Showing posts with label Grasindo. Show all posts
Showing posts with label Grasindo. Show all posts
Sunday, September 20, 2026
Monday, July 17, 2023
[REVIEW] A Copy of My Mind
A Copy of Mind
Dewi Kharisma Michellia
Grasindo
199 Halaman
"Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir."
"Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir."
B L U R B
Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.
Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.
Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.
Sari dan Alek terlambat menyadari bahwa bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD milik Bu Mirna.
- - - - - - - - -
Bagi Sari, kehidupannya ini terasa monoton. Bangun pagi, membaur dengan hiruk pikuk para pekerja di jalanan dan juga metromini, dan kemudian menghabiskan harinya di sebuah salon kecantikan yang tidak terlalu terkenal. Hiburannya hanya DVD bajakan. Menonton baginya adalah rutinitas sepulang kerja. Ada film baru, ya dia menonton film baru, kalau nggak ada ya cukup dengan memutar film lamanya yang bahkan dia sudah hafal dengan dialognya.
"Kita diminta mengumpulkan banyak-banyak pengalaman hidup, untuk jadi prasyarat bertemu dengan orang-orang yang paling penting di hidup kita." P. 115
Pertemuan pertamanya dengan Alek tidak disengaja. Awalnya, Sari mau komplain terkait DVD bajakan yang teksnya nggak sesuai, tapi ternyata malah membuat Alek mengajak Sari pergi ke indekosnya. Di mana Sari bebas memilih mau menonton apa pun yang dia mau.
Bagi Sari, hal ini sangat menyenangkan. Kapan lagi dia bisa menemui tempat di mana hiburannya berasal. Tapi sayangnya, karena Sari dan rasa keingintahuannya yang besar, dia memilih untuk mengambil kaset DVD yang ada di ruangan Bu Mirna, salah satu pelanggannya yang berada di rutan.
Kini hidupnya dan Alek dalam ancaman karena DVD dari rutan Bu Mirna.
Nonton memang punya daya tarik tersendiri. Karena nonton itu menurutku sesuatu hal yang santai banget. Kita nggak perlu mikir gimana sih visual orangnya, tempatnya, suasananya, cuma perlu menikmati alurnya, sinematiknya. Jadi, nggak salah, kalau Sari sangat menyukai nonton sebagai hiburannya.
Mengambil latar Jakarta kisaran tahun 2000an awal kali ya, karena DVD bajakan amat sangat ramai di masa itu. Aku suka dengan cara penulisnya menggambarkan suasananya. Gimana kondisi Sari, kondisi Alek dan kehidupannya, latar belakangnya juga.
Kehidupan yang digambarkan beneran menarik. Bagaimana Sari berjuang untuk hidup dan menikmati hidupnya. Sayangnya, karakter Sari ini menurutku terlalu terburu-buru. Entah kenapa, cara mikirnya dia pendek banget. Apalagi pas ngambil DVD di ruangan Bu Mirna. Rasa ingin taunya tinggi, tapi dia kurang memperhitungkan resikonya. Jujur kesel banget sama Sari ini. Karena dia, dia sendiri dan Alek, hampir celaka.
Karakter Alek di sini cukup bebas ya. Hidupnya nggak begitu jelas, tapi dia memiliki pekerjaan yang cukup menyenangkan, punya tempat tinggal yang cukup juga. Karena Alek, aku jadi berpikir ulang, kalau Alek yang bahasa inggrisnya kurang bagus, gimana dia dulu memulai pekerjaannya sebagai penerjemah? Bukannya minimal harus bisa bahasa inggris?
Membaca kisah Sari-Alek menurutku magis sih. Aku beneran dibawa mengikuti kehidupan mereka berdua, yang cukup jauh dari masa sekarang. Yang bikin aku gemes malah endingnya, nggak begitu dijelaskan akhirnya gimana, tapi aku yakin sih kalau Alek habis karena Sari. Emang bener-bener si Sari, nyusahin banyak orang.
Saturday, January 23, 2021
[Review] French Pink
Judul : French Pink
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Grasindo
Tebal : 79 Halaman
"Tapi ada juga kepercayaan bahwa shinigami tidak mencabut nyawa. Hanya mendampingi manusia ke kehidupan selanjutnya."
B L U R B
Di Distrik Jiyugaoka yang mungil, cantik, dan berwarna-warni, Hitomi tiba-tiba bertemu pria aneh yang mengungkit-ungkit tentang kematian.
Siapa sebenarnya pria itu? Dan... lho, lho, mengapa dia jadi menyuruh Hitomi mencarikan syal warna French Pink? Mana mungkin sih pria beraura gelap seperti itu menyukai warna pink? Dan untuk apa juga?
Ck. Sungguh. Pria itu benar-benar merepotkan Hitomi.
- - - - - - - - - -
Hitomi, pemilik toko pita Sweet Ribbon di Jiyugaoka. Toko ini dulunya ramai, setiap orang yang datang, akan keluar dengan senyuman bahagia karena menemukan pita yang sesuai untuk kado mereka. Sayangnya, hal itu tidak lagi terjadi, karena Hitomi sedang bersedih, bahkan saat tersenyum pun dia tetap sedih. Warna yang tersisa baginya adalah warna hitam. Jadi cukup repot juga kalau mau mencari warna, karena Hitomi sering kali salah memberikan warna.
"Menurut saya, kematian lebih baik daripada kehidupan yang tidak berarti." P. 35
Dalam perjalanan pulangnya, Hitomi menemukan sehelai bulu jatuh di dekat kakinya, tak hanya itu, dia juga bertemu dengan sosok cowok yang aneh berpakaian serba hitam dan mendadak menanyakan warna patung jerapah. Tidak hanya itu, cowok itu mengikutinya beberapa kali, meminta bantuannya untuk melihat warna dan yang paling anehnya lagi, mencarikan beberapa benda dengan warna tertentu. Sebenernya, siapa cowok ini? Kenapa Hitomi yang diikuti?
R E V I E W
Bagaimana rasanya diikuti orang aneh berpakaian serba hitam hanya unutk menanyakan warna dan mencarikan barang dengan warna tertentu? Kalau itu aku, pasti aku bakalan kesel banget dan nyuekin dia. Apalagi kadang dia nanya-nanyain hal yang menurutku terlalu pribadi, misalnya pendapatku tentang kematian, atau mendadak aja nanya keluarga dan sebagainya. Nggak ada orang asing yang nanya hal itu mendadak kan?
Kuakui, buku ini cukup tipis. Isi ceritanya hanya 73 halaman, cukup sedikit untuk ukuran sebuah novel kan? Tapi isi dan juga endingnya cukup mengaduk-aduk perasaan guys! Di bagian awal, kita bakalan diajak untuk mengetahui Hitomi, cewek yang keliatannya rapuh banget, sedih banget rasanya. Tau kan gimana lihat orang yang ceria, terus mendadak sedih? Pasti kacau banget lah. Anehnya juga, Hitomi menanggapi semua permintaannya dia. Yang bikin kaget justru di bagian akhir. Nggak nyangka banget sama endingnya.
Yang aku suka dari buku ini itu cara kak Prisca menjelaskan tentang warna. Biasanya yang kita tau kalau warna putih, ya putih. Nggak ada penjabaran lain. Tapi kak Prisca berhasil banget menjelaskan warna putih itu seperti apa, periang kah, cerah kah. Pelajaran tentang kehidupannya juga bagus sekali. Aku suka banget, puas sama novel ini.
Thursday, November 21, 2019
[Review] Metropolis
Judul : Metropolis
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Grasindo
Tebal : 330 Halaman
"Sebagian bukti datang terlambat, Moris. Sebagian lainnya tidak muncul sama sekali."
Thursday, October 31, 2019
[Review] Desole
Judul : Desole
Penulis : Sadryna Evanalia
Penerbit : Grasindo
Tebal : 169 Halaman
"Terkadang seorang Ayah juga harus rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya."
BLURB
Selina Ardiwiratama Nugraha sangat ingin bisa tampil di TV untuk melaporkan liputannya sendiri. Namun, menjadi seorang Reporter ternyata tak mudah. Ia sempat patah semangat karena pingsan di tengah Live Report pertamanya saat kejadian polisi ditembak terduga teroris.
Di tengah keputusasaannya, Kevin Alexander Sanjaya membantu Selina untuk bangkit lagi. Apalagi, ketika Selina harus meliput ayahnya sendiri sebagai tersangka kasus korupsi.
Di tengah keputusasaannya, Kevin Alexander Sanjaya membantu Selina untuk bangkit lagi. Apalagi, ketika Selina harus meliput ayahnya sendiri sebagai tersangka kasus korupsi.
- - - - - - - - -
Selina Ardiwiratama Nugraha, seorang reporter junior yang membuat kesalahan pada live report perdananya. Pingsan di saat live report adalah sebuah kecelakaan yang amat sangat kacau bila terjadi di depan kamera. Hal inilah yang kemudian membuat Selina jadi tidak bisa melakukan live report sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.
"Jadi baru begini saja, kau sudah mengeluh? Coba kamu pikir lagi apa pekerjaan reporter seperti ini cocok buat kamu? Pikir lagi apa kamu pantas diberi kesempatan live report kalau begini?" — P. 90Kevin Alexander Sanjaya, seorang cameramen yang membantu Selina agar bisa membuat live reportnya sendiri. Kevin dengan telaten dan tegas, mengajari Selina berbagai hal dasar, mulai dari cara melaporkan keadaan sekitarnya seperti apa, sampai ke teknik agar percaya diri di depan kamera.
Hal ini berdampak baik terhadap Selina, dia bahkan bisa melaporkan kegiatan sekitarnya dengan baik, meskipun masih ada kekurangannya. Dan hal ini juga mendatangkan kabar baik terhadapnya. Dia akhirnya mendapatkan kembali kepercayaan untuk melakukan live reportnya. Sayangnya hal ini juga menjadi hal yang buruk, karena dia harus melaporkan ayahnya sendiri yang terjerat korupsi! Kacau! Bagaimana Selina melaporkan hal ini? Bisakah dia membantu ayahnya agar tidak menjadi tahanan?
Novel yang uwaw banget menurutku! Novel ini kukira awalnya cuma nyeritain tentang Selina yang kesusahan live report aja. Ternyata ada unsur politik dan keluarganya juga. Aku suka sama konfliknya. Bener-bener kayak di dunia nyata. Mungkin hal ini juga didukung sama dunia kerjanya kak Sadry juga. Jadi ya lebih banyak dan detil tentang dunia jurnalistik dan reporting.
Untuk penokohan dan karakternya aku juga suka. Cerita ini diambil dari sudut pandangnya Selina. Jadi, ya apa yang dirasain Selina, bisa kita rasain. Untuk kekurangan novel ini sih cuma ukuran tulisan yang kecil aja. He he he.
Friday, October 4, 2019
[Review] Let's (Not) Falling In Love
Judul: Let's (Not) Falling In Love
Penulis : Idha Febriana
Penerbit : Grasindo
Tebal: 176 Halaman
"Kapalku telah bersandar, aku mampu mengendalikannya hingga tidak karam diterjang badai."
Tuesday, May 28, 2019
[Review] Sandi's Style
Judul : Sandi's Style
Penulis : Sirhayani
Penerbit : Grasindo
Tebal : 263 Halaman
"Aku akan tetap menunggu. Menunggu saat di mana Tuhan mempertemukan kita kembali."
Subscribe to:
Posts (Atom)




