Ronggeng Dukuh ParukAhmad TohariGramedia Pustaka Utama412 Halaman
“Lebih aneh lagi, Nak. Orang yang sudah tahu akan akibat buruk tetapi masih juga berani mengambil risiko.”
B L U R B
Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri.
Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten.
Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini.
Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu.
Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun.…
Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Bianglala, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun.
- - - - - - - - -
Srintil, satu dari sekian anak kecil yang tumbuh di Dukuh Paruk, sebuah dukuh yang terkenal karena kemiskinannya. Satu hari ditengah musim kemarau yang berkepanjangan, Srintil mengajak ketiga teman lainnya, Rasus, Warta, dan Darsun untuk menari. Anehnya, Srintil menarikan gerakan ronggeng. Padahal di Dukuh Paruk, sudah lama tidak ada pentas ronggeng. Sakarya–kakek Srintil–percaya bahwa Srintil sudah dirasuki indang ronggeng.
“Bila Kang Sakum tidak picek tentu dia akan berkata kepadaku: jangan membabi buta mengenar orang yang lari. Nanti terbanting seperti bunglon itu.” — P. 167
Dukuh Paruk kembali hidup berkat Srintil yang dinobatkan menjadi ronggeng baru. Dia yang cantik tanpa perlu banyak dipoles makeup. Bahkan, Rasus, salah satu anak yang umurnya tidak jauh dari Srintil, mengaguminya. Seringkali dia menganggap Srintil adalah jelmaan ibunya yang sudah lama tidak ditemuinya. Mengingat di Dukuh Paruk pernah terjadi tragedi tempe bongkrek yang menghilangkan sebagian besar nyawa.
Sebelum penobatan Srintil sebagai Ronggeng, dia harus melalui beberapa perayaan adat, salah satunya adalah bukak klambu. Dia harus melayani laki-laki yang memenuhi syarat yang diberikan oleh dukun ronggeng. Srintil sungguh berharap Rasus menjadi laki-laki yang dia layani, mengingat Rasus adalah anak yang cukup baik, dan tidak seperti anak Dukuh Paruk kebanyakan.
Sayangnya, Rasus tidak bisa melakukannya, mengingat syarat yang diberikan dukun ronggeng cukup berat. Apakah Rasus bisa membantu Srintil dalam hal lainnya?
Ronggeng Dukuh Paruk menjadi salah satu buku yang.. bisa dibilang cukup sering lewat di timelineku. Beberapa bookstagram juga sering mengulas buku ini, dan menjadi salah satu buku yang once in a lifetime, untuk dibaca.
Sewaktu awal membaca, kita akan disuguhi betapa anehnya hidup di Dukuh Paruk. Anak-anak kecil yang omongannya cukup kasar, dan tidak sekolah. Sementara orang tuanya juga bekerja seadanya. Bener-bener terbelakang sih menurutku.
Ketika Srintil akan dinobatkan menjadi seorang ronggeng, aku cukup kaget dengan syarat yang akan dilakulan. Seorang anak berumur 11 tahun, dan harus melayani laki-laki. Seharusnya anak umur segitu masih main-main sih. Bersenang-senang, nggak perlu banyak beban pikiran. Apalagi melayani laki-laki yang bukan suaminya.
Nggak berhenti sampai di sana, dukun ronggengnya juga memanfaatkan banget. Syarat untuk mendapatkan Srintil juga semakin tidak masuk akal. Kasar ngomong, Srintil ini kayak ‘dijual’. Meskipun bayaran itu juga akan diberikan pada Srintil, tapi terlalu dikomersilin aja.
Membaca Ronggeng Dukuh Paruk sangat seru, meskipun jarak tulisannya rapet banget dan narasinya cukup panjang. Menyelami kehidupan Srintil dan Rasus yang terus berusaha untuk melanjutkan hidup, menyelami lagi kehidupan Dukuh Paruk yang kadang bikin ngelus dada, dan juga kengerian ketika masuk di tahun 1965.
Mengambil latar tahun 1960an, aku dibawa masuk ke kehidupan di jaman itu. Suasana Dukuh Paruk, Dawuan, Eling-Eling. Hiburan dan tingkah laku para tokohnya, termasuk bagaimana respon mereka terhadap hal-hal baru. Ketika Dukuh Paruk akan dibangun sistem perairan, ketika mereka juga dibumihanguskan akibat imbas dari kekisruhan yang terjadi di tahun 1965.
Awalnya aku mempertanyakan keputusan Rasus, kenapa dia tidak segera meminang Srintil ketika sudah cukup umur. Apalagi Rasus juga memiliki uang dan jabatan yang cukup untuk kehidupannya bersama Srintil. Berkali-kali kesempatan itu ditolak, Rasus. Gemes banget! Padahal Rasus punya kesempatan untuk membuat kehidupan Srintil lebih baik. Ketika pada akhirnya Srintil berubah, aku langsung lemes. Kok ada orang yang pikirannya jelek banget. Kayaknya aku kalo jadi Srintil juga bisa jadi gila sih.
From the book…
“Aku pernah mengalami hal seperti itu. Bocah ayu, percayalah padaku. Semuanya tak mengapa kaulakukan. Ingat, sebuah ringgit emas! Istirahatlah sekarang selagi Sulam masih mendengkur.” — P. 77“Bila Kang Sakum tidak picek tentu dia akan berkata kepadaku: jangan membabi buta mengejar orang yang lari. Nanti terbanting seperti bunglon itu.” — P. 167“Lebih aneh lagi, Nak. Orang yang sudah tahu akan akibat buruk tetapi masih juga berani mengambil risiko.” — P. 177“Inilah yang dulu kukatakan, dalam hidup segala hal mestilah dilakukan pada batas kewajaran. Karena keselamatan berada di tengah antara dua hal yang saling berlawanan. Jadi keselamatan adalah jalan tengah, atau kewajaran atau keberimbangan.” — P. 238
No comments:
Post a Comment