Monday, January 19, 2026

[REVIEW] Satu Titik

Satu Titik
Arata Kaivan
On Wattpad
274 Halaman

“Nggak ada yang perlu disesali, Ra. Kita nggak bisa ngerubah masa lalu, tapi kita bisa rubah masa depan kita.”


B L U R B

Di tengah hiruk-pikuk Tangerang Selatan, dunia remaja seringkali berbenturan dengan kekuasaan gelap yang bergerak di balik layar. Seorang pemuda misterius dengan pengaruh besar di wilayahnya, harus mempertahankan Black Ribal, gengnya, dari ancaman geng saingan dan organisasi kriminal yang lebih besar.

Di sisi lain, muncul wanita dingin dan penuh teka-teki, yang seakan selalu satu langkah di depan dan membuat Renggo sulit menebak maksudnya. Bersama mereka, kisah cinta, loyalitas, dan pengkhianatan mulai terjalin dengan rumit, menarik perhatian seorang polisi muda yang terjebak di antara tugas dan perasaan pribadinya.

Ketika The Hydra, organisasi kriminal terbesar di Indonesia, mulai bergerak dan menawarkan kekuasaan yang lebih besar, semua pilihan menjadi berisiko. Siapa yang bisa dipercaya? Siapa musuh? Dan sejauh mana seseorang bersedia mempertaruhkan segalanya demi loyalitas, cinta, dan balas dendam?

SATU TITIK adalah kisah tentang dunia kriminal Indonesia yang keras, di mana satu keputusan bisa mengubah hidup selamanya.

- - - - - - - - -

Gilang, seorang perwira polisi yang sedang menargetkan 3 ketua gangster yang menguasai wilayah Tangerang Selatan. Krugger, Renggo, Olay, tidak ada yang pernah mengetahui wajah asli ketiganya, hanya saja Gilang mengetahui daerah kekuasaan mereka.

Bagi Gilang, pemberantasan gangster ini tidak hanya sekadar memberantas kriminalitas, tapi mengingatkannya juga terhadap apa yang pernah dialami Rizal, dan Riki—sahabatnya, sekaligus Chacha—adiknya. Dalam masa perburuannya ini, dia juga sedang mencari keberadaan Rizal, salah satu sahabatnya yang baru-baru ini keluar dari jeruji besi, namun sudah tidak pernah menampakkan diri lagi.
“Ayah nggak bisa bilang tindakan kalian bener. Kekerasan itu salah. Tapi Ayah juga nggak bakal nyalahin kalian karena jagain Chacha dan sahabat kalian.” — P. 18
Satu kejadian yang menimpa Chacha membuat Gilang semakin menggila untuk memberantas ketiga gangster ini. Apalagi kalau sudah mengingat kejadian tersebut. Berbagai cara Gilang tempuh untuk mendapatkan identitas para ketua gangster. Tapi bagaimana kalau ternyata ada salah satu yang dikenalnya? Siapkah Gilang bekerja sama dan meringkus ketiga ketua gangster ini?


Akhirnya aku kembali baca novel yang cukup menegangkan begini. Berawal dari threads dan akhirnya berkenalan dengan salah satu karya yang menurutku keren banget.

Tentang persahabatan keempat sekawan yang dimulai sejak keempatnya SMA, tawuran adalah hal yang mempertemukan mereka semua. Awal pertemuan yang cukup menarik ya? Mengingat tawuran biasanya pasti antar sekolah dan belum tentu saling support kan? Di bagian awal, kita diberi sedikit clue tentang keempatnya, dan bagaimana keseharian mereka.

Aku suka penggambaran dunia gelap yang mungkin emang sebenernya kayak gitu, kan? Gimana intriknya, hijack orang terdekat musuh, sampe menemukan bahwa ternyata adik pacarnya Gilang juga bagian dari gangster itu. Aku beberapa kali menebak-nebak, dan hampir benar! Penggambaran adegan perkelahiannya juga cukup detail.

Menurutku, fokus utama di sini lebih banyak membahas dari sisi Gilang dan profesinya. Dijelaskan juga bagaimana kebimbangan Gilang. Kondisi Riki, Rizal, dan Noval juga dijelaskan di sini. Tapi sepertinya hidup Gilang, Riki, dan Rizal yang lebih dar der dor dan kompleks.

Ada beberapa hal yang menurutku aneh dan belum kutemukan jawabannya, seperti The Hydra, dan juga partner kerja Riki, yang sepertinya juga berhubungan dengan para gangster ini. Mungkinkah jawaban ini ada di buku ke dua? Jadi nggak sabar baca buku ke-duanya! 

Sunday, January 18, 2026

[REVIEW] Fit & Proper Test

Fit and Proper Test
Soraya Nasution
Elex Media Komputindo
350 Halaman

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?"


B L U R B

"Cari pasangan hidup ya nggak boleh asal. Penginnya nggak ada penyesalan dan satu untuk selamanya, kan? Disusun dong Fit and Proper Test-nya. Kriterianya harus jelas dan terukur."

Celetukan Papi waktu berkumpul di rumah Eyang terus berputar di kepala Anggun. Apalagi dia punya target menikah sebelum usia 28. Sementara usianya kini sudah 26 tahun lebih 6 bulan. Dibantu kakak sepupunya yang juga jomlo gagal move on, Anggun bertekad menyusun Fit and Proper Test dalam Mencari Pasangan Hidup Ideal.

"Kalau ternyata pasangan yang lo pilih nggak lolos tes, sementara lo udah cinta sama dia gimana, Nggun?"

"Basically, perasaan itu yang ngontrol otak, Mas. Gimana lo cinta sama orang yang nggak memenuhi kriteria lo? Nggak mungkin!"

- - - - - - - - - -

Anggun sering bertanya-tanya, bagaimana cara mencari pasangan yang sesuai dengan kriterianya dan bisa diterima keluarga besarnya juga. Mengingat keluarga besarnya suka berkumpul dan melakukan kegiatan bersama, tentu saja pasangan yang bisa diterima sesuai dengan bibit, bebet dan bobot sangat menentukan, kan?
"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134
Sayangnya, sampai saat ini, Anggun masih belum juga menemukan pasangan sesuai kriterianya. Walaupun saat ini dia sedang menjalin hubungan, tapi Anggun ragu membawanya ke pertemuan keluarga. Sementara Ryan—kakak sepupunya juga jomlo. Memangnya mencari pasangan hidup perlu sedetail itu kah? Bukannya yang paling penting adalah perasaan satu sama lain dan finansial aja cukup?


Membaca Fit and Proper Test ini aku kira bakalan berat banget. Ternyata seringam itu. Permasalahan kapan kawin dan jodoh ini biasa kita alami kan? Apalagi buat anak line 90an. Kumpul keluarga, selain mendekatkan yang jauh, tapi juga bakalan mengumpulkan banyak pertanyaan. Yang belum nikah ditanyain kapan kawin, yang udah kawin kapan punya anak, yang udah punya anak kapan nambah. Udah jadi rentetan pertanyaan yang nggak ada habisnya.

Sama seperti Anggun dan Ryan, mereka juga mau kok segera menemukan pendamping hidup. Sayangnya, mencari pasangan hidup itu susah-susah gampang. Kadang ada yang sekali ketemu langsung klik, ada yang perlu cari-cari dulu. Dan aku juga kurang setuju sama papanya Anggun sih, karena cari pasangan itu nggak ada pakemnya, dan cara satu orang mencari pasangan tuh nggak bisa disamain sama yang lainnya. Nanti malah stres sendiri karena nggak dapet-dapet.

Selama membaca tuh aku suka banget interaksi antara Anggun dengan orangtuanya dan juga Ryan. Enak memang ya kalau punya kakak, meskipun cuma sepupu, tapi bisa diajak ngomong dan diskusi. Langka banget yang beginian. Aku sama sepupuku juga sama sih, tapi seputar kesehatan aja karena mereka dokter. Kalo love life mah enggak. Masuk ranah privasi.

Sangat aku rekomendasikan untuk baca, karena selain bahasanya ringan, lebih memperluas pemikiran juga kalau untuk memilih pasangan!


From the book...
"Nyari pasangan potensial lebih susah daripada ngitungin energi potensial pas zaman SMA ya, Nggun." — P. 6

"Menurut lo, seorang cowok atau cewek pantas disebut calon pasangan hidup potensial kalau punya berapa persentase sifat baik? 50 40? 70 30?" — P. 11

"Memilih calon istri itu bukan sekadar dia cantik, menarik, jalan beberapa bulan terus kamu lamar. Kamu harus melakukan serangkaian fit and proper test untuk mendapatkan calon istri yang potensial." — P. 25

"Gue nggak mesti sampe background keluarga, sih. Kita, kan, nggak bisa milih dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Tapi gue tambah gimana cara dia berkomunikasi sama orang lain. Itu yang paling penting." — P. 33

"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134

"Setiap orang kayaknya punya strong dan weak points-nya masing-masing deh. Banyak juga kok yang bisa disukai dari kamu. Kamu setia kawan, full of surprise, jago dandan, stylish, asyik diajak ngobrol karena kamu nggak berisik. I love to talk to you all the time." — P. 183

"Kayak yang Om selalu ingatkan ke kalian, pinter-pinter dalam memilih pasangan. Jangan gegabah. Semuanya harus fully checked. Mungkin kalian juga bosan mendengarnya. Usia kalian bukan usia untuk main-main lagi. Walaupun begitu, tetap harus dipilih yang paling baik. Toh untuk masa depan kalian juga." — P. 188

"Kamu memang benar. Tapi nggak ada salahnya mencari yang terbaik, kan? Kamu masa lupa soal bibit, bebet, bobot yang pernah Papi kasih tahu ke kamu dan Ryan. Bibit bebet bobot itu penting untuk menentukan kualitas keturunan, Sayang. Kalau ayahnya kayak gitu, kan nggak menutup kemungkinan anaknya juga kayak gitu." — P. 204

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?" — P. 283

"Lo terlalu terpaku sama hasilnya, Nggun. Sampai lo ngelupain proses dari penjajakan ini. Yang ada di kepala lo cuma ini cowok skornya harus sekian, harus memenuhi semua target. Padahal untuk ngedapetin itu lo harus menjalani pendekatan itu, kan? Selama proses fit and propert test itu, secara nggak langsung lo ‘dipaksa’ untuk lebih peka sama gerak-gerik seseorang, berusaha untuk tahu apa sih maunya dia, serius nggak sih dia sama lo. It’s such a big learning, Anggun.” — P. 332

“Aku juga ngambil banyak hikmah dari kejadian ini kok, Pra. Ternyata kadang apa yang aku susun nggak selalu terjadi sesuai rencana. Ternyata standar aku terhadap menilai sesuatu itu bisa saja nggak terpenuhi. Ternyata toleransiku terhadap beberapa hal harus lebih dilonggarkan.” — P. 341