Jakarta Sebelum PagiZiggy ZezsyazeoviennazabrizkieGrasindo264 Halaman
“Good thing about relationship is, you’re never doing it alone.”
B L U R B
“Jam tiga dini hari, sweater, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.”
Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya.
Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta.
- - - - - - - - -
Bagi Emina, mencari stalker yang tiba-tiba meletakkan bunga dan balon di balkon apartemennya akan menjadi petualangan yang seru. Tapi kira-kira siapa pelakunya? Apa iya, Emina yang biasa saja ini punya penggemar? Tapi kenapa harus di balkon dengan spesifik bunga yang menggambarkan namanya? Banyak sekali pertanyaan di kepalanya.
“Seriously. Lo lahir dan besar di sini, kan? Jakarta is a weird place, and it gets creepier by the day. Em, let me say it untuk ketujuh-juta-kalinya: lo nggak punya kualitas paling penting sebagai orang Jakarta. Lo terlalu bahagia. Local people shouldn’t be. Waspada sedikit, dong. Ada stalker di apartemen, ini reaksi locals: paranoid, panggil polisi.” – P. 14
Emina memulai dari lingkungan Para Jompo alias tempat kakek-neneknya tinggal, karena di sana ada Pak Meneer, tetangga Jomponya yang lumayan mengerti tentang hal ini. Tidak mendapatkan jawaban, ketika Emina kembali ke apartemennya, dia menemukan ada toko teh sekaligus toko bunga di dekat lobby.
Apakah toko bunga ini adalah jawaban untuk semua pertanyaannya? Atau sebaiknya dia mengikuti arahan Nissa–teman semejanya untuk melaporkan ke polisi saja?
Buku Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie kedua yang berhasil kubaca sampai habis! Soalnya seru banget ini cerita tentang Emina.
Ini tentang Emina yang sedang tergila-gila menyebutkan babi dan kastanya kepada semua orang yang dilihat atau dikenalnya setelah membaca Animal Farm. Nissa sendiri kebagian menjadi yan-pi alias kulit dimsum. Ini karena Nissa harus berdesak-desakkan di kereta saat berangkat ke kantor, yang mirip dengan pembuatan kulit dimsum. Jadilah Emina menyebutnya sebagai Yan-pi.
Gimana sih respon pertama kita pas tau kalau ada bunga di balkon apartemen kita? Ini bukan di bagian depan pintu apartemen ya, tapi di balkon. Gimana caranya, dan siapa coba? Masa iya pas ngirim kudu pake gondola dulu? Respon orang normal pasti langsung lapor polisi ya, kalo Emina si asbun plenger ini, dia malah mau cari tau siapa orangnya.
Berawal dari sinilah, Emina mencari tau kira-kira siapa pelakunya. Karena bunganya bukan bunga yang umum apalagi bunga bangkai. Ini bunganya spesifik yang memang berarti namanya. Aneh, tapi Emina nggak kepikir siapa orangnya, sampai dia menemukan toko bunga yang juga menjual teh di dalamnya, di lobby apartemennya. Aneh. Siapa orang yang jual bunga di lobby apartemen? Dari sinilah, Emina mendapatkan sedikit clue-clue untuk menemukan orang yang mengirimkan bunga dan balon.
Pas baca awalnya kupikir buku ini menyimpan sebuah cerita horor. Mengingat penulisnya adalah Ziggy Z, boleh dong aku curigaaa… Tapi kalo boleh jujur, aku juga sempat membaca White Wedding, tapi nggak masuk di kepalaku. Untung banget dapet Jakarta Sebelum Pagi di Ipusnas dan bisa gas baca, walaupun masa peminjaman 7 hari. Tercepot-cepot banget.
Seru. Baca kisah Emina-Abel-Suki-Para Jompoers dan kumpulan babi lainnya ini seru banget. Setiap orang menyimpan kisahnya masing-masing. Emina yang sudah yatim piatu, Jompoers yang yaaahh… tau sendiri gimana kakek-nenek yang kadang punya tingkah aneh-aneh. Suki si anak kecil yang terlalu dewasa, Abel yang punya phobia aneh.
Nggak hanya menjadi detektif, kita juga diajak keliling Jakarta di malam hari sesuai dengan surat yang ditemukan Abel. Jakarta di malam hari rasanya syahdu banget. Kayak… melihat sisi lain Jakarta yang padat, dan terlalu banyak babi. Apalagi cerita di surat yang dibawa Abel menceritakan Jakarta pada kala itu, yang mungkin bertahun-tahun lalu, dari jaman presiden pertama mungkin ya? Walaupun ini udah terbit lamaaa banget, entah kenapa kayak masih terasa relate dengan jaman sekarang. Nggak ketinggalan jaman.
Aku suka banget sama karakter Suki dan Emina. Suki yang terlalu dewasa ketimbang umurnya, padahal dibalik itu dia menyimpan perasaan yang nggak bisa dijelaskan, karena dia sendiri juga bingung mau gimana jelasinnya. Tapi dia passionate banget tentang hal yang disukainya—teh. Aku banyak banget belajar perkara minum teh di sini. Sementara Emina, asbun plenger yang bener-bener menjalankan prinsip menjadi diri sendiri. Yang ternyata dia juga kepengen kayak Suki yang tau apa yang diinginkannya.
From the book…
“Seriously. Lo lahir dan besar di sini, kan? Jakarta is a weird place, and it gets creepier by the day. Em, let me say it untuk ketujuh-juta-kalinya: lo nggak punya kualitas paling penting sebagai orang Jakarta. Lo terlalu bahagia. Local people shouldn’t be. Waspada sedikit, dong. Ada stalker di apartemen, ini reaksi locals: paranoid, panggil polisi.” – P. 14“Penampilan, bagi orang dewasa, itu seperti baju untuk manusia transparan—membuat orang sadar kalau mereka ada. Karena biasanya, di dunia orang dewasa, orang-orang nggak punya cukup perhatian untuk menunggu kamu bicara dan bilang kalau kamu ada.” – P. 47“Nggak bercanda, di luar sana itu susah. Nilai yang bagus, gelar—itu semua nggak cukup. Kamu harus punya sesuatu yang membuat orang melirik, dan mengingat kamu. Dan, rambut jambon babi ini salah satu upaya untuk itu.” – P. 47“Jangan membandingkan kematian orangtua saya dengan kamu. Kesedihan nggak bisa dibandingkan.” – P. 88“Semua orang takut miskin dan takut dipandang rendah. Tapi, kurasa, melihat Suki yang menekuni teh dengan begitu semangat, kurasa aku lebih takut jadi orang yang nggak tahu apa yang kusukai. Lebih takut jadi bagian dari orang-orang yang bahkan nggak memikirkan apa yang membuat merekabahagia.” – P. 124“Tapi yang lebih menakutkan dari pada apa pun yang kita takutkan adalah kalau kita terus-terusan merasa takut.” – P. 135 to 136“Orang kan punya cara menghadapi kesedihannya masing-masing. Siapa tahu, membahas ini lagi akan membuat kakek kamu sedih, padahal selama ini dia sudah baik-baik saja. Karena itu, kan, kamu nggak jadi menanyakan ini ke dia?” – P. 148 to 149“Kadang-kadang, memang ada aja orang yang baru kita temui dan langsung nyambung, kan? It’s like, datang ke kafe baru. Duduk, buka laptop, dan ternyata langsung tersambung ke internet. In this case, gue laptopnya, dia internetnya, dan di antara kami, ada WiFi superkencang.” – P. 151“Semua orang mengalami tragedi dalam hidupnya. Nggak semuanya besar menurut orang, tapi semuanya besar bagi yang mengalami. Di mata orang, kematian orang karena usia lanjut itu biasa saja; tapi bagi Nin, kehilangan suami itu nggak. Di mata orang, nggak menikah dengan orang yang dia sayangi itu umum, tapi bagi Pak Meneer, itu menyakitkan. Everyone’s damaged in their own way.” – P. 152“Good thing about relationship is, you’re never doing it alone.” – P. 175“Ketika seorang lelaki tidak dikenal memegang tanganmu dan mengajakmu berlari, berlarilah dan jangan pernah lepaskan dia. Cara bertemu yang luar biasa menunjukkan kesempatan untuk mengalami sesuatu yang luar biasa.” – P. 178“Emina, kamu bukan takut karena tidak tahu apa-apa soal dia; kamu takut kehilangan. Semua orang merasa takut kehilangan ketika mereka ada di ambang hubungan baru. Mereka takut kehilangan hubungan yang sudah ada, kesempatan untuk membina hubungan yang lain ....” – P. 178 to 179“Nggak. Menurutku, anak-anak harus dididik untuk belajar mengambil keputusan danmenanggung hasilnya. Tapi, kamu bukan anak biasa. Kamu sudah terbiasa menghadapi keputusan sulit.” – P. 201“Mungkin ini bukan waktunya lagi kamu belajar mengambil keputusan, tapi untuk membedakan jeniskeputusan mana yang harus diambil berdasarkan kebutuhan orang, dan mana yang harus diambil berdasarkan kebutuhan kamu.” – P. 201“Saya rasa, ini yang dimaksud pepatah itu: Kehidupan, cinta, dan kematian ada di satu teko teh. Kamu nggak bisa menghentikan percampurannya. Jangan merasa kasihan pada orang yang meminumnya.” – P. 207 to 208“Mungkin cara hidup manusia tidak tergantung pada waktu. Mungkin yang memengaruhi cara hidup mereka adalah diri mereka sendiri.” – P. 213

No comments:
Post a Comment