Friday, January 2, 2026

[REVIEW] Sejauh Rindu Mencari Pulang

Sejauh Rindu Mencari Pulang
Sefryana Khairil
Penerbit Clover
314 Halaman

“Mungkin… biar kita enggak egois, Ta. Enggak selamanya semua berjalan seperti yang kita mau.”


B L U R B

Fayrani menjalani hubungan serius dengan Genta, seorang pria penuh dedikasi yang menyayangi keluarganya di atas segalanya. Namun, hubungan mereka berubah drastis setelah Genta mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kakaknya, Gamal.

Genta, yang saat itu menjadi pengemudi, merasa bersalah dan menanggung beban untuk menjaga Sandra, istri Gamal, serta ketiga anak mereka. Sandra yang kehilangan suami dan harus membesarkan tiga anak sendirian bergantung sepenuhnya kepada Genta.

Fayrani berusaha memahami keputusan Genta, tetapi keberadaan Sandra dalam kehidupan Genta membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat di hati pria itu. Haruskah dirinya menyerah dan pergi atau mempertahankan hubungan mereka yang terombang-ambing di antara cinta, pengorbanan, dan rasa bersalah?

- - - - - - - - -

Pernah menjalin hubungan lama, ketika putus tuh pasti masih ada yang bikin nyesek ya. Mau putusnya baik-baik, ataupun nggak baik, kurasa efeknya sama aja. Kehilangan yang mendalam. Sejak enam bulan lalu pasca putusnya Fayrani dengan Genta, mereka kembali dipertemukan lewat kantor Gegas Gesit. Genta menjadi anak baru di sana.

Bagi Fayrani dan Genta hal ini tentu saja nggak mudah, dua orang yang pernah menjalin hubungan, putus, dan kemudian harus berhubungan lagi tiap hari, walaupun untuk profesional, pasti tetap ada yang mengganjal.
“Gue juga punya banyak mimpi, dulu gue pikir gue akan tetap di sini, berkarir bersama kalian, terus maju dengan semuanya. Tapi setelah banyak hal terjadi dalam hidup gue, gue sadar bahwa terkadang kita harus melepaskan apa yang kita anggap sebagai mimpi, untuk menjalani tanggung jawab yang lebih besar.” — P. 284
Bagi Genta, pertemuannya dengan Fayrani mungkin adalah kesempatan kedua dari semesta. Mungkin mereka masih bisa bersama seperti dulu, merajut mimpi mereka perlahan-lahan, seperti bayangan mereka dulu. Di sisi lain, Genta juga punya tanggung jawab besar akibat kecelakaan yang terjadi padanya dulu. 

Kembali membaca karya kak Sefryana, kalau sebelumnya Coming Home dengan sebuah kasus perselingkuhan yang buatku nggak bisa diterima, kali ini Genta dengan tanggung jawabnya yang cukup besar.

Kecelakaan yang terjadi karena kelalaiannya, membuat Genta merasa bersalah, apalagi keluarganya juga belum bisa menerima kepergian kakaknya yang saat itu bersamanya. Pun dengan Genta, beberapa kali dia bermimpi tentang kecelakaan yang pernah dialaminya. Ini sebenernya beban tersendiri buat Genta. Belum lagi, dia juga menghidupi Sandra, iparnya dan tiga keponakannya.

Menurutku, permasalahan Genta di sini tuh rumit banget. Sendirian, nggak cuma menanggung beban mental tapi juga finansial. Sementara sisi Fayrani, menurutku dia juga nggak sepenuhnya salah. Dalam masa pacaran tentu nggak harus jadi prioritas terus, tapi kalau jadi pihak yang terus disuruh mengalah, capek juga kan?

Mengambil sudut pandangan ketiga dari sisi Genta dan Fayrani, aku merasa bisa menyelami sisi keduanya. Genta yang selalu bimbang dan ragu karena takut keputusannya kali ini salah lagi. Fayrani yang kembali bimbang dengan segala sikap Genta.

Sepanjang membaca,  aku juga diajak kebingungan harus memprioritaskan siapa Sandra, atau Fayrani? Apalagi kita juga diceritakan secara flashback tentang masa lalu mereka berdua. Jadi bener-bener di sini ngerasain banget gimana Genta berusaha menerima semuanya, termasuk kehilangan kakaknya, Gamal. Belum lagi perlakuan orang tuanya, tanggung jawabnya sama Sandra, perasaannya sama Fayrani.

Buatku, membaca Sejauh Rindu Mencari Pulang nggak cuma tentang kehilangan, tapi bagaimana akhirnya bisa menerima kehilangan itu. Ikhlas itu susah sekali, apalagi kalau tentang kehilangan, tapi hidup terus berjalan, nggak selamanya kita harus berhenti dan berputar di sana terus, kan?


From the book…
“Hari itu, dia menyadari bahwa kadang, cinta harus berakhir bukan karena hilang, melainkan karena mereka harus melepaskan.” — P. 27

“Seharusnya kamu enggak lupa, Ta. Saat kita putus, berarti kita bebas mau bersama orang lain. Jadi, kamu enggak perlu merasa menjelaskan apa pun ke aku.” — P. 121

“Mungkin… biar kita enggak egois, Ta. Enggak selamanya semua berjalan seperti yang kita mau.” — P. 145

“Satu hal yang aku pelajari, menjadi ibu adalah proses. Kamu enggak harus sempurna, cukup kasih cinta yang tulus.” — P. 156

“Kamu enggak pernah kepikiran buat kasih dia kesempatan lagi? Kadang, orang tuh butuh waktu buat bener-bener ngerti perasaannya sendiri, Fay.” — P. 173

“Mas, lo juga punya hak buat bahagia. Jangan sampe janji itu jadi penjara buat hidup lo sendiri. Lo harus yakin, Mas, kalau ini yang bener-bener lo mau.” — P. 189


No comments:

Post a Comment