Samudra di Antara KitaArleen AMCL Publisher384 Halaman
“Selama aku boleh jadi bagian dari hidupmu, aku tidak akan memburu-burumu, aku tidak akan memaksamu. Tapi, tolong jangan abaikan aku lagi.”
B L U R B
Manakah yang lebih kuat: kesetiaan atau penantian?
Anna sudah bertunangan dan akan segera menikah dengan Dayton, mantan dosennya di Foothill College, California.
Tapi kematian kakak Anna membuyarkan rencana mereka.
Ia harus pulang ke Indonesia. Apalagi, ada Justin yang rela melakukan apa saja agar Anna jadi istrinya.
Sampai kapan Justin bisa menjaga Anna?
Apa Dayton punya kesempatan menyunting Anna?
Lebih dari kisah cinta segitiga, Samudra di Antara Kita juga menyajikan tentang ambisi dan akar keluarga, keteguhan dan kehilangan, menjalani pilihan yang tak diinginkan, dan membahagiakan orang lain.
- - - - - - - - -
Ketika Anna memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Foothill College, tidak pernah terpikirkan bahwa dia akan kembali menjalin hubungan. Mengingat dia masih kesal dengan hubungannya yang terakhir. Saat Anna mengambil mata kuliah Accounting 1A ternyata dosennya adalah dosen muda yang cukup ganteng. Dia menjadi primadona di antara mahasiswi lainnya. Sesi setelah kelas juga membuat ruangan Dayton penuh dengan mahasiswi.
“Segala sesuatu akan jadi sulit bila kau tidak tahu kapan itu akan berakhir. Tapi, segalanya akan dapat ditahan bila kau tahu itu hanya sementara.” — P. 57
Tanpa disangka, ternyata Dayton sendiri memiliki perasaan terhadap Anna, anak didiknya ini. Hubungan mereka awalnya tentu saja canggung, mengingat ada integritas yang harus dipegang seorang dosen. Ketika hubungan mereka akhirnya dekat, dan hampir menikah, kematian kakaknya membuat Anna harus pulang.
Justin, anak teman ayahnya, sekaligus teman yang pernah bertemu saat kecil, bersedia menjaga Anna menggantikan Amos—kakak Anna yang meninggal. Bisakah Justin menggantikan posisi Dayton di hati Anna, atau malah Dayton akan menyusul dan mempertaruhkan semuanya untuk Anna?
Sudah lama sekali tidak membaca karya kak Arleen, ketika menerbitkan Samudra di Antara Kita, aku bersemangat banget buat baca.
Membaca Samudra di Antara Kita ini menurutku pengalaman yang baru. Biasanya, dalam satu bab, bisa jadi berisi berbagai macam POV atau kalau pakai POV orang ketiga. Tapi kali ini, satu bab, satu POV. Jadi setiap babnya pendek-pendek gitu.
Ini tentang Anna, perjalanan untuk menerima Dayton sebagai pasangannya tidaklah mudah. Pernah gagal, membuat Anna memilih untuk nanti aja deh cari pasangannya. Toh nggak ada urgensi juga. Hal inilah yang kemudian membuat Dayton sedikit sulit dan bingung bagaimana cara mendekati Anna, karena Anna tidak seperti mahasiswi lainnya yang ngedeketin dia, curi-curi pandang ke dia, atau malah terang-terang banget kalo lagi pengen diperhatikan.
Kehidupan Anna di Indonesia tentu saja sangat nyaman. Anna memiliki rumah yang besar lengkap dengan ART dan drivernya. Have banget deh kehidupannya. Ini juga yang menjadi pertimbangan Dayton ketika diajak Anna ke Indonesia. Semua serba dilayani, nggak perlu cuci piring setelah makan, apalagi cuci dan setrika baju.
Justin bisa dibilang teman masa kecil Anna. Justin bahkan memberikan boneka kecil yang bahkan sampai sekarang masih disimpan Anna. Sejak kecil Justin berharap Anna akan menjadi pasangannya di masa depan. Tapi ketika dia mendengar berita bahwa Anna akan menikah dengan seorang dosen, Dayton cukup bertanya-tanya, sekeren apa sih dosennya? Sampai Anna mau menikah sama dia. Apalagi Dayton juga punya gelar Profesor. Gelar yang cukup oke.
Selama baca, aku dibawa bingung, antara berpihak ke siapa, karena kita tau semua POVnya. Belum lagi intrik-intrik perusahaan yang disampaikan oleh Justin ketika mau membantu Anna. Meskipun aku ada beberapa yang nggak paham. Tapi semua penjelasan Justin masuk akal banget untuk membantu Anna saat itu.
Kisah cinta antara Dayton-Anna-Justin ini seru banget buat diikuti. Walaupun agak gemes sama Dayton. Dia terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak memikirkan sisi ini-itu, yang akhirnya membuat Justin jadi gampang untuk mengcounter. Awalnya, aku merasa kalau Justin ini terlalu mengintimidasi Dayton dan Anna, apalagi selepas meninggalnya Amos. Tapi kemudian aku ingat, dalam cinta dan perang, semuanya adil. Bagaimanapun caranya.
Sebenernya lebih kasian lagi Anna. Ketika dia kehilangan kakaknya, dia juga kehilangan kebahagiaannya kurasa. Nggak ada lagi yang bisa memberi nasihat ke dia, dia juga harus kembali ke Indonesia dan mengurus perusahaan keluarga, dia juga harus merelakan hubungannya bersama Dayton. Menikah dengan Justin, walaupun belum sesayang itu.
Menurutku konflik di sini lebih banyak ke konflik batin. Perasaan tidak nyaman ketika harus menggantikan posisi Amos, bagaimana Anna akhirnya melanjutkan hidup, dan kemudian anak Anna dan Justin tumbuh, juga ketika ada satu rahasia yang akhirnya dibuka oleh Justin.
Kak Arleen di sini cukup menjelaskan dengan detail bagaimana suasana Foothill College, California College, dan berbagai tempat yang disinggahi Anna, Justin, dan Dayton. Berasa banget jalan-jalan di sana.
From the book…
“Segala sesuatu akan jadi sulit bila kau tidak tahu kapan itu akan berakhir. Tapi, segalanya akan dapat ditahan bila kau tahu itu hanya sementara.” — P. 57“Karena cinta membuat orang buta. Cinta sudah membuatku buta sampai-sampai baru akhir-akhir ini aku tahu bahwa aku tidak cukup baik untuknya. Kau tahu, di rumahnya, ada 15 orang yang bekerja untuknya. Di sana, ia tidak pernah harus mencuci satu piring pun, selembar saputangan pun.” — P. 148“Saat kita mengurusi cucian di hari Sabtu seperti ini, berarti semua baik-baik saja. Hanya orang yang beruntung dan benar-benar bahagia yang mampu menggunakan hari Sabtu mereka mengurusi gunungan cucian.” — P. 151“Selama aku boleh jadi bagian dari hidupmu, aku tidak akan memburu-burumu, aku tidak akan memaksamu. Tapi, tolong jangan abaikan aku lagi.” — P. 332
No comments:
Post a Comment