni. Ternyata banyak juga ya orang yang enak untuk diajak berteman aja ketimbang masuk dalam suatu hubungan.
Selama membaca dari pertengahan sampe akhir, seru banget sih. Selain melihat perjuangan Gusti mendapatkan Seruni, kita juga diajak jalan-jalan ke Jepang yang memanjakan mata banget. Sesekali aku berhenti untuk cek tempat-tempat yang didatangi sama Gusti dan Herman.
Mengambil setting tempat di Jepang dan Yogyakarta, kita juga diselipkan bagaimana kebiasaan penduduk setempat, budayanya, dan juga bahasanya.
Sosok yang paling kusuka di sini malah Herman, sahabatnya Gusti yang juga kebetulan S2 bareng sama Gusti. Dia ini cowok yang realistis banget, meskipun kadang agak norak dikit.
Menurutku, buku ini nggak cuma mengajarkan siapa yang lebih pantas buat kita, tapi juga perlakuan dalam satu hubungan. Apalagi melihat Seruni yang cukup dominan dan banyak ngatur di sini. Dan kayaknya kebanyakan cowok tuh lebih ‘nangkep’ perasaannya setelah ditinggal atau bahkan dicuekin dulu ya?
Overall, menikmati sekali baca kisah Gusti-Lian-Seruni ini, sambil menikmati Yogyakarta dan Jepang.
From the book …
“Ibuk nggak lihat itu sebagai masalah, Gus. Lian itu baik, pinter, nyambung, dan yang jelas wes ngerti kamu. Dalam pernikahan justru itu yang penting. Lihat Bapak dan Ibuk, bisa bertahan gara-gara itu semua.” — P. 14“Maksudku gini, Gus. Ada 133 juta wanita di Indonesia. Ini data BPS lho. Artinya banyak banget pilihane, Gus. Dan dirimu tetap terjebak di satu cewek?” — P. 87“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.” — P. 133“Berbahagia karena seseorang itu boleh. Tapi menggantungkan kebahagiaan hanya ke segelintir orang, nah iku sing bikin mumet, Nduk.” — P. 187“Intinya gini lho, Nduk. Sebagian besar yang ada di hidupmu ini, sebenarnya adalah hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Termasuk perasaanmu, masalahmu. Bunda nggak bisa ngatur perasaanmu, Bunda juga nggak bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu sendiri yang bisa mengatur dan menyelesaikannya. Bunda cuma bisa bantu.” — P. 188“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225“Gini, Gus. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan, setiap kesalahan punya konsekuensi. Ini konsekuensi yang harus kamu jalani. Kamu juga sih, Gus, ada Lian yang sayang sama kamu, tapi kamunya merem.” — P. 241
No comments:
Post a Comment