Uang Gawat DaruratAdrindia RyandiszaElex Media Computindo224 Halaman
"Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.”
B L U R B
“APA YANG LEBIH GAWAT DARI DIJADIKAN KONTAK DARURAT TANPA IZIN?”
“NGGAK PUNYA UANG GAWAT DARURAT!”
Indy bekerja sebagai funding officer, tipikal budak korporat ibu kota dengan goal finansial: ingin punya uang gawat darurat. Mirisnya, setiap mengumpulkan dana untuk keperluan darurat, ada saja kebutuhan yang tiba-tiba muncul. Bukan hanya kebutuhannya saja, tetapi juga seluruh anggota rumah: ayahnya, ibunya, dan terutama, adiknya yang pengangguran.
Untungnya, Indy punya sahabat sepenanggungan. Bayu, seorang staf IT yang sedang berjuang keras menabung untuk menikah. Tepatnya, untuk biaya pernikahan kakak perempuannya yang ditakutkan akan menjadi perawan tua. Apakah mereka bisa keluar dari peliknya masalah finansial yang sering dihadapi generasi masa kini?
- - - - - - - - - -
Hidup sebagai anak pertama dengan kondisi keluarga yang kurang, membuat Indy mau nggak mau ikut menanggung kehidupan orangtua beserta adiknya yang saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. Selama ini Indy ngerasa baik-baik aja, meskipun uang untuk dana daruratnya mepet banget. Indy masih berusaha mencari berbagai cara untuk menambah penghasilannya, dia juga sering melihat video di Youtube bagaimana cara memperbanyak uangnya yang tidak seberapa ini.
“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112
Bayu, tetangga sebelah sekaligus sekutu Indy sejak SMA pun ternyata punya masalah yang mirip, malah lebih parah menurutku. Dia ikut menanggung biaya pernikahan kakaknya. Belum lagi, persiapan pernikahan kakaknya ini banyak banget percek-cokan yang terjadi. Mau pecah rasanya kepala Bayu.
Bagi Indy, dia beruntung punya Bayu, nggak cuma jadi temen yang bisa diajak haha-hihi, tapi juga bisa diajak curhat dan bertukar pikiran. Kira-kira mereka bakalan punya pekerjaan tambahan nggak ya, supaya bisa memperbaiki kondisi keuangan mereka?
Di masa sekarang ini, punya dana darurat itu kayaknya keharusan deh. Bukan menjadi opsi menabung lainnya. Dari sejauh yang aku tau, katanya dana darurat ini harusnya 3x gaji. Ada yang bilang 6x gaji, kembali ke kebutuhan masing-masing. Apalagi kalau sudah ada keluarga dan anak ya, harus banget kayaknya ada dana darurat. Karena kita gatau apa yang terjadi ke depannya.
Membaca kisah Indy-Bayu ini gemes-gemes gimanaa gitu. Indy sebenernya bukan dari keluarga yang berkekurangan kok. Sebelumnya dia berkecukupan, tapi karena ayahnya yang kena PHK, jadi kehidupannya sedikit terguncang. Pas di bagian Indy dengan Rika, adiknya, aku sangat memahami banget. Adik nggak kerja, keliatannya di rumah terus tuh jadi sumpek yang liat. Apalagi Indy pergi pagi, pulang capek. Bela-belain menghemat di sana sini, tapi Rika malah di rumah aja. Begitu disindir, ngamuk pula. Capek banget.
Sementara kisah Bayu lebih nyesek lagi, ngumpulin biaya pernikahan, tapi buat kakaknya. Pas awal aku baca, aku juga kesel banget sih. Masa kakaknya yang mau nikah, tapi adiknya ikutan kepikiran juga? Bukannya nikah ya harusnya tanggungan yang bersangkutan aja ya?
Tokoh yang aku suka tuh malahan Bayu. Tipe cowok pada umumnya yang komen secukupnya aja, tapi pas action keren banget!! Dia ini juga tipe temen yang cukup seru untuk diajak cerita, bisa ngasih feedback nggak cuma diem aja gitu.
Novel ini relate banget sih sama masa sekarang yang sandwich generation, hidup serba sulit. Terjebak di antara dua pilihan, menyenangkan diri sendiri atau orang lain. Seperti biasa, novel kak Adrin ini nggak tebal, tapi isinya padet banget. Mantep.
From the book…
“Gue tuh nggak perlu sampai harus jalan-jalan ke Bali atau pakai tas bermerek, gue cuma kepengin uang lebih banyak buat tabungan gue dibanding dana darurat.” — P. 3“Permasalahan uang adalah sesuatu yang sangat sensitif. Pertemanan bisa rusak karena masalah utang piutang.” — P. 16“Kalau Ibu, nggak mau kamu nikah tapi malah belum siap. Ya, meski Ibu sama Ayah pas-pasan banget menuhin kebutuhan kamu dan belum bisa nyiapin uang nikahan anak sama sekali, tapi Ibu tetap pengin yang terbaik buat kamu. Ibu nggak mau kamu nikah, tapi malah jadi susah. Nikah kan ibadah, bukan uji nyali.” — P. 23“Aku tahu Mbak Alia nggak minta saranku, tapi aku mau tetap ngomong. Mbak Alia nggak perlu menurunkan standar. Jangan sampai nanti suaminya masih nggak stabil emosinya. Tapi aku juga ngerti kalau tuntutan keluarga itu berat.” — P. 94“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112“Pengetahuan gue tentang nikah mungkin sedikit. Tapi lo tahu nggak, apa yang menurut gue lebih menakutkan dari menikah saat belum siap? Nikah dengan orang yang salah. Gue takut itu.” — P. 114“Iya. Kebiasaan banget ya, nikah dijadiin lomba cepat-cepat. Jangan sampai aja cepat-cepat cerai jadi tren lomba baru.” — P. 131“Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” — P. 190“Tapi gue mikir kalau pernikahan itu tentang berkompromi dan cari solusi bareng-bareng, gue rasa untuk ke jenjang itu, gue udah bisa bayangin lo, Yu. Cuma nggak langsung nikah kayak yang lo mau. Kita butuh persiapan dan rencana. Kayak nanti tinggalnya gimana, atur keuangannya gimana. Belum kalau nanti pelukan atau mesra-mesraan.” — P. 213
No comments:
Post a Comment