Tuesday, October 13, 2026

[REVIEW] Bandung After Rain

 

Bandung After Rain
Wulan Nur Amalia
Black Swan Books
295 Halaman

“Cinta pertama tidak selalu berhasil. Namun, kalau berhasil, tandanya dia akan abadi. Dan, semesta selalu mempunyai cara untuk mempertemukan keduanya. Sebab, sejauh apa pun berlari, manusia tidak bisa melawan takdir. Kalau manusia punya harapan, semesta selalu punya kenyataan.” 


B L U R B

Bandung, romansa, dan Ra. Hampir di setiap sudut di Kota Bandung menggambarkan kenangan manis yang Hema lakukan bersama Ra—mantan kekasihnya. 6 tahun lebih memadu kasih, tidak lantas membuat hubungan Hema dan Ra berakhir indah. Nyatanya, hubungan mereka usai tepat sebulan sebelum hari jadi mereka yang ke-7.

Kesalahan fatal yang Hema lakukan, membuat hatinya dipenuhi rasa penyesalan. Namun, Hema jadi sadar bahwa makna cinta bukan hanya tentang memberi apa yang diinginkan pasangan, tapi juga tentang memahami, menghargai, dan berjuang bersama.

Kalau kata Rania, “Bandung adalah kita. Dan, setelah hujan, ada cerita tentang kita.”

Melewati hari-hari dengan seluruh perasaan gelisah, berjalan-jalan dibawah derasnya hujan di Kota Bandung, apakah hak itu cukup untuk mengembalikan Ra ke dalam kehidupannya?

- - - - - - - - -

Bagi Hema, Rania kadang merepotkan. Harus memberikan kabar, bahkan terkadang Rania datang ke basecamp–kos Nathan tempatnya berkumpul bersama ketiga temannya, Jeano, Nathan dan, Revan. Ketika akhirnya Hema memutuskan hubungan mereka, Rania sedih tentu saja, tapi di kemudian hari, Hema jauh lebih pedih.
“Sekalinya sudah jatuh cinta, mau seluruh dunia bilang nggak boleh, kamu bakalan tetap jatuh cinta.” — P. ix
Putusnya hubungan ini buat Rania juga sulit. Hubungan yang sudah berjalan beberapa tahun, kandas seketika. Apalagi hal ini terjadi di saat mereka sedang menyusun skripsi, sedih dan kepikirannya jelas ada. Tapi bagi Rania ya sudah, toh dia juga sudah berusaha menjaga agar hubungan ini baik-baik saja, kalau memang Hema tidak menginginkannya, buat apa?

Walaupun melihat Ra dari jauh bikin sedih, tapi melihat Ra bersama Jeano tentu lebih sedih lagi. Jadi Hema memutuskan untuk mengusahakan kembali Ra, bagaimana caranya? Hema masih belum bisa memikirkannya, mengingat dia juga harus membagi isi kepalanya untuk memgerjakan skripsian.

Kisah Jeano-Ra-Hema yang cukup bikin gemes. Rania, selayaknya cewek yang pada umumnya aja. Dalam sebuah hubungan, tentu aja cewek pasti meminta atau bahkan rada menutut untuk dikabarin. Sesibuk apapun, secapek apapun, kabarin aja, toh kalo memang prioritas, pasti tetep dikabarin kan? Hema nggak begitu. Kalau dia sudah punya kesenangan sendiri, Rania harus bersabar menunggu sampai selesai. Bagi Hema, dunia nggak hanya berputar di Rania.

Di bagian awal, kita akan diajak menyelami kegalauan Hema selepas memutuskan Rania. Memang, kadang-kadang penyesalan akan datang belakangan, kan? Aku sempat mikir, apa yang bikin Ra memutuskan hubungan sama Hema? Apalagi Ra juga bukan cewek yang aneh-aneh. Ternyata karena Hema sendiri.

Nggak hanya tentang Ra-Hema, tapi juga tentang Nathan, Revan, dan Jeano. Tiga sahabat Hema yang seru, walaupun berisik banget. Dan ternyata, Jeano memiliki rahasia bersama Rania. Ini cukup bikin aku terkejut sih. Anehnya, Jeano juga baru menyadarinya belakangan.

Part yang aku suka tuh pas Hema berusaha untuk memperjuangkan kembali hubungannya bersama Rania. Walaupun beberapa kali ada halangan dan cukup bikin Rania sedih, karena lagi-lagi dia ngerasa bukan prioritas, tapi Hema berhasil menunjukkan cara-cara agar Rania mau membuka sedikit kesempatan untuknya.

Aku juga suka dengan perkembangan karakternya di sini, Rania yang mau memberikan sedikit kesempatan, berusaha untuk mengkomunikasikan hubungannya. Hema yang mulai paham prioritas, dia ini juga tipe cowok yang sayang sama pasangannya sebenernya, cuma nggak tau kenapa pas di awal konslet banget. Hubungan pertemanan yang cukup solid dan mau saling mengingatkan ketika salah satu dari mereka ada yang salah. Nggak yang ditutup-tutupin, tapi mereka bakalan mau untuk backup satu sama lain.

Baca ini jadi keinget, terakhir kali ke Bandung tuh pas aku lagi skripsian! Di masa-masa aku juga lagi stres-stresnya nunggu balesan revisi dari dosen penguji pas masih sempro. Jadi paham banget gimana dag-dig-dugnya Rania, Hema dan yang lainnya pas lagi skripsian. Hehe… Kayaknya perlu menjadwalkan liburan ke Bandung lagi ini.


From the book…
“Rindu yang paling menyakitkan, bukan rindu kepada dia yang berada jauh dari pandangan. Rindu yang paling menyakitkan justru datang dari dia yang sebenarnya sedang berada dekat, tapi seakan terasa berjarak.” — P. viii

“Sekalinya sudah jatuh cinta, mau seluruh dunia bilang nggak boleh, kamu bakalan tetap jatuh cinta.” — P. ix

“Gue sadar, Ra. Masa lalu memang selalu ada ruang tersendiri. Tapi, orang baru juga bisa punya kesempatan, kan?” — P. 42

“Lain kali, lo harus belajar menghargai. Jangan pernah nyepelein hal-hal kecil karena hal yang kecil itu biasanya yang paling lo butuhin.” — P. 45

“Baguslah, memangnya kenapa kenangan harus dihapus? Kenangan itu ada untuk dikenang. Memori itu sangat penting bagi manusia. Karenanya, kita bisa belajar dari sana. Kalaupun nanti kenangan itu bisa kembali terulang, anggap saja itu bonus.” — P. 84

“Sebelum memikirkan perasaan orang lain, sebaiknya pikirkan dulu perasaan sendiri. Sebab, menyembuhkan perasaan sendiri, obatnya diri sendiri, bukan orang lain.” — P. 85

“Cinta pertama tidak selalu berhasil. Namun, kalau berhasil, tandanya dia akan abadi. Dan, semesta selalu mempunyai cara untuk mempertemukan keduanya. Sebab, sejauh apa pun berlari, manusia tidak bisa melawan takdir. Kalau manusia punya harapan, semesta selalu punya kenyataan.” — P. 100

“Orang bilang, jangan memulai cerita di tengah kebingungan. Kalau punya dua pilihan, biarkan hati yang memberi jawaban. Pilih satu atau lepaskan keduanya.” — P. 105

“Memang harus salah dulu, baru bisa kapok. Belajar dari sebuah kesalahan itu kadang bisa bikin kita lebih cepet berubah. Meskipun sebenarnya akan lebih bagus kalau kita enggak salah sama sekali. Tapi, manusia, kan, tempatnya salah dan lupa.” — P. 159

“Dikecewakan oleh harapan, sakitnya enggak akan main-main, Ra. Jadi, menurut aku, daripada berharap, lebih baik menjalani hidup dengan sebaik mungkin.” — P. 196

No comments:

Post a Comment