Showing posts with label Gagas Media. Show all posts
Showing posts with label Gagas Media. Show all posts

Sunday, September 6, 2026

[REVIEW] Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Prisca Primasari
Gagas Media
292 Halaman

“Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus berani menghadapi segalanya.” 

Sunday, August 16, 2026

[REVIEW] Notasi

Notasi
Morra Quatro
Gagas Media
321 Halaman

“Kita bukan orang-orang tidak tahan akan kehilangan, Nalia, kamu tahu itu. Mereka yang beru putus dari pacar, bisa segera mencari yang baru lagi. Hidup kita masih jauh, perjalanan masih panjang. Sahabat-sahabat yang pergi bisa terganti. Kita tidak takut kehilangan. Namun, tidak dengan cara seperti ini.”

Sunday, March 12, 2023

[REVIEW] Almost is Never Enough

Almost is Never Enough

Sefryana Khairil

338 Halaman

Gagas Media

"Kami memikirkannya saat kami merasa ingin membahagiakan pasangan. Mungkin bedanya, kami tidak membayangkan, tapi kami langsung membuat rencana apa yang harus kami lakukan."


B L U R B

Ada hati yang kujaga agar tak jatuh.
Namun, saat di dekatmu, seringnya ia tak patuh.

Al
Telah kehilangan orang yang kita sayang adalah persamaan kita.
Kita saling berbagi rasa sakit setelah kepergiannya.
Ketika aku menginginkan lebih, aku tahu ada yang salah.
Namun, aku tak mampu terus menjaga jarak denganmu.
Melihatmu dari jauh saja rasanya tak cukup.
Jika benar ini cinta, tepatkah ia datang kali ini?

Ella
Mewujudkan keinginan orang yang kita sayang,
tentu itu akan kita lakukan—apa pun taruhannya.
Sayangnya, kau pun justru merebut satu-satunya yang ia miliki.
Membuatmu selalu resah karena rasa bersalah.
Pernahkah kau merasakannya?

Aku tak pernah sengaja menginginkanmu
meski ersamamu adalah cara untuk menggenapkanku.
Jika kita diciptakan untuk bersama,
biarlah waktu yang menelan ragu kita.
Karena entah kapan aku akan bisa mengakui;
bahwa hati tak akan puas jika tak memilikimu sepenuhnya.

- - - - - - - - - - 

Kecelakaan yang dialami Maura, membuat Al kehilangan istrinya. Bagi Al, semuanya serba mendadak. Mereka bahkan baru saja mendapatkan kabar bahagia, karena akhirnya mereka bisa mempunyai anak. Walaupun bukan Maura sendiri yang mengandungnya, tapi tentu saja hal ini membuat pasangan ini berbahagia.
"My biggest fear is... knowing that one day, you might not come home." P. 62
Tidak hanya Al, Ella—ibu pengganti sekaligus sahabat Maura juga ikut kehilangan. Meskipun mereka sangat bertolak belakang, tapi hal ini tidak membuat persahabatan mereka jadi terganggu. Yang Ella bingungkan, adalah nasib bayi yang sedang dikandungnya. Permintaan terakhir dari Maura adalah untuk melahirkan bayinya, karena kandungan Maura tak cukup kuat untuk mengandung. Tapi setelah semua ini, apakah Ella mampu?

Setelah kepergian Maura, Al dan Ella memutuskan untuk tinggal bersama, sesuai dengan rencana yang Maura persiapkan sebelumnya, yang seharusnya mereka jalani bertiga, kini harus Al dan Ella jalani berdua saja. Sejak awal, Ella sudah meragukan hal ini, karena pertemuan setiap hari, akan menimbulkan rasa yang lain. Tapi mengingat ini adalah permintaan Maura yang lain membuat dia tak kuasa menolak.
Apakah Ella dan Al bisa menjalaninya dengan baik?


Tentang ibu pengganti. Rasanya, di Indonesia masih belum umum dengan istilah ini. Sekadar info, ibu pengganti ini bukan berarti suami akan selingkuh dan berhubungan badan dengan orang lain ya. Tapi menitipkan embrio yang sudah jadi, supaya bisa berkembang di perut ibu pengganti. Ini sepemahamanku ya, jadi kalau misal ada salah, boleh dikoreksi.

Maura sangat selektif memilih ibu pengganti untuk anaknya. Tentu saja, buat anak, masa coba-coba? Ketika Maura akhirnya memilih Ella, dia sudah mencoba berbagai solusi, hingga akhirnya dia memilih Ella. Wanita yang bisa dipercaya untuk membawa anaknya selama sembilan bulan. Kalaupun ini diposisiku, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.

Karena novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, kita jadi diajak untuk memahami perasaan Al dan Ella. Bagaimana mereka menghadapi kematian Maura yang tiba-tiba, bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka, dan bagaimana masa lalu mereka.

Aku suka cara kak Sefryana menuliskan kisah Al dan Ella. Gimana Al yang bingung dengan perasaannya, posisinya, dan keinginannya. Begitupun dengan Ella, punya masa lalu yang nggak menyenangkan dengan laki-laki, nggak membuat Ella antipati sama Al, malahan dia mau melayani Al, mulai dari nyiapin sarapan, beres-beres rumah. Padahal kalau aku jadi Ella, mungkin aku udah mencak-mencak duluan. 

Karakter yang aku suka sih tetep Al. Muehehe.. dia ini tipe cowok yang gentle. Dia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik, meskipun gemes banget karena dia selalu denial sama perasaannya. Sementara, karakternya Ella ini lebih ke.. dijalanin aja apa yang ada di depan mata. Bagus sih, cuma Ella jadi nggak punya rencana yang pasti gitu.

Dengan berlatar tempat di luar negeri, aku berasa diajak jalan-jalan sama Al dan Ella. Suasananya tuh beda banget sama di Indonesia kayaknya ya. Apalagi ada musim saljunya. Kan pengen juga buat snowman kayak Zoey.
 
 
From the book...
"Kami memikirkannya saat kami merasa ingin membahagiakan pasangan. Mungkin bedanya, kami tidak membayangkan, tapi kami langsung membuat rencana apa yang harus kami lakukan." P. 117

"Tapi, tidak selalu hal yang menyentuh membuat kita lemah. Justru membuat kita lebih peka." P. 195

Tuesday, December 14, 2021

[REVIEW] Athena : Eureka!

Athena : Eureka!

Erlin Natawiria

Gagas Media

284 Halaman

"Kamu harus bisa menahan euforia, Miss. Terkadang hal itu bisa membunuh."


B L U R B

Pembaca tersayang,

Langkahkan kakiu ke kota sang dewi kebijaksanaan, Athena. Dari penulis debut GagasMedia, Erlin Natawiria, kita akan mengikuti Widha mewujudkan impian masa kecilnya serta mendiang kakaknya yang kembar.

Satu insiden kecil di losmen mempertemukan Widha dengan Nathan. Mereka menjadi rekan seperjalanan; menyusuri Agora, Plaka, lalu ikut larut dalam keriaan sepasang pengantin baru di Rafina. Rasa berumbuh seiring kaki-kaki mereka melangkah, dan binar tepercik setiap kali keduanya berserobok pandang.

Namun, di sebuah kios buku kuno di Monastiraki, Widha melihat hantu masa lalunya. Seseorang yang tidak seharusnya hadir di kota impiannya. Sosok yang gagal dia lupakan.

Setiap tempat punya cerita.
Di antara puing-puing kuil Parthenon, ada reruntuhan hati yang siap dibangun kembali.

Salam,

Editor.

- - - - - - - - - - - 

Widha, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi, selain itu, dia juga sangat mencintai Athena. Salah satu tempat yang sangat ingin didatangi oleh kakak kembarnya. Dia bahkan rela menyisihkan biaya hidup dari beasiswa Bidik Misinya demi mendatangi Athena. Widha bahkan menyusun sendiri jadwal keberangkatan dan kepulangannya, sampai destinasi mana saja yang akan didatanginya.
"Sebesar apa? Kamu yakin dia terbang ke Yunani untuk melupakan Keira? Apakah kamu pernah memperhatikan caranya menyebut nama teman masa kecilnya itu? Jangan sampai kamu menjadi tempat pelariannya, Wid." P. 196
Nathan, cowok yang ditemui Widha di losmen tempatnya tinggal selama di Athena, membuat liburannya menjadi hal menarik. Mengenal orang asing yang tahu bahasa Indonesia di tempat baru ternyata menyenangkan juga. Bersama Nathan, Widha berencana untuk melakukan perjalanan menjelajahi Athena bersama-sama. Tapi sayangnya, di tengah jalan, jarak mereka sedikit merenggang karena suatu masalah. Nggak hanya itu saja, Widha mendadak bertemu dengan orang dari masa lalunya. Bahagiakah Widha karena akhirnya bertemu kembali? Atau malah masalahnya akan terselesaikan?


R E V I E W

Buat pembaca lama pasti paham banget kalau ini adalah novel yang udah sejak jaman dulu. Hmm.. Novel ini kubeli waktu jaman BBW masih offline, sekitar tahun 2017 (soalnya di bukunya ada tanggal aku beli.. Hihi..) Alasan membeli buku ini, selain karena waktu itu booming, aku juga suka seri STPC ini. Menarik aja gitu, mengenal tempat-tempat orang bisa jatuh cinta. Hehe..

Membaca buku ini tuh kayak ngajak aku jalan-jalan ke Athena beneran, kalo kata anak jaman sekarang mah jalan-jalan virtual! Hihi.. Menyenangkan banget, karena kak Erlin menjelaskan dengan detil, baik suasana maupun gambaran tempatnya. Selain itu di tiap halaman babnya ada sketsa tempatnya seperti apa. Jadi gampang banget buat ngebayanginnya.

Permasalahan dari novel ini menurutku cukup menarik. Meskipun bikin misterius di awal karena Widha dan Dinesha, masa lalunya. Namanya juga masa lalu, pasti menghantui. Apalagi kalau masalahnya nggak bener-bener selesai. Banyak pertanyaan yang ada di kepala Widha. Nggak hanya itu, ternyata, orang di masa lalu Widha, punya hubungan yang buruk dengan Nathan. Muter aja ya kayaknya? Tapi dalam hidup, sering nggak sih hal ini terjadi?

Penyelesaian masalahnya juga bikin gemes! Selain karena mereka ada yang terjebak dengan perasaannya sendiri, ada satu sisi juga yang merasa ragu, perlu untuk memperjuangkan hal yang seharusnya diperjuangkan dulu. Tapi tenang, endingnya memuaskan semua pihak kok.

Thursday, July 29, 2021

[Review] Titik Mulai

 

Titik Mulai
Lewis Yang
Gagas Media
170 Halaman

"Maka dari itu, mulailah mempertimbangkan segala sesuatu dengan memosisikan dirimu di posisi orang lain. Sadarilah bahwa dunia ini tidak berputar di pihakmu saja."

 
B L U R B
 
Titik mulai masing-masing orang berbeda.
Ada yang memiliki priviledge, ada yang dari bawah,
ada yang di antaranya. Tapi, satu hal yang sama:
tanpa memulai langkah pertama, tidak akan terjadi apa-apa.
 
Sesudah memulai pun bukan berarti kamu akan berhasil. Bisa saja kamu
jatuh dan gagal berkali-kali. Namun, berhasil atau tidak,
setidaknya kamu sudah mengubah nol jadi satu,
dari satu menjadi sepuluh, dan seterusnya.
 
Di mana pun titikmu sekarang,
jangan sampai menyesal karena kehabisan waktu.
Jangan sampai menyesal karena tidak melakukan apa-apa.
 
- - - - - - - -
 
Kembali ke non-fiksi lagi! Yuhuu~~ Masih di terbitan Gagas Media, kali ini aku bakalan mengulas Titik Mulai. Ada yang sudah mengikuti akun @titikmulai, atau belum? Ah sebaiknya kalian mampir dulu untuk melihat-lihat, bukan promosi kok. Tapi menurutku, akunnya memang menarik sekali. Nggak cuma membahas tentang motivasinya aja, tapi juga membuka pikiran sedikit demi sedikit.

Novel ini diawali dengan membahas tentang kak Lewis terlebih dahulu. Bagaimana dia dulu dibesarkan, proses selama melalui sekolah, yang ternyata Kak Lewis ini sama kok kayak kita-kita. Kadang masih bingung apa yang dimau, dan itu semua wajar kok. Hanya saja, nggak bisa dibiarkan berkepanjangan, karena nantinya kita jadi nggak punya target mau ke mana, atau bahkan masih juga kebingungan mau apa.

Selama membaca Titik Mulai ini aku berasa ditampar bolak-balik. Nggak cuma membahas tentang bagaimana kak Lewis mengetahui apa yang dia pengen, tapi juga bagaimana cara dia melakukan sesuatu hal secara konsisten. Pada tau kan, gimana susahnya konsisten dalam melakukan satu hal? Apalagi kalau hal itu hasilnya nggak kunjung sesuai dengan keinginan kita. Duh, rasanya pasti pengen berhenti aja. Ngerasa semuanya tuh sia-sia. Padahal, kalau dilihat lagi, itu cuma butuh konsisten aja kok. Nggak ada hal yang sia-sia, kecuali malas berusaha, ini quote andalan mamaku sih. Hahaha.. Tapi relate banget sama bukunya.

Setelah menyelesaikan buku ini, jujur aku tuh jadi mikir-mikir lagi, keinginanku tuh banyak, pengen rutin nulis, rutin baca dan review kayak dulu lagi, tapi selalu aja ada halangannya. Halangannya mulai dari pengen baca aja nggak mau review, jadi nanti uploadnya bisa telat gitu. Ada lagi yang masih pengen ngegame, padahal alarm untuk review dan ngeblog udah bunyi. Belum lagi kalau ada kerjaan yang harus disubmit malem itu, dan aku belum kelar kerjain di kantor. Yaaa.. tapi ini sebenernya bukan alesan sih, kalo udah komitmen untuk mau, apa pun akan dilakuin kan? Akan selalu ada pengorbanan dari apa yang pengen kita capai kan?

Quote from Book
"Papaku memiliki satu prinsip yang mana kita tidak boleh take for granted terhadap apa pun yang diberikan kepada kita. Kalau kamu diberikan satu kepercayaan, gunakanlah baik-baik. Jangan mau ambil untung untuk diri sendiri saja, tapi pikirkanlah jasa yang telah diberikan orang lain kepadamu." P. 8

"Maka dari itu, mulailah mempertimbangkan segala sesuatu dengan memosisikan dirimu di posisi orang lain. Sadarilah bahwa unia ini tidak berputar di pihakmu saja." P. 21

"Maka dari itu, sudah saatnya belajar lagi. Belajar hargai waktumu. Belajar untuk menjaga badanmu. belajar untuk melatih pikiranmu. Semua demi diri kamu sendiri, supaya bisa terus berjuang dan mengejar mimpimu." P. 35

"Teruslah belajar karena kehidupan terus berlanjut dan belum berhenti. Teruslah menganalisis diri dan lingkungan kamu. Perhatikan sekelilingmu dan orang-orang di sekitarmu. Siapa tahu, ada pelajaran penting yang bisa kamu dapatkan." P. 36

"Di sinilah perubahan harus kamu lakukan. Jangan mulai dari mengubah dirimu yang patah semangat. Mulailah dari titik masalahnya, yaitu rutinitas yang benar-benar memengaruhi dirimu. Rutinitasmu bisa diubah." P. 53

"Satu hal yang harus kamu ingat. Ketika kamu menghadapi masalah, yang harus kamu perbaiki adalah masalahnya dengan mengganti cara atau rencanannya. Bukan malah mengganti tujuan yang ingin kamu capai. Memang terkadang kalau dihadapkan dengan masalah, apalagi masalah yang cukup rumit, lebih mudah rasanya untuk mengganti tujuan. Tinggal mengganti haluan. Ibarat lubang di jalan, tinggal kamu hindari." P. 69

"Namanya juga toksik, beracun, ya, pasti merusak diri kamu, buka? Di sinilah kamu harus belajar untuk berubah. Buka pikiran kamu. Hilangkan gengsi dan egomu. Belajarlah untuk menerima kritikan. Belajarlah untuk menerima kalau kamu salah. Belajar menghadapi fakta yang ada, bukan memaksakan apa yang kamu anggap fakta." P. 70

"Jangan terlalu peduli dengan validasi dari orang lain. Percayalah pada diri kamu sendiri kalau kamu bisa melakukannya. Dengan begini, kamu akan merasa lebih kuat dan bebas. Tidak ada yang mengatur-ngatur diri kamu. Tidak ada yang yang memberikan kamu penilaian. Karena kamu adalah kamu. Kamu memiliki kebebasan untuk mengatur diri kamu sendiri." P. 78

"Disadari atau tidak, waktu adalah hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Namun mirisnya, waktu jugalah yang disia-siakan oleh banyak prang. Semuanya berdalih, "Masih banyak waktu", padahal kehidupan itu terus berjalan dan waktu tak akan berhenti." P. 93 to 94

Wednesday, May 26, 2021

[Review] Bertumbuh Bermimpi


Judul : Bertumbuh Bermimpi 

Penulis : Esha Mahendra

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 154 Halaman

"Menurut gue, justru kita harus egois dalam hal kebahagiaan. Walaupun kebahagiaan itu kadang harus diraih dari sebuah tangisan dan penderitaan."


B L U R B

Hidup itu penuh kejutan—nggak melulu isinya bahagia, ada saja masalah yang hadir. Belum kelar masalah yang satu, udah ada masalah baru. Begitu juga hidup gue, masalah datang silih berganti, mulai dari persahabatan, percintaan, pekerjaan, sampai masalah rumah tangga. Kadang banyak bumbu dramanya kayak drakor. Sayangnya, tampang gue jauh dari oppa-oppa.

Hampir semua masalah yang gue sama Anka lewatin pernah kami bahas di Podcast Obrolan Babibu, tapi ada beberapa hal yang cuma bisa gue ceritain di buku ini, misalnya, masalah yang gue yakin pernah dialami pasangan lain juga, yaitu perselingkuhan.

Anggap saja buku ini adalah cerita dari seorang teman yang memberikan sudut pandang lain berdasarkan masalah-masalah yang pernah dialami. Segala permasalahan ini adalah proses kami bertumbuh bermimpi. Nah, dengan segala permasalahan hidup yang juga lo hadapi, sudah siapkah lo bertumbuh dan bermimpi?

- - - - - - - - -

Karena ini berisi kumpulan cerita, aku langsung aja untuk review secara keseluruhan yaaa..

Ada yang pernah mendengarkan Podcast Babibu? Atau pernah tau sebelumnya? Yep. Kak Esha ini adalah penulis sekaligus pemilik Podcast Babibu. Mungkin ada yang sering banget dengerin ya? Aku juga salah satunya. Hihi.. Sering lewat di storyku jadi penasaran untuk lihatin, dan ternyata cukup seru juga ya.
 
Membaca tulisan Kak Esha ini jujur aja kayak lagi ngomong sama temen lama. Diceritain, gimana perjalanan dia untuk sampai ke titik ini, gimana perjuangannya, siapa aja yang nemenin, dan tentu aja diselipkan kisah cintanya juga. Hihi..

Selama membaca, aku berasa kayak diajarin, tanpa menggurui. Apalagi ini pelajaran kehidupan. Tau sendiri kan, buat sebagian orang, kehidupan itu privasi banget. Nggak untuk dibagi-bagi ke orang lain. Apalagi kalo ada masalah. Aduh, mending disimpen baik-baik deh. Soalnya kalo ketauan berabe. Nggak cuma bikin geger sama pasangan, tapi bisa sama keluarga juga kan?

Selain itu, buku ini juga banyak membahas tentang kehidupan. Bagaimana kadang kehidupan bisa begitu 'kejam', kadang juga bisa sebaik dan setak-terduga itu. Ya memang hidup ini lucu dan perlu banget untuk ditertawakan. Biar nggak serius terus. Nanti capek sendiri.

Untuk bagian yang aku suka sih bagian di mana Kak Esha sharing tentang kehidupan percintaannya. Bukan sesuatu hal yang mudah. Apalagi setelah dia melalui banyak hal. Banyak hal yang kadang terjadi tuh nggak sesuai dengan apa yang kita mau kan? Kadang ada keselnya, kadang ada senengnya, kadang bisa sedih dan bikin emosi. Tapi menurutku itu hal wajar sih. Kalo seneng terus, atau sedih terus, hidup juga hambar banget kan?

Setelah membaca cerita Kak Esha, aku rasanya jadi adem gitu. Entah kenapa, tulisan Kak Esha nih heartwarming banget. Nggak muluk, tapi juga ngasih tau bahwa kehidupan ke depannya bisa lebih baik dan lebih menyenangkan. Kita cuma perlu mengikuti alurnya sambil berusaha dan berdoa, terus berubah jadi manusia yang lebih baik lagi. Tetap bertumbuh dan bermimpi.


Quote from Book
"Dengan berkhayal atau bermimpi yang enak-enak, semesta ini akan membawa kita kepada sesuatu yang memang selalu terngiang di otak kita." P. 5

"Carilah sahabat yang bukan hanya bisa mengisi tempat, tapi juga yang bisa diajak berdebat. Karena dengan berdebat, ikatan itu akan semakin kuat." P. 13

"Menikah itu ilmu tingkat tinggi. Makanya banyak yang gagal. Namun jangan dilihat gagalnya, yang berhasil juga banyak. Tengoklah orangtua kita, bisa tuh sampai tua. Eh, tapi buat yang orangtuanya pisah, bukan berarti lo nggak bisa untuk menjadikan pernikahan lo langgeng sampai maut memisahkan. Bisa banget kok. Semua ada di lo dan pasangan." P. 59

"Menurut gue, justru kita harus egois dalam hal kebahagiaan. Walaupun kebahagiaan itu kadang harus diraih dari sebuah tangisan dan penderitaan." P. 119

"Tenang, kita semua punya masalah yang silih berganti di depan mata. Masalah nggak akan berhenti menghampiri, tapi itu adalah hal yang baik. Setiap masalah yang menghantam, akan membuat kita menjadi kuat. Namun untuk menjadi kuat, semua butuh kerja keras." P. 132

Monday, March 22, 2021

[Review] Walking After You

 
Judul : Walking After You

Penulis : Windry Ramadhina

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 320 Halaman

"Bukan melupakan, An. Menerima. Berusahalah memaafkan dirimu."


B L U R B

Masa lalu akan tetap ada.
Kau tak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An.
Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu.
Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit.
Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.
Pernahkah kau merasa seperti itu?
Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

 - - - - - - - - - -

Anise, atau yang biasa dipanggil An, hobinya membuat pasta. Cita-citanya memiliki trattoria sendiri bersama dengan saudara kembarnya, Arlett. Mereka berdua menyukai hal yang berbeda. An menyukai masakan, dan Arlett menyukai kue. Tapi kemana pun An pergi, Arlett akan dengan senang hati mengikutinya. Bahkan mereka berdua sudah mulai bekerja untuk mewujudkan keinginan An memiliki trattoria. Ya, Arlett mendukung hal itu seratus persen.
"Siapa bilang kau tidak butuh asisten? Bisnis kita semakin besar, Julian. Aku tahu beberapa bulan terakhir ini kau kewalahan." P. 13
Mendadak, An bekerja di Afternoon Tea, sebuah toko kue milik sepupunya. Dia bekerja untuk menebus rasa bersalahnya. Tapi bagaimana caranya dia bisa melakukan itu kalau basicnya aja bukan pastry atau kue? Belum lagi Julian, salah satu koki di sana, membuat An tidak nyaman karena sikapnya yang cukup individual dan perfeksionis. Apalagi pas ngelihat An yang nol besar masalah beginian. Apa bisa An bertahan di sana? Memang rasa bersalah apa yang membuatnya banting setir ke kue?


R E V I E W

Membaca cerita An awalnya membuatku bingung, karena tiba-tiba menceritakan bagaimana An dan Arlett dulunya, bingung juga dengan rasa bersalah An, dan mana Arlett?! Selalu diceritakan Arlett, tapi dia nggak pernah muncul. Akhirnya pertanyaan ini terjawab juga di bagian mendekati akhir.

Sesuai dengan tagline di cover novel, "Kau tak perlu melupakan masa lalu. Kau hanya perlu menerimanya." Seringkali, kita tuh berusaha untuk melupakan sesuatu, atau kesalahan kita, atau bisa juga kejadian di masa lalu yang nggak mengenakkan. Hal ini kemudian yang bakalan bikin kita jadi punya permisalan. Misalnya dulu aku nggak begini, misalnya dulu aku lebih mendengarkan ini. Akan selalu banyak kalau, misalnya, dan perandaian lainnya, yang kemudian mikir bahwa kita ini selalu salah ngambil keputusan. Padahal, ada cara lain selain denial kayak gitu, yaitu menerimanya. Susah, tapi bikin kita lega.

Entah kenapa, tulisan kak Windry ini selalu bisa ya buat aku seolah-olah aku nemenin An, mengikuti sikapnya yang menyenangkan, apalagi kesotoyannya dia ini bener-bener ya. Mana dia nggak punya rasa takut sama Julian kayaknya. Mau dijutekin Julian, disuruh pergi dari dapurnya, bahkan sampai makan kue buatan Julian padahal dilarang, dia juga nggak ada takut-takutnya. Di sini kita juga bertemu dengan Ayu dari London dan Angel in The Rain lho! Hihi.. Ini suprise banget sih buatku.

Untuk alurnya sendiri maju mundur, menceritakan bagaimana An dan Arlett dulu, bagaimana hubungan mereka berdua, hingga alasan kenapa Arlett tidak muncul selama ini. Aku suka, cerita ini ditutup dengan manis. Suka gimana An berusaha kuat untuk menerima semuanya, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarganya. Ya, meskipun harus dipancing dengan sedikit kekacauan. Tapi aku puas sekali. Jadi kangen baca tulisan kak Windry yang lain. Hihi..


Quotable:
"Kata Arlett, pelangi adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja." P. 274

"Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengen menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi, pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini." P. 293

Monday, July 29, 2019

[Blogtour] Past & Present: You


Judul : Past & Present: You

Penulis: Eva Kurniasari

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 280 Halaman

"Kenapa kamu harus datang lagi ke kehidupanku kalau pada akhirnya orang lainlah yang kamu cari."