Sunday, February 22, 2026

[REVIEW] Monster Minister



Monster Minister
Aya Widjaja
Kepustakaan Populer Gramedia
328 Halaman

“Sebaik-baiknya bos dan setinggi-tingginya gaji, pasti ada obrolan di belakang berisi caci maki.”

Sunday, February 15, 2026

[REVIEW] Cinta Bertepuk Sebelah Mana

Cinta Bertepuk Sebelah Mana
Dimas Abi
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.”


B L U R B

“Naryo, mungkin nggak sih persahabatan kita berakhir di pelaminan?”

Perkara Lian suka mengganti panggilan Gusti seenak jidat memang sudah tabiatnya. Namun, pertanyaan Lian itu sukses bikin Gusti minum obat masuk angin. Masalahnya, ia tak pernah menganggap Lian lebih dari sahabat, meski orangtua mereka berharap sebaliknya. Dengan janji akan memberikan kepastian, Gusti berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya.

Namun, Gusti menyimpan tujuan lain: mencari Seruni, cinta lamanya yang dulu tak pernah terbalas. Takdir mempertemukan mereka kembali, dan kali ini Seruni memberi isyarat yang berbeda. Gusti kini terjebak dalam dua pilihan yang rasanya mustahil. Cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini berubah menjadi cinta bertepuk… sebelah mana?

- - - - - - - - - - -

Bagi Gusti, persahabatannya dengan Lian sejak jaman SMP ya bener-bener hanya sahabatan. Tempat dia nyambat, susah, seneng, apalagi orangtua mereka juga udah deket. Tapi ketika pertanyaan Lian dipenghujung umurnya yang menjelang kepala tiga, Gusti kembali memikirkan persahabatannya lagi selama ini. Masa iya, sahabat jadi cinta? 
“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225
Bukannya Lian nggak cantik, tapi yang Gusti mau bukan Lian. Gusti maunya sama Seruni, cinta pertamanya, cinta monyetnya, cinta sekonyong-konyong kodernya. Kali ini, dengan perjalanannya ke Jepang untuk melanjutkan studi, Gusti juga memiliki agenda lain yaitu bertemu dengan Seruni. Kira-kira gayung bersambut nggak ya? Mengingat Seruni dulu adalah idola semua orang, apa ya nggak makin minder Gusti deketinnya?


Seperti kata kebanyakan orang, pertemanan dua orang yang beda gender itu biasanya nggak ada yang beneran murni. Pasti salah satunya jatuh cinta. Sama seperti Lian dan Gusti, berteman sejak jaman SMP, membuat keduanya paham sifat baik-buruk keduanya. Termasuk siapa yang disukai satu sama lain.

Banyak juga yang bilang first love never dies, cinta pertama nggak pernah mati. Dia cuma tertidur nyenyak aja. Mungkin ini yang dirasakan sama Gusti sama Seruni, cinta pertamanya sejak SMA. Ketika ada kesempatan untuk lanjut S2 ke Jepang dan bertemu kembali, kenapa enggak? Sambil menyelam, minum air!

Pas awal membaca kisah Gusti-Lian-Seruni, aku sempat jadi tim Gusti-Seruni. Soalnya Gusti kan memperjuangkan cinta yang sejak dulu diinginkan, kenapa enggak? Tapi pas tau kalo Seruni nggak sebaik itu, kayaknya jadi temen aja deh. Mendingan sama Lian aja. Daripada makan ati sama Seruni. Ternyata banyak juga ya orang yang enak untuk diajak berteman aja ketimbang masuk dalam suatu hubungan.

Selama membaca dari pertengahan sampe akhir, seru banget sih. Selain melihat perjuangan Gusti mendapatkan Seruni, kita juga diajak jalan-jalan ke Jepang yang memanjakan mata banget. Sesekali aku berhenti untuk cek tempat-tempat yang didatangi sama Gusti dan Herman.

Mengambil setting tempat di Jepang dan Yogyakarta, kita juga diselipkan bagaimana kebiasaan penduduk setempat, budayanya, dan juga bahasanya.

Sosok yang paling kusuka di sini malah Herman, sahabatnya Gusti yang juga kebetulan S2 bareng sama Gusti. Dia ini cowok yang realistis banget, meskipun kadang agak norak dikit. 

Menurutku, buku ini nggak cuma mengajarkan siapa yang lebih pantas buat kita, tapi juga perlakuan dalam satu hubungan. Apalagi melihat Seruni yang cukup dominan dan banyak ngatur di sini. Dan kayaknya kebanyakan cowok tuh lebih ‘nangkep’ perasaannya setelah ditinggal atau bahkan dicuekin dulu ya?

Overall, menikmati sekali baca kisah Gusti-Lian-Seruni ini, sambil menikmati Yogyakarta dan Jepang.


From the book …
“Ibuk nggak lihat itu sebagai masalah, Gus. Lian itu baik, pinter, nyambung, dan yang jelas wes ngerti kamu. Dalam pernikahan justru itu yang penting. Lihat Bapak dan Ibuk, bisa bertahan gara-gara itu semua.” — P. 14

“Maksudku gini, Gus. Ada 133 juta wanita di Indonesia. Ini data BPS lho. Artinya banyak banget pilihane, Gus. Dan dirimu tetap terjebak di satu cewek?” — P. 87

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.” — P. 133

“Berbahagia karena seseorang itu boleh. Tapi menggantungkan kebahagiaan hanya ke segelintir orang, nah iku sing bikin mumet, Nduk.” — P. 187

“Intinya gini lho, Nduk. Sebagian besar yang ada di hidupmu ini, sebenarnya adalah hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Termasuk perasaanmu, masalahmu. Bunda nggak bisa ngatur perasaanmu, Bunda juga nggak bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu sendiri yang bisa mengatur dan menyelesaikannya. Bunda cuma bisa bantu.” — P. 188

“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225

“Gini, Gus. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan, setiap kesalahan punya konsekuensi. Ini konsekuensi yang harus kamu jalani. Kamu juga sih, Gus, ada Lian yang sayang sama kamu, tapi kamunya merem.” — P. 241


Sunday, February 8, 2026

[REVIEW] Ikan Kecil

Ikan Kecil
Ossy Firstan
Gramedia Pustaka Utama
248 Halaman

“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.”


B L U R B

Pertanyaan “kapan hamil?” harus dijawab oleh pasangan suami-istri Celoisa dan Deas dengan senyuman selama 45 bulan. Akhirnya mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan kehadiran “ikan kecil” di perut Celoisa. Namun, ternyata itu bukan akhir dari masalah kehidupan rumah tangga mereka.

Saat bayi Olei tumbuh perlahan, Loi dan Deas merasakan ada yang berbeda dari perkembangan anak mereka. Olei sulit sekali diajak berinteraksi. Sepertinya bayi itu hidup dalam dunianya sendiri. Setelah serangkaian tes dijalani Olei, vonis autis datang, Loi pun langsung diterjang rasa bersalah dan penyangkalan demi penyangkalan.

Ini kisah tentang “ikan” di perut yang lahir ke dunia. Tentang mendapatkan apa yang tak pernah diharapkan dan berusaha menerima apa yang tidak pernah diminta.

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak.”

- - - - - - - - - - -

Menikah dan punya anak sekarang sudah seperti perlombaan. Siapa cepat, dia pemenangnya. Nggak hanya berhenti sampai disana, kalau punya anak satu, ditanyain kapan punya anak selanjutnya. Kalau sudah agak besar, ditanyai pencapaiannya apa. Nggak ada habisnya. Begitu pula, dengan Celoisa dan Deas. Setelah berusaha selama empat puluh lima bulan, akhirnya mereka berhasil mendapatkan ‘ikan kecil’ untuk rumah tangga mereka.
“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105
Seharusnya, punya anak saja cukup kan? Tapi ternyata tantangan nggak berhenti di sana. Tumbuh kembang anak pun masuk jadi bahan pertandingan. Bagaimana kalau Olei tidak bisa mencapai tumbuh kembang seusianya? Bagaimana Celoisa dan Deas harus bersikap?


Memilih Ikan Kecil dari sekian banyak buku yang ada di gramedia digital itu cukup bikin ketar-ketir. Awalnya, kukira hanya tentang memiliki anak aja, maklum, aku biasanya nggak baca blurbnya, dan beberapa teman bookstagram sudah membaca, aku kira aman ya. Ternyata cukup bikin aku yang punya anak ketar-ketir.

Menikah dan punya anak, ini seperti perlombaan dan hal wajib dalam masyarakat. Target menikah harus diumur sekian, target punya anak pertama umur sekian, anak cuma satu? Kenapa nggak dua? Anak sudah dua? Kenapa nggak nambah lagi? Nanti kalo sudah sekolah, kenapa nggak sekolah di tempat A/B/C? Bener-bener standarnya banyak bener.

Nggak cuma membahas tentang kehidupan pernikahan Celoisa dan Deas, tapi juga banyak membahas tentang bagaimana saat kehamilan, lahiran dan punya anak. Lengkap banget. 

Deas di sini bener-bener jadi ayah yang siaga! Bisa membersamai Celoisa yang down sejak hamil, menyusui, dan membesarkan Eloi. Bahkan mau repot untuk riset lebih dalam tentang anak autis dan ngajak Celoisa untuk ikut andil di dalamnya. Salut buat Deas. Reaksi Celoisa di sini juga bisa diterima, meskipun pas awal aku agak kesel sama dia, tapi kalau aku di posisi Celoisa pun aku mungkin melakukan hal yang sama.

Menurutku, menikah dan punya anak itu juga nggak harus ada standarnya sendiri kok. Mau nikah umur 30 atau 35, punya anak diumur 35 pun nggak masalah. Memang, risikonya lebih besar, tapi bisa dibantu dengan vitamin dan lainnya. 

Mengurus anak, nggak hanya jadi tanggung jawab Ibu aja. Tapi Ayah juga harus ikut dalam perkembangan anak. Apalagi kalau anak ini ‘spesial’, hadirnya ayah jadi semakin penting. Punya anak yang normal aja susah banget kalo cuma ngurus sendirian, apalagi anak spesial.

Membaca Ikan Kecil kembali mengingatkanku ke masa-masa awal lahiran, capeknya pumping, dan menyusui, masa-masa ngecek milestone terus apa anaknya udah sesuai ya perkembangannya? Apa yang kurang?

Sangat merekomendasikan baca Ikan Kecil untuk semuanya. Karena nggak cuma calon orangtua, siapa tau kita bisa jadi saudara yang tanggap untuk bantu saat saudara lainnya udah punya anak.


From the book …
“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.” — P. 58

“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105

“Kadang kita harus berhenti menyalahkan dan lihat ke depan, Loi. Untuk apa ngungkit-ngungkit sebab kalau itu bikin apa yang bisa kita perbaiki terbengkalai?” — P. 119

“Jangan menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang bukan salah kamu, Loi.” — P. 128

“Mama yakin kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Olei. Tinggal kamunya, mau atau nggak jadi ibu yang baik untuk Olei? Mengikhlaskan keadaan itu nggak bisa instan, Nduk. Pelan-pelan.” — P. 144

“Aku nggak tahu apakah ini berhasil, tapi aku cuma berusaha, Loi. Aku pengin kamu balik jadi Loi yang dekat ke Olei sebelum vonis autis ada. Aku mau Olei tahu orangtuanya sayang sama dia. Bahwa dia ada karena orangtuanya yang meminta ada, dan dia merasa beruntung punya kita sebagai orangtua.” — P. 183

“Hmm.. mungkin lapang dada itu ikhlas ya, Loi. Misal baju kita ketumpahan cat, ya kita harus terima bajunya kotor. Daripada ngabisin tenaga marah-marah sama catnya, mending kita cuci bajunya. Kalau memang nggak bisa hilang, mungkin sudah saatnya jadi kain pel.” — P. 187

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak. Kalau Olei nggak pernah protes sudah dilahirkan dengan keadaan seperti itu, nggak pernah protes punya ibu yang belum bisa menerima dia, kenapa kamu nggak mau berusaha terima dia?” — P. 188


[REVIEW] Dua Sisi

Dua Sisi
Arata Kaivan
Wattpad
205 Halaman

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.”


B L U R B

Di dunia di mana garis batas antara benar dan salah hanyalah ilusi, beberapa orang terpaksa berjalan di tepi bayangan. Gilang, Rizal, Chacha, dan sekutu mereka berjuang melawan organisasi gelap yang memiliki kekuatan jauh melampaui yang bisa mereka bayangkan. Setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke konflik yang tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga moral dan hubungan mereka.

Di balik setiap baku tembak dan pengkhianatan, tersimpan dilema yang lebih besar: bagaimana menebus janji, melindungi yang dicintai, dan tetap hidup ketika sistem hukum dan kekuatan yang lebih besar menuntut harga yang mahal? Keputusan mereka bisa menyelamatkan nyawa atau menghancurkan semuanya.

Dua Sisi adalah kisah tentang keberanian di tengah kegelapan, pengorbanan yang pahit, dan 
pencarian identitas di dunia yang menuntut orang untuk memilih antara hidup atau tetap 
menjadi hantu. Di antara pertempuran, strategi, dan trauma, setiap karakter harus menemukan sisi mana yang akan mereka pertahankan: sisi kemanusiaan mereka... atau sisi bertahan hidup yang tak kenal ampun.

- - - - - - - - - 

Dua Sisi merupakan lanjutan dari Satu Titik, jadi untuk yang mau membaca review sebalumnya dipersilahkan.

Kehidupan Rizal, Gilang, Chacha, Ilham, dan sebagian anak geng motor mulai terpecah. Fokus Gilang, Rizal, Chacha dan Ilham tentu saja memberantas geng Hydra, agar tidak ada lagi penguasa yang bertindak seenaknya, bermain politik sesuka hati mereka. Keempatnya selalu berusaha untuk menyusup dan menghancurkan lini bisnis mereka satu persatu, dalam diam.
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40
Nggak hanya harus bermain cantik, keempatnya juga harus terus saling menjaga satu sama lain. Mereka hanya punya satu sama lain. Jika salah satunya lepas, maka mereka akan kelabakan untuk membagi tim. Memberantas kegelapan memang salah satu misi mereka, tapi kalau sampai menaruhkan nyawa, apakah setimpal?


Kalau di buku pertama kita diajak mengenal geng motor, gangster, dan Hydra, para petingginya, siapa yang ada di dalamnya, dan intriknya. Kalau di buku kedua ini lebih seru lagi. Semua petinggi Hydra dan gangster Jaggermesiter, yang ternyata ada Jenderal isipol di sana. Belum lagi Gilang, Rizal, Chacha, Ilham, dan teman lainnya juga harus melakukan penyerangan secara bergerilya, karena tugas mereka tidak resmi dari Kepolisian, sehingga hal ini sedikit banyak menyulitkan mereka.

Nggak hanya Gilang dan RIzal, Riki juga ikutan membalaskan dendamnya pada Richard, partner bisnisnya. Waktu liat Riki yang berusaha ngelawan Richard, aku jadi keinget adegan di Taxi Driver 3! Seru, tapi juga ngilu.

Sepanjang membaca, aku dibawa untuk ikut bersama dengan Gilang dan Rizal dalam menyelesaikan tugas mereka. Tembakan, penculikan, pembakaran, semua ide-ide mereka untuk meringkus dan menjatuhkan Hydra. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Hydra sendiri. Pas saling berkhianat ini, berasa lagi ikutan main Werewolf. Soalnya mereka bener-bener fragile banget. Saling curiga, saling tuduh, dan saling main belakang. Tapi tentu aja hal ini malah memudahkan Gilang dan lainnya untuk menjatuhkan mereka.


From the book…
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40

“Sejak kapan lo jadi naif, Gilang? Pengkhianatan itu hal yang biasa, Gilang. Di tempat kita berdiri sekarang, saling gigit itu udah hal lumrah dan ya, gue belajar dari jenderal itu. Gue mau bersihin sampah sebelum duduk kursi yang benar, tanpa harus ngotorin tangan.” — P. 150

“Karena lo nggak akan pernah dapetin orang yang percaya sama diri lo, pengkhianat nggak pantes bersanding bareng loyalitas.” — P. 151

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.” — P. 204

Sunday, February 1, 2026

[REVIEW] Cinta yang Tak Bisa Dipercaya

Cinta yang Tak Bisa Dipercaya
Dadan Erlangga
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

"Setiap orang pernah berbuat salah terhadap orang lain. Sebagian dari mereka merasa bersalah dan menyesalinya, sisanya mungkin belum, atau nggak sama sekali.”


B L U R B

Sejak MOS, Taya udah naksir Tezar, salah satu cowok terganteng di SMA-nya. Jadi waktu Tezar tiba-tiba nembak, Taya seneng banget!

Sayangnya cowok itu masih terlalu jauh untuk ia gapai, karena setelah mereka jadian pun, Tezar nggak mau bersentuhan dengannya. Taya jadi curiga, jangan-jangan Tezar nggak beneran suka sama dia!

Hingga pada kencan pertama, sebuah tragedi menimpa mereka dan menyuburkan kecurigaan dalam hati Taya. Perlahan semua tabir masa lalu tersingkap. Apa yang sebenarnya Tezar sembunyikan? Mungkinkah mereka menjalani cinta meski hati terus dihinggapi tanya?

- - - - - - - - - -

Cewek-cewek di SMA Cakrawala pasti setuju kalo Tezar dinominasikan sebagai cowok yang terganteng dan tidak aneh-aneh. Selama ini, dia hanya terlihat bersama kedua sahabatnya aja–Nando dan Haikal. Meskpun sering dikejar banyak cewek, hal itu nggak membuat Tezar jadi cowok yang misterius. Dia tetap menjadi cowok yang biasa aja, nggak sok cool juga.
“Realistis aja, Zar. Kamu tuh ganteng, keren, populer. Sedangkan aku...? Biasa aja, biasa banget, bahkan pasti ada yang menganggapku jelek. Kamu bisa pacaran sama cewek yang selevel sama kamu; yang cantik, keren, dan populer. Kamu nggak perlu repot-repot nyatain perasaan dan ngajakin cewek kayak aku pacaran sama kamu." — P. 26
Taya termasuk salah satu cewek yang menyukai Tezar, tapi Taya nggak pernah seekspresif cewek-cewek lain. Bahkan dia terkenal dengan sebutan pokerface. Sedatar itu. Keanehan lainnya, Tezar mendekati Taya dan mengajak dia berkencan! Kemajuan banget dong? Apalagi Taya juga nggak effort, ini namanya durian runtuh. Kencan pertama mereka nggak begitu terkesan, tapi ada kejadian aneh yang bikin Taya mikir keras, apa kejadian itu beneran apa enggak?


Kembali membaca karya kak Dadan! Jujur aku penasaran banget sama karyanya kak Dadan yang kali ini. Selain dari judulnya yang lumayan panjang, katanya ini mengangkat isu mental health, tapi pas baca awal-awal, bingung di mana mental healthnya.

Taya dan Tezar ini mengingatkanku di masa-masa sekolah. Masa seneng-senengnya ngejar cowok yang kita suka, kadang diem-diem ngasih makanan ringan gitu, kencan ke mall, nonton bioskop. Duh gemes bangettt. Awalnya aku malah mengira ini tuh cerita thriller ya. Soalnya Tezar kadang agak menyeramkan gitu. Kadang juga kukira dia ini bipolar, saking aneh dan cepet banget perubahannya.

Novel ini diambil dari dua sudut pandang, Taya dan Tezar, jadi ada beberapa kali pengulangan kejadian, dan menurutku ini sedikit mengganggu. Meskipun bisa menjelaskan posisi salah satunya, tapi mengulang-ngulang aja gitu. Alur yang dipakai di sini cukup cepat, perpindahannya cepet banget. Aku berasa kayak diajak lari sama Taya-Tezar. 

Mengangat tentang isu kesehatan mental yang mungkin buat sebagian orang tuh remeh banget. Dipegang dan dicubit, pasti beberapa orang langsung mengira, ah itu mah biasa aja, cuma dicubit. Tapi sesuatu hal yang dilakukan tanpa persetujuan kedua belah pihak, itu termasuk pelecehan. Ini yang orang kurang paham. 

Penyelesaian novel ini cukup bikin heartwarming. Dari Cinta yang Tak Bisa Dipercaya ini kita diperjelas lagi, bahwa setiap kesalahan yag kita lakukan, nggak semuanya bisa dengan mudah dapat permintaan maaf dan dilupakan gitu aja. Sekali lagi, pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa aja, nggak terbatas perempuan dan remaja, bisa juga laki-laki dan anak kecil.


From the book...
"Realistis aja, Zar. Kamu tuh ganteng, keren, populer. Sedangkan aku...? Biasa aja, biasa banget, bahkan pasti ada yang menganggapku jelek. Kamu bisa pacaran sama cewek yang selevel sama kamu; yang cantik, keren, dan populer. Kamu nggak perlu repot-repot nyatain perasaan dan ngajakin cewek kayak aku pacaran sama kamu." — P. 26

"Jatuh cinta memang tanpa logika, tetapi bersikap realistis adalah pilihan yang bijaksana." — P. 26 to 27

"Dalam hidup, kita akan bertemu dengan orang-orang yang membuat kita nyaman dan orang-orang yang membuat kita nggak nyaman. Terkadang kita bisa memilih, tetapi ada kalanya kita nggak bisa memilih. Maka, yang harus kita lakukan adalah fokus pada hal-hal yang membuat kita senang dan nyaman." — P. 45

"Ada yang nggak beres dengan cara kerja dunia ini. Mungkin memang cewek yang lebih sering dirugikan. Tapi bukan berarti cowok bisa selalu aman dan diuntungkan.Nggak! Cowok juga ada peluang dilecehkan. Dan mirisnya, ketika cowok menjadi korban pelecehan, dunia seolah-olah menutup mata." — P. 60

"Kamu boleh peduli sama temen, sama siapa pun yang menurut kamu layak dipeduliin. Tapi, jangan sampai kepedulian itu jadi nyusahin diri sendiri dan malah melibatkan kamu dalam masalah baru. Sebaiknya kepedulianmu itu dilakukan dengan cara-cara yang lebih tenang, nggak emosional kayak tadi. Oke?" — P. 85

"Kalau soal ngelindungin seseorang dari tindak kekerasan itu nggak ada hubungannya sama gender. Cewek ataupun cowok sama-sama bisa kena kekerasan dalam bentu apa pun, dan dua-duanya punya hak untuk mendapatkan perlindungan. Jadi, ya kita harus sama-sama saling melindungi." — P. 141

"Kamu tahu? Terkadang, orang itu nggak selalu seperti yang kita pikirkan. Setiap orang punya topeng masing-masing, punya selubung sendiri-sendiri. Yang kita anggap jahat, bisa aja baik. Dan yang kita anggap baik... bisa jadi malah sebaliknya." — P. 142

"Gue percaya, di dunia ini nggak ada seorang pun yang ingin balas dendam terhadap orang-orang yang pernah menyakiti mereka. Yang mereka inginkan adalah ketenangan dan kedamaian. mereka hanya nggak tahu cara mendapakannya selain dengan membalas dendam." — P. 208

"Setiap orang pernah berbuat salah terhadap orang lain. Sebagian dari mereka merasa bersalah dan menyesalinya, sisanya mungkin belum, atau nggak sama sekali.” — P. 209

“Waktu anak lo tumbuh gede, tolong kasih tahu mereka untuk bersikap baik sama orang lain. Kasih tau mereka kalau mereka nggak berhak memperlakukan orang lain dengan kasar, semen-mena, atau melecehkan orang lain dengan alasan apa pun. Kalau mau bercanda, ada banyak cara bercanda yang memang lucu dan menyenangkan buat kedua belah pihak.” — P. 210

“Rasa takut membuat kita lebih waspada, hati-hati, dan curiga, memunculkan insecurity dan trust issue. Bisa jadi, setelah mengetahui kebenaran tentang kejadian malam itu,Taya juga mulai ngerasa nggak aman, nggak nyaman, dan nggak percaya lagi sama kamu.” — P. 213

“Harapan memang selalu ada, tapi hidup terkadang mempermainkan kita. Saya ingin kamu mempersiapkan diri menghadapi semua kemungkinan.” — P. 215



[REVIEW] It Was Until It Wasn’t

It Was Until It Wasn’t
Tipluk
Bhuana Sastra
320 Halaman

“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” 


B L U R B

It was love until it wasn’t.
It was pain until it wasn’t
It was hope until it wasn’t.
It was enough until it wasn’t.
 
Dimas tenggelam dalam luka cinta pertama yang membuatnya mencari penyembuh di mana-mana. Sementara Alana justru berusaha percaya bahwa luka cinta pertama tidak akan menghalanginya menemukan cinta yang lain.
 
Luka membawa mereka bertemu sebagai President dan Producer di Pelita Jaya Radio. Dari ruang siaran itu, dua orang yang terluka berusaha menemukan bahagia dari pertemuan mereka. Namun, ada yang hanya coba-coba dan ada yang benar-benar jatuh cinta.

- - - - - - - - - -

Dimas seorang President di Pelita Jaya Radio yang dikenal Tukang Ngalus Nasional. Entah sudah berapa cewek yang jadi ‘korban’nya. Giani, Vice President-nya sudah tidak tau harus komentar apalagi saking banyaknya korban yang berjatuhan, tidak terkecuali Alana. Anak baru sekaligus ‘anak’ Giani.
“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189
Bagi Alana, kehidupan akan baik-baik saja, selama dia berusaha untuk berbuat baik. Alana bisa dibilang tidak punya teman dekat yang dekat sekali. Masa SMA yang cukup buruk, membuat Alana menutup diri, berprasangka buruk bila berteman.

Kali ini, Alana sudah bertekad, di masa kuliahnya ini, dia mau membuka diri dan mencari teman, tidak lagi seperti Alana yang dulu. Dengan diterimanya dia di Pelita Jaya Radio, Alana berharap dia bisa mencari dan memiliki teman. 

Tapi kalau harus dekat dan dimentori Dimas dengan segala perlakuan yang bisa bikin jantung Alana berdebar-debar, Alana harus bagaimana? Di sisi lain, Dimas juga sangat menikmati waktunya bersama Alana. Bersama Alana, semuanya seakan baik-baik saja. Tapi apa iya semuanya seperti yang diharapkannya?


Dimas Aidan, tipe cowok-cowok kuliahan yang nggak cuma ganteng, tapi mulutnya bikin kita jatuh cinta sama dia. Seperti cowok yang suka tepe-tepe, Dimas nggak pernah serius. Dia cuma butuh ditemenin aja sebenernya. Menyibukkan diri di PJR masih belum cukup untuknya.

Sampai saat kedatangan Alana, Dimas lumayan ketar-ketir, karena dia mengingatkannya sama sosok yang sedang jauh darinya. Bisa dibilang, Alana hampir mirip sama ‘dia’, yang namanya nggak boleh disebut di PJR, atau Dimas bakalan langsung sewot.

Sejak awal bab dan ketemu Dimas, aku kesel banget. Ralat. KESEL BANGET!!!! Aku nggak suka cowok yang tebar pesona soalnya. Kebanyakan dari mereka pasti player. Pasti suka main-mainin cewek. Dan bener aja, Dimas juga suka mainin cewek kan? Bahkan ada dari mereka yang sampe bete banget, bahkan mengundurkan diri dari jadwal demi nggak ketemu Dimas.

Tapi hebatnya Alana, dia bisa ‘menjinakkan’ Dimas. Nggak jinak yang bener-bener nurut sih. Tapi Dimas jadi lebih hidup aja. Ada kegiatan yang bisa membuat Dimas mengalihkan perhatiannya dari kesuntukan. Di sisi lain, Alana sebenernya juga punya luka sendiri. Kecentok sama cinta pertamanya yang bikin dia kehilangan banyak teman, bikin Alan bertekad untuk mencari teman aja. Minimal dia punya temen aja. Apalagi masa kuliah, kan masa yang lebih menyenangkan ketimbang SMA.

Selama baca, aku mencoba cari tau kenapa Dimas sebenernya, kesakitan apa yang ditinggalkan sama orang sebelumnya. Karena di bagian Alana diceritakan semua, sementara Dimas enggak. Bener-bener gemes banget deh sama Dimas.

Alur yang dipake maju mundur dan cukup lambat. Aku sempet agak capek bacanya. Plusnya menceritakan dari sisi Alana dan Dimas dari sudut pandang ketiga. Pembahasan tentang dunia radionya juga oke banget. Sangat mendetail, dan juga dijelaskan. Seru deh, kecuali Dimas. Konflik di sini cukup complicated. Nggak cuma batin, tapi juga mulut-mulut tetangga ini bikin setres kataku.


From the book…
“Ih, aku masih butuh banyak belajar, kok. Aku malah kagum banget sama kamu. Kamu itu orang paling berani yang aku kenal. Kamu nggak pernah bikin luka kamu sebagai halangan buat tetap jadi orang baik. Aku berharap aku seberani kamu, sih, Al.” — P. 38

“Nggak boleh gitu. Nanti kalo kamu mau sesuatu, kamu harus bilang. Kalo kamu nggak mau, juga harus bilang. Kamu berhak milih dan memperjuangkan, Al. Inget itu, ya?” — P. 38

“Lo ngerasa juga nggak sih, kadang kita seneng inget-inget masa lalu karena nggak suka sama masa sekarang?” — P. 76

“Raska, when you put her happiness first, that’s what is called love.” — P. 83

“Hatinya selalu merasa bahwa cinta tidak mungkin mudah untuk dia dapatkan karena sebelumnya kemudahan itu berakhir dengan perpisahan. Yang Alana kenal hanya cinta yang menyakitkan, cinta yang membuatnya berkorban dan berjuang untuk orang lain. Cinta harusnya seperti apa yang ia rasakan kepada Dimas.” — P. 104

“Kamu tuh kayak adlibs. Aku cuma kasih tanda sedikit, tapi kamu improve-nya begini banget.” — P. 105

“Sayang, pada akhirnya semua orang juga punya kehidupan masing-masing alaupun udah punya pasangan. Lo juga futsal nggak sama gue, kan? Lo freelance nggak sama gue, kan? Tapi, bukan berarti kita pisah, kan?” — P. 133 to 134

“Pak, cinta itu nggak egois. Cinta itu harusnya membawa damai dan kebaikan. Cinta itu bertemu di tengah.” — P. 135

“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189

“Ya, tapi gimana? Susah buat nolong orang yang nggak mau ditolong.” — P. 190

“Gimana pun Dimas itu sama Mbak RL, Al. Dan yang lo lakuin itu salah. If you can’t understand it, then I can’t help you.” — P. 197

Hurt people may hurt people, but they can choose not to. Selamanya lo nggak akan pernah sembuh kalo lo cari obatnya di orang lain.” — P. 203

I know the love is still there, but I can’t live with someone who doesn’t respect my feelings. Punya trauma dan nggak ngehargain orang lain adalah dua hal yang berbeda.” — P. 211

“Kadang luka itu nggak bisa sembuh karena kita belum bisa nerima. Nerima kalo hal buruk itu terjadi, nerima hubungannya nggak bisa bertahan lagi. Susah sih, tapi mungkin cowok lo belum sampai tahap acceptance aja.” — P. 212

If you love something, set it free. Percuma lo paksain kalo malah nyakitin. Love will always find its way, Rev.” — P. 214

“Kadang aku kayak liat aku yang dulu di Masdim. Sendu, kesepian… dan aku ngerasa nggak semua orang bisa lihat itu karena mereka selalu anggap kamu sempurna tapi suka nggak bisa berkomitmen aja. Padahal kamu cuman butuh ditemenin sama orang yang tepat. Mungkin karena kamu juga pernah kehilangan, jadi kamu lebih susah nerima orang di hidup kamu.” — P. 257

“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” — P. 263

“Saya nggak mau kamu intervensi hidup Dimas lagi. Biarin aja kalo dia emang harus hidup seperti ini terus-menerus. Kamu boleh cinta, Bu, tapi nggak boleh membabi buta.” — P. 263