Showing posts with label Cabaca. Show all posts
Showing posts with label Cabaca. Show all posts

Thursday, August 31, 2023

[REVIEW] Rion dan Raya

Rion dan Raya

Amysastrakencana

54 Parts on Cabaca — Ending

"Bohong. Cinta semata nggak akan pernah cukup untuk mempertahankan hubungan, apalagi pernikahan."


B L U R B

Cinta, sesuatu yang enggan Soraya Miliki karena cinta tidak berhasil membuat orangtuanya mempertahankan pernikaha. Cinta juga tidak berhasil membuat Soraya menjaga pernikahannya dengan Rionaldo.

Celakanya, Rion bukanlah seseorang yang bisa dia hindari terus. Mereka terus bertemu di berbagai kesempatan dan semesta membuat mereka kembali berhubungan. Kebimbangan Soraya terus muncul terutama ketika dia dan Rion bersikap layaknya suami-istri seperti dulu. Rion masih memanggilnya 'Raya', satu-satunya orang yang memberikan panggilan itu dan membuatnya merasa berharga. Rion masih memperlakukannya seperti seorang ratu.

Apakah perlakuan itu terjadi disebabkan Rion masih mencintainya? Apakah Soraya akan bersedia menjalani kesempatan kedua dengan Rion, ketika penyebab mereka bercerai berasal dari mantan suaminya? Apakah sebiknya Soraya meninggalkan Rion dna mereka berpisah untuk kedua kalinya?

- - - - - - - - - -

Bagi Raya, cinta sepertinya nggak cocok buat dia. Kedua orang tuanya bercerai saat dia akan masuk kuliah, hubungannya dengan Rion--suaminya juga harus berhenti di tengah jalan. Yang Raya pikirkan untuk saat ini hanya membuat dirinya senang bersama dengan keponakannya, sisanya biar berjalan sendiri.
"Kita sama-sama tahu perasaan nggak bisa dipaksa, Raya. Aku juga nggak melihat wanita hanya sebagai 'mesin' pembuat anak. Aku akan mencari orang yang tepat, orang yang aku sayang, lalu aku ajak dia menikah, baru setelah itu kami akan punya anak."
Bagi Rion, Raya adalah sosok yang mampu mengimbanginya, tidak hanya masalah seks, tapi juga cara berpikirnya, dan cara menghadapi Rion. Tidak ada anak di antara mereka sampai beberapa tahun pernikahannya, nggak masalah buat Rion. Yang penting adalah dia dan Raya.

Sayangnya, hubungan keduanya tidak bisa bertahan lama. Karena satu dan lain hal, serta berbagai pertimbangan, mereka harus bercerai. Tapi bagaimana kalau dalam beberapa tahun berikutnya mereka ada kesempatan untuk bersatu lagi?


Bagi orang lain, kehidupan Raya adalah kehidupan yang mereka inginkan. Bekerja, mapan, dan mandiri. Independent woman adalah Raya. Sayangnya, sedikit yang tau kalau Raya sebenernya udah skeptis banget sama cinta. Cinta nggak membuat orangtuanya baik-baik aja, bahkan mereka mengumumkan perceraian saat Raya seharusnya mengabarkan kabar gembira. Sementara kehidupan percintaannya sendiri? Nggak beda jauh sama orangtuanya. Apa ini yang dinamakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya?

Sejak awal baca, kukira Raya dan Rion ini bercerai karena Rion cowok yang brengsek. Semakin ke pertengahan novel, akhirnya aku mengerti. Kalau punya mertua yang ngeselin kayak Bundanya Rion, aku juga ogah. Lama-lama bisa emosi, apalagi kesabaranku udah kayak tisu dibagi dua kecelup air pula. Tapi pertanyaanku masih belum terjawab, alasan mereka bercerai yang sesungguhnya. Apa iya sih cuma karena nggak kunjung dikaruniai anak? Maksudku, Rion itu bukan tipikal anak mama yang bakalan menuruti apa mau ibunya. 

Beruntungnya, Raya dikelilingi banyak orang yang menyayangi dan siap support dia kapan pun. Sahabatnya, yang juga sahabat Rion pun bakalan support kalau emang Raya nggak mau ketemu Rion, padahal awalnya mereka ini bisa temenan deket ya.. karena Rion! Sungguh lah, beruntung sekali. Keluarganya pun sayang banget sama dia, keponakannya siap menjaga dia, meski kadang agak bocor juga. Kakak dan adiknya pun siap jadi one call awaynya Raya. 

Sampai akhir, akhirnya terjawab juga alasan ibunya Rion nggak suka sama Raya, dan menurutku itu alasan klasik seorang ibu yang anaknya nggak mau diatur. Meh. Nggak kunjung dapat restu, pernah kualami, jadi aku relate banget keselnya Raya sama ibunya Rion, cuma, ujungnya aku nggak ngebaikin mertuaku. Hehe.. Karena aku bukan tipe orang yang ngebaik-baikin demi dapetin yang aku mau. Lebih baik kamu tau asliku gimana daripada nanti denger-denger dari orang lain, malah jauh lebih sakit hati.

Aku jatuh cinta sekali dengan Rion! Astaga Tuhan. Bener-bener suami idaman. Cara Rion memperlakukan Raya beneran kayak Raya tuh satu-satunya orang yang paling menarik. Cara dia mengagumi Raya juga top banget! Kayak beneran cinta matinya cuma sama Raya, nggak mau sama yang lain. Dia juga nggak gampang nyerah, meski harus berhadapan sama kakaknya Raya yang udah kayak macan laper. Karena Rion, aku nyeritain ulang isi novel ini ke paksu sambil nangis-nangis karena cara Rion memperlakukan Raya. 

Untuk kalian di luar sana yang belum menemukan 'Rion', semoga kalian segerra menemukan cowok yang beneran mau terima kamu seapaadanya kamu, kamu nggak perlu cari perhatian demi dia, dan dia akan selalu melihatmu kayak kalian waktu pertama kali ketemu. Ini tuh beneran omongan yang, "Ketika kamu menemukan cowok yang tepat, dia akan memperlakukanmu seperti Ratu seumur hidupnya."


From the novel..
"Orangtua kami masih saling mencintai. Tapi cinta tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan."

"Iya. Tapi yang lebih penting adalah... aku mau punya anak sama kamu, Raya. I couldn.t think about having kids with another woman. Because all I want is you."

"I can't feel your pain caus I'm not the one doing the labor. But all I can do is stay here by your side. Give you every support that you need. And tell you that you are perfect however you look. I love you whatever it takes. I won't stop saying thank you for making me a father of two."

"Di mata saya, nggak ada bedanya. Fisik, mungkin, tapi itu nggak berpengaruh sama sekali. Dia tetap Soraya yang tangguh, Soraya yang penuh perjuangan, Soraya yang cerdas, perempuan paling cantik dan paling saya cintai. Punya anak nggak mengubah pandangan dan rasa cinta saya buat dia. Malah menambah besar cinta dan hormat saya buat dia."

Friday, August 25, 2023

[REVIEW] Sekali Lagi di Helsinki

Sekali Lagi di Helsinki

Eva Stremova

49 Parts on Cabaca — Ending

"Tidak ada 'tetapi', Ada. Di usiamu yang 35 seperti ini kau seharusnya berpikir lebih dewasa. Berhentimencari-cari kesalahamu sendiri dan menimpakan semua hal buruk yang terjadi pada dirimu sendiri. Orang lain juga punya andil dalam semua yang kau alami. Kau harus menerima hal itu dan hidup dengannya."


B L U R B
 
Dua kali mengalami kegagalan dalam rumah tangga membuat Ada mengalami krisis kepercayaan pada lawan jenis. Masa lalu yang menuntutnya menjadi perempuan sempurna—pandai memasak, mampu mengurus rumah dan suami hingga memiliki buah hati, justru membuatnya ingin bebas, menjadi perempuan yang bisa hidup di atas kakinya sendiri.
 
Di Helsinki, dalam proyek seminar atas bukunya yang telah terbit, Ada bertemu dengan Mika. Berbeda dengan Ada, Mika yang telah siap untuk melangkah lebih jauh, terus berusaha mendekati wanita itu untuk menjalin komitmen-sekali lagi.
 
- - - - - - - - -
 
Kehidupan Ada tidak begitu menarik, ah mungkin menarik bagi sebagian orang. Bisa bekerja kapan saja, menerbitkan buku di luar negeri. Hanya itu saja yang bisa dibanggakannya. Tapi dia tidak seperti kebanyakan perempuan. Ada tidak punya pasangan, dan tidak punya anak.
"Sekali-kali, kau harus menghapus prasangkamu. Tak semua orang di dunia ini buruk seperti dugaanmu. Aku menyesal kau punya masa lalu yang tak menyenangkan. Tapi, jika satu atau bahkan sepuluh orang menyakitimu, bukan berarti sepuluh, seratus atau seribu lainnya juga akan melakukan hal yang sama kepadamu."
Bagi Ada, jatuh cinta lagi itu sulit. Masa lalu yang tidak mengenakkan membuatnya sadar diri agar nggak sakit hati lagi. Karena nggak akan ada yang membelanya, tidak juga ibunya.

Kedatangannya ke Helsinki untuk pekerjaan, yang tak disangkanya, Mika, seseorang yang mendadak menemaninya, meluangkan waktu untuknya, sekadar menonton attau berjalan-jalan. Hal ini terasa aneh, tidak ada yang pernah melakukan ini sebelumnya. Tak hanya itu, Ada juga mulai merasa nyaman. Ini sepertinya salah. Bisa kah dia menerima kedatangan Mika?


Saat awal membaca, aku agak kesel sama Ada karena dia ini kayak negatif thinking banget ssama kebaikan orang lain. Ya emang sih, kalau udah lama ngapa-ngapain sendiri, pasti lebih milih sendiri ketimbang dibantuin. Tapi kalo ada yang mau ngebantuin dengan sukarela, kenapa dia nggak mau terima aja.

Suka sama berondong itu juga gampang-gampang susah. Karena kalau suka, pasti ada aja yang bikin kepikiran. Apalagi adat ketimuran ini kan menganggap aneh pernikahan yang jarak umurnya terlalu jauh. Semakin menjadi lah Ada.

Kalau aku sendiri, lebih suka sama Mika. Suka sama semangatnya, perjuangannya, gercepnya juga. Bener-bener idaman lah. Meskipun terkadang dia kalo ngide suka kelewatan ya. Masa iya ngajak ngedate ke rumah orangtua? Siapa yang nggak terkejut? Emang Mika beda dari yang lain ya.

Mengambil masalah yang menurutku lumayan rumit, kak Eva berhasil mengeksekusinya dengan baik. Aku suka dengan cara menulisnya dan menyampaikan keresahannya Ada. Sebagai perempuan, aku juga relate. Sudah menikah dan nggak kunjung punya anak memang kadang jadi momok. Apalagi kalau suaminya nggak ikutan belain. Pengen kutampol rasanya.

Friday, July 28, 2023

[REVIEW] Rewrite

Rewrite

Akhtarara

46 Parts on Cabaca — Ending

"Itulah masalahnya. Lo terlalu membenci Rega sampai lupa untuk bahagia. Kalau lo mau Kimi bahagia, yang terutama adalah membuat diri lo bahagia dulu."


B L U R B

Keretakan rumah tangga Nana dan Rega yang tak dapat lagi diperbaiki, membuat keduanya memutuskan untuk bercerai. Entah Nana yang terlalu bodoh membiarkan lelaki itu berselingkuh di belakangnya atau karena Rega memang tak lagi menaruh harap apapun pada keluarga kecilnya.

Demi Kimi, anak semata wayang Nana dan Rega, wanita itu memutuskan untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tak disangka, pemilik rumah tempat ia bekerja adalah mantan pacar Nana saat kuliah — Juna. Hal-hal yang seharusnya dilupakan, tetap pada tempatnya di masa lalu, kini hadir dalam kehidupan keduanya.

Akankah Nana dapat menjalani kehidupannya dengan tenang bersama Kimi? Ataukah kehadiran Juna di masa kini adalah satu bantuan untuk Nana dan Kimi dalam menjalani hari-harinya yang alpha?

- - - - - - - - -

Punya keluarga lengkap merupakan impian Nana. Kehangatan keluarga, lengkap dengan ayah dan ibu, menjadi impian Nana. Apalagi besar tanpa kasih sayang orang tua, jelas membuat Nana menginginkan Kimi, anaknya mendapatkan hal itu.
"Kimi mau minta sama Peri Bulan, supaya Mama bisa bahagia seperti dulu."
Pernikahannya dengan Rega, tidak bisa berlangsung lama. Rega berselingkuh di belakangnya. Perceraian pun tak terelakkan lagi. Bukannya Nana tak berusaha, dia juga sudah meminta Rega untuk memikirkan kembali hubungan mereka dengan pertimbangan Kimi. Sayangnya, Rega juga tidak bisa melepaskan selingkuhannya.

Perceraian itu membuat Nana akhirnya mencari pekerjaan. Hal itu tidak mudah bagi Nana, karena dia juga harus bersaing dengan fresh graduate dan juga orang yang sudah berpengalaman. Sampai akhirnya, Nana di titik yang lelah sekali. Hingga memutuskan untuk menerima saja pekerjaan yang ditawarkan oleh sahabatnya. Menjadi ART di rumah bosnya. Agak menyedihkan ya, lulusan S1, tapi berakhir jadi ART. Yang ada di pikiran Nana hanya bertahan agar Kimi nggak diambil alih oleh Rega dan calon istrinya. Mungkin ini berat, tapi Nana harus berusaha!


Novel yang kukira tidak terlalu rumit, tapi ternyataaa.. Sungguh terlalu! Menurutku, ini sungguh komplit ya, mulai dari perselingkuhan, persahabatan, permantanan, keluarga, sampai kehidupan seorang ibu itu sendiri.

Kita bedah tokohnya mulai dari Rega dulu ya. Dia ini tipikal suami-suami kebanyakan. Punya istri dibilang nggak boleh kerja, tapi kerjaannya nggak di rumah terus. Kesel banget. Mana mamanya Rega ini mulutnya beneran ngeselin. Pedes banget, kayak gado-gado karet ijo. Sementara Nana, ini tipe cewek yang manut sama suaminya. Nggak boleh ini iya, nggak boleh itu, iya. Dia juga gampang ragu, tapi hal ini bisa kumaklumi setelah mengetahui latar belakang Nana. Tidak punya keluarga dan sandaran, ya tentu aja membuat dia jadi ragu. Karena dia selama ini hidup sendiri, mikir sendiri, ambil keputusan juga sendiri.
 
Aku kesel sekali sebenernya sama Rega, dia selingkuh, tapi dia juga nggak bisa meninggalkan Nana. Ada aja alesannya. Aku nggak suka. Ketika Nana sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan Rega, dia nggak mau, giliran Nana sudah bener-bener lepas, dia malah kepikiran. Haduh Rega, nggak semua yang ada di dunia ini bisa kamu dapatkan.
 
Sebenernya, aku tuh nggak setuju kalau istri tidak bekerja. Bukan meremehkan suami sih, tapi lebih ke biar istri ini punya uang sendiri. Jadi semisal ada hal buruk terjadi (amit-amit juga), istri ini nggak terlalu tertinggal. Apalagi jaman sekarang, cari kerja atau mulai usaha tuh nggak gampang. Dunia kerja ini menurutku kejam. Kebanyakan, perempuan yang sudah punya anak biasanya sedikit susah diterima kerja. Ya alasannya sih karena sudah punya anak, dan seringnya juga, kalau ada anak sakit, yang libur ibunya. 

Pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, berpikirlah matang-matang, sampe benyek kalo perlu, saat mengambil keputusan. Menikah, bercerai, punya pasangan lagi, apapun itu. Apalagi yang sudah menikah, sekarang sering banget lah kita dengar dan lihat betapa banyaknya orang yang selingkuh, kadang bukan perkara uang atau rupa, tapi bosen. Kalau memang bosen, ya dievaluasi hubungannya, bukan selingkuh. Nggak menyelesaikan masalah. Cepat atau lambat pasti menimbulkan masalah baru.
 
Intinya, dalam berhubungan baik pacaran atau menikah, kalau memang sudah bosen atau lelah, bilang dan evaluasi. Apa masih layak atau enggak. Kalau masih layak, ya diperbaiki dan dievaluasi terus. Tapi kalau sudah menikah bukannya nggak bisa dipisahkan sama manusia? Masa iya kawin cerai terus kayak Vicky Prasetyo?

Monday, July 3, 2023

[REVIEW] Ready for Tiffany

Ready for Tiffany

Revelrebel

55 Parts on Cabaca — Ending

"Memaafkan dan menerimamu kembali itu dua hal yang beda. Aku memaafkanmu akrena sudah enggak mau berurusan lagi denganmu, karena itu aku enggak bisa kembali kepadamu."


B L U R B

Kisah cinta tiga sahabat di penghujung umur dua puluhan, siapa yang pertama kali mendapatkan sebongkah Tiffany di jari manis?

Amanda, terlalu berambisi dengan karier dan tidak ada yang lebih memahami dirinya selain Lucas. Pacaran 5 tahun dan menjalani LDR, membuat Amanda bertanya-tanya akan masa depan hubungan ini.

Brit, terlalu sering gonta-ganti pasangan dengan alasan belum menemukan yang cocok. Sosok Ben yang menawan membuat Brit mempertanyakan apa arti cinta yang sebenarnya.

Cantika, editor buku yang selalu menghindar dari spotlight. Meski sudah putus dari pacarnya yang suka main tangan, Tika yang rendah diri merasa tidak pantas untuk kembali bertarung di medan cinta.

Bersama segelas margarita, ketiga sahabat ini bertaruh untuk mendapatkan cincin di jari mereka begitu tahun berganti. Siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

- - - - - - - -

Berawal dari Brit yang mencetuskan keinginannya untuk mendapatkan cincin pernikahan Tiffany yang cukup aneh kalau dibeli oleh dirinya sendiri, dia mengajak kedua sahabatnya, Amanda dan Tika untuk ikut dalam tantangan ini. Perlombaan ini dimulai dari hari ini, dan akan berakhir pada akhir tahun.
"Yang paling kutakutkan? Aku takut jarak membuatmu merasa ini semua sia-sia. Aku takut jarak membuat kehadiranku perlahan-lahan mulai pupus dalam hidupmu. I'm scared you forget about me."
Meskipun Brit yang mencetuskan ide ini, bukan berarti dia adalah pemenangnya. Saat ini, dia sedang dalam masa percobaannya bersama cowok yang lebih muda darinya. Itu jelas tidak masuk dalam listnya untuk menjadi suami. Hal ini tentu dipengaruhi dengan bagaimana cara keluarganya membesarkannya selama ini.

Sementara Amanda, untuk saat ini kemungkinan besar, dialah pemenangnya. Tidak sulit harusnya membuat Lucas melamarnya di akhir tahun. Tapi apa mungkin? Mengingat mereka juga LDR.

Tika sendiri sangat ragu. Awalnya dia menolak keras hal ini. Dia tidak tertarik untuk membuka hati karena terakhir kali punya hubungan, semuanya berantakan dan membuatnya trauma.

Perjalanan mereka dalam memperjuangkan sebagai pemenang pasti menarik.


Penghujung umur dua puluhan ini memang agak tricky ya. Kalo udah punya pasangan dan berjalan lama, pengen cepet dihalalin, tapi kalo belum punya pasangan, mau cari yang sesuai dengan kriteria, juga sulit.Tantangan ini berawal dari cincin pernikahan yang memang agak lucu kalo kita beli sendiri, dipake sendiri. Lah satunya buat siapa? 

Aku kira, pemenangnya adalah Brit, karena dia udah ada yang ngedeketin nggak lama dari tantangan itu dimulai, hidupnya less drama. Jadi, itu seharusnya hal yang mudah buat dia dong? Sayangnya, bagi Brit, nggak semudah itu. Cara keluarganya merawat dan membesarkan dia, cukup membuat dia jadi selektif untuk memilih pasangan hidupnya. Meskipun Ben cukup charming dan oke, tapi dia masih belum yakin. Apalagi ini kan pasangan untuk seumur hidup.

Di sisi Amanda, harusnya dia keluar jadi pemenang. Sayangnya, egonya Lucas sama Amanda ini sama-sama besar. Amanda nggak mau kalau keluar dari Jakarta, sementara Lucas juga nggak mau keluar dari perusahaannya saat ini, dan lebih ngebelain untuk kerja, kerja, kerja. Jujur aku kesel banget sih sama Lucas-Amanda ini. Karena dalam suatu hubungan kan yang paling penting komunikasi. Gimana mau komunikasi kalo keduanya aja udah capek kerja, giliran ada waktu yang satu masih kerja, dan sebaliknya. Gitu aja sampe lebaran monyet.

Kehidupan percintaan Cantika ini juga nggak kalah tragis. Orang tuanya udah sayang banget sama mantannya, padahal mantannya red flag banget! Nggak hanya itu, dia lagi repot-repotnya juga. Harus ngurusin penulis yang bahkan nggak jelas banget maunya apa. Kalo dihubungin susah banget. Makin ribet deh. Sama Tika ini aku antara kesel dan kasian. Keselnya ya karena dia ini terlalu mikir buruk tentang dirinya. Ya, ini nggak lepas dari didikan orang tuanya sih. Kasiannya, dia sebenernya bisa kok keluar dari zona nyamannya dia, belajar hal baru, tapi dia terlalu takut untuk keluar dari sana.

Baca kisah Amanda-Brit-Cantika ini seru banget. Apalagi latar belakang mereka beda-beda. Ada yang emang udah kaya dari sananya, ada yang berambisi banget, ada yang punya mimpi tapi nggak tercapai-capai. Kisah mereka buatku menginspirasi banget. Keluar dari hubungan toxic meskipun sulit, dan jangan mau terus ditakut-takutin sama pikiran sendiri!

Paham banget sih, kadang kan kita tuh pasti mikir, hal ini sebaiknya gimana, kalo plan a gagal atau nggak cocok, plan b-nya gimana. Semua harus dipikirin, cuma seringkali kebanyakan mikir itu malah bikin kita nggak jalan. Kebanyakan mikir malah jatuhnya cuma overthinking, dan nggak jadi dilakuin. Buat apa? Mending langsung dijalanin aja, gimana hasilnya dipikirin nanti. Seenggaknya, kita udah siapin beberapa plan buat cadangan.

Sunday, May 28, 2023

[REVIEW] Cinta di Keranjang Belanja

Cinta di Keranjang Belanja

Elisabeth Ika

35 Parts on Cabaca — Ending

"Ikuti kata hati kamu, Vee. Kata orang, kalau kita lagi ada di persimpangan dan mesti memilih jalan mana yang harus dilewati, ikuti kata hati, karena itu sebenarnya yang kita mau. Sesalah-salahnya jalan yang kita pilih, setidaknya kita enggak benar-benar menyesal nantinya."


B L U R B

Kesalahan pengiriman yang dibuat karyawannya membuat Raveena Pradnya Gunawan, founder Veestore mesti bertemu dengan Danendra Mahawira di sebuah kafe untuk menyerahkan barang yang semestinya.

Ajaibnya, pertemuan itu seperti pemantik pertemuan-pertmuan mereka berikutnya. Nendra, tanpa buang waktu, bertransformasi bukan cuma menjadi pembeli Veestore, tapi juga teman dan sahabat yang menawarkan bahu saat Raveena merasa butuh sandaran karena tekanan-tekanan dari Yuda, pacar dan partner usaha, juga dari keluarga yang tak pernah menyetujui pilihannya untuk merintis usaha. Namun, saat hati Raveena mulai goyah, Yuda justru melamarnya. Yuda juga mengancam, kalau sampai Raveen a menolak lamarannya, ia akan kehilangan impiannya selama-lamanya.

Raveena dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Menerima lamaran Yuda, dan terkurung pada hidup pernikahan kendati hubungan mereka tidak sehat, semata-mata demi VeeStore tetap terjaga, atau menuruti hatinya untuk berpisah dari Yuda dan bersama dengan Nendra, kendati ia mesti kehilangan impiaannya dan mendapat kecaman dari berbagai pihak.

- - - - - - - - -

Menjadi seorang pebisnis dan memiliki usaha sendiri adalah impian Raveena. Ya meskipun hal ini sangat ditentang oleh kedua orang tuanya. Bagi mereka, apapun yang terjadi ya sebaiknya bekerja kantoran. Lebih menjanjikan. Inilah yang membuat kedua orang tuanya berjarak dengan Raveena. Di samping itu, dia juga selalu kalah ketimbang adiknya, Sandra, yang memiliki posisi di sebuah instansi pemerintah. Sangat membanggakan.
"Hidup itu perjalanan, bukan? Pilihannya hanya jalan terus, kalau salah arah, mungkin bisa putar balik, atau cari jalan alternatif."
VeeStore merupakan salah satu kebanggaan Raveena. Bersama Yuda, pacarnya, dia berusaha untuk mengembangkan VeeStore sesuai dengan visi misi mereka. Karena kesalahan pengiriman yang dilakukan oleh stafnya, membuat Raveena harus bertanggungjawab untuk menukar kembali pakaian yang seharusnya dikirimkannya.

Sejak itulah, pertemuannya dengan Danendra Mahawira dimulai. Entah kenapa, sejak saat itu, Danendra selalu bisa bertemu dengan Raveena, terutama saat Raveena sedang membutuhkan orang yang bisa diajak bercerita dan berkeluh kesah. Lalu, bagaimana hubungannya dengan Yuda? Apakah Raveena akan melepas Yuda?


Melihat cover dari novelnya gemes ya. Kukira ini adalah novel romance gemes gitu. Salah kirim barang yang berujung cinta gitu. Tapi ternyata salah! Nggak seceria covernya.

Menjadi Raveena tidak mudah. Dia punya mimpi jadi seorang pebisnis, sayangnya hal ini nggak didukung oleh orang tuanya. Mereka malah lebih mendukung Raveena menjadi budak korporat ketimbang seorang pemilik usaha. Cukup aneh ya, kayak masih orang lama banget gitu. Mendingan kerja ikut orang ketimbang kerja sendiri.
 
Pertemuan Raveena dan Nendra ini sebenernya menarik. Karena pertemuan pertama itu disengaja, sisanya, nggak sengaja. Kalian pasti tau kan, artinya mestakung itu apa? Yep. Sama kayak Vee dan Nendra, pertemuan mereka selanjutnya tuh kayak.. bisa aja gitu.

Aku suka dengan pembahasan novel ini. Paket komplit. Pembahasan tentang keluarga, Raveena yang nggak begitu bebas dengan pilihannya. Akan selalu ada bayang-bayang adiknya yang dipandang jauh lebih sukses ketimbang dirinya yang cuma jualan online. Padahal, VeeStore ini jauh lebih berkembang lho menurutku. Udah ditahap sampai bisa hire orang, belum lagi resellernya juga udah banyak. Agak disayangkan aja sih kalau orang tuanya sampe ngira kerjaan Raveena ini abal.

Nggak cuma tentang bisnis dan latar belakang Raveena, tapi juga dibahas dari sisi Yuda, pacarnya Raveena. Sungguh, Yuda ini orangnya manipulatif banget! Nggak tau kenapa, aku tuh nggak suka sama dia. Pokoknya, cowok kalo diajak untuk ngebahas hubungan serius, dia selalu mengalihkan pembicaraan, udah deh. Red flag banget buatku! Apa ya, keliatan nggak seriusnya. Keliatan main-main. Udah gitu, dia seenaknya sendiri kalo tentang VeeStore. Nggak mau koordinasi. Padahal kan usaha ini, usaha berdua.

Baca novel ini tuh seru banget! Setiap babnya tuh cukup panjang dan seru. Apalagi bagian Nendra-Vee. Sayang banget aku tuh sama Nendra, dia pendengar yang baik, bisa memperlakukan cewek sebaik mungkin. Sungguh sayang sekali sama Nendra. Meskipun cara Vee dan Nendra bertemu itu salah.

Jadi, saranku setelah membaca novel ini adalah... carilah pasangan yang bisa memperlakukanmu dengan baik. Karena kalo enggak, kacau sih. Soalnya seumur hidup terlalu lama. Ehehe.. Udah gitu, saranku (lagi) sebaiknya nggak dulu membuka usaha bareng sama pasangan, karena terlalu tricky. Kalau emang mau buka usaha bareng, sebaiknya transparan dan selalu komunikasi. Biar nggak ada dusta di antara kita. Hehehe..


From the book...
"Namun, rasanya tidak adil ketika aku sendiri belum merasa siap untuk menjadi istri. Menikah hanya untuk melarikan diri? Yang benar saja! Emosiku memang yang meminta, tapi logika di kepala menolaknya mentah-mentah. Menikah tentu saja bukan ide yang bagus."

"Ketika aku berkendara tanpa tujuan, aku memperhatikan jalan-jalan lain yang mungkin luput dari perhatianku selama ini. Kalau dipikir-pikir, itu kayak penggambaran soal hidup."

"Hidup itu perjalanan, bukan? Pilihannya hanya jalan terus, kalau salah arah, mungkin bisa putar balik, atau cari jalan alternatif."

"Sandra itu adikku, tapi keriernya lebih bagus, keterima di Kementrian, terus sukses, hidupnya senang, banyak uang. Begitu kan yang mau Ibu bilang? Ratusan kali kalimat itu mampir di kupingku. Aku bosan. Aku selalu menuruti semua mau Ibu dan Ayah. Sekolah di sekolah terbaik, masuk jurusan yang menurut Ibu tempat anak-anak paling pintar, terus kuliah di kampus negeri. Sudah, Bu. Cukup. Aku sudah dewasa. Aku bisa bertanggung jawab atas pilihanku sendiri."
 
"Untuk aku yang terlalu naif memandang kamu adalah sosok yang aku butuhkan saat ini. Apa yang ada di diri kamu yang tidak pernah dimiliki oleh Yuda. Padahal mungkin saja aku cuma sedang lelah dengan permasalahan-permasalahanku."

"Kamu yakin? Pernikahan berbeda sama berbisnis, Vee. Partner bisnis yang mengecewakan, bisa bikin kamu kehilangan uang dan kepercayaan kamu sama dia. Dia pergi, it's okay, kamu bisa memulai lagi, entah sendiri atau sama orang lain, atau sama sekali enggak coba lagi. Tapi partner hidup? Nikah sekali seumur hidup, Raveena."

"Ikuti kata hati kamu, Vee. Kata orang, kalau kita lagi ada di persimpangan dan mesti memilih jalan mana yang harus dilewati, ikuti kata hati, karena itu sebenarnya yang kita mau. Sesalah-salahnya jalan yang kita pilih, setidaknya kita enggak benar-benar menyesal nantinya."

"Kamu cuma gagal nikah sama gagal usaha, yang bahkan dua hal itu terkait. Hidup? Masih panjang, Raveena. Kamu masih bisa ambil kartu kesempatanmu lagi."

"Tidak semua hal di dunia ini sesuai dengan apa yang kita mau, Sayang. Kamu juga enggak perlu merasa bersalah atau menyesal seperti itu. Apa yang terjadi sama VeeStore sekarang, sudah di luar kendali kamu. Kamu sudah pernah melakukan yang terbaik saat berada di sana. Kamu yang mendirikan, kamu yang membangun, dan wajar kalau kamu kecewa. Tapi, sedihnya secukupnya saja, ya."

Wednesday, May 17, 2023

[REVIEW] Cerita Kutang

Cerita Kutang

Honey Dee

40 Bab on Cabaca — Ending

"Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dipaksakan. Ada banyak hal di dunia ini yang seharusnya dibiarkan begitu saja agar keharmonisannya tetap terjaga."

Sunday, April 30, 2023

[REVIEW] >9SR

>9SR
Huning Margaluwih
26 Parts on Cabaca — Ending

"Salah satu cara termudah untuk memprediksi bencana adalah dengan memperhatikan perilaku hewan di sekitar kita."

Monday, April 10, 2023

[REVIEW] Perempuan yang (Tak) Sempurna

Perempuan yang (Tak) Sempurna

Mei Shin Manalu

45 Parts on Cabaca — Ending

"Semua perempuan mungkin bisa memiliki anak, tapi tidak semua perempuan bisa memiliki kecakapan untuk menjadi seorang ibu, Sayang."


B L U R B

"Nduk, menjadi perempuan itu harus melalui tiga fase. Pertama sebagai putri, kedua sebagai istri, dan ketiga sebagai ibu. Kalau kamu sudah mencapai ketiga fase itu, barulah kamu bisa dikatakan sebagai seorang perempuan yang sempurna."
*** 
Tujuh tahun Savita menikah dengan Dipta, dosen filsafat di kampusnya dulu, dan selama itu pulalah ia harus menerima tudingan dan cemoohan mertua soal dirinya yang mandul.

Satu-satunya yang menawarkan kenyamanan bagi wanita itu kini hanyalah perpustakaan Mahesa. Sejenak, Savita bisa menenangkan diri kala bekerja menjaga perpustakaan adik tingkatnya itu. Namun, suatu malam, masalah yang mengimpit dan kenyamanan yang Mahesa tawarkan membuat keduanya menghabiskan malam di tempat tidur.

Dua bulan kemudian pun, Savita dinyatakan hamil. Mahesa terus menanyakan apakah anak yang wanita itu kandung adalah anaknya, sementara di satu sisi Dipta menyambut bahagia berita kehamilan sang istri.

Apa yang harus Savita lakukan? Haruskah ia jujur jika bayi yang dikandungnya merupakan anak Mahesa? Ataukah selamana ia simpan saja rahasia itu rapat-rapat demi kebahagiaan rumah tangganya dan Dipta?

- - - - - - - - -

Tinggal di Indonesia, menikah dan nggak kunjung punya anak ini jadi salah satu masalah yang bisa memancing pertikaian, mungkin bisa geger dunia pencak silat. Sama halnya dengan kasus Savita-Dipta. Menikah bertahun-tahun, kehidupan seks yang baik, tapi mereka nggak kunjung punya anak. Seringnya, Savita dibilang mandul oleh mertuanya. Hampir setiap hari mendengar sebutan mandul, membuat Savita lama-lama juga kesel, tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa kamu pikirkan perkataan orang lain? Kamu tidak hidup dari mereka dan mereka juga tidak hidup darimu. Dan juga yang terpenting bagi Tante itu dirimu, Savita. Bukan orang lain. Tante sama sekali tidak peduli dengan mereka."
Dalam sehari-harinya, Savita hidup sebagai ibu rumah tangga. Semenjak ibu mertuanya merasa bahwa Savita dan Dipta terlalu capek bekerja, akhirnya Savita memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dipta pun merasa lebih baik kalau Savita di rumah saja, menyambutnya ketika pulang bekerja.

Sampai akhirnya, Savita memutuskan untuk bekerja di perpustakaan dekat rumahnya, yang ternyata ini adalah milik adik tingkatnya. Seiring berjalannya waktu, Mahesa memiliki daya pikat dan kenyamanan yang dibutuhkan Savita. Hal inilah yang membuatnya melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan.


Warning dulu, sebelum baca ini, harus mempersiapkan batin dan mental yang bener-bener tidak mudah emosi. Karena aku selama baca novel ini, EMOSI BANGET! 

Sebelum ke ceritanya, memang ada baiknya kita kenalan dulu sama tokohnya ya. Ada Savita yang menikah dengan Dipta, salah satu dosen filsafat muda di kampusnya. Bagi Savita, Dipta ini cowok yang ngemong banget. Bisa manjain Savita, ganteng pula. Jadi Savita tuh ngerasa seneng pas bisa ngedapetin Dipta, bayangin aja, saingannya anak sefakultas, bisa dikalahin sama Savita. Kehidupan mereka juga tenang-tenang aja, meskipun masih belum ada anak, dan Dipta yang mulai sedikit protektif sama Savita.

Emang kadang perempuan tuh susah banget ya diterima di keluarga pihak laki-laki, sebaik apapun, sesopan apapun, masih ada aja celanya di mata mertua. Ya meskipun nggak semuanya begitu, tapi mertuanya Savita ini tipe mertua pada umumnya, udah mulutnya tajem, suka nyindir, dan adaaaa aja komennya. Masih belum punya anak sampai beberapa tahun pernikahan, juga jadi salah satu sindiran dari mertuanya ini. Dibilang mandul lah, nggak mampu lah. Kesel banget deh pokoknya.

Alur ceritanya menurutku menarik banget. Karena nggak cuma ngebahas tentang kehidupan pernikahannya Savita aja, tapi juga masa lalunya gimana. Jadi kita tau, dulunya Savita orang yang kayak gimana, sebelum ketemu Dipta yang hhhh.. embuhlah sama cowok satu ini. Ternyata dulu Savita ini orangnya ceria, suak banget ketemua sama orang baru. Sayangnya, sejak menikah sama Dipta, dia tuh berubah banget. Apalagi Dipta selalu bilang dia nggak perlu begini begitu.

Perselingkuhan, dalam bentuk apapun itu nggak pernah bisa ku terima. Karena menurutku, selingkuh itu penyakit yang nggak bisa sembuh, sampai kamu sendiri yang memang mau berubah. Baru deh bisa berhenti. Selama kamu masih terus mencari, ya nggak akan pernah ada ujungnya. Tapi dalam kasus Savita ini, aku di tengah-tengah! Nggak bisa milih.

Faktor kehamilan itu kan nggak hanya dari satu pihak aja. Seringnya, kalau sampai nggak kunjung punya anak, yang kena selalu yang cewek. Padahal bisa aja sperma pasangan yang lemah, atau ada alasan kesehatan lainnya. Nah, ini yang sering terjadi, termasuk juga di kasusnya Savita. Pas Savita ngecek, dia nggak ada masalah apapun, aku ngerasa kalau masalahnya ada sama Dipta. Tapi ada plot twist! Tetep masalahnya di Dipta sih memang, cuma aku nggak nyangka aja.

Aku suka dengan temanya, meskipun nggak suka perselingkuhannya ya. Kehidupan pernikahan itu selalu menarik buat aku. Setelah baca secara keseluruhan, jujur aku kasian sih sama Savita, dia itu jadi orang yang beda banget soalnya. Padahal kan, menikah bukan berarti bakal mengubahmu sepenuhnya.


From the book...
"Tidak ada kebahagiaan sejati yang tercipta dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain, Sayang. Kamu dan aku harus bahagia terlebih dulu agar Kaiya bisa bahagia. Bagaimana seorang anak bisa tumbuh dengan baik di antara orang tua yang tidak bahagia?"

"Orang tua marah itu wajar, Sayang. Tapi bukan berarti kita juga harus marah pada mereka. Lagi pula, yang salah adalah kita. Sudah seharusnya kita meminta maaf pada Bapak. Setelah itu, apakah Bapak mau memaafkan atau tidak, itu hak Bapak. Yang penting kita sudah melakukannya dengan tulus."

"Semua perempuan mungkin bisa memiliki anak, tapi tidak semua perempuan bisa memiliki kecakapan untuk menjadi seorang ibu, Sayang."

Monday, March 20, 2023

[REVIEW] Too Young

Too Young

Rae

49 Parts on Cabaca — Ending

"Ketiganya mungkin terlahir dari sebuah kesalahan, tetapi kesalahan tidak semuanya akan menjadi masalah. Kadang-kadang juga menjadi kebahagiaan karena tidak direncanakan sebelumnya, seperti sebuah kejutan yang datangnya tiba-tiba dan rasanya selalu menyenangkan."


B L U R B

Cinta ditolak teman bertindak. Setelah penolakan Gavin terhadap pernyataan cinta Citra, Alan—teman Gavin—yang merasa sakit hati karena gadis yang ia suka dipermalukan cowok itu, merencanakan balas dendam. Saat pesta kelas 12 yang rutin diadakan tiap tahun berlangsung, Alan diam-diam memasukkan sesuatu ke minuman Gavin hingga cowok itu hilang kesadaran.

Saat Gavin terbangun, dia baru sadar apa yang telah ia perbuat pada Erika semalam. Mala petaka tak cukup sampai di situ, beberapa waktu berikutnya Erika ternyata hamil. Mimpi buruk ini sungguh tak adil untuk Erika, apalagi sebagai siswa telada ia bermimpi untuk masuk universitas favorit.

Kini, di usia yang masih belia, keduanya pun dipaksa untuk memilih; masa depan mereka, atau nyawa bayi dalam perut Erika. Orang bilang, mereka terlalu muda untuk memikul tanggung jawab sebagai orang tua. Namun, apakah usia yang masih muda membuat mereka boleh meninggalkan tanggung jawab begitu saja?

- - - - - - - - - -

Masa SMA seharusnya jadi masa-masa yang paling menyenangkan dari masa sekolah. Masa di mana pertemanan paling solid, kenakalan remaja dimulai, dan menikmati masa di mana mulai dikasih kebebasan. Sayangnya, Erika dan Gavin nggak bisa menikmati hal yang sama. Karena kesalahan Gavin yang menolak Citra—cewek yang ngejar-ngejar dia, Gavin harus terjebak dalam kesalahannya.
"Hati ibu sakit setiap lihat kamu, jadi kalau kamu masih sayang sama ibu, jangan pernah tampakin diri kamu di hadapan ibu mulai saat ini."
Erika juga menjadi salah satu korban penolakkan Citra. Gavin yang dikasih obat perangsang, dan Erika yang nggak sengaja ngeliat keadaan Gavin, malah bikin dia terseret ke keadaan yang nggak diinginkannya. Alhasil, mereka berdua dikeluarkan dari sekolah, dan Erika pun ditolak oleh Ibunya.

Karena kesalahan satu malam, membuat kehidupan Gavin dan Erika berubah dalam sekejap. Sekarang, Erika harus menikah dengan Gavin, menerima kehamilannya, dan menepikan mimpi-mimpi yang sudah disusunnya. Bisakah mereka menerima ini semua?


Mengambil tema kehamilan di luar menikah. Menarik. Aku selalu suka tema-tema kayak gini. Secara nggak langsung, baca seperti ini jadi warning juga buat aku. Harus bergaul baik-baik, harus selektif dalam pertemanan. Selain itu, didikan dari orang tua juga ketat banget. Udah kayak legging idol. Jadinya sudah terbiasa sih. Meskipun ada masa dimana aku tuh bandel banget, diomongin susah banget.

Yuk, sekarang ngebahas Erika-Gavin. Erika ini, tipe anak teladan gitu. Pinter, hidupnya sudah tersusun ke depannya mau gimana, kuliah apa, kampusnya di mana. Sayangnya, dia cukup tertutup. Ada satu teman, tapi dia juga nggak begitu terbuka sama temennya ini. Ya, tipe anak baik-baik gitu lah.

Sementara Gavin, dia ini tipe cowok badboy gitu, kadang suka bolos, di kelas juga belum tentu denger guru sepenuhnya. Tapi, dia punya sahabat yang supportif! Suka banget aku sama circlenya Gavin, meskipun ada pengkhianat sebiji, tapi sisanya tuh mau ngebantuin Gavin.

Di awal, kukira ini akan mirip film Dua Garis Biru. Tapi ternyata enggak! Beda banget banget. Kalo DGB kan memang karena keinginan sendiri, kalau ini kan karena terpaksa dan dipaksa. Selain itu, penggambaran emosinya Erika dapet banget. Kehamilan yang nggak diinginkan ini untuk perempuan selalu susah. Apalagi untuk seumuran Erika, dia harus dikeluarkan dari sekolah, ditolak ibunya sendiri, mulai menerima bayi dalam tubuhnya, perubahan bentuk tubuh dan hormon yang nggak stabil. Semuanya dirasain sendirian.

Menurutku, hamil itu harusnya jadi kabar yang membahagiakan, untuk siapapun, orang tua pasangan, pasangan itu sendiri, lingkungan di sekitar mereka juga. Tapi kalau di kasus Erika, nggak ada yang senang dengan keadaan yang kayak begini. Dan yang selalu dirugikan adalah pihak perempuan. Jujur aku masih penasaran, kenapa kalau ada kasus seperti ini, perempuan yang selalu dikeluarkan dari sekolah, padahal laki-lakinya juga ikut bertanggungjawab kan? Katanya kecerdasan anak diturunkan dari Ibunya, tapi kok ibunya dipaksa berhenti sekolah?

Karakter lainnya yang aku suka adalah karakter Gavin. Kasarnya, dia bisa banget nggak menganggap kejadian malam itu ada, bisa juga dia menolak bayi yang dikandung Erika. Tapi dengan gentle, dia mau bertanggungjawab atas hal itu, bahkan rela juga dicaci dan dipukuli ayahnya karena kesalahan yang bukan sepenuhnya karena dia. Setelah dijelaskan pun, orang tua Gavin masih jadi favoritku! Mereka dengan tangan terbuka mau untuk menerima Erika, mau menganggap Erika jadi anak mereka. Nggak gegabah kayak sebelumnya. Bahkan mamanya pun merawat Erika dengan sangat baik. Ya ampun, cari mama mertua kayak begini di mana sih?

Novel ini beneran banyak pesan moralnya sih untuk anak-anak jaman sekarang. Jaga pergaulan baik-baik. Sebaik-baiknya Erika jaga pergaulannya aja, masih bisa kecolongan karena orang lain, apalagi kalau dia nggak menjaga pergaulan itu sendiri. Last, stop blamming kehamilan di luar nikah. Jujur, aku suka sedih sama anak di luar nikah. Karena itu bukan keinginan mereka lho. Kalau mereka bisa memilih, semuanya juga mau jadi anaknya Raffi Ahmad, hidup berkecukupan sejak kecil. Tapi nyatanya nggak bisa kan? Setiap anak punya strugglenya masing-masing.

Sunday, February 26, 2023

[REVIEW] Our Tangled Vow

Our Tangled Vow

Honey Dee

37 Parts on Cabaca — Ending

"Cowok akan bertahan kalau memang dia cinta, nggak peduli seberapa jeleknya kamu atau walau kamu nggak mau disentuh sama dia. Cowok yang cinta kamu bakal terus memujamu. Kalau nggak, lepaskan saja. Tanpa cinta, seks dan kecantikan nggak akan bisa memaksanya tetap di sampingmu."


B L U R B

Kembali ke kota yang memberinya mimpi buruk bukanlah hal yang mudah. Namun, Vey tidak punya pilihan lain. Ibunya menikah lagi dengan orang yang tidak suka pada anak-anak. Dia harus tinggal dengan yahanya yang hampir tidak pernah pulang dan kakak perempuan yang hobi mabuk.

Itu semua tidak lebih buruk daripada kehidupan sekolahnya. Vey terjebak di sekolah aneh yang memberlakukan peraturan aneh dan mendukung perisakan pada siswa golongan empat. Sialnya, kehadiran Vey malah tidak diterima oleh semua golongan. Dia benar-benar sendirian. Bahkan, cowok yang telah berjanji untuk melindunginya semasa kecil juga bersikap kasar kepadanya.

Sudah cukup! Vey ingin lari. Vey memutuskan untuk pergi dari hidup paling menyebalkan di muka bumi.

- - - - - - - - -

Vey sangat membenci kehidupannya. Ibunya yang tidak menyayanginya, keluarga yang nggak utuh, dan sekarang, dia harus kembali bersama ayah dan kakaknya. Vey sudah mengira, pindah kota dan tempat tinggal tidak membuat kehidupannya membaik.
"Aku belum lihat Ayah. Tapi jelas di sini jauh lebih baik daripada dipukuli Bunda terus. kuanggap saja aku lahir dari batu."
Maina, ibu muda beranak satu yang ditemui Vey di pesawat menjadi teman pertama sekaligus tempat pelarian Vey kalau terjadi sesuatu. Karena mereka memiliki masalah yang sama, Vey jadi mudah dekat dengannya.

Vey kira, kehidupannya adalah yang paling buruk, pindah ke tempat baru tidak membuat semuanya menjadi lebih baik. Ternyata kakaknya suka mabuk, ayahnya juga jarang pulang ke rumah. Secara materi, Vey tidak kekurangan, tapi secara kasih sayang, Vey amat sangat kekurangan. Lalu, untuk apa dia pindah kalau nyatanya sama aja?

Belum lagi sekolah barunya yang sangat nggak mendukungnya. Ada beberapa teman masa kecilnya yang ada di sana, salah satunya adalah Rusty. Tapi apakah mereka bisa berteman lagi? Bisakah Rusty juga menepati janjinya saat kecil dulu?


Membahas tentang sebuah janji. Awalan yang sungguh menarik. Apalagi janjinya anak kecil. Nggak semua anak kecil bisa menepati janjinya kan? Kalau jangka pendek sih mungkin iya. Tapi kalau jangka panjang? Belum tentu. Apalagi masa kecil yang dialami Vey cukup tragis.

Tidak hanya membahas teman, tapi juga keluarga. Punya anak ini menurutku tanggung jawabnya besar. Karena anak nggak bisa cuma dikasih uang doang. Anak kecil tetep butuh dididik orang tuanya, disayang sama orang tuanya. Nggak bisa semata-mata dikasih duit, disekolahin di tempat mahal, anaknya jadi orang yang baik dan beradab. Yang dikasih kasih sayang aja kadang masih banyak cacatnya, apalagi nggak dikasih sama sekali.

Membahas keluarga Vey ini juga cukup pelik. Kedua orang tuanya yang lepas tangan, yang paling bikin gemes ibunya sih. Aku tuh paling benci kekerasan sama anak, sejauh yang aku tau, mukul anak tuh bisa bikin saraf di otak putus, yang akhirnya bikin anak jadi terganggu perkembangannya. Selain itu, ya jelas aja trauma mendalam. Kukira ayahnya adalah sosok yang penyayang. Ternyata enggak, sama aja. Cuma ayahnya nggak mukul, tapi marah-marah. Memang bener, kehidupan Vey nggak baik-baik aja.

Yang difokuskan di sini nggak hanya Vey, tapi juga Maina, kehidupan Maina ini juga sama berantakannya dengan Vey, cukup pelik juga. Belum lagi Maina ini denial, jadi ya makin sip deh! Mantap suratap.

Kukira ini bacaan yang tidak terlalu banyak menghabiskan emosi. Ternyata Vey, apalagi Maina, banyak banget menghabiskan emosiku! Haha.. Awalnya aku cukup heran, karena mendadak kedatangan Drey dan Heath. Ini kan ada di novelnya kak Honey Dee lainnya, wah, kayaknya nggak bakalan nyambung deh baca ini. Tapi ternyata ya nyambung-nyambung aja kok.

Aku rekomen ini karena banyak sekali pembahasan tentang remaja, keluarga, hubungan antar pasangan, dan trauma. Jadi silahkan dibaca, apalagi yang nulis kak Honey Dee, nggak perlu diragukan lagi. Saranku, selama membaca, jangan pakai emosi, mengalir aja. Hahaha..


From the book...
"Papa bulang lelaki sejati nggak pacaran. Lelaki sejati langsung melamar."

"Cowok yang nggak bisa menghormati cewek di tempat umum gitu, nggak akan bisa menghormati cewek saat cuma berdua."

"Orang punya kelebihan dan kekurangan, Mbak. Kalau Mbak ingin dimaklumi, coba sekali saja memaklumi Ayah. Bagaimana juga, orangtua itu juga manusia."

"Tidak semua orang dewasa lulus dalam ujian pendewasaan, Nak. Banyak orang dewasa yang harus menjadi tua karena waktu yang terus berputar. Sebenarnya, di dalam dirinya masih ada kekosongan karena menjalani masa kecil yang gagal."

"Kalau jadi anak dari orangtua yang sayang sama anak, aku nggak perlu lagi mengemis cinta dari orang lain."

"Perselingkuhan nggak dimulai dari orang ketiga, tapi dari pasangan itu sendiri. Kalau memang ayahmu punya pertahanan yang kuat, sekeras apa pun Maina berusaha, dia nggak akan berhasil."

"Namun, yang harus dimengerti, lelaki sejati lebih memilih memendam kerinduan dan datang pada saat yang tepat daripada membiarkan perasaannya menjadi hewan liar."

"Aku ingat pesan Mama untuk nggak nyakiti cewek. Cowok tercipta buat melindungi cewek, bukan nyakitin."

Saturday, February 11, 2023

[REVIEW] Pregnancy Without Husband

Pregnancy without Husband

Amysastrakencana

70 Parts on Cabaca — Ending

"But sorry to say, Gis, even with a husband, taking care of a child, or children, will never be easy."


B L U R B

"Oke. Jadi gini. Gue mau punya anak." Gista berkata, kemudian menatap ketiga sahabatnya.

"Lakiknya siape?" tanya Oline lantaran Gista masih lajang.

"Yakin, Gis?" komentar Lena.

"Satu, gue yakin. Dua, lakinya nggak tahu. Karena gue mau donor sperma."

"APAAA?!"

*** 

Gista tidak mau punya suami! Gista hanya mau punya anak! Pengalaman masa kecil yang kelam ketika sang ayah menyiksa ibunya, terus menghantui dan membuat Gista sudah tidak percaya dengan pernikahan. Pilihannya hanya dua: donor sperma atau adopsi. Namun Gista ingin menjadi wanita seutuhnya, ingin merasakan nikmatnya hamil, maka dia memilih opsi pertama.

Sayangnya, sang ibu tidak setuju. Menurut sang ibu, memiliki anak harus dari institusi yang sah agar kelak sang anak terlindungi secara hukum. Maka otak Gista berputar kembali, hingga berakhir di seorang laki-laki yang bagus bibit, bebet, bobotnya, dan Gista yakin dia bisa jadi 'donor sperma' terbaik untuknya. Setelah hamil nanti, Gista akan meminta cerai.

Namun, kebaikan dan ketulusan hati Vincent pada Gista tidak main-main. Akankah pikiran Gista berubah oleh kehadiran seorang laki-laki baik dalam hidupnya?

- - - - - - - - - - - -

Gista Vi, siapa yang tidak mengenalnya? Seorang aktris sekaligus presenter yang sedang naik daun. Jauh dari berita buruk, dan jadi dambaan semua laki-laki. Kehidupannya sempurna, semua orang menyukainya, nggak ada yang perlu ditakutkan lagi. Yang kurang hanya satu, pasangan hidup. Sampai saat ini, Gista masih menyendiri, tidak ada kabar kedekatan dia dengan laki-laki. Padahal, mempunyai pasangan sepertinya bukan hal sulit untuknya.

Seperti perempuan kebanyakan, Gista juga ingin memiliki anak. Sayangnya, kepahitan masa lalu membuatnya menjaga jarak dengan laki-laki. Sebisa mungkin dia menjauh dengan laki-laki. Padahal dia juga tau, salah satu cara mempunyai anak adalah dengan memiliki pasangan yang sah. Ada cara lain tentunya, dengan mengadopsi atau donor sperma, tapi hal ini masih tidak umum di Indonesia.
"Anak? Hmm, I don't know, Gis. Anak itu investasi yang jauh lebih berat dari emas, reksa dana, saham sekalipun. Karena anak itu manusia juga. Kita sebagai orang tua punya kewajiban mendidik dia. Aku nggak mau punya anak untuk aku sia-siakan, nggak mau dia terlantar.."
Vincent, berteman dekat dengan Malik—yang ternyata juga sahabat Gista. Vincent ternyata sudah menyukai Gista sejak lama! Bisa dibilang, Gista ini cinta pertamanya. Pertemuan pertamanya dengan Gista jujur aja awkward banget. Eh malah pertemuan selanjutnya, bikin Gista cukup klik dengan Vincent.

Selain itu, bagi Gista, bibit, bebet, bobotnya Vincent juga sesuai dengan kriterianya. Ketika mereka akhirnya menikah dan punya anak, apakah Gista juga akan tetap melakukan semuanya sesuai dengan rencana awalnya? Atau dia akan luluh terhadap cinta Vincent terhadapnya?


Kisah Gista dan Vincent ini, menarik. Punya anak, memang ada berbagai cara, nggak harus menikah. Apalagi jaman sekarang sudah canggih banget. Mau punya anak dengan berbagai metode juga bisa. Nah, masalahnya adalah... Punya anak di Indonesia, tanpa keluarga yang lengkap itu bisa diomongin orang! Apalagi Gista juga seorang publik figur. Segala tingkah lakunya juga pasti jadi sorotan media. Mau bener salah, tetep aja yang menilai publik.

Awalnya, aku kasian sih sama Gista, hidup di bawah bayang-bayang traumanya. Karena trauma itu kan bukan sesuatu hal yang mudah. Aku juga cukup senang pas dia udah ketemu sama Vincent. Vincent is lovable! Nggak susah kok sayang sama dia. Apalagi Vincent beneran effort.

Yang bikin kesel adalah ketika Gista udah hamil, dan tetep kekeuh pisah. Haduh. Di sini aku mulai kesel sekali. Keras kepalanya ini lho. Padahal dia tau susahnya hidup tanpa ayah. Rasanya di sini pengen banget nguyel-nguyel Gista, karena kelakuannya yang njengkelin abis.

Di luar tingkahnya Gista yang ngeselin, aku suka sekali dengan karakternya Vincent. Dia ini tipe husband material, baik, sabar, penyayang, act of service pula anaknya! Cowok kayak dia ini, nemunya di mana ya?

Selain karakternya yang lovable, kisah Gista-Vincent ini berasa kayak di dunia nyata. Masalahnya nggak kelar-kelar, tapi ya mostly karena dibuat sendiri sih. Aku suka sama ceritanya, nyata dan bikin gemes! Banyak juga pelajaran tentang kehidupan rumah tangga, yang nggak melulu pasangan aja, tapi juga tentang anak, trauma masa lalu yang belum selesai, sampai bagaimana menjadi orang tua yang baik.
 
 
From the book...
"Ketika orang tua bener-bener mau punya anak, gua percaya dia bakal total buat ngurus dan sayang sama anaknya. Ngeliat lo yang usaha sampai begini, gua yakin anak lo bakal bahagia."

"Pikirkan lagi, Gis. Anak bukan satu-satunya yang bisa nemenin hidup lo. Nggak harus hamil untuk bikin lo ngerasa jadi perempuan seutuhnya. Nggak semua hal di dunia harus kita rasain untuk bahagia."

"Kamu betul. Adalah tugas orang tua untuk mendidik anaknya sejak dini. Supaya dia jadi manusia beradab."

"Aku... mau menikah dengan orang yang tepat. Yang perilakunya baik dan mulia, yang bisa menghargai orang lain, terutama aku dan ibu. Aku mau menikah dengan pria yang punya pekerjaan baik, yang terbuka dengan pilihan karier aku."

"Setuju. Kita mau punya anak dan ketika dia lahir, kita harus bisa penuhi semua kebutuhannya."

Tuesday, December 27, 2022

[REVIEW] Sweetshit

Sweetshit

Adellelia

48 Parts on Cabaca – Ending

"Karena perjalanan kita masih panjang. Karena itu jangan menyerah dulu sebelum kita memulai dan menjalaninya, Riss. Halangan dan cobaan pasti akan menerjang, tapi aku yakin kita akan dapat menghadapinya."


B L U R B

Katanya, bagi seroang wanita, memiliki sahabat seorang pria, ibarat mempunyai seorang kekasih yang tidak akan pernah meninggalkan mereka. Well, terdengar menyenangkan sekaligus menggiurkan.

Kira-kira, seperti itulah yang dirasakan Carissa Andara Putri. Wanita berumur tiga puluh satu tahun yang bersahabat dengan Kaiden Putra Syahreza. Seorang Barista yang sedang merintis jejaring usaha coffee shop miliknya di Jakarta. Carissa dan Kaiden pikir, persahabatan mereka akan selalu abadi. Carissa akan selalu ada jika Kaiden membutuhkannya, begitu pula dengan Kaiden yang selalu siap sedia kapan pun Carissa membutuhkannya.

Namun, saat persahabatan mereka akhirnya diuji dengan komitmen, rencana pertunangan Kaiden dengan kekasihnya dan lamaran tiba-tiba yang diterima Carissa dari pria yang baru beberapa bulan ini ditemuinya, akankah kedua insan ini tetap menganggap persahabatan mereka di atas segalanya? It's kinda sweet but full of shit!

Ikuti kisah Carissa dan Kaiden, di mana sepasang sahabat terjebak dalam hubungan yang membuat mereka harus memilih. Terjebak dalam friendzone tapi nyaman? Ataua naik pangkat walau menghadapi jalan terjal?

- - - - - - - - -

Carissa dan Kaiden, dua orang yang bersahabat sejak kecil. Selalu menjaga satu sama lain. Selama ini, mereka berdua baik-baik saja, malahan, Carissa selalu jadi orang yang membantu Kaiden, kalau dia dalam posisi terjebak karena cewek satu malamnya. Apakah Kaiden juga nggak ada perasaan sama Carissa? Oh tentu saja enggak. Kaiden bahkan pernah nembak Carissa, sayangnya, Carissa selalu menolak. Dia selalu menganggap Kaiden itu sebatas sahabat yang akan terus menemaninya.
"Rissa, open your eyes widely! Kaum kami diciptakan beragam. Jika satu orang membuatmu kecewa, masih ada jutaan lainnya yang dapat memberikan kamu rasa bahagia."
Alasan Carissa berlindung dibalik persahabatannya, selain tak ingin kehilangan sosok Kaiden sebagai sahabat, dia juga memiliki trauma terhadap laki-laki. Orang yang seharusnya dipanggil ayah, menjadi cinta pertamanya, malah membuatnya trauma akan sebuah pernikahan dan hubungan. Mungkin kalaupun dia menikah, dia harus memastikan bahwa pasangannya tidak seperti ayahnya. Tapi, apa bisa?

Masalah lain datang, saat Carissa menjalin kerja sama dengan suatu perusahaan, dan pemilik perusahaan tersebut juga menyukai Carissa. Bahkan berusaha untuk mendekatinya secara terang-terangan. Dengan cepat, dia bisa mengambil hati Carissa, tapi, apa dia mampu untuk memalingkan hati dari Kaiden? Sosok yang selama ini sudah menolongnya, menemaninya dan menjaganya?


Banyak yang bilang, persahabatan antara laki-laki dan wanita itu nggak pernah ada. Kalaupun ada, pasti cuma sedikit yang bisa menjalaninya. Aku percaya nggak percaya sih. Habis gimana ya, selama ini aku selalu berteman dengan cowok, menghabiskan waktu dengan mereka, tapi baik-baik aja, nggak sampai yang jatuh hati gitu. Atau ini sebuah pertanda kalau aku nggak menarik? Hahaha..

Membahas hubungan Carissa dan Kaiden ini cukup rumit. Waktu awal baca, kukira mereka ini friends with benefit lho. Eh tapi ternyata mereka hanya sahabatan. Tapi nggak ada ya sahabat yang sering make-out. Gemes deh. Mana mereka ini suka tarik ulur, giliran Carissa mau kasih kesempatan ke Kaiden, Kaidennya deket sama cewek lain. Gitu aja terus sampai perdebatan tentang bumi itu datar jadi kenyataan. Ngeselin.

Kehidupan yang dimiliki Carissa ini juga nggak mudah. Hubungan ayahnya mendadak berantakan sejak ayahnya memilih berselingkuh dan melakukan kekerasan. Jadi hal ini cukup banyak membawa dampak untuk dia mencari pasangan. Karena ya.. kita juga nggak akan tau, laki-laki ke depannya gimana, sekarang baik, besok jahat kan juga bisa. Selain itu, Kaiden yang ada di dekatnya juga punya kelakuan yang minus.

Sejak awal baca kisah Carissa-Kaiden ini, aku seneng banget. Karena kisahnya manis, tapi semakin ke belakang, dibikin gemes dan sedih! Awalnya aku kira mereka tuh bakalan mencari cara untuk bersama, berusaha untuk menyelesaikan masalah mereka. Tapi ternyata mereka malah lebih milih untuk menghindar. Bener-bener ya, diajak naik roller coaster sama hubungan Carissa-Kaiden ini. Apalagi Carissa cukup keras kepala dan egois yang bikin ngelus dada banget liat tingkahnya dia.

Untuk endingnya, aku cukup puas. Menyenangkan berbagai sisi. Tapi ada disclaimer untuk kamu yang dibawah 18 tahun ya. Karena ada adegan cihuy yang sebaiknya tidak dibaca anak di bawah 18 tahun.


From the novel..
"They are just friends. And friendship is stronger than every relationship in this world."

"Memangnya hari gini masih zaman ya laki-laki sama perempuan itu dibeda-bedakan? Katanya kesetaraan gender sudah berlaku? Tapi kenapa bokap gue kayak orang gila gitu ngarep banget punya anak laki-laki, sih Kai?"

"Jangan jadi seorang pengecut yang terus saja menutup pintu hatimu hanya karena kamu terlalu takut merasakan sakit hati yang sama."

Sunday, December 4, 2022

[REVIEW] Loveconomics

 

Loveconomics

Mosaicrile

16 Parts on Cabaca - Ending

"Kenapa mempertahankan sebuah hubungan kayak dikhususkan buat pasangan yang sudah nikah saja? Memangnya kalau masih pacaran, seseorang nggak perlu berusaha mempertahankan hubungan mereka?"

 
B L U R B
 

Orang bilang, "Fake it till you make it."

Jadi, laporan kebohongan gue tentang pencapaian dalam urusan percintaan dan karier mengalir begitu saja di acara reunian. Akan tetapi, bukannya berusaha menjadikan dusta itu kenyataan, masalah hidup gue makin runyam bagaikan deretan utang yang mengantre dilunasi. Persoalan itu bikin impian buat jadi eksmud sukses di kota metropolitan ini makin nggak bergerak-gerak padahal umur jalan terus.

Gue bingung mengapa seorang pria tampan mau menemani gue malam itu di luar bangunan kelab, padahal wajah gue kusut masai habis dikerjai nasib. Penampilan yang flamboyan serta profesinya sebagai Agency Director di perusahaan jasa keuangan terkemuka, menimbulkan kesangsian sewaktu dia menyatakan niatnya yang ingin menyelamatkan gue dari kerusuhan hidup.

Heran. Dia selalu bisa menemukan gue, bahkan di saat gue nggak ingin ditemukan.

- - - - - - - - -
 
Jadi, setelah lulus dari kuliah, harapannya kan dapet pekerjaan di tempat yang enak, gaji yang lumayan. Semakin lengkap, kalau sudah punya pasangan. Pasangan yang baik, nggak toxic, suportif. Awalnya, Nomi memiliki semua ini. Pekerjaan sebagai staf akuntan di salah satu perusahaan yang cukup terkenal, punya pacar yang suportif dan menyayanginya. Bagi Nomi, ini sudah cukup.

Reunian di salah satu kelab, membuat Nomi kembali mempertanyakan semuanya. Apalagi dia mendadak diPHK dari kantornya bekerja. Yang Nomi punya hanyalah Aksen–pacarnya. Satu pertanyaan dan jawaban kebohongan yang kemudian membuat Nomi semakin mempertanyakan tentang hubungannya yang masih jalan di tempat.
"Semua akan baik-baik saja. Seandainya kamu perlu waktu yang sangat lama untuk pulih, atau kamu jatuh berulang kali supaya bisa kembali berdiri, yang perlu kamu ingat adalah kamu nggak sendirian. Saya nggak akan meninggalkan kamu."
Pertemuan pertamanya dengan Nomi cukup membuat Eko terkesan. Meskipun hanya di lataran kelab, Nomi yang cukup berantakan, tapi bagi Eko, hal ini cukup membekas.

Bekerja sebagai agen asuransi, membuat Eko juga bisa menyelam dan mengenal lawan bicaranya, termasuk Nomi. Dalam pertemuan kedua mereka, Eko sangat ingin membantu Nomi dengan cara apapun. Tapi Nomi selalu menghentikannya. Tidak ingin ada utang di antara mereka. Nyatanya, dalam beberapa kali kejadian, hanya Eko yang bisa membantu Nomi melewatinya. Jadi, siapa yang akan Nomi pilih? Aksen yang selalu ada semenjak kuliah, atau Eko yang selalu membantunya?

Pilihan yang tentu sulit. Menjalani hubungan bertahun-tahun pasti ada yang membekas. Entah memorinya, cara mantan memperlakukan kita, bahkan sampai kesalahan yang dilakukannya, tapi sengaja kita abaikan karena alasan sayang. Sama kayak Nomi, beberapa kejelekan Aksen sebenernya udah kelihatan. Istilahnya udah red flag banget! Tapi Nomi masih berusaha mikir kayak, "Enggak lah, itu cuma pemikiranku aja."
 
Baca novel ini, jujur aja pas awal tuh lumayan bingung, karena kejadiannya mundur. Tapi setelah baca beberapa bab, aku mulai paham dengan alurnya. Menurutku, ini novel dengan paket lengkap. Semuanya ada.

Nggak hanya membahas hubungan percintaan Nomi aja, atau ngebahas kebingungannya Nomi waktu nggak ada kerjaan, tapi juga membahas tentang keluarga. Ini heartwarming sekali buatku. Cerita tentang keluarganya nggak mendetail, tapi menyentuh. Tapi ada yang bikin aku cukup heran. Hubungan Nomi dengan kedua orang tuanya bisa dibilang sangat baik, Nomi juga terbuka ketika ada masalah di kantor, penyebabnya diPHK, tapi kenapa Nomi nggak bisa menyampaikan apa yang ada di kepalanya ke Aksen.

Untuk karakternya, juwarak semua buatku. Kak Jo kalo nulis, totalitas banget! Semua karakternya tuh punya latar belakang yang menyebabkan mereka sampai di titik yang sekarang, cara mengambil keputusan, cara berpikirnya juga. Jujur, yang paling aku suka tuh Eko. Sifatnya dia tuh kalem banget, cara ngomongnya juga halus banget. Haduh, Eko nih beneran ada di dunia nyata nggak sih? Kayak too good to be true.
 
Nah, kalau karakter yang makan ati, cuma Aksen! Dia ini cowok yang nganggep bahwa dunit itu berputar, dan porosnya tuh sama dia. Jadi semua perhatian harus ke dia. Sejak awal baca, aku tuh udah ngerasa, ada yang salah sama Aksen, pengen banget ngasih tau Nomi kalo dia tuh harus menjauh dari Aksen. Ngeliat Aksen nih, udah kayak ngeliat temenku yang pacarnya super posesif nggak jelas dan tingkah lakunya tuh nyebelin abis. Selalu emosi kayaknya kalo ngebaca ada Aksennya.

Ada satu hal menarik di novel ini. Pekerjaannya Eko sebagai agen asuransi. Seperti biasa yang kita tau, agen asuransi tuh orang yang ngeselin ya. Kayak ketemuan dikit, langsung ditawarin, nelpon temen, nawarin asuransi. Tapi Eko ini nggak gitu. Kalo kamu tertarik, dia bakalan ngejelasin kebutuhan asuransimu apa aja, tapi kalo enggak, ya dia diem aja, ngebahas yang lainnya. Selain itu, agen asuransi dimasukkan jadi profesi di novel ini cukup jarang lho, atau bahkan nggak ada. Jadi aku baru nemu di Loveconomics ini. Menarik kan?

Untuk pembaca yang mau baca Loveconomics, mari persiapkan hati dan jaga emosi. Selain itu, ada warning di beberapa bab. Bukan adegan 18+, tapi suicidal. Jadi sebaiknya membaca ini di saat kondisi stabil ya.


From the novel...
"When life is inequitable, beberapa orang memilih rokok sebagai pelarian, ke diskotek dan minum-minum, atau simply, sitting down in front of the building, mumbling and sighing, seperti kamu tadi."

"Zaman sekarang, semua orang berkhianat, Eko. kalau kamu percaya saya tadi berkata jujur, itu salah kamu."

"Apa yang hilang bisa dicari, tapi masa depanmu jangan sampai dirusak sama pria yang nggak bisa menghargaimu. Paham"

"Pada dasarnya, kita selalu membutuhkan orang lain untuk berbagi suka dan duka, meminta dan dipinta pendapatnya, atau seperti yang kita lakukan sekarang, bertukar cerita untuk menemukan kelegaan maupun wawasan baru."

"Semua orang tahu ada penyakit dan penderitaan yang terjadi semasa hidup, tetapi terlepas dari segala kesengsaraan itu, lebih banyak manusia yang memilih bertahan agar bisa menghirup oksigen selama mungkin."

"Sikapmu yang mencoba jujur termasuk salah satu hal yang membuat saya kagum. Apa yang kamu lakukan, sebetulnya juga merupakan cara menghargai dirimu sendiri, Nomi."

Friday, November 25, 2022

[REVIEW] Sexy Lingerie



Sexy Lingerie

Belladonna Tossici

48 Parts on Cabaca — End

"Anda benar. Pria sejati tidak akan menginkari janjinya. Maka dari itu saya tidak akan mengingkari janji saya untuk menjadikan Mutiara perempuan yang harus saya jaga baik tubuh maupun hatinya."


B L U R B

Mutiara Prima memercayai Cassandra van den Heuvel. Segala hal tentang dirinya diceritakan pada sahabatnya sejak masa kuliah itu, termasuk riak pernikahannya dengan Hamizan Parama. Mutiara banyak berkorban bagi Hamizan; berhenti bekerja, fokus mengurus suami dan rumah tangga, tetapi semua tak cukup bagi—ibu mertuanya—Fatma.

Hubungan Mutiara dengan Fatma semakin runcing sampai Hamizan menjatuhkan talak satu. Cassandra menolong Mutiara yang pergi dari rumah, menyediakan tempat untuknya berteduh sementara. Mutiara sungguh percaya bahwa Cassandra adalah dewi penolong tanpa dia ketahui sahabatnya merupakan musuh dalam selimut, karena sudah sejak lama Cassandra jatuh cinta pada Hamizan.

- - - - - - - - - -

Mutiara Prima, seorang ibu rumah tangga yang sangat beruntung mendapatkan Hamizan Parama, seorang pebisnis yang bisa dibilang cukup sukses dengan usaha restoran yang mengangkat ide makanan sehat. Dalam hubungan mereka selama menikah, keduanya merasa cukup dan baik-baik saja, meskipun tanpa kehadiran seorang anak. Sayangnya, di mata ibu mertuanya—Fatma—belum ada kehadiran anak, tentu saja kurang.
"Laki-laki yang akan menikahiku haruslah karena memang mencintaiku, tidak ingin poligami, tidak membandingkanku dengan perempuan lain, tidak punya orang tua yang antagonis seperti di sinetron, dan dia harus menerima anakku."
Cassandra van den Heuvel, sahabat Mutiara sejak kuliah. Wanita independen yang memiliki usaha menjual lingerie. Mutiara sering mempertanyakan tentang usaha yang dilakoni oleh sahabatnya ini. Sebagai orang yang agamanya taat, dia mempertanyakan, siapa yang akan membeli pakaian kurang bahan ini? Tapi seringnya, Mutiara juga iri dengan sahabatnya yang bisa bekerja dan menikmati uang yang dihasilkannya sendiri.

Hubungan persahabatan ini baik-baik saja, sampai ketika Mutiara menemukan bahwa sahabat dan suaminya sedang bersama! Cobaan apalagi yang diterima Mutiara? Padahal selama ini, dia mengira bahwa suaminya juga cukup hidup dengannya, walaupun masih ada kekurangan dalam dirinya.


Membaca kembali karya kak Bella, dan mendapatkan kejutan! Kak Bella ini memang spesialis menulis cerita, yang nggak hanya sekadar seks, tapi juga ada makna yang diselipkan. Kali ini, tema yang diangkat adalah tentang perselingkuhan. Untuk yang pernah mengalami ini dan masih ngerasa jengkel, ada baiknya jangan baca ini dulu. Biar nggak makin emosi.

Aku akan mulai bahas dari tokohnya dulu ya. Tokoh di sini, menurutku punya karakter yang cukup kuat. Mulai dari Hamizan yang egois, dan terlalu cepat mengambil keputusan, Cassandra yang cukup bebas dan independen, Mutiara yang terlalu baik dan positif thinking, dan tentu saja Raden Kanjeng Ratu Fatma yang maha benar dan sungguh kolot ini bikin semakin kesal.

Pada awalnya, aku cukup salut lah sama Hamizan. Dia membela Mutiara mati-matian, mengatakan bahwa mereka emang baik-baik aja walaupun tanpa anak, tapi ya namanya orang. Kalo lama-lama hal kayak gitu dibahas melulu sama orang tuanya, pasti risih ya. Nah, mulai dari sini, aku kesel sama Hamizan, nggak hanya karena dia mulai bimbang, tapi dia jadi tergoda untuk melakukan hal lain yang negatif.

Sampai ending, aku masih nggak suka sama karakternya Hamizan. Nyebelin banget jadi karakter. Nggak tau juga nih, kak Bella nemu cowok model ginian di mana. Ya meskipun ngeselin banget, aku yakin sih, cowok yang kayak Hamizan ini eksis banget di dunia nyata, malah bisa lebih nyebelin lagi.

Menurutku, untuk yang pernah diselingkuhin atau disakiti banget sama orang yang disayang, sebaiknya jangan baca ini kalau masih belum ikhlas. Soalnya cerita ini membawa emosi dan kejengkelan luar biasa. kak Bella sukses banget sih nulis cerita ini.

Tuesday, October 25, 2022

[REVIEW] Wedding in Chaos

 

Wedding in Chaos

Respati Kasih

45 parts on Cabaca - End

"Sebagai pasangan, nggak melulu hal-hal bahagia yang kita bagi. Membagi keresahan juga perlu."



B L U R B

Ini tentang Rasyid yang terlalu tabah dan Adelia yang terlalu bebal. Menikah dengan asas simbiosis mutuliasme, membuat mereka masuk ke dalam fase hidup yang jungkir balik.

Banyak hal membuat langkah mereka terhenti di saat kebahagiaan begitu dekat. Terasa amat dekat, justru ketika salah satu dari mereka memutuskan untuk menyerah.

Saling kehilangan.

Atau, sebaliknya? Barangkali waktu akan berbaik hati memberi kesempatan kedua dan mengembalikan hati ke tempat semestinya.

- - - - - - - - -

Pernikahan memang sesuatu yang sakral. Bahkan untuk sebagian orang hal ini adalah satu hal yang amat sangat suci. Sayangnya, hal ini nggak berlaku untuk Adel dan Rasyid.

Keduanya memutuskan untuk menikah karena satu dan lain hal. Mereka juga bukan pasangan, yang ada hanyalah mereka pernah berteman di masa sekolah. Sesuatu hal yang bisa dibilang aneh. Karena Adel bukanlah cewek biasa. Adel yang sekarang, bukanlah Adel yang pernah Rasyid kenal dulu. Adel yang sekarang, lebih cuek, nggak peduli apa kata orang, dan lebih memilih ngalah daripada berdebat nggak penting. Singkatnya, Adel yang sekarang lebih simpel. Nggak suka mempersulit hidupnya.
 
 "Pernah mikir nggak kalau sesuatu yang kita mulai dengan cara yang salah, ujungnya bakal nyakitin?"
Rasyid, cowok tenang yang keliatan kalem dari luar, tapi kalo udah bucin, astaga, malu-maluin! Kalah deh bocil-bocil jaman sekarang. Dibalik tingkah lakunya yang kadang bucin dan tahan banting meskipun dicuekin sama Adel, dia menyimpan banyak sekali rahasia dan luka yang tidak disadari banyak orang.

Adel memang mengetahui gambaran secara luas tentang masa lalu Rasyid, tentang dia yang masih belum bisa move on dari mantan terakhirnya, tentang apa yang ditanggungnya di masa saat ini. Sedikit banyak, Adel juga bercerita tentang masa lalunya, meskipun tidak menjelaskan secara detil bagaimana rasa sakit yang pernah dirasakannya, atau alasan memilih untuk keluar dari rumah.

Terbiasa hidup di bawah satu atap, membuat mereka secara nggak langsung merasa ketergantungan satu sama lain, bukan tentang ranjang atau hal lainnya, hanya nyaman dengan status baru mereka. Tapi, bisakah Adel membuat Rasyid move on? Atau Rasyid tetap tidak bisa move on dan hanya menjadikan Adel sebagai 'pengganti' saja?

Awal membaca cerita ini tuh aku cukup amaze dengan hubungan Adel-Rasyid. Kok bisa ada cowok sesabar Rasyid, dan cewek secuek Adel? Soalnyaaaa.. kebanyakan yang cuek tuh cowok, kalau cewek, jaraaangg banget. Udah cuek, jawabnya dingin banget. Kayak kulkas satu pintu.

Jujur di awal, pacenya agak pelan dan lambat, ya sesuai dengan hubungan Adel dan Rasyid yang baru menjalani hubungan pernikahan simbiosis mutualisme ini. Tapi aku juga dibuat ngakak dengan jawaban-jawaban absurdnya Adel.

Nah, waktu memasuki konflik, jujur aku kadang kesel sama Adel-Rasyid. Karena di satu sisi, mereka berdua tuh suka menyembunyikan perasaan mereka, atau kalau enggak, berusaha untuk terlihat baik-baik aja, nggak ada masalah, padahal ada yang ngganjel. Bener-bener nggemesin emang.

Sekarang, mari bahas masa lalu Adel dan Rasyid. Di awal sampai pertengahan, aku selalu bertanya-tanya, kenapa sih, Adel ini ada masalah sama kakaknya? Padahal, kalau Adel ini tipe anak yang cuek, harusnya malah nggak ada masalah kan? Ya kecuali komunikasi yang buruk. Tapi ternyata emang masalahnya cukup rumit. Udah rumit, nggak ada yang mau ngebahas dan meluruskan itu semua. Ya jelas aja nggak kelar-kelar.

Sementara Rasyid, yang aku heran, sejak awal, dia tuh udah cerita dan ngejelasin masalahnya dia apa, tapi aku juga nggak habis pikir, kenapa dia harus bertanggungjawab sebesar itu? Setelah masalah udah sampe puncak, bener-bener aku tuh ngebut banget bacanya! Nggak sabaran. Untung udah ending, jadi aku nggak perlu nunggu-nungu kelanjutannya.

Untuk endingnya, manis sekali! Beneran deh. Aku bahkan sampe nangis waktu baca. Beneran menyentuh banget, atau karena aku pernah menemui masalah serupa ya, makanya aku jadi tersentuh sama endingnya.

Ini, aku rekomenin buat kalian yang cari bacaan ringan tapi nggak ringan-ringan amat. Di awal beneran ringan, makin ke belakang, makin berat. Buset dah!


From the story..
"Meski kita nggak saling mencintai, tapi kita hidup berdua. Kalau aku keterlaluan, kamu boleh tegur baik-baik. Begitu juga sebaliknya. Kita harus memastikan kalau masing-masing dari kita merasa nyaman."

"Aku mau kamu lebih terbuka sama aku. Apa pun itu, dari hal sepele sampai urgent. Selama ini, seringnya kamu apa-apa dibikin simpel. Tapi aslinya, di sini nih, kamu kepikiran terus. Nggak ada salahnya kamu spill out, aku bakal dengerin. Sebagai pasangan, nggak melulu hal-hal bahagia yang kita bagi. Membagi keresahan juga perlu."

"Kalau soal kacau, hidupku juga. Tapi nggak apa-apa. Nggak cuma kita kok. Orang lain juga ada masa-masa kritis dalam hidup. Cuma beda masalah aja."