Sunday, March 22, 2026

[REVIEW] Periculo

Periculo
Wiwi Suyanti
Elex Media Komputindo
362 Halaman

“Menurut aku, bagus juga kalau kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tadinya kita benci. Tapi cinta yang sampai menyakiti diri sendiri, itu namanya bukan cinta.” 


B L U R B

Sepanjang hidupnya, Ofelia Dinata hanya menginginkan satu hal; hidup tenang tanpa harus berurusan dengan Marina Oktavia—sang ibu. Sejak kecil Ofelia melatih dirinya bukan hanya untuk menjadi balerina terbaik di mata Marina, tapi juga menjadi putri yang sempurna dan bisa dibanggakan.
Kesempurnaan hidup Ofelia porak-poranda tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-22, ketika sebuah video terkirim dari nomor asing yang menampakkan sosok Alia Sugandi, beberapa saat sebelum Alia melakukan bunuh diri akibat dirundung Ofelia bersama kekasih serta kedua sahabatnya. 
Demi menyelamatkan nama baiknya, Ofelia bersedia melakukan segala cara termasuk menjatuhkan sahabatnya, kekasihnya, hingga menjalin kesepakatan rahasia bersama Aksa—kekasih Alia. Tanpa Ofelia sadari, Aksa memegang lebih banyak lagi rahasia masa lalu yang akan mengubah seluruh hidup Ofelia.

- - - - - - - - -

Bagi Ofelia, kehidupan ini hanyalah untuk menyenangkan Marina, ibunya. Selama dia berprestasi, ibunya akan senang dan membiarkannya melakukan hal lain, meskipun kebebasan itu tidak sebebas yang dibayangkan kebanyakan orang. Jadi, sebisa mungkin, dia tidak hidup bersinggungan dengan orang lain, supaya tidak menimbulkan permasalahan pelik yang akan menyulitkannya di kemudian hari.
“Masih banyak hal lain, bukan cuma itu. Kadang kehidupan justru jauh kebih menyedihkan daripada kematian. Ada manusia yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.” — P. 225
Di ulang tahun ke-22nya, masalah itu datang. Video sebelum kematian Alia, cewek yang belakangan memaksa masuk di circlenya dengan Audrey, Axel, dan Niko. Yang kemudian membawanya pada Aksa—pacar Alia, untuk menyelamatkan nama baiknya dan teman-temannya. Bisakah kali ini Ofelia menawarkan kerja sama yang menguntungkan?


Akhirnya setelah sekian lama Ce Wiwi mengeluarkan buku barunya lagi. Novel ini sama seperti novel lainnya yang beredar dulu di Wattpad dan baru terbit. Karena aku tim baca after cetak, soalnya aku nggak begitu suka jadi pembaca on-going. Memang denger-denger Periculo tuh agak ngeri ya. Tapi bener-bener capek banget sih menurutku.

Di awal membaca, kita sudah diperlihatkan bagaimana ada video kematian Alia Sugandi, cewek yang tiba-tiba aja mau masuk di circle Ofelia, Audrey, Axel dan Niko—para geng tak tersentuh di kampusnya. Agak aneh, karena kebanyakan orang udah males banget deket-deket sama mereka. Dibanding ketiganya, Ofelia ini menurut orang-orang adalah cewek yang dingin tak tersentuh dan lebih menyeramkan daripada yang lain.

Di sini kita diajak menyelami dunia keempatnya dari POV masing-masing. Audrey yang suka nakal, tapi pas kecentok dia agak trauma, padahal latar belakang keluarganya cukup baik. Bahkan ibunya Audrey adalah ibu yang diharapkan Ofelia. Axel yang anak mami dan hidup seenak-enaknya, lebih jalan emosinya ketimbang mikir dulu sebelum bertindak. Niko yang pintar memanfaatkan situasi siapa pun, termasuk Ofelia dan Axel. Ofelia yang bisa berpikir paling waras diantara keempatnya, punya berbagai plan, tapi paling tidak perasa. Baginya yang penting Marina bahagia.

Jujur di sini banyak banget ngebahas masa lalu Ofelia, bagaimana dari kecil dia diperlakukan, bagaimana parenting kedua orangtuanya, apa yang diharapkannya, dan betapa lelahnya dia selama ini. Aku juga kasian banget ngeliat dia ini. Hidup bebas dikit, kena ancam ibunya. Bapaknya juga kayaknya nggak peduli sama Ofelia, dan setelah tau alasan dibaliknya, kayaknya emang orang gila semuanya.

Alur yang dipakai maju mundur untuk menceritakan bagaimana sikap keempatnya terhadap Alia. Yang ternyata menurutku mereka nggak sekejam itu kok sama Alia. Memang Alianya aja yang suka cari perkara. Setting yang digunakan nggak terlalu banyak, karena hanya berkutat di beberapa tempat di Jakarta, Bali, dan di Sekayu, tempat Aksa berada.

Aku nekat menyelesaikan buku ini, tengah malam karena jujur penasaran banget sama akhirnya. Dan berakhir sakit kepala dan menangis. Jujur Ofelia terlalu banyak menanggung beban dan dosa banyak orang sih. Nggak cuma diharapkan orangtuanya, tapi juga teman-temannya. Aku kalo punya temen kayak mereka, pasti mencak-mencak sih.

Dari Periculo aku belajar banyak banget gimana peran orangtua membentuk anak. Anak kecil itu menurutku makhluk yang paling gampang, mereka nggak minta dibeliin barang buagus dan bermerk, mereka cuma minta kita ada di samping dia pas lagi main, atau pengen deket-deket sama kita. Sikap mereka bener-bener gimana kita ngedidik mereka aja. Ngedidik yang baik aja outputnya kadang jelek, apalagi dididik dengan cara yang kadang diluar nalar?



From the book…
“Menjadi nomor satu di mana-mana adalah wajib. Menjadi jelek dengan wajah kusam atau rambut kusut adalah sebuah kejahatan. Menjadi balerina sempurna adalah tujuan hidup.” — P. 13

“Nggak usah takut sama hantu. Manusia lebih mengerikan.” — P. 34

“Jangan pernah anggap remeh orang putus asa. Orang-orang putus asa biasanya yang paling berbahaya.” — P. 43

“Itulah keistimewaan manusia; bisa mencintai dan membenci sesuatu dengan sama kuatnya.” — P. 92

“Ada dua jenis orang putus asa di dunia ini. Orang putus asa yang nekat melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri sendiri. Dan orang putus asa yang ingin menyeret semua orang ikut mati bersamanya.” — P. 96

“Ada satu hal yang selalu ibu gue tanamkan di otak gue; bahwa sebagai manusia, kita harus selalu tahu posisi kita. Itu juga yang harus lo ingat, Al. Bahwa nggak peduli sekeras apa pun usaha lo, lo nggak akan pernah satu level dengan gue. Posisi gue akan selamanya di atas lo. Seekor domba tidak seharusnya membangunkan serigala.” — P. 122-123

“Manusia bisa berbuat jahat secara naluri, nggak perlu diajarin juga bisa.” — P. 189

“Tapi kalau bagi Tante, ada beberapa hal di hidup ini yang berada di luar kendali kita, dan saat itu terjadi…pasrahkan saja, tidak perlu dilawan.” — P. 225

“Masih banyak hal lain, bukan cuma itu. Kadang kehidupan justru jauh kebih menyedihkan daripada kematian. Ada manusia yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.” — P. 225

“Kalau kamu sudah lelah menjadi tangguh…kamu boleh menanggalkan segalanya dan beristirahat sejenak. Sesekali lakukan apa yang benar-benar kamu mau dan bahagiakan diri kamu sendiri, karena kamu tidak akan hidup dua kali. Dan kamu tidak hidup untuk ibu kamu.” — P. 226

“Menurut aku, bagus juga kalau kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tadinya kita benci. Tapi cinta yang sampai menyakiti diri sendiri, itu namanya bukan cinta.” — P. 229

“Aksa janji ya, apa pun yang terjadi, kamu harus kuat, nggak boleh nyerah. Seburuk apa pun hidup yang kita lalui, akan selalu ada akhir yang bahagia menunggu kita. Ibu akan sedih kalau kamu nyerah. Bertahan selalu ya, Aksa. Demi Ibu.” — P. 274

No comments:

Post a Comment