Wednesday, July 15, 2026

[REVIEW] Cita Rasa untuk Jiwa yang Mati Rasa

Cita Rasa untuk Jiwa yang Mati Rasa
Aya Widjaja
Penerbit Buku Kompas
168 Halaman

“Karena cinta itu membahagiakan, bukan memaksakan. Diputuskan tanpa penjelasan itu menyakitkan dan aku enggak bisa lihat kamu disakiti begitu.”


B L U R B

Asa, seorang fotografer, percaya bahwa tidak hanya peristiwa, setiap momen, perasaan, dan cita rasa bisa diabadikan-kecuali rasa sakit.

Itu sebabnya ketika Jaffa, kekasihnya yang seorang food researcher menghilang tanpa jejak, Asa kehilangan lebih dari sekadar cinta.

Ia juga kehilangan selera, bukan hanya pada makanan, melainkan juga pada hidup.

Di tengah kehampaan yang membahana, Reiner mengingatkan keberadaannya sebagai lebih dari sekadar “sahabat Jaffa”.

Sosoknya yang tak kenal lelah menyeret Asa ke dalam petualangan rasa yang baru.

Dari sepiring asinan di sudut kota hingga bertualang menjajal berbagai makanan khas Nusantara langsung di tempat asalnya, Reiner menantang Asa untuk berdamai dengan kenangan

dan mungkin, mungkin menemukan makna lain dalam kehilangan.

Namun, apakah rasa saja bisa menyembuhkan luka? Atau justru membuka rahasia yang seharusnya dibiarkan terkubur?

- - - - - - - - -

Menjadi Asa tidaklah mudah. Berprofesi sebagai fotografer yang memiliki pasangan seorang food researcher dan bekerja di satu perusahaan yang sama, tentu menyenangkan dong. Bisa ketemu hampir di setiap project, dan tentu aja lebih pengertian daripada orang di luaran sana.
“Saat sebuah kenangan ditorehkan, harusnya kita berhati-hati dan mengingat bahwa kapan-kapan kita kehilangan.” — P. 33
Awalnya hubungan mereka terasa baik-baik saja. Sampai suatu ketika, Jaffa mendadak menghilang begitu aja. Dikontak nggak bales sama sekali. Bahkan ketika Asa mendatangi kamar kosnya, yang ada malah Reiner—sahabat Jaffa.

Selepas itu, Asa menjadi orang yang letih, lesu, lemas, lunglai. Masih bisa bangun dan menghadapi hari esok kayaknya sudah sebuah pencapaian. Asa bahkan sampai mengajukan surat pengunduran diri ke Mas Angin, atasannya. Untungnya saat itu, Reiner, ada di sana. Sebagai pemilik studio dan alat rental fotografi yang beberapa kali disewa oleh perusahaan Asa, membuat Reiner juga cukup dekat dengan Mas Angin. Tiba-tiba saja Reiner mengambil keputusan untuk Asa. Menjadikannya sebagai anak freelance untuk sementara waktu, sebagai bentuk ‘cuti’nya. 

Dalam masa cutinya, Reiner mendadak mengajaknya berkeliling mengajak Asa makan ke tempat-tempat yang pernah didatanginya bersama Jaffa. Hal ini dilakukannya karena Reiner mulai bosan melihat Asa yang memilih untuk makan mi instan hampir setiap hari dibanding makanan sehat lainnya. Entah sebagai bentuk pelarian, atau memang Asa sudah ‘mati rasa’.

Banyak yang bilang, katanya kalau kita mau melupakan sesuatu, kita juga harus memulai dari awal kita merasakan hal tersebut. Apakah Asa bisa melakukannya?

Seharusnya kehidupan Asa baik-baik saja, memiliki pekerjaan di perusahaan yang cukup bergengsi, meskipun kalau bekerja, dia seperti kutu loncat karena bepergian ke sana ke mari. Belum lagi harus berhubungan jarak jauh dengan Daffa, pacarnya. Seringnya, Asa manghabiskan waktu bersama Daffa ya dengan kuliner makanan yang dibutuhkan untuk riset Daffa.

Ketika Daffa memutuskan untuk meninggalkan Asa tanpa kabar apa pun, wah rasanya pasti nggak enak. Apalagi hubungan mereka nggak ada masalah sama sekali. Tentu saja hal ini membuatnya bertanya-tanya, apa memang ada yang salah dalam hubungan mereka? Ataukah ada yang mengganjal, yang sekiranya Daffa sudah terlalu lelah, jadi dia memilih untuk menghilang saja.

Asa tentu saja berusaha move on, tapi gimana kalau setiap makanan terus mengingatkannya pada Daffa? Setiap makan telur inget Daffa, bahkan makan di warteg aja juga mengingatkannya sama Daffa. Kalau aku, move on itu biasanya dengan orang baru. Entah deket sama orang baru, atau cuma menjalin pertemanan aja. Karena dengan adanya orang baru, lebih mudah aja. Nggak jadi kepikiran melulu.

Sebenernya Asa ada orang lain selain Daffa, tapi dia sahabatnya Daffa. Jadi kayak… sama aja kan? Berhubungan sama Daffa juga. Bersama dengan Reiner, Asa diajak untuk hidup lebih baik. Mengurangi konsumsi mi instant berlebihan, dan melepaskan pelan-pelan traumanya. Meskipun caranya juga sedikit menyebalkan dan bikin capek ya.

Selama baca, jujur aja jadi kepengen banget makan mi instan juga. Menggoda banget! Penyelesaian masalah sedikit bikin emosi ya. Apalagi ternyata Daffa yang menurutku terlalu banyak alasan. Padahal tinggal menjelaskan aja. Toh Asa bukan tipe orang yang banyak menuntut. Memangnya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya tanpa alasan yang jelas itu enak? Bikin beban tau.


From the book…
“Begitulah cara terbaik untuk move on, Asa. Bukan dengan menjauh, menghindar, atau melupakan, tapi menjalani dan menghadapinya. Seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Lama-lama, semua akan berjalan normal dan wajar. Seolah kita nggak pernah kehilangan atau menjadikan kehilangan pelajaran untuk melangkah ke depan.” — P. 15 to 16

Move on nggak harus ditandai dengan hadirnya orang baru, kan? Justru dijadikan pelajaran baru supaya nggak begitu-begitu lagi di hubungan berikutnya.” — P. 16

“Saat sebuah kenangan ditorehkan, harusnya kita berhati-hati dan mengingat bahwa kapan-kapan kita kehilangan.” — P. 33

“Tapi lo yang tersakiti, Sa. Kalau lo butuh ngomong sama Reiner, ayo gue bantu. Supaya lo enggak stuck di tempat. Lupakan kalau memang harus dilupakan. Lanjutkan kalau memang masih ada harapan.” — P. 80

Move on bukan berarti enggak akan pernah menjajaki hal yang sama seperti ketika sama dia. Move on bisa juga berarti bisa mengulangi jejak yang sama, dengan rasa yang berbeda. Kayak apa yang kita lakukan hari ini.” — P. 81

“Semua orang juga bisa serius, Sam terutama buat hal-hal yang mau mereka perjuangkan.” — P. 90

“Hati dan perasaan kita juga enggak jauh beda, Sa. Enggak peduli berapa banyak ragam perasaan yang pernah kita punya di masa lalu, mau itu perasaan nyakitin maupun nyenengin, selalu tersisa tempat buat orang baru yang ngasih lo perasaan baru. Hasilnya enggak pernah sama sampai kita mencobanya, Sa.” — P. 94

“Orang bilang waktu menyembuhkan. Namun bagiku, waktu menumbuhkan luka. Semakin lama luka itu semakin memburuk menjadi rasa sakit—dan mungkin saja kebencian perlahan menyusup di sana.” — P. 123

“Semua bakal baik-baik saja. Habis gelap, terbitlah terang. Kalau enggak terang-terang mungkin mati lampu. Badai pasti berlalu. Kalau enggak berlalu, kita ngungsi dulu.” — P. 135

“Ketika hal itu terjadi, dia tidak lantas berbahagia melainkan memastikan aku baik-baik saja. Reiner selalu memastikan dia tidak berbahagia di atas kesedihanku. Cintanya tidak membutakan. Cintanya tidak mengekang, melainkan membebaskan.” — P. 137

“Karena gue bisa melihat bahwa sekali jatuh cinta, lo akan mempertahankannya hingga akhir. Lo partner yang bisa berkompromi dalam banyak hal. Lo bukan penuntut. Lo sangat sederhana sekaligus bersahaja. Sayangnya, lo jatuh cinta pada orang yang salah. Jadi, yang gue lakukan adalah menggeser orang itu dari hati lo, supaya gue bisa menjadi orang yang beruntung untuk lo cintai.” — P. 142

“Karena cinta itu membahagiakan, bukan memaksakan. Diputuskan tanpa penjelasan itu menyakitkan dan aku enggak bisa lihat kamu disakiti begitu.” — P. 156

No comments:

Post a Comment