Sunday, April 19, 2026

[REVIEW] Hidden Love #1

Hidden Love #1
Zhu Yi
Shira Media
380 Halaman

“Pada usia saat hatinya baru mengenal cinta, dia diam-diam menemukan sebuah harta karun. Sayangnya, dia tidak berhasil menjadi pemilik harta itu.”


B L U R B

Setiap orang pernah menyimpan rahasia kecil di hatinya. Bagi Sang Zhi rahasia itu hadir dalam bentuk perasaan hangat yang tak mudah dijelaskan. Seiring waktu, dia belajar bahwa perasaan bisa tumbuh diam-diam, tanpa suara, hingga suatu hari menuntut untuk dikenali.

Hidden Love adalah kisah tentang bagaimana cinta bisa bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk menemukan jalan keluar. Sebuah cerita yang lembut, manis, sekaligus penuh kejutan yang akan membuat kita bertanya kapan rahasia itu akhirnya terungkap?

- - - - - - - - -

Kehidupan Sang Zhi kecil bisa dibilang biasa saja. Suka mengisengi dan diisengin Sang Yan—kakaknya, dan kadang di sekolah melakukan hal yang membuatnya mendapat surat pemberitahuan untuk kedua orangtuanya.
"Cinta yang dirahasiakan mungkin adalah hal yang paling manis sekaligus paling menyakitkan di dunia ini.” — P. 239
Kali ini, surat itu datang lagi tapi Sang Zhi bingung, siapa yang harus dia ajak untuk menggantikan orangtuanya. Sang Zhi mengharapkan Sang Yan yang akan datang, sayangnya Sang Yan tidak berencana pulang kali ini.

Ternyata sesampainya di rumah, ada Sang Yan dan Duan Jiaxu, teman kakaknya. Harapannya kali ini terletak pada Duan Jiaxu. Satu-satunya yang bisa membantunya.

Ah! Akhirnya berkesempatan membaca kisah Sang Zhi-Duan Jiaxu versi buku. Dari sejak ada pemberitahuan dari Shira Media yang akan menerjemahkan bukunya.

Ketika membaca versi novel, tentu aku terbayang lagi Zhao Lusi-Chen Zhenyuan sebagai pemeran di dramanya. Tapi nyambung aja gitu.

Buatku, antara novel dan dramanya tentu ada perbedaan. Yang jelas paling kentara adalah umur! Di novel perbedannya 7 tahun, kalo versi drama cuma 5 tahun. Dan ternyata Duan Jiaxu juga sesekali merokok. Kalau versi dramanya tentu nggak diperlihatkan. Mungkin karena sasarannya anak muda ya, jadi nggak begitu dipertontonkan. Sejauh yang aku tau, pemerintah China juga sebisa mungkin meminimalisir efek negatif dari drama-drama gini. 

Di buku pertama ini kita diajak memahami Sang Zhi mulai dari sisi saat dia SD, sampai dia SMP di mana Duan Jiaxu juga sempet mentorin dia pelajaran fisika saking stresnya mamanya mencari guru yang cocok buat Sang Zhi.

Jatuh cinta diam-diam memang nggak enak. Mau dipendem kok kita yang malu, iya kalo berbalas, kalau enggak? Tapi kalo disampein, nanti hubungan jadi berantakan gimana? Di novel ini bener-bener kompleks banget, bagaimana Sang Zhi berusaha mengenali perasaannya ke Jiaxu, gimana akhirnya Sang Zhi paham kalau ini adalah cinta, gimana galaunya dia sampe nyusul ke Yihe demi Jiaxu.

Buatku, interaksi Sang Zhi-Sang Yan bener-bener menyenangkan untuk dibaca. Meskipun berasa nonton Tom N Jerry, tapi keliatan banget mereka saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Paling suka cara Sang Yan menghadapi Sang Zhi sepulang dari Yihe. Biasanya orang akan sibuka berkomentar, kenapa begini, kenapa begitu, atau malah ngomel-ngomelin karena nekat pergi ke Yihe sendiri. Tapi yang dilakuin Sang Yan malah cuma diem aja, biarin Sang Zhi nangis sampe puas sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah. Cukup membekas buatku.

Kalau dibandingkan dengan dramanya, menurutku ini lebih kompleks sih. Karena perjalanan Sang Zhi dari SD sampai SMP benar-benar dijelaskan cukup detail. Buatku, versi novel ini benar-benar melengkapi versi dramanya. Ekspresiku saat membaca, nggak beda jauh sama pas nonton dramanya. Senyum-senyum terus! Bener-bener menyenangkan banget Sang Zhi-Jiaxu ini. Karena masih di buku pertama, maka sekian dulu reviewnya. Aku mau menikmati Sang Zhi-Duan Jiaxu di buku kedua dulu! Sampai bertemu di postingan selanjutnya! 


From the book…
“Cinta yang dirahasiakan mungkin adalah hal yang paling manis sekaligus paling menyakitkan di dunia ini.” — P. 239

“Pada usia saat hatinya baru mengenal cinta, dia diam-diam menemukan sebuah harta karun. Sayangnya, dia tidak berhasil menjadi pemilik harta itu.” — P. 240

“Mungkin aku memang nggak pantas hidup bahagia. Tapi Xiao Sang Zhi harus hidup bahagia.” — P. 331

“Soalnya aku merasa itu nggak mungkin. Lagian, aku juga sadar satu hal. Karena aku suka sama dia, hal-hal yang buat dia mungkin cuma biasa, di mataku bisa terbaca beda.” — P. 391

No comments:

Post a Comment