Sunday, July 26, 2026

[REVIEW] Misteri Tangisan di Kelas Enam

Misteri Tangisan di Kelas Enam
Denkus
BIP Gramedia

“Hm, manusia yang sudah mati itu akan pergi ke alam lain. Mereka sudah nda punya urusan lagi sama dunia kita. Kalau hantu yang kita lihat berwujud orang yang sudah mati, menurut yang Bibi dengar sih, itu ulah jin. Jin khodam namanya, yang menjelma menjadi orang yang kita kenal.”


B L U R B

Afgan hanya ingin ketenangan di sekolah barunya. Namun, dia malah diganggu teman sebangkunya yang ternyata hantu. Bersama Chloe, Cika, dan Brandon, Afgan pun menyelidiki kematian arwah penunggu kelas mereka yang meresahkan. Tanpa mereka sadari, sesuatu mengancam nyawa mereka.

- - - - - - - - -

Kepindahan Afgan ke sekolah barunya bukanlah hal yang menyenangkan, karena yang diinginkan Afgan sebenarnya adalah tinggal bersama dengan neneknya. Tapi ayahnya membawanya kembali ke Jakarta, dengan alasan kalau neneknya sudah terlalu tua untuk merawatnya. Ketika hari pertama masuk sekolah, tentu saja kesan pertama Afgan tidak senang. Sejak tiba di sekolah hingga masuk ke kelas, dia cemberut saja.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan teman kalian. Nanti Ibu tanyain langsung sama Afgan. Sekarang kalian istirahat sana.” — P. 31
Menurut kabar yang beredar, di kelas 6A ada hantu yang sering menangis. Apalagi saat jam 10 pagi. Inilah yang membuat kelas 6A mendapat sedikit keistimewaan, mereka baru akan masuk kelas pada 10.30.

Anehnya, ketika semua anak berusaha menjauhi meja paling ujung di kelas itu, Afgan malah memilih duduk di sana. Nggak hanya itu, Afgan juga beberapa kali terlihat berbicara ke arah sebelahnya yang jelas-jelas kosong. Apakah rumor tentang hantu di kelas 6A ini benar?

Udah lama aku nggak membaca kisah horor-horor begini, karena aku penakut, jadi mendingan enggak. Selain itu, aku anak visual banget, jadi takut kalo mendadak kebayang-bayang. Ketika memutuskan membaca Misteri Tangisan di Kelas Enam, aku penasaran banget. Mana nama tokohnya Afgan lagi.

Menceritakan kepindahan Afgan ke sekolah baru, yang ternyata ada penunggunya, jujur agak serem ya. Mana cuma dia yang bisa ngelihat dan komunikasi. Awalnya, Afgan mengira Agnes adalah teman sekelasnya, meskipun kadang dia merasa Agnes terlalu aneh, ke sekolah tidak bawa pensil, kadang mengusili teman lainnya sampai mereka lari ketakutan.

Ketika akhirnya Chloe dan beberapa temannya menanyakan langsung ke Afgan, Afgan sempat nggak percaya, mungkin karena Agnes juga terlalu nyata, jadi dia menganggap kalau Agnes sama seperti yang lainnya.

Dari Misteri Tangisan di Kelas Enam, aku salut banget sama kepedulian antar siswanya. Aku juga salut sama Bu Melati, sebagai guru, dia nggak mengecilkan keresahan yang dirasakan siswanya. Malahan dia ikut mencari tau, meskipun tidak terlalu blak-blakan dan dengan caranya sendiri. Menurutku, jarang banget guru yang seperti ini. Seharusnya di jaman seperti ini, banyak guru yang seperti Bu Melati.

Nggak cuma cerita horor semata, tapi juga mengangkat tentang kekerasan seksual yang dialami anak dibawah umur. Sesuai banget sama masa-masa sekarang ini yang terlalu banyak korban kekerasan seksual ke anak-anak yang masih kecil banget. Sebagai pengingat sekali lagi untuk kita lebih peka sama sekitar kita. Seringnya, korban kekerasan seksual memilih untuk memendam hal ini. Merasa kotor, dan sudah jadi aib, padahal mereka bisa dapat penanganan lebih baik.

Menurutku, cerita Afgan ini seharusnya dibuat menjadi saat SMP. Karena kritisnya anak SD meskipun kelas 6, seperti terlalu kritis. Atau ini cuma perasaanku aja. Tapi sangat recomend untuk dibaca sekali duduk!


From the book…
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan teman kalian. Nanti Ibu tanyain langsung sama Afgan. Sekarang kalian istirahat sana.” — P. 31

“Kebanyakan orang enggak bakalan percaya adanya hantu, kalau mereka belum melihat dan membuktikannya sendiri.” — P. 41

“Hm, manusia yang sudah mati itu akan pergi ke alam lain. Mereka sudah nda punya urusan lagi sama dunia kita. Kalau hantu yang kita lihat berwujud orang yang sudah mati, menurut yang Bibi dengar sih, itu ulah jin. Jin khodam namanya, yang menjelma menjadi orang yang kita kenal.” — P. 64

No comments:

Post a Comment