Sunday, January 11, 2026

[REVIEW] How To Be Popular in High School

How To Be Popular in High School
Reytia
Bhuana Sastra
222 Halaman

"Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.”


B L U R B

Isa yang dulu cupu dan terkucil saat SMP men­coba peruntungannya di SMA 743. Tujuannya satu: men­jadi cewek populer! Ia pun mendaftar di ekskul dance, tempat para cewek populer dan elite ber­kumpul. Namun, sialnya, Lexy, si ratu sekolah yang dulu mengucilkannya saat SMP, juga men­daftar di ekskul yang sama. Ditambah lagi ekskul dance terkenal dengan ploncoannya yang gila-gilaan.

Namun, Isa pantang menyerah! Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya juga layak diper­tim­bangkan dalam jajaran cewek populer di sekolah. Mulai dari tampil di depan senior, sampai pasang muka manis walau hati gondok berat. Bisakah Isa memanjat dinding terjal menuju popularitas?

- - - - - - - - - -


Banyak yang bilang, kehidupan masa SMA tuh masa-masa yang menyenangkan. Masa yang harus banget dinikmati, apalagi umur pas SMA tuh pas banget lagi nakal-nakalnya, jatuh cinta yang kerasa beneran, nggak lagi disebut cinta monyet.

Isa juga punya tekad yang sama. Memilih nggak melanjutkan sekolah di yayasan yang sama, bahkan sampe merubah potongan rambutnya, merombak gayanya habis-habisan supaya bisa populer. Tujuannya jadi anak populer. Nggak dikucilkan lagi.
“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.”— P. 80
Sayangnya, nggak demikian, berawal dari temen sebangku yang nggak keren-keren amat, teman belakang bangkunya yang kadang judes. Tapi tetep nggak menyurutkan keinginannya untuk jadi populer. Dia bisa aja masuk ke ekskul dance, dengan segala risiko peloncoannya yang aneh-aneh. Hanya saja, mimpi buruknya bener-bener tiba. Lexy, mimpi buruknya semasa SMP datang dan masuk di ekskul yang sama. Bisakah kali ini Isa menjadi populer seperti keinginannya dulu?


Membaca How to Be Popular in High School mengingatkanku di masa-masa SMA. Sama seperti Isa, aku juga mau kumpul jadi anak populer lho. Sudah bertekad kalau bakalan mencari teman baru di SMA, dan jadi anak keren. Tapi nyatanya, aku juga kumpulnya sama anak yang biasa-biasa aja, bukan anak basket, dance atau anak band. Ya gimana ya, aku juga sadar diri, pas SMA tuh aku masih jadi anak alay gitu deh. Cuma hobinya haha hihi sana sini.

Pernah dibully di SMP, kehidupan orangtua yang biasa aja, tentu ini cukup membuat Isa bimbang. Haruskah kayak begini dilaporkan ke orangtuanya? Harusnya kan nggak perlu, sudah cukup mereka bekerja keras aja kan?

Pas baca momen Isa masuk SMA dan mengambil jarak dari Tari, Nanda, dan Olen, aku agak kecewa sih. Karena nggak beda dong Isa dengan teman-temannya dulu? Nggak potensial untuk bikin dia populer kan nggak berarti harus diberi jarak? Lagian nyari temen populer kayaknya juga nggak segampang itu deh. Mendingan membaur ke banyak orang, kan?

Momen perploncoan itu bener-bener ngegambarin masa-masa SMAku dulu deh. Pas baca aku langsung berasa balik ke jaman OSPEK dan cari-cari ekskul. Paham banget sih gimana ditatarnya anak dance tuh. Soalnya memang butuh stamina yang kuat kan? Tapi Galactic agak keterlaluan sih.

Tokoh favoritku di sini adalah Olen, soalnya dia mirip aku banget. Kalo ngomong nyeplos, padahal niatnya baik. Hehe. Yang kedua, Vanya, sebagai senior, dia nggak memakai senioritas untuk melakukan plonco hal-hal yang nggak berguna. Love banget! Malahan dia selalu ngebela Isa, ngebantuin dia kalo memang ada kesulitan. Terakhir ada Galang, baik banget ini orang ya. Tegas banget, bener-bener menjalankan perannya sebagai anak MPK dengan baik. 

Last, suka sekali baca How to Be Popular in High School ini. Selain ceritanya deket sama kita secara konflik, bahasanya juga enak banget, mengalir. Aku berhasil baca ini dua jam aja. Seru banget soalnya. Jadi kepengen baca tulisan kak Reytia yang lain.


From the book…
“Dunia orang-orang sukses itu keras. Jika seseorang sudah tidak berguna, ia akan dibuang dan dijatuhkan. Ia harus selalu waspada dan memiliki banyak teman yang bisa membantu saat kesulitan.” — P. 32

“Lagi pula, hidup adalah tentang uang dan kekuasaan.” — P. 32

“Gue ngerti sih jadi anak yang populer itu emang asik. Tapi, buat jadi populer enggak harus lewat ekskul ini juga bisa, kali. Emang enggak ada cara lain, apa. Daripada lo di sini ditinggal-tinggal enggak jelas terus, mending lo cari tempat lain yang orangnya lebih waras enggak, sih?” — P. 76

“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.” — P. 80

“Gue enggak suka orang yang menyisihkan orang lain. Termasuk orang-orang yang memakai identitas eksklusif di sekolah, itu gue juga enggak suka. Biar apa sih? Biar keliatan kebih keren daripada anak-anak lainnya?” — P. 87

“Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.” — P. 114

“Lo itu orang baik, Isandra. Apa yang membuat lo berpikir kalau lo enggak layak mendapatkan teman yang baik?” — P. 144

“Bukannya lebih serem kalau kita enggak punya sikap cuma untuk disukai sama orang lain, ya? Semakin kita punya sikap, semakin besar kemungkinan kita enggak disukai orang lain, dan gue udah siap. Harus ada yang berubah dari keadaan sekolah ini, Sa.” — P. 157

“Obrolannya dengan Galang menyadarkan Isa bahwa ia masih punya banyak pilihan panggung untuk tempatnya bersinar. Untuk menuju ke sana, ia hanya perlu mulai dari satu hal: mencintai dirinya apa adanya.” — P. 166

No comments:

Post a Comment