Keajaiban Toko Kelontong NamiyaKeigo HigashinoGramedia Pustaka Utama404 Halaman
“Coba ingat-ingat. Dalam situasi biasa, kita tidak pernah mendengar masalah orang lain. Tidak ada yang mau mendengar pendapat kita. Mungkin akan terus begitu seumur hidup. Jadi anggap saja ini kesempatan pertama sekaligus terakhir. Menurutku tidak ada salahnya.”
B L U R B
Ketika tiga pemuda berandal bersembunyi di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat.
Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh.
Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang yang meminta bantuan.
Hanya untuk satu malam.
Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi…
- - - - - - - - - -
Atsuya, Kohei, dan Shota memilih untuk bersembunyi di sebuah rumah tua yang sepertinya bekas toko kelontong, apalagi ada tulisan Toko Kelontong Namiya dibagian depannya. Awalnya mereka hanya berencana untuk bersembunyi sebentar, tapi anehnya mereka malah menemukan sebuah surat yang berupa permintaan nasihat atas masalah yang terjadi di hidup penulis tersebut.
“Aku ingin kau, termasuk aku, bisa menghargai nyawa seseorang.” — P. 180
Bagi ketiganya, itu hanyalah memberi sebuah masukan, kadang juga sedikit mengatakan hal yang keras. Tapi entah kenapa, cukup manjur dan berdampak untuk pembacanya. Niat hati hanya sebentar, berujung ketiganya membalas beberapa surat dari berbagai permasalahan.
Akhirnya berkesempatan membaca tulisan Keigo Higashino! Pertamanya cukup bingung mau memilih buku yang mana, karena menurut beberapa orang yang sudah membaca, karya Keigo ini nggak mudah membuat kamu jatuh cinta. Kalau misal suka di buku A, belum tentu di buku judul B kamu bakalan suka. Kebetulan banget memilih Keajaiban Toko Kelontong Namiya.
Keajaiban Toko Kelontong Namiya mengajak kita untuk mengikuti Atsuya, Shota, dan juga Kohei yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi karena mereka sehabis merampok sebuah tempat. Ketika mereka akhirnya mendapatkan surat pertama, Atsuya jengkel banget, merasa tidak perlu membalasnya. Toh itu bukan ditujukan untuk mereka. Sementara bagi Kohei dan Shota, kenapa tidak? Memberikan saran saja kan bebas.
Di bagian awal, kita memang diajak melihat dari sisi Shota, Atsuya, dan Kohei, tapi di bab berikutnya, kita akan dibawa dari sisi penulis surat tersebut. Apa kesulitan mereka, apa yang mereka harapkan, dan bagaimana akhirnya mereka bisa mendapatkan keberanian untuk menuliskan surat kepada Toko Kelontong Namiya.
Aku sebenernya menebak-nebak, kok bisa ya mereka mendapatkan surat dari masa lalu, dan mereka bisa mengirimkannya kembali. Ini bener-bener aneh. Kecuali memang di rumah itu sedang ada kekuatan tertentu yang membuat mereka jadi terhubung dengan masa lalu.
Awalnya aku mengira ini adalah sepenggal kisah seseorang, ternyata lima kisah ini terhubung dalam satu garis! Nggak kusangka. Padahal aku kira mereka tuh satu kisah sendiri, yang memang kebetulan aja lagi curhat di Toko Kelontong Namiya.
Walaupun pas membaca buku ini aku butuh waktu yang cukup lama, tapi selama baca buku ini aku enjoy banget! Terjemahannya mengalir banget. Beberapa kali aku merasa kalau surat yang dituliskan oleh Atsuya, bahasanya terlalu keras, anehnya, bagi pembaca suratnya jadi pencerahan. Kalau aku yang terima suratnya mungkin kerasa jengkel ya. Marah banget. Menurutku kadang agak aneh mereka bisa menerima.
Aku juga penasaran, kenapa kok mereka bisa ya berkorespondensi dengan orang yang berada jauhhh di masa lalu. Karena aneh banget, walaupun saat Atsuya beli makanan di konbini juga tidak terlihat. Aku pikir ini mereka lagi ada di perbedaan dimensi aja. Eh, terjawab di bagian akhir!
From the books…
“Hmmm… Aku tidak bisa menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang tidak sanggup kulakukan sendiri.” — P. 24“Setidaknya itu lebih baik dibandingkan tidak membalas sama sekali. Kita sering dengar bahwa sebenarnya orang-orang merasa bersyukur selama ada yang mau mendengarkan cerita mereka.” — P. 27“Coba ingat-ingat. Dalam situasi biasa, kita tidak pernah mendengar masalah orang lain. Tidak ada yang mau mendengar pendapat kita. Mungkin akan terus begitu seumur hidup. Jadi anggap saja ini kesempatan pertama sekaligus terakhir. Menurutku tidak ada salahnya.” — P. 29“Mereka hanya bisa melindungi diri sendiri karena dengan cara itulah mereka bisa hidup sampai sekarang. Tidak ada gunanya berurusan dengan orang lain, apalagi berurusan dengan orang-orang dari masa lalu. Orang-orang itu takkan bisa melakukan apa-apa untuk mereka bertiga yang hidup di masa kini.” — P. 44“Sampai kapan kau mau terus bermimpi? Dunia ini bukan tempat kau bisa bermanja-manja!” — P. 86“Tidak masalah jika kau tidak berhasil memenangi perang itu. Bahkan perjuangan yang sia-sia pun berharga. Yang penting kau bisa menorehkan jejakmu di sana. Jangan pernah berpikir untuk pulang sebelum kau berhasil melakukannya.” — P. 122“Dalam berbagai kasus, sebenarnya si pengirim surat sudah menemukan jawabannya. Mereka berkonsultasi hanya demi memastikan bahwa orang lain juga membenarkan keputusan mereka. Banyak di antara mereka yang kembali menulis surat setelah membaca balasan dariku, mungkin karena jawabanku berbeda dengan yang ada di benak mereka.” — P. 144“Satu-satunya alasan nasihatku bisa membantu mereka tidak lain karena niat si pengirim surat sendiri. Seandainya mereka tidak berkeinginan menjalani hidup dengan baik dan tekun, mungkin jawaban apa pun yang kuberikan tidak akan ada gunanya bagi mereka.” — P. 173“Aku ingin kau, termasuk aku, bisa menghargai nyawa seseorang.” — P. 180“Konsep sederhana saya tentang keluarga adalah, sebisa mungkin mereka harus selalu bersama-sama, tentu saja kecuali mereka berpisah demi mengejar hal positif. Memisahkan diri dari keluarga, entah dengan alasan benci atau kesal, menurut saya bukan wujud keluarga sesungguhnya.” — P. 224“Percayalah pada saya. Apa pun yang terjadi, hari esok akan lebih baik daripada hari ini.” — P. 225“Bagi Ayah, keluargalah yang paling penting. Ayah akan melakukan apa saja demi melindungimu dan ibumu, meskipun itu berarti nyawa taruhannya.” — P. 230“Tidak ada alasan tertentu yang membuat orang-orang saling menjauh.” — P. 234“Karena jika mereka masih satu hati, seharusnya salah seorang dari mereka berusaha memperbaiki ketika mulai ada tanda-tanda perpisahan akan terjadi.” — P. 234 to 235“Seseorang hanya bisa merintis kehidupannya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.” — P. 268“Uang memang penting, tapi bukan berarti semuanya akan baik-baik saja dengan adanya uang.” — P. 301“Tapi perlu diingat bahwa balas budi bukan hanya sebatas mengembalikan uang. Selama Anda berbahagia, orangtua Anda pasti akan merasa puas, dan itu juga bisa dianggap sebagai bentuk balas budi.” — P. 306

No comments:
Post a Comment