Sunday, April 12, 2026

[REVIEW] Ada Cinta di Suaka Paksi

Ada Cinta di Suaka Paksi
Mutia Ramadhani
Insan Pustaka Berkreasi
304 Halaman

“Relationship itu bukan cuma soal dekat fisik. Komitmen itu… nggak berubah cuma karena jarak.”


B L U R B

Fiora percaya hutan punya cara sendiri untuk berbicara. Ia hanya... kebetulan bisa mendengarnya. Suara mangrove yang kelelahan, protes seekor elang karena tenggerannya dipindah tanpa izin, sampai tanaman kantor yang merasa kurang disapa. Tidak semua orang menganggap itu anugerah. Sebagian memilih menyebutnya aneh. 

Sebagai peneliti muda di Suaka Paksi, Fiora merawat raptor-raptor yang pernah "patah" sayapnya. Burung-burung itu harus belajar percaya lagi pada langit. Di sanalah ia bertemu Gandi, peneliti senior yang percaya bahwa segala sesuatu harus bisa dibuktikan dengan data dan logika. 

Seolah itu belum cukup rumit, masa lalu datang dalam wujud Sangga, CEO muda yang ambisius sekaligus mantan kekasih Fiora yang tidak pernah benar-benar meragukan keunikannya. 

Fiora terseret ke pertarungan lebih besar dari sebuah proyek konservasi. Ia harus memilih, antara logika dan nurani, antara bertahan atau melawan. Di situlah hatinya belajar jujur pada diri sendiri tentang ke mana sesungguhnya ia ingin terbang.

- - - - - - - - - 

Fiora, seorang peneliti baru di Suaka Paksi. Baginya hewan dan tanaman punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Dengan kelebihan vegeto-zoomensinya, dia jadi lebih peka lagi dengan apa yang terjadi di lapangan. Apa yang dibutuhkan hewan dan tanaman di sana, apa yang mereka rasakan. Unik bukan?
“Kamu tahu, banyak orang masuk konservasi karena cinta alam. Tapi cinta saja tidak cukup. Tanpa metode ilmiah dan data, kita cuma jadi aktivis yang bisanya cuma marah-marah doang.” — P. 6
Bersama Gandi, kepala peneliti di Suaka Paksi, Fiora mengerjakan proyek konservasi di sebuah pulau yang berisi tanaman mangrove lengkap dengan pengangkaran elang. Tidak hanya menghadapi tanaman dan hewan, Fiora juga harus meyakinkan Gandi bahwa ‘feeling’nya betul, mengingat Gandi sangat logika sekali.

Membaca Ada Cinta di Suaka Paksi bener-bener berasa masuk ke Bogor! Kak Mutia menjelaskan suasananya cukup detail, mulai dari bagaimana lingkungan di Suaka Paksi, kegiatan yang dilakukan, bahkan penangkaran satwanya juga cukup mendetail. Fokus hewan kali ini lebih banyak di penangkaran elang dan orangutan. Pas penangkaran orangutan sangatsangatsangat menarik! Aku ikutan tegang pas baca.

Kelebihan yang dimiliki Fiora awalnya kurasa cukup aneh. Karena kebanyakan kan kelebihan itu kayak indigo atau semacamnya. Ini mendengarkan suara tanaman dan hewan. Unik, dan cukup bikin penasaran alasannya kenapa. Di bagian belakang, aku mendapatkan jawabannya.

Karakter Fiora di sini cukup bikin kesel kadang, dia yang keras kepala, dan berusaha memendam apa yang dia pikir sendiri itu bikin gemes. Kadang pengen rasanya bilang ke Fiora, kalau dia bisa loh bilang nggak mampu. Bisa banget bilang kalau butuh bantuan. Bukannya mendem sendiri aja.

Karakter kesukaanku di sini adalah… Sangga! Agak aneh memang, aku malah suka sama mantannya Fiora. Tapi memang kepribadian dia di sini baikkk banget. Walaupun dia suka sama Fiora, masih berharap bisa bareng, apalagi mengingat dia masih ada project bareng, bukannya lebih mudah ya? Tapi Sangga malah menyampaikan dengan tenang ke Fiora tentang perasaannya dan masih mau bersikap secara profesional. Mantep banget Sangga.

Overall, aku suka banget sama novelnya! Ringan dan menyenangkan. Interaksi Gandi-Fiora juga gemes banget. Kayak anak ABG baru pacaran. Yang aku salut, Gandi tuh nggak begitu banyak menuntut, dan mau memberi Fiora penjelasan yang dibutuhkan. Mau mengusahakan yang terbaik untuk mereka berdua.


From the book…
“Kamu tahu, banyak orang masuk konservasi karena cinta alam. Tapi cinta saja tidak cukup. Tanpa metode ilmiah dan data, kita cuma jadi aktivis yang bisanya cuma marah-marah doang.” — P. 6

“Kadang masa lalu datang bukan buat ditinggalin lagi, tapi buat dilihat… terus dilepas.” — P. 42

“Hidup itu risiko. Dan aku pengen belajar menghadapinya. Pelan-pelan.” — P. 108

“Kamu punya sesuatu yang spesial, Fiora. Cara kamu ngerasain dunia… itu nggak semua orang punya. Jangan anggap kecil itu.” — P. 109

“Relationship itu bukan cuma soal dekat fisik. Komitmen itu… nggak berubah cuma karena jarak.” — P. 244

“Jarak itu memang bikin perspektif pasangan bisa berubah. Orangnya mungkin nggak berubah. Tapi kalian nggak ada di ruang yang sama untuk melihat langsung.” — P. 258

No comments:

Post a Comment