Monday, September 8, 2025

[REVIEW] Bebas Tanggungan


Bebas Tanggungan
Reytia
Bhuana Sastra
276 Halaman

“Jangan terlalu keras sama diri kamu juga, Saf. Tanggung jawab kamu saat ini memang besar, tapi bukan berarti kamu nggak berhak bahagia."


B L U R B


Katanya, kerja di e-commerce enak karena gajinya besar, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Safira yang harus merelakan lebih dari setengah gajinya untuk membayar utang keluarga dan biaya hidup adiknya. Capek karena harus berhemat, capek hati juga karena melihat teman-teman sekantor yang hidupnya sudah jauh lebih sejahtera. Safira ingin hidup bebas tanggungan!


Lalu, muncul ide cemerlang dari Marla, sahabat Safira. Kenapa nggak cari calon suami kaya, supaya hidup Safira ada yang nanggung? Akankah Safira mendapatkan kelegaan finansial yang ia harapkan atau hidupnya justru lebih rumit?


- - - - - - - - - - -


Memiliki pekerjaan dengan gaji besar tentu saja sangat membanggakan. Apalagi umur Safira masih muda, pasti menyenangkan sekali. Kenyataannya jelas berbeda, Safira harus merelakan sebagian besar gajinya untuk membayar utang keluarga dan biaya sekolah adiknya. Yang tersisa untuknya ya hanya cukup membiayai kebutuhannya sehari-hari. Tidak ada yang namanya membeli barang-barang yang tidak perlu. Dikit-dikit self reward seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.

"Ya makanya, cari pacar. Short term win-nya, kalau jalan lo dibayarin makan atau nonton. Long term win-nya, kalau cocok, lo nikah. Hidup lo dibayarin dia. Spare duit lo jadi banyak, utang cepet beres. Lo cepet punya tabungan. Terus hidup bahagia selamanya, deh." — P. 31

Marla—salah satu sahabatnya, selalu menyuruhnya untuk mencari pacar yang kaya. Masalanya, gimana mau nyari pacar yang kaya, kalau kehidupan Safira aja diirit sebisa mungkin. Menjalin hubungan, bukannya akan menambah biayanya untuk makan di luar atau nonton bioskop? Kan mendingan disimpan! Tapi gimana kalau salah satu cowok cakep di kantornya mendekatinya? Apakah Safira akan membuka hati perlahan?



Waktu awal aku dapat gaji pertama, rasanya tuh seneng banget! Apalagi dulu gajinya udah di lumayan di atas UMR. Seneng banget, mulai agak boros dikit berkedok, "Dulu sama ortu nggak dibolehin beli!" dan tentu aja gampang kalap sama hal-hal lucu di e-commerce. Tapi ternyata, nggak semua orang sama kayak aku.


Safira nggak begitu, dia harus menyisihkan untuk bayar hutang yang ditinggalkan ayahnya, dan biaya kuliah adiknya. Yang didapatkan selama kerja ini kurasa hanya hikmahnya aja. Safira juga punya dua sahabat di kantor, ada Marla dan Eveline. Keduanya, terutama Marla, getol banget mencarikan Safira pacar dengan kriteria utama: harus kaya! Supaya safira sedikit terbantu, sedikit menikmati hidup. Sahabat yang cukup baik ya?


Membaca kisah Safira ini berasa kayak ngeliat temen sendiri, hidup emang nggak selamanya mudah, tapi masa iya cowok mapan adalah jawabannya. Menurutku sih enggak, belum tentu cowok ini juga peduli sebesar yang kita harapkan. Nah, pas Safira dikenalin sama salah satu anak kantornya yang cukup oke, aku langsung merasa cowok ini terlalu too good to be true. Memang ada cowok yang banyak action ketimbang ngomong, tapi ini terlalu mencurigakan. Waktu ditanyain keluarga, nggak begitu banyak cerita, ditanyain masa lalu, jawabannya agak ngambang. 


Deket sama cowok itu menurutku perlu waktu yang cukup panjang, untuk bener-bener kenal dia luar dalam. Malahan lebih enak kalau awalnya dari temen, meskipun kalo udah begini ya mending tetep berteman aja. Kenapa perlu waktu yang cukup panjang? Soalnya mengulik sifat seseorang itu nggak gampang, nggak selamanya apa yang ditunjukin ke kita tuh sama kayak dia yang sebenarnya, bisa aja dia manipulatif, suka mukul atau suka bohong. Bener kata orang jaman dulu, bibit, bebet, bobotnya harus pas.


Persahabatan antara Eveline, Marla, dan Safira juga menyenangkan, mereka selalu ada satu sama lain, siap support satu sama lain. Meskipun sifatnya Marla ini agak ngeselin ya, karena dia anak yang terlahir di keluarga yang berkecukupan, dia jadi menganggap Safira selalu salah aja, kasian aja. Menurutku, sifat Marla ini ya normal sih. Aku sendiri juga kadang ngerasa temenku yang jadi sandwich gen ini kasian ya, harusnya kan mereka bersenang-senang juga, tapi aku lupa, kehidupan keluarganya juga nggak berada di garis yang sama kayak aku. 


Nggak cuma tentang pencarian cowok dan persahabatan aja, tapi juga banyak membahas tentang keluarga. Awalnya, aku juga agak kesel sama kakaknya Safira, adiknya juga. Tapi setelah baca lebih dalam lagi, ternyata mereka ini butuh berkomunikasi, biar nggak salah paham terus. Biar semua uneg-uneg yang mau disampaikan, bisa tersampaikan dengan jelas.


Suka sekali dengan penyelesaian masalah Safira. Bener-bener semuanya butuh komunikasi, dan cari cowok mapan bukan solusi supaya nggak jadi sandwich generation. Hihi..



From the book...

"Ya makanya, cari pacar. Short term win-nya, kalau jalan lo dibayarin makan atau nonton. Long term win-nya, kalau cocok, lo nikah. Hidup lo dibayarin dia. Spare duit lo jadi banyak, utang cepet beres. Lo cepet punya tabungan. Terus hidup bahagia selamanya, deh." — P. 31


"Anyway, maksud gue, kejadi ini bisa kita jadikan pelajaran, kan? Jadi orangtua jangan nyusahin anak, harus punya perencanaan yang matang. Kalau ngutang harusnya bilang-bilang. Kalau nggak kan yang heboh sekeluarga." — P. 33


"Biar nggak decision fatigue. Capek mikir. Setiap hari kita harus ambil keputusan dalam pekerjaan. Sayang anget kalau kapasitas otak kita dihabisin buat mikir hal-hal remeh seperti mau pakai baju apa hari ini.” — P. 47


“Tapi menurutku, yang kamu lakukan itu hebat. Saat orang seumuran kamu sibuk dengan kesenangan mereka sendiri, kamu berkorban untuk keluarga. Orang-orang takut jadi sandwich generation, kamu malah menawarkan diri untuk nanggung utang Papa kamu." — P. 61


"Soal ikhlas ini memang ringan di lidah, seringkali berat di hati." — P. 78


"Lo sudah berusaha dengan baik. Yang lo lakukan itu memang nggak mudah. Menurut gue, lo keren banget." — P. 79


"Jangan lupa nabung, tapi jangan pelit-pelit amat sama diri sendiri juga." — P. 116


"Orangtua kita ngerawat kita sampai dewasa, mereka nggak pernah hitung-hitung pengorbanan ke kita. Terus saat orangtua kita nggak punya apa-apa lagi buat dikasih ke kita, kita mau kabur, gara-gara takut dibilang sapi perah keluarga?" — P. 125


"Dari awal garis start lo sama dia emang jauh beda. Dia plus, lo minus. Kalau lo mau ngejar dia, ya susah." — P. 127


"Lo juga, Mar, jangan kasian-kasian sama gue terus, dong. Nabung emang penting, tapi takdir gue lagi kayak gini mau diapain? Keluarga gue semua juga udah abis-abisan, masa gue lepas tanggung jawab? Lagian hidup gue juga nggak parah-parah amat, kok. Buktinya gue masih bisa traktir lo sama Eveline makan siang di sini." — P. 158


"Emang kondisi gue beda kayak orang-orang lain. But everyone has their own battle, right? Sometimes we just have to set the right comparrison. Jadi, biarkan gue lunasin utang bokap gue dengan tenang, tanpa harus bikin gue ngerasa sengsara ngejalaninnya. Nggak semua orang punya privilage kayak lo." — P. 158


"Jangan terlalu keras sama diri kamu juga, Saf. Tanggung jawab kamu saat ini memang besar, tapi bukan berarti kamu nggak berhak bahagia." — P. 166


Thursday, July 3, 2025

[REVIEW] Ghosting Writer

Ghosting Writer
Aya Widjaja
Gramedia Pustaka Utama
312 Halaman

"Kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Dan untuk meraih impian, mungkin harus ada yang dikorbankan supaya usaha kita nggak setengah-setengah.”


B L U R B

“Ghosting Writer? Nama pena apaan, tuh! Pasti dia cuma writer tukang ghosting pembaca alias nulis cerita nggak kelar-kelar!” Sebagai penulis di T3, salah satu platform menulis online, Wilma tidak bisa berhenti julid setiap kali mendengar Ghosting Writer disebut-sebut teman sekelasnya. Masalahnya, Wilma sudah lebih lama menulis di T3 dan susah payah mendapatkan peringkat tinggi dengan mempromosikan ceritanya ke semua media sosial dan mengikuti keinginan pembaca. Sedangkan Ghosting Writer bisa melampaui popularitas Wilma tanpa promosi atau bersusah payah. Argh! Nyebelin!

Belum lagi kakak kelasnya, Ganindra, terus-terusan mengganggunya tanpa alasan; meledeknya penjajah karena namanya mirip ratu Belanda zaman penjajahan, memanggilnya dengan merek minyak goreng, dan sering melempar gombalan-gombalan jayus yang bikin merinding. Ganindra ada masalah apa sih sama Wilma? Keisengan Ganindra bikin Wilma, yang sudah bete karena perkara Ghosting Writer dan peringkat T3, jadi makin mumet.

Duuh! Apa yang harus Wilma lakukan untuk menyingkirkan Ganindra dan memperbaiki peringkatnya di T3 yang dibalap Ghosting Writer?

- - - - - - - - - -

Sebagai penulis di sebuah platform, selain jumlah pembaca, rating juga salah satu hal yang cukup penting. Apalah arti sebuah karya kalau nggak ada pembacanya. Wilma, selama ini berhasil di platform T3 dengan rating yang bagus dan cukup terkenal. Kebanyakan ceritanya tentang anak sekolahan dan badboy yang cukup digandrungi pembaca T3.
Quality over quantity, Wil. Jauh lebih baik punya sedikit pembaca tapi setia ngikutin lo ke platform mana pun, mau ngasih lo feedback, rela ngeluarin effort demi baca tulisan lo, daripada punya banyak pembaca tapi nggak punya engagement lebih. Ayolah, belajar bersyukur dengan apa yang lo raih. Oke?” — P. 181
Kemunculan Ghosting Writer—salah satu penulis baru di T3, membuat Wilma mulai senewen. Ini bukan karena kemunculan idola baru semata, tapi peringkatnya yang bikin Wilma jadi waspada terus. Sementara Nehru—sahabat sekaligus ilustratornya malah menyuruhnya membaca karya Ghosting Writer, supaya Wilma bisa mencari tahu hal apa yang membuatnya jadi lebih menarik ketimbang ceritanya.


Dunia kepenulisan dan SMA. Dua hal yang menurutku sangat berkaitan, dan aku pernah mengalaminya. Dulu pas masih ramenya platform kepenulisan warna oren, di sana lah aku banyak banget bertemu orang, berorganisasi juga. Seru banget. Aku juga sempet nulis dan berorganisasi, tapi pas masuk masa kuliah, aku sekip, banting setir jadi bookstagram aja.

Bagi seorang penulis, jumlah pembaca, like, komen, dan rating yang posisinya stabil itu penting. Nggak cuma menunjukkan kalau karya kita bagus, tapi juga bikin bersemangat untuk menyelesaikan sampai ending. Hal itu juga yang dirasakan sama Wilma, apalagi kelebihan dalam ceritanya, dia juga menyisipkan gambaran potongan adegannya dengan ilustrasi Nehru, harusnya ini jadi daya jualnya dong. Pas ada penulis yang berhasil menyalip ketenarannya, dia jelas bingung. Selama ini aman-aman aja, kali ini kok ada yang berhasil menyalip secara langsung?

Ghosting Writer buatku sangat menarik. Bikin aku kembali ke duniaku dua belas tahun lalu (wow, ketauan banget umurnya berapa ya?). Dunia SMA yang dituliskan, nggak melulu ngebahas percintaan, badboy yang nggak pernah masuk kelas tapi dapet nilai bagus terus, atau pun anak salah satu pejabat. Bener-bener dunia SMA yang kita jalani sebenernya, mulai dari masuk sekolah, punya keinginan yang ditentang orangtua, punya aktivitas lain di luar sekolah. Pembahasan tiap karakternya juga bener-bener menarik. Wilma yang berkemauan keras dan nggak gampang nyerah, Nehru yang terlalu banyak dikekang, Ganindra yang punya masalah di rumah.

Dibalik sikap Wilma yang ngotot banget update cerita, mengusahakan keinginan semua pembacanya, ternyata tersimpan keinginan kecil yang tidak begitu disetujui orangtuanya. Dibalik sikap Nehru yang baik di depan Wilma, dia juga agak egois. Dibalik Ganindra yang tengil, tersimpan keinginan untuk membahagiakan mamanya.

Buatku, Ghosting Writer ini bener-bener komplit untuk kelas teenlit. Bikin kita mengingat lagi, apa yang kita inginkan, dan bagaimana cara meraihnya. Pemikiran untuk melakukan hal curang kalo kepentok itu pasti ada, tapi balik lagi, apa cara itu sudah benar? Apa itu keinginan semata, atau cuma karena iri? Banyak juga mengajarkan dunia kepenulisan yang baik itu gimana. Bikin aku jadi tergerak untuk menulis lagi.

Cara kak Ayu menulis bener-bener mengalir. Kita dibuat penasaran dengan setiap tindakan tokohnya, tapi dibuat gemes juga tiap mereka punya gebrakan baru. Setiap halamannya jadi nagih banget, nggak kerasa kita udah selesai aja. Penyelesaian masalah tiap tokohnya juga bikin senyum-senyum sendiri. Apalagi Nehru-Wilma. Duh pas baca kayak… gemes banget ni orang dua sahabatan. Sangat merekomendasikan untuk dibaca semua kalangan! Cerita yang ringan dan bikin senyum-senyum. Kayaknya kalo posisi bacanya di aku beberapa tahun lalu, cuma sehari, udah kelar ini.


From the book…
”Coba benchmarking. Baca cerita dia dulu, cari alasan apa yang bikin ceritanya digandrungi. Jangan cuma ngintipin halaman profil dia saja.” — P. 13

”Karena apa pun yang lo lakukan, sumber semangatnya harus diri lo sendiri. Bukan orang lain. Menggantungkan motivasi pada manusia cuma bikin kecewa. Lo harus punya suara lo sendiri. It’s okay buat bilang enggak atau punya pendapat sendiri.” — 86

”Gue nggak bilang lo nggak boleh terkenal atau dapet uang dari nulis, tapi jangan sampai kehilangan jati diri.” — P. 141

”Lo boleh ambis, tapi lo nggak boleh lupa cara terbaik buat meraihnya adalah memperbaiki tulisan lo sendiri.” — P. 193

”Itu lo ngerti. Isi hancur atau bungkus jelek itu biasanya salah orang lain. Bukan bermaksud nyalahin orang, tapi faktor dari luar memang penting pas pencarian jati diri kayak lo sekarang. Gue nggak punya pembelaan apakah bandel itu salah atau sah-sah saja, yang penting adalah bisa nggak kita keluar dari zona bandel dan jadi manusia bertanggungjawab?” — P. 244 to 245

”Lo kebiasaan lebih peduli pendapat orang daripada diri lo sendiri, dan menggantungkan kesenangan nulis pada popularitas yang didapat karena apresiasi orang lain. Lo ngejauhin gue juga pasti karena omongan orang, kan?” — P. 264

”Kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Dan untuk meraih impian, mungkin harus ada yang dikorbankan supaya usaha kita nggak setengah-setengah.” — P. 294