Sunday, September 27, 2026

[REVIEW] Pintu Harmonika

Pintu Harmonika
Clara Ng & Icha Rahmanti
Gramedia Pustaka Utama
304 Halaman

“Dengerin ya, Ma, life is like a piano. The white keys represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too.”


B L U R B

Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ? Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan; Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka. Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga.

Ketika surga mereka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?

- - - - - - - - -

Bagi Rizal, Juni, dan David, lahan kosong di belakang ruko tempat mereka tinggal adalah surga bagi mereka. Di sana tidak terlalu panas, Rizal, Juni, dan David juga nyaman sekali menghabiskan waktu di sana. Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama, karena ada plang yang dipasang di surga mereka.
“Ada hak orang yang kau langgar, Zal. Yang punya tanah itu kan pengin tanahnya terjual. Mungkin ada yang butuh duit. Atau perlu pindah rumah ke tempat yang lebih enak, kayak kita dulu.”
Rizal yang seorang anak SMA sementara Juni yang masih SMP berusaha sekuat tenaga menggagalkan penjualan Surga dengan operasi yang sudah mereka rancang. Tapi bisakah mereka menggagalkan rencana itu? Mengingat Surga adalah lahan kosong yang berarti ada pemiliknya, entah properti atau pribadi.

Awalnya, aku mengira kalau Pintu Harmonika ini akan menceritakan tentang Rizal saja. Soalnya di bagian depan memang langsung tertulis namanya dan mulai menceritakan kisah tentang Rizal sebagai anak piatu yang hidup bersama ayahnya di kompleks ruko Gardenia Crescent 1. Ayah Rizal–Firdaus–memiliki usaha toko kelontong. Kesibukan Rizal selain menjadi pelajar, ya tentu saja membantu ayahnya di toko, dan menikmati hari-harinya ngeblog dan main twitter di Surga.

Buku ini ternyata dibagi menjadi tiga bagian, kalau yang pertama membahas tentang Rizal si anak gaul dan cukup famous, bagian kedua ada Juni. Berawal dari masa skorsnya karena satu dan lain hal di sekolah, belum lagi permasalahan keluarganya yang terdampak karena kelakuannya di sekolah. Juni ini tipe anak yang… pinter tapi kadang mau juga divalidasi. Mungkin karena dia nggak mendapatkan hal ini di rumah ya.

Bagian ketiga ada David yang paling kecil, tapi jiwanya udah gede. David suka main detektif-detektifan, dan nggak suka dianggap anak kecil. Dia sempat kesel karena nggak diajak dalam misi penyelamatan surga yang dilakukan Rizal dan Juni. Karena David nggak pernah melihat ayahnya, selama ini dia hanya bersama ibu dan keluarga ibunya. Ibunya pemilik sebuah toko cookies berbentuk malaikat yang cukup terkenal di kawasan itu.

Sebenernya, aku tertarik baca ini karena melihat video review dari @bellabacabukuapa di instagram. Sepertinya menarik, karena menceritakan kehidupan remaja, dan cerita ketiganya ini sudah pernah difilmkan.

Ketiganya punya daya tarik masing-masing, dan menurutku kayak ya fasenya aja. Rizal si anak ABG yang terkenal via blog dan twitter, lagi kasmarannya ngedeketin cewek. Malu untuk menjelaskan bahwa ayahnya adalah pemilik toko kelontong. Sementara Juni yang membahas pembullyan yang terjadi di sekolahnya. David yang maunya sok gede. Semua punya kisah dan porsi masing-masing.

Menurutku, cerita yang cukup tuntas malah ceritanya Rizal. Kalo cerita Juni masih agak menggantung, sementara David terlalu cepet diselesaikan. Meskipun penulisannya dalam bentuk seperti jurnal dan diari, kisah Rizal lebih runut dan selesai dengan tuntas.

Aku suka kisah mereka bertiga, nggak cuma tentang dunia sekolah, tapi juga tentang persahabatan dan keluarga. Bagaimana ketika akhirnya setiap tokoh mencari jalan keluar yang dirasa paling baik, dan tidak menyakiti banyak pihak.

Pak Firdaus adalah juwarak di sini! Sebagai single dad, dia berhasil membesarkan Rizal menurutku. Walaupun Rizal sempat nggak mengakuinya ya. Tapi dia berbesar hati, karena dia pernah muda juga. Pak Firdaus di sini tipe bapak-bapak gawl gitu. Seru deh jadi anaknya pak Firdaus ni.


From the book…
“Karena katanya sekalipun lagi sakit banget, kalau kita senyum, sakitnya berkurang.” 

“Buat gue, kaki adalah simbol utama perjalanan. Mau pergi pake dokar, bajaj, atau pesawat jet paling canggih, pada akhirnya kakilah yang melangkah dan menjejak tanah di sisi lain bumi.”

“Ada hak orang yang kau langgar, Zal. Yang punya tanah itu kan pengin tanahnya terjual. Mungkin ada yang butuh duit. Atau perlu pindah rumah ke tempat yang lebih enak, kayak kita dulu.”

“Dengerin ya, Ma, life is like a piano. The white keys represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too.”

No comments:

Post a Comment