Sunday, March 29, 2026

[REVIEW] Enjoy the Little Things

Enjoy The Little Things
Kincirmainan
Elex Media Komputindo
530 Halaman

”Biasanya, orang lebih mudah menerima saat hal itu tidak menimpa orang yang ada hubungan dengan mereka. Apa kamu yakin orangtuamu bisa seenteng itu menerima kondisi anakku yang akan kamu jadikan istri?”


B L U R B

Bapak adalah lelaki Jawa yang perfeksionis. Sifat Bapak ini terlihat jelas saat menyelidiki bibit-bebet-bobot calon menantu yang akan menikahi tiga anak gadisnya nanti. Yang Maharani tahu, nama baik Bapak adalah segalanya. Rani tak mau merusak itu. Lebih baik tidak menikah, kalau ternyata suatu hari nanti harag diri Bapak akan terluka karena pilihan Rani.

Namun keadaan ternyata berkata lain. Pada malam ketiga setelah putus hubungan dengan Bima. Maharani bertemu seorang pemuda yang penampilannya membuat Rani sempat meragukan kejantanannya. Tapi sesuatu yang terjadi di antara mereka, khususnya dua bulan setelah pertemuan mereka itu, pasti membuat Rani akan berpikir ratusan kali jika ingin meragukan siapa pun.

Kecelakaan yang terjadi antara Rani dan Yudha, si pemuda feminin, membuatnya harus memperkenalkan Yudha sebagai calon menantu kepada sang Bapak.

Bapak, yang ternyata kurang menerima laki-laki berwajah mulus seperti Yudha.

Bapak yang ternyata tidak menerima ketika orang yang akan menikahi Rani adalah lelaki yang lebih memilih membuka usaha toko kue bukan toko alat listrik atau bangunan.

Seksis memang. Terlebih latar belakang keluarga Yudha sebenarnya membuat Rani berpikir ulang jutaan kali untuk maju. Mampukah Rani menyatukan dua keluarga yang saling bertolak belakang ini dalam pernikahannya dengan Yudha?

- - - - - - - - -

Bagi Rani, senakal-nakalnya kehidupan Jakarta, nggak akan membuat Rani goyah, nggak akan membuat Rani ikutan berpaling jadi anak nakal. Toh selama ini, semenjak lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, dia baik-baik saja. Walaupun banyak temannya yang nakal, tapi Rani tetap menjunjung tinggi ajaran Bapaknya.
“Nelangsa dibikin sendiri, kalau cinta itu ya berjuang, dong. Jangan ditahan-tahan. Hari gini kok ngalahin cinta.” — P. 367
Perkenalannya dengan Yudha di salah satu club, membuat Rani melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Nggak cuma itu, ternyata Yudha tipe cowok Jakarta yang mulus dan melakukan banyak perawatan, yang beda banget sama tipe cowok yang bapaknya harapkan. Bagaimana Rani harus menghadapi bapaknya kali ini?


Kembali membaca tulisan kak Kincirmainan setelah sekian lama adalah keputusan yang tepat. Baca tulisan kak Kin bikin jiwa bacaku yang sebelumnya ngesot jadi bangun lagi!

Menceritakan tentang Rani yang baru aja patah hati dan Yudha yang berhasil membuatnya teralihkan. Teralihkannya malah ke hal yang negatif dan mereka berdua harus bertanggungjawab atas apa yang sudah mereka lakukan. Masalahnya, Yudha ini bukan tipe cowok yang macho dan lakik, dia kulitnya mulus dan rajin banget pake skincare. Inilah yang bikin Rani agak bingung memperkenalkan kayak gimana ke keluarganya.

Enjoy The Little Things menurutku gemes dan bikin geregetan. Lebih banyak ke Raninya sih. Punya Bapak yang keturunan Jawa itu menurutku memang ngeri-ngeri sedap. Kalo udah teges, bisa teges banget. Tapi kalo becanda, ngelawak pol. Kesalahan yang dibuat Rani dan Yudha jelas fatal. Bapaknya Rani, pasti marah. Masalahnya, Rani yang bikin semua itu jauh lebih complicated.

Selama baca bener-bener gemes sama Rani. Untung bukan temenku, kalau Rani temenku, udah kumaki dia. Udahlah bikin segalanya rumit, gengsinya tinggi bener. Buset, Ran, gengsi nggak bikin kaya tujuh turunan, Ran.

Menurutku, perjalanan kisah mereka berdua tuh benernya yang bikin ribet Rani sendiri. Dia dengan segala spekulasinya. 

Karakter favoritku… Jonah sama Yudha. Mereka ini win my heart! Yudha yang soft spoken, baik hati,  bener-bener cowok yang hutan rimba, meskipun keluarganya agak berantakan. Jonah is the best! Sebagai ayah, dia berhasil mendidik Yudha untuk jadi cowok yang baik. Walaupun dia juga agak…aneh ya.

Buku ini nggak cuma membahas tentang hubungan Rani-Yudha aja, tapi juga bagaimana komunikasi dan interaksi mereka dengan keluarga masing-masing, bagaimana latar belakang keluarga mereka. Mungkin ada hal yang sedikit mengganggu apabila membahas tentang ayahnya Yudha, tapi so far buku ini oke banget.


From the book…
”Kita akan mengenal satu sama lain sambil belajar jadi orangtua yang baik.” — P. 98

”Kata orang, laki-laki itu menang karena bisa memilih, sedangkan perempuan menang karena mereka bebas menolak. Aku akan ngejaga dan ngerawat kamu baik-baik, Ran, sampai kamu nggak bsia nolak aku lagi. Aku akan bikin hidupmu nggak berarti tanpaku.” — P. 107

”Nggak apa-apa, nggak semua hubungan harus dimulai dengan alasan yang sama.” — P. 109

“Cinta emang harus enteng, kalau berat, jadi beban. Kalau enteng, enak dibawa-bawa.” — P. 151

”Well… apa pun itu, Ran, you’re a big girl. Ini hidup lo, apa pun yang akan lo lakuin setelahnya, yang penting hal paling benar udah lo putusin.” — P. 179

”Kesalahan seorang anak itu tetap adalah salah bapaknya. Kalau kamu bikin salah, berarti cara mendidikku belum benar.” — P. 275

”Apa pun jadinya kalian nanti, asal benar, Bapak nggak akan ngrusuhi karena kalianlah yang akan menjalani dan mempertanggung jawabkan pilihan itu seumur hidup.” — P. 277

”Aku nggak pernah dikasih pilihan lahir dari rahim perempuan mana, Ran. Aku nggak ingat Tuhan nyuruh aku milih, bukan salahku aku punya sepasang orangtua nggak beradab, atau dibesarkan oleh Jonah yang gaya hidupnya nggak akan masuk nalar bapakmu. Seumur hidup, aku mencari orang yang bisa menerimaku apa adanya.” — P. 288

”Jangan pernah apatis sama yang namanya cinta, Rani. Mau orang bilang nggak bisa makan cinta, cinta bukan faktor utama, tapi kayak lagu rock zaman dulu itu, when we’re hungry love will keep us alive. Saat segalanya terlalu sulit untuk dilalui, cintalah yang selalu nyelametin sebuah hubungan.” — P. 313 to 314

”Kalau suatu hari aku jadi orangtua, aku akan berusaha nggak pernah mengucapkannya sekecewa apa pun aku pada anakku, sebab aku tahu betapa sakit hati ini mendengarnya. Akan tetapi, aku juga paham betapa serba salahnya jadi orangtua saat dihadapkan pada pilihan anak yang berbeda keinginannya.” — P. 365

”Nelangsa dibikin sendiri, kalau cinta itu ya berjuang, dong. Jangan ditahan-tahan. Hari gini kok ngalahin cinta.” — P. 367

”Masalahnya justru ada di sana. Kalau kamu cinta, harusnya semua hal ada solusinya, meskipun selalu ada risikonya.” — P. 387

”Seorang wanita nggak dilihat dari kesalahannya pada masa lalu, kamu nggak usah cemas. Menurutku, Rani udah mengambil jalan yang benar dengan mengutamakan keinginan Bapak. Jodoh orang nggak ada yang tahu, tapi bagi orangtua, anak sudah pasti adalah harapan dan masa depannya.” — P. 396

”Biasanya, orang lebih mudah menerima saat hal itu tidak menimpa orang yang ada hubungan dengan mereka. Apa kamu yakin orangtuamu bisa seenteng itu menerima kondisi anakku yang akan kamu jadikan istri?” — P. 409

”Aku ingin sekali kamu jadi mantuku. Bukan perkara gaji dan orangtuamu yang terhormat, tapi kulihat kamu cukup berani dan yakin pada dirimu sendiri. Penting bagi seorang pria memiliki kepercayaan diri sebesar dirimu.” — P. 414

”Kamu tahu? Hanya orang-orang beruntung yang diberi kesempatan menemukan seseorang yang mencintai mereka sebesar Yudha mencintaimu, tapi orang beruntung itu akan merugi jika mereka tak bisa membalasnya.” — P. 418

”Aku menyadari bahwa selama ini aku mengingkari kenyataan bahwa mantanku meninggalkan aku bukan semata-mata karena kekasih barunya punya segalanya lebih dariku, tapi lebih dari itu, karena memang dia lebih mencintainya daripada mencintaiku.” — P. 419

No comments:

Post a Comment