When Everything Feels Like K-DramaCandra AdityaKepustakaan Populer Gramedia356 Halaman
“Dari dulu lo itu tahu apa yang lo mau, La. Itu sebabnya lo nggak stuck dalam sebuah hubungan yang enggak bikin lo bahagia.”
B L U R B
Stella adalah seorang single mother yang mengisi hari-harinya dengan mengurusi anak semata wayang dan bisnis bakery. Kehidupan percintaannya nol besar, tapi Stella cukup terhibur dengan kehadiran oppa-oppa tampan di drama Korea yang ia saksikan tiap akhir pekan.
Agung adalah masa lalu Stella yang muncul kembali ke dalam hidupnya. Lelaki yang tidak pernah gagal membuat hatinya kembang kempis itu pernah tiba-tiba hilang dan kini juga tahu-tahu datang. Celakanya, keberadaan Agung mengingatkan Stella akan perasaan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
Kemudian ada Daniel, seorang dokter sekaligus duda tampan dambaan setiap perempuan. Hidup Daniel nyaris sempurna, kini ia hanya membutuhkan sosok pengganti mendiang istrinya. Dan ia mengincar Stella untuk mengisi singgasana hatinya.
Hari-hari Stella yang tadinya biasa-biasa saja seketika berubah. Kisah asmaranya yang tadinya muram menjadi penuh warna. Dalam sekejap, hidupnya serasa drama Korea.
- - - - - - - - -
Kehidupan Stella bisa dibilang baik-baik saja. Memiliki sahabat sekaligus sepupu yang selalu ada untuknya, dan juga Banyu—anaknya bersama Fadil, mantan suaminya. Tidak ada yang perlu dipusingkan kecuali gunjingan dari Tante dan juga Ibunya terkait statusnya yang menjanda, sampai Banyu menanyakan hal yang membuatnya menarik ingatan ke beberapa tahun lalu, saat dirinya masih kuliah.
"Enggak semua yang lo kira bagus akan beneran bagus juga. Kayak, lo cuma bisa punya plan. Lo boleh berharap yang terbaik, tapi jadinya gimana, kita enggak pernah tahu.” — P. 68 to 69
Masa kuliah Stella bisa dibilang cukup menyenangkan, apalagi berteman Agung, Stella hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Menggilai Sheila On Seven, bercerita panjang lebar tentang hal yang tak terlalu penting, bahkan mengajak serta Agung untuk menonton Full House.
Sayangnya, Agung mendadak hilang bagai ditelan bumi, tidak ada jejak. Semua orang yang mengenal Agung juga heran ke mana Agung. Tapi gimana kalau Stella punya kesempatan bertemu dengan Agung? Apakah dia bakalan kembali menjadi Stella saat masa kuliah, atau jadi canggung?
Siapa yang kalau baca buku tertarik karena cover bukunya? Aku! Jujur awal milih ini dari rak digital tuh karena gemes aja.
Pas awal baca When Everything Feels Like K-Drama ini, aku jadi ikuta mempertanyakan pertanyaan Banyu juga, emang apa sih artinya cinta? Dan karena aku juga sudah menikah, perspektif cinta menurutku juga jadi lain. Nggak kayak waktu dulu pertama kali yang bakalan ngejelasin panjang lebar kayak gimana bentuk cinta itu. Tapi lebih ke… ada dia, udah cukup aja gitu, mau ngelakuin hal-hal dan momen-momen terbaiknya ya sama dia.
Berawal dari pertanyaan Banyu dan juga memori yang dimiliki Stella, kita diajak untuk menyelami apa arti cinta versi Stella, dan bagaimana kehidupannya sekarang. Menikah dan memiliki anak, udah pas kan? Sesuai dengan harapan masyarakat. Tapi sayangnya, pernikahan Stella kandas, dia bercerai dari suaminya yang merupakan pacar sejak jaman kuliahnya. Cukup mengherankan.
Kedatangan Agung kembali ke kehidupannya, ini cukup membingungkan buat Stella. Apalagi Agung dulu mendadak hilang seperti ditelan angin. Padahal, selain Ratna—sepupunya, Agung adalah satu-satunya orang yang cukup dekat dengannya, jadi pas dia ngilang, kerasa banget perbedaannya.
Trope cinta lama belum kelar di sini dibuat cukup menarik. Kalau biasanya akan bertemu dengan cinta pertama setelah beberapa tahun dengan kondisi keduanya belum punya pasangan, atau salah satunya bermasalah, kali ini bertahun-tahun kemudian. Beneran dalam jangka waktu yang cukup lama. Keduanya bahkan nggak muda lagi.
Meskipun begitu, aku tetep suka sih sama novel ini. Nggak cuma menceritakan tentang love storynya aja, tapi juga banyak sekali membahas kehidupan after married, lengkap dengan segala pertanyaan dari keluarga besar yang cukup annoying, termasuk dengan pelaku pertanyaan annoying itu juga.
Tokoh favoritku Agung! Agung di sini nggak digambarkan yang charming gimana gitu. Dia ya cowok biasa pada umumnya. Fisiknya standar, nggak ganteng banget, nggak yang jelek juga. Tipe goodboy yang bakalan kamu nikahin lah. Cara Agung melihat dunia itu yang menurutku… wow! Dia kayaknya udah satu level di atas anak seumurannya. Bahkan Stella aja kadang masih suka menggebu-gebu, tapi Agung berhasil untuk ngerem Stella. Jadi menurutku, mereka berdua ya cocok aja gitu. Heran kenapa nggak dari dulu bersama aja.
Aku sangatsangatsangatsangat merekomendasikan When Everything Feels Like K-Drama untuk dibaca. Bacaannya ringan, setiap halamannya nagih banget. Ibarat drama, mungkin ini tuh Hospital Playlist kali ya. Slice of life gitu. Masalah yang diangkat juga kita temui sehari-hari. Sayangnya, nggak semua orang seberuntung Stella.
From the book…
“Ya karena bukan punya gue. Karena gue diajarin untuk enggak ngambil yang bukan hak gue. Bukannya itu pelajaran dasar budi pekerti?” — P. 8”Dengar gue, Stel, udah waktunya lo memprioritaskan diri sendiri. Lo pikir anak kecil enggak peka? Mereka sadar, kali, orangtua mereka enggak akur. Kalo lo maksain diri sama Fadil, lo malah bikin Banyu enggak nyaman. Yang penting, lo bisa urus Banyu dengan baik, kasih yang perlu lo kasih, udah beres. Banyu pasti akan ngerti, kok, kenapa lo pisah sama bapaknya. Apa gunanya lo pertahanin pernikahan kalau lo enggak bahagia?” — P. 27”Jangan pernah kamu malu sama kesenangan kamu selama kamu enggak mengganggu orang lain. Kamu juga jangan berhenti nulis walaupun ada yang menganggap tulisan kamu enggak penting.” — P. 44 to 45”Enggak semua yang lo kira bagus akan beneran bagus juga. Kayak, lo cuma bisa punya plan. Lo boleh berharap yang terbaik, tapi jadinya gimana, kita enggak pernah tahu.” — P. 68 to 69”Ternyata gue menemukan bahwa bagian paling sedih ketika lo sendirian adalah ketika lo lagi bahagia. Gue udah biasa sedih sendirian. Semuanya gue telan sendiri. Dan dari kecil, situasi mengajarkan gue untuk enggak nge-share masalah gue ke orang lain. Gue enggak mau membebani orang. Kemudian, ketika akhirnya bisa hidup tanpa bantuan siapa-siapa, gue sadar bahwa ternyata gue enggak punya siapa-siapa untuk berbagi kebahagiaan gue.” — P. 140”Hidup itu enggak selamanya soal kompetisi, Na. Fadil juga, kan, udah punya istri baru. Ngapain coba pakai cemburu sama Daniel…yang belum ada apa-apa sama gue! Gue sama dia cuma teman!” — P. 193”Dari dulu lo itu tahu apa yang lo mau, La. Itu sebabnya lo nggak stuck dalam sebuah hubungan yang enggak bikin lo bahagia.” — P. 242”Memberi sesuatu itu hak orang lain. Kalau enggak dikasih, berarti memang bukan rezeki kamu.” — P. 251”To be honest, gue enggak peduli sama love story mereka meskipun itu jadi main course-nya. Tapi di saat yang sama, gue paham kenapa dia jadi lebih milik Taek daripada Jun-hwan. Susah juga menjalin hubungan sama orang yang enggak pernah nyatain apa-apa” — P. 275”Seorang anak enggak pernah meminta untuk dilahirkan. Dia hadir karena konsekuensi hubungan bapak sama ibunya. Enggak adil kalau Mama serta-merta mengharapkan hormat dari anak Mama kalau Mama sendiri enggak pernah menghargai anak Mama.” — P. 323”What comes around goes around, Fan. Ini berlaku ke semua hal. Kalau lo enggak mau digituin sama anak lo, ya lo jadi orangtua jangan gitu juga. Just because lo orangtua, enggak serta-merta lo akan otomatis dipuja-puja. Respect is earned, bukan turun dari langit.” — P. 328”Kadang kita memang butuh teriak supaya bisa didengar.” — P. 334”Kita hanya bisa berniat baik. Niat baik kita diterima atau enggak, itu udah di luar kontrol kita.” — P. 336
No comments:
Post a Comment