Monday, January 19, 2026

[REVIEW] Satu Titik

Satu Titik
Arata Kaivan
On Wattpad
274 Halaman

“Nggak ada yang perlu disesali, Ra. Kita nggak bisa ngerubah masa lalu, tapi kita bisa rubah masa depan kita.”


B L U R B

Di tengah hiruk-pikuk Tangerang Selatan, dunia remaja seringkali berbenturan dengan kekuasaan gelap yang bergerak di balik layar. Seorang pemuda misterius dengan pengaruh besar di wilayahnya, harus mempertahankan Black Ribal, gengnya, dari ancaman geng saingan dan organisasi kriminal yang lebih besar.

Di sisi lain, muncul wanita dingin dan penuh teka-teki, yang seakan selalu satu langkah di depan dan membuat Renggo sulit menebak maksudnya. Bersama mereka, kisah cinta, loyalitas, dan pengkhianatan mulai terjalin dengan rumit, menarik perhatian seorang polisi muda yang terjebak di antara tugas dan perasaan pribadinya.

Ketika The Hydra, organisasi kriminal terbesar di Indonesia, mulai bergerak dan menawarkan kekuasaan yang lebih besar, semua pilihan menjadi berisiko. Siapa yang bisa dipercaya? Siapa musuh? Dan sejauh mana seseorang bersedia mempertaruhkan segalanya demi loyalitas, cinta, dan balas dendam?

SATU TITIK adalah kisah tentang dunia kriminal Indonesia yang keras, di mana satu keputusan bisa mengubah hidup selamanya.

- - - - - - - - -

Gilang, seorang perwira polisi yang sedang menargetkan 3 ketua gangster yang menguasai wilayah Tangerang Selatan. Krugger, Renggo, Olay, tidak ada yang pernah mengetahui wajah asli ketiganya, hanya saja Gilang mengetahui daerah kekuasaan mereka.

Bagi Gilang, pemberantasan gangster ini tidak hanya sekadar memberantas kriminalitas, tapi mengingatkannya juga terhadap apa yang pernah dialami Rizal, dan Riki—sahabatnya, sekaligus Chacha—adiknya. Dalam masa perburuannya ini, dia juga sedang mencari keberadaan Rizal, salah satu sahabatnya yang baru-baru ini keluar dari jeruji besi, namun sudah tidak pernah menampakkan diri lagi.
“Ayah nggak bisa bilang tindakan kalian bener. Kekerasan itu salah. Tapi Ayah juga nggak bakal nyalahin kalian karena jagain Chacha dan sahabat kalian.” — P. 18
Satu kejadian yang menimpa Chacha membuat Gilang semakin menggila untuk memberantas ketiga gangster ini. Apalagi kalau sudah mengingat kejadian tersebut. Berbagai cara Gilang tempuh untuk mendapatkan identitas para ketua gangster. Tapi bagaimana kalau ternyata ada salah satu yang dikenalnya? Siapkah Gilang bekerja sama dan meringkus ketiga ketua gangster ini?


Akhirnya aku kembali baca novel yang cukup menegangkan begini. Berawal dari threads dan akhirnya berkenalan dengan salah satu karya yang menurutku keren banget.

Tentang persahabatan keempat sekawan yang dimulai sejak keempatnya SMA, tawuran adalah hal yang mempertemukan mereka semua. Awal pertemuan yang cukup menarik ya? Mengingat tawuran biasanya pasti antar sekolah dan belum tentu saling support kan? Di bagian awal, kita diberi sedikit clue tentang keempatnya, dan bagaimana keseharian mereka.

Aku suka penggambaran dunia gelap yang mungkin emang sebenernya kayak gitu, kan? Gimana intriknya, hijack orang terdekat musuh, sampe menemukan bahwa ternyata adik pacarnya Gilang juga bagian dari gangster itu. Aku beberapa kali menebak-nebak, dan hampir benar! Penggambaran adegan perkelahiannya juga cukup detail.

Menurutku, fokus utama di sini lebih banyak membahas dari sisi Gilang dan profesinya. Dijelaskan juga bagaimana kebimbangan Gilang. Kondisi Riki, Rizal, dan Noval juga dijelaskan di sini. Tapi sepertinya hidup Gilang, Riki, dan Rizal yang lebih dar der dor dan kompleks.

Ada beberapa hal yang menurutku aneh dan belum kutemukan jawabannya, seperti The Hydra, dan juga partner kerja Riki, yang sepertinya juga berhubungan dengan para gangster ini. Mungkinkah jawaban ini ada di buku ke dua? Jadi nggak sabar baca buku ke-duanya! 

Sunday, January 18, 2026

[REVIEW] Fit & Proper Test

Fit and Proper Test
Soraya Nasution
Elex Media Komputindo
350 Halaman

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?"


B L U R B

"Cari pasangan hidup ya nggak boleh asal. Penginnya nggak ada penyesalan dan satu untuk selamanya, kan? Disusun dong Fit and Proper Test-nya. Kriterianya harus jelas dan terukur."

Celetukan Papi waktu berkumpul di rumah Eyang terus berputar di kepala Anggun. Apalagi dia punya target menikah sebelum usia 28. Sementara usianya kini sudah 26 tahun lebih 6 bulan. Dibantu kakak sepupunya yang juga jomlo gagal move on, Anggun bertekad menyusun Fit and Proper Test dalam Mencari Pasangan Hidup Ideal.

"Kalau ternyata pasangan yang lo pilih nggak lolos tes, sementara lo udah cinta sama dia gimana, Nggun?"

"Basically, perasaan itu yang ngontrol otak, Mas. Gimana lo cinta sama orang yang nggak memenuhi kriteria lo? Nggak mungkin!"

- - - - - - - - - -

Anggun sering bertanya-tanya, bagaimana cara mencari pasangan yang sesuai dengan kriterianya dan bisa diterima keluarga besarnya juga. Mengingat keluarga besarnya suka berkumpul dan melakukan kegiatan bersama, tentu saja pasangan yang bisa diterima sesuai dengan bibit, bebet dan bobot sangat menentukan, kan?
"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134
Sayangnya, sampai saat ini, Anggun masih belum juga menemukan pasangan sesuai kriterianya. Walaupun saat ini dia sedang menjalin hubungan, tapi Anggun ragu membawanya ke pertemuan keluarga. Sementara Ryan—kakak sepupunya juga jomlo. Memangnya mencari pasangan hidup perlu sedetail itu kah? Bukannya yang paling penting adalah perasaan satu sama lain dan finansial aja cukup?


Membaca Fit and Proper Test ini aku kira bakalan berat banget. Ternyata seringam itu. Permasalahan kapan kawin dan jodoh ini biasa kita alami kan? Apalagi buat anak line 90an. Kumpul keluarga, selain mendekatkan yang jauh, tapi juga bakalan mengumpulkan banyak pertanyaan. Yang belum nikah ditanyain kapan kawin, yang udah kawin kapan punya anak, yang udah punya anak kapan nambah. Udah jadi rentetan pertanyaan yang nggak ada habisnya.

Sama seperti Anggun dan Ryan, mereka juga mau kok segera menemukan pendamping hidup. Sayangnya, mencari pasangan hidup itu susah-susah gampang. Kadang ada yang sekali ketemu langsung klik, ada yang perlu cari-cari dulu. Dan aku juga kurang setuju sama papanya Anggun sih, karena cari pasangan itu nggak ada pakemnya, dan cara satu orang mencari pasangan tuh nggak bisa disamain sama yang lainnya. Nanti malah stres sendiri karena nggak dapet-dapet.

Selama membaca tuh aku suka banget interaksi antara Anggun dengan orangtuanya dan juga Ryan. Enak memang ya kalau punya kakak, meskipun cuma sepupu, tapi bisa diajak ngomong dan diskusi. Langka banget yang beginian. Aku sama sepupuku juga sama sih, tapi seputar kesehatan aja karena mereka dokter. Kalo love life mah enggak. Masuk ranah privasi.

Sangat aku rekomendasikan untuk baca, karena selain bahasanya ringan, lebih memperluas pemikiran juga kalau untuk memilih pasangan!


From the book...
"Nyari pasangan potensial lebih susah daripada ngitungin energi potensial pas zaman SMA ya, Nggun." — P. 6

"Menurut lo, seorang cowok atau cewek pantas disebut calon pasangan hidup potensial kalau punya berapa persentase sifat baik? 50 40? 70 30?" — P. 11

"Memilih calon istri itu bukan sekadar dia cantik, menarik, jalan beberapa bulan terus kamu lamar. Kamu harus melakukan serangkaian fit and proper test untuk mendapatkan calon istri yang potensial." — P. 25

"Gue nggak mesti sampe background keluarga, sih. Kita, kan, nggak bisa milih dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Tapi gue tambah gimana cara dia berkomunikasi sama orang lain. Itu yang paling penting." — P. 33

"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134

"Setiap orang kayaknya punya strong dan weak points-nya masing-masing deh. Banyak juga kok yang bisa disukai dari kamu. Kamu setia kawan, full of surprise, jago dandan, stylish, asyik diajak ngobrol karena kamu nggak berisik. I love to talk to you all the time." — P. 183

"Kayak yang Om selalu ingatkan ke kalian, pinter-pinter dalam memilih pasangan. Jangan gegabah. Semuanya harus fully checked. Mungkin kalian juga bosan mendengarnya. Usia kalian bukan usia untuk main-main lagi. Walaupun begitu, tetap harus dipilih yang paling baik. Toh untuk masa depan kalian juga." — P. 188

"Kamu memang benar. Tapi nggak ada salahnya mencari yang terbaik, kan? Kamu masa lupa soal bibit, bebet, bobot yang pernah Papi kasih tahu ke kamu dan Ryan. Bibit bebet bobot itu penting untuk menentukan kualitas keturunan, Sayang. Kalau ayahnya kayak gitu, kan nggak menutup kemungkinan anaknya juga kayak gitu." — P. 204

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?" — P. 283

"Lo terlalu terpaku sama hasilnya, Nggun. Sampai lo ngelupain proses dari penjajakan ini. Yang ada di kepala lo cuma ini cowok skornya harus sekian, harus memenuhi semua target. Padahal untuk ngedapetin itu lo harus menjalani pendekatan itu, kan? Selama proses fit and propert test itu, secara nggak langsung lo ‘dipaksa’ untuk lebih peka sama gerak-gerik seseorang, berusaha untuk tahu apa sih maunya dia, serius nggak sih dia sama lo. It’s such a big learning, Anggun.” — P. 332

“Aku juga ngambil banyak hikmah dari kejadian ini kok, Pra. Ternyata kadang apa yang aku susun nggak selalu terjadi sesuai rencana. Ternyata standar aku terhadap menilai sesuatu itu bisa saja nggak terpenuhi. Ternyata toleransiku terhadap beberapa hal harus lebih dilonggarkan.” — P. 341


Sunday, January 11, 2026

[REVIEW] How To Be Popular in High School

How To Be Popular in High School
Reytia
Bhuana Sastra
222 Halaman

"Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.”


B L U R B

Isa yang dulu cupu dan terkucil saat SMP men­coba peruntungannya di SMA 743. Tujuannya satu: men­jadi cewek populer! Ia pun mendaftar di ekskul dance, tempat para cewek populer dan elite ber­kumpul. Namun, sialnya, Lexy, si ratu sekolah yang dulu mengucilkannya saat SMP, juga men­daftar di ekskul yang sama. Ditambah lagi ekskul dance terkenal dengan ploncoannya yang gila-gilaan.

Namun, Isa pantang menyerah! Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya juga layak diper­tim­bangkan dalam jajaran cewek populer di sekolah. Mulai dari tampil di depan senior, sampai pasang muka manis walau hati gondok berat. Bisakah Isa memanjat dinding terjal menuju popularitas?

- - - - - - - - - -


Banyak yang bilang, kehidupan masa SMA tuh masa-masa yang menyenangkan. Masa yang harus banget dinikmati, apalagi umur pas SMA tuh pas banget lagi nakal-nakalnya, jatuh cinta yang kerasa beneran, nggak lagi disebut cinta monyet.

Isa juga punya tekad yang sama. Memilih nggak melanjutkan sekolah di yayasan yang sama, bahkan sampe merubah potongan rambutnya, merombak gayanya habis-habisan supaya bisa populer. Tujuannya jadi anak populer. Nggak dikucilkan lagi.
“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.”— P. 80
Sayangnya, nggak demikian, berawal dari temen sebangku yang nggak keren-keren amat, teman belakang bangkunya yang kadang judes. Tapi tetep nggak menyurutkan keinginannya untuk jadi populer. Dia bisa aja masuk ke ekskul dance, dengan segala risiko peloncoannya yang aneh-aneh. Hanya saja, mimpi buruknya bener-bener tiba. Lexy, mimpi buruknya semasa SMP datang dan masuk di ekskul yang sama. Bisakah kali ini Isa menjadi populer seperti keinginannya dulu?


Membaca How to Be Popular in High School mengingatkanku di masa-masa SMA. Sama seperti Isa, aku juga mau kumpul jadi anak populer lho. Sudah bertekad kalau bakalan mencari teman baru di SMA, dan jadi anak keren. Tapi nyatanya, aku juga kumpulnya sama anak yang biasa-biasa aja, bukan anak basket, dance atau anak band. Ya gimana ya, aku juga sadar diri, pas SMA tuh aku masih jadi anak alay gitu deh. Cuma hobinya haha hihi sana sini.

Pernah dibully di SMP, kehidupan orangtua yang biasa aja, tentu ini cukup membuat Isa bimbang. Haruskah kayak begini dilaporkan ke orangtuanya? Harusnya kan nggak perlu, sudah cukup mereka bekerja keras aja kan?

Pas baca momen Isa masuk SMA dan mengambil jarak dari Tari, Nanda, dan Olen, aku agak kecewa sih. Karena nggak beda dong Isa dengan teman-temannya dulu? Nggak potensial untuk bikin dia populer kan nggak berarti harus diberi jarak? Lagian nyari temen populer kayaknya juga nggak segampang itu deh. Mendingan membaur ke banyak orang, kan?

Momen perploncoan itu bener-bener ngegambarin masa-masa SMAku dulu deh. Pas baca aku langsung berasa balik ke jaman OSPEK dan cari-cari ekskul. Paham banget sih gimana ditatarnya anak dance tuh. Soalnya memang butuh stamina yang kuat kan? Tapi Galactic agak keterlaluan sih.

Tokoh favoritku di sini adalah Olen, soalnya dia mirip aku banget. Kalo ngomong nyeplos, padahal niatnya baik. Hehe. Yang kedua, Vanya, sebagai senior, dia nggak memakai senioritas untuk melakukan plonco hal-hal yang nggak berguna. Love banget! Malahan dia selalu ngebela Isa, ngebantuin dia kalo memang ada kesulitan. Terakhir ada Galang, baik banget ini orang ya. Tegas banget, bener-bener menjalankan perannya sebagai anak MPK dengan baik. 

Last, suka sekali baca How to Be Popular in High School ini. Selain ceritanya deket sama kita secara konflik, bahasanya juga enak banget, mengalir. Aku berhasil baca ini dua jam aja. Seru banget soalnya. Jadi kepengen baca tulisan kak Reytia yang lain.


From the book…
“Dunia orang-orang sukses itu keras. Jika seseorang sudah tidak berguna, ia akan dibuang dan dijatuhkan. Ia harus selalu waspada dan memiliki banyak teman yang bisa membantu saat kesulitan.” — P. 32

“Lagi pula, hidup adalah tentang uang dan kekuasaan.” — P. 32

“Gue ngerti sih jadi anak yang populer itu emang asik. Tapi, buat jadi populer enggak harus lewat ekskul ini juga bisa, kali. Emang enggak ada cara lain, apa. Daripada lo di sini ditinggal-tinggal enggak jelas terus, mending lo cari tempat lain yang orangnya lebih waras enggak, sih?” — P. 76

“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.” — P. 80

“Gue enggak suka orang yang menyisihkan orang lain. Termasuk orang-orang yang memakai identitas eksklusif di sekolah, itu gue juga enggak suka. Biar apa sih? Biar keliatan kebih keren daripada anak-anak lainnya?” — P. 87

“Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.” — P. 114

“Lo itu orang baik, Isandra. Apa yang membuat lo berpikir kalau lo enggak layak mendapatkan teman yang baik?” — P. 144

“Bukannya lebih serem kalau kita enggak punya sikap cuma untuk disukai sama orang lain, ya? Semakin kita punya sikap, semakin besar kemungkinan kita enggak disukai orang lain, dan gue udah siap. Harus ada yang berubah dari keadaan sekolah ini, Sa.” — P. 157

“Obrolannya dengan Galang menyadarkan Isa bahwa ia masih punya banyak pilihan panggung untuk tempatnya bersinar. Untuk menuju ke sana, ia hanya perlu mulai dari satu hal: mencintai dirinya apa adanya.” — P. 166

Saturday, January 3, 2026

[REVIEW] Uang Gawat Darurat

Uang Gawat Darurat
Adrindia Ryandisza
Elex Media Computindo
224 Halaman

"Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” 


B L U R B

“APA YANG LEBIH GAWAT DARI DIJADIKAN KONTAK DARURAT TANPA IZIN?”
“NGGAK PUNYA UANG GAWAT DARURAT!”

Indy bekerja sebagai funding officer, tipikal budak korporat ibu kota dengan goal finansial: ingin punya uang gawat darurat. Mirisnya, setiap mengumpulkan dana untuk keperluan darurat, ada saja kebutuhan yang tiba-tiba muncul. Bukan hanya kebutuhannya saja, tetapi juga seluruh anggota rumah: ayahnya, ibunya, dan terutama, adiknya yang pengangguran.

Untungnya, Indy punya sahabat sepenanggungan. Bayu, seorang staf IT yang sedang berjuang keras menabung untuk menikah. Tepatnya, untuk biaya pernikahan kakak perempuannya yang ditakutkan akan menjadi perawan tua. Apakah mereka bisa keluar dari peliknya masalah finansial yang sering dihadapi generasi masa kini?

- - - - - - - - - -

Hidup sebagai anak pertama dengan kondisi keluarga yang kurang, membuat Indy mau nggak mau ikut menanggung kehidupan orangtua beserta adiknya yang saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. Selama ini Indy ngerasa baik-baik aja, meskipun uang untuk dana daruratnya mepet banget. Indy masih berusaha mencari berbagai cara untuk menambah penghasilannya, dia juga sering melihat video di Youtube bagaimana cara memperbanyak uangnya yang tidak seberapa ini.
“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112
Bayu, tetangga sebelah sekaligus sekutu Indy sejak SMA pun ternyata punya masalah yang mirip, malah lebih parah menurutku. Dia ikut menanggung biaya pernikahan kakaknya. Belum lagi, persiapan pernikahan kakaknya ini banyak banget percek-cokan yang terjadi. Mau pecah rasanya kepala Bayu.

Bagi Indy, dia beruntung punya Bayu, nggak cuma jadi temen yang bisa diajak haha-hihi, tapi juga bisa diajak curhat dan bertukar pikiran. Kira-kira mereka bakalan punya pekerjaan tambahan nggak ya, supaya bisa memperbaiki kondisi keuangan mereka?


Di masa sekarang ini, punya dana darurat itu kayaknya keharusan deh. Bukan menjadi opsi menabung lainnya. Dari sejauh yang aku tau, katanya dana darurat ini harusnya 3x gaji. Ada yang bilang 6x gaji, kembali ke kebutuhan masing-masing. Apalagi kalau sudah ada keluarga dan anak ya, harus banget kayaknya ada dana darurat. Karena kita gatau apa yang terjadi ke depannya.

Membaca kisah Indy-Bayu ini gemes-gemes gimanaa gitu. Indy sebenernya bukan dari keluarga yang berkekurangan kok. Sebelumnya dia berkecukupan, tapi karena ayahnya yang kena PHK, jadi kehidupannya sedikit terguncang. Pas di bagian Indy dengan Rika, adiknya, aku sangat memahami banget. Adik nggak kerja, keliatannya di rumah terus tuh jadi sumpek yang liat. Apalagi Indy pergi pagi, pulang capek. Bela-belain menghemat di sana sini, tapi Rika malah di rumah aja. Begitu disindir, ngamuk pula. Capek banget.

Sementara kisah Bayu lebih nyesek lagi, ngumpulin biaya pernikahan, tapi buat kakaknya. Pas awal aku baca, aku juga kesel banget sih. Masa kakaknya yang mau nikah, tapi adiknya ikutan kepikiran juga? Bukannya nikah ya harusnya tanggungan yang bersangkutan aja ya?

Tokoh yang aku suka tuh malahan Bayu. Tipe cowok pada umumnya yang komen secukupnya aja, tapi pas action keren banget!! Dia ini juga tipe temen yang cukup seru untuk diajak cerita, bisa ngasih feedback nggak cuma diem aja gitu.

Novel ini relate banget sih sama masa sekarang yang sandwich generation, hidup serba sulit. Terjebak di antara dua pilihan, menyenangkan diri sendiri atau orang lain. Seperti biasa, novel kak Adrin ini nggak tebal, tapi isinya padet banget. Mantep. 


From the book…
“Gue tuh nggak perlu sampai harus jalan-jalan ke Bali atau pakai tas bermerek, gue cuma kepengin uang lebih banyak buat tabungan gue dibanding dana darurat.” — P. 3

“Permasalahan uang adalah sesuatu yang sangat sensitif. Pertemanan bisa rusak karena masalah utang piutang.” — P. 16

“Kalau Ibu, nggak mau kamu nikah tapi malah belum siap. Ya, meski Ibu sama Ayah pas-pasan banget menuhin kebutuhan kamu dan belum bisa nyiapin uang nikahan anak sama sekali, tapi Ibu tetap pengin yang terbaik buat kamu. Ibu nggak mau kamu nikah, tapi malah jadi susah. Nikah kan ibadah, bukan uji nyali.” — P. 23

“Aku tahu Mbak Alia nggak minta saranku, tapi aku mau tetap ngomong. Mbak Alia nggak perlu menurunkan standar. Jangan sampai nanti suaminya masih nggak stabil emosinya. Tapi aku juga ngerti kalau tuntutan keluarga itu berat.” — P. 94

“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112

“Pengetahuan gue tentang nikah mungkin sedikit. Tapi lo tahu nggak, apa yang menurut gue lebih menakutkan dari menikah saat belum siap? Nikah dengan orang yang salah. Gue takut itu.” — P. 114

“Iya. Kebiasaan banget ya, nikah dijadiin lomba cepat-cepat. Jangan sampai aja cepat-cepat cerai jadi tren lomba baru.” — P. 131

“Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” — P. 190

“Tapi gue mikir kalau pernikahan itu tentang berkompromi dan cari solusi bareng-bareng, gue rasa untuk ke jenjang itu, gue udah bisa bayangin lo, Yu. Cuma nggak langsung nikah kayak yang lo mau. Kita butuh persiapan dan rencana. Kayak nanti tinggalnya gimana, atur keuangannya gimana. Belum kalau nanti pelukan atau mesra-mesraan.” — P. 213

Friday, January 2, 2026

[REVIEW] Sejauh Rindu Mencari Pulang

Sejauh Rindu Mencari Pulang
Sefryana Khairil
Penerbit Clover
314 Halaman

“Mungkin… biar kita enggak egois, Ta. Enggak selamanya semua berjalan seperti yang kita mau.”


B L U R B

Fayrani menjalani hubungan serius dengan Genta, seorang pria penuh dedikasi yang menyayangi keluarganya di atas segalanya. Namun, hubungan mereka berubah drastis setelah Genta mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kakaknya, Gamal.

Genta, yang saat itu menjadi pengemudi, merasa bersalah dan menanggung beban untuk menjaga Sandra, istri Gamal, serta ketiga anak mereka. Sandra yang kehilangan suami dan harus membesarkan tiga anak sendirian bergantung sepenuhnya kepada Genta.

Fayrani berusaha memahami keputusan Genta, tetapi keberadaan Sandra dalam kehidupan Genta membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat di hati pria itu. Haruskah dirinya menyerah dan pergi atau mempertahankan hubungan mereka yang terombang-ambing di antara cinta, pengorbanan, dan rasa bersalah?

- - - - - - - - -

Pernah menjalin hubungan lama, ketika putus tuh pasti masih ada yang bikin nyesek ya. Mau putusnya baik-baik, ataupun nggak baik, kurasa efeknya sama aja. Kehilangan yang mendalam. Sejak enam bulan lalu pasca putusnya Fayrani dengan Genta, mereka kembali dipertemukan lewat kantor Gegas Gesit. Genta menjadi anak baru di sana.

Bagi Fayrani dan Genta hal ini tentu saja nggak mudah, dua orang yang pernah menjalin hubungan, putus, dan kemudian harus berhubungan lagi tiap hari, walaupun untuk profesional, pasti tetap ada yang mengganjal.
“Gue juga punya banyak mimpi, dulu gue pikir gue akan tetap di sini, berkarir bersama kalian, terus maju dengan semuanya. Tapi setelah banyak hal terjadi dalam hidup gue, gue sadar bahwa terkadang kita harus melepaskan apa yang kita anggap sebagai mimpi, untuk menjalani tanggung jawab yang lebih besar.” — P. 284
Bagi Genta, pertemuannya dengan Fayrani mungkin adalah kesempatan kedua dari semesta. Mungkin mereka masih bisa bersama seperti dulu, merajut mimpi mereka perlahan-lahan, seperti bayangan mereka dulu. Di sisi lain, Genta juga punya tanggung jawab besar akibat kecelakaan yang terjadi padanya dulu. 

Kembali membaca karya kak Sefryana, kalau sebelumnya Coming Home dengan sebuah kasus perselingkuhan yang buatku nggak bisa diterima, kali ini Genta dengan tanggung jawabnya yang cukup besar.

Kecelakaan yang terjadi karena kelalaiannya, membuat Genta merasa bersalah, apalagi keluarganya juga belum bisa menerima kepergian kakaknya yang saat itu bersamanya. Pun dengan Genta, beberapa kali dia bermimpi tentang kecelakaan yang pernah dialaminya. Ini sebenernya beban tersendiri buat Genta. Belum lagi, dia juga menghidupi Sandra, iparnya dan tiga keponakannya.

Menurutku, permasalahan Genta di sini tuh rumit banget. Sendirian, nggak cuma menanggung beban mental tapi juga finansial. Sementara sisi Fayrani, menurutku dia juga nggak sepenuhnya salah. Dalam masa pacaran tentu nggak harus jadi prioritas terus, tapi kalau jadi pihak yang terus disuruh mengalah, capek juga kan?

Mengambil sudut pandangan ketiga dari sisi Genta dan Fayrani, aku merasa bisa menyelami sisi keduanya. Genta yang selalu bimbang dan ragu karena takut keputusannya kali ini salah lagi. Fayrani yang kembali bimbang dengan segala sikap Genta.

Sepanjang membaca,  aku juga diajak kebingungan harus memprioritaskan siapa Sandra, atau Fayrani? Apalagi kita juga diceritakan secara flashback tentang masa lalu mereka berdua. Jadi bener-bener di sini ngerasain banget gimana Genta berusaha menerima semuanya, termasuk kehilangan kakaknya, Gamal. Belum lagi perlakuan orang tuanya, tanggung jawabnya sama Sandra, perasaannya sama Fayrani.

Buatku, membaca Sejauh Rindu Mencari Pulang nggak cuma tentang kehilangan, tapi bagaimana akhirnya bisa menerima kehilangan itu. Ikhlas itu susah sekali, apalagi kalau tentang kehilangan, tapi hidup terus berjalan, nggak selamanya kita harus berhenti dan berputar di sana terus, kan?


From the book…
“Hari itu, dia menyadari bahwa kadang, cinta harus berakhir bukan karena hilang, melainkan karena mereka harus melepaskan.” — P. 27

“Seharusnya kamu enggak lupa, Ta. Saat kita putus, berarti kita bebas mau bersama orang lain. Jadi, kamu enggak perlu merasa menjelaskan apa pun ke aku.” — P. 121

“Mungkin… biar kita enggak egois, Ta. Enggak selamanya semua berjalan seperti yang kita mau.” — P. 145

“Satu hal yang aku pelajari, menjadi ibu adalah proses. Kamu enggak harus sempurna, cukup kasih cinta yang tulus.” — P. 156

“Kamu enggak pernah kepikiran buat kasih dia kesempatan lagi? Kadang, orang tuh butuh waktu buat bener-bener ngerti perasaannya sendiri, Fay.” — P. 173

“Mas, lo juga punya hak buat bahagia. Jangan sampe janji itu jadi penjara buat hidup lo sendiri. Lo harus yakin, Mas, kalau ini yang bener-bener lo mau.” — P. 189