Sunday, June 28, 2026

[REVIEW] Coto, Konri, dan Calypso

Coto, Konro, dan Calypso
Sasa Ahadiah
Penerbit Buku Kompas
200 Halaman

“Masak itu modal utama kalau mau mandiri. Keterampilan dasar dalam bertahan hidup. Lagian, dengan memasak, pengeluaran budget rumah bisa lebih terkontrol. Lebih nyaman buat alokasi budget ke kebutuhan lain selain beli makan.”


B L U R B

Demi menghindari desakan ibu untuk mempelajari masakan Makassar, Ical menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan yang tak kenal waktu. Seolah tidak bisa menghindari takdir, pekerjaan jugalah yang mempertemukannya dengan Rafa, seorang chef memesona, unik, yang ternyata merupakan pengagum masakan Makassar dari rumah makan milik Ibu Ical.

- - - - - - - - -

Selama ini Calypso Kinandita alias Ical, memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, kalau dia adalah anak pemilik Daeng Baji, rumah makan Makassar yang cukup terkenal di Jakarta. Bagi Ical, hal itu tidak harus dipamerkannya, toh tidak berefek apapun pada pekerjaannya.
“Coto Makassar ini adalah contoh slow food. Demi membuat kuah coto jadi penuh rasa tapi ringan seperti ini, kita harus melalui proses memasak yang sangat panjang. Orang yang masak slow food itu punya perasaan yang kuat terhadap masakannya. Atau seenggaknya, perasaan kuat ke orang yang dimasakkan.” — P. 40

Pekerjaan Ical selama ini adalah manajer unit yang tidak membutuhkan banyak interaksi dengan berbagai macam pihak. Kali ini Bang Joni—atasannya, mengajaknya meeting untuk project baru. Awalnya Ical mengira ini hanyalah meeting biasa, untuk menemani saja. Nggak taunya, dia malah ditunjuk sebagai pengganti temannya yang hari itu berhalangan.

Karena dadakan, Ical tidak menyiapkan dan asal sebut untuk Chef yang nantinya akan diajak bekerja sama termasuk dengan nama programnya. Perjalanan proses persiapan untuk episode pertama Rajut Rasa, berjalan dengan aman sampai ketika tim Rajut Rasa mengetahui bahwa Ical adalah anak pemilik Daeng Baji, dan Rafa termasuk salah satu pengagumnya.

Membaca kisah Ical ini cukup bikin gemes. Karena sejak awal, Ical ini tipe anak yang nggak percaya diri. Jadi dia dikasih kerjaan apa aja, ya dijalankan dengan baik. Tapi nggak terlalu menggebu bahwa dia harus naik jabatan, atau punya target lainnya. Menurutku terlalu lempeng kehidupan Ical ini.

Di awal, kita akan disuguhkan bagaimana kehidupan Ical sehari-hari mulai dari sebelum berangkat kerja, sampai pulang kerja. Termasuk ketika dia harus pulang ke Daeng Baji. Bagi Ical, sepulang kerja ini cukup menghabiskan mentalnya. Dia tidak menyukai bau daging di Daeng Baji. Aneh banget, masa iya anak pemilik rumah makan malah eneg sama bau dagingnya? Tapi bisa aja kan? Karena udah terlalu sering sampe eneg banget.

Ketika Ical mendapatkan kesempatan untuk membuat program baru, di sinilah kehidupan Ical mulai gedebag-gedebug. Segala konflik batinnya juga mulai muncul. Apalagi mengingat dia nggak bisa memasak, Ibunya juga nggak suka kalau ada kru TV yang mau meliput rumah makannya.

Permasalahan di sini awalnya kukira hanya Ical dan Ibunya aja. Ternyata, Ical juga punya kakak yang sudah menikah dan tinggal di Lampung. Setelah tau kendala mereka tuh aku rasanya pengen ngajak duduk mereka bertiga. Komunikasi! Komunikasi. Gemes banget. Ibunya merasa nggak mau ngebebani, Ical merasa Ibunya ini nggak peka. Semakin kompleks aja.

Yang aku suka, Coto, Konro, dan Calypso ini nggak cuma membahas tentang Ical dan Daeng Baji, tapi juga bahasa Makassar yang dipakai dalam percakapan setiap harinya. Nggak terasa mengganjal atau aneh. Mengalir aja. Seru banget. Penyelesaian masalahnya juga nggak bertele-tele. Hearwarming.


From the book…
“Coto Makassar ini adalah contoh slow food. Demi membuat kuah coto jadi penuh rasa tapi ringan seperti ini, kita harus melalui proses memasak yang sangat panjang. Orang yang masak slow food itu punya perasaan yang kuat terhadap masakannya. Atau seenggaknya, perasaan kuat ke orang yang dimasakkan.” — P. 40

“Ical masih kecil. Sudah pi berat bantu Ibu kerja, urus rumah makan. Ical harus urus sekolah sendiri, Ibu tak bisa ki ajarkan Ical. Jangmokoikut pikir ini-itu, Ibu a’kodongna lihat Ical susah.” — P. 60

“Lebih kayak naif katanya, tapi buat saya, salah satu menariknya makanan ya begitu. Bisa menghubungkan orang.” — P. 75

“Masak itu modal utama kalau mau mandiri. Keterampilan dasar dalam bertahan hidup. Lagian, dengan memasak, pengeluaran budget rumah bisa lebih terkontrol. Lebih nyaman buat alokasi budget ke kebutuhan lain selain beli makan.” — P. 174


No comments:

Post a Comment