Perfect ValentineErlin CahyadiGramedia Pustaka Utama204 Halaman
“Walau dia tunarungu, lo pikir dia nggak tahu lo selalu ngaku ke temen-temen bahwa dia sepupu lo? Asal lo tahu, perasaan orang yang punya kekurangan dalam hal fisik lebih peka daripada kita. Dan lo mesti ingat, adik lo memang nggak bisa mendengar, tapi dia bisa melihat gerakan bibir kita.”
B L U R B
Begitu tiba di taman, Echa memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Senyum manis terkembang lebar di bibirnya.
“Lo ngapain, Cha? Lagi syuting iklan? Kok pose lo kayak gitu?” Mata Echa langsung terbuka mendengar suara yang amat dikenalnya itu. Dengan sinis, Echa melirik Evan yang entah sejak kapan berada di hadapannya.
“Lo lagi, lo lagi. Kenapa sih lo selalu muncul di deket gue? Lo ngefans ya sama gue? Nggak bisa ya sebentar aja nggak deket sama gue?”
“Gue punya radar terhadap orang-orang aneh, Cha.”
“Maksud lo, gue termasuk orang aneh gitu?”
“Menurut lo, aneh nggak kalau lo merem-merem nggak jelas di saat semua anak yang lain pada sibuk angkat-angkat barang?”
Sepanjang masa SMA, belum pernah Echa membenci seseorang seperti dia membenci Evan. Sejak awal pertemuan mereka, Evan tak henti-hentinya mengganggu hidupnya. Karena itu, Echa jadi bingung setengah mati saat tiba-tiba Evan mengungkapkan cinta lewat puisi.
Namun, saat Echa menyadari dirinya juga menyukai Evan, ternyata puisi Evan hanyalah salah satu trik cowok itu untuk mengganggu hidup Echa...
- - - - - - - - -
Bertemu dengan Evan Tanuwijaya di saat awal-awal MOS karena terlambat datang mungkin bukan memori baik yang bisa disimpan oleh Rebecca Wijaya alias Echa. Memangnya, siapa yang suka datang terlambat sih? Apalagi sampai harus menjalani hukuman.
“Iya deh. Daripada kena semprot, gue diem aja deh. Tapi ati-ati lho, Cha. Jangan terlalu benci sama Evan. Nanti kena batunya, jadi cinta setengah mati.” — P. 33
Sayangnya, tahun-tahun berikutnya, Evan sekelas lagi sama Echa. Dan disitulah semuanya dimulai. Evan yang selalu memanggilnya pendek. Evan yang selalu usil dan mencari masalah dengannya. Belum lagi, saat kelas 12 ini, dia bersaing dengan Evan untuk mendapatkan jabatan ketua kelas.
Anehnya, Evan yang kapten basket ini juga memilih untuk ikut juga dalam ekskul jurnalistik yang diketuai Echa. Cukup aneh dan bertolak-belakang, kan? Apakah Evan memiliki maksud lain dibalik itu?
Kembali membaca kisah teenlit, setelah digelontor sama metropop dan sejenisnya, berasa kayak… dapet angin seger kayak di Batu deh. Apalagi teenlit yang kubaca ini, terbitan bertahun-tahun lalu, yang masih seumuran aku SMA.
Mengangkat cerita Evan-Echa yang mendadak jadi tom n jerry di tahun kedua mereka sekolah. Evan yang usil banget dan mendadak manggil dia pendek. Memang sih, Evan ini tipe cowok idaman semua cewek, tinggi, anak basket, lucu juga. Siapa yang nggak seneng? Ya cuma Echa memang.
Selama membaca, kita diajak untuk memahami posisi keduanya, ada alasan yang menyebabkan Evan menjadi cowok yang nyebelin. Dan Echa yang sebel karena merasa nggak punya masalah sama Evan, malah dia yang kena terus. Tipe cowok waktu jaman SMA dulu gitu. Kalo suka bukannya ngomong, tapi malah ngisengin terus. Mungkin dikiranya kalo diisengin terus tuh bakalan suka ya? Kadang ada yang kesel banget sampe menghindar gitu.
Evan ini sebenernya udah beberapa kali dapat peringatan dari Rafael, sahabatnya, kalo sebaiknya menyudahi dan lebih baik memang jujur saja kalau memang suka. Tapi dasarnya Evan sok-sokan terus punya banyak ide.
Ketika ending, aku cuma bisa senyum-senyum sendiri. Bener-bener brings back memories ke jamanku sekolah dulu! Nggak cuma membahas tentang Evan-Echa, tapi juga membahas tentang kekurangan fisik yang dimiliki oleh adik Echa. Walau begitu, malah Evan yang menyadarkan Echa kalau kekurangan adiknya, bukan berarti hal besar untuknya. Apalagi mengingat kejadian yang pernah dirasakan Echa sebelumnya. Sebenernya Evan ini baik kok kalo tengilnya nggak keluar.
From the book…
“Iya deh. Daripada kena semprot, gue diem aja deh. Tapi ati-ati lho, Cha. Jangan terlalu benci sama Evan. Nanti kena batunya, jadi cinta setengah mati.” — P. 33“Walau dia tunarungu, lo pikir dia nggak tahu lo selalu ngaku ke temen-temen bahwa dia sepupu lo? Asal lo tahu, perasaan orang yang punya kekurangan dalam hal fisik lebih peka daripada kita. Dan lo mesti ingat, adik lo memang nggak bisa mendengar, tapi dia bisa melihat gerakan bibir kita.” — P. 54“Lo mesti tahu, teman sejati nggak bakal ninggalin kita saat keadaan kita sedang tidak baik. Kalau memang temen-temen ninggalin lo karena keadaan Ronald, ngapain lo bingung? Justru harusnya lo senang bisa terhindar dari orang-orang picik seperti itu. Terbukti lo masih bisa cari temen yang lebih baik, kan?” — P. 55
No comments:
Post a Comment