It Was Until It Wasn’tTiplukBhuana Sastra320 Halaman
“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?”
B L U R B
It was love until it wasn’t.
It was pain until it wasn’t
It was hope until it wasn’t.
It was enough until it wasn’t.
Dimas tenggelam dalam luka cinta pertama yang membuatnya mencari penyembuh di mana-mana. Sementara Alana justru berusaha percaya bahwa luka cinta pertama tidak akan menghalanginya menemukan cinta yang lain.
Luka membawa mereka bertemu sebagai President dan Producer di Pelita Jaya Radio. Dari ruang siaran itu, dua orang yang terluka berusaha menemukan bahagia dari pertemuan mereka. Namun, ada yang hanya coba-coba dan ada yang benar-benar jatuh cinta.
- - - - - - - - - -
Dimas seorang President di Pelita Jaya Radio yang dikenal Tukang Ngalus Nasional. Entah sudah berapa cewek yang jadi ‘korban’nya. Giani, Vice President-nya sudah tidak tau harus komentar apalagi saking banyaknya korban yang berjatuhan, tidak terkecuali Alana. Anak baru sekaligus ‘anak’ Giani.
“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189
Bagi Alana, kehidupan akan baik-baik saja, selama dia berusaha untuk berbuat baik. Alana bisa dibilang tidak punya teman dekat yang dekat sekali. Masa SMA yang cukup buruk, membuat Alana menutup diri, berprasangka buruk bila berteman.
Kali ini, Alana sudah bertekad, di masa kuliahnya ini, dia mau membuka diri dan mencari teman, tidak lagi seperti Alana yang dulu. Dengan diterimanya dia di Pelita Jaya Radio, Alana berharap dia bisa mencari dan memiliki teman.
Tapi kalau harus dekat dan dimentori Dimas dengan segala perlakuan yang bisa bikin jantung Alana berdebar-debar, Alana harus bagaimana? Di sisi lain, Dimas juga sangat menikmati waktunya bersama Alana. Bersama Alana, semuanya seakan baik-baik saja. Tapi apa iya semuanya seperti yang diharapkannya?
Dimas Aidan, tipe cowok-cowok kuliahan yang nggak cuma ganteng, tapi mulutnya bikin kita jatuh cinta sama dia. Seperti cowok yang suka tepe-tepe, Dimas nggak pernah serius. Dia cuma butuh ditemenin aja sebenernya. Menyibukkan diri di PJR masih belum cukup untuknya.
Sampai saat kedatangan Alana, Dimas lumayan ketar-ketir, karena dia mengingatkannya sama sosok yang sedang jauh darinya. Bisa dibilang, Alana hampir mirip sama ‘dia’, yang namanya nggak boleh disebut di PJR, atau Dimas bakalan langsung sewot.
Sejak awal bab dan ketemu Dimas, aku kesel banget. Ralat. KESEL BANGET!!!! Aku nggak suka cowok yang tebar pesona soalnya. Kebanyakan dari mereka pasti player. Pasti suka main-mainin cewek. Dan bener aja, Dimas juga suka mainin cewek kan? Bahkan ada dari mereka yang sampe bete banget, bahkan mengundurkan diri dari jadwal demi nggak ketemu Dimas.
Tapi hebatnya Alana, dia bisa ‘menjinakkan’ Dimas. Nggak jinak yang bener-bener nurut sih. Tapi Dimas jadi lebih hidup aja. Ada kegiatan yang bisa membuat Dimas mengalihkan perhatiannya dari kesuntukan. Di sisi lain, Alana sebenernya juga punya luka sendiri. Kecentok sama cinta pertamanya yang bikin dia kehilangan banyak teman, bikin Alan bertekad untuk mencari teman aja. Minimal dia punya temen aja. Apalagi masa kuliah, kan masa yang lebih menyenangkan ketimbang SMA.
Selama baca, aku mencoba cari tau kenapa Dimas sebenernya, kesakitan apa yang ditinggalkan sama orang sebelumnya. Karena di bagian Alana diceritakan semua, sementara Dimas enggak. Bener-bener gemes banget deh sama Dimas.
Alur yang dipake maju mundur dan cukup lambat. Aku sempet agak capek bacanya. Plusnya menceritakan dari sisi Alana dan Dimas dari sudut pandang ketiga. Pembahasan tentang dunia radionya juga oke banget. Sangat mendetail, dan juga dijelaskan. Seru deh, kecuali Dimas. Konflik di sini cukup complicated. Nggak cuma batin, tapi juga mulut-mulut tetangga ini bikin setres kataku.
From the book…
“Ih, aku masih butuh banyak belajar, kok. Aku malah kagum banget sama kamu. Kamu itu orang paling berani yang aku kenal. Kamu nggak pernah bikin luka kamu sebagai halangan buat tetap jadi orang baik. Aku berharap aku seberani kamu, sih, Al.” — P. 38“Nggak boleh gitu. Nanti kalo kamu mau sesuatu, kamu harus bilang. Kalo kamu nggak mau, juga harus bilang. Kamu berhak milih dan memperjuangkan, Al. Inget itu, ya?” — P. 38“Lo ngerasa juga nggak sih, kadang kita seneng inget-inget masa lalu karena nggak suka sama masa sekarang?” — P. 76“Raska, when you put her happiness first, that’s what is called love.” — P. 83“Hatinya selalu merasa bahwa cinta tidak mungkin mudah untuk dia dapatkan karena sebelumnya kemudahan itu berakhir dengan perpisahan. Yang Alana kenal hanya cinta yang menyakitkan, cinta yang membuatnya berkorban dan berjuang untuk orang lain. Cinta harusnya seperti apa yang ia rasakan kepada Dimas.” — P. 104“Kamu tuh kayak adlibs. Aku cuma kasih tanda sedikit, tapi kamu improve-nya begini banget.” — P. 105“Sayang, pada akhirnya semua orang juga punya kehidupan masing-masing alaupun udah punya pasangan. Lo juga futsal nggak sama gue, kan? Lo freelance nggak sama gue, kan? Tapi, bukan berarti kita pisah, kan?” — P. 133 to 134“Pak, cinta itu nggak egois. Cinta itu harusnya membawa damai dan kebaikan. Cinta itu bertemu di tengah.” — P. 135“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189“Ya, tapi gimana? Susah buat nolong orang yang nggak mau ditolong.” — P. 190“Gimana pun Dimas itu sama Mbak RL, Al. Dan yang lo lakuin itu salah. If you can’t understand it, then I can’t help you.” — P. 197“Hurt people may hurt people, but they can choose not to. Selamanya lo nggak akan pernah sembuh kalo lo cari obatnya di orang lain.” — P. 203“I know the love is still there, but I can’t live with someone who doesn’t respect my feelings. Punya trauma dan nggak ngehargain orang lain adalah dua hal yang berbeda.” — P. 211“Kadang luka itu nggak bisa sembuh karena kita belum bisa nerima. Nerima kalo hal buruk itu terjadi, nerima hubungannya nggak bisa bertahan lagi. Susah sih, tapi mungkin cowok lo belum sampai tahap acceptance aja.” — P. 212“If you love something, set it free. Percuma lo paksain kalo malah nyakitin. Love will always find its way, Rev.” — P. 214“Kadang aku kayak liat aku yang dulu di Masdim. Sendu, kesepian… dan aku ngerasa nggak semua orang bisa lihat itu karena mereka selalu anggap kamu sempurna tapi suka nggak bisa berkomitmen aja. Padahal kamu cuman butuh ditemenin sama orang yang tepat. Mungkin karena kamu juga pernah kehilangan, jadi kamu lebih susah nerima orang di hidup kamu.” — P. 257“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” — P. 263“Saya nggak mau kamu intervensi hidup Dimas lagi. Biarin aja kalo dia emang harus hidup seperti ini terus-menerus. Kamu boleh cinta, Bu, tapi nggak boleh membabi buta.” — P. 263