Why You’re Not Married Yet?Sekar ArunaPenerbit Clover236 Halaman
“Pernikahan adalah dambaan setiap manusia yang sudah lama merasakan hidup tanpa pasangan, tetapi memutuskan menikah tidak semudah membalikkan telapak tangan.”
B L U R B
“Kenapa kamu belum menikah?” Pertanyaan itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Prisha, perempuan berusia 32 tahun yang belum menikah dan sibuk meniti karier. Hari-hari Prisha selama ini diisi oleh Gibran, juniornya di kantor yang sedang gencar-gencarnya melakukan pendekatan kepadanya. Namun, Prisha tidak ingin mengulang kesalahan; menjalin hubungan asmara dengan rekan sekantor.
Pekerjaan Prisha mempertemukannya dengan Dirga. Dilihat dari sisi mana pun, Dirga yang merupakan direktur keuangan sebuah aplikasi adalah pria yang mapan dan matang. Usut punya usut, ternyata Dirga juga belum memiliki pasangan.
Dihadapkan dengan pertanyaan tentang pernikahan dari tetangga, rekan kerja, maupun teman-teman seusianya, Prisha mulai terpikir untuk kembali membuka hati. Namun, apakah sekarang merupakan waktu yang tepat? Lalu, kepada siapakah Prisha akan menambatkan hatinya?
- - - - - - - - -
Sebenarnya berapa sih umur seseorang harus menikah? Bagi Prisha, persiapan menikah kan nggak sedikit. Nggak hanya perlu uang, tapi juga kesiapan yang akan menikah, dan tentu saja pasangannya. Sementara pasangan terakhir Prisha, cukup membuatnya sedikit trauma dalam berhubungan.
“Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi harusnya seimbang, tapi kadang semuanya enggak terjadi secara bersamaan. Mungkin kamu terlalu memprioritaskan pekerjaan, makanya belum sempat berkeluarga.” — P. 17
Ketika Gibran, junior kantornya yang dengan terang-terangan mendekatinya, Prisha memilih untuk membiarkannya. Mengingat hubungan terakhirnya yang cukup berantakan ketika punya hubungan dengan rekan kerja.
Nggak hanya itu saja, Dirga, salah satu kliennya juga tampak mendekatinya, tapi tidak terlalu gencar. Mereka bisa melakukan kontak beberapa hari sekali, dan terkadang juga melakukan antar-jemput. Kalau sudah begini, siapakah yang harus dipilih Prisha?
Memangnya, menikah itu seharusnya diumur berapa sih? Masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Tapi kayaknya hal ini jadi hal yang biasa banget di kalangan Gen-Z deh. Kebanyakan dari Gen-Z, memilih untuk sendiri dan bersenang-senang, daripada galau-galau.
Menemukan pasangan, apalagi yang mau diseriusin itu menurutku susah lho. Pacaran lama nggak menjamin kamu tau bagaimana perangai pasanganmu. Ada yang udah pacaran lama sekali, bahkan sejak masa sekolah, tapi pas udah nikah, malah agak mengecewakan. Ada yang pacaran sebentar, tapi habis nikah malah banyak seneng-senengnya.
Di awal, kita akan diajak mengetahui bagaimana kehidupan Prisha. Pekerjaannya sebagai auditor dan kenangan buruknya terhadap sebuah hubungan. Jadi kita tau kenapa Prisha cuek sama Gibran dan Dirga yang memberinya sinyal.
Sejak awal hingga pertengahan, kita diajak percaya bahwa Prisha akan jatuh hati sama salah satu cowok yang mengejar dia. Memang kalau secara effort, dia nggak begitu besar effortnya. Tapi dia selalu ada. Semesta mendadak aja gitu mempertemukan mereka dalam sebuah situasi yang kadang membutuhkan bantuan. Sayangnya, komunikasi mereka nggak begitu lancar. Pas baca gemes banget! Mentang-mentang udah sama-sama dewasa, mereka boleh mengentengkan komunikasi gitu?
Sementara cara cowok satunya, dia ngejarnya kayak anak ABG jaman dulu gitu. Mulai dari mendadak ngasih kopi, padahal tau kalo Prisha nggak begitu ngopi. Mendadak kasih cemilan. Walaupun di awal sering banget ditolak sama Prisha, dia gigih banget. Pantang menyerah!
Selama baca aku tuh malah gemes sama Prisha. Memang, dia pernah berada di suatu hubungan yang nggak mengenakkan, bahkan ketika ada yang ngedeketin tuh jadi bikin ilfeel duluan. Tapi bukan berarti dia jadi menolak hampir semua tawaran cowok lain. Trus pas giliran Prisha berharap, cowoknya mulai tarik ulur semua. Bener-bener selama baca tuh pengen noyor 1-1.
Cara kak Sekar menyampaikan ceritanya, masih sama seperti Wedding Festival. Banyak detail yang dituliskan, bagaimana perasaan setiap tokohnya. Memang sedikit banyak aku juga baca cepat, karena terlalu panjang narasinya. Tapi karena itu juga, aku memahami bagaimana perasaan Prisha saat itu.
Setelah membaca ini, aku paham, bahwa cowok yang selalu ada, bakalan kalah sama cowok yang gigih dan humoris. Meskipun yang berhasil ngedapetin Prisha itu agak garing kadang. Dan ketenangan seorang laki-laki itu nggak mandang umur! Bisa jadi yang lebih muda malah lebih sabar dan berkepala dingin (atau memang bawaannya yang nggak suka rame-rame, juga bisa).
From the book…
“Setiap manusia tentu mengalami proses kehidupan yang berbeda. Perkara mengapa aku belum menikah adalah salah satu bagian proses kehidupan yang kulewati. Aku sedang belajar mencintai diri sendiri supaya tidak terjebak lagi dalam hubungan percintaan yang menyayat hati.” — P. 7“Anak perempuan itu enggak perlu terlalu keras bekerja. Bukan kewajibannya, kerja terus, kapan nikahnya? Perempuan itu makin berumur, makin susah dapat jodohnya.” — P. 14“Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi harusnya seimbang, tapi kadang semuanya enggak terjadi secara bersamaan. Mungkin kamu terlalu memprioritaskan pekerjaan, makanya belum sempat berkeluarga.” — P. 17“Biarin, deh. Enggak usah dengerin omongan orang. Bukannya tambah maju, entar lo malah makin mundur. Hidup kita udah berat, enggak usah menambah beban.” — P. 37“Lo bisa berusaha untuk menyelesaikan masalah itu. Paling enggak, lo berusaha, enggak cuma diam dan pasrah sama keadaan, lo bisa cerita sama gue, Sha. Siapa tahu gue bisa bantu lo.” — P. 38 to 39“Tetapkan dulu tujuan menikahmu apa. Jangan cuma gara-gara omongan orang, kamu jadi buru-buru menikah.” — P. 56“Pernikahan adalah dambaan setiap manusia yang sudah lama merasakan hidup tanpa pasangan, tetapi memutuskan menikah tidak semudah membalikkan telapak tangan.” — P. 118“Ini emang dilema, tapi begitulah kodrat seorang wanita. Pilihannya: lo nunggu laki-laki yang lo cinta buat lamar lo atau nerima lamaran laki-laki yang cinta sama lo.” — P. 124“Jodoh itu tidak selamanya sesuai dengan yang kita yang inginkan. Jodoh adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sosok yang diharapkan, yang diidam-idamkan, ternyata bukan dia orangnya. Terkadang yang menurut kita tidak baik, justru dialah yang menjadi jodoh kita. Begitulah, jodoh memang di luar ekspektasi.” — P. 173
No comments:
Post a Comment