Sunday, August 16, 2026

[REVIEW] Notasi

Notasi
Morra Quatro
Gagas Media
321 Halaman

“Kita bukan orang-orang tidak tahan akan kehilangan, Nalia, kamu tahu itu. Mereka yang beru putus dari pacar, bisa segera mencari yang baru lagi. Hidup kita masih jauh, perjalanan masih panjang. Sahabat-sahabat yang pergi bisa terganti. Kita tidak takut kehilangan. Namun, tidak dengan cara seperti ini.”


B L U R B

Belasan tahun setelah hari ini, pekik lautan manusia itu akan terus menggema.

Inilah pertama kalinya kulihat perlawanan hati nurani yang begitu kuat, begitu sama, dari jiwa-jiwa yang berbeda. Ada ikrar yang terucap hari ini, ikrar yang akan terus kuingat.

Aku hanya mendengarnya satu kali, mengucapkannya satu kali, tapi aku tak akan pernah lupa.

Sumpah Mahasiswa
Kami mahasiswa Indonesia Indonesia bersumpah bertanah air satu; tanah air tanpa penindasan.
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah berbangsa satu, bangsa yang penuh keadilan.
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

Hanya penyaduran ulang dari Sumpah Pemuda enam puluh tahun sebelum ini; hanya baris-baris sederhana. Namun, kami meneriakkannya. Semua orang membutuhkan sesuatu untuk diteriakkan, yang bisa menumpahkan kebebasan bersuara yang telah begitu lama ditekan sebelumnya.

Belasan tahun setelah hari ini, segala hal tak akan sama lagi. Beberapa di antara kami tak pernah kembali. Beberapa hanyalah meninggalkan nama.

Namun, ada yang meninggalkan janji, suatu hari aku akan kembali.

- - - - - - - - -

Nalia, seorang mahasiwa fakultas kedokteran gigi di UGM yang juga seorang ketua panitia acara fakultasnya. Kala itu, dia dan teman-temannya membutuhkan media untuk menyebarkan pengumuman lomba yang sedang mereka adakan. Sejauh yang mereka tahu, mereka bisa menyiarkan hal ini melalui radio, yang saat ini hanya dimiliki oleh anak Teknik Elektro.
“Aku telah belajar bahwa tidak memiliki teman bicara pada saat kita ingin berbicara dengan seseorang itu rasanya sungguh tidak enak.” — P. 73
Dimulai dari kebutuhan inilah, hubungannya dengan Giftan Mariano Alatas—Nino, si anak Teknik Elektro dimulai. Tak hanya itu, ketika ada kerusuhan dan demonstrasi Nalia bersama beberapa temannya termasuk etnis Tionghoa juga turun ke jalan dan menyuarakan suara mereka.

Tapi sejak itu, Nalia tidak pernah melihat Nino lagi. Hari-hari berikutnya, bulan bahkan tahun berikutnya. Ke manakah Nino? Apakah ia akan menepati janjinya untuk mendaki Merapi bersama, mengingat Nino mengatainya cewek yang suka memanjat.

Akhirnya berkesempatan membaca Notasi versi Hijau dan Merah walaupun versi digitalnya. Pas habis baca, langsung kayak… harusnya baca ini dari dulu! Kenapa baru sekarang?

Tentang Nalia, anak kedokteran gigi yang kesulitan mencari media yang bisa membantu menyiarkan kegiatan lomba mereka. Nalia yang awalnya adalah mahasiswi biasa yang sehari-harinya berkutat dengan diktat dan jas lab, mendadak harus ke Teknik Elektro yang bebas banget. Pake jeans, kaos, kemeja, dan isinya laki-laki semua. Ceweknya bisa dihitung jari.

Di bagian awal, diajaklah kita ke dunia Nalia-Nino saat kuliah. Kedekatan mereka yang awalnya cuma karena kebutuhan semata, diselipi juga suasana saat itu gimana. Ternyata suasana jaman dulu cukup mencekam ya, apalagi yang masih ngalamin PETRUS. Malem juga udah sepi banget, beda sama sekarang.

Ketika mulai memasuki cerita tentang demonstrasi, ini yang cukup mendebarkan. Apalagi Nalia dan teman-temannya ini sempat melakukan kesalahan ketika lari dari tentara yang menghadang mereka. Kak Morra menuliskan cukup detail bagaimana mereka bersembunyi hingga akhirnya bisa pulang ke rumah masing-masing.

Konflik yang diambil nggak hanya konflik politik aja, tapi juga pergulatan batin Nalia ketika Nino tidak kunjung kembali. Nino yang sejak kerusuhan itu hilang tanpa ada yang tau kemana dia pergi, baik-baik kah dia selama ini? Belum lagi demonstrasi juga beberapa kali terjadi lagi. Nalia tidak tau. Di masa itu juga belum ada sosial media yang dipakai untuk menyebarkan foto. Jadi kenangan Nalia tentang Nino sangatlah sedikit.

Mengambil latar tempat di Jogja, kampus UGM, dan Jakarta, kak Morra menggambarkan dengan detail banget kampusnya seperti apa, bagaimana suasananya, diberikan map lokasi untuk gambaran ke kita juga.

Buku ini awalnya dulu terbit dalam cover hijau, beberapa waktu kemudian terbit dalam cover merah. Isi menurutku sama aja. Yang membedakan adalah tambahan part setelah ending.

Buatku, baca Notasi nggak cuma membuat kita flashback ke bertahun-tahun lalu, tapi juga gambaran negara saat ini. Berbagai perubahan undang-undang yang tentu saja menguntungkan pihak-pihak berwenang lainnya. Bukannya menguntungkan rakyat. Suasananya mirip-mirip dengan masa sekarang, mengingat yang jadi presiden sekarang juga menantunya kan ya? 


From the book…
“Mau pergi sejauh setengah lingkaran planet ini pun, Riz, pergilah, if you need to. Tapi jangan menghilang… give me a call.” — P. 5

“Wajah presiden di-crop dan diletakkan di atas kartu King. Lalu dijadikan sampu. Esok harinya serombongan pasukan berseragam militer datang menyerang kantor itu, mencar-cari editornya. Tidak tahu bagaimana nasib editor itu, tetapi seisi kantor kocar-kacir seharian.” — P. 54 to 55

“Aku telah belajar bahwa tidak memiliki teman bicara pada saat kita ingin berbicara dengan seseorang itu rasanya sungguh tidak enak.” — P. 73

“Indonesia telah merdeka selama separuh abad kala itu, tetapi alokasi anggaran pembelanjaan tidak pernah benar-benar memberi prioritas pada pendidikan.” — P. 91 to 92

“Hei. Kalau semua ini sudah berakhir, kamu mau pergi sama aku?” — P. 117

“Titik kebenaran yang mungkin lupa kamu highlight. Sesuatu yang seharusnya kamu ceritakan padaku, yang membuatmu menatap Kampus Teknik dengan pandangan seperti itu tadi.” — P. 159

“Ve, maaf kalau aku hadir setelah kamu ada di sana. Kalau kamu memang jatuh cinta pada Nino sejak lama, kenapa tidak kamu kejar dia? Dari sebelumnya, maksudku … kenapa tidak kamu beri tahu dia dari sebelumnya? Siapa tahu, bila dia tahu, sekarang keadaannya bisa berbeda.” — P. 182

“Kita bukan orang-orang tidak tahan akan kehilangan, Nalia, kamu tahu itu. Mereka yang beru putus dari pacar, bisa segera mencari yang baru lagi. Hidup kita masih jauh, perjalanan masih panjang. Sahabat-sahabat yang pergi bisa terganti. Kita tidak takut kehilangan. Namun, tidak dengan cara seperti ini.” — P. 239

“Tapi, bila revolusi tidak terjadi hari ini, pasti akan terjadi juga suatu saat nanti. Dan pada saat itu kelak, pertumpahannya, harga yang harus dibayar akan jauh lebih mahal. Yang mungkin harus dilunasi oleh anak dalam stroller yang kita bawa berjalan bersama golden retriever itu. I hate this, too.” — P. 246

“Aku sudah terlalu banyak berjanji padamu, Nalia. Dan waktu itu, tidak terlihat ada satu pun yang bisa kutepati. Hanya ada janji-janji saja, yang makin menumpuk.” — P. 283

No comments:

Post a Comment