Friday, October 9, 2020

[Review] Josh & Aid The Mountain Side Yegers

 

Judul : Josh & Aid The Mountain Side Yegers

Penulis : Lentera Langit

Penerbit : Diandra

Tebal : 304 Halaman

“Makhluk ini, waktu terlemah mereka adalah pada siang hari. Saat mereka masih berwujud manusia. Jika kau bisa membunuh mereka pada saat itu, itu adalah perkara mudah. Apa kau juga sudah mengetahui wujud manusia mereka?”

 

B L U R B

 

Makhluk itu sebesar pria dewasa dengan rentangan sayap sepanjang dua meter. Matanya yang berwarna merah, menatap kedua remaja itu dari angkasa.

 

Joshua Dawson dan Aidan Reid adalah dua remaja dengan kehidupan luar biasa. Mereka adalah Yeger, para pemburu makhluk siluman dan arwah penasaran.

 

Ketika suatu pagi seorang gadis kecil ditemukan tidak bernyawa di tepi Danau Brook, Bagian perutnya terkoyak dan organ dalamnya hilang. Kedua remaja ini hanya memiliki waktu hingga purnama bulan berikutnya untuk mencegah monster pembunuh itu mencari korban yang kedua. 

 

- - - - - - - -

 

Joshua Dawson, seorang pelajar di SMA Mountain Side, ramah, terbuka dan memiliki banyak teman. Tidak seperti Aidan Reid yang pendiam. Meskipun punya perbedaan yang cukup terlihat, tapi mereka malah bisa temenan baik. Ini karena mereka mempunya kesamaan yang nggak banyak orang tau. Menjadi seorang Yeger, alias pemburu siluman.

“Tiga orang dalam satu malam? Itu berarti dua rumah sekaligus. Mr. Thomas dan Mr. Lucas adalah teman serumah dan di sebelahnya tinggal Mrs. Beatrice. Apa pelakunya lebih dari satu orang?” P. 17

Ada pencurian yang cukup aneh yang terjadi di salah satu rumah lansia di Mountain High, yang akhirnya membuat mereka jadi penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dari sinilah mereka mulai melakukan pencarian. Ditambah lagi, ada kasus baru yang sangat menarik perhatian mereka. Ditemukannya seorang gadis kecil yang tubuhnya terkoyak. Bisakah mereka menghadapinya? Meskipun mereka seorang Yeger, tapi mereka kan masih kecil.


 

R E V I E W

 

Sebelum aku review, aku mau kasih tau dulu kalo novel ini ternyata novel pertamanya kak Lentera Langit loh! Aku kira novel ini malah novel keduanya, soalnya muncul setelah Laknat.

 

By the way, Josh & Aid ini nggak menegangkan kayak Laknat loh. Malah menurutku, novel ini tuh lebih ke arah fantasi, karena ada beberapa makhluk yang namanya jarang aku denger di dunia nyata. Nggak ngebosenin, malah penasaran aku tuh sama petualangannya Josh & Aid buat mecahin masalah yang bagi mereka menimbulkan banyak pertanyaan dan kadang anehhhh banget.

 

Selain itu, diselipkan juga beberapa cerita masa muda yang bikin aku jadi kangen balik ke masa-masa sekolah. Kangen ikut pentas seni dan acara sekolah lainnya. Hehehe..

 

Baca ini, mendadak aku keinget sama film Vanhelsing atau Twilight gitu! Habisnya ada makhluk sejenis vampire gitu. Jadi seru deh. Lagian di sini juga disisipkan beberapa kata atau istilah tentang makhluk ini. Biar kita yang baca juga nggak bingung.

 

Overall, kalian yang suka baca fantasi tentang mahkluk aneh-aneh gitu, pasti suka sih baca ini. Hihi.

Sunday, October 4, 2020

[Review] If Only

 

Judul : If Only

Penulis : Innayah Putri

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 348 Halaman

"Gue tahu, lo suka lihat langit malam. Tapi, Kak Juna, kadang apa yang paling kita cintailah yang melukai palng dalam. Lo udah cukup kesakitan selama ini, lo butuh istirahat."

 
B L U R B
 
Arjuna Pranaja. Pemuda bermata gelap itu telah belajar banyak mengenai kehilangan. Keluarga kecilnya berantakan, hal-hal menyakitkan terjadi di depan matanya, orang-orang tercintanya pergi tanpa pernah bisa kembali.
 
Selang waktu berjalan, ia berusaha untuk bangkit. Ia kira setelah segala hal menyakitkan terjadi, tinggal senyum menanti. Saat itulah, Kiana Niranjana berdiri di sana, membawanya keluar dari labirin masa lalu yang gelap. Gadis itu mengajarkan cara tertawa, juga bahagia.
 
Tapi ternyata, semesta memang kerap kali suka bercanda. Badai itu belum reda sepenuhnya. Luka itu belum kering seutuhnya. Keberadaan Kiana justru menyeretnya menuju luka yang lebih dalam.
 
Hingga pada satu titik kelelahannya, ia mulai bertanya-tanya:
Mungkingkah ia memiliki akhir yang bahagia?
 
- - - - - - - - -
 
Kiana Niranjana, seorang mahasiswi baru yang telat datang ke kampus di hari ospek pertamanya. Nggak cuma itu aja, selain telat, kesalahan lainnya adalah masih memakai penutup mata. Hukuman tentu saja sedang menantinya. Dia diharuskan mencari kakak tingkatnya yang bernama Arjuna. Hebatnya lagi, Kiana nggak tau Arjuna ini orang yang kayak gimana dan jurusan apa. Dia nyari sampai ke Fakultas Teknik dan bahkan ngerecokin sahabatnya, Dimas, demi nemuin si Arjuna ini.
"Orang cantik memang harus kebal disirikin." P. 47
Bagi Arjuna, Kiana adalah cewek yang cukup ceroboh, pelor, dengan tingkat kepedean di atas rata-rata. Nggak cuma itu aja, perlahan Kiana bahkan bisa jadi salah satu orang yang menurut Arjuna cukup penting. Ada dalam diri Juna yang bikin dia selalu pengen ngelindungin Kiana yang ceroboh dan semaunya ini. Biarpun dia harus rada ngotot sama Dimas, sahabat yang kadang kelakuannya kayak pacarnya. Tapi gimana kalau ada satu fakta dari Kiana yang malah bikin Juna nggak mungkin ngelanjutin kedekatan mereka?

 
R E V I E W

Sejujurnya, novel ini udah lama ada di lemariku. Hehe.. Udah cukup lama, tapi masih maju mundur gitu buat bacanya. Soalnya takut rada-rada nyesek gitu, nggak siap aja hatinya buat sedih-sedihan. Haha..

Oke, novel ini menceritakan tentang si Arjuna yang nggak peka-peka amat, dan udah nggak deket-deket amat sama cewek. Nggak ada alesannya, Arjuna cuma nggak pengen aja. Belum lagi Arjuna kan idola cewek-cewek di kampus, aneh banget kalo nggak ada yang ngedeketin kan?

Ceritanya tentu aja nggemesin kayak biasanya. Bisa banget lah Kak Naya bikin karakter macem Arjuna, dan para sahabatnya, yang suka bikin ketawa-ketiwi. Belum lagi Kiana yang super pede. Bawaannya seneng terus pas mereka ketemu bareng gitu. Tapiii.. seperti novel Kak Naya yang sebelum-sebelumnya, ada aja masalah yang bikin hubungan Juna-Kiana nggak mulus-mulus amat! Malahan nyesek banget! Ya ampun, rasanya tuh kayak nggak tega mereka berdua tersiksa gini. Kasian sekali.

Untuk alurnya sendiri, ada di beberapa bagian itu flashback untuk menceritakan kehidupan mereka di masa lalu gitu. Pas tau gimana masa lalu mereka, cukup kaget sih. Nggak nyangka aja kalau ternyata kehidupan mereka nggak seseneng yang dilihatin ke temen-temennya.

Warning dulu nih sebelumnya, jangan sampe baca novel ini pas lagi sedih, makin sedih hei! Aku aja nyesek berulang kali pas mereka ada masalah. Sedih sekali.


Quotable:
"Hm, semua yang ada di semesta ini bisa mati, Kiana. Yang abadi cuma Tuhan. Yang menyedihkan, seperti Sirius yang mati lebih cepat, orang-orang baik juga biasanya dipanggil tuhan lebih dulu." P. 93

"Gue tahu, lo suka lihat langit malam. Tapi, Kak Juna, kadang apa yang paling kita cintalah yang melukai paling dalam. Lo udah cukup kesakitan selama ini, lo butuh istirahat." P. 97

"Menyimpan sakit sendirian itu bikin capek, tapi lebih capek lagi kalau harus berpura-pura baik-baik saja." P. 97

"Dan, seperti hukum alam, yang mencintai terlalu dalam biasanya adalah orang-orang yang jatuh cinta sendirian." P. 102

"Sayang, laki-laki memang dilihat tindakannya, tapi sebagai perempuan, kami juga perlu kata-kata yang jelas." P. 109

"Kalau gitu, biar gue aja yang berharap. Gue harap lo nggak selamanya terkurung di masa lalu. Gue harap semua sakit yang pernah lo rasain bisa sembuh. Gue berharap lo bisa bahagia." P. 123

"Karena keluarga bukan hanya tentang darah, melainkan juga tentang cinta." P. 138

"Karena memang kadang semenyedihkan itu saat kita jatuh cinta sama seseorang. Semua orang mungkin bisa sadar, kecuali orang yang kita jatuhi cinta." P. 158

"Orang selalu bilang, bahwa patah hati melalui tiga proses; penolakan, kenyataan, kemarahan, dan diakhiri dengan penerimaan. Akan tetapi, tidak pernah ada yang menjelaskan bahwa penerimaan merupakan tahapan yang tersulit. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ada orang yang sampai sekarat hanya demi menerima keputusan takdir." P. 238

"Kita berkeras kepala, memintal benang demi benang kemungkinan agar terwujud sebuah harapan. Sekalipun memahami bahwa akhir bahagia merupakan perihal yang fana." P. 242

"Mari kita berjudi dengan takdir, mempertaruhkan segenap harapan, sekalipun sadar bahwa yang kelak kita temu adalah kehancuran yang menyeluruh." P. 248