Sunday, May 24, 2026

[REVIEW] Hingga Hilang Pedih Peri

Hingga Hilang Pedih Peri
Akaigita
Bhuana Sastra
276 Halaman

“Setidaknya, itu cara seseorang pemimpin terlihat berwibawa di mata saingannya. Memiliki rakyat yang sepenuhnya tunduk, entah karena cinta atau rasa takut, kepada kita. Itu memberi ilusi kekuatan dan pengaruh yang besar.


B L U R B

Sejak sebuah tragedi yang menimpa ia dan orang tuanya, Jeff mempunyai kemampuan untuk memanipulasi waktu dan melihat riwayat luka seseorang lewat sentuhan.

Jeff yang semula ingin menyembunyikan kemampuannya dari siapa pun, berubah sejak ia bertemu Brie, seorang wanita yang mempunyai riwayat luka selama 700 tahun. Jeff mencurigai wanita itu adalah Putri Reno Pinang Masak. Seorang tokoh cerita rakyat Jambi yang pernah hidup berabad-abad silam.

Namun ternyata, pertemuan mereka justru memicu kematian banyak orang di masa kini dan masa lalu.

- - - - - - - - -

Bagi Jeff, kehidupannya saat ini cukup baik. Memiliki keluarga angkat yang baik, ada Mileva—ketua kelas sekaligus satu-satunya orang yang cukup dekat dengannya. Lengkap dengan kekuatan anehnya yang bisa memanipulasi waktu dan melihat riwayat luka seseorang, tak masalah, yang terpenting dia tidak sembarangan menyentuh orang.
“Dengar, Jeff, aku tidak pernah belajar fisika kuantum, tapi jika kekhawatiranku benar, hal-hal kecil yang kita lakukan saat ini bisa saja mengubah masa depan secara keseluruhan.” — P. 82
Pada hari itu, Jeff bertemu dengan Brie, seorang perempuan yang sudah hidup selama 700 tahun. Sentuhan tidak sengaja itu membuat Jeff mengetahui bahwa Brie memiliki banyak riwayat luka. Ketika mengetahui hal ini, Jeff segera mengeluarkan sinyal waspadanya. Sejauh yang dia tahu, tidak ada yang riwayat lukanya sebanyak dan sepanjang Brie. Sebenarnya, Brie ini siapa?

Brie sendiri terkejut, mengetahui ada yang memiliki kemampuan yang mirip dengan miliknya. Akhirnya, Brie memutuskan untuk mendekati Jeff dan Mileva, yang saat itu sedang mencari info tentang cerita rakyat Jambi. Setelahnya, Brie memilih untuk menemui Jeff sendiri, dan mengatakan atas rahasia yang dimilikinya selama ini. Aneh, tapi apa memang hanya mereka berdua yang memiliki kemampuan ini?

Hingga Hilang Pedih Peri merupakan novel pertama Akaigita yang kubaca, padahal aku tahu beberapa novel karya sejak beberapa tahun lalu. Meski ini novel perkenalan pertama, tapi buatku berkesan banget.

Novel ini dibagi menjadi empat bagian. Masa Kini, Masa Lalu, Masa-masa yang Tidak Begitu Lampau, dan Masa Kini yang Berbeda. Masa kini menceritakan pertemuan Brie-Jeff-Mileva, bagaimana keadaan mereka saat ini, terkhusus Brie-Jeff. Ternyata, meski mereka memiliki kekuatan yang hampir sama, entah kenapa Brie bisa membawa dirinya dan Jeff ke masa lalu.

Dengan melakukan time travel ini, Brie sangat berharap dia bisa mengulang kembali masanya, mengkoreksi kesalahannya, supaya dia tidak harus hidup terus menerus selama tujuh ratus tahun yang melelahkan. 

Ketika membaca blurb, kukira ini hanya akan membahas dunia Jeff-Brie saja, tapi ternyata lebih dari itu. Kita semua rasanya sudah tau kalau melakukan time travel, berarti akan ada perubahan yang nantinya akan terjadi di masa depan. Entah tetap dengan takdir yang sama atau bukan, pasti ada beberapa perubahan yang terasa. 

Permasalahan yang diangkat di sini juga cukup kompleks. Hubungan orang tua, pengasuhan anak, trauma akibat kecelakaan, pengambilan keputusan untuk kepentingan orang banyak, dan juga mengikhlaskan masa lalu.

Sewaktu membaca bagian Masa Lalu, aku rasanya seperti melihat kejadian di negeri ini. Betapa seorang pemimpin harus bisa diandalkan untuk membela rakyat. Gimana keputusan sekecil apa pun harus tetap mempertimbangkan rakyat dan kepentingan banyak orang. Bagaimana akhirnya kerakusan nggak akan membuat kita lebih baik atau makmur. Berasa pengen mention para petinggi deh. Biar mereka nyadar. Tapi kayaknya percuma juga deh.

Sementara di bagian Masa-masa yang Tidak Begitu Lampau, aku berasa diingatkan lagi, bahwa kita sebagai orangtua, nggak selamanya mengambil keputusan paling benar. Ada kalanya kita juga butuh bantuan orang lain, butuh koreksi dari orang lain.

Hingga Hilang Pedih Peri buatku cukup heartwarming, dengan segala kerepotan dan keanehannya, dengan segala pelajaran dari Jeff-Brie.



From the book…
“Aku memeluknya dan berterima kasih, karena perempuan harus selalu berterima kasih atas apa pun yang diterimanya, sekalipun itu sampah.” — P. 29

“Seiring pertumbuhan kita, kita bakal punya prioritas yang berbeda-beda, tapi bukan berarti hal-hal yang di luar prioritas kita nggak penting lagi.” — P. 53

“Dengar, Jeff, aku tidak pernah belajar fisika kuantum, tapi jika kekhawatiranku benar, hal-hal kecil yang kita lakukan saat ini bisa saja mengubah masa depan secara keseluruhan.” — P. 82

“Setidaknya, itu cara seseorang pemimpin terlihat berwibawa di mata saingannya. Memiliki rakyat yang sepenuhnya tunduk, entah karena cinta atau rasa takut, kepada kita. Itu memberi ilusi kekuatan dan pengaruh yang besar.” — P. 94

“Tapi menjaga kepercayaan selalu bisa diupayakan, baik di kala sehat maupun sakit. Menjaga kepercayaan adalah sikap yang tak terpengaruh kefanaan kita.” — P. 161

“Tapi siapa yang akan menderita akibat pengambilan keputusan sembrono ini? Rakyat kalian, Tuan. Aku tidak bisa mengerucutkan lebih jauh pilihan yang tersisa untuk kalian. Selalu kembalilah kepada rakyat. Merekalah alasan kita, para pembuat kebijakan, bekerja keras sesungguhnya.” — P. 186

“Ayah tahu… yang Ayah lakukan berkebalikan dengan cinta, bukan? Kalau cinta, mengapa memukul? Ayah tidak tahu. Saat segalanya tak terkendali lagi, tubuh Ayah refleks menyerang sendiri, seolah-olah segala kekacauan di depan mata Ayah… adalah monster-monster yang menyerang Ayah tanpa ampun.” — P. 243

“Benar, Sayang. Apa pun yang telah terjadi akan tetap menjadi bagian dari diri kita. Akan tetap tertulis sebagai sejarah hidup kita. Yang dapat kita lakukan hanya mengendalikan pikiran kita sendiri terkait masa lalu. Apakah kita akan menjadikannya gangguan? Ataukah kita akan menjadikannya pelajaran berharga yang bisa kita petik hikmahnya?” — P. 254

No comments:

Post a Comment