Sunday, January 18, 2026

[REVIEW] Fit & Proper Test

Fit and Proper Test
Soraya Nasution
Elex Media Komputindo
350 Halaman

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?"


B L U R B

"Cari pasangan hidup ya nggak boleh asal. Penginnya nggak ada penyesalan dan satu untuk selamanya, kan? Disusun dong Fit and Proper Test-nya. Kriterianya harus jelas dan terukur."

Celetukan Papi waktu berkumpul di rumah Eyang terus berputar di kepala Anggun. Apalagi dia punya target menikah sebelum usia 28. Sementara usianya kini sudah 26 tahun lebih 6 bulan. Dibantu kakak sepupunya yang juga jomlo gagal move on, Anggun bertekad menyusun Fit and Proper Test dalam Mencari Pasangan Hidup Ideal.

"Kalau ternyata pasangan yang lo pilih nggak lolos tes, sementara lo udah cinta sama dia gimana, Nggun?"

"Basically, perasaan itu yang ngontrol otak, Mas. Gimana lo cinta sama orang yang nggak memenuhi kriteria lo? Nggak mungkin!"

- - - - - - - - - -

Anggun sering bertanya-tanya, bagaimana cara mencari pasangan yang sesuai dengan kriterianya dan bisa diterima keluarga besarnya juga. Mengingat keluarga besarnya suka berkumpul dan melakukan kegiatan bersama, tentu saja pasangan yang bisa diterima sesuai dengan bibit, bebet dan bobot sangat menentukan, kan?
"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134
Sayangnya, sampai saat ini, Anggun masih belum juga menemukan pasangan sesuai kriterianya. Walaupun saat ini dia sedang menjalin hubungan, tapi Anggun ragu membawanya ke pertemuan keluarga. Sementara Ryan—kakak sepupunya juga jomlo. Memangnya mencari pasangan hidup perlu sedetail itu kah? Bukannya yang paling penting adalah perasaan satu sama lain dan finansial aja cukup?


Membaca Fit and Proper Test ini aku kira bakalan berat banget. Ternyata seringam itu. Permasalahan kapan kawin dan jodoh ini biasa kita alami kan? Apalagi buat anak line 90an. Kumpul keluarga, selain mendekatkan yang jauh, tapi juga bakalan mengumpulkan banyak pertanyaan. Yang belum nikah ditanyain kapan kawin, yang udah kawin kapan punya anak, yang udah punya anak kapan nambah. Udah jadi rentetan pertanyaan yang nggak ada habisnya.

Sama seperti Anggun dan Ryan, mereka juga mau kok segera menemukan pendamping hidup. Sayangnya, mencari pasangan hidup itu susah-susah gampang. Kadang ada yang sekali ketemu langsung klik, ada yang perlu cari-cari dulu. Dan aku juga kurang setuju sama papanya Anggun sih, karena cari pasangan itu nggak ada pakemnya, dan cara satu orang mencari pasangan tuh nggak bisa disamain sama yang lainnya. Nanti malah stres sendiri karena nggak dapet-dapet.

Selama membaca tuh aku suka banget interaksi antara Anggun dengan orangtuanya dan juga Ryan. Enak memang ya kalau punya kakak, meskipun cuma sepupu, tapi bisa diajak ngomong dan diskusi. Langka banget yang beginian. Aku sama sepupuku juga sama sih, tapi seputar kesehatan aja karena mereka dokter. Kalo love life mah enggak. Masuk ranah privasi.

Sangat aku rekomendasikan untuk baca, karena selain bahasanya ringan, lebih memperluas pemikiran juga kalau untuk memilih pasangan!


From the book...
"Nyari pasangan potensial lebih susah daripada ngitungin energi potensial pas zaman SMA ya, Nggun." — P. 6

"Menurut lo, seorang cowok atau cewek pantas disebut calon pasangan hidup potensial kalau punya berapa persentase sifat baik? 50 40? 70 30?" — P. 11

"Memilih calon istri itu bukan sekadar dia cantik, menarik, jalan beberapa bulan terus kamu lamar. Kamu harus melakukan serangkaian fit and proper test untuk mendapatkan calon istri yang potensial." — P. 25

"Gue nggak mesti sampe background keluarga, sih. Kita, kan, nggak bisa milih dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Tapi gue tambah gimana cara dia berkomunikasi sama orang lain. Itu yang paling penting." — P. 33

"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134

"Setiap orang kayaknya punya strong dan weak points-nya masing-masing deh. Banyak juga kok yang bisa disukai dari kamu. Kamu setia kawan, full of surprise, jago dandan, stylish, asyik diajak ngobrol karena kamu nggak berisik. I love to talk to you all the time." — P. 183

"Kayak yang Om selalu ingatkan ke kalian, pinter-pinter dalam memilih pasangan. Jangan gegabah. Semuanya harus fully checked. Mungkin kalian juga bosan mendengarnya. Usia kalian bukan usia untuk main-main lagi. Walaupun begitu, tetap harus dipilih yang paling baik. Toh untuk masa depan kalian juga." — P. 188

"Kamu memang benar. Tapi nggak ada salahnya mencari yang terbaik, kan? Kamu masa lupa soal bibit, bebet, bobot yang pernah Papi kasih tahu ke kamu dan Ryan. Bibit bebet bobot itu penting untuk menentukan kualitas keturunan, Sayang. Kalau ayahnya kayak gitu, kan nggak menutup kemungkinan anaknya juga kayak gitu." — P. 204

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?" — P. 283

"Lo terlalu terpaku sama hasilnya, Nggun. Sampai lo ngelupain proses dari penjajakan ini. Yang ada di kepala lo cuma ini cowok skornya harus sekian, harus memenuhi semua target. Padahal untuk ngedapetin itu lo harus menjalani pendekatan itu, kan? Selama proses fit and propert test itu, secara nggak langsung lo ‘dipaksa’ untuk lebih peka sama gerak-gerik seseorang, berusaha untuk tahu apa sih maunya dia, serius nggak sih dia sama lo. It’s such a big learning, Anggun.” — P. 332

“Aku juga ngambil banyak hikmah dari kejadian ini kok, Pra. Ternyata kadang apa yang aku susun nggak selalu terjadi sesuai rencana. Ternyata standar aku terhadap menilai sesuatu itu bisa saja nggak terpenuhi. Ternyata toleransiku terhadap beberapa hal harus lebih dilonggarkan.” — P. 341


Sunday, January 11, 2026

[REVIEW] How To Be Popular in High School

How To Be Popular in High School
Reytia
Bhuana Sastra
222 Halaman

"Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.”


B L U R B

Isa yang dulu cupu dan terkucil saat SMP men­coba peruntungannya di SMA 743. Tujuannya satu: men­jadi cewek populer! Ia pun mendaftar di ekskul dance, tempat para cewek populer dan elite ber­kumpul. Namun, sialnya, Lexy, si ratu sekolah yang dulu mengucilkannya saat SMP, juga men­daftar di ekskul yang sama. Ditambah lagi ekskul dance terkenal dengan ploncoannya yang gila-gilaan.

Namun, Isa pantang menyerah! Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya juga layak diper­tim­bangkan dalam jajaran cewek populer di sekolah. Mulai dari tampil di depan senior, sampai pasang muka manis walau hati gondok berat. Bisakah Isa memanjat dinding terjal menuju popularitas?

- - - - - - - - - -


Banyak yang bilang, kehidupan masa SMA tuh masa-masa yang menyenangkan. Masa yang harus banget dinikmati, apalagi umur pas SMA tuh pas banget lagi nakal-nakalnya, jatuh cinta yang kerasa beneran, nggak lagi disebut cinta monyet.

Isa juga punya tekad yang sama. Memilih nggak melanjutkan sekolah di yayasan yang sama, bahkan sampe merubah potongan rambutnya, merombak gayanya habis-habisan supaya bisa populer. Tujuannya jadi anak populer. Nggak dikucilkan lagi.
“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.”— P. 80
Sayangnya, nggak demikian, berawal dari temen sebangku yang nggak keren-keren amat, teman belakang bangkunya yang kadang judes. Tapi tetep nggak menyurutkan keinginannya untuk jadi populer. Dia bisa aja masuk ke ekskul dance, dengan segala risiko peloncoannya yang aneh-aneh. Hanya saja, mimpi buruknya bener-bener tiba. Lexy, mimpi buruknya semasa SMP datang dan masuk di ekskul yang sama. Bisakah kali ini Isa menjadi populer seperti keinginannya dulu?


Membaca How to Be Popular in High School mengingatkanku di masa-masa SMA. Sama seperti Isa, aku juga mau kumpul jadi anak populer lho. Sudah bertekad kalau bakalan mencari teman baru di SMA, dan jadi anak keren. Tapi nyatanya, aku juga kumpulnya sama anak yang biasa-biasa aja, bukan anak basket, dance atau anak band. Ya gimana ya, aku juga sadar diri, pas SMA tuh aku masih jadi anak alay gitu deh. Cuma hobinya haha hihi sana sini.

Pernah dibully di SMP, kehidupan orangtua yang biasa aja, tentu ini cukup membuat Isa bimbang. Haruskah kayak begini dilaporkan ke orangtuanya? Harusnya kan nggak perlu, sudah cukup mereka bekerja keras aja kan?

Pas baca momen Isa masuk SMA dan mengambil jarak dari Tari, Nanda, dan Olen, aku agak kecewa sih. Karena nggak beda dong Isa dengan teman-temannya dulu? Nggak potensial untuk bikin dia populer kan nggak berarti harus diberi jarak? Lagian nyari temen populer kayaknya juga nggak segampang itu deh. Mendingan membaur ke banyak orang, kan?

Momen perploncoan itu bener-bener ngegambarin masa-masa SMAku dulu deh. Pas baca aku langsung berasa balik ke jaman OSPEK dan cari-cari ekskul. Paham banget sih gimana ditatarnya anak dance tuh. Soalnya memang butuh stamina yang kuat kan? Tapi Galactic agak keterlaluan sih.

Tokoh favoritku di sini adalah Olen, soalnya dia mirip aku banget. Kalo ngomong nyeplos, padahal niatnya baik. Hehe. Yang kedua, Vanya, sebagai senior, dia nggak memakai senioritas untuk melakukan plonco hal-hal yang nggak berguna. Love banget! Malahan dia selalu ngebela Isa, ngebantuin dia kalo memang ada kesulitan. Terakhir ada Galang, baik banget ini orang ya. Tegas banget, bener-bener menjalankan perannya sebagai anak MPK dengan baik. 

Last, suka sekali baca How to Be Popular in High School ini. Selain ceritanya deket sama kita secara konflik, bahasanya juga enak banget, mengalir. Aku berhasil baca ini dua jam aja. Seru banget soalnya. Jadi kepengen baca tulisan kak Reytia yang lain.


From the book…
“Dunia orang-orang sukses itu keras. Jika seseorang sudah tidak berguna, ia akan dibuang dan dijatuhkan. Ia harus selalu waspada dan memiliki banyak teman yang bisa membantu saat kesulitan.” — P. 32

“Lagi pula, hidup adalah tentang uang dan kekuasaan.” — P. 32

“Gue ngerti sih jadi anak yang populer itu emang asik. Tapi, buat jadi populer enggak harus lewat ekskul ini juga bisa, kali. Emang enggak ada cara lain, apa. Daripada lo di sini ditinggal-tinggal enggak jelas terus, mending lo cari tempat lain yang orangnya lebih waras enggak, sih?” — P. 76

“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.” — P. 80

“Gue enggak suka orang yang menyisihkan orang lain. Termasuk orang-orang yang memakai identitas eksklusif di sekolah, itu gue juga enggak suka. Biar apa sih? Biar keliatan kebih keren daripada anak-anak lainnya?” — P. 87

“Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.” — P. 114

“Lo itu orang baik, Isandra. Apa yang membuat lo berpikir kalau lo enggak layak mendapatkan teman yang baik?” — P. 144

“Bukannya lebih serem kalau kita enggak punya sikap cuma untuk disukai sama orang lain, ya? Semakin kita punya sikap, semakin besar kemungkinan kita enggak disukai orang lain, dan gue udah siap. Harus ada yang berubah dari keadaan sekolah ini, Sa.” — P. 157

“Obrolannya dengan Galang menyadarkan Isa bahwa ia masih punya banyak pilihan panggung untuk tempatnya bersinar. Untuk menuju ke sana, ia hanya perlu mulai dari satu hal: mencintai dirinya apa adanya.” — P. 166