Wednesday, July 25, 2018

[Review] Dirt On My Boots


Judul : Dirt On My Boots

Penulis : Titi Sanaria

Penerbit : Elex Media

Tebal : 291 Halaman

"...cinta adalah seraut wajah yang membuat hati bahagia saat menatapnya, gelak yang meluruhkan kepenatan seberat apa pun di penghujung hari, dan perasaan nyaman seperti pulang ke rumah setelah bertualang saat memeluk tubuh yang menyambutmu dengan sukacita."


BLURB

Entah ini kutukan atau anugerah, tapi ada banyak laki-laki tampan di kantorku.

Bos besarku masih menawan di usianya yang sudah enam puluhan, namun tentu saja dia bukan pilihan potensial. Aku mencari kekasih, bukan ayah angkat. Lalu Pak Freddy, laki-laki paling tampan di kantor. Dia punya senyum maut yang sayangnya hanya diperuntukkan istrinya. Masih ada pria yang tidak kalah tampan di divisiku lho, dan mereka lajang!

Hore...? Tidak juga.

Putra lebih muda dariku, tapi menjalin cinta dengan berondong tidak ada di daftarku. Sandro lebih tua, tapi aku tak menemukan ada aliran listrik yang tiba-tiba menyambar saat kami berdekatan. Tidak ada ribuan kupu-kupu yang tiba-tiba membentuk koloni bersarang, dan mendadak mengepak bersamaan di perutku.

Lalu Pak Andra, bos baru di kantorku dengan bokong terindah di dunia. Ya, dia potensial. Tampan dan pintar, dua keunggulan yang hanya dimiliki satu dari seribu laki-laki di dunia. Barangkali masalahnya ada pada diriku. Aku jelas bukan calon potensial baginya. Aku tidak memiliki apa yang diharapkan olehnya, atau lelaki lainnya di dunia ini. You know what I mean—sesuatu yang besar di bagian tubuhmu. Tapi yang jadi masalah, seharusnya sejak awal aku tahu kalau dia tidak mempercayai komitmen.

Kebingunganku semakin berlimpah-ruah, ketika suatu pagi aku terbangun di sebuah ranjang dan mendapati sosoknya berada di sampingku. Semenjak itu pikiranku kian terusik. Apa yang sudah kulakukan dengan bosku? Atau, tepatnya, apa yang telah bosku lakukan kepadaku?

- - - - - - - - -

Sita, si anak perawan ting-ting yang kerja di sebuah perusahaan periklanan. Kehidupan cewek ini standart kayak pekerja kantor lainnya. Di kelilingi cowok mesum bin ajaib, Sandro dan Putra, dan juga Raisa, cewek yang super lemot. Yang kalo ngomong kadang bikin kesel karena nggak nyambung.
"Lo punya sindrom bokong lovers atau apa gitu? Fantasi seksual lo tentang bokong pasti extraordinary banget." — P. 13
Nggak cuma perawan ting-ting yang doyan ngomong mesum, Sita juga penggemar bokong yang besar. Kalau diibaratkan, dia ini kayak cowok yang doyan sama payudaranya Nicky Minaj, ya kayak begitu lah. Selama ini, dia bekerja dengan seorang bos yang sudah berumur, tapi nggak keliatan berumur. Namanya Pak Freddy. Sayangnya, Pak Freddy dalam waktu dekat bakalan mengundurkan diri dan digantikan oleh bos lain. Malam itu, Sita lagi-lagi pulang malam karena pekerjaannya, dan dia bertemu dengan cowok yang bokongnya penuh! Dan keesokan harinya, dia menemukan jawaban atas pertanyaannya. Ternyata cowok itu adalah bosnya!

Sayangnya, bos barunya ini entah sensi atau gimana, dia ini kayaknya bentrok melulu sama Sita. Malah mereka pernah bertengkar dengan alasan Sita cari perhatian karena menyukainya! Lah, padahal sejak awal, Sita aja udah bete sama dia karena Sita sempat diremehkan saat itu. Lalu bagaimana hubungan keduanya? Dan lagi, kenapa Sita bisa bangun dan satu ranjang dengan bosnya ini?


Novel bertema romcom alias romance-comedy ini bener-bener juara menurutku. Gimana nggak? Sejak awal, kita udah diajak ketawa haha hihi sama kelakuan Sita, Sandro, Putra dan juga Raisa. Mulai dari omongan Raisa yang nggak nyambung sampe bikin semuanya jengkel, atau kelakuan Sita yang kadang malu-maluin di depan Andra, bos barunya. Part paling lucu menurutku itu, waktu Sita kedapetan disuruh bikin iklan kondom. Bener-bener deh ya, Sandro dan Putra malah asik godain Sita buat nyoba bareng mereka. Nggak cuma itu aja, sifat Sita yang kadang lebai, juga sanggup bikin kita ketawa.

Jadi, menurutku novel ini tuh harus banget dibaca sama kalian. Apalagi kalian yang lagi suntuk abis. Sita and the Genk siap banget buat bikin kalian ketawa. Dan dijamin nggak nyesel pokoknya.

Quotable:
"Nggak masuk akal aja kalau di belakang tonjolannya kayak gunung berapi, tapi depannya seukurnag batang sapu lidi. Nggak imbang. Dia pasti akan sering jatuh terduduk. Berat di belakang. Mikir dong! Gimana sih?" — P. 15

"Bahagia dan nyaman itu hanya bisa dikasih sama laki-laki yang tulus mencintai kita, bukan yang hobinya nyemprot di mana-mana. Yang ada kita bakalan sakit hari sendiri." — P. 45

"Nggak masalah urusan apa, tapi intinya kalian sering bersama. Suka dan cinta itu kebanyakan tumbuh dengan cara paling primitif kayak gitu. Kebersamaan. Jadi lo beneran nggak merasakan sesuatu sama bos lo itu?" — P. 137

"Perasaan itu tumbuh perlahan. Seperti yang selalu kubilang, cinta yang merimbun liar tak terkendali dalam waktu singkat hanya ilusi dalam novel roman. Dan aku tidak tinggal di balik lembaran kertas. Aku sedikit lega dengan pemikiran itu." — P. 180 to 181

"Karena itu saya tidak pernah mengikat komitmen dengan orang lain. Lebih mudah seperti itu. Komitmen yang melibatkan perasaan itu rentan dan sangat mudah dilanggar." — P. 194

"Mengakui jatuh cinta sama kamu nggak mudah, tapi jauh lebih sulit mengingkarinya. Aku nggak pernah memikirkan diriku sendiri akan berkomitmen dengan orang lain, tapi aku nggak mungkin melepaskan kemungkinan untuk bersama kamu." — P. 218

"Ciuman itu ternyata sama dengan makan. Tidak perlu dipelajari. Insting akan menuntun kita melakukannya. Mau makan di ruangan segelap apa pun, kita akan tahu di mana letak mulut. Tangan yang menyuap tidak akan nyasar ke hidung atau telinga. Sama dengan membalas ciuman, naluri akan menuntun kita untuk melakukannya." — P. 220

"Ini menyebalkan, tahu nggak. Untuk pertama kalinya aku mencoba serius dengan seseorang, tapi aku malah yang ditanggapi nggak serius. Kamu yang main-main dengan hubungan ini." — P. 237

"Aku nggak akan menikah dengan orang yang terpaksa harus menikah denganku, Fen. Aku akan menikah dengan orang yang menganggap aku pantas menikah dengannya. Orang yang mengajakku menikah karena memang ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan aku. Bukan orang yang menanyakan apa aku punya keinginan untuk menikah." — P. 263

"Ya Tuhan, otongnya kecil ya, Sit? Nggak segede yang di donlotan itu? Lo nggak puas karena merasa digelitikin doang, makanya minta putus?" — P. 265

"Jelas banget. Dia selalu mengalah, kan? Laki-laki yang mencintai kita tidak akan memaksakan kehendak. Dia akan menghargai pendapat dan keinginan kita. Mama lihat Fendy seperti itu." — P. 272

"Kita perempuan cenderung mengambil keputusan saat kepala sedang panas, jadi sering mengabaikan logika. Nggak ada salahnya mengakui kekeliruan. Gengsi lebih sering merusak kebahagiaan. Pikirkan itu." — P. 273

No comments:

Post a Comment