Perkumpulan Anak Luar NikahGrace TiosoNoura Publishing380 Halaman
“Orang pikir enggak ada lukandan ketakutan dalam cinta. Sometimes, people expect us, you and me, the Chinese, to love Indonesia unconditionally despite everything that has happened in the past. We need to prove again and again that we are loyal Indonesian citizens. And, sometimes, it doesn’t even seems enough.”
B L U R B
Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient
Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.
Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?
Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”
I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!
- - - - - - - - -
Martha, seorang ibu rumah tangga yang hidup di Singapore. Bagi Martha, kehidupannya saat ini sudah baik-baik saja, Singapore cukup menawarkan kenyamanan untuk dia dan suaminya, Ronny yang berprofesi sebagai dosen di kampus mereka dulu.
“Banyak generasi tua yang memilih hidup di bawah radar dan menolak masuk koran. Para generasi tua lebih nyaman hidup di bawah bayang-bayang, tak ingin mencolok apalagi menjadi viral.” — P. 64
Yang tidak banyak orang tau, Martha juga memiliki kegiatan lain di malam hari seusai mengurus kedua anaknya, mengumpulkan data-data kandidat calon-calon pilkada. Bersinggungan dengan politik Indonesia. Sudah berulang kali Martha diingatkan sahabat dan suaminya, supaya jangan menyentuh ranah sensitif, tapi bagi Martha tak apa. Toh tidak ada yang tau. Sampai sebuah surat pink hadir di kotak suratnya. Bisakah kali ini Martha berhenti?
Perkumpulan Anak Luar Nikah sempat ramai dua tahun lalu, kalau aku nggak salah ingat. Banyak orang membahasnya, apalagi pas mau pemilu. Mengingat pemerintah kita yang pernah bersinggungan dengan etnis Tionghoa, pastilah kita semua paham arahnya ke mana.
Bagi Martha, hidup di Singapore, kita harus taat. Peraturan yang ada ya harus dipatuhi, ada denda yang benar-benar dijalankan bila melanggar, tidak pandang bulu. Setiap tanda denda sudah terpasang jelas di jalanan, di dalam transportasi umum. Di sisi lain, Martha sebenernya juga kadang takut kalau ketauan dia adalah salah satu pemilik akun yang suka ngebahas politik, mengingat Singapore nggak jauh-jauh amat dari Indonesia, dan orang Indo sering ke Singapore juga. Awalnya aku juga heran, kalau memang dia masih nggak begitu berani, kenapa dia malah nyemplung untuk ngposting hal-hal berbau politik.
Nggak hanya membahas tentang kehidupan Martha saat ini, tapi juga kehidupan Martha sebelum ke Singapore bersama ketiga sahabatnya sejak semasa sekolah. Bagaimana kacaunya pada tahun 1998, dimana keturunan Tionghoa diburu dan dilecehkan, bagaimana mereka harus bersembunyi dan berjuang agar tetap bersama dengan keluarga mereka masing-masing.
Membaca buku ini bikin aku jadi teringat cerita-cerita dari orangtua ketika masa itu terjadi. Nggak cuma itu, tapi ada juga alasan kenapa Martha memalsukan dokumen legalnya untuk pendaftaran masuk kampus. Alasan yang cukup bikin nyesek. Emang dari dulu pemerintah tuh udah anomali banget ya.
Kisah Martha kukira bakalan dipermudah karena alasan politik pemerintah kala itu, tapi ternyata enggak. Dia tetap harus menjalani serangkaian persidangan, tapi mungkin dari kejadian ini, hubungannya dengan Ronny membaik. Kukira Ronny bakalan lepas tangan, ternyata dia full support! Meskipun di awal sempat keteteran. Semua sahabatnya juga turun tangan membantu sebisanya. Buku yang bener-bener menampar banget sih.
From the book…
“Makanya, kita, orang Chinese, enggak usah macam-macam. Orang seperti kita, yang penting baik sama tetangga, enggak bikin masalah. Enggak usah ikut-ikut politik. Nanti banyak musuh. Kita dagang, buka toko, yang pasti-pasti saja.” — P. 21“Orang-orang yang katanya punya hati bagi wong cilik, tetapi begitu menerima tunjangan, entah hati mereka lari ke mana.” — P. 47“Orang korupsi bukan karena bodoh, tapi karena ndak puas. Padahal keluarganya sugiiih, kuayaaa, restoran’e buanyak.” — P. 48“Banyak generasi tua yang memilih hidup di bawah radar dan menolak masuk koran. Para generasi tua lebih nyaman hidup di bawah bayang-bayang, tak ingin mencolok apalagi menjadi viral.” — P. 64“Satu hal penting yang Krisna pelajari sebagai jurnalis: semua orang paling suka bicara mengenai diri sendiri.” — P. 87“Orang enggak percaya fakta. Mereka bakal percaya apa yang mereka mau percaya, Riv.” — P. 96“Martha sadar yang sulit bukanlah berbuat benar. Yang sulit adalah menolak godaan untuk korupsi.” — P. 113“Terkadang, penyebab kemarahan terkubur di balik tindakan yang dilihat mata.” — P. 155“Hati-hati dengan keinginan. Keinginan bisa menelan kita bulat-bulat.” — P. 156“Orang pikir enggak ada lukandan ketakutan dalam cinta. Sometimes, people expect us, you and me, the Chinese, to love Indonesia unconditionally despite everything that has happened in the past. We need to prove again and again that we are loyal Indonesian citizens. And, sometimes, it doesn’t even seems enough.” — P. 204“Lo tahu, Ta, kesialan lo yang utama bukan karena rumah lo kebakaran, tapi karena lo jadi Cina yang lahir di Indo! Coba kalau lo lahir di negara lain, kalau nama yang tertulis di akta itu beneran nama bokap lo, emangnya lo perlu malsuin dokumen? Kagak!” — P. 237“Jangan tanya apa yang negara bisa kasih ke kamu. Tanya apa yang diambil negara dari kamu.” — P. 265“Kalau perempuan yang memilih bekerja dibilang tetap bisa menjadi ibu sejati, kenapa perempuan yang memilih untuk tinggal di rumah dianggap pemalas dan enggak produktif? Kalau working mom enggak dipertanyakan rasa sayangnya terhadap anak-anak mereka, kenapa ibu rumah tangga perlu dipertanyakan kepintarannya?” — P. 331“Enggak ada gunanya kita berusaha menarik orang untuk maju kalau orangnya sendiri enggak ada usaha untuk maju. Ini fakta. Masyarakat kita sukanya yang superfisial, yang viral tapi enggak ada substansinya. Maunya disuapin informasi, bukannya mikir sendiri.” — P. 349“Cinta butuh dua arah. Hubungan butuh dua arah. Kalau aku mati-matian nyona bawa Indonesia ke arah yang lebih baik, tapi orang-orang di sana cuma pengin berkubang di situ-situ aja, mana bisa?” — P. 350“Kadang, kita bertahan tidak dengan melawan. Pohon besar melawan angin, eh akhirnya tumbang. Bambu bertahan dengan meliukkan diri, seolah terbawa angin, padahal sebenarnya tidak. Orang pasti bilang, kok mau-maunya ikut arus, tidak punya pendirian? Tapi, si bambu tetap nancap ke tanah, toh?” — P. 370“Ta, Papa cuma mau Tata inget, hidup memang sering tidak adil. Tapi, bukan berarti semua dalam hidup itu jelek.” — P. 371“Tata jangan jadi manusia yang getir, ya. Hidup, meski berat, tetap punya hal-hal yang bisa dinikmati. Sekecil apa pun. Hidup itu ada masanya. Masa buat lahir, masa buat pergi. Kalau masanya sudah tiba, Tata harus ikhlas, ya.” — P. 371“Life is not fair. But it doesn’t mean life is not good. One day, we can taste the goodness of life again. Definitely not today. But maybe next years or ten years from now, life can be taste good again.” — P. 392
No comments:
Post a Comment